alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
You are ... of my eye ( maybe eyes ? )
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5caed4a7337f937bb1532000/you-are--of-my-eye--maybe-eyes

When our eyes, mouth and feel collapsed together

Hi Para sesepuh di dunia per SFTH ini, perkenalkan saya seorang newbie ingin berkarya di sini ( Coba di lihat tuh post ane ) haha!. Salam sujud dan mohon doa kepada semua readers yang ada di sini untuk mencoba support hasil karya gw. 

Selama 7 tahun lebih di dunia perkaskusan, lalang melintang sebagai silent reader. Hari ini gw mencoba menuliskan apa yang menjadi keinginan dan kerinduan gw ( cie elah ). Semoga sekiranya goresan pena gw bisa berlanjut berpart-part dan diterima oleh para readers di sini. Minta supportnya ya agan-agan sekalian.

Semoga kalian semua suka dan enjoyy!You are ... of my eye ( maybe eyes ? )


Spoiler for Jangan Lupa:



Diubah oleh ginb
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
CHAPTER 1


And I asked every book,
Poetry and Chimes,
Can there be breaks,
In the chaos of times ?
Oh, Thanks God,
You must’ve heard when I prayed
Because now I always want to feel this way

Amazing day, Amazing day, Amazing Day. It’s today


Suara Chris Martin mengemuruh di semua sisi stadion, tembakan cahaya laser mengenai kesemua sudut penjuru. Suasana pada saat itu begitu “pecah” dikarenakan penonton yang memadati konser begitu banyak dengan diiringi gelang cahaya yang dipakai semua penonton berirama memutarkan cahayanya. Ada yang sedang menyanyi dan ada juga yang berdansa dengan mengoyangkan pingul dan tangan, dan ada yang bercumbu. Perpaduan yang luar biasa. Keseragaman tersebut membuat konser ini begitu hidup dan juga interaksi antara band dengan penonton dibuat begitu intens. Gw berada di kerumunan penonton juga ikut menikmati euphoria ini walau hanya bisa melihat mereka (band) beraksi seperti semut karena gw duduk kejauhan tetapi berkat 2 proyektor besar di sebelah sisi kanan dan kiri panggung cukup membuat gw begitu antusias mengikutinya. Kapan lagi gw bisa mendengar secara live suara chris martin bernyanyi dengan semua warna-warna yang di hadirkan. Dengan bir ditangan, sedikit-dikit mengenai mulut gw membuat suasana tambah meriah. Benar kata orang, kalau nonton konser itu ditambah bir bisa lebih menikmati dan ekspresif.

Tak lupa juga ada fenomena aneh yang gak luput dari perhatian gw sejak gw memulai duduk di sini yakni seorang makhluk yang sedang duduk dengan hoodie menutupi kepalanya dan kaki melipat ke atas kursi di sebelah gw. Aneh pikir gw, gak sekalipun hoodie itu dilepas dari kepalanya. Pakaiannya modis dengan tshirt bergambar hasil karya Pilar Zeta berwarna hitam dan celana jeans dengan sedikit luka di salah satu lututnya. Gak sekalipun dia beranjak dari kursinya, gak seperti yang lain sedang menari-menari, atau gak seperti gw yang berdiri hanya sembari untuk melihat muka si chris martin dan koleganya. Dia hanya duduk terdiam dan membisu, hmm sungguh gak menyenangkan caranya menikmati konser pikir gw. Cara menikmati konser yang aneh. As long as dia gak menganggu orang lain, setiap orang puny acara tersendiri menikmati sesuatu, itu yang membuat kita harmonize satu dengan yang lain.

Selang lagu Fix You di nyanyikan, sayup-sayup terdengar suara isak tangisan dari makhluk yang di sebelah gw. Pada saat itu gw yang sudah kelelahan berdiri mencoba menikmati lagu tersebut di bangku, merasa terganggu gw mencoba memutarkan badan hanya untuk memastikan asal isak tangisan itu berasal dari makhluk berhoodie itu. Di antara jeda lyric kata demi kata dari lantunan lagu tersebut,
Sruttt sruttt, hiks hiks
Annoying, gw mengernyit dahi. Tiba-tiba dia menengok kearah gw,
“Punya lo ?” Sambil menunjukkan jarinya ke gelas bir yang ada di samping kursi. Hmm Orang indo toh gumam gw dalam hati.
Belum sempat gw menjawab, dia sudah berkata “Gw minta! “ dengan nada yang bersemangat tetapi terlihat kesel.
Langsung mengambil bir tersebut dan meminumnya sampai habis.
Gw Cuma bisa bengong dan mulai kesal. Ada ya jaman abad 21 kayak gini, orang berani ngambil kepunyaan orang lain tanpa menunggu jawaban “iya, gw persilakan” diminum abis lagi, bukannya nyisain dikit kek atau apa. Itu bir gw beli 7$ woi, kalau kayak bir bintang yang Cuma 1-2$ sih gpp. Lagian dia gak takut gw ada penyakit atau apa gitu maen ngambil punya orang. Tapi ya sudah lah, hal kecil gak usah dipermasalahkan. Saat kedua mata kita berpapasan, gw melihat kantung matanya benar-benar hitam, ini orang sudah nangis berapa hari ini ? gumam gw pada saat itu. Setelah itu gw melewati dia yang sudah dalam posisi “asalnya”, mengarahkan badan kembali ke counter food and beverages di ujung kiri koridor dari stadium untuk membeli bir kembali.

Sekembali gw ke tempat duduk, gw cuekkin aja dia. Gw coba meletakkan bir di sebelah kanan ( bukan sisi kiri lagi ), mencoba mengamankan barang kepunyaan gw dari jambretan setan dan berusaha menikmati konser kembali.

Lagu Sky Full of Star mengumandang sebagai lagu terakhir dari konser tersebut. Penonton di suruh bangkit dari tempat duduknya tak terkecuali gw juga. Pada saat itu, gelang cahaya yang gw pakaikan di tangan kanan gw berubah warna dan berkelip-kelip. Sungguh indah dan tampaknya keadaan sekitar seperti begitu juga. Coldplay benar-benar membuat lautan penonton ini menjadi alam semesta dengan gelang-gelangnya menjadi “star”-nya. Sekilas gw mencoba menengok kearah makhluk tersebut, sekarang sudah tak ada isak tangis, diam dan kepalanya oleng ke kanan. Bodo amat pikir gw dalam hati, gw dah bayar mahal ngapain kepo soal dia gumam gw.

