alexa-tracking
Kategori
Kategori
4.73 stars - based on 15 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c9da6e3a2d1950b38248d61/my-sister

My Sister Part 1

Cerbung My Sister

My Sister




Namaku Quita, aku lahir lima belas menit setelah saudara kembarku Quina lahir. Kami memang saudara kembar tapi sayangnya dari fisik sampai IQ tidak ada yang kembar antara aku dan Quina. Sungguh sangat menyedihkan.

Quina memiliki kulit yang terang, bersih, hidung mancung mata lentik dan rambut ikal mayang, sedang aku, kulitku gelap, hidungku, pesek sih enggak tapi, kalau di banding Quina jelas beda jauh, tapi kadang aku tidak mempermasalahkan segi fisik, mungkin inilah takdir Allah untukku, sifatku cuek, tidak seperti Quina yang penuh perhatian kepada siapa saja, dan satu yang membuat aku sedih, aku tidak sepandai Quina, aku selalu kalah di dalam segala hal.Tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang Quita, aku tidak pernah bisa membahagiakan mama dan papa, sampai kelas satu SMA pun aku tidak pernah sekalipun membuat mereka bangga, bayangkan Quina selalu rangking satu, bahkan selalu dapat beasiswa, sedang aku naik kelas saja sudah untung bagiku.

Aku tahu mama sedih, setiap kali mama mengambil raporku, tapi mama tak pernah marah padaku, bahkan mama selalu menghiburku.

“Siapa bilang anak Mama bodoh, buktinya Quita naik kelas," hibur mama ketika itu.

“Quita nggak bisa ngasih nilai bagus ke Mama, Quita bodoh Ma, tapi mengapa Mama selalu ngebela Quita?”

“Karena Quita juga sayangnya Mama.”

“Tapi mengapa Mama selalu ngebela Quita di hadapan Papa, sebenarnya Papa itu nggak salah Ma, bila Papa menghukum Quita, karena memang Qiuta bodoh, IQ Quita di bawah rata-rata.”

“Tidak ada orang yang bodoh di dunia ini sayang, kalau kita mau berusaha dan bekerja keras.”


Betapa bijaknya kata-kata mama, tapi semua itu tidak bisa menghapus rasa sedih Quita, setiap kali papa ngasih kado buat Quina karena prestasinya, papa selalu memuji-muji Quina di depan teman-teman papa, betapa bangganya papa pada Quina. Sebenarnya siapa sih yang nggak ingin pandai seperti Quina? Dan satu hal yang membuat sedih adalah ketika Papa selalu mengenalkan Quina pada teman-teman kantor papa, papa selalu memanggil Quina untuk menemani papa, tatkala ada teman-teman papa dan memberi isyarat padaku untuk menyingkir, sedih sekali rasanya.

“Coba kalau kamu belajarnya juga rajin seperti Quina, Papa yakin, kamu juga bisa berprestasi seperti dia.”

“Tapi Quita juga belajar Pa ….”

“Tapi mengapa nilaimu selalu jelek, lihat nilai ulangan Quina dapat 100, kok kamu dapat bebek berenang, padahal kualitas soalnya jelas beda, lebih susah kelasnya Quina, kamu itu sudah ditaruh di kelas anak-anak yang bodoh masih saja tetap bodoh, harus bagaimana lagi Papa ngajarin kamu.”

“Sudahlah Pa, mau belajar sampai mata bengkak juga, Quita itu nggak bakalan bisa kalau pelajaran matematika, otak Quita itu sama saja dengan otak udang, setiap kali Quina ajarin enggak bisa-bisa, capeeek deh," kata Quina tanpa memedulikan perasaanku sebagai saudara kembarnya sedikitpun.

Aku bodoh, aku bodo, aku bodoh! mengapa aku terlahir sebagai anak bodoh, apakah sampai tua aku akan jadi orang yang bodoh? Teriaku dalam kegelapan malam, aku terus saja berjalan menuju taman kota, tanpa memperdulikan kakiku yang lecet-lecet, karena aku tidak memakai alas kaki. Cahaya bulan yang kata orang-orang begitu indah seakan tersenyum mencibirku, tidak ketinggalan bintang yang hanya tampak satu-satu, semua bersorak-sorai atas kebodohanku, bahkan kunang-kunang yang berseliweran di taman juga serempak mentertawakanku. Oh dunia dan seisinya apakah engkau tahu kalau aku orang bodoh seperti kata-kata papa, kalau aku orang bodoh sedunia.

Hanya taman ini sebagai temanku, aku bisa menghirup udara bebas di sini, ditemani bunga-bunga yang harum semerbak, aku duduk di bangku tua yang sedikit lapuk, kuselonjorkan kakiku, sambil sesekali ku pijiti sendiri. Mataku menatap kelangit yang sedikit mendung, tampak bintang-bintang yang berkelap-kelip satu-satu mencoba menyinari wajahku yang tak pernah bersinar, dalam hati aku berbisik, apa aku tidak bisa berprestasi seperti Quina saudara kembarku?

