alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta dalam Sebait Puisi
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cac10462f568d071a3e803b/cinta-dalam-sebait-puisi

Ketika Cinta Tak Berpihak

Part 1

Perpisahan Awal dari segalanya


"Siapa Hervan itu?" bentak Tedi pada Widya.

Widya hanya bisa menangis dengan wajah tertunduk.

"Ada hubungan apa antara kamu dengan Hervan?"

"Gak ada hubungan apa-apa. Dia cuma teman kerja."

"Bohong! Udah ketahuan buktinya masih saja berkilah," kata Tedi sambil menunjukan telepon genggam milik Widya, "Kalo gak ada hubungan apa-apa, mana mungkin bisa sms-an semesra ini," lanjutnya.

Widya semakin terpojok. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bicara pun tidak ada artinya. Tidak akan didengar. Emosi Tedi begitu menggebu-gebu.

"Lihat aja, aku akan menghabisinya!" emoticon-Blue Guy Bata (S)

"Mas, jangan sakiti dia!"

"Kamu masih berani membelanya!"

Plakkk!
Tamparan keras mendarat di wajah Widya.

"Dia gak salah apa-apa, aku yang salah!"

"Gak peduli! Pokoknya besok aku akan mendatanginya. Berani bermain api, harus berani terbakar. Hati dan kehidupanku sudah hancur, dia juga harus hancur!"

"Mas, dia gak salah. Aku yang salah. Aku yang mencintai dia."

"Kurang ajar!"

Plakkk...
Tedy kembali menampar Widya. Hatinya semakin memanas.

"Dia harus menerima akibatnya," geramnya.

***

Di tempat kerja Widya terlihat murung. Bagas yang dari tadi memperhatikannya, mencoba mendekat.

"Kenapa? Dari tadi mukanya seperti pantat kebo," Bagas mencoba menggodanya.

Widya terdiam dengan kepala tertunduk.

"Cerita, dong!" pinta Bagas.
Widya bergiming. Diam seribu bahasa.

"Masalah itu jangan dipendam, harus dikeluarin. Kentut juga kalo gak dikeluarin bisa bikin sakit perut. Mungkin aku bisa bantu memberikan solusi atau setidaknya hati kamu akan sedikit lega setelah menceritakannya," bujuk Bagas.

"Aku tidak apa-apa," jawab Widya, datar dengan wajah tertunduk.

"Jangan berbohong! Aku mengenalmu bukan hitungan menit, jadi bisa membedakan keadaanmu dalam berbagai kondisi."

Terlihat Widya seperti menahan sesak di dada.

"Percayalah! Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
Quote:


Terdengar isak tangis Widya. Masih tertunduk.

"Loh, kok malah nangis," ujar Bagas heran.

Widya mendongak ke arah Bagas. Bagas kaget melihat wajahnya.

"Kenapa dengan wajahmu?"

Terlihat wajah Widya lebam.

"Aku dipukuli Tedy," jelasnya bercampur tangis.

"Kenapa Tedy sampai tega memukulimu?"

"Ini semua salahku. Aku telah bermain hati sama Hervan. Semalam, Tedy memergoki saat aku dan Hervan sedang sms-an. Dia memeriksa seluruh isi sms tersebut."

"Sudah kubilang, kau akhiri aja dengan Hervan selama masih menjalin hubungan dengan Tedy. Kalau sudah seperti ini, habislah semua!"

Tangis Widya semakin tak terbendung. Bagas mengeluarkan telepon genggamnya.

"Elu ke ruangan Widya dulu. Ada yang perlu gue omongin," ucap bagas pada orang yang berada di balik telepon. Tidak lama kemudian seseorang muncul.

"Elu tahu ..." Belum juga Bagas menyelesaikan omongannya, sudah dipotong duluan.

"Semalam gue dapat sms dari Tedy. Dia ngancam gue," ujar Hervan sambil memperlihatkan isi sms pada Bagas.

"Aduh... jadi rumit begini," keluh Bagas.

"Semalam handphone aku dirampas oleh Tedy. Kalau ada telepon atau sms dari nomor aku, jangan direspon! Jangan diladeni!" pinta Widya.