Such a heavenly view uuuu..
You’re such a heavenly view uuuu..


Langsung di iringin dengan tepuk tangan dan pamit dari band tersebut. Gw berteriak sekencang-kencangnya tanda puas akan performance mereka, gw pernah baca dalam sebuah web. “Hal-hal yang harus di lakukan sebelum anda merit” sudah gw wujudkan dengan menonton konser dari band kesayangan gw. Setelah kru band mengambil langkah seperti akan membereskan panggung, penonton langsung membereskan barang-barang di tempat duduk mereka juga dan akan beranjak pulang. Gw juga melakukan hal yang sama, karena gw tau kalau gak cepat-cepat maka lautan masyarakat tersebut akan memadati komoditer / angkutan umum dalam radius 2 km lebih. Bisa-bisa gw nyampe subuh ini kalau gak bergerak cepat ,pikir gw pada saat itu. Pada saat gw sedang melangkah melewati makhluk tersebut, gw gak sengaja memperhatikan,

“Anjrit tetap gk bergerak ini orang” pikir gw dalam hati, Mati ini anak orang mungkin tambah pikir gw. Daripada kenapa-kenapa gw coba sentuh-sentuh dia sambil bilang
“Hoi Hoi” Lama kayaknya ada sekitar 1 menit gak ada gerakan, kata “bodoh amat” gw keluar untuk kedua kalinya. Gw tinggal aja ini mah. Ngapain ngurusin stranger yang notabene gw gk kenal sama sekali, udah gitu ngambilin bir orang lagi. Setelah gw melangkah 1-2 langkah, gw berpikir dalam hati. Ini beda bro kaya di Indo, di Indo mah bisa kita tinggalin toh gak bakalan ada yang tau. Tapi ini gw udah berinteraksi tadi pada saat dia minta bir. Udah pasti kerecord di cctv lah ini . Kalau dia kenapa-kenapa, Pas investigasi, pasti gw kena “lagi”. Kenapa gw begitu takut berhubungan dengan government di sini. Karena kurang lebih 4 bulan yang lalu, gw ketangkap sama imigrasi officer ketika gw mau keluar dari negara ini. Gw gk sengaja memotret menggunakan hp didalam lingkungan imigrasi hanya karena teman gw tanya “lagi di mana cuy”, alhasil gw diseret masuk sama petugasnya dan di introgasi selama 1 jam lebih. Petugasnya mencoba mengutak atik hp gw dan berencana mau nyita hp gw sebagai barang bukti tindakan kriminal tapi diurungkan niatnya dikarenakan ketika dia menscrool images yang ada di hp gw, semuanya foto-foto homo lagi bertebaran. Ada antara co cantik sama co jelek, ada co sama kuda. Bangke, gara-gara whatsapp group teman-teman gw yang lupa gw untick auto save image jadi otomatis download ke hp. Akhirnya gw Cuma di peringatkan sama kepolisian kalau gw ketangkap lagi untuk ke2x nya gw bakalan di deportasi sambil dengan muka jijik petugasnya. Anjrit, kan gw takut; gw masih butuh duid di sini.
Kembali ke suasana sekarang, gw gak mengendurkan toelan gw. Karena gak ada reaksi sama sekali gw mencoba membuka hoddienya, ada rasa penasaran yang hinggap di hati gw, dan alhasil gw mendapatkan sebuah muka yang penuh akan banyak bentol berwarna merah sana sini.

.
..
...

Spoiler for Spoiler:

Diubah oleh ginb
CHAPTER 2


Cantik karena matanya sadhu dengan kombinasi rambutnya berwarna hitam. Bibirnya tipis dan sedikit mancung. Jijik karena makeupnya luntur dilibas dgn air mata dengan bentol2 merah di muka. Pola bentolnya membuat bulu kuduk gw berdiri, spertinya gw mengidap trypophobia. Anda gak tahu artinya ? silakan google. Kalau bulu kuduk anda berdiri, berarti kita bisa jadi sahabat yang baik.

Ngepet, gw memaki diri tanpa arah, ini mah jackpot dan kena alergi. Sok-sokan mnum 1 gelas full. Gw mencoba memanggil petugas, tetapi kondisi masyarakat yang bergelombang menghampiri petugas membuat mreka kewalahan dan mencuekin gw. Sial pikir gw, kenapa kondisinya ini. Berusaha menyalahkan keadaan gak membuat kondisi menjadi baik, maka gw berteriak agak kenceng.


“Hoi, bangun hoi “ Dari tangan yang gak ada reaksinya, gw mencoba mengarahkan tangan ini kearah yg lebih sensitif. Palanya gw toel lebih kenceng.

Sekitar 2-3 menit lebih, tiba2 dia tersadar dan bangun serta beranjak seperti ornng linglung. Bodo, pikir gw, gw mencoba cuek aja. Biarin aja dia jalan kemana kek bukan urusan gw. Eh stelah gw mencoba beranjak meninggalkan tempat duduk gw, gw melihat ad tas yang berayun tepat di kursi si makhluk itu. Mau gka mau gw harus susul dia dan betapa terkejutny gw melihat dia sudah terkapar di dekat pintu keluar bersamaan dengan orang orang yang lain.

Gw mencoba memapah dia keluar dari stadium diiringi dengan pandangan bingung dari orang yang lalu lalang. Memang di negeri ini, orangnya pada sibuk sendiri, ibaratnya Loe itu ya urusan Loe, not my business.

“gw mau pulang ke hotel.” Sayup sayup terdengar sembari batuk,
“Ya sana !” Jawab gw dgn nada E# seraya mencoba menjauh dari dia.

Dia diam membisu gak menjawab, mengubah gw untuk berpikir kembali. Wong tadi aja jalan sempoyongan, gmn bs pulang sendiri. Ad rasa iba yang muncul di hati gw, lalu gw berucap.

“Di mana hotel lu !” Tetap dengan intonasi yang sama.
“Di arcadia.” jwbnya dan kembali membisu.