Tapi aku bisa apa? Pernah suatu kali Mama mengikut sertakan aku dalam lomba busana muslim, Quina juara 1 eh aku malah terjatuh di panggung, bajuku terinjak kakiku, dan brug! panggung itu seakan ikut meledekku, semua penonton mentertawakan aku, boro-boro dapat juara, dapat malu segudang sih ia.

Waktu mama ikut sertakan aku di lomba karaoke tingkat kecamatan, ini yang mungkin tak pernah bisa aku lupakan dalam hidupku, waktu itu Quina sepertinya juaranya setiap lomba, lagi-lagi ia juara satu dan disuruh lomba di kabupaten, saudara kembarku itu memang hebat, bertumpuk-tumpuk piala, di ruang tengah, tak ada satupun yang menjadi milikku, sedang aku? Ketika aku naik ke atas panggung, suaraku yang sember membuat penonton sakit telinga, aku ditimpukin botol bekas aqua dan disuruh turun tanpa belas kasihan, mereka tidak tahu kalau aku adalah saudara kembar Quina, semalaman aku menangis, samapai mataku bengkak.

Itu cuma sekelumit, kisah lombaku yang tidak pernah dapat juara, karena aku anak bodoh! Tapi mengapa setiap kali mama nyuruh aku ikut lomba, aku mengangguk saja? Karena jawabannya aku tidak ingin membuat mama sedih. Aku tahu mama sedih melihatku, tapi lagi-lagi semua itu bisa terhapus oleh Quina, saudara kembarku, walau kadang kata-katamya membuat aku sakit, tapi memang dasar akunya saja yang sulit di kasih tahu, siapapun pasti capek juga bila ngajarain anak yang nggak bisa-bisa seperti aku.

Sudah malam, aku harus cepat-cepat pulang, kalau tidak pasti Papa akan marah, aku sih sudah biasa dimarahin papa jadi nggak ngaruh, tapi kalau mama sedih? Aku akan merasa berdosa sekali. Karena mama adalah Pahlawanku, mama akan selalu membelaku, mama adalah semangat hidupku.

“Dari mana, Quita? Dicariin Mama sama Papa tuh," ucap Quina

“Cari angin segar….”

“Emang di rumah anginnya kurang segar?”

“Ya … segar buat kamu, tapi buat aku enggak."

“Maaf ya, tadi aku ngomong nggak enak kekamu, sebenarnya aku nggak bermaksud nyakitin perasaan kamu, aku sayang kok sama kamu, walaupun kamu nggak pinter."

“Udah aku maafkan kok, emang nggak ada yang salah dengan kata-kata kamu, otakku emang otak udang, aku bodoh, nilaiku selalu jelek, tapi aku mesti gimana lagi?"

“Tapi aku yakin Quita, sebenarnya kamu itu punya kelebihan, bukannkah Allah menciptakan manusia itu ada kekurangan dan ada kelebihannya juga?"

“Kamu ngomong gitu karena kamu pinter, coba kalau kamu jadi aku."

“Sayang ya … walaupun kembar kita beda, kalau sama 'kan kita bisa tukar tempat, seperti di sinetron-sinetron itu.”

“Untung di aku, rugi di kamu.”

Quina emang anak yang baik, dia mau minta maaf ke aku, dia tidak jadi sombong karena kelebihannya. Tapi malah aku yang iri karena kecerdasanya. Dia memang saudara kembarku yang paling baik sedunia.

Aku terus saja berfikir, apa kelebihanku, berat badan? Ah enggak! Tubuhku nggak tambun-tambun amat, lantas apa? Kata Quina , aku pasti punya kelebihan, lantas apa kelebihanku.

Oh angin malam, jangan hanya memberikan hawa dinginmu padaku tapi, berikanlah aku sebuah jawaban atas kelebihanku, yang aku sendiri tidak tahu bersembunyi di mana kelebihan itu?

Kalau aku jadi penulis asyik kali ya? Aku bisa menuangkan apa saja dalam tulisan itu, oh ia di antara nilai-nilaiku yang jelek, 'kan nilai mengarangku yang paling bagus, Ah kalau aku jadi penulis terkenal pasti mama sama papa bisa bangga ke aku, ah aku mau jadi penulis ah, tapi apa aku nggak malu kalau tulisanku jelek? Tapi aku akan tetap menulis dan menulis.

Tapi aku mau nulis apa? Aku akan coba buat cerita, ya cerita pendek, tapi mau kukirim kemana? Mengapa mesti bingung majalah kan banyak, aku pantang menyerah. Oke … oke … yes!

