alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cad56972f568d3f3e246af9/wanita-terakhir

Wanita Terakhir

Wanita Terakhir

Jatuh cinta kepada pelanggan di tempat Nisrin bekerja adalah sebuah kesalahan. Itulah mindset yang selalu dijejalkan kepada dirinya dan teman-temannya yang bermata pencaharian sebagai wanita malam. Ah, mereka benci bila ada yang memanggil PSK. Istilah itu terasa hina dan murah.

Masih membahas mengenai jatuh cinta, tidak ada cerita dalam sejarah kehidupan mereka bahwa seorang wanita yang menjalin cinta dengan pelanggannya lantas digiring ke kantor urusan agama. Ujung-ujungnya mereka hanya dipacari secara cuma-cuma dan berakhir tetap di ranjang tanpa status apapun. Itulah yang menjadi landasan bahwa jatuh cinta seorang wanita malam kepada pelanggan ataupun sebaliknya, adalah hal yang amat sangat tidak mungkin. Karena nyatanya tidak pernah ada cinta tulus yang berawal dari sebuah nafsu.

Hati Nisrin sungguh dilema. Ada sosok pria yang terus menghantui dirinya. Pria yang tidak pernah tidur sekalipun dengannya. Bahkan meliriknya saja seakan menjadi hal terakhir yang terpaksa dilakukan oleh pria itu. Nisrin selalu merasakan letupan dalam dirinya saat berpapasan dengan pria yang datang ke tempat ia bekerja seminggu dua kali, Rabu dan Jumat. Ia yakin bahwa yang terjadi di dirinya bukanlah penasaran semata. Ada gelenyar aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Godain aja sekali. Siapa tau dia tertarik." Saran dari Melani membuat Nisrin menggeleng dengan cepat.

"Bukan cewek kayak gue yang jadi seleranya dia. Perhatiin deh, dia selalu memilih yang lebih tua. Mungkin dia mencari yang berpengalaman," tukas Nisrin.

"Tapi kayaknya dia horor deh, Rin," ujar Melani.
"Setiap cewek yang maen sama dia, pasti keluar dengan wajah sembab kayak habis nangis. Terus besoknya mereka izin."

Nisrin mengingat-ingat beberapa temannya yang sudah tidur dengan pria itu, sampai saat ini belum masuk kerja padahal sudah melewati batas waktu cuti. Mungkin memang ia harus melupakan pria itu. Ada untungnya juga bukan ia yang menjadi selera pria hidung belang yang menarik hatinya.

Sampai di suatu malam, Melani masuk ke dalam kamar bersama pria itu. Nisrin sangat terpukul dengan keadaan itu. Meski sebenarnya dia bukan ingin melayani pria itu, ia hanya ingin mengenal lebih dekat dengannya. Namun mengapa selalu bukan dirinya yang bisa berkesempatan berdua dengan pria itu. Dan, mengapa pula sampai detik ini ia masih saja jatuh hati padanya.

Nisrin meralat pemikirannya, berarti memang bukan mencari wanita yang lebih berpengalaman. Mungkin suatu saat nanti, ia yang akhirnya bisa menemani malam pria tersebut. Hanya saja, ia memiliki keinginan yang tidak tahu diri. Ia berharap pria itu mencintainya lalu membawanya pergi dari tempat ini. Keinginan yang teramat tidak mungkin. Nisrin menggelengkan kepalanya. Mungkin ia harus menenggak sedikit wine.

Ketika Nisrin meletakkan gelas yang sudah diteguknya, keningnya berkerut kala pandangannya tertuju pintu kamar. Pria itu keluar dengan keadaan yang sama seperti pertama kali masuk.

Sesaat setelahnya, ia dapati Melani keluar dengan mata yang lembab dan hidung yang merah. Ada sisa air yang mengering di kedua pipinya. Segera Nisrin menghampiri sahabatnya itu.

"Lo baik-baik aja, kan?" Nisrin sangat khawatir sampai-sampai ia menggenggam lengan sahabatnya itu.