"Jadi gue harus gimana?" tanya Hervan.

"Tadi kan Widya udah ngejelasin," jawab Bagas.

"Bukan itu. Gue harus gimana terhadap ancaman ini. Gue gak mau mati konyol!"

Semuanya terdiam. Hening. Hanya Widya yang sesekali terdengar sesenggukan.

"Tedy orangnya nekad," ucap Widya, lirih.

"Gas, elu harus tolongin gue!"
"Gara-gara kalian berdua, gue jadi ikut pusing."

"Pliiiisss... Gas... Tolongin gue!"

"Gue udah ngomong dari dulu supaya hubungan kalian jangan dilanjutin. Iya-iya mulu. Udah kejadian kaya gini, pada repot semua, kan?"

"Iya, sori-sori. Terus gue harus gimana?"

"Ya temuin Tedi dan minta maaf."

"Gila! Kalo nemuin dia, sama aja gue cari mati."

"Resiko elu!"

"Gas, jangan becanda! Ini serius."

"Gini aja, elu cari aman. Usahakan jangan sampai bertemu dengan Tedy dan jauhi Widya!"

Mendengar Bagas bicara seperti itu, Hervan dan Widya saling tatap.

"Dan, kamu Widya, usahain buat nenangin Tedy. Redam dia agar tidak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Gimana?"

Widya dan Hervan mengangguk tanda setuju.

Hubungan Widya dan Tedy sudah berlangsung cukup lama, sekitar tiga tahunan. Tapi, setahun belakangan ini, sikap Tedy berubah. Tidak pernah peduli lagi sama Widya. Pernah suatu hari Widya dalam keadaan sakit dan meminta tolong untuk diantar ke dokter. Tedy sama sekali tidak menggubrisnya. Pada akhirnya, Widya diantar sama Fina. Mengetahui hal itu, obat yang dari dokter malah dibakar Tedy. Entah apa alasannya sampai dia melakukan itu.

Selain itu, Tedy juga jarang menemui Widya. Kalau pun datang menemuinya, paling cuma buat minta uang. Habis itu pergi entah kemana. Batin Widya sangat tersiksa.

Beruntung, Widya punya sahabat yang begitu peduli terhadapnya. Sahabat yang selalu menyenangkan. Mereka adalah Fina, Bagas dan Hervan. Karena kedekatan itulah, dalam hati Widya timbul sebuah perasaan terhadap Hervan. Kenyamanan yang selama ini Widya butuhkan, didapatkan dari Hervan. Kebahagiaan yang Widya inginkan, bisa memperolehnya dari Hervan. Seiring waktu berjalan, Widya pun jatuh cinta. Komunikasi sama Hervan bukan cuma di tempat kerja saja. Tapi, lebih intens. Namun, perasaan yang tumbuh itu, justru mendatangkan petaka.

***

Kantor terlihat mulai kosong. Satu per satu orang-orang sudah pulang.

"Wid, kamu belum selesai?" tanya Intan, yang meja kerjanya bersebelahan sama Widya.

"Belum."

"Aku pulang duluan, ya!"

"Iya, hati-hati!"

Kini, cuma Widya yang ada di ruangan tersebut. Dia cuma duduk. Tidak mengerjakan apa-apa. Pikirannya begitu kalut. Memikirkan masalah hidupnya.

"Belum pulang?"

Tiba-tiba Widya dikejutkan oleh Bagas.

"Aku males pulang," jawabnya dengan wajah lesu, "Kamu sendiri?" lanjutnya.

"Tadi aku mau pulang, di jalan ketemu sama Intan. Katanya, kamu belum pulang. Makanya, aku nyusul ke sini."

"Ehmmmzz..." Widya menghembuskan napas dalam-dalam.

"Kita nongkrong di cafe aja, yuk! Gak enak kalo di sini. Entar malah disangka orang lagi mesum."

"Otak kamu tuh yang mesum!"

"Hahaha... dikit."

"Kamu yang traktir, ya?"

"Tenang aja, kebetulan aku lagi pengen sedekah ke kaum dhuafa."