Ternyata jadi penulis itu tak semudah yang aku bayangkan, sudah berkali-kali kukirim naskah ke redaksi majalah, tapi hasilnya nihil, kurang inilah, kurang itulah, tapi aku tidak boleh menyerah? Maju terus pantang mundur. Biarpun sampai babak belur, eh yang ini jangan deh. Apa aku buat cerita tentang Valentie Day? Valentine Day yang kelabu milik Quina? Tapi apa aku tidak kelewat jahat, menceritakan aib kembaranku sendiri tentang sepotong coklatnya yang meleleh dilibas Mobil Papa malam itu,? Tentang bagaimana teman-teman Quina merayakan Valentine Day, yang katanya hari kasih sayang itu?Huh! Nggak asyik cerita Valentine Day, kalau mau memberikan kasih sayang bukankah setiap hari, setiap saat kita bisa berkasih sayang? Lantas kalau mau sepotong coklat, dengan pita warna Pink, kok susah-susah amat, mau makan coklat berapa bungkus kalau aku minta sama mama, pasti mama beliin.

“Itu argument kamu, karena nggak ada satu cowokpun yang mau dekat sama gadis bodoh macam kamu,” kata Quina di suatu sore menjelang perayaan Valentine Day.

“Biar bodoh tapi aku masih bisa mikir, untuk apa sepotong coklat dan setangkai bunga, kalau imbalannya minta cium pipi, dan bahkan lebih …."

“Kamu itu kembaranku yang hidup di era modern tapi pikiran kamu nggak jauh jauh dari jaman bahola nek."

“Suka-suka aku dong, nggak ada di dalam undang-undang yang menyatakan kalau seorang remaja harus merayakan Valentin Day.”

“Karena kamu nggak punya pacar, coba kalau kamu punya pacar pasti hari Valentine Day adalah hari yang di tunggu-tunggu, makanya cari pacar nek, jangan sampai jadi jomlo lumutan, alias jomlo kekal sepanjang masa.”

“Emang kamu pernah nimbang untung ruginya pacaran, sono noh pijam timbanga Wak Haji Sulaiman,banyakan mana untung sama ruginya.”

“Ala … belagak sok pinter, kamu ngomong gitu kan buat nutupin kebodohanmu.”

Memang aku bodoh, tapi apakah manusia bodoh ini tak punya uraian tentang Valentine Day?

Dan benar juga malam itu, apa yang kucemaskan terjadi, Quina pulang sambil terisak-isak, membuang sepotong coklat dan setangkai bunga mawar yang diikat pita berwarna pink yang terlihat sangat cantik memesona, dan pada waktu itu pula papa baru pulang dari kantor, hingga tanpa ampun roda mobil yang berwarna hitam legam itu melibas coklat pemberian Briyan untuk pacar tercintanya Quina.

“Aku benci Briyan, kamu tahu nggak aku di bawa kemana?”

“Nggak 'kan aku nggak ikut”

“Aku diajak Briyan ke suatu tempat, yang di sana bertebaran minuman keras."

Quina bercerita sambil menangis, membenarkan apa yang kuucapkan, Briyan telah menjebaknya di hari Valentine yang digembar-gemborkan sebagai hari kasih sayang itu. Kalau benar Briyan menyayangi Quina kenapa dia harus membawa Quina ketempat maksiat seperti itu? Mata dan hati Quina terbuka, untunglah ia
bisa lari dari Briyan.

Setelah berbagai penolakan-penolakan terhadap naskah cerpenku akhirnya dimuat juga karyaku di sebuah majalah remaja terbitan ibukota. Tapi waktu itu aku tidak menggunkan nama asliku nama yang ku pakai adalah Q Tinta. Jadi aku nggak bisa bawa karyaku itu ke papa, dan semua orang rumah. Aku takutnya mereka nganggap kalau aku bohong, mengakui karya orang lain sebagai karyaku.


Dunia tulis menulis menjadi dunia yang paling menyenangkan bagiku, hampir tiga tahun nama Q Tinta banyak bertebaran di majalah-majalah, tapi tak ada yang tahu kalau Q Tinta itu adalah aku yang sering dijuluki si otak udang Mereka selalu menganggapku sianak bodoh itu, biarlah mereka tetap menganggapku bodoh, aku tidak perduli.

“Quita, kamu suka nggak dengan serial Kenanga ini."

“Ya … aku suka ….”

“Bagus ya ceritanya?”

“Emmm ….”

“Bagus kan, aku ngikutin terus lho."

Kamu tidak tahu Quina kalau sebenarnya akulah penulis serial Kenanga itu, kamu begitu antusias menceritakan si Kenanga yang sengaja kutulis hampir mirip dengan kehidupanmu, Kenanga yang cerdas yang selalu juara, Kenanga yang selalu menjadi kebanggaan setiap orang, sebenarnya itu adalah kamu saudara kembarku, yang segalanya tidak mirip denganku, yang membuat aku sering menangis malam-malam karena tidak bisa menyamaimu. Serial Kenanga adalah satu-satunya hiburanku.

“Syukurlah kalau kamu suka."

“Kok jawaban kamu gitu, seperti penulisnya aja."

“Enggak maksudku."

“Aku tahu kamu nggak akan bisa nulis sebagus itu, kan nilai mengarangmu jauh dibawahku," kata Quina sambil berlalu meninggalkanku.