Melani mengangguk pelan. Namun jawaban itu diyakinin oleh Nisrin hanya sebuah kepalsuan. Tidak mungkin ujung mata yang masih basah dapat diartikan sebagai keadaan yang baik-baik saja.

"Lo mau minum?" tawar Nisrin.

"Gue istirahat dulu, Nis. Makasih ya,” ujar Melani. Nisrin hanya bisa membiarkan Melani berlalu dari hadapannya.

Keesokan harinya, saat Nisrin terbangun di siang hari, ia tidak menemukan sosok Melani di tempat tidurnya. Sangat diluar kebiasaan bila Melani sudah terbangun lebih dahulu dari dirinya. Ada rasa heran yang semakin memuncak ketika ia sadar bahwa barang-barang Melani pun tidak ada lagi di tempat biasa. Dengan segera, Nisrin berlari ke arah pintu untuk mencari Mami Keila. Karena sepertinya hanya wanita itulah yang bisa memberitahu kemana Melani pergi disaat Nisrin tidak bisa menghubungi ponsel sahabatnya itu.

"Pulang kampung. Orang tuanya masuk rumah sakit," jawab Mami Keila acuh.
Ada kejanggalan di situ. Satu hal yang sangat Nisrin tahu adalah, Melani sudah tidak memiliki orang tua. Lantas, orang tua siapa yang dia maksud?

"Heran, belakangan ini banyak banget yang orang tuanya sakit. Udah gitu sampai sekarang kagak ada yang balik lagi," tukas Mami Keila. Nisrin pun sudah sejak beberapa hari yang lalu menyadari betapa tempatnya bekerja semakin sepi. Teman-temannya seolah menghilang.

"Lo jangan ikut-ikutan kabur. Mudah-mudahan orang tua elo di rumah nggak masuk rumah sakit kayak yang lain," celetuk Mami Keila. Nisrin tidak menjawab. Ia pun membiarkan Mami Keila pergi dari hadapannya.

Sampai di suatu malam, malam yang menjadi sejarah kehidupan yang tidak akan pernah ia lupakan.Sosok pria yang selama ini ia kagumi, menghampirinya dan tersenyum tanpa menatap mata Nisrin. Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Betapa jantung Nisrin berdebar begitu kencang seperti akan terlepas dari tubuhnya. Hal yang ia inginkan akhirnya terjadi juga. Meski hanya melayani. Namun setidaknya, kesepian di malam itu karena ia kehilangan temannya satu per satu, seolah terobati oleh kehadiran pria tersebut.
Nisrin menghirup napas dalam-dalam sesaat setelah mereka berdua ada di kamar yang tertutup. Ia harus mempersiapkan diri dengan kemungkinan disakiti seperti teman-temannya sebelum dia. Meski rasa kagum tidak pernah lepas dari pria itu, tetap saja ada kekhawatiran saat akan melakukannya. Sejuta rasa seakan bercampur menjadi bentuk yang tidak keruan.

Ya Tuhan.
Ups, kenapa ia memanggil Tuhan yang bahkan tidak pernah ia sembah.

Setelah dirasa keadaannya membaik, Nisrin mulai menghampiri pria itu untuk menyentuhnya.

"Berhenti!" tukas pria itu. "Jangan sentuh."
Nisrin terdiam. Mungkin pria itu memiliki orientasi seperti Christian Grey. Baiklah. Ia siap menjadi Anastasia Steel.

"Aku harus bagaimana?" tanya Nisrin dengan nada merayu.

"Kemasi barang-barang dan kita keluar dari sini."

"Apa?" Pernyataan pria itu membuat dua alisnya bersatu.

"Berhenti bekerja seperti ini. Saya akan menjamin kehidupan kamu," ujar pria itu.
Nisrin tersenyum sinis lalu berkata, "Omong kosong. Banyak tawaran seperti itu tapi pada akhirnya hanya ditiduri secara cuma-cuma."

"Saya tunggu besok pagi di bandara. Bilang saja bahwa orang tuamu masuk rumah sakit," ucap pria itu lagi.