Gw mencoba membuka ponsel dan mencari di mbah letak hotel tersebut dan mendapati bahwa hotel tersebut hotel mewah ( judge dari harga per malam nya yang berkisar 150-200$ ) dan perlu kira-kira 6-7 stop. Gw papah dia kembali dan mencoba ke hotel tersebut. Sampai di hotel, gw terkagum-kagum dgn nuansa melayu dgn chandelier yang begitu indah di tngahnya. Segera gw mencoba merebahkan makhluk itu di ruang tunggu hotel tersebut dan gw mencoba menanyakan ke resepsionis perihal nomor kamar si makhluk itu.

“Permisi, ad teman saya yang lagi tipsi” seraya gw menunjukkan jari ke gw makhluk tersebut.
Tiba-tiba gw di cut begitu saja sama resepsionisnya,
“Nama ?” Hmm, interesting. Nama dia siapa kupret. Gw terhenyak kaget, eh!?!?.. hmm tunggu sebentar. Gw kembali ke tmpat si makhluk tersebut dan mencoba membuka tas dia. Gw mendapati tas dia merek couch warna hitam dgn tali emas dan berupaya segentle mungkin membukanya. Maajubilah, klo kegores gw di suruh ganti kan repot pikir gw saat itu. Di bagian tengah gw menemukan lipstik, kartu atm, roti jepang dan passport berwarna hijau tua. Gw membuka halaman terakhir dan mencoba mencari namanya

Fiona eclesia, ooh fiona toh guman gw. Hmm loh gw inget nama dia ini !!???

Fiona eclesia ? Loh ini kan makelar ticket coldplay gw. Gw transfer duid atas nama dia kalau gak salah gumam gw. Ah ya sudahlah, pikir gw dalam hati. Langsung gw menghampiri resepsionis dan mengumumkan namanya.

“Fiona eclesia ya ? Hmm. Tamunya baru check out hari ini jam 12 siang. Ini masih ad kopernya di sini. Apakah mau di ambil ? “

Kupret kata gw dalam hati, alamat gw dititipin kopernya ini. Gw langsung ngambil kopernya dan gw coba bangunin dia tp jawabannya tetep ngawur. Sempat gw berpikir malam ini cari hotel dekat sini aja trus gw check-in nin dia abis itu gw tinggal pulang. Tapi di mana nyarinya ? Udh jam segini, gak mungkin ad hotel lagi pikir gw. Ah bangke, mau gk mau gw boyong juga ini makhluk ke apartemen gw. Gw papah dia lagi sambil mencoba cari bus malam. Kebetulan masih ad karena masih belum lewat batas jam akhir dr layanan umum di negera ini.

Sesampai di apartemen gw, apartemen yg gw sewa maksudnya. Gw merebahkan si fiona ini di kasur gw. Bukan merebahkan sih lebih tepatnya lempar dia ke sana. Jengkel iah, cape juga iah, bayangkan aja udah gw papah, ngmngnya ngalur ngilur, bawa kopernya lagi. Kalau teko di taruh di kepala gw, mungkin bisa mendidih itu air. Seketika itu gw beranjak untuk mandi dan gw tinggalkan dia yang sudah tak bergeming di kasur gw.

Sedikit gambaran, ruangan apartemen gw gak terlalu besar, 1 kamar kecil, dapur hanya sekitar 2 keramik ukuran 60cm, toilet dan ruang tamu + ruang makan menghadap luar dengan 6 jendela besar di tambah gorden warna biru tua.

Selepas mandi, gw mencoba mencari kasur lipat dan gw gelarkan di ruang tamu. Yes, betul gw tidur di luar. Gw gk mau terjadi apa2 dalam kehidupan gw dengan stranger. Apalagi di negara orang. Tiba2
“hoekkk hoekk,” gw kaget segila gilanya.

Ngepet adanya itu, udh di kasih kasur enak disingasana gw. Malah dia sekarang di kotorin dengan makanan yang udh hancur dan ad sedikit warna hijau di kasur gw ketika gw mencoba mencari sumber dari suara tersebut. Gw menghela napas, ini adalah kejadian yang paling menjengkelkan dalam hidup gw, kesialan bertubi2 yang gw alami semenjak interaksi antara gw dan makhluk ini di konser coldplay. Gw mencoba menendang dia, inginku teriak untuk membangunkan dia tapi jam sudah menunjukkan pukul 2 subuh.

“Gw butuh tidur ibuu gumam gw.”
Gw tarik aja sprei kasur gw dan membuangnya ke mesin cuci dekat ruang tamu. Gw mencoba mencari baju yang pas buat dia karena bajunya udh bau dengan keringat bercampur dengan muntahan nan cantik. Kalau dipikir-pikir adegan kayak gini tuh sering terjadi di film2 romance dan novel2. Co menganti baju cewek yang mabok atau apa gt trus bsok paginya si cewek bangun dan ngerasa di perhatikan dan dipeduliin ama dia, takut dia kedinginan Huh! Sorry bro and sis, gw lebih peduli kasur gw, alamat bayar 700$ ke owner yang punya apartemen kalau bekasnya gk bisa ilang karena muntahan pas inspeksi mendadak.

Pada saat gw mencoba menganti bajunya, dia sepertinya tersadar kalau ad yang menyentuh dia.

Plakk !!
Anjrit gw ditampar

Lo mau ngapain gw ! Perkosa gw ye !
Gw kesal

Gw lempar aja baju ke muka dia,
Pake tuh baju, daripada gw charge u 1000$ buat gantiin kasur gw.

Gw banting pintu kamar dan gw tidur.
Anjrit
eh sorry salah.

Spoiler for Spoiler:


Diubah oleh ginb
CHAPTER 3



“I wanna scream and shout and let it out loud
Scream and shout and let it out
You said ooh ii ooh iouoiuu “


Hmm, lantunan suara britney spears membangunkan gw, gw mencoba merabah asal suara itu.

Halo ??
Bangunn K, udh jam berapa inii !! Suara cewek di ujung suara telpon ini

Siapa ini ? Masih dalam kondisi kurang sadar.

Maudyy !! Loe kan ad janji ama gw mau nemenin gw cari dress di Orch way K.

Laen kali aja ya Dy, puyeng ini pala gw. Belum cukup tidur jawab gw.