"Huhhh! Tapi, Fina ajak!"

"Nih, lagi aku sms!"

"Ciee... gesit banget kalau urusan Fina," goda Widya.

"Nah, gitu dong! Jangan cemberut aja!"

Mereka pun beranjak pergi. Menuju cafe tempat biasa mereka nongkrong.

***
Bersambung...
Diubah oleh bounaparte
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Part 2

Salah Sasaran


Di Cafe. Terlihat Fina sudah ada di sana. Duduk di pojok. Tempat favorit mereka. Selain tidak sering terlewati oleh para pengunjung, juga bisa leluasa melihat pemandangan di luar cafe yang kebetulan dinding luarnya berupa kaca. Jadi, bisa tembus pandang.

"Lama banget sih!" ucap Fina saat Bagas dan Widya tiba.

"Hehehe... maklum, bekasi macet!" timpal Bagas.

"Kalian mau pesen apa?"

"Kalo aku seperti biasa, es coklat," ujar Bagas.

"Aku es teler aja deh! Makanannya ... cheese cake," kata Widya.

"Kak Bagas gak pesen makanan?" tanya Fina.

Fina selalu menyebut Bagas dengan Kakak. Meskipun sudah begitu akrab, tapi Fina merasa tidak enak kalau harus menyebut nama. Maklum, usia Fina jauh lebih muda dari Bagas. Selisih sembilan tahun.

"Aku nebeng ke kalian aja deh, biar ngirit!" jawab Bagas sambil cengengesan.

"Yehhh... bukan ngirit, tapi pelit!" celetuk Fina.

Widya hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Fina pun memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman. Terlihat Widya sudah membaik. Suasana hatinya kembali mencair. Tidak terlihat kalut seperti di kantor. Dia mulai bisa bercerita dengan jelas tentang pertengkaran sama Tedy.

"Tedy mukul aku tuh bukan kali ini aja. Sering. Bahkan, setiap kami berantem masalah apa aja, Tedy gak segan-segan mukul sama nendang," tutur Widya.

"Ya ampun, kok kamu sampai bertahan lama sih sama dia?" tanya Bagas.

"Kalo aku jadi kamu, cowok kaya gitu sudah dibuang ke laut!" celetuk Fina, kesal.

"Yakin nih... entarnya malah susah move on. Sama si itu aja sampai sekarang gak bisa move on," ledek Bagas pada Fina sambil.

"Iiihhh... nyebelin banget sih!" Fina kesal. Widya dan Bagas tertawa.

"Ya kalo gak mau dicengin, harus move on dong!"

"Loh, kok Widya malah belain Bagas sih!" Gerutu Fina.

"Jomblo ya? Hahaha..." Bagas kembali meledek. Fina terlihat cemberut.

Sejak putus sama Yoga, Fina belum punya pacar lagi. Dia memilih untuk sendiri. Ya, walau pun terlihat seperti trauma karena disakiti dengan cara paling sakit. Waktu itu, Yoga berselingkuh dengan Ica. Ica sendiri teman Fina. Yoga lebih memilih Ica. Sampai saat ini pertemanan Ica dan Fina berantakan meskipun Ica dan Yoga sudah putus.

"Sudah-sudah! Aku lanjut ya ceritanya. Sebenarnya udah dari dulu aku pengen putus sama Tedy. Cuma Tedy mengancam aku."

"Mengancam apa?" potong Bagas penuh penasaran.

"Dia ngancam mau ngebunuh aku."

"Gila tuh orang, maen bunuh anak orang aja. Dengerin ya, kalo kamu mau, kita bisa laporin ini ke polisi. Memar-memar yang ada pada tubuh kamu, sudah cukup untuk menjerat dia ke penjara!" ucap Bagas.

"Iya, kita penjarain aja tuh orang. Biar tahu rasa!" sambung Fina.
"Penjarain di hatimu yang kosong hahaha...."

Lagi-lagi Bagas malah meledek Fina.

"Ih, bisa serius gak sih!" Fina tampak marah.

Widya menahan tawa dan berkata, "Biarkan saja sampai dimana maunya. Aku gak mau ada borgol di antara kita."

