alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
SBY Protes Konsep Kampanye Prabowo di GBK: Tak Lazim dan Eksklusif
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ca9988665b24d2ce25ee84a/sby-protes-konsep-kampanye-prabowo-di-gbk-tak-lazim-dan-eksklusif

SBY Protes Konsep Kampanye Prabowo di GBK: Tak Lazim dan Eksklusif

SBY Protes Konsep Kampanye Prabowo di GBK: Tak Lazim dan Eksklusif


Kumparan

2019/04/07 09:01


Gegap gempita massa pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang berhasil memutihkan Gelora Bung Karno (GBK) untuk kampanye akbar, turut dipantau oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY yang masih berada di Singapura mendampingi perawatan Ani Yudhoyono, rupanya tidak setuju dengan konsep kampanye akbar yang dimulai dari Salat Subuh itu. SBY mendengar rencana kampanye itu sejak Sabtu (6/4) sore, dan menilai cenderung eksklusif. Padahal, kampanye harusnya terbuka atau lebih inklusif.

Kegelisahan SBY itu terungkap dalam surat yang dikirimkan kepada pengurus Partai Demokrat malam tadi, dan diterima oleh kumparan Minggu (7/4) pagi ini.

"Sore hari ini, Sabtu, tanggal 6 April 2019 saya menerima berita dari tanah air tentang 'set up', 'run down' dan tampilan fisik kampanye akbar atau rapat umum pasangan capres-cawapres 02, Bapak Prabowo Subianto-Bapak Sandiaga Uno, di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif," tulis SBY dalam surat tersebut.

"Malam hari ini, saya mendapat kepastian bahwa informasi yang didapat dari pihak lingkaran dalam Bapak Prabowo, berita yang saya dengar itu mengandung kebenaran," imbuhnya.



Dalam surat itu, SBY meminta pengurus Demokrat menyampaikan masukan kepada Prabowo yang intinya kampanye akbar harusnya lebih inklusif dan menghindari politik identitas. Namun, tak dirinci oleh SBY konsep apa yang disebut inklusif tersebut.

"Cegah demonstrasi apalagi "show of force" identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrim."

SBY

Berikut surat lengkap SBY:

Kepada yang terhormat

1.Ketua Wanhor PD Amir Syamsudin

2.Waketum PD Syarief Hassan

3.Sekjen PD Hinca Panjaitan

Bismilahirrahmanirrahim

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Salam Sejahtera

Salam Demokrat !

Sebenarnya saya tidak ingin mengganggu konsentrasi perjuangan politik jajaran Partai Demokrat di tanah air, utamanya tugas kampanye pemilu yang tengah dilakukan saat ini, karena terhitung mulai tanggal 1 Maret 2019 yang lalu saya sudah memandatkan dan menugaskan Kogasma dan para pimpinan partai untuk mengemban tugas penting tersebut. Sungguhpun demikian, saya tentu memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan agar kampanye yang dijalankan oleh Partai Demokrat tetap berada dalam arah dan jalur yang benar, serta berlandaskan jati diri, nilai dan prinsip yang dianut oleh Partai Demokrat. Juga tidak menabrak akal sehat dan rasionalitas yang menjadi kekuatan partai kita.

Sore hari ini, Sabtu, tanggal 6 April 2019 saya menerima berita dari tanah air tentang "set up", "run down" dan tampilan fisik kampanye akbar atau rapat umum pasangan capres-cawapres 02, Bapak Prabowo Subianto-Bapak Sandiaga Uno, di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif, melalui sejumlah unsur pimpinan Partai Demokrat saya meminta konfirmasi apakah berita yang saya dengar itu benar. Malam hari ini, saya mendapat kepastian bahwa informasi yang didapat dari pihak lingkaran dalam Bapak Prabowo, berita yang saya dengar itu mengandung kebenaran.

Sehubungan dengan itu, saya minta kepada Bapak bertiga agar dapat memberikan saran kepada Bapak Prabowo Subianto, Capres yang diusung Partai Demokrat, untuk memastikan hal-hal sebagai berikut:

Penyelenggaraan kampanye nasional (dimana Partai Demokrat menjadi bagian didalamnya) tetap dan senantiasa mencerminkan "inclusiveness", dengan sasanti "Indonesia Untuk Semua" Juga mencerminkan kebhinekaan atau kemajemukan. Juga mencerminkan persatuan. "Unity in diversity". Cegah demonstrasi apalagi "show of force" identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrim.

Pemilihan Presiden yang segera akan dilakukan ini adalah untuk memilih pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, pemimpin kita semua. Karenanya, sejak awal "set up"nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap "Semua Untuk Semua" , atau "All For All". Calon pemimpin yang cara berpikir dan tekadnya adalah untuk menjadi pemimpin bagi semua, kalau terpilih kelak akan menjadi pemimpin yang kokoh dan insya Allah akan berhasil. Sebaliknya, pemimpin yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal "kawan dan lawan" untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh. Bahkan sejak awal sebenarnya dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa. Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu (sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi dan Pak Prabowo.

