alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / News / ... / IDNTimes /
[CERPEN-AN] Perempuan Tangguh
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cac95f79775137c2f1bd0d5/cerpen-an-perempuan-tangguh

[CERPEN-AN] Perempuan Tangguh

[CERPEN-AN] Perempuan Tangguh

Langit menguning, lembayung kemerah-merahan menyelubungi matahari yang sedari tadi bersiap-siap untuk pergi. Semilir angin terasa semakin dingin seakan-akan membisikkan bahwa malam akan segera datang.

Aku duduk di kursi teras dengan ditemani secangkir kopi hangat. Sudah lama Aku tidak merasakan kenyamanan ini. Suasana desa yang damai dan asri membuat hatiku tenang. Berbeda sekali dengan udara kota yang setiap hari ku hirup. Bising, panas, dan keruh bercampur dengan hiruk pikuk manusia-manusia yang lalu lalang. Ketenangan seakan harus rela dibagi dengan penghuni-penghuni lainnya.Itulah kenyataan hidup kota besar.

Hari ini, aku bersyukur mendapatkan jatah libur untuk pulang kampung. Ada acara besar yang harus aku hadiri di sini. Aku menggunakan kesempatan ini untuk melepas rindu terhadap suasana kampungku. Desa yang ke mana pun aku pergi, selalu menitipkan rindu agar aku cepat kembali.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang. Sebuah senyuman mengembang persis di depan bola mataku. Perempuan itu menyapaku dengan raut wajah yang menenangkan. Aku membalas senyum manisnya dengan senyuman yang tak kalah manis dengannya.

“Aha Pahaba?" Sapanya dengan diiringi isyarat tangan menanyakan kabarku.

Aku memandanginya lekat-lekat. Raut wajah yang sudah lama tidak kulihat. Perempuan yang dalam dirinya kubelajar tentang makna syukur yang sebenarnya. Namanya Sundari, dia adalah sepupuku.

“Baa Hik. Ha mu?" Balasku kemudian dan menanyakan kembali kabarnya.

Sundari beranjak dari posisinya lalu duduk di sampingku.

“Ha Nah Ho yeh?" Sambungnya menagih oleh-oleh.

Aku tersenyum manis mendengar kata-katanya. Aku tahu dia meminta buah tangan yang harusnya aku bawa dari kota. Karena terburu-buru, sampai tak ingat untuk membawakan oleh-oleh untuknya. Untuk menebus rasa bersalahku, aku ingin mengajaknya pergi ke pasar malam ini. Sekadar berbelanja di Supermarket atau makan bakso favoritnya kurasa itu cukup.

“Ma hu Ke Pa Sar?" Tanyaku mengajaknya ke pasar dengan isyarat tangan mengikuti gayanya.

Dia mengangguk kegirangan menerima ajakanku. Lalu bergegas pulang karena hari beranjak malam. Rumah Ibu dan rumah Sundari bersebelahan. Sundari adalah anak dari adik ayahku yang terpaut 10 tahun denganku. Dia bukan seperti kita yang terlahir normal.


Sundari itu seorang tuna rungu. Sejak kecil dia menjalani hidup dengan kekurangannya itu .Perempuan setinggi 165 cm, berkulit sawo matang, berhidung mancung dan bermata sayu itu selalu membuat aku kagum. Kalian tak akan mengerti betapa aku mengagumi sosoknya.

Seorang yang hidupnya berjalan lurus tanpa bisa protes. Perempuan tangguh yang selalu melekatkan senyumannya setiap bertemu orang. Mungkin kalian tak akan mengerti tentang bahasa isyaratnya. Namun senyumannya akan membuat kalian paham tentang ketulusan hatinya.

Sundari sudah bersiap dengan baju andalannya. Sebuah kemeja bermotif bunga-bunga yang dibelinya saat lebaran tahun lalu. Kerudung hijau ia padukan dengan celana jeans hitam. Dia sudah siap untuk bergegas pergi ke pasar. Aku pun menepati janjiku kepadanya.