"Ya terserah deh, aku cuma saran aja," sambung Bagas.

"Kita pulang, yuk!" ajak Fina.

"Ya udah, kita pulang aja. Tapi, maaf ya aku gak bisa nganter kalian."

"Idiihh... sok-sok'an banget sih! Ke sini aja pake angkot," celetuk Fina.

Mereka pun pulang. Kebetulan, Widya dan Bagas searah, jadi bisa bareng satu angkot. Sedangkan Fina, pulang lebih dulu.

Di saat lagi menunggu angkot, tiba-tiba aja sebuah sepeda motor berhenti tepat di hadapan mereka. Orang tersebut turun dari motornya.

"Ooo... jadi ini cowok yang mengganggu hidup gue," katanya mendekat ke arah Bagas.

Widya tampak terkejut. Ternyata dia adalah Tedy. Sedangkan Bagas, tampak terlihat begitu santai meski tahu setiap saat bahaya bisa mengancamnya.

"Kenalin, saya ..."

"baik!"

Belum juga selesai bicara, pukulan keras menghantam wajah Bagas. Bagas tersungkur. Tampak kesakitan. Bibirnya berdarah.

"Elu udah ngerusak hubungan gue, elu harus mampus!"

Tedy hendak menendang Bagas yang masih tersungkur. Dengan gesit, Bagas berhasil menangkis dan menjatuhkan Tedy. Kini, perkelahian pun tidak terelakan. Widya tidak bisa berbuat apa-apa. Terlihat panik. Sesekali berteriak meminta tolong. Kebetulan, keadaan sekitar sedang sepi.
Kembali Tedy melayangkan pukulannya. Bagas mengelak dan membalas dengan pukulan tangan kanannya. Pukulan Bagas mengenai hidung Tedy dan dia pun tersungkur. Tampak hidung Tedy mengeluarkan darah. Tedy semakin marah. Beberapa kali berusaha menyerang Bagas dengan pukulan dan tendangan. Cuma sayang, Bagas selalu berhasil mengelak dan menangkis pukulannya. Justru, Tedy yang harus menerima bogem mentah setiap kali dia menyerang.

Tidak berapa lama, orang-orang memisahkan mereka. Tedy berusaha untuk melepaskan dirinya dari orang-orang yang memeganginya. Widya segera menghampiri Tedy, dan ...

Plakk!
Widya menampar Tedy. Seketika Tedy terdiam. Beberapa orang mencoba menenangkan Widya.

"Kita putus!" ucap Widya kepada Tedy dengan penuh amarah. Widya pun bergegas pergi bersama Bagas.
***


"Aww, sakit tahu!" ucap Bagas saat Fina membantu mengobati lukanya.

Bagas dibawa ke rumah Fina. Menurut Widya, di sinilah tempat paling aman. Tedy tidak tahu tempat ini.

"Makanya, jangan berantem biar gak sakit?" ujar Fina, ketus.

Widya masih terlihat syok.

"Maaf, ya. Gara-gara aku, semuanya jadi begini. Kalian sudah jadi korban akibat kelakuanku," sesal Widya.

"Gak apa-apa, Wid. Kan cuma Kak Bagas yang dipukuli. Sering-sering aja kaya gini hahaha..." ucap Fina seperti mendapat angin segar untuk membalas Bagas yang sering meledeknya.

"Enak aja!" balas Bagas sambil menoyor kepala Fina.

"Adawww, sakit tahu!" ucap Fina dengan nada yang manja.

"Beruntung, kalo gak dipisahin warga, Si Tedy udah aku bikin goreng rengginang!"

"Bentar-bentar! Tapi kenapa Kak Bagas yang dipukuli? Kan harusnya Hervan," tanya Fina, heran.

"Ini salah sasaran. Tedy nyangka aku Hervan. Saat mau memperkenalkan diri, dia langsung menonjok," jelas Bagas.

"Hihi ... udah jelek, bonyok lagi," ledek Fina.

"Biarin, jelek-jelek juga aku bukan JOMBLO!" bela Bagas dengan nada penegasan. Fina tampak cemberut manja.