Saya pribadi, yang mantan Capres dan mantan Presiden, terus terang tidak suka jika rakyat Indonesia harus dibelah sebagai "pro Pancasila" dan "pro Kilafah". Kalau dalam kampanye ini dibangun polarisasi seperti itu, saya justeru khawatir jika bangsa kita nantinya benar-benar terbelah dalam dua kubu yang akan berhadapan dan bermusuhan selamanya. Kita harus belajar dari pengalaman sejarah di seluruh dunia, betapa banyak bangsa dan negara yang mengalami nasib tragis (retak, pecah dan bubar) selamanya. The tragedy of devided nation. Saya pikir masih banyak narasi kampanye yang cerdas dan mendidik. Seperti yang kita lakukan dulu pada pilpres tahun 2004, 2009 dan 2014. Bangsa kita sangat majemuk. Kemajemukan itu di satu sisi berkah, tetapi disisi lain musibah. Jangan bermain api, terbakar nanti.

Para kader pasti sangat ingat, Partai Demokrat adalah partai Nasionalis-Relijius. Bagi kita Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah harga mati. Tidak boleh NKRI menjadi Negara Agama ataupun Negara Komunis. Indonesia adalah "Negara Pancasila" dan juga "Negara Berke-Tuhanan". Inilah yang harus diperjuangkan oleh Partai Demokrat, selamanya.

Saya berpendapat bahwa juga tidak tepat kalau Pak Prabowo diidentikkan dengan kilafah. Sama tidak tepatnya jika kalangan Islam tertentu juga dicap sebagai kilafah ataupun radikal. Demikian sebaliknya, mencap Pak Jokowi sebagai komunis juga narasi yang gegabah. Politik begini bisa menyesatkan. Sejak awal harusnya narasi seperti ini tidak dipilih. Tetapi sudah terlambat. Kalau mau, masih ada waktu untuk menghentikannya.

Dari pada rakyat dibakar sikap dan emosinya untuk saling membenci dan memusuhi saudara-saudaranya yang berbeda dalam pilihan politik, apalagi secara ekstrim, lebih baik diberi tahu , apa yang akan dilakukan Pak Jokowi atau Pak Prabowo jika mendapat amanah untuk memimpin Indonesia 5 tahun mendatang (2019-2024). Apa solusinya, apa kebijakannya? Tinggalkan dan bebaskan negeri ini dari benturan identitas dan ideologi yang kelewat keras dan juga membahayakan. Gantilah dengan platform, visi, misi dan solusi. Tentu dengan bahasa yang mudah dimengerti rakyat. Sepanjang masa kampanye, bukan hanya pada saat debat saja.

Demikian Pak Amir, Pak Syarief dan Pak Hinca pesan dan harapan saya. Ketika saya menulis pesan ini, saya tahu AHY berada dalam penerbangan dari Singapura ke Jakarta, setelah menjenguk Ibu Ani yang masih dirawat di NUH. Partai Demokrat harus tetap menjadi bagian dari solusi, dan bukan masalah. Selamat berjuang, Tuhan beserta kita.

Wassalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh.

Singapura, 6 April 2019

Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono


Sumur

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
Hulahiiiiii emoticon-Belgia
Setuju dengan pak SBY !!!
Dibikin di monas banyak yg kejang kejang pak beye ..


Menjelang pilpres sebaik nya jangan ada tindakan yg dapat memicu kejang kejang ..
Terus terang, maksud dan isi pidato nya ga jelas. Mutar mutar ga karuan. Tipikal pemimpin jaman old
sip Pak Sby
Kenapa gak tulis subjek suratnya ya satu.

" SAYA PRIHATIN "
Presiden yg berani masukin si rijik ke bui. emoticon-Big Grin
Jangan percaya si kebo.

Si kebo yang memerintahkan ma'ruf amin memenjarakan ahok emoticon-Mewek
Krn beye kalah lihai, maka dia kayak gini
SBY Protes Konsep Kampanye Prabowo di GBK: Tak Lazim dan Eksklusif
Lho yang lagi kampanye siapa Pak? Wong mereka sedang menjalankan Kegiatan Keagamaan Akbar koq emoticon-Malu Lho itu judulnya Subuh dan Munanjat Akbar kok Pak emoticon-Malu hihihihihi...
Sama kok kayak Acara 212 di Monas beberapa tahun lalu, itu juga Kegiatan Keagamaan emoticon-Malu
jangan lupa 14 April emoticon-Coblos
dr awal sby gabung koalisi emank krn terpaksa kok

emoticon-Cool
Kelihatan sby elit politik yg plng cemas soal maraknya politik identitas di indonesia
Quote:


Salah!

Si kebo adalah orang yang paling bertanggung jawab memenjarakan ahok.
Si kebo lah yang memerintahkan ma'ruf amin memenjarakan ahok emoticon-Mewek
BODO AMAT
SBY tahu dan paham Prabowo gak mungkin menang. Lembaga2 survei kelas nasional semuanya memenangkan Jokowi secara telak.

SBY lagi cari aman, dan cari muka terhadap Jokowi, dia ngarep anaknya bisa masuk kabinet Jokowi.
Mendingan bapak konsentrasi aja sama interpol.
Sukses ya pak...

emoticon-Traveller
Balasan post dajalbingung
Yoi gan, banyak orang-orang Demokrat yang seharusnya disingkirkan sejak dulu misalnya kayak Ferdinand emoticon-Big Grin
sebenarnya kampanye model ginian tidak akan menarik minat suara orang2 agama lain.. seolah kampanyenya ... kaum guwe... apalagi agama di jadiin kedok politik .. dalam hitungan matematis ini emang ndk akan menambah suara ... SBY melihat ini ... Indonesia itu dari berbagai macam suku dan agama .. gaya kampanye ini cuma menciptakan lingkaran namun yg lain tidak boleh masuk...
Diubah oleh smadcom
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di