Memang Quina nilai-nilaiku semua jauh di bawahmu, kamu selalu juara, aku nggak ada apa-apanya bila dibandingkan kamu, tapi aku selalu ingat kata-katamu, kalau Allah itu menciptakan manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Dan aku telah menemukan kelebihan itu ,tanpa setahu orang-orang yang kucintai, aku tidak ingin menjadi sombong karenanya. Biarlah Papa selalu menganggap aku anak bodoh, nggak bisa memberikan kebanggaan terhadap orang tua, biarlah. Hingga sore itu Mama menemukan buku tabunganku.

“Quita! Mama mau kamu jujur pada Mama."

“Emangnya ada ap, Ma?”

“Darimana kamu dapatkan uang-uang ini? Mama tidak pernah memberi uang jajan lebih kekamu, tapi kenapa tabungan ini bisa membengkak jumlahnya.”

“Itu da ... dar … dar....”

“Dari mana Quita, ayo jawab!" Nada suara Mama meninggi, membuat aku bergidik mendengarnya, tapi mulut ini tetap saja bungkam, aku tidak bisa mengucapakan sepatah katapun, aku sudah berjanji dalam hatiku untuk tidak memberitahukan kepada siapapun kalau aku ini adalah seorang penulis, aku ingin mereka megerti dengan sendirinya, aku tidak ingin hanya di katakan omong kosong.

Mama semakin marah, aku tidak mengerti mengapa mama bisa semarah itu padaku.Tapi aku tetap pada pendirianku, untuk tidak megatakan dari mana asal uang tabunganku itu.Tiba-tiba papa datang langsung menghampiriku dan,

"Plak!"

Tamparan itu tiba-tiba mendarat tepat di pipi kananku, tamaparan dari seorang papa yang begitu sangat kukagumi, wajah papa memerah, papa benar-benar sangat marah, seperti gunung meletus suara papa menggelegar seisi ruangan, aku hanya bisa terisak tapi pantang untuk menyerah.

“Ayo, Pa terus tampar sampai Papa puas, sampai kedua pipiku bengkak, aku tetap tidak akan mengakui, dari mana uang itu berasal."

“Sudah bodoh, keras kepala, mau jadi apa kamu, apa benar sore itu kamu naik mobil mewah pergi bersama Laura?"

“Kalau ia memangnya kenapa? Apa salah Laura?”

“Kamu tahu siapa itu Laura?”

“Mengapa tidak? Laura itu teman sekelasku.”

“Laura itu anak nggak bener, dia itu sering jadi mangsa Om-om.”

“Memangnya, Laura ayam kok di mangsa?”

“Memang Laura itu ayam, dia itu ayam sekolahan.”

“Papa, bikin aku bingung, Laura itu manusia, bukan hewan, tega sekali sih Papa ngatain ayam, kalau ayam itu punya bulu, punya sayap bisa terbang Laura itu sama sepertiku, dia itu manusia yang juga makan nasi seperti Quita, papa."

“Mama … kepala Papa bisa-bisa pecah kalau terus ngomong sama Quita, mesti bagaimana lagi Papa menjelaskan sama Quita, tentang temannya yang bernama Laura itu.”

“Mama mohon, Quita. Jauhi Laura."

“Memangnya Laura salah apa sama Quita?”

“Kemarin Quina bilang, kamu satu mobil dengan Laura, tingkah kamu akhir-akhir ini jadi aneh, kamu sering keluar rumah, bahkan kamu sudah berani menginap di rumah temanmu, apalagi di rumah Laura, yang kata Quina, Mamanya adalah seorang wanita panggilan.”

“Memang Mamanya Laura wanita panggilan, Quina tahu juga dari Quita, apa salahnya Ma, kalau wanita panggilan.?'

“Papa! Lama-lama kepala Mama juga ikutan pecah kalau menghadapi Quita, wanita panggilan saja dia tidak tahu, apa jangan-jangan, uang itu juga hasil Quita.

Tiba-tiba mama pingsan, papa langsung mengangkat mama kepayahan masuk kamar, dan menidurkan mama di ranjang.

Setelah beberapa saat mama sadar, Ia langsung menginterogasi aku, aku seperti seorang terdakwa, yang sudah melakukan kesalahan besar, siap untuk menanggung segala hukuman yang akan di jatuhkan oleh hakim, kasihan sekali, sebagai terdakwa, tidak punya pembela, tidak ada seorang pengacarapun yang mau mendampingiku.Tidak juga Quina sebagai saudara kembarku. Oh betapa malang nasibku.

“Quita, apa kamu juga dapat uang ini dari Om-om hidung belang itu?"

“Maksud Papa ini apa sih, Om-Om yang mana yang hidungnya belang, aku nggak kenal sama Om-Om yang hidungnya belang," jawabku ngeles.