Setelah Bagas sudah merasa cukup mendapat perawatan, mereka pun pamit pulang dengan diantar paman Fina.
***


Diperjalanan, Widya minta berhenti di suatu tempat.

"Loh, kok turun di sini?" ujar Bagas.

"Iya, aku ada perlu dulu."

"Ya udah, hati-hati aja."

Widya turun dari mobil dan langsung berjalan memasuki sebuah gang kecil. Dengan wajah kesal, Widya menghampiri segerombolan anak muda yang terlihat membawa senjata tajam. Mereka tampak terperangah saat melihat Widya. Dihampirinya Tedy yang sedang duduk di tengah-tengah mereka.

"Kurang ajar!"

Plakkkk!
Widya menampar Tedy. Teman-temannya seketika diam. Beberapa dari mereka ada yang mundur selangkah-dua langkah. Semuanya tidak ada yang berani mendekat.

"Elu udah mukulin orang yang gak bersalah. Dia itu Bagas. Dia tidak tahu apa-apa soal ini," Tedy terdiam dengan wajah tertunduk, "Kalo sampai terjadi apa-apa sama teman-teman gue, gue bakal laporin masalah ini ke polisi! Satu hal lagi, jangan coba-coba ngehubungi gue lagi! Anggap aja kita gak pernah kenal!"

Setelah berbicara, Widya langsung pergi. Sedangkan, Tedy jadi bulan-bulanan teman-temannya. Dia membuat cerita bohong bahwa sudah dipukuli sama Hervan yang tiada lain adalah Bagas. Tedy mencoba memanfaatkan teman-temannya untuk menghabisi Bagas. Merasa dibohongi, teman-temannya langsung mengeroyok Tedy karena kesal.
***


Bersambung...
Diubah oleh bounaparte
Widya memang harus lebih tegas biar nggak senggara mulu. Salam kenal 😊
hihi... iya memang seharusnya begitu, meski terkadang perempuan suka mengorbankan perasaannya sendiri...
Part 3


Perasaan apakah itu?


Beberapa bulan kemudian.
Setelah putus dari Tedy, Widya merasakan ketenangan hidup yang sebelumnya tidak ia dapatkan. Ia pun bisa bisa bergaul dengan teman-temannya tanpa ada yang melarang. Tidak ada lagi pengekangan dalam hidupnya.

"Ada film bagus nih!" ucap Bagas.

"Film apaan?" timpal Widya.

"Pokoknya bagus! Romantis banget, bikin baper."

"Hmm, Fina banget dong!" sambung Widya sambil melirik Fina yang duduk di sebelahnya.

"Apaan sih!" Tampak Fina malu-malu.

"Pulang kerja, kita langsung ke bioskop aja ya!" ajak Bagas.

"Loh, kok dadakan sih!" protes Widya.

"Sesuatu yang direncanain itu, biasanya gak pernah jadi," timpal Bagas.

"Gimana, Fin?" tanya Widya.

"Aku sih yes!" jawab Fina dengan senyum manja.

"Tuh, kan! Voting selesai. Pulang kerja kita nonton."

Mereka sering menghabiskan waktu luang dengan menonton bioskop. Bagi mereka, menonton bioskop merupakan suatu cara untuk melepas penat.

"Ajak Hervan juga, dong!" pinta Widya.

"Bentar, ya." Bagas mengeluarkan telepon seluler dari saku. Lalu dia menelepon Hervan.

"Van, pulang kerja mau ikut gak?"

"Kemana?"

"Nonton bioskop."

"Emang mau nonton film apa?"
Bagas menyebutkan judul filmnya.

"Wah, film drama ya? Gue kurang suka."

"Jadi elu mau ikut gak?"

"Entar deh gue nyusul."

Telepon pun ditutup.

"Kalau Hervan, dia gak bisa janji bakal ikut," jelas Bagas dengan mimik wajah menyayangkan.

***


Di bioskop, antrean mengular di depan loket pembelian tiket.

"Sambil nunggu gue beli tiket, kalian duduk aja di sana sekalian pesan makanan," ujar Bagas sambil menunjuk ke sebuah cafe yang bersebelahan dengan bioskop.