Ahhhh, gitu lagi deh. Kebiasaan. Ada nada kecewa menyeruak di tengah2 responnya

Next deh, gw gk bakal batalin. Yadah ya gw mau bobok lagi ucap gw dengan intention ingin menyudahi.

Ehh, gw belum kelar K, Rendhika !!

Tuut tuut tuut

Gw tutup aja, berisik banget dah pagi2 pikir gw.

Gw mencoba untuk kembali tertidur kembali,

1 menitt
2 menittt
10 menitttt

Huff, gw mencoba berpindah posisi tetapi gak membuat gw bisa terlelap. Akhirnya gw hrs bangun dan mencoba melihat jam di hp. Hmm jam 8, kemarin tidur jam 2an brarti 6 jam. Oke pas ! Pikir gw yang nantinya gw sesali. Gw betul concern akan tidur gw. Pertama gw orangnya suka emosian kalau jam tidur gw di ganggu dengan beberapa hal yang annoying, dan hal lain adalah gw harus tidur lebih dr 6 jam kalau gak gw sering mendapati diri gw berputar2 1 hari full alias vertigo. Tapi karena gw gak merasa dunia serasa berputar makanya bisa di bilang pas. Situasi emosional gw akan sedikit terganggu apabila jam tidur gw udh lewat dan gw jg belum di ranjang. Itulah kenapa kemarin gw begitu banyak mengucap sumpah serapah dari anjrit, ngepet, bangke sampe juga anjing.

Hmm kemarin, kemarin !!?? Begitu kagetnya gw teringat bahwasannya ad makhluk berkelamin wanita sedang di kamar gw. Gw langsung bangun dan mencoba membuka pintu kamar gw hanya untuk memastikan dia udh enakan atau gak. Kalau udh ya gw usir aja keluar dr apartemen.

Gdeg gdeg gdeg.
Kampret, di kunci.

Gw menghela napas, mencoba menghampiri toilet untuk cuci muka dan mandi di saat yang bersamaan. Setelah itu gw siapin makanan roti panggang selai blueberry dan teh dngan sedikit gula coba gw seduh.

Gw coba ketuk pintu kamar kembali berupaya mengetuk iman tuh makhluk biar dibukakan pintunya.

“Hoi, buka pintunya. Udh pagi ini, gw gk bakalan perkosa. Tenang aja sahut gw” Gw juga meletakan secangkir teh dan roti panggang di bawah lantai.

Gw keluar dari apartemen sebentar menelusuri lorong dengan membawa kantong sampah yang gw ambil dr dapur. Sekembalinya gw ke ruangan, roti dan teh udh gk ad di tempat. Gw coba buka pintu kembali.


Gdeg gdeg gdeg, dikunci. Dikira gw bell boy apa !! naruh makanan di bawah pintu trus di ambil sama tamu hotel! Huh!


Tepat pukul 10 pagi, gw sedang menonton tv di ruang tamu. Tiba2

Cekrek,

Wah, pintu gw akhirnya di buka. Gw udah siap dengan semua umpatan yang ad di otak gw yang sudah di persiapkan beberapa jam sebelumnya. Bodo amat dengan kiasan wanita itu seperti bunga, mereka hrs diperlakukan dengan lembut, baik hati, dengan kasih sayang. Ngomong ama kolor gw nih yang gak di ganti2 karena pintu kamar di kunci. Gw udh siap mendampratnya eh tiba2 muncul kepala makhluk tersebut.

Dia menatap gw sinis tiba2 dan bertnya
“Toiletnya di mana !!?”

Eh..

Gw gak menjawabnya selama beberapa saat, tiba2
“Woi toilet !”
Tuh di sana, seraya menunjukan jari gw ke arah jawaban atas pertnyaan dia.
Cantik, menurut gw. Kemarin malam gw sama sekali gak memperhatikan dia. Yang gw ingat Cuma bentolan aja. Rambutnya berwarna agak coklat bukan hitam dengan agak curly di bagian bawahnya. Perpaduan wajah dengan rambutnya menurut gw sangat cocok karena warna wajahnya yang putih ( gak seputih seperti orang anemia ) dan sangat elok di pandang. Tetapi yang menyita perhatian gw adalah matanya, hitam tapi ada warna birunya sedikit. Soflens kah ?
Tubuhnya menurut gw sangat proporsional dengan pantat yang sedikit menunging dan kaki yang gak terlalu besar menopangnya. Betul, gw memperhatikan pantatnya ketika dia berjalan ke toilet. Bukan napsu tapi hanya belum pernah gw melihat ciptaan Yang Esa begitu sempurna menurut gw.
Diubah oleh ginb
Ditunggu lanjutannya gan emoticon-Peluk
Quote:


makasihhh agannn.

hahahaha
Balasan post ginb
CHAPTER 4


Truushh.. Trusshhh…
Bunyi flush toilet…
Gw segera menghilangkan imaginasi gw, mencoba memperhatikan dia kembali ketika berjalan masuk ke kamar gw.
“Jangan ditutup, gw perlu ganti kolor “ ucap gw
Ada senyum menyunging dikit dari mulut dia
Aduhai Tuhan, manis banget.
“Iye !” jawab dia dengan ketus. Buyar semua angan-angan gw kembali, ditarik balik ke realita bahwa makhluk ini bukan makhluk bersahabat. Malaikat berhati siluman.
Segera gw menyelip masuk ke kamar, dan secepatnya gw menarik kolor gw dan perlengkapan baju dan celana gw. Dia masih duduk di Kasur gw dengan memegang palanya, sepertinya masih sedikit pusing. Bir kemarin malam itu bukan bir angker atau bintang biasa, tetapi bir yang udah di campur sama GIN. Wajar sih orangnya tepar kalau belum terbiasa minumnya, lagian di 1 shoot gimana gak celeng.
“Lu marah ya?” tanya dia sembari bersender di Kasur gw.
Gw gak menjawab, hanya mengeluarkan gesture menunjukkan jari telunjuk ke kepala memberikan arti bahwa “Lu Pikir !??!!”
Dia sepertinya tau maksud dari gesture itu,
“Ya Maap” jawab dia dengan terburu-buru.
“Untuk hal apa?” kembali gw berucap.
“Semua”
“Semua seperti apa ?” jadi kesel gw. Ngomong kok setengah-setengah.