“Lihat Quita, pintu itu telah terbuka lebar-lebar, kamu keluar dari pintu itu, dan jangan kembali sebelum otakmu yang error itu bener," kata papa sejurus kemudian telah mengusirku. Aku masih saja tidak mengerti, apa ada yang salah dengan diriku, ketika aku memilih Laura sebagai sahabatku, Laura memnag anak seorang wanita panggilan seperti yang aku ceritakan pada Quina, tapi sebelum aku selesai ngomong Quina sudah keburu tertidur, maksud dari wanita panggilan itu, aku sekedar bercanda, tapi memang benar mama Laura itu wanita panggilan karena ia adalah seorang bidan desa, yang akan selalu dipanggil, tatkala ada orang yang mau melahirkan.Dan Laura sering di bawa Om-om seperti ceritaku, kalau Om yang ku maksud adalah Om Satrio yang baru punya bayi dan Laura sering di ajak Om Satrio kerumahnya untuk menemani Tante Layla, kan tidak ada yang salah.

Dan kini aku harus termakan sendiri oleh omonganku yang ngawur itu pada Quina, belum sempat aku menjelaskan Papa sudah mengusirku. Sungguh malang nian nasibku.Tabunganku di sita Mama, mau kemana aku tak ada tempat yang bisa kutuju.

Tapi dasar nasib lagi mujur, tiba-tiba saja Laura bersama Om Satrio memberikan tumpangan padaku, tanpa berpikir panjang aku langsung saja masuk dalam mobil Xenia warna silver itu.

Aku benar-benar menjadi bagian dari keluarga Laura, senang sekali di rumah ini, aku benar-benar dihargai, malam itu kuceritakan semua apa yang menimpaku pada Mama Laura juga tentang saudaraku, tentang Quina yang selalu menjadi juara, tentang Quina yang selalu mengalahkanku dalam berbagai hal, tapi dengan buliran airmata yang merembes dari dua mataku, aku mencoba untuk jujur ketika Mama Laura bertanya,

“Apa kamu seorang penulis?”

Aku mengangguk pelan, aku tidak bisa mengelak lagi ketika mama Laura memperlihatkan cerpenku yang terbaru yang berjudul Hati yang telah terluka. Sejurus kemudian Mama Laura telah memelukku, kurasakan punggungku basah, ternyata Mama Laura menangis.

“Mengapa,Tante menangis?”

“Tante bisa merasakan bagaimana sedihnya hati kamu Quita, kamu telah berjuang begitu keras, untuk mendapatkan pembuktian, kalau kamu bukanlah sigadis bodoh, Tante yakin Papamu akan bangga padamu juga.”

Selesai Mama Laura berkata begitu, telepon di ruang tengah berbunyi, Mbok Ijah datang tergopoh-gopoh, mengatakan kalau ada gadis yang suaranya hampir mirip denganku menelpon, ingin cepat bicara denganku, aku sudah bisa menebak kalau suara di seberang itu pastilah saudara kembaranku, karena HP yang biasanya setia menemaniku ketinggalan di kamar tidurku sebelum sempat aku mengambilnya Papa sudah keburu mengusirku, telingaku rasanya masih normal ketika mendengar kata-katanya yang begitu jelas,

“Kalau aku menjadi pandai sendirian, tetapi harus kehilangan saudara kembarku, lebih baik aku menjadi bodoh, tetapi kita masih tetap bisa bersama."

Aku menangis tersedu-sedu, ternyata quina sangat menyayangiku."

To be continued
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hvzalf dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh trifatoyah
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 35
profile-picture
profile-picture
profile-picture
berodin dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh trifatoyah
Terharu 😦
Quote:


next ka.

Ups kaya di sebuah grup. Hahaha
emoticon-Big Kiss
Eh bersambung penasaran
Quote:


Makasih ya dah baca. Mbak Retno masuk Kaskus dah lama PO?
MY SISTER 2

My Sister

Benarkah apa yang dikatakan Quina? Kalau dia bersedia menjadi bodoh, asalkan masih tetap bisa bersamaku? Kususut buliran bening yang dari tadi sudah membanjiri kedua pipiku berulang-ulang, menggunakan ujung jilbabku. Nggak mungkin, tiba-tiba keraguan membalutku erat, aku tidak percaya begitu saja dengan kata-kata Quina, Quina kembaranku yang smart, semua-muanya harus perfect, hanya demi manusia bodoh ini...rela...dia rela...mustahil.

“Siapa Quita?” tanya Mama Laura tiba-tiba sudah berada dibelakangku.

“Quina, saudara kembarku.”

“Apa katanya?” tanya Mama Laura lagi.

“Nggak penting Tante, Tante...apa aku masih boleh tinggal disini?” Pintaku sambil menggenggam tangan Mama Laura, seorang Bidan Desa yang aku menyebutnya wanita panggilan itu.

“Sampai kapanpun boleh, karena kamu sahabat Laura, kamu sudah Tante anggap anak sendiri, tapi kamu juga harus memikirka kedua orang tuamu.” Katanya dengan bijak.

“Terimakasih,Tante,” kataku langsung menghambur kedalam pelukannya, Mama Laurapun memelukku erat, pelukan yang hampir sama dengan pelukan Mama, dan akupun kembali terisak karena teringat Mama.