Widya dan Fina pun mengiyakan dan berjalan menuju cafe. Sedangkan Bagas, langsung mengantre untuk membeli tiket.
Widya langsung memesan makanan dan minuman setelah berada di cafe. Memilih tempat duduk paling pojok.

"Eh, ngapain senyum-senyum sendiri?" ucap Widya yang dari tadi memperhatikan Fina.

"Gak apa-apa. Lagi seneng aja," timpal Fina.

"Oh, begitu... syukur, deh!"

Tak lama kemudian, pelayan datang membawa pesanan.

"Makasih," ucap Widya kepada pelayan. Dia langsung meminum jus yang dipesan.

"Wid, Kak Bagas orangnya baik, ya?"

Widya langsung tersedak mendengar Fina bertanya seperti itu.

"Tunggu-tunggu... jangan bilang elu ja ..."

Perkataan Widya lansung dipotong oleh Fina, "euuuhhh... gue juga gak ngerti. Akhir-akhir ini sering banget kepikiran dia. Cara bicara dia, cara dia memperlakukan orang, ah ... pokoknya gue gak ngerti kenapa sampe begitu!"

"Aduh, kacau!"
"Jadi, aku harus gimana?"

"Bagas udah tahu belum?"

"Belum."

"Jangan sampe Bagas tahu tentang perasaan elu! Simpan aja di dalam hati!"

"Gue sadar perasaan ini salah. Tapu, semakin gue menahannya, semakin sakit. Apalagi di saat lihat Kak Bagas sedang menelepon kekasihnya. Sangat perhatian! Meskipun kekasihnya berada di luar kota, Kak Bagas begitu menyayanginya. Itu membuat gue semakin sakit."

"Ya, mungkin ini yang dinamakan mencintai bukan untuk memiliki."

Tidak lama kemudian, Bagas datang. Widya dan Fina langsung menutup obrolan.

"Gue dipesenin gak!" tanya Fina.

"Nih!" ucap Fina sembari menyodorkan minuman rasa coklat.

"Ih, tahu banget nih adikku yang satu itu, minuman kesukaan gue," kata Bagas sambil duduk di depan Fina.

Fina membatin, "Hmmm, cuma dianggap adik!"

"Kok, cemberut gitu?" tanya Bagas pada Fina. Fina menendang kaki Bagas.

"Kok malah nendang?" Bagas malah heran, "Kalau ada masalah, ceritain, jangan main tendang aja, ya!" tutur Bagas sambil menggenggam tangan Fina yang membuat Fina salah tingkah.

Widya hanya tertunduk sambil mengaduk-ngaduk minuman dengan menggunakan sedotan. Dia merasakan bagaimana perasaan Fina saat ini.

"Jam berapa tayangnya?" tanya Widya mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Jam 16.30."

"Bentar lagi, dong!" ujar Widya sambil melihat jam yang berada di telepon genggamnya.

"Di Hervan gak jadi ikut. Tadi dia telepon, katanya mendadak dipanggil bos," jelas Bagas.

"Kenapa sama dia?"

"Gak tahu, Hervan gak ngomong apa-apa."

"Eh, bentar lagi mau tayang," potong Fina.

"Yuk, kita nunggu depan teater aja!" ajak Widya.

Mereka pun beranjak menuju teater. Tidak lama kemudian terdengar suara operator memberitahukan bahwa film akan segera dimulai. Penonton dengan tertib masuk ke dalam teater. Setelah menemukan tempat duduk yang sesuai dengan nomor yang tertera di tiket, mereka duduk. Fina berada di tengah-tengah Bagas dan Widya. Beberapa film yang akan tayang, terlebih diputar cuplikannya sebagai iklan.

"Bagusnya nonton film ini sama pacar!" ucap Bagas sambil mengusap kepala Fina. Fina hanya menanggapinya dengan bibir manyun.

"Makanya, buruan punya pacar!" ucap Widya, ikut-ikutan menggoda Fina.

