alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ca36ba0facb956b9e6d94df/gadis-bercadar-itu

Gadis Bercadar Itu

Gadis Bercadar Itu

SEKUAT mana kita setia...
SEHEBAT mana kita merancang...
SELAMA mana kita menunggu...
SEKERAS mana kita bersabar...
SEJUJUR mana kita menerima kekasih kita...
SELAMA mana kita bertahan bersamanya...


Jika ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA tidak menulis jodoh kita bersama orang yang kita sukai, Kita tetap tidak akan Bersama dengannya walau engkau bersusah payah mendapatkannya. Maka cintailah orang sewajarnya .... kerana orang yang kita cintai belum pasti jodoh kita nanti, kadang yang engkau nilai baik untuk mu belum tentu baik untuk ALLAH.

Saat hati berkata "INGIN", namun ALLAH berkata "TUNGGU".
Saat AIR MATA harus menitis, namun ALLAH berkata "TERSENYUMLAH"
Saat segalanya terasa "MEMBOSANKAN", namun ALLAH berkata "TERUSLAH MELANGKAH".
~Kita merancang Allah juga merancang tetapi perancangan Allah lebih baik.~


Jodoh itu kan Rahasia Allah. Sweet kan? Allah itu maha LUAR BIASA. Dia mau memberi kejutan untuk kita. Dan kita pula akan senantiasa menanti, siapakah jodoh kita. Tapi, sebelum tiba masanya, selagi itulah Dia akan rahasiakan daripada kita. Allah buat seperti itu bukan sia-sia, tidak ada sia-sia dalam perancanganNya. Dia ingin kita persiapkan diri secukupnya sebelum jodoh itu sampai. Selagi ada masa yang disediakan Allah untuk kita ini, mari kita tambahkan ilmu di dada secukupnya untuk menjadi hambaNya yang bertaqwa. 

Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang, Allah SWT mempunyai Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya & Dia telah menciptakan seorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak. Ketika kau merasa bahawa kau mencintai seseorang, namun kau tahu cintamu tak terbalas Allah SWT tahu apa yang ada di depanmu & Dia sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu




I N D E X

Spoiler for EPISODE 1:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
merigat dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cwhiskeytango
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 9
RESERVED

Tokoh Episode 1

"DANARIAN DZUHAIRI"
Lelaki berambut hitam dengan tinggi 170cm. Seorang anak yang berjuang untuk menghidupi keluarganya. 'Danar' adalah panggilannya. Ia juga lelaki yang penyendiri, jarang bergaul dengan orang disekitarnya. Ia tinggal disebuah rumah kecil peninggalan almarhum ayahnya

"NINDY INTAN NAMIRA"
Seorang gadis yang ramah, suka bergaul dan sedikit cerewet. Gadis yang biasa disapa dengan sebutan 'Andin' ini tinggal berdua dengan sepupunya yang bernama Ersha. Orang tuanya tinggal di Jakarta dan Andin tinggal selama ia kuliah. Andin merupakan gadis yang peduli dengan lingkungan sekitarnya.

"ERSHA PERMATA PUTRI"
Seorang wanita bercadar yang sangat anggun, lembut dan sangat menyukai anak-anak ini biasa disapa dengan sebutan 'Eca' atau 'Permata'. Ersha merupakan sepupu Andin yang usianya lebih muda dari Andin. Bahkan ia menganggap Andin seperti kakaknya sendiri. Ersha juga merupakan salah satu tenaga pendidik di sebuah madrasah.

"LIANA ASYFA"
Gadis yang selalu disapa dengan sebutan 'Lia' ini merupakan sahabat Danar dari kecil. Lia merupakan kebalikan dari Danar baik dari segi sifat ataupun fisik. Lia merupakan gadis yang selalu ceria. Ia suka menolong orang lain tanpa memandang status mereka. Lia merupakan anak tunggal dari keluarga yang sangat berkecukupan.
profile-picture
hayuus memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Part 1 - Sebuah Mimpi

"DANARIAN DZUHAIRI"

"Maukah kamu berjalan bersamaku, membimbingku, dan sama-sama meraih syurga?" Begitulah ucap gadis bercadar yang ada disampingku ini
"Bagaimana kamu yakin memilihku menjadi imammu?" tanyaku
"Karena Allah membuat hatiku percaya bahwa kamu akan bisa membawaku ke syurga" Itulah ucapan terakhir dari gadis bercadar yang sekarang ada disampingku

Aku terus berjalan kedepan dengan tatapan kosong. Terus memikirkan gadis yang ada disampingku. Namun saat aku mulai menyadari ini, aku terbangun dari tidurku. Aku hanya bermimpi. Aku terbangun dengan posisi duduk dengan ibuku yang terpapar sakit dihadapanku. Ibuku dirawat karena kecelakaan. Ayahku sudah meninggal karena sakit yang dideritanya. Di usiaku yang ke 19 tahun ini, aku harus bekerja menafkahi keluarga. Aku sempat kuliah, namun terhenti karena aku tak punya biaya untuk kuliah. Aku memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berjualan kue yang telah ibu ajarkan padaku.

Aku tak bisa berhenti memikirkan kondisi ibu. Ibu sudah tua, Seharusnya ibu mengisi sisa usianya dengan istirahat. Tetapi ibu malah bekerja demi aku. Ibu ingin aku kuliah. Kulihat ibu tertidur dengan tenang. Dengan jarum infus yang tertancap di tangannya.

Perkenalkan, namaku Danar. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Dulu ayahku bekerja sebagai satpam disebuah rumah. Ibuku bekerja dengan menjual kue keliling. Usiaku saat ini adalah sembilan belas tahun dan sedang menginjak bangku kuliah. Semenjak ayah meninggal karena sakit yang dideritanya, aku menjadi tulang punggung keluarga. Seperti yang sudah aku ceritakan diatas, bahwa ibuku sekarang sedang sakit. Dan akulah yang menggantikan ibu untuk berjualan kue. Bahkan tak jarang aku berjualan di kampus sambil mengikuti kuliah.

Pagi ini udara terasa sangat dingin. Hujan baru saja berhenti subuh tadi. Selesai membersihkan diri, aku mengenakan kemeja biruku, bersiap untuk berangkat ke kampus. Aku membawa kotak kueku menggunakan kantong plastik besar.
"Bu, Danar berangkat dulu" ucapku tanpa membangunkan ibu

Aku berjalan keluar kamar. Aku menghampiri suster yang berjaga disitu. Aku selalu menitipkan ibu pada suster jika aku sedang tidak ada dirumah sakit.
"Mau ke kampus ya mas?" tanya suster
"Iya sus, gapapa saya titip ibu lagi kan?" jawabku
"Gapapa, tenang aja, ibunya mas pasti kami rawat"
"Terima kasih sus" ucapku

Aku keluar dari rumah sakit, menggunakan angkutan umum menuju kampusku. Sekitar 40 menit perjalanan, aku baru tiba dikampus. Dan aku terlambat. Aku mengetuk pintu kelasku. Dosen mempersilahkan aku masuk
"Kamu terlambat" ucap dosen padaku
"Maaf pak"
"Kemana saja kamu?" tanya beliau
"Tadi di jalan macet pak"
"Yasudah, duduk"
"Terima kasih pak"

Aku mengikuti kuliah seperti biasa hari ini. Di kampus, aku selalu memilih untuk menyendiri. Entah kenapa aku begitu nyaman dengan kesunyian. Mungkin karena aku sudah terbiasa untuk tidak mendengarkan ocehan orang yang tak penting. Saat jam kosong, aku ke depan kelasku dan menggelar daganganku. Meski tak banyak, tapi alhamdulillah ada saja yang membeli daganganku. Kue yang aku jual adalah kue kering.

Waktu menunjukkan jam sebelas siang. Aku memutuskan untuk ke mesjid kampus sambil menunggu adzan, aku berniat untuk beristirahat disana. Setibanya di masjid, aku duduk di dekat situ namun masih diluar masjid. Sambil menunggu, aku ingin kembali menggelar daganganku. Kenapa di luar masjid? Karena didalam masjid tidak diperbolehkan adanya transaksi seperti yang telah disebutkan dalam hadist.

