alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
[Berita Gusur]"Sejak Ada MRT, Saya Malah Makin Blangsak!"
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cadb0c288b3cb47d82a7e41/berita-gusurquotsejak-ada-mrt-saya-malah-makin-blangsakquot

[Berita Gusur]"Sejak Ada MRT, Saya Malah Makin Blangsak!"

"Sejak Ada MRT, Saya Malah Makin Blangsak!" 

VITORIO MANTALEAN 
Kompas.com - 10/04/2019, 11:01 WIB 

JAKARTA, KOMPAS.com — Tak semua pihak ketiban pulung setelah beroperasinya moda raya terpadu (MRT) di Jakarta. Salah satu kalangan yang tergilas oleh beroperasinya MRT ialah para pedagang kaki lima. Kompas.com menemui sejumlah pedagang kaki lima yang tergusur dari area sekitar Stasiun MRT Lebak Bulus pada Senin (8/8/2019). 

Stasiun Lebak Bulus merupakan stasiun akhir yang menjadi salah satu simpul keramaian penumpang MRT. Para pedagang mengaku kehilangan keran pemasukan secara signifikan. Pasalnya, mereka tak lagi leluasa berdagang sejak pagi di sekitar area stasiun. Satuan polisi pamong praja (satpol PP) sudah berjaga dari pukul 06.00 hingga pukul 18.00. "Sejak ada MRT, saya malah makin blangsak!" ucap Yanto (54), salah seorang pedagang, kesal. 

Sebelum MRT beroperasi, Yanto saban hari berdagang mi ayam dan minuman di area yang kini telah menjadi stasiun itu. Ketika rel layang MRT sudah jadi pun, ia masih sempat berdagang di kolong rel layang. Saat itu, ia mengklaim sanggup membawa pulang uang lebih dari Rp 1,5 juta sehari. "Sekarang, kami cuma bisa bawa pulang sejuta, Rp 700.000. Sisanya? Nol! Impas sama modal," ucapnya dengan nada tinggi. 
"Dulu saya dagang dari pagi. Itu baru namanya usaha. Jam 07.00 kami datang, jam 12.00 istirahat, malam sudah kelar," ujarnya. Yanto berkisah, dia sudah berdagang mi ayam selama 20 tahun lebih sejak kawasan Lebak Bulus masih padat oleh bus yang berjejalan di terminal. Yanto menilai, langkah pengusiran pedagang kaki lima sama sekali tak mengindahkan keberadaan mereka sebagai kalangan yang tak berdaya. "Kami juga mau kerja kantoran, pegawai, tapi kami sadar juga kami bukan orang (ber-)pendidikan. Mau gimana lagi?" ujarnya. Ia merasa, mestinya para pengambil kebijakan dapat melakukan langkah yang lebih arif. 

"Kami enggak apa-apa dipindahin, tapi dikasih tempat, khusus pedagang, gitu. Kami juga mau bayar, duitnya nanti biar diputar pemerintah atau gimana, tapi kami dikasih tempat, enggak diusir begini," kata Yanto masih dengan suara tinggi. Hal serupa terjadi pada seorang pedagang minuman, Budi (49). Sebelum MRT beroperasi, ia bisa berjualan di dekat Stasiun Lebak Bulus pada petang hari, sesuatu yang kini mustahil ia lakukan. "Dulu, jam empat sudah bisa mulai jualan," ucapnya. "Sekarang boro-boro. Mau jualan malam aja mesti ambil (tempat) jauh-jauh, jaga-jaga kalau ketahuan kamtib," kata Budi sesekali menghela rokoknya. Imbasnya, pendapatan Budi yang biasanya Rp 400.000-Rp 500.000 sehari menukik seiring berubahnya tempat dan waktu berdagang. 

Jualan sampai pagi, sekarang mah, yah, gimana? Anak masih SD, ini juga enggak tahu lanjut sekolah (atau) enggak," tutur Budi yang mengaku kini hanya sanggup mengantongi setengah pendapatan dari biasanya. Ia mengatakan hal itu terjadi karena raibnya kesempatan meraup pundi-pundi pada jam pulang kerja sore hari yang notabene ramai pembeli. Sekarang, ia terpaksa berdagang hingga subuh, mengambil lokasi agak jauh dari stasiun, berharap dari penumpang bus-bus malam yang membawa penumpang dari luar kota ke Lebak Bulus. Budi mengatakan, bukan hanya pedagang mangkal di tepi jalan yang diusir.  "Yang ngasong saja diusir, pakai sepeda juga diusir," kata pria rantau asal Tapanuli tersebut. 

Setali tiga uang dengan Yanto dan Budi, Fitri (48) yang datang berjualan minuman bersama putranya juga mengeluhkan sama. Saat ditemui, putranya sedang tidak bersama Fitri. Fitri berkata, putranya sedang mengasongkan beberapa botol minuman di lampu merah. Sementara dirinya tetap di gerobaknya yang terletak di tempat yang kurang strategis. Lapak Fitri jauh dari keramaian dan hanya mengandalkan sorot lampu kendaraan agar dikenali dari jauh. 