Malam ini, aku berniat mampir terlebih dahulu ke tempat penjual bakso kesukaannya. Di sana aku bertemu dengan banyak teman-temanku. Aku bertukar sapa dan bercengkerama sejenak melepas rasa rinduku pada mereka. Namun ada yang membuat hatiku tidak enak. Pandangan temanku terhadap Sundari seakan berbeda.

“Pa ha ba?" Sapa Sundari menanyakan kabar pada temanku disambut dengan tawa yang lainnya.

Gelagak tawa mereka membuatku kecewa. Aku tahu bahasa isyarat itu terdengar asing ditelinga mereka. Tapi ketulusan hati Sundari untuk menyapa mereka lebih dalam maknanya. Jika dalam sapa isyarat saja mereka tak menghargainya,harus dengan apalagi manusia seperti Sundari menjalani kehidupan sosialnya? Ini bukan tentang kesempurnaan hidup yang kita miliki, tetapi bagaimana kita sebagai manusia harus dapat menghargai dan menerima keberagaman manusia lainnya.

Aku putuskan untuk segera pulang dan membawa Sundari menjauh dari mereka. Sudah sering aku melihat diskriminasi orang terhadap Sundari sedari kecil. Tapi kali ini terasa sakit sekali mengena di hatiku.

Pagi ini, aku bangun lebih awal. Ada acara pernikahan keluarga besar yang harus kuhadiri. Aku bersiap-siap mengenakan kebaya seragam. Ayah dan Ibu sudah terlebih dahulu menungguku di ruang tamu. Bagi keluarga kami, pernikahan adalah sebuah acara yang sangat penting. Semua anggota keluarga harus dapat hadir dalam acara besar itu.

Dari kejauhan, Sundari sudah mengenakan kebaya yang bermodel sama sepertiku. Raut wajahnya menunjukan tingginya antusias untuk menghadiri acara pernikahan ini. Sedari kecil Ia memang senang sekali apabila ada satu dari keluarga kami yang menggelar acara pernikahan.

“Ha Muh Can tik He ka li," kataku memuji penampilannya.

Sundari membalasnya dengan senyuman sambil tersipu malu.Kami pun bergegas untuk pergi bersama-sama ke tempat pernikahan itu. Sesampainya di sana, ada banyak keluarga besarku yang turut hadir. Mereka mengenakan kebaya hijau sama sepertiku.

Sejak dulu, aku merasa aneh dengan budaya di kampungku. Setiap kali digelar pernikahan, perempuan dituntut memakai kebaya khas dengan rok batik yang sesuai budaya kita. Namun untuk pakaian laki-laki, mereka mengenakan jas yang rapi mengikuti gaya eksekutif Eropa. Jika dilihat, seperti seorang Kartini yang disandingkan dengan Penjajah Belanda. Itulah keunikan kebudayaan, kemurniannya mengalami akulturasi dengan budaya lainnya yang lebih mengikuti tren.

Suasana pernikahan sangat ramai. Semua orang saling bercengkrama melepas rindu. Pandanganku mengarah pada Sundari. Perempuan itu sedang berdiri tepat di dekat meja makanan. Tak ada satupun orang yang mau mengajaknya berbicara. Mungkin mereka tak mau menghabiskan waktu dengan bahasa isyarat yang lelah sekali diperagakan. Setiap kali mereka melewati Sundari, mereka hanya memberi senyum tanpa bertegur sapa. Semua orang sibuk dengan kisah hidupnya sendiri. Aku bergegas mendekati Sundari untuk mengajaknya bicara.

“Hei Gayatri...waduh sudah lama nih gak pulang kampung. Sibuk apa di kota sampai gak ingat pulang. Mana oleh-oleh buat Paman?" Sapa pamanku yang menegurku tiba-tiba.

“Eh, Paman, iya baru sempat pulang. Oleh-oleh Gayatri gak bawa. Kemarin pulangnya buru-buru jadi gak sempat bawa apa-apa," jawabku. Pamanku melirik Sundari yang berdiri di sampingku.

“Hei....Gaya banget Kamu pake kebaya! Tuh, orang mah udah nikah. Kamu mah gak nikah-nikah," kata pamanku pada Sundari.