"Jika engkau melihat orang berjual-beli atau orang yang barangnya dibeli di masjid, maka katakanlah kepada mereka: semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perdaganganmu. Dan jika engkau melihat orang di masjid yang mengumumkan barangnya yang hilang, maka katakanlah: semoga Allah tidak mengembalikan barangmu" (HR. At Tirmidzi no. 1321, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 573)

"Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam melarang melakukan jual-beli di masjid, dan melarang melantunkan nasyid berupa sya'ir-sya'ir, dan melarang mengumumkan barang yang hilang, dan melarang mengadakan halaqah sebelum shalat Jum'at" (HR. Ahmad 10/156, Ahmad Syakir mengatakan: "sanadnya shahih")


Aku kembali terfikirkan soal keadaan ibu. Bagaimana ibu sekarang? Apakah ibu sudah makan atau belum? Entahlah, aku ingin cepat pulang menemui ibu. Namun aku masih ada kelas sampai sore.
"Mas?" panggil seseorang membuyarkan lamunanku
"Eh, iya, mba maaf. Mau beli?" tanyaku sambil membuka tutup kue tersebut
"Em mas nya melamun" ucap wanita satunya.
"Silahkan mau beli yang mana?" tanyaku sambil melihat kearah mereka

MasyaAllah, dihadapanku berdiri dua wanita yang ... emmm ... bagaimana aku mengatakannya ya. Kedua wanita ini mengenakan pakaian syar'i, dan salah satunya mengenakan gamis berwarna hitam serta tertutupi cadar.
"Hallo mas?" *sambil tangannya melambai didepan wajahku
"Eh iya maaf, silahkan
"Ini jadi berapa ya?" ucap wanita bercadar itu
"Yang mba nya jadi lima ribu rupiah" ucapku
"Kalau ini berapa ya?" tanya wanita tanpa cadar tersebut
"Mbanya jadi tujuh ribu mba"
"Baiklah, ini uangnya. Kembalinya ambil saja mas. Syukron. Assalamualaikum" ucap wanita bercadar tersebut sambil berlalu
"Waalaikumussalam" jawabku perlahan

Merekapun berlalu. Aku kembali menutup kotak kueku. Suara adzan dzuhur berkumandang. Aku langsung beranjak menuju masjid untuk shalat dzuhur disana. Selepas shalat, aku kembali bersiap untuk ke kelas mengikuti sisa mata kuliah yang ada. Saat aku sedang mengenakan sepatuku, aku melihat seseorang dari kejauhan. Seseorang yang pernah kulihat. Dia adalah gadis itu. Gadis bercadar itu.

Aku berjalan menuju kelasku membawa kue yang tersisa. Sesampainya di kelas, aku bertemu dengan salah satu teman sekelasku.
"Mau kemana?" tanyaku
"Pulang, dosennya ga masuk" jawab Yuna
"Oh oke"

Akhirnya aku bisa segera pulang untuk bertemu dengan ibuku. Saat aku berjalan menuju luar gerbang, aku berhenti sejenak karena ada yang mau membeli kueku.
"Mas yang tadi ya?" tanya wanita itu
"Iya, eh.. mbak yang tadi ya?" tanyaku
"Ana mau beli kue nya lagi masih ada?" tanyanya
"Ada, silahkan" ucapku sambil membuka kantong kresek hitam itu
"Masnya suka jualan disini?" tanya gadis itu
"Iya mbak, saya sambil kuliah" jawabku
"Ini saya beli semua aja ya mas" katanya
"Eh serius mbak?" tanyaku
"Iya, jadi berapa semuanya?" katanya
"Saya kasih diskon deh kalau gitu. Dari lima puluh ribu jadi empat puluh ribu aja mbak"
"Eh bener nih? Aduh syukron. Semoga jadi berkah ya. Aamiin" katanya
"Aamiin"
"Kalau gitu saya pamit dulu ya, syukron kuenya" katanya
"Maaf mbak, bolehkah saya tau nama saudari?" ucapku
"Nama saya Permata. Kalau gitu saya pamit ya, assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"

Ah, Permata. Nama yang cantik.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
hayuus dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cwhiskeytango
Lihat 1 balasan

Part 2 - Teman

Aku melanjutkan perjalananku ke rumah sakit. Setibanya dirumah sakit, aku lihat ibu sedang makan disuapi oleh suster cantik.
"Assalamualaikum" ucapku
"Waalaikumussalam" jawab ibu
"Gimana bu? Udah enakan?" tanyaku
"Alhamdulillah. Tapi kamu dapat uang darimana untuk biaya rumah sakit" tanya ibu
"Aku kan punya tabungan bu"
"Tapi kan itu buat keperluan kuliah kamu"
"Udah ibu ga perlu mikirin. Aku masih bisa kerja bu. Yang penting ibu sehat" ucapku
"Yasudah kalau gitu"
"Sini sus, biar saya aja yang suapin ibu"

Akupun menyuapi ibuku makan. Dan aku juga menceritakan bagaimana dikampus, bagaimana dagangan kue hari ini bisa cepat habis.
"Kamu jual habis kuenya?" tanya ibu
"Iya bu, tadi ada orang yang beli kue semuanya. Mahasiswa bu"
"Oh ya? Siapa?"
"Namanya Permata bu"
"Namanya cantik yah, pasti orangnya juga" kata ibu menggoda
"Iya bu, sangat cantik"
"Ibu mau pulang nak"
"Iya bu, nanti kalau kata dokter udah boleh pulang, kita pulang"
"Ibu mau jualan lagi" ucap ibuku
"Ibu istirahat aja, biar Danar yang jualan"

Beberapa hari kemudian, ibu sudah diperbolehkan untuk pulang kerumah. Kali ini, aku menyuruh ibu untuk beristirahat saja dirumah. Diusia ibu sekarang memang sudah seharusnya menikmati masa tua. Aku kembali berangkat ke kampusku. Kali ini aku mengenakan sepeda peninggalan almarhum ayah.
"Bu Danar berangkat dulu"
"Iya nak, yang rajin belajarnya ya" ucap ibuku
"InsyaAllah. Ibu istirahat ya" ucapku
"Iya nak"

Akupun berangkat kekampusku dengan keresek kue yang aku ikat di belakang sepedaku. Cukup waktu lama untuk mencapai kampus namun aku bisa menghemat ongkos. Setibanya dikampus, aku menyimpan sepedaku didekat fotocopy fakultasku. Suasana kampusku masih belum terlalu ramai. Aku menggelar daganganku didekat tangga fakultas.

Sambil menunggu pembeli, aku mengisi waktuku dengan membaca buku. Saat aku sedang berkutat dengan buku yang aku baca, ada seseorang menghampiriku. Dia adalah seseorang yang selalu peduli terhadapku. Sahabatku dari kecil. Perkenalkan, namanya adalah Liana Asyfa. Ia biasa aku panggil dengan sebutan Lia. Lia adalah sahabat kecilku. Ia juga kuliah di universitas yang sama denganku, namun berbeda fakultas. Jadi kami jarang bertemu juga. Terkadang Lia main kerumah untuk bertemu dengan ibuku. Tetapi karena kami memiliki kesibukan masing-masing, kami mulai jarang bertemu lagi. Kecuali jjika ada acara tertentu dirumah.
"Hey, lagi sibuk yah" ucap Lia
"Engga kok. Kenapa? Tumben kesini"
"Engga, aku beli kue nya yah" katanya
"Kue coklat kan? Kesukaanmu?" ucapku
"Iyah, tau aja hehe"
"Makasih yah" ucapku sambil menerima uang darinya

Meski kami dekat, tapi dalam berbisnis tak mengenal teman. Bisa saja aku memberikan kueku secara Cuma-Cuma, tetapi Lia selalu menolak dengan alasan aku takut rugi.
"Gimana kabar ibu kamu?" tanyanya
"Alhamdulillah udah baikan kok. Gimana kabar orang tua kamu? Kabar cowokmu?" tanyaku
"Baik kok, emm Dion? Iishh bukan cowok aku ituuu. Dia baik kok, yaa meski sekarang dia sibuk juga" katanya
"Ooh iya iya deh"