"Ihh... malah ikut-ikutan. Biarin aja jomblo juga yang penting bahagia. Daripada Kak Bagas, pacaran aja kaya tendangan bebas, jarak jauh!" Mereka tertawa.

Film pun segera diputar. Semuanya hening. Tidak ada lagi yang selfie. Mata tertuju pada layar. Adegan pertama lumayan bisa membuat isi teater riuh dengan tertawa. Adegan kocak banyak dihadirkan di awal cerita. Tetapi, di bagian tengah mulai terdengar isak tangis penonton. Apalagi disaat pemeran utama yang laki-laki mencari cinta sejatinya yang pergi ke luar negeri karena penyakit kronisnya. Dia pergi karena tidak mau melihat kekasihnya bersedih ketika ajal menjemputnya. Sang lelaki pun mengejarnya ke luar negeri. Bertahun-tahun tidak berjumpa.

Namun, pada suatu hari, sahabatnya memperkenalkan tunangannya. Alangkah terkejutnya, tertanya tunangan sahabatnya itu, orang yang ia cari selama ini. Kemelut pun bergemuruh di hati mereka. Berada di antara dua pilihan, mengorbankan persahabatan atau perasaan. Sekian lama, mereka menutupi perasaan itu dari sahabatnya. Namun, akhirnya sahabatnya pun mengetahui dan merelakan tunangannya pergi. Sadar, jika cinta mereka tidak bisa dipisahkan.

Setelah film selesai, mata penonton terlihat sembab. Satu per satu meninggalkan ruangan. Bagas, Fina dan Widya pun beranjak pulang. Bagas mengantar mereka. Di dalam mobil, Fina duduk di depan, menemani Bagas. Widya sendiri memilih di belakang. Mereka tidak banyak bicara. Mungkin lelah. Cuma Fina yang sesekali curi-curi pandang ke Bagas.

"Kak, filmnya Bagus ya?" Fina mencoba membuka obrolan.

"Iya, awalnya kocak. Eh, ujung-ujungnya malah baper."

"Kakak nangis ya..."

"Eh-eh, bukan sebaliknya?"

"Aku gak nangis, kok!"

"Itu yang tadi sesenggukan?"

"Hehehe... dikit."

"Di film tadi ada kata-kata bagus."

"Yang mana?"
"Kalau gak salah begini,
Quote:
Gak kebayang melepaskan orang yang kita cintai untuk hidup bahagia bersama orang lain."

Fina terdiam. Wajahnya tertunduk dengan raut yang muram. Bagas konsentrasi menyetir. Tidak begitu memperhatikan Fina yang duduk di sampingnya. Tidak sadar, jika perasaan Fina, setiap detik bisa teriris. Terluka. Boleh jadi, suatu saat luka itu akan terlihat menganga dan sulit disembuhkan.

***

Bersambung...
Diubah oleh bounaparte
boleh juga.... tapi tolong dikurangi dialog nya ya... agak monoton kalau kebanyakan dialog. kritik aja sih...
Quote:


Makasih kritiknya...
Part 4


Curahan hati Fina


Terkadang cinta datang dengan cara yang aneh dan tidak terduga. Tanpa kita mau, tanpa kita kehendaki, jika cinta sudah hinggap di hati, tidak ada seorang pun bisa memungkirinya. Semakin dilawan, maka akan semakin terasa begitu kuat mencengkram hati.

Begitu pun dengan Fina. Ia tidak menyangka akan jatuh cinta pada Bagas. Bagas yang sudah seperti kakak sendiri. Bagas yang selalu menjadi pemicu dan pemacu hidupnya selama ini.

Hampir setiap malam yang terbayang di pikiran Fina adalah wajah Bagas. Sosok yang selama ini ia kagumi, menjelma cinta di hatinya.

Malam itu, Fina benar-benar sangat tersiksa dengan perasaan tersebut. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan itu hadir di waktu yang tidak tepat. Perasaan itu jatuh pada orang yang tidak tepat.

Jam menunjukkan pukul 10.00 malam. Fina terlihat gelisah. Mencoba ia mendengarkan musik syahdu agar perasaan lebih tenang. Namun, sia-sia. Pikirannya terus terganggu oleh bayangan Bagas. Ia pun mengambil telepon genggam. Lalu mencoba mengirim pesan pada Widya.