Aku merasa terperangah mendengar perkataan pamanku itu. Kalimat yang dia ucapkan tidak layak diberikan pada Sundari. Jika ini bentuk candaan,terasa seperti merendahkan. Sundari yang terbiasa mendengar itu,hanya membalasnya dengan senyuman. Aku tak mengerti mengapa orang dewasa pun suka sekali mem-bully. Mereka tak bisa membedakan apa itu candaan dan apa itu bully. Semua orang selalu melihat orang lain pada kekurangan yang mereka miliki. Manusia yang tidak terlahir normal selalu menjadi sasaran empuk bagi seorang pem-bully. Sulit sekali menyembuhkan kebiasaan buruk ini.

Tiba-tiba sepupuku yang lain menghampiri kami.

“Hei Sundari, coba ambilkan minum sama kue di sana," ucapnya

Sundari dengan cepat memenuhi permintaannya itu. Gelagak tawa tiba-tiba keluar dari mulut sepupuku itu. Ada yang membuatnya tak bisa menahan geli.

“Hahaha,hei… Sundari masa bajunya hijau sendalnya merah sih. Dasar aneh, deh!" katanya dipenuhi dengan tawa meledek.

“Huss, gak usah menertawakan orang. Meskipun begitu, dia lebih tua daripada kakak. Jangan pernah merendahkan orang lain" balasku dengan perasaan kesal.

“Haha, abis dia lucu, Dek. Bajunya kan warna hijau, masa sendalnya warna merah? Ngejreng lagi," sambungnya dengan tawa yang makin keras.

“Terserah dia, dong. Baju punya dia. Sendal pun punya dia. Gak pernah ngerugiin Kakak. Seharusnya jika memang dia norak, Kakak harusnya dapat mengarahkannya. Bukan malah menertawakannya. Dia kan sepupu Kakak juga," sambungku

“Ah, kamu mah gak asyik. Pergi, ah," jawab sepupuku lalu langsung pergi menjauh dari kami.

Aku heran dengan sepupuku itu.Tak ada sedikit pun mengerti tentang kekurangan Sundari. Dari dulu, Sundari selalu menjadi bahan tertawaannya. Setiap apa pun yang dilakukan Sundari selalu memancing kegeliannya. Kadangkala perilaku bully lebih banyak dilakukan oleh keluarga dari pada orang lain. Pergaulan kita yang lebih banyak berinteraksi dengan mereka, selalu menumbuhkan sikap bully yang kadang berlebihan. Kebiasaan ini membuat kita sulit membedakan antara lelucon dan bully-an.

Seharusnya keluargaku ingat perjuangan Sundari melawan kekurangannya. Jauh dalam hatinya Sundari ingin hidup layaknya seperti manusia normal. Dulu ia pun pernah disekolahkan di Sekolah Luar Biasa agar bisa membaca seperti orang lain. Tetapi kekurangannya itu tidak mudah untuk diperjuangkan. Indera pendengarannya tidak dapat merespon dengan baik informasi yang masuk ke telinga, sehingga mulutnya tidak bisa mengolah suara melalui kata-kata.

Kalian harus tahu ketangguhannya melawan dunia. Sikap diskriminatif orang-orang sekitar selalu ia terima di sepanjang hidupnya. Jika kita diberikan kelebihan untuk bebas mengekspresikan suara, lain dengan Sundari. Hidupnya dipaksa diam dan tak banyak pilihan. Melewati fase demi fase dalam proses perjalanan hidupnya merupakan pilihan satu-satunya. Tak ada mengeluh atau pun bersedih. Mengajak orang untuk mengerti tentang pikirannya saja belum tentu ada yang mau.

“Heh,heh," tegur Sundari membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum membalas tegurannya itu.

Pernikahan akan segera dimulai. Aku dan Sundari memilih tempat duduk yang strategis agar dapat menyaksikan acara itu dengan baik. Saat pengantin datang, Sundari tersenyum lebar melihat penampilan pengantin. Dia melipat kedua tangannya sambil menghela nafas panjang. Aku tahu ada perasaan kagum yang muncul dalam hatinya.

“Ha wiii," dia mengajukan pertanyaan kepadaku tentang kapan aku akan menikah.