Lia pernah mengabariku bahwa ia menyukai seseorang. Dan Dion itu adalah orangnya. Ku akui Lia memang cantik.
"Aku bantuin jual yah" katanya
"Bantuin gimana?"
"Ya, sebagian aku bawa ke kelas, nanti aku tawarin ke temen-temenku" katanya
"Boleh, kalau ga ngerepotin" ucapku
"Engga kok. Yaudah sini, aku bawa" ucapnya sambil mengambil satu tempat kue
"Nanti kita ketemu disini lagi?" tanyaku
"Emm, kamu SMS aja kelasnya nanti aku samper" katanya
"Yaudah, kalau gitu aku ke kelas dulu ya" ucapku
"Iya, kamu semangat ya" katanya
"Kamu juga"

Hari ini langit tampak berawan. Udara cukup dingin. Sepertinya hujan akan turun. Waktu menunjukkan jam 7 pagi. Dosenpun memulai perkuliahan. Pada umumnya, perkuliahan dengan skolah tidak jauh berbeda. Hanya tingkat stresnya saja yang berbeda. Setelah mata kuliah pertama selesai, jam kosong sampai jam 10 pagi. Ini berarti ada waktu sekitar satu jam. Aku memutuskan untuk menggelar daganganku di depan kelas.
"Gue mau coba kuenya dong" ucap Andin teman sekelasku
"Boleh, mau yang mana?" tanyaku sambil memberikan plastik padanya
"Emm, yang ini aja"
"Semua jadi lima ribu Din" ucapku
"Gue coba yah" katanya

Andinpun mencoba kue yang dibelinya dariku.
"Ini enak loh, ini lo yang bikin?" tanyanya
"Gue cuma bantu dikit, ibu yang bikin. Gue yang jual"
"Tapi serius ini kuenya enak" katanya
"Makasih Din"
"Besok gue pesen lagi yah, tapi buat dirumah, lo bisa anter?" tanyanya
"Bisa Din. Lo SMS aja alamatnya ke gue nanti gue kirim ke rumah lo" ucapku antusias
"Oke, mau pake DP?" tanyanya
"Ga usah Din, biar gue modalin aja" ucapku

Mengapa aku tidak menggunakan uang muka? Karena aku pernah mendengar sebuah hadits dimana jual beli tidak sah dengan menggunakan uang muka.

Hadits Amru bin Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa ia berkata,

Rasulullah shollallohu 'alaihi wa sallam melarang jual beli dengan sistem uang muka. Imam Malik menyatakan, "Dan menurut yang kita lihat –wallahu A'lam- (jual beli) ini adalah seorang membeli budak atau menyewa hewan kendaraan kemudian menyatakan, 'Saya berikan kepadamu satu dinar dengan ketentuan apabila saya gagal beli atau gagal menyewanya maka uang yang telah saya berikan itu menjadi milikmu.'"

Ini berarti, jika Andin membayar uang DP padaku, dan jika pesanan tidak jadi, atau Andin membatalkan pesanan, maka DP itu akan hangus, padahal uang itu belum menjadi hakku karena barang yang ia pesan belum ada pada Andin. Mungkin diantara kalian ada yang menafsirkannya dengan pandangan yang berbeda.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan 4 lainnya memberi reputasi

Part 3 - Sahabat

Setelah Andin, beberapa mahasiswa mulai datang dan membeli kueku juga. Aku mengucap hamdalah atas karunia ini. Allah memberiku rejeki yang lebih dari cukup dihari ini. Setidaknya, aku juga sudah memiliki pesanan untuk besok. Pada saat jam pulang kuliah, aku menunggu Lia di tangga fakultas. Sekitar lima menit kemudian, Lia datang menghampiriku dengan senyum manisnya.
"Hey, udah lama ya" tanyanya
"Engga kok. Gimana kuenya?"
"Habis dooong, tuuuuh" sambil memperlihatkan kotak kue yang sudah kosong itu
"Waah, hebat kamu"
"Eh, aku main ya kerumahmu, aku mau ketemu ibu" katanya
"Boleh, yuk pulang bareng, eh, tapi aku pake sepeda, gapapa?" tanyaku
"Gapapa dong, udah lama ga dibonceng kamu pake sepeda hehe"
"Yaudah, yuk" ajakku

Kami berjalan menuju tempat dimana aku menyimpan sepedaku. Aku mengambil sepedaku dan membonceng Lia menuju rumah. Entah kenapa, padahal hari sedang panas, tapi Lia tetap mau dibonceng denganku.
"Kamu kepanasan ya?" tanyaku
"Gapapa kok" katanya
"Yakin? Ga naik mobil aja?" tanyaku
"Engga, gapapa. Tapi kamu kuat ga?" tanyanya
"Kuat dong. Pegangaaaan..."

Aku mengayuh sepedaku sedikit lebih cepat. Lia berpegangan begitu erat pada tasku dengan satu tangan karena tangannya yang satunya memegang tempat kue. Setelah beberapa menit mengayuh, akhirnya kami tiba dirumah.
"Ayo masuk" ajakku
"Iya Danar" katanya tersenyum
"Assalamualaikum" ucapku diikuti Lia
"Waalaikumussalam" jawab ibu dari dalam.

Kami berduapun masuk kedalam. Rumahku tidaklah besar. Sangat sederhana. Tetapi aku betah disini.
"Eh, ada nak Lia"
"Iya bu, apakabar, ibu sehat?" tanya Lia
"Alhamdulillah, kamu gimana? Gimana keluarga juga?" tanya ibu
"Alhamdulillah bu, semua dalam keadaan sehat"
"Ini bu, alhamdulillah kue nya banyak yang beli. Dan ada temenku minta pesenin buat dianter kerumahnya besok"
"Oh ya? Alhamdulillah kalau begitu. Yasudah, nanti malam kita buat sama-sama ya"
"Aku boleh bantu?" tanya Lia
"Emm, boleh aja, kalau ga ngerepotin" jawabku
"Ga repot kok, aku juga pengen belajar bikin kue seenak ibu hehe" katanya

Sore hari, aku dan Lia membantu membereskan rumah. Jika aku sudah dirumah, aku lebih memilih untuk menemani ibu, bahkan aku terbilang jarang keluar untuk bertemu orang sekitar kecuali lingkungan di tempat tinggalku saja. Sekitar jam tujuh malam, aku dan Lia mulai membantu ibu membuat kue.

Lia nampak memperhatikan bagaimana ibu membuat kue-kue itu. Aku juga menanyakan kembali pada Andin Ia langsung memberikan alamatnya padaku. Ia memesan dalam jumlah yang cukup banyak. Mungkin sama dengan jumlah kue yang selalu aku bawa jika berjualan. Ya aku anggap besok aku tidak jualan di kampus. Aku lihat waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam.
"Aku anter kamu pulang ya" ucapku pada Lia
"Emang ga repot?" tanyanya
"Engga kok. Aku ambil jaket sebentar ya"
"Iya Dan"

Udara cukup dingin malam ini. Aku memutuskan untuk membawa dua jaket untuk dipakai Lia.
"Nih, pake" ucapku
"Eh, kenapa?"
"Malam ini dingin, kamu pake jaket aku"
"Makasih" katanya sambil tersenyum

Aku mengantar Lia menggunakan sepeda. Jarak rumahku dengan Lia tak terlalu jauh, masih dapat ditempuh dengan sepeda meski agak memakan waktu.
"Maaf ya, aku cuma bisa anter pake sepeda" ucapku
"Gapapa ko, pake sepeda juga seru hehe"
"Seru apanya Lia, aku yang cape" ucapku menggerutu
"Hehe, Tapi makasih ya. Maaf gara-gara aku kamu jadi cape" katanya
"Engga kok tadi aku cuma bercanda" ucapku
"Kamu emang sahabatku yang paliiing baik" katanya
"Hehe, bisa aja kamu"
"Besok kita berangkat ke kampus bareng ya" ajaknya
"Aku besok ga ada jadwal Lia" ucapku
"Yaah, yaudah deh lain kali aja. Oh iya, kamu nganter kue ya?" tanyanya
"Iya" jawabku singkat
"Temennya cewek apa cowok?" tanya Lia
"Cewek, kenapa emang?" tanyaku
"Engga kok"

Beberapa menit kemudian, sampailah aku dirumah Lia. Perlu diketahui, Lia berasal dari keluarga yang lebih dari cukup. Sangat jauh berbeda denganku yang pas-pasan. Tetapi Lia tak pernah memandang status sosialku. Lia mau berteman denganku, sekalipun aku hanyalah orang yang secara kasar, miskin. Dan aku sangat bersyukur memiliki teman seperti Lia.
"Aku masuk ya" katanya
"Makasih udah bantuin" ucapku
"Sama-sama. Aku pulang ya. Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam" jawab Lia.