*** *** ***

“Quita...mulanya aku nggak tahu, sumpah! Kalau kamu itu saudara kembar Quina.” Kata Laura sambil merapikan buku-bukunya, sejurus kemudian sudah melompat ke tempat tidur, mengambil bantal, memeluknya dan duduk disampingku.

Kupeluk lututku erat sambil menyandarkan tubuhku pada dinding tempat tidur.

“Karena aku berada di kelas C sedangkan Quina di kelas A, itu ‘kan maksudmu?”

“Yupsss, betul sekali.”

“Ra ... aku memang kembar, tapi kembar yang dibedakan.”
“Maksudmu?”

“Dari kecil Papaku selalu membedakan aku, kalau kita pergi ke Mall Quina bebas mengambil apa saja yang dia suka, boneka, baju, sepatu, bahkan aneka jajanan yang dia suka, tapi aku? Papa selalu melarangku, mulanya aku berontak, apa salahku? Tapi dengan berjalannya waktu aku tahu jawabannya, dari sebuah cermin...aku tahu itu, pantulan cerminku tidak bersinar seperti Quina.”

Aku menoleh ke masa lalu teringat ketika aku menginginkan boneka Panda diantara boneka-boneka yang berjejer rapi di salah satu Mall, Papa langsung menepis tanganku, matanya menatap tajam kearahku, memberikan isyarat agar aku tidak menyentuh satupun dari boneka-boneka itu dan dia berkata,

“Kalau kamu sudah bisa membaca seperti Quina Papa baru akan membelikan boneka itu padamu.” Tegas sekali suaranya, dan tangan kekar itu mengambil salah satu boneka panda, menentengnya menuju ke kasir membayarnya dan bilang pada Quina.

“To beautiful love Papa.” sambil memeluknya. Mungkin itu yang ku ingat waktu itu aku sendiri tidak tahu apa artinya, yang kutahu hanya love love yang artinya mungkin cinta.

Aku langsung berlari kepelukan Mama, Mamapun tak berdaya dengan ultimatum Papa, padahal waktu itu aku masih kelas TK B, apa anak kelas TK harus sudah bisa membaca? Tapi Quina bisa, lagi-lagi Quina...lagi-lagi Quina, mengapa dengan mudah dia bisa mendapatkan segala sesuatu yang di inginkannya?

Ketika hendak masuk SD, Quina sudah lancar membaca dan menulis, apa saja yang dilihatnya sepanjang jalan selalu dia baca, ketika Papa memberikan pertanyaan penjumlahan dia selalu bisa menjawabnya, benar-benar dia Lovenya Papa.
Sepulang Papa mendaftarkan kami di SD favorite tentunya, kami mampir kesebuah rumah makan.

“Quita kalau kamu bisa baca tulisan yang terpampang di situ.” Jari telunjuk Papa menunjuk pada sebuah tulisan yang ada gambar sendok dan garpu yang saling menindih, dia akan membelikan aku sepeda mini kecil seperti punya Quita.

Mataku berbinar, hatiku berbunga-bunga, rasanya senang sekali, karena Papa juga akan membelikan aku sepeda mini, jadi aku tidak perlu lagi lari-lari dibelakang Quina, menunggu Quina bosan naik sepeda, baru aku boleh meminjamnya. Aku berharap kali ini jawabanku betul.

“Ayo Quita, kemarin kamu sudah mulai belajar membaca.” Mama memberi semangat kepadaku.

“Sen-dok me-me-luk gar-pu," ucapku dengan penuh percaya diri.

“Hahahaha ....” Meledaklah tawa Quina, seperti ledakan suara bom ditelingaku.

Masih kuingat, Quina waktu itu tertawa terpingkal-pingkal, disambung dengan tawa Papa, hanya Mama yang tidak tertawa, memelukku dengan mata berkaca-kaca, apa jawabanku salah?

“Lovenya Papa...coba dibaca.” Perintah Papa pada Quina dengan bangga.
“Ru- mah ma- kan Ber- kah.”

“Coklat silverqueen buat Lovenya Papa.” Teriak Papa sambil bertepuk tangan.

“Pa ... apa Papa tidak membaginya juga untuk Quita?” tanya mama dengan mata berembun.

“Jangan suka memanjakan anak yang malas belajar.”

“Quita bukan malas belajar Pa," bela mama.

“Quita nggak minta Ma, kata Bu guru, kebanyakan makan coklat bisa sakit gigi.”

Padahal aku ingin sekali coklat itu, tapi demi Mama nggak bertengkar sama Papa, aku berbohong. Kamipun turun untuk makan siang di Rumah Makan Berkah, Quina duduk disebelah Papa, aku duduk disebelah Mama, aku hanya bisa menelan ludah berkali-kali saat melihat Quina memakan coklat itu, kelihatannya enak sekali. Ketika coklat itu tinggal sepotong kecil, Quina memberikannya padaku, kuterima sepotong coklat kecil itu dan memakannya sedikit demi sedikit, biar aku bisa merasakan nikmatnya sensasi makan coklat silverqueen.

“Kok ada ya ... orang tua seperti Papamu?” tanya Laura heran.