Kepada Kompas.com, Fitri mengaku pasrah atas keadaannya yang mesti berdagang di tempat yang kurang strategis. "Pemerintah enggak bisa dilawan," ucapnya pelan. "Kenapa mereka mesti ngusir kami? Kami bukan teroris," katanya. "Apa hubungannya juga orang mau naik kereta? Orang naik kereta juga butuh minum, kan?" 

Dengan suara pelan, Fitri yang mulai berpikir akan kembali ke kampungnya di Bogor tak berharap banyak dengan hasil yang ia terima setiap hari pada saat ini. Sebelum MRT beroperasi, dalam sehari Fitri mengaku mampu membawa pulang Rp 300.000, dua kali lipat sebelum MRT beroperasi. "Sekarang kusut. Kalau anak saya enggak bantuin (jualan), pasti lebih sedikit lagi," ujar Fitri. 

Penertiban pedagang kaki lima sesuai dengan aturan. Undang-undang yang mengatur salah satunya adalah UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta Pasal 275 Ayat (1) jo Pasal 28 Ayat (2). Bunyinya, setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi Rambu Lalu Lintas, Marka Jalan, Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, fasilitas Pejalan Kaki, dan alat pengaman Pengguna Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). 

Larangan itu juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 serta Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan. Dalam beleid itu terdapat ketentuan pidana yang sangat tegas, 18 bulan penjara atau denda Rp 1,5 miliar, bagi setiap orang yang sengaja melakukan kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan dan trotoar.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Sejak Ada MRT, Saya Malah Makin Blangsak!"", https://megapolitan.kompas.com/read/2019/04/10/11014511/sejak-ada-mrt-saya-malah-makin-blangsak
Penulis : Vitorio Mantalean
Editor : Ana Shofiana Syatiri






kok tega banget, kenapa ngak diajak bicara dulu kaya waktu janji kampanye duluemoticon-Mewek
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
korban MRT pilih 02 kyaknya
PR banget sih kalau ngomongin pedagang kaki lima.
Jumlahnya akan selalu ada selama ada jalan atau tempat ramai belum ada yang mangkal pedagang.
Emang krn mereka mau dagang bisa seenaknya, ikutin aturan klo ga mau ya cari kerja lain..
Ketika rel layang MRT sudah jadi pun, ia masih sempat berdagang di kolong rel layang. Saat itu, ia mengklaim sanggup membawa pulang uang lebih dari Rp 1,5 juta sehari. "Sekarang, kami cuma bisa bawa pulang sejuta, Rp 700.000. Sisanya? Nol! Impas sama modal," ucapnya dengan nada tinggi.

Gede juga penghasilannya tukang mi, 1,5 jeti sehari wow
napa kagak di fasilitasi ama pemprov yaak .... biikinin kios atau lapak permanen emoticon-Big Grin
Suruh aja pindah ke gedung balaikota, kan gubernurnya palimg paham masalah PKL, sampe2 jalan raya dijadikan lapak pkl
trus program MRT di hentikan untuk mengakomodasi orang2 macam itu gituuu ?
Sekarang siapa caleg yang ada program buat mereka? berbicara lantang membela mereka, adakah?
ganti saja gabenernyaemoticon-Argentina
yaelah, yang pada kerja kantoran sih malah ketolong, apalagi yang banyak mobile emoticon-Big Grin
Udah jualan 20th dengan omset 1,5jt/hari tapi masih gak sanggup sewa tempat yang legal? emoticon-Bingung (S)

Berarti ada yang salah dengan manajemen keuangan bapak emoticon-shakehand































































emoticon-raining
tebalik keadaanya sama kaki lima blok a yg naek omzet nya dong? emoticon-Leh Uga
Balasan post donal.duck
Jujur, gw juga mikirnya gitu.
Bodoh emg pemerintah, Bikin MRT gk mikirin efek pedagang bgini..bkinin dong tempatnya mereka.. mencret kao
Quote:


Pekok dia bre penghasilan besar tp gk berani gambling untuk mencoba usaha yg lbh menghasilkan
Kan dari dulu sudah dibilang... Jakarta cuma punya satu masalah.."Warganya doyan ngeluh"... emoticon-Salaman
Hidup Pribumi
Quote:


Sebenarnya usahanya sekarang udah cukup menghasilkan emoticon-Blue Guy Smile (S)

Kuliner itu profitnya lumayan, bisa 15% s/d 30%

Anggaplah profit 20% dari omset 1,5jt sehari, itu sebulan bisa ngantongin 9jt.

Dan dengan 20th dagang masih ngarep disediain tempat? Gak mampu sewa tempat sendiri? Sungguh emoticon-Nohope

























































emoticon-norose
Quote:


Sungguh apa'nya bre
Quote:


Sungguh beruntung punya gub seperti bapak anies emoticon-Blue Guy Smile (S)

Disediain tempat, dimodalin, dicariin pembeli
[Berita Gusur]"Sejak Ada MRT, Saya Malah Makin Blangsak!"

































































emoticon-raining
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di