Aku mendorong sepeda hingga kedepan, namun langkahku terhenti ketika Lia memanggilku.
"Danar" panggilnya
"Iya Lia?"
"Hati-hati" katanya
profile-picture
bajingan.waktu memberi reputasi

Part 4 - Andin/Permata

Aku hanya membalas dengan senyuman. Aku lihat ia melambaikan tangan kemudian berbalik masuk kerumahnya. Keesokan paginya, aku bersiap untuk membawa kueku pada Andin.
"Udah semua nak?" tanya ibu"
"Udah bu"
"Hati-hati dijalan" ucap ibu
"Iya bu, Danar berangkat. Assalamualaikum" ucapku berpamitan pada ibu
"Waalaikumussalam"

Aku mulai mengayuh sepeda menuju alamat rumah Andin. Aku tahu rumah ini di daerah mana, dan aku membutuhkan waktu sekitar satu jam dengan menggunakan sepeda dari rumah. Setelah tiba di daerahnya, aku mulai bertanya-tanya pada warga sekitar. Hingga aku dituntun ke sebuah komplek perumahan elite. Aku bertanya pada satpam sekitar, dan langsung ditunjukkan tak jauh dari situ. Akhirnya, aku tiba dirumah Andin. Ternyata rumahnya sangat mewah. Aku rasa Andin berasal dari keluarga konglomerat. Aku mulai menekan bel rumah tersebut dan keluar seorang ibu-ibu
"Mau ke siapa den?" tanya beliau
"Mau antar kue untuk Andin"
"Oh, non Andinnya sedang keluar, den" katanya
"Siapa bi?" ucap seseorang dari dalam sambil menghampiri pintu gerbang
"Temennya non Andin" jawab bibi
"Antum?" ucapnya
"Iya, siapa ya?" tanyaku sedikit bingung
"Saya Permata. Yang tempo hari beli kue dari antum" katanya
"Oh, iya mba" ucapku tertunduk
"Oh iya, tadi Andin bilang antum suruh tunggu sampai Andin pulang" katanya
"Eh, kenapa?"
"Entah, ayo silahkan masuk, jangan sungkan. Bi, tolong buatkan minum ya" ucap Permata
"Baik non"

Akupun masuk sambil mendorong sepedaku mengikuti Permata. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamunya. Dan, wow, ruang tamunya saja luas. Bagaimana dalamnya? Tetapi ada satu keanehan dirumah ini. Rumah ini terasa begitu sepi.
"Tunggu ya, aku buatkan minum" katanya
"Eh, jangan repot-repot" ucapku

Aku melihat sekeliling ruang tamu ini, ada beberapa foto disana. Dan yang paling menarik perhatianku adalah foto keluarga yang paling besar dipajang di dinding. Aku berdiri dan mendekati foto itu. Aku melihat wajah-wajah dalam foto itu. Ternyata Andin terlihat sangat menggemaskan disana. Ada satu foto laki-laki muda yang sepertinya beliau adalah kakaknya Andin. Ia nampak tersenyum gagah mengenakan jas hitam berdasi.
"Itu kakak gue" ucap seseorang mengagetkanku
"Eh, Andin"
"Assalamualaikum" katanya
"Waalaikumussalam" jawabku
"Lo udah lama ya" tanyanya
"Engga kok, aku baru sampai. Eh iya, ini pesanan kuenya"
"Eh iya makasih ya. Jadi berapa semuanya?" tanyanya
"Jadi seratus ribu ribu Din. Soalnya lo pesan satu macam aja kan?" kataku
"Iya, soalnya menurut gue yang kemarin itu paling enak" katanya
"Eh udah pulang Din?" ucap Permata
"Baru aja sampai. Eh nih cobain kuenya Danar" kata Andin
"Jadi namanya Danar?"
"Loh, emang kamu tau?" kata Andin
"Iya ini yang jual kue yang waktu itu aku beli itu loh" kata Permata
"Lo kesini pake apa?" tanya Andin sambil ikut duduk bersama Permata
"Pake sepeda, Din" jawabku
"Hah? Ga cape? Berapa lama?"
"Kurang lebih satu jam lah hehe, belum termasuk tanya-tanya sini"
"MasyaAllah, pasti cape ya" ucap Permata
"Udah biasa kok hehe" jawabku singkat
"Eh diminum dulu" ucap Andin

Pada awalnya aku berniat untuk langsung pulang, tetapi Andin menahanku untuk tetap berada dsini. Aku merasa seperti sedang diinterview oleh Andin dan Permata. Mereka prihatin dengan keadaan keluargaku. Apalagi dengan kondisiku yang pas-pasan. Tetapi aku berkata pada mereka untuk tidak perlu mengasihani aku, aku meminta cukup doakan agar aku tetap kuat dalam keadaan apapun.
"Yasudah, kalau gitu gue pamit ya" ucapku
"Eh, gimana kalau kita anter aja?" ucap Andin
"Anter gimana? Gapapa, gue pulang sendiri aja, lagian gue bawa sepeda"
"Pake mobil gue, mumpung ga dipake juga, sepeda lo titip aja disini, besok ke kampus gue jemput lo kerumah, sekalian nanti pulang kuliah lo ambil deh"
"Jangan Din, repot. Gue pulang sendiri aja"
"Udah gapapa, kalau repot kita ga bakal nawarin" ucap Permata
"Pokonya ikut aja, tenang, gue ga macem-macem heheh" ucap Andin terkekeh
"Bener ga repot?"
"Beneran, yaudah gue ambil kunci bentar ya, sepeda lo masukin aja kedalem" kata Andin

Aku mengambil sepedaku dan mengikuti instruksi dari Andin. Permata masih duduk di ruang tamu dan sedang fokus ke handphonenya. Aku memutuskan untuk menunggu di teras rumahnya saja. Tak lama Andin dan Permata keluar dari dalam.
"Ayo" ucap Andin sambil memberikan kuncinya padaku
"Emm guee..."
"Lo ga bisa bawa mobil?" tanyanya
"Engga" jawabku singkat
"Hehe bilang dong" katanya
"Kan gue udah bilang ga usah anter, nanti repot"
"Engga kok, yaudah masuk gih" ucap Andin

Aku mengikuti perintahnya. Aku duduk dibelakang sementara Andin dan Permata duduk didepan. Selama perjalanan aku lebih banyak diam, hanya tetap menunjukkan jalan ke arah rumahku. Sekitar empat puluh menit perjalanan, aku tiba dirumah. Waktunya hampir sama dengan aku naik sepeda, yang berbeda adalah kemacetan yang kami lalui. Rumahku terletak di dekat jalan utama dan terdapat lapangan yang biasa digunakan parkir ataupun bermain anak-anak. Setelah memarkirkan mobil, aku lihat ibu sedang ada didepan sambil menyapu halaman rumah.
"Assalamualaikum bu" ucapku diikuti Andin dan Permata
"Waalaikumussalam nak" jawab ibu
"Bu, kenalin ini temen Danar di kampus" ucapku memperkenalkan Andin dan Permata