“Dari sikap loe ke gw, kayaknya gw membebankan loe banget kemarin” Gumam dia dengan nada ketus dengan suara agak kecil.

Ya Tuhan, pertahanan gw jebol.

“Loe bisa gak, gak usah nyolot”. Loe itu ye, posisinya lagi gw tolong ini. Dikasih jantung minta empedu banget. Udah nyusahin, ditampar, ngambilin bir orang tanpa permisi. Bentol lagi
Sok!”.
“Gw kedinginan” jawabnya
“Whateverlah, mau dingin kek, mau panas kek gw gak peduli, mending kalau loe udah sadar, loe keluar deh dari kamar gw.” Jawab gw dengan ketus.
“Gak usah dibilangin juga gw peka!” kembali dia berucap dengan nada yang gak senang. Mungkin akibat gw konforntasi langsung.
“Emang bener loe harus peka” Jawab gw dengan gak mau kalahnya.
Dia langsung beranjak dari tempat tidur dan keluar begitu saja dari apartemen gw.

Bagus, jangan sampe gw lihat muka loe lagi, gumam gw dalam hati. Gw membanting badan gw ke Kasur, penat banget pala gw. Sepertinya vertigo gw mulai menghampiri, amazing !.
Kata orang salah satu hal yang bisa dilakukan untuk meredam emosi seperti ini adalah tidur dan sekaligus gw juga kurang tidur. Walaupun pas tidurnya tetapi ukuran tidur normal adalah 8 jam. Ngutang 2 jam berarti.
Gw mencoba melayangkan badan dan merileksan sendi-sendi otot terlebih di kepala. Hmm, dia kedinginan toh makanya ngambil bir orang. Tapi kenapa dia gak beli sendiri coba, trus dia nangis berarti mungkin lagi ada masalah, trus dia menjual ticket di samping tempat duduknya dia, mungkin sebelumnya untuk seseorang yang bisa dikatakan special. Trus.. truss. Truss. Arghh banyakan trusnya geram gw.

Kebiasaan lama gw keluar, banyak mikir, sok sokan menganalisa tapi yang benar mah sotoy sama parnoan. Gw punya kekhawatiran berlebih yang membuat gw gampang stress dan sedikit depresi. Hal ini sering membuat gw jatuh sakit terlebih sakit maag. Mungkin udah berlubang-lubang sepertinya kantung maag gw.

Tak sadar gw melamun sekitar 15 menit dan tersadar akan suatu benda yang gak sengaja terpantau. Bentuknya hitam dengan tali emas. Couch. Tas nya ketinggalan.
Baguss, nice abis.
Mau gak mau gw harus balikin tuh tas ke empunya. Tapi gimana caranya ? Gw Cuma tau Namanya tapi gak dengan nomornya. Biarin aja lah, nanti kalau dia nyadar tentu dia balik lagi pikir gw saat itu. Gw mencoba menenangkan hati gw dari rasa khawatir.
Tiba-tiba gw teringat perkataan Maudy
“Cewek itu buta arah, makanya butuh cowok buat menuntun dia” Ucap dia sambil membolak balikan Gmaps karena kebingungan ketika kita ada trip ke salah satu negara di south east asia juga saat itu.
Sial, brarti dia mungkin dia gak tau cara balik ke apartemen gw sembari gw buru-buru mencari sandal gw. Tapi gak ada sama sekali, hilang kah atau ntah gw taruh dimana sandal gw. Gw langsung apa aja yang bisa dipakai demi menyusul dia.
Ada sekitar 1 jam lebih gw mencoba mencari makhluk itu. Di bus station, di tempat makan sudah gw coba sambangi tapi nihil hasilnya. Akhirnya gw menemukan dia tengah duduk manis di kursi bangku taman. Kebetulan taman ini mempunya tempat bermain anak2 di tengahnya dan di himpit 3-4 bangunan di sampingnya. Berjarak lebih dari 2 block dari apartemen gw dan akhirnya berbuahkan hasil. Gw coba panggil dia dari kejauhan,
“Hoi”
Dia gak menjawab, gak menggubris sama sekali. Gw yakin suara gw cukup lantang sebagai laki-laki dan juga suasana di sekitar sana membuat suara kita sangat gampang untuk bergema.
“Woi”
Dia gak menjawab untuk ke 2 kalinya
“Woi Fiona”
Dia menengok dan sembari sedikit teriak
“Kenapa lagi sih”
“Nih” sembari gw mengayunkan tasnya dia.
Dia seperti menyadari bahwa itu tasnya dia, ketika gw memberikan ke dia dan ingin balik ke apartemen gw.
Dia mencoba menarik lengan gw seperti menahan kepergian gw.
Gw kaget dan bingung,
“Bisa tolong pinjemin duid ke gw ?”.
Setan !
Diubah oleh ginb
CHAPTER 5