“Ha mu du lu," jawabku sambil tersenyum.

Sundari membalasnya dengan menggelengkan dan menggerakan tangannya tanda tak tahu. Aku tahu dalam hatinya ia ingin seperti orang lain. Usianya yang telah mencapai 32 tahun sudah saatnya untuk membina rumah tangga. Mungkin teman-temannya yang seumuran dengannya sudah memiliki banyak anak.

Tapi berbeda dengan Sundari yang tak tahu jodohnya di mana. Aku tak mengerti tentang perkara jodoh. Secanggih-canggihnya ilmu teknologi, belum ada yang dapat memprediksi tentang jodoh seorang manusia. Jika manusia sudah berhasil pergi ke bulan, tetapi mereka belum mampu untuk menciptakan rumus jodoh seperti ini. Itulah bukti kebesaran Allah. Ada sesuatu yang tak bisa dilampaui oleh ilmu manusia.

Hari beranjak siang, kami memutuskan untuk kembali ke rumah. Aku ajak Sundari untuk tinggal sejenak di rumahku. Aku ingin sedikit bercerita tentang hidupku. Meskipun mungkin bahasa isyarat menjadi kendala percakapan kami, tetapi setidaknya Sundari tahu bahwa aku menyayanginya. Biarlah aku hidup dengan bahasa isyarat seumur hidupku, yang terpenting Sundari mengerti apa artinya keluarga.

“Ha ju ho beh," ucap sundari mengomentari bajuku yang ternyata robek.

Cepat-cepat ia mengambil benang dan menjahitnya dengan terampil. Aku tahu bahwa sedari dulu Sundari pandai dalam menjahit. Saat usianya 15 tahun, ia diizinkan untuk ikut kursus menjahit. Hasil dari jahitannya lumayan bagus dan rapi. Setiap kali keluarga kami membutuhkan penjahit baju, Sundari selalu dapat diandalkan. Tak pernah ia meminta upah. Disuruh saja sudah menyenangkan baginya. Dalam keterbatasan, ia ingin tetap berguna untuk orang lain.

Setiap orang memiliki bakat yang ada dalam dirinya. Begitupun Sundari yang terlahir sebagai seorang tuna rungu. Dalam kekurangannya, ia memiliki sebuah potensi untuk digali. Tak peduli semua orang hanya melihat dirinya sebelah mata. Karena lebih dari itu, ia adalah seorang yang Istimewa. Ada ketulusan yang tak dimiliki oleh orang lain. Ada perjuangan yang tak bisa dilihat oleh orang-orang yang tak tahu dengan makna hidup ini.

Sebagian orang hanya tahu bagaimana melihat kekurangan orang lain. Kebanyakan orang hanya tahu bagaimana memamerkan kelebihan yang ada padanya. Inilah penyebab mengapa orang lebih suka mem-bully dari pada memotivasi. Untuk orang yang memiliki jiwa yang lemah, hidup dalam ketidaknormalan akan mengundang banyak pem-bully. Sepanjang hidup hanya menjadi bahan tertawaan orang-orang yang merasa dirinya sempurna.

Lain dengan Sundari, perempuan tangguh ini memiliki jiwa yang kuat. Tak peduli seberapa banyak yang melukai hatinya, menghina fisiknya dan tak pernah memandangnya selayaknya manusia normal lainnya. Hidupnya akan terus berjalan. Senyuman manisnya akan tetap mengembang dalam bibirnya. Hatinya tak gentar melawan lelucon orang tentang dirinya. Ia lawan setiap bully-an dengan hati yang berjiwa besar. Hidup akan terus berjalan selama kita menginginkan untuk hidup.Belajar dari Sundari, Berjuanglah demi hidupmu!

***

Jakarta, 5 April 2019

 


Sumber : https://www.idntimes.com/fiction/sto...mpaign=network

---

Baca Juga :

- [CERPEN-AN] Perempuan Tangguh [CERPEN-AN] Otak Cakap, Mulut Bungkam

- [CERPEN-AN] Perempuan Tangguh [CERPEN-AN] Tentang Dia

- [CERPEN-AN] Perempuan Tangguh [CERPEN] Titik Pencarian

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di