"Aku tidak punya orang tua," jawab Nisrin ketus. Sesaat ia berpikir. Mungkin teman-temannya satu persatu tergiur dengan tawaran pria ini. Bisa saja Melani pun menjadi korbannya. "Anda mencari istri ke berapa?" tanya Nisrin.

"Pertama dan terakhir."

Nisrin mengerutkan kening seraya berkata, "Dengan merayu semua teman-temanku untuk keluar dari tempat ini? Satu untuk yang kesepuluh mungkin."

"Hanya kamu," ucap pria itu singkat. "Saya memang mencari istri, tapi bukan itu yang saya janjikan kepada mereka agar mereka berhenti bekerja disini."

Nisrin memperlihatkan raut wajah yang membutuhkan penjelasan lanjutan. Seolah paham, pria itu pun kembali berkata sambil menatap mata Nisrin untuk pertama kalinya.
"Hanya kamu. Hanya kamu yang aku inginkan menjadi yang pertama dan terakhir."

Sesaat, ada sesuatu yang mencair di hati Nisrin. Perasaan yang kembali seperti sebelumnya. Kagum, ingin memiliki, dan perlahan menjadi rasa nyaman. Benarkah pernyataan pria ini? Dia tidak sedang mempermainkannya, kan?

"Kenapa aku? Kalau memang Anda inginkan aku untuk menjadi istri, kenapa aku yang terakhir?" Nada bicara Nisrin mulai diberikan penekanan.

"Saya ingin menyelamatkan satu per satu dengan alasan yang berbeda. Saya juga sedang mengulur waktu. Baru sekarang lah saya bisa mengajakmu pergi setelah saya berhasil membuat perjanjian dengan aparat di sini." Pria itu menarik napas dalam-dalam. "Maaf. Maaf, saya yang salah dan terlambat. Maaf karena saya pun baru berani sekarang untuk mengutarakan perasaan ini."

"Maksudnya?"

"Saya jatuh cinta kepadamu sejak pertama kali bertemu dan saya merasa yakin bahwa kamu adalah orang yang tepat." Kalimat pria itu berhasil membuat kedua kaki Nisrin melemas seperti agar-agar. Ada lelehan yang perlahan keluar dari sudut matanya.

"Aku bukan wanita baik-baik." Nisrin terisak. Ia tidak pernah menyangka karena akan ada pria yang berkata setulus itu kepada wanita sepertinya.

"Saya akan membuatmu menjadi baik. Saya akan membantumu untuk memperbaiki semuanya."

Kedua mata mereka terpaut. Penuh cinta. Penuh harap. Nisrin menangis sejadi-jadinya. Lengan pria itu membelai lembut punggung Nisrin. Meski bukan dengan sebuah dekapan, tapi Nisrin merasa kehangatan yang dalam dari hadirnya sosok pria tersebut. Sosok yang ia anggap sebagai mimpi kemudian menjadi kenyataan.

"Jangan membuat Mami Keila curiga," ujar pria itu.

"May I kiss you?" pinta Nisrin. Pria itu menggeleng.

"Akan lebih indah bila sudah halal saja." Pria itu tersenyum. Senyum yang mendamaikan hati Nisrin. Senyum yang menghapus air mata pedihnya menjadi air mata bahagia.

END.
Diubah oleh Rapunzel.icious
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Bagus nih
Semangat ngetrit Sis 😊

Lanjutan Ceritanya....

Balasan post AnisMo
Diubah oleh Rapunzel.icious
Ahay, pucel nulis lagi
Cinta ohh cinta sungguh deritanya tiada akhir
indah sekali jalan ceritanya
Kekhawatiran Terakhir