Fina : "Udah tidur belum?"

Tanpa menunggu lama, Widya pun membalas sms tersebut.

Widya : "Belum. Kenapa?"

Fina : "Boleh curhat?"

Widya : "Eummz... boleh gak yah?"

Fina : "Serius nih, aku bingung banget!"

Widya : "Mau curhat apa?"

Fina : "Aku bingung, Wid. Aku bener-bener jatuh cinta sama Bagas. Sadar, cinta ini tidak akan terbalas. Tapi, aku sangat sulit menyingkirkan perasaan itu. Dia benar-benar membuat aku nyaman. Bisa mengubah rasa sedihku menjadi bahagia. Di dekatnya, aku merasakan hanya menemukan kebahagiaan tanpa merasakan luka yang dulu pernah aku rasakan. Dia hadir sebagai obat dari racun yang telah kutenggak sendiri. Salahkah jika aku mencintai sosok yang telah membuat hidupku lebih hidup? Wid, jujur, aku bingung banget. Tidak tahu harus diapakan dengan perasaan ini."

Widya : "Aku tahu perasaan kamu seperti apa. Jika harus memilih satu di antara dua pilihan, mundur atau maju, tentu saja keduanya tidak akan menguntungkanmu. Jika maju, kamu tahu sendiri, Bagas sudah mau tunangan. Tentu saja ini bukan kabar baik, malah akan mendatangkan petaka. Hubungan kamu dan Bagas akan tidak baik. Seenggaknya bakal kaku. Gak bakal seluwes sekarang. Lebih parah lagi, kalau nanti Bagas menjauhi. Kamu bukan hanya harus kehilangan cinta, tetapi kamu juga akan kehilangan sahabat. Mundur pun sangat menyakitkan. Siapa sih yang gak bakal nyesek memendam cinta. Semakin dipendam, semakin sakit. Tapi apa boleh buat, dari pada harus kehilangan cinta dan sahabat, lebih baik mengorbankan cinta untuk persahabatan. Dengan begitu, meskipun kamu tidak bisa mendapatkan cintanya Bagas, tetapi kamu masih menjadi bagian hidup Bagas."

Tangan Fina terlihat bergetar. Ia tidak mampu mengetik balasan sms. Tubuhnya seketika lemas setelah tahu Bagas akan tunangan. Selama ini ia tidak pernah tahu tentang hal ini. Air matanya pun tak tertahankan. Dadanya semakin sesak. Hatinya seperti teriris sembilu. Perih. Sangat perih. Cinta yang selama ini ia rawat, justru malah hancur berkeping-keping sebelum orang yang dicintainya mengetahui perasaan tersebut.

Malam sunyi menemani Fina dengan kepiluannya. Pahit. Baru saja sembuh dari luka lama, kini harus tergores luka baru. Luka yang berbeda dengan luka-luka sebelumnya. Boleh jadi, luka ini akan sulit disembuhkan. Dia harus berpura-pura baik-baik saja di hadapan Bagas. Harus berpura-pura bahagia ketika Bagas bertunangan atau bahkan menikah. Melepaskan orang yang begitu kita cintai untuk hidup bahagia bersama orang lain, tidak semudah adegan di film. Butuh pengorbanan dan perjuangan ekstra. Fina harus hidup dengan kepura-puraan agar hubungan persabatan bersama Bagas tetap baik-baik saja. Tidak bisa dibayangkan betapa hancurnya saat menyaksikan Bagas memasangkan cincin pernikahan di jari manis kekasihnya. Di hatinya, boleh jadi ia akan berteriak seharusnya dialah yang berhak mendapatkan pernikahan itu. Sebab, perasaannya lebih dekat dan lebih besar dibandingkan dengan perempuan itu. Tapi, sekuat apapun Fina berteriak, sekencang apapun Fina berteriak, tidak akan ada orang yang mendengar. Hanya akan berwujud gema di lorong-lorong hati yang rapuh.
***


Bersambung...
Diubah oleh bounaparte


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di