Mereka berduapun salim pada ibuku layaknya ke orang yang lebih tua.
"Ada apa ya dateng kemari, maaf rumahnya sempit. Sepedamu mana?" ucap ibuku
"Emm kami mau silaturahmi bu, kue buatan ibu itu enak. Dan sepeda Danar ada dirumah saya bu. Kasian kalau Danar harus berjam-jam naik sepeda untuk pulang
"Walaah, maaf jadi repotin" ucap ibuku
"Bu, ini uang penjualan kue, Andin ini yang beli kue-kue kita bu"
"Alhamdulillah, makasih banyak nak Andin" kata ibuku
"Mari, silahkan masuk. Ibu buatkan minum. Maaf rumahnya sempit, ya beginilah" ucap ibuku
"Engga apa-apa kok, ga perlu repot-repot bu. Terima kasih banyak" ucap Permata

Kami semuapun masuk. Permata dan Andin menunggu di ruang tamu kecil itu sementara aku dan ibu membawa jamuan untuk mereka
"Bu" panggilku
"Iya nak?"
"Ibu masih ingat gadis cantik yang aku ceritakan saat ibu dirumah sakit?" tanyaku
"Iya ingat, kenapa nak?"
"Gadis itu ada didepan bu. Namanya Permata" ucapku
"Oh gadis bercadar itu?" tanya ibu
"Iya bu"
"MasyaAllah, kamu ini. Ayo lulus dulu kuliahnya hehe" ucap ibu
"Iya bu, aku akan lulus dengan nilai terbaik" ucapku
"Nah gitu, itu baru anak ibu"

Aku kembali keruang tamu membawa jamuan untuk Andin dan Permata. Sementara ibu kembali melakukan aktivitas didapur. Tanganku sedikit gemetar ketika aku kembali berhadapan dengan kedua gadis ini. Terutama Permata yang lebih banyak diam. Memang aku tak dapat melihat wajahnya, namun entah kenapa, aku menjadi gugup ketika ada didekatnya. Ah sadar !!! aku ini siapa? Hanya anak penjual kue. Aku tak pantas untuk wanita sebaik Permata. Apakah aku menyukai dia? Ah, mungkin ini hanya perasaan kagum saja. Akupun duduk bergabung dengan mereka
"Mmm ma maaf ya, rumah gue sederhana" ucapku sedikit gugup
"Eh, gapapa kok, yang penting punya tempat tinggal" ucap andin
"Yah, beginilah. Tapi gue selalu betah" ucapku
"Antum hanya tinggal berdua?" tanya Permata
"Iya, ayah meninggal karena kecelakaan" ucapku
"Keluarga jauh?" tanya Andin
"Ah, mereka tak mau peduli" jawabku singkat
"Kenapa?" tanya Andin
"Jangan tanya" jawabku
"Em maaf" ucapnya
"Udah gapapa, diminum teh nya, coba kuenya juga" ucapku

Beberapa saat kemudian, Andin dan Permata memutuskan untuk pamit pulang. Aku juga memberitahu ibu bahwa mereka akan pulang.
"Danar, gue pulang dulu ya, besok kuliah gue jemput aja, jadi nanti pulangnya bisa bareng buat ambil sepeda lo" kata Andin
"Iya Din, Eh, tapi kalau ngerepotin gapapa, gue berangkat kuliah sendiri aja" ucapku
"Jangan lah, gue nya yang ga enak" katanya
"Yaudah, terserah lo aja deh" ucapku
"Danar, kami pamit pulang ya, assalamualaikum" ucap Permata
"Waalaikumussalam" jawabku

Merekapun pergi menjauh dari rumahku. Aku kembalikedalam menemani ibu. Seperti biasa, aku dan ibu kembali membuat kue pada hariini untuk dijual besok. Setelah selesai membantu ibu membuat kue, aku hanyaberdiam dikamarku sambil mengerjakan tugas. Seharian ini aku lebih banyakdirumah, padahal banyak hal yang bisa aku lakukan diluar sana
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan bajingan.waktu memberi reputasi

Part 5 - Impian

Keesokan pagi, ibu mengajakku sarapan bersama. Ibu memasak makanan kesukaanku. Nasi goreng telur dadar. Sederhana bukan? Biar bagaimanapun masakan ibu adalah masakan terenak di dunia.
"Kamu jadi beranglan sama temenmu?" tanya ibu
"Iya jadi bu, sebentar lagi sampai katanya" jawabku
"Yasudah, kamu bawa ini buat temen-temenmu. Ibu sengaja masak banyak" ucap ibu sambil memberikan kotqk makan padaku
"Emm ini buat Andin sama Permata?" tanyaku
"Iya" ucap ibu

Tak lama SMS masuk ke handphoneku, tertulis nama Andin disitu. Ia memberitahu bahwa ia sudah sampai di lapangan. Akupun berpamitan pada ibu dan pergi menghampiri Andin disana.
"Bu, Danar berangkat dulu ya. Ibu jangan kecapean" ucapku
"Iya hati-hati. Belajar yang bener. Ga ada yang ketinggalan?" tanya ibu
"InsyaAllah udah semua bu. Doain dagangan hari ini habis" ucapku

Setelah salim akupun berangkat. Dilapangan kulihat sebuah mobil yang kemarin mengantarku pulang. Mobil Alyssa. Dari jendela kulihat seseorang melambaikan tangannya padaku. Permata?
"Assalamualaikum, udah lama ya?" tanyaku
"Waalaikumussalam. Engga kok. Yuk masuk" ucap Permata

Selama perjalanan aku terdiam menatap kueku. Sesekali aku memergoki Andin yang melihatku dari kaca. Dan ia selalu bertanya ada apa dengan diriku. Namun aku jawab dengan jawab yang sama. "Tak apa" Tibalah kami dikampus. Permata berpisah dengan kami karena ia berbeda jurusan dengan kami. Aku berjalan dari parkiran menuju kelas.
"Lo ga malu jualan kue?" tanya Andin
"Haha. Pertanyaan aneh Din" ucapku terkekeh
"Aneh kenapa?"
"Kenapa harus malu? Kan gue jualan kue, bukan jual miras" ucapku
"Yeeh. Lo ga cape gitu keliling sambil teriak kue, nawarin kue lo ke orang lain?" tanyanya
"Din, cuma ini yang bisa gue lakukan untuk bantu ibu dan untuk biaya hidup gue. Gue juga sambil cari kerja sampingan buat bayar semesteran. Udah cukup gue yang susah. Ibu jangan. Gue ingin ibu benar-benar menikmati masa tuanya"
"Gue salut sama lo, Dan. Anak-anak lain mungkin gamau ngelakuin hal kaya lo. Tapi elo dengan semangatnya mau melakukan itu. Semangat terus ya" katanya tersenyum
"InsyaAllah Din. Gue akan terus berjuang untuk menggapai mimpi gue"
"Mimpi?" ucapnya sambil menoleh

Aku menatap ke langit, melihat pesawat yang melintas dengan tenang disana. Andin mengikuti pandangan kemana aku melihat
"Gue ingin jadi pilot, Din" ucapku
"Aamiin"
"Yuk ke kelas" ajak Andin

Kami melanjutkan perjaanan ke kelas. Dikelas kulihat Andin menawarkan kue-kueku pada yang lain. Meski ada yang tak berminat, tetapi aku bersyukur masih ada yang mau membeli kueku.
“Kenapa lo bantuin gue? Emang lo ga malu?” tanyaku
“Engga, kenapa harus malu? Kan gue jualan kue, bukan miras” katanya
“Yeeeh kata-kata gue itu”
“Hehe biarin lah” katanya

Saat jam istirahat, aku memutuskan untuk ke masjid. Selepas shalat dzuhur, aku kembali berdagang di sekitar luar masjid dimana terkadang ada pedagang lain juga disitu. Aku menawari kueku pada orang-orang yang melintas. Ada beberapa dari mereka yang membeli kueku.
“Assalamualaikum, kuenya masih ada?” tanya seseorang
“Waalaikumussalam, ada” ucapku sambil menghadap kearah pelangganku
“Ana beli dong” ucap gadis itu
“Eh, iya iya boleh” ucapku