Wanita dengan balutan kaftan putih ─tanpa jilbab─ duduk dengan menumpangkan kaki kanannya ke atas kaki kiri. Berkali-kali ia mengecek ponselnya ─sesekali melihat jam, lebih sering melihat layarnya saja─ tapi hal yang ia tunggu belum juga muncul. Keringat mengucur di pelipisnya. Wajar, ia salah memilih tempat untuk menunggu. Halte bis pada pukul 12 siang bukanlah tempat yang menawarkan kenyamanan.
“Nisrin!”
Wanita itu menoleh ke arah sumber suara. Ia yang tengah duduk cemas, langsung berdiri dan membiarkan Melani ─wanita yang membuatnya menunggu sangat lama─ berlari menghampirinya.
“Sori.”
Nisrin tidak menjawab. Mereka lalu berjalan beriringan.
“Benaran nggak apa-apa gue nginep di rumah lo?”
“Rumah laki gue,” ralat Nisrin cepat.
“Um, OK, rumah laki lo.” Melani menghela napas. “Boleh?” tanyanya lagi.
Nisrin mengangguk. Siapa yang akan melarang? Suaminya selalu mengiyakan apa yang diminta oleh dirinya. Bahkan saat ia pamit untuk pulang ke kampung halamannya selama beberapa minggu, izin dari suaminya bisa dikantongi dengan mudah.
“Nggak bakal lama, kok. Sampai gue nemu kontrakan baru yang deket sama tempat kerja gue,” jelas Melani
Lagi-lagi Nisrin tidak menanggapi. Hal itu membuat Melani menengok ke arah Nisrin untuk memperhatikan wajah sahabatnya itu. “Kok lo jadi pendiem banget sih, Nis?”
“Iya kah?” Nisrin malah balik bertanya.
Melani mengangguk. “Biasanya lo selalu excited, bersemangat, dan bawel.” Ada jeda sebentar sebelum Melani melanjutkan kalimatnya. “Lo aman-aman aja kan sama laki lo?”
“Gue baik-baik aja, kok. Mungkin karena gue kepanasan jadi kurang mood untuk ngobrol,” jawab Nisrin cepat.
Melani tidak bodoh. Ia bukan baru sebulan dua bulan kenal dan dekat dengan Nisrin. Ia tahu pasti bagaimana tindak tanduk sahabatnya itu bila ada sesuatu yang membuatnya sakit, kesal, atau marah. Dan sekarang, ia yakin sekali bahwa Nisrin sedang tidak baik-baik saja. Ia tidak pandai dalam menyembunyikan ekspresi dalam dirinya.
“Lo nggak mau cerita, Nis?” tawar Melani.
“Cerita apa? Nggak ada hal seru yang bisa gue ceritain kok, Mel.”
Melani akhirnya terdiam. Ia mulai kebingungan harus berkata bahkan berbuat apa.
“Tuh ada es jeruk, Nis. Kita beli ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Nisrin, Melani segera menghampiri pedagang yang mengasongkan es jeruk dan es teh manis. Melani membeli 2. Dan benar dugaan Melani, Nisrin tidak sama sekali berkomentar apa-apa dengan ajakan dirinya. Untungnya Nisrin masih bersedia menerima es jeruk yang dibelikan oleh Nisrin.
“Lo kan tadi kepanasan, kali aja setelah lo minum ini, lo jadi adem,” ujar Melani sambil tersenyum riang. Sayangnya senyum Nisrin hanya hambar muncul di lengkungan bibirnya.
‘Sekarang, lo udah mau cerita ke gue, belum?”

Bersambung.
Quote:

Duh tapi masih bingung nih Princess. Wkwkwkwk

Quote:

Iyayah. Aku juga belum menemukan yg tanpa derita *mulei curcol*

Quote:

Hihihihihi aku suka unicorn, warna ungu dan pink. Makasih sudah mampir. Sering2 ya *loh heheheh.
Quote:


Nulis lg lah inces
Balasan post Ikrom.lestari
Kasih ide awak lah. Kasih semangat juga. Awak lupa cara nulis yg gak bosenin. Hiks
Quote:


Ini mah salah uncel, yg ada tu aq yg di ajarain
Balasan post Ikrom.lestari
Lhaaa kenapa akoh? Wkwkwkwk.
Masih ada lanjutanya gak gan?
Balasan post cellato
Quote:


Masih bro, tar tungguk yak. Hohoho
Quote:


Hahaha siap gan ane tungguin
nyimak
Mana nih belum ada juga hehe emoticon-Cool
ane baru mpir punzel...


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di