“Bisa pinjemin duid ke gw ?”
Gw bengong, drama apa lagi ini.
“Loe yakin gw mau pinjemin duid ke loe ?” tanya balik gw sembari terheran-heran.
“Ya loe ikhlas gw tidur ngemper di jalanan trus gak makan berhari-hari ?”
“Kalau gw mati, loe yang tanggung jawab” jawabnya dengan muka agak ngeyel tetapi ada getaran di ujung kalimatnya.
Gw berpikir, benar juga. Kalau dia mati, gw juga yang di cari ama aparat sini. Melihat dari gelagatnya yang bersylist gini, harusnya dia mampu untuk membayar nantinya.
“Loe mau pinjem duid berapa ?” tanya gw. Gw melihat dia kasihan juga.
“2000$-3000$ saja” jawab dia sekenanya.
“Woi, buat apaan aja segitu banyak. Loe mau pinjem atau mau ngerampok itu ?” jawab gw dengan kesal.
“Loe mau pinjemin segitu atau gak ?” tanya dia.
“Gak ada segitu, adanya gw ikhlas pinjemin duid buat loe beli ticket pesawat pulang ke rumah loe” Gw menjawab seadanya aja. Memang gw gak punya duid sebanyak itu. Hidup di negara asing gak menjamin kalau loe punya tabungan banyak. Karena gw gak mengendapkan duid gw di negara sini. Semua duidnya di bawa pulang ke Indonesia untuk mencukupi ke 1 adik gw dalam masa perkuliahan dia dan membayar beberapa utang jatuh tempo dari keluarga gw. Ya benar, alasan terpenting gw kerja di luar negeri ini bukan untuk senang-senang. Yang pasti keluarga gw sedang terlilit utang yang banyak dan memang butuh kerja keras gw untuk membayar itu.
“Gw gak bisa pulang ke Indo” dia berkata.
“Haduh” jawab gw
“Yawdah gini aja, Loe kasih gw tumpangan dulu aja ya di apartemen loe” Kata dia seenak-enaknya
“Ogah Ogah, gw gak mau di repotin loe. Setengah malam aja gw udah repot banget apalagi berhari-hari” gerutu gw.
“Loe tega lihat gw mati di sini ?” jawab dia dengan muka agak melas.
“Bodo, itu urusan loe” jawab gw.
Gw mencoba melarikan diri dari situasi yang gak menyenangkan.
Sesaat setelah gw sudah melanjutkan langkah melewati dia, gw masih sempat melihat dia sudah tertunduk lesu dan duduk di daerah taman itu kembali. Muncul perasaan iba di hati gw. Gw gak senang di satu hal, lingkungan introvert gw sedang di kacaukan oleh perasaan gw. Gw selalu merasa nyaman ketika pulang ke apartemen dalam kondisi sepi. Nyaman akan keterbiasaan itu selama berpuluh-puluh tahun. Selama gw merantau ini, gak pernah sekalipun wanita tinggal barang ama gw untuk beberapa hari. Yes, kalian pasti senang. Ya gw jomblo. Bukan jomblo sih lebih tepatnya tapi single berkualitas ( penamaan sendiri ). Satu hal lagi, gw masih punya rasa kemanusiaan. Gw khawatir sebenarnya sama makhluk tersebut kalau kenapa-kenapa. Memang gak ada yang harus di pertanggung jawabkan, tapi rasa iba itu gak mudah dihapus begitu saja.

Gw mencoba kembali di spot yang tadi mendapati dia sedang termenung gak tahu arah jalan pulang.
“Woi Fiona” Teriak gw.
Dia menengok ke arah gw, terbersit air mata sedikit menumpuk tapi gak mengalir dari kelopak matanya. Gw tahu dia sedang menahan sesuatu, semua kejadian aneh ini pasti ada alasan tapi gw mengurungkan niat gw untuk mencari tahu sumberny
“Iyah ??” Jawab dia
“Berubah pikiran ?” tambah dia.
“Iyee, loe boleh nginap tapi ikut aturan gw!”
“Siap Boss” jawab dia bersemangat sambil sumringah.
“Peraturan no 1, tuh kelarin air matanya terlebih dahulu” Ucap gw.
“Siap Boss”
“Peraturan no 2, tuh sandal gw balikin. Jangan di colong lagi” ucap gw.
“Eh iyahh, gw kelupaan. Lagi kesal tadi soalnya” Cengengesan lagi dia.
Emang, gw sekarang makai sepatu karena sandal yang harusnya gw pakai tiba-tiba hilang ketika gw sedang terburu-buru mengejarnya. Gak tau-nya dicolong ama ini bocah.
“Loe cengengesan lagi, gw suruh tidur di gerobak sampah sana tuh!” tunjuk gw ke gerobak sampah berwarna hijau dengan penuh amarah.
Dia terkejut dan ada rasa jijik di mukanya ketika melihat gerobak sampah tersebut.
“Iyah, jangan donnnggg” ucap dia.
“Iyee, cepet balik sekarang. Gw mau briefing-in loe soalnya.
“Siap Boss” jawab dia dengan tegas.
Ketika kita sedang berjalan dia sedikit berbisik
“Loe emang baik”
“Ha loe ngomong apa ?” tanya gw dengan penuh heran.
“Gak gak.., yuk cepetan. Gw lapar ini” jawab dia sembari melempar senyum.
Ninggalin jejak dulu di calon HT.
Balasan post mxyztplk2
Mkasih gann! semoga menarik
Mantep nih, ditunggu lho lanjutanya
Quote:


Makasih agan !!
Quote:


Iya gan sama 2
CHAPTER 6


Humphh, tiba-tiba ada tangan mencengkram bahu gw.
“Ah loe toh Dy” ucap gw mendapati Maudy sudah memijit-mijit bahu gw.
“Loe kemarin-kemarin kemana ? batalin seenaknya mulu. Udah janji padahal loh” Tanya Maudy disusul dengan intonasi kecewa di akhir.
“Iyee, janji deh next ya” Gw merasa gak enak hati menjawabnya.
“Janji-janji, Cowok itu harus bisa di pegang janjinya. Mau gimana nanti kalau udah punya istri ..”
Belum selesai dia berbicara, langsung gw potong
“Mulai deh ceramah pak ustadz keluar”.
Maudy tertawa mendengar kalimat yang sering gw ucapkan.

Gw pengen menceritakan Maudy ini. Secara fisik, Maudy ini sempurna. Badannya bak model kelas atas karena dia sering melakukan squatch katanya. Dari segi muka.. hmm seperti siapa ya. Seperti Ariel T***m kalau gak salah. Bibirnya gak sebesar Ariel Tatum sih tapi masih cukup menggoda. Rambutnya Panjang melewati bahunya berwarna hitam dan agak curly.

Yang ngeselin itu, banyak banget yang nanya informasi-informasi tentang si Maudy ini ke gw.
Kebanyakan teman-teman gw yang berasal dari Malaysia dan Philipines yang sangat gencar mencari hal tersebut. Mereka kira gw sama maudy sudah temenan lama dan itu yang menjadikan gw menjadi sasaran mereka. Sedikit annoying sih, bukan urusan gw tetapi gw juga yang ikut mengurusin-nya. Sebenarnya kedekatan gw sama maudy itu juga gak lama-lama amat, gw mengenal dia ketika pertama kali bekerja di kantor ini, maklum Cuma kita ber2 yang memiliki kebangsaan yang sama dan itu juga yang membuat kita menjadi dekat karena factor itu. Tiap istirahat siang ataupun sepulang kerja ada aja agenda yang dibuat sama dia untuk pergi “hang out” bareng. Dia sih ngomongnya ingin melestarikan kefasihan berbahasa Indonesia nya dan menjadikan gw lawan bicaranya. Gw sih gak mempermasalahkan aktivitas mendadak tersebut, yang gw khawatirkan itu keadaan finansial gw. Si Maudy ini ngajaknya ke tempat-tempat yang lumayan berglamour di daerah ini dan itu cukup membuat dompet gw jebol bol bol bol bol. Ada suatu saat gw protes akan pilihan dia dengan mengutarakan keadaan finansial gw. Dibayarin sih tapi kadang-kadang. Itulah yang membuat gw membiasakan diri “ngendok” di kamar pada saat weekend, karena pada saat itulah gw bisa melakukan tradisi saving money gw ( walaupun weekend juga di ajak ama Maudy keluar ).