Gadis itu, Permata. Permata dan salah seorang temannya yang dulu pernah membeli kueku juga
“Kenalin, ini sahabat ana, namanya Fany”
“Saya Danar” ucapku

Permatapun membayar kueku, namun saat aku hendak memberikan kembalian, ia menolaknya.
“Simpen aja kembaliannya” katanya
“Eh, bener ini?” tanyaku
“Iya” jawabnya
“Jazakillah khairan” ucapku
“Aamiin Wa Iyyak” jawabnya

Iapun berlalu, Aku memutuskan untuk kembali ke kelasku, karena ada satu mata kuliah lagi yang harus aku ikuti. Setibanya aku dikelas, kuikuti perkuliahanku seperti biasa. Kali ini, aku duduk di paling depan karena kursi belakang sudah terisi oleh yang lain. Seketika di tengah pelajaran, dosen bertanya padaku.
“Ini isinya apa?” tanya beliau sambil menunjuk kantong kresek besar yang aku bawa
“Kue, pak” ucapku
“Boleh saya coba?” tanyanya lagi
“Silahkan pak”

Aku membuka kantong kresekku dan membuka kotak kue itu. Dosenpun mencicipi kue yang aku bawa. Teman-temanku yang lain hanya terdiam. Setelah memakan kueku, dosen kembali meminta perhatian dan kembali pada pelajaran.
“Semuanya diawali dari mimpi. Kalau mimpi saja tidak, bagaimana kalian mencapai cita-cita kalian? Kalian bermimpi jadi orang sukses, kalian raih. Kalian usaha, kalian belajar dari awal sampai sekarang yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Tapi apa itu semua menjamin kesuksesan kita? Tidak. Ada yang sudah usaha sekian lama, tetapi tetap belum sukses juga. Itulah cobaan. Tapi jangan pernah berhenti berusaha, sekalipun kita selalu gagal mencoba. Kamu, apa yang kamu cita-citakan?” tanya dosen padaku
“Pilot” jawabku singkat
“Seorang anak penjual kue, ingin jadi pilot. Bisa tercapai? Kita tahu bahwa jika seorang anak saja sampai rela berjualan berarti perekonomiannya sulit. Well, memang tidak semua. Tetapi gengsinya ia kesampingkan. Kamu yakin kamu akan jadi pilot?” tanyanya padaku
“Saya yakin saya bisa” jawabku
“Saya ragu” katanya
“Maksud bapa?” tanyaku
“Saya ragu kamu bisa jadi pilot” ucapnya lagi
“Mungkin konyol mendengar seorang anak miskin ingin menjadi pilot. Tapi saya akan buktikan ke bapak. Saya ga akan menyerah sampai meraih kemenangan dalam hidup” ucapku
“Kalau kamu bisa buktikan itu ke saya, saya akan memberikan sesuatu yang istimewa”

Aku terperanjak. Beliau adalah dosen yang paling disegani di fakultas ini. Beliau terkenal dengan bijaknya, dan beliau juga selalu bisa memberikan motivasi. Mungkin tadilah beliau memberikan motivasi padaku, namun ia berkata akan memberikan sesuatu. Jangan pernah jadikan itu sebuah acuan. Karena jika mengharapkan imbalan, mimpimu akan berganti.
“Sekian kelas hari ini, kita lanjutkan minggu depan. Dan kamu, saya tunggu janji kamu” ucap beliau sambil menunjukku

Bagaimana perasaanku? Kesal? Tidak, aku justru lebih terpacu untuk kembali meraih mimpiku/ Maksudku, impianku. Aku ingin membahagiakan ibu. Aku memutuskan untuk berjalan pulang kerumah. Aku ingat bahwa aku tidak membawa sepeda, dan aku berangkat dengan Andin tadi pagi. Tetapi aku tak melihatnya setelah keluar dari kelas tadi. Aku mencoba untuk SMS Andin, tapi tak ada jawaban. Aku juga mencoba menelfonnya tapi tak di angkat. Yasudah, mungkin saja ia ada kesibukan lain. Aku memutuskan untuk pulang dengan naik kendaraan umum.
profile-picture
bajingan.waktu memberi reputasi

Part 6 - Sebuah Kata

Setibanya aku dirumah, aku lihat ibu sedang duduk di teras rumah sambil menuliskan sesuatu dalam buku. Aku menghampiri beliau dan duduk disampingnya seraya mencium tangannya.
“Lagi apa bu” tanyaku
“Ini, ibu lagi gambar-gambar aja. Ibu kepikiran gimana kalau jualannya ditambah. Jadi kamu bawa ke kampus, ibu jual dirumah sambil jual makanan yang lain” ucapnya
“Aku sih setuju aja bu, tapi apa ibu ga akan kecapean nantinya?” tanyaku
“Engga, lagipula lumayan kan bisa untuk biaya tambahan kuliahmu”
“Yaudah, tapi ibu jangan maksain ya. Yaudah Danar masuk dulu, mau ganti baju”
“Kamu makan dulu sana, ibu udah masak, nanti bantu ibu cari kayu ya” ucap ibu
“Iya bu”

Setelah aku selesai dengan urusanku, aku ke gudang untuk mencari kayu yang ibu minta. Setelah aku membawa beberapa papan kayu, aku kembali ke teras rumah. Ternyata ibu ingin membuat sebuah meja kecil untuk berjualan diteras. Seperti etalase. Akupun memulai pekerjaanku setelah mengambil beberapa perlengkapan untuk bekerja.
“Oh iya nak, kamu ga jadi pulang sama temanmu itu?” tanya ibu
“Engga bu, kayanya dia tadi ada perlu jadi Danar pulang duluan”
“Ooh gitu, terus kamu besok kekampus pake apa?” tanya ibu
“Pakai umum dulu aja bu. Kan sepedanya dirumah Andin. Atau nanti Danar ambil ke rumah Andin”
“Yasudah, tapi hati-hati lho”

Sebenarnya aku agak sedikit kesal karena aku harus kembali repot mengambil sepedaku yang tertinggal dirumah Andin. Waktu terus berlalu. Tak terasa adzan magrib berkumandang. Setelah melaksanakan shalat magrib di masjid, aku memutuskan untuk pergi kerumah Andin. Tapi sudahlah, itu sudah terjadi. Aku berangkat menuju rumah Andin menggunakan angkot. Entah berapa lama waktu perjalanan karena angkot ini banyak ngetemnya. Sampai akhirnya aku tiba dirumah Andin. Aku menekan tombol bel, dan keluarlah seorang perempuan yang pernah aku temui dulu. Bibi.
“Andinnya ada, bi?” tanyaku
“Loh, non Andin sama non Permata kan ke rumah Den Danar” ucap bibi
“Hah? Kapan?” tanyaku
“Sekitar tiga puluh menit yang lalu” jawab bibi
“Sepedaku ada bi?” tanyaku
“Sudah dibawa juga pakai mobil tadi”
“Emm, yasudah kalau gitu saya pamit ya bi. Assalamualaikum” ucapku
“Waalaikumussalam”

Aku berusaha untuk tetap tenang dan kembali pulang kerumah. Kali ini aku memutuskan untuk naik ojek saja agar lebih cepat. Tibalah aku dirumah, aku lihat mobil milik Andin terparkir di lapangan, dan kulihat Andin, Permata dan ibu sedang duduk di teras rumah.
“Assalamualaikum bu” ucapku sambil salim pada beliau
“Waalaikumussalam, nak”
“Bagus deh, sepedanya udah balik” ucapku
“Danar, lo marah ya” tanya Andin
“Engga” jawabku jutek
“Maaf, tadi siang itu handphone gue dititip, dan gue lagi fotocopy” kata Andin
“Terus ga ngabarin gitu ya?” tanyaku
“Ga gitu, HP gue keburu lowbet, gue juga lupa bawa charger. Maaf, Dan” ucap Andin
“Maaf kita jadi repotin antum” ucap Permata
“Nak, sudah, maafkan, lagipula ini kan ga direncanakan” ucap ibu