Aku tidak mau menanggapi pertanyaan Laura, karena semua itu akan menyesakkan dada, sesak teramat sesak. Ketika aku hendak bersiap tidur, tiba-tiba Mama laura mengetuk pintu kamar.
“Tok ...tok ... tok, Quita, Laura ... kalian belum tidur.”

“Belum Ma ... masuk aja.”

“Quita, barusan Quina telepon, katanya Mamamu sakit...baru saja Papamu melarikan Mamamu ke Rumah Sakit.”

“Apa??? Mama dilarikan Papa ke ...

Rumah Sakit, kenapa harus dilarikan, kenapa nggak pakai mobil aja Tante, keterlaluan si Papa.”

“ Quita, bukan dilarikan diajak lari-lari, tapi cepat di bawa ke rumah sakit. Hadeeeh.”

Karena Mama sakit, aku minta diantarkan untuk pulang, aku tidak perduli kalau Papa marah, yang penting aku harus ketemu Mama. Om Satrio mengantarku sampai depan rumah, aku langsung turun dari mobil mengucapkan terimakasih. Rumah dimana aku tinggal masih berdiri kokoh, sepi, karena Mama di Rumah Sakit, aku tidak tahu Rumah Sakit mana.

Kilatan cahaya lampu mobil menyilaukan mataku, tangan kiriku reflek menutupnya. Ternyata Papa dan Quina, mereka pasti baru saja dari Rumah Sakit.

“Quita ... akhirnya kamu pulang.” Quina langsung memelukku, dan mengajakku masuk. Kucium punggung tangan Papa, seperti biasa dia selalu dingin padaku. Padahal aku ingin sekali memeluknya, Pa ... aku kangen.

Aku melangkah masuk kedalam rumah, rasanya aku juga sudah kangen dengan My Sisterku, percuma meminta Papa untuk mengantar menemui Mama, kalau Papa sudah bilang besok ya harus besok. Dan Papa tidak menanyakan lagi uang tabunganku, entah karena kelelahan, atau apa... aku tidak tahu.

Karena beberapa hari tidak ketemu, aku dan Quina merasakan sebuah kangen yang luar biasa, setelah aku tanyakan bagaimana keadaan Mama, yang kata Quina sudah mulai membaik, hatiku menjadi tenang. Malam itu aku ngobrol panjang lebar dengan Quina, sampai pada mahkluk yang bertitel cowok.

“Quita ... kemarin ditempat Les, aku di tembak Andra, cowok cakep pindahan dari Jakarta,” kata Quina dengan muka bersemu merah.

“Apa?Kamu ditembak ... mana yang kena, sakitkah?” tanyaku langsung meneliti sekujur tubuh Quina. Reaksi Quina langsung manyun.
.
“Kok jadi manyun, aku khawati, Quina bisa-bisanya kamu ditembak Andra.”

“Hiiih ... Quita, bukan ditembak pakai senapan dodol, tapi cinta ... love ... love.”

“Oh itu, terus kamu mau?” Tanyaku polos.

“Nggak tahu sih ... tapi cowoknya pinter dan ganteng banget, Briyan lewat deh.”

“Briyan lewat mana?”

“Lewat sono ... no ... lewat gang sempit.”

“Ooooo”

“Udah akh, males ngomong sama kamu, eh tapi tunggu dulu, kemarin aku buka buku Bahasa Indonesia kamu, ada secarik kertas bertuliskan I LOVE YOU, terus bawahnya ada tulisan Didot, ayo siapa Dodot?”

“ Cowok kurang kerjaan yang selalu menggangguku di kelas.”

“Cakep nggak?”

“Cakep dari Hongkong...”

Akhirnya akupun tertidur disamping Quina, terbawa oleh mimipi-mimpi yang membawaku lari entah kemana. Ketika adzan subuh berkumandang aku langsung bangun mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibanku untuk sholat subuh.

Selesai sholat subuh, bergegas aku kekamar mandi, karena aku harus ke Rumah Sakit. Dadaku bergemuruh, jantungku seakan mau meloncat keluar, air mataku langsung tumpah ruah, ketika kugenggam sebuah alat penguji kehamilan, dua garis ya dua garis, bukankah kata Mama Laura kalau test pack terpampang nyata dua garis berarti hamil...oh tidak!!! Aku langsung berlari keluar kamar, memangi-manggil Quina, Quina tampak panik berlari kearahku.

“Ada apa?” Tanyanya panik.

“Lihat ini, dua garis.”

“Apa?" tanya Quina biji bola matanya melotot hampir keluar, begitu melihat test pack ada digenggaman tanganku dan langsung berteriak:

“Papa!"

Papapun buru-buru berjalan menghampiri kami, yang berwajah tegang di pagi setelah subuh itu. Quina langsung memberikan test pack itu pada Papa, muka Papa langsung merah padam menatap lekat kearahku, seakan ingin menguliti sekujur tubuhku.

“Gugurkan," teriak Papa lantang.