Kalau di tanya apakah gw suka ama dia ? hmm, mungkin bisa di jawab iyah “pada awalnya”. Siapa sih yang gak suka cewek girang, loyal, ceria dan baik hati ( kalau ada maunya ) dengan di berkahi tampilan outlook yang begitu sempurna. Tapi gw mengurungkan perasaan ini dalam-dalam karena gw melihat perbedaan gap yang sangat besar sekali. Maudy yang selalu pakai tas Michael Kors sedangkan tas gw hanya sanggup merek Nike itupun yang di taman puring punya.
Memang kalau Namanya cinta itu apapun akan terasa enak, tapi buat gw; gap yang terlalu besar tersebut bisa menarik gw ke lobang yang lebih dalam. Gw gak mau karena style yang tinggi, finansial gw harus dikorbankan. Bisa di katakan sih gw Pelit dan Loyal dalam waktu yang sama. Pelit karena gw bener-bener saving money pas weekend, dan Loyal untuk hang out bareng si Maudy ini. Menyusahkan memang.

Tiba-tiba gw merasakan bulu kuduk gw berdiri kencang.
“Hoi, bengong aja” bisik Maudy di telinga gw.
“Anjrit” teriak gw dalam hati, dia gak tahu apa kalau titik rangsangan cowok itu salah satunya ada di telinga sambil gw mencoba menjauhkan muka gw dari mulutnya dia.
Segera gw menghilangkan pikiran yang beracun itu.
“K, bener deh, loe tuh harus dengerin gw”.
“Loe tuh kebiasaan janji-janji mulu, udah berapa kali hati gw kau patahkan” jawab dia sok puitis seperti itu.
Memang kebiasaan ini anak, menggoda-goda gitu. Jadinya kadang-kadang gw merasa GR juga. Pernah dia mengajak gw untuk menatto punggungnya dan dia menyuruh gw untuk memilih gambarnya. Coba anda semua pikir, bijimana kalau anda di kondisikan seperti itu pemirsa.
Itu badannya dia, tapi gw yang pilihin gambarnya. Kalau gw pilih gambar-gambar yang jelek, itu membekas seumur hidup dia loh. Di sini gw dibuat GR, gw sempat mempertanyakan, apakah gw sepenting itu di hidup dia sampai gw merasa terhormat. Jawabannya gampang, “Just for Fun”, begitu dia menjawab gw. Gw sampai tertegun dibuatnya.
“Iyeee, udah berapa kali sih loe ngomong kayak gitu”. “Loe emang mirip emak gw, Cuma kurang sapu doang di tangan sama daster warna pink”.
“haha, konyol loe” ketawa tapi tangannya menoel pala gw.
“Eh Loe tau gak, si Gonzales itu; suka banget curi-curi pandang ke gw”. Tanya dia
“Kok loe bisa tahu kalau dia suka curi-curi pandang kalau loe sendiri gak curi curi pandang ke dia”. Jawab gw
“Yee, maksud loe; gw yang curi-curi pandang gitu. Lagian dia kayak menampakan wajahnya di setiap sudut arahan mata gw. Tapi dia ganteng sih” sambung dia.
“Mulai deh si bangke”. Keluh gw.
“Kalau curi-curi pandang gitu, tandanya cowok tertarik gitu ya ke cewek” tanya dia ke gw.
“Tertarik itu ada 2, tertarik hati sama tertarik napsu”. Jawab gw.
“Tertarik napsu ? kayak apaan tuh ?” tanya dia kembali.
“Loe coba liat Gonzales aja, kalau kedua mata kalian bertemu coba lihat mulutnya. Kalau dia kayak seperti membersihkan bibirnya berarti itu tanda napsu”. Jawab gw dengan ngawur.
“Ah emang iah tah ?” Tanya dia
“Tapi loe juga suka gitu ke gw, loe napsu ama gw kah ?” tanya dia keheranan.
“Ehh eh, gw gak napsu. Kebetulan aja bibir gw kering” jawab gw dengan ngawur; takut ketahuan.
“Ah masakk” centilnya keluar.
“Iah, bawel bet dah. Udah sana-sana balik ke tempat loe lagi” berupaya menyelamatkan diri
“Nanti kalau di marahin bos, gw juga yang kena” sambil mengeluarkan tangan gw dan mengusir dia.
“Eh nanti pulang, makan Sashimi yuk sambil minum-minum” Tanya dia dengan semangat.
Gw berpikir, satu hal gw suka sashimi. Makanan jepang itu emang enak banget. Cara ngolahnya, cara servenya sama saosnya itu loh. Nampol banget. Tapi..
“Hm… Kayaknya gak deh kali ini. Udah ada yang nunggu soalnya” jawab gw sekenanya.
“He nunggu, siapa ? Cewek ? Loe kan jomblo sejati emang ada yang nunggu?” serangan yang bertubi-tubi dari dia.
Gw hanya menjawab dengan senyum dan mengusir dia.
Diubah oleh ginb
CHAPTER 7