Aku menghela nafas yang sedikit terengah-engah. Aku melihat Andin, ibu, dan Permata. Aku memejamkan mata sejenak, kemudian menyuruh Andin untuk kembali duduk disana. Ibu berpamitan untuk masuk kedalam rumah. Aku ikut duduk di lantai teras rumah.
“Maaf Danar” ucap Andin menghampiriku
“Yaudah lupain aja. Gue cuma cape aja” jawabku
“Jangan gitu, gue ga enak sama lo jadinya” katanya tertunduk
“Iya iya, gue udah maafin kok. Gue yang harusnya minta maaf, udah marah-marah” ucapku
“Wajar lo marah, karena gue salah” kata Andin

Kulihat Permata hanya terdiam. Entah hanya perasaanku saja atau bukan, namun Permata nampak terlihat seperti kecewa, entah sedih, hanya saja yang aku tahu itu bukanlah wajah kebahagiaan. Saat kulihat lagi, ia langsung menunduk.
“Kalian udah makan?” tanyaku
“Sudah tadi. Oh iya, gue bawain ini buat lo” kata Andin sambil mengeluarkan coklat dari tasnya
“Makasih” ucapku singkat

Andin dan Permata memutuskan untuk pulang karena sudah malam juga. Keesokan harinya aku tak ada jadwal kuliah. Aku memutuskan untuk kembali melanjutkan pembuatan etalase untuk ibu jualan. Waktu menunjukkan jam delapan pagi. Ibu sedang menyapu didalam, sementara aku sibuk dengan perkakasku.
“Assalamualaikum” ucap seseorang
“Waalaikumussalam” jawabku sambil menoleh
“Hei” ucapnya
“Lia? Tumben kesini” ucapku
“Hehe, iya. Kamu lagi apa?” tanyanya
“Lagi gini aja hehe. Bikin etalase buat ibu” ucapku
“Eh, ada nak Lia” ucap ibu seraya keluar dari dalam
“Iya, ibu apakabar?” tanya Lia pada ibu sambil salim pada beliau
“Alhamdulillah baik nak, kamu gimana? Kabar ayah sama ibumu gimana?” tanya ibu
“Alhamdulillah bu, semua dalam keadaan baik” jawab Lia

Lia duduk dikursi depan bersama ibu. Aku melihat mereka begitu dekat. Aku terus saja sibuk dengan pekerjaanku. Lia yang sedari tadi mengamati dan melihat pekerjaanku mulai terperanjak ketika melihat jam tangannya.
“Kenapa Lia?” tanyaku
“Aku baru inget aku ada janji sama temanku” katanya
“Oh ya? Yaudah berangkat gih” ujarku
“Emm kamu gapapa ditinggal?” tanyanya
“Ya gapapa Lia” ucapku tersenyum padanya
“Yaudah aku berangkat ya” katanya

Liapun berpamitan juga pada ibu. Setelah itu ia langsung pergi memenuhi janji pada temannya.
“Danar” panggilnya
“Kamu hati-hati” ucapku
“Iya, makasih” katanya tersenyum manis

Oh manisnya dia. Liapun berlalu. Entah berapa lama aku bekerja, namun kini meja etalase kecil ini sudah mulai terlihat bentuknya. Mungkin kacanya akan aku ganti dengan kain penutup.
“Bu, sudah selesai nih” panggilku dariluar
“Iya nak” jawab ibu dari dalam
Tak lama ibu keluar. Beliau nampak senang dengan pekerjaanku.
“Wah alhamdulillah selesai ya nak” ucap ibu
“Iya bu, alhamdulillah”
“Besok udah bisa dipake?” tanyanya
“Sudah bu. Nanti Danar bantuin ya”
“Yaudah, kamu makan dulu, ibu udah siapin makanan” ucap ibu
“Iya bu”
“Assalamualaikum” ucap seseorang ketika aku hendak masuk
“Waalaikumussalam” jawabku dan ibu

Aku berbalik ketika aku menjawab, dan aku lihat gadis yang aku kenal. Andin. Ia langsung salim pada ibu.
“Ada apa Din?” tanyaku
“Emm, gue mau ngajak jalan, lo ada waktu?” tanyanya
“Ada sih, tapi gue baru mau makan” ucapku
“Nanti aja kita makan diluar. Bu, boleh Andin ajak Danar?” tanyanya
“Iya boleh, tapi gimana Danar aja” jawab ibu
“Emm, ibu gapapa?” tanyaku
“Ibu gapapa” jawab beliau tersenyum
“Yaudah, aku ganti baju sebentar ya” ucapku

Andin hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. Aku kembali ke kamarku untuk mengganti pakaianku. Aku memilih jaket hitam hoodie dan membawa tas selempang. Setelah siap, aku kembali keluar menemui Andin disana.
“Mau pergi pake apa?” tanyaku
“Lo bisa bawa motor?” tanyanya
“Bisa” jawabku
“Yaudah yuk” katanya
“Bu, Danar pergi dulu sama Andin” ucapku sambil salim pada ibu
“Iya nak, hati-hati” jawab beliau
“Assalamualaikum” ucapku dan Andin
“Waalaikumussalam”


profile-picture
bajingan.waktu memberi reputasi

Part 7 - Hati

Aku membonceng Andin dengan motor maticnya. Aku menjalankan motor ini ke arah kota, tepat seperti yang Andin tunjukkan. Aku tak tahu sebenarnya Andin mau mengajakku kemana. Sampai akhirnya kami berhenti di dekat alun-alun kota. Andin memintaku untuk memarkirkan motornya disana.
“Yuk” ajaknya
“Kemana?” tanyaku
“Ke Braga” katanya
“Emm”

Aku hanya mengikutinya saja dari belakang. Sampai kami tiba di sebuah tempat makan didekat jalan Braga.
“Kita makan disini ya” ucap Andin
“Ah? Emm..”
“Udah ayok” katanya sambil menarikku

Aku sangat ragu untuk makan disini. Pikirku, teman ini pasti mahal. Aku hanya membawa uang yang tak seberapa. Mungkin jika hanya untuk makan saja hanya cukup untukku sendiri. Untuk traktir Andinpun mungkin pas-pasan juga.
“Din, jangan makan disini deh” ucapku
“Kenapa? Disini makannya enak loh”
“Tapi....”
“Udah tenang aja, gue yang traktir. Yuk”

Perasaanku campur aduk. Kalau kata orang, masa iya cowok ditraktir cewek. Mau ditaro dimana muka gue? Mungkin bagi sebagian besar orang ga aneh juga sih, tapi ya tetep harus ada wibawanya. Cieelah, wibawa.
“Lo mau pesen apa?” tanya Andin
“Em, minum aja Din” ucapku
“Loh, makanannya?” katanya
“Engga usah deh Din. Gue gamau repotin lo” ucapku
“Engga kok, yaudah gue yang pilihin aja ya” katanya

Ia mulai memesan pada pelayan. Sementara aku hanya duduk terdiam. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Maksudku, aku tak pernah pergi ke tempat seperti ini. Tentu kalian sudah tahu keadaanku seperti apa, mana mungkin aku bisa makan di tempat seperti ini. Ya semua menjadi mungkin karena Andin yang mengajakku.
“Dan, kenapa di kampus lo selalu menyendiri?” tanya Andin
“Gue nyaman aja Din” jawabku
“Lo ga coba gabung gitu sama yang lain?” tanyanya
“Engga Din. Tapi gue tetep hargai mereka jika lagi berbicara dengan gue” jawabku
“Katanya lo suka diem di mesjid ya?” tanya Andin
“Kata siapa?” tanyaku
“Kata Eca” jawabnya
“Eca siapa?”
“Permata” jawabnya
“Hah?” aku bingung, kenapa dipanggil Eca
“Nama dia kan Ersha Permata Putri

Aku baru tahu kalau Permata punya nama seindah itu.
“Oh Permata”
“Iya, dia suka liat lo lagi jualan di sekitaran luar masjid.
“Iya Din, sekalian shalat” jawabku