"Jangan,Pa jangan digugurkan dosa," kataku beusaha mendekat kearah Quina.

“Gugurkan, bikin malu aja Pa.” Quina bersuara sambil menatap lekat kearahku.

“Jangan Quina, itu dosa, apa kamu mau melakukan dosa untuk yang kedua kali?”

“Apa?Aku .... aku hamil? Itu ‘kan punya kamu.” Quina berkata dengan amarah yang meledak-ledak.

“Lagian aku bukan WTS, yang siapa saja boleh meniduriku,” kata Quina masih dalam keadaan marah.

“Memangnya kenapa kalau WTS?” tanyaku lagi.

“Apa kamu mau jadi WTS?” Quina bertanya sengit kearahku.

“Aku memang WTS.” Jawabku kalem.

“Apa?" Suara menggelegar Papa hampir bersamaan dengan Quina.

Lagi-lagi aku tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan, papa kembali menamparku, sakit ranyanya, apalagi ketika papa mencengkeram pundaku erat dan menginterogasiku tanpa ampun, aku harus mengatakan siapa cowok brengsek yang telah meniduriku, kepalaku terasa pusing tujuh keliling, selama ini tidak pernah ada satupun cowok yang tidur diatas badanku. Kenapa mereka dibuat pusing dengan WTS, aku memang WTS alias Wanita Tahan Sumuk, Aku tahan memakai rok panjang dan jilbab biar pun rasanya kegerahan.

Apa tulisan I LOVE YOU dari si Didot itu bisa membuatku hamil? ada-ada saja, Aku yakin kalau Test Pack itu milik Quina, secara dia banyak teman cowoknya, tapi apa separah itukah pergaulan Quina?

Setelah aku diinterogasi bak seorang maling oleh papa, aku berlari keluar rumah, sebuah angkot telah membawaku ke rumah sakit, mama hari ini engkau sakit, terbaring lemah diranjang rumah sakit, tanpa daya dan hari inipun aku sakit, teramat sakit Ma papa telah menuduhku berzina, mama aku ingin menangis dalam pelukanmu.

Aku turun menyusuri lorong rumah sakit, dengan wajah tidak karuan, belum mandi apalagi gosok gigi. Bagaimana aku bisa membuktikan ke Papa kalau aku bukanlah gadis bodoh yang hanya bisa menyusahkan, tapi aku bisa berkarya Pa, pembuktian itu teramat sulit, Ya Allah...sampai kapan aku akan bisa jadi bidadari kecil Papa seperti Quina, sampai kapan aku bisa jadi Lovenya Papa seperti Quina?

Aku berhenti disebuah kamar VIP, didepan pintu, ragu tangan ini memegang handlenya, ternyata Papa sudah ada di dalam bersama Quina. Aku mengintip dari lobang kecil pintu, kulihat Mama begitu lemah, mataku memanas, buliran bening tak mampu aku tahan, Mama aku kangen, Maafkan aku Ma .... seorang dokter berkata:

“Selamat Pak Arga, ini positif.”

“Positif.... bagaimana dokter.”

“Anda akan jadi Ayah kembali, setelah kami periksa dengan runtut, Ibu positif hamil.”

Jadi? Yang hamil itu Mama! Dan Mama belum sempat mengatakan kalau Mama hamil, tapi mengapa test pack itu bisa berada di kamar mandi Quina? bisa saja ketika Mama melakukan test urine, dia pinjam kamar mandi Quina. Mama hamil diusia yang tidak muda lagi, kata dokter itu beresiko, tapi Aku mohon Ya Allah lindungilah calon adikku. Tiba-tiba seorang Suster memegang pundakku dan bertanya.

“Adik siapa? Kenapa tidak masuk?”

“ Bukan siapa-siapa,” kataku langsung melangkah pergi meninggalkan Rumah Sakit. Dalam hati aku mengucapkan beribu-ribu syukur karena Quina tidak hamil. Pa, tuduhan Papa tidak terbukti, begitupun kamu Quina.Apakah Papa punya rasa penyesalan untukku? Yang juga putrimu, dan Quina, Oh Sisterku, tolong hargai aku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yonefian dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh trifatoyah
Lihat 1 balasan
Double Qq
Diubah oleh trifatoyah
Balasan post trifatoyah
Lanjutt
ninggal cendol aja yaa
Quote:


Butuh tissue 🤣🤣🤣
Quote:


Oke-oke
yang di tunggu tunggu
Quote:


Makasih dah nungguin
Mbak untuk komen #2 Ndak usah di quote ya... isi aja suka suka... kedepannya buat ngumpulin link
Quote:


Aku belum paham itu. Makasih sarannya.
sama2 mbak... biar nantinya mbak mudah ngumpulin link di sana ... istilahnya pejwan untuk kumpulan link thread kita yang saling berkaitan😍😍😍
Quote:


Baru 1 Minggu gabung banyak gak ngertinya. Salam dari Kota Batik.
Ciye yang HT 😉😉😉
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
mampir ngirim cendol 😆
Halaman 1 dari 35


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di