Cekrekk…
Bunyi pintu apartemen gw dibuka.
Capek banget hari ini. Batin gw berkata.
Gw mencium aroma makanan yang membuat gw juga ikutan harum.
“Malam” Sapa dia dengan senyum.
“Malam” Jawab gw sekenanya aja.
Ini adalah hari pertama sejak si Fiona tinggal bareng setelah gw menyetujui dia meracau di wilayah kekuasaan gw. Setelah incident di taman tersebut, gw melakukan briefing ke dia. Hal-hal apa aja yang harus di perhatikan kalau ingin tinggal “sebentar” di tempat gw seperti keadaan ruangan harus rapi, bantu gw untuk cuci dan ngepel. Gw berpikir harus menjadikan dia PRT kilat karena gw butuh PRT sedangkan harga PRT di sini sekitar 700-800$ per bulan dan annoyingnya setiap 3 bulan harus ke rumah sakit untuk pengecekan apakah ada tindakan kekerasan dari majikannya atau gak. Lumayan dapat PRT yang cantik dan bisa di modusin ( berharap lebih ). haha

Pagi hari biasanya gw memberikan dia sedikit uang untuk keperluan makan dia seharian. Sekitar 7-10$ cukup lah buat makan biasa kayak warteg-warteg gitu. Dan juga gw memberikan dia kunci cadangan untuk semua akses ruangan di apartemen gw kecuali kamar gw. Gw gak mau tiba2 pas gw pulang dia sudah hilang sambil nyolongin brankas yang ada di kamar gw. Sapa tau dia itu sindikat international yang nyamar jadi gembel di negara ini hanya untuk tipu tipu gw.
“Loe masak ?” Tanya gw dengan heran
“Kelihatannya kayak apa ?” Jawab dia datar
“Oke gw ganti, Loe bisa masak ?” Tanya gw kembali.
Dia hanya senyum, sambil mengarahkan jarinya di meja makan. Naajubilah Tuhanku, Engkau menempatkan ku di tempat yang tepat untuk melihat senyuman tersebut. Lagi lapar lihat senyuman kayak gitu, bisa kenyang. Kenyang cinta.
….
Gw melihat sudah tampak 2 masakan Indonesia tergeletak dasyhat di sana.
Nasi Goreng dengan potongan cabe gede dan Potongan timun diacar garam dan gula.
Sederhana tapi gw sangat rindu akan penampakan tersebut. Gw sudah lama banget gak makan makanan indo. Dan kalau boleh jujur ya, masalah makanan itu, di luar negeri seperti sekarang, jauh lebih gak enak di bandingin di Indonesia. Makanan sekitar 10-20$ lebih itu masih kalah sama warteg-warteg tetangga gw yang kecil kumuh tapi harganya bersahabat. Mungkin bedanya ada di MSG kali pikir gw. Di sini kalau ada makanan yang pakai MSG, gak bakalan laku. Mungkin mereka gak ingin jadi generasi micin seperti negara kita.
“Nanti makan bareng ya” ucap dia sembari mencuci peralatan masak.
“Yuk sekarang aja, gw cium baunya lapar ini” potong gw
Gw sudah di meja makan mungil gw dengan si Fiona baru duduk di depan gw.
Fiona terlihat manis dengan baju atau mungkin kaos kali ya berwarna pink dengan tulisan I’m Young berwarna hitam dan rambutnya dikuncir kuda. Dia memakai celana pendek diatas lutut tapi bukan celana gemes membuat dia menjadi selayaknya istri gw sesaat. Ya Tuhanku.
Gw mengambil sendok dan sudah siap menyendokin nasi goreng yang terlihat mengagumkan itu tetapi tangan gw di pukul ringan sama si Fiona.
“Doa dulu” ucap dia.
Kita berdua memenjamkan mata, gw sudah lama banget gak berdoa sebelum makan. Mungkin ada kali 7 tahun lebih. Sudah jauh akan jalan kebenaran. Haha
“Oke yuk” ucap dia membelah kesunyian di apartemen gw.
Langsung gak pakai lama, gw menyedokkan nasi ke mulut gw.
Begitu kunyahan pertama gw telan, astaga dragon rasanya begituuuu asinn. Anjrit parah banget. Rasanya ngetwist banget ini. Ini gw nyendok nasi yang di atas piring aja udah asin banget apalagi nanti yang di bawah-bawah punya pikir gw.
“Gimana ?” tanya Fiona dengan excited
“Uhh, hmm enak ini.” Senyum gw sepet.
“Oh iah, gw merasa agak keasinan seharusnya” tanya dia dengan keheranannya.
Anjrit, loe kalau udah tau keasinan kenapa masih dihidangkan. Gumam gw dalam hati
Ini kalau ada ibu-ibu hamil umur 7 bulanan bisa langsung keluar anaknya.
“Uh, gak kok. Bisa di makan” jawab gw
“Berarti benar keasinan” ucap dia setelah menganalisa tingkah laku gw.
Gw gak menjawab hanya mencoba menghabiskan “makanan” tersebut sambil terus mengerutu dalam hati. Untung rasanya agak terselamatkan potongan timun acar garam dan gula tersebut. Komposisi garam gak terlalu banyak sehingga rasa gula tersebut yang lebih dominan bisa sedikit memberikan perlawanan kepada rasa asin di nasi goreng gw.
Akhirnya selesai juga penderitaan gw, nasi gorengnya udah habis. Gw lolos dari pencobaan setan ini gumam gw dalam hati. Langsung gw mengambil air banyak-banyak dan meminumnya.
Berharap rasa asinnya sedikit berkurang. Gw liat Fiona sedang memperhatikan gw dan tersenym.
“Loe ye, kalau keasinan tadi tuh gak usah di habiskan” ucap dia begitu saja.
“Loe juga, kalau mau ngomong gitu pas gw lagi makan, udah telat, nasi udah udah masuk ke perut gw” Gerutu gw sambil nepuk perut buncit gw.
Dia tertawa, gw lihat piringan di nasi dia juga gak bersisa. Dia sepertinya berusaha menghabiskan sama seperti gw.
“Asin ?” tanya gw ke dia
“Banget” jawab dia.
Kita berdua pun ketawa bareng2.

Ya, walaupun kita berdua ini strangers, tapi tetap kita berdua ini punya indera pengecap yang normal. Malam itu, jarak kita gak terlalu kaku seperti awal-awal bertemu. Gw merasa kesunyian di apartemen gw sedikit terusik dengan kehangatan yang dibawa Fiona ini. Kehangatan yang asin sekali tersebut bisa juga melunturkan tembok kesepian di apartemen gw. Apakah ini sebuah berkah atau sebuah ancaman buat gw ? gw gak tahu, tanya saja sama rumput yang bergoyang.
Diubah oleh ginb


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di