Andin tersenyum padaku. Makanan kamipun tiba. Melihat nama dan gambar restoran ini menyajikan mie sebagai menu utamanya. Aku mulai mencicipi makanan yang dipesan. Baru saja aku mencoba sedikit, tapi lidahku sudah terasa panas. Ini pedas, sangat pedas bagiku. Bahkan aku sampai sedikit tersedak ketika menelannya.
“Hehe, kenapa Dan?” tanya Andin
“Pedes Din” ucapku
“Hehe, lo ga suka pedes?” tanyanya
“Engga kok, biasa aja. Cuma ini sih pedes banget” jawabku
“Hehe maaf, gue kira lo suka. Mau pesen yang baru?” tanyanya
“Eh ga usah, ini udah cukup” ucapku
“Eh, gue mau tanya sesuatu” katanya
“Tanya aja”
“Emm engga jadi deh” katanya
“Ga jelas lo” ucapku
“Eh iya, lo dapet salam dari Eca” katanya
“Eh, emm . . . waalaikumussalam” jawabku
“Ko gugup gitu?” tanyanya
“Engga kok”
“Abis makan, kita ke tempat Eca yah” katanya
“Emang kemana?” tanyaku
“Dia ngajar anak-anak gitu. Gue selalu suka dengan anak-anak” katanya
“Em terserah lo aja Din”

Seusai makan siang, kami berangkat menuju tempat yang dimaksud Andin. Selama perjalanan aku tak banyak berbicara. Hanya saja Andin yang berbicara, itupun sambil menunjukkan jalan. Sesampainya kami di tujuan, aku dan Andin berjalan menuju tempat yang aku tak tahu. Kami tiba disebuah tempat yang tak aku ketahui. Tapi kulihat banyak anak-anak sedang bermain disana mengenakan baju muslim. Sepertinya mereka anak-anak TPA dan sepertinya tempat ini merupakan madrasah. Saat Andin menghampiri mereka, sontak anak-anak yang sedang bermain langsung menghampiri Andin dan salim pada Andin. Aku tersenyum melihat ekspresi anak-anak yang gembira itu. Aku sangat menyukai anak-anak.
“Assalamualaikum” ucap Andin
“Waalaikumussalam” jawab serentak anak-anak
“Kalian apakabar” tanya Andin
“Alhamdulillah, luar biasa, Allahuakbar” jawab serentak
“Kak Eca mana ya?” tanya Andin
“Ada kak didalem” jawab salah satu anak dengan nada khas anak kecil
“Oh iya, kenalin, ini kak Danar” ucap Andin sambil memperkenalkanku

Mereka semua salim padaku. Oh, anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Tak lama, seseorang keluar dari dalam. Gadis itu, gadis bercadar itu. Permata.
“Assalamualaikum” ucapnya
“Waalaikumussalam” jawabku dan Andin
“Udah lama?” tanyanya
“Engga kok, baru aja sampe” jawab Andin

Permata melihat kearahku, ia mengangguk sedikit seraya tersenyum dari balik cadarnya. Bisa kulihat senyum melalui matanya.
“Semua udah siap?” tanya Andin
“Udah, yuk” ajak Permata
“Kemana?” tanyaku
“Kita mau bagi-bagi rejeki sama anak-anak”
“Rejeki?” tanyaku heran
“Iya rejeki hehe” jawab Permata

Kamipun masuk kedalam. Namun aku hanya menunggu di depan pintu saja. Aku lihat mereka membagikan sebuah bingkisan setelah mereka memberikan anak-anak pertanyaan dan tantangan seperti membaca Al-Qur’an didepan kelas. Anak-anak terlihat begitu gembira dengan kedua gadis ini.
“Eh, ngeliatin Permatanya gitu banget” ucap Andin mengagetkanku
“Eh, engga kok” ucapku salting
“Jangan bohong, keliatan kok hehe” kata Andin

Entah berapa lama aku memperhatikan Permata. Apakah aku mulai menyukainya? Aku tidak tahu. Tetapi setiap kali aku melihatnya, ada rasa tenang dalam diriku. Bahkan hatiku seperti meminta pada sang pemilik. "Ya Allah, labuhkan aku didalam hatinya"
“Lo suka sama Permata?” bisik Andin padaku
“Eh, apaan sih Din, ada-ada aja lo” ucapku
“Ga usah malu hahaha” godanya
“Udah ah, lo tambah ngaco” ucapku
“Ciee ngambek haha” kata Andin
“Ngobrol apa sih?” tanya Permata
“Engga kok. Udah beres?” tanya Andin
“Udah. Kalian kesini pake apa?” tanya Permata
“Pake motor dibonceng Danar” kata Andin
“Yaudah, Danar, lo bawa motor gue, gue sama Permata” kata Andin
“Oke deh”

Kami semua kembali ke rumah Andin karena kendaraan yang aku bawa bukanlah milikku. Setelah dari rumah Andin, aku berencana untuk langsung pulang kerumah. Apa ibu sudah makan? Entahlah, semoga saja sudah. Setelah tiba dirumah Andin, aku langsung pamit pulang.
“Loh mau langsung pulang?” tanya Andin
“Iya Din. Kasian ibu sendirian”
“Ga mampir dulu?” tanya Permata
“Engga, gue duluan ya. Din, makasih buat semuanya” ucapku
“Emm yaudah, lo hati-hati ya” kata Andin
“Iya. Assalamualaikum” ucapku
“Waalaikumussalam” jawab mereka

Aku pulang dengan naik ojek. Aku tak ingin meminta tolong Andin untuk mengantarku pulang. Aku tak mau merepotkannya. Lagipula, kulihat sepertinya Andin juga sudah lelah. Setibanya aku dirumah, kulihat ibu sedang duduk diteras depan sambil mempersiapkan untuk berdagang besok.
“Assalamualaikum bu” ucapku seraya mencium tangannya
“Waalikumussalam, udah pulang nak” ucap ibu
“Udah bu, ibu lagi apa?” tanyaku
“Ini ngerapihin tempat nak. Kamu sudah makan?” tanya ibu
“Udah, ibu udah makan belum” tanyaku
“Sudah. Yaudah, kamu masuk gih. Ibu udah siapin air hangat” ucapnya
“Iya bu, makasih”

Aku kedalam untuk membersihkan diri. Waktu berlalu. Setelah shalat isya dan mengaji, aku tetap berada di kamarku untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahku. Di malam itu, entah kenapa aku malah terbayangkan Permata. Apa ini benar? Aku mulai menyukai Permata? Jika benar, aku serahkan saja sepenuhnya pada Allah.

Satu minggu berlalu. Aku kembali pada aktivitasku. Tak ada yang istimewa minggu ini. Tidak ada, kecuali martabak. Aku tetap menjalankan aktivitasku dengan berjualan kue di kampusku dab membantu ibu saat aku dirumah. Setiap kali aku di masjid, tak jarang Permata datang menghampiri untuk membeli kueku bersama temannya itu. Selama ini, aku benar-benar bersyukur karena Allah memberiku rejeki berupa teman-teman yang baik.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
agungdar2494 dan 4 lainnya memberi reputasi
mantap gan ceritanya. lanjut lagi gan. emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
ntapzzz dan jmontefiore memberi reputasi
nice story gan
alurnya bagus banget
profile-picture
profile-picture
ntapzzz dan jmontefiore memberi reputasi
ijin nenda disini gan, semoga nggak dikasih kentang lagi yak emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
ntapzzz dan jmontefiore memberi reputasi
numpang gelar tenda gan, sdh sekian lma baru baca sfth lgi emoticon-Shakehand2
ijin gelar tenda
Nongkrong di cerita baru..
monggo dilanjut gan,

model2 kaya ayat2 cinta nih..

====edited=====

Gan, kata2 Allah Maha SWEET, bisa minta tolong di ganti gan,
Menetapkan nama dan sifat Allah ‎ﷻ harus sesuai sama nash, yaitu Al-Qur'an dan Al-hadist yang shahih..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
swalowww dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh left.pocket
izin ninggalin jejak 👣
Ceritanya bagus gan. Lanjut lagi yah emoticon-Malu
ituuuuuuuuuuuuu
Balasan post cwhiskeytango
Ditunggu update annya
Nais setori gan, ijin bangun hotel dulu
Halaman 1 dari 9


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di