alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kejaran Cinta Dunia Gaib ( bagian 1)
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8d1211349d0f2f404ff5af/kejaran-cinta-dunia-gaib--bagian-1

Kejaran Cinta Dunia Gaib ( bagian 1)

Berawal dari kepulangan paman dari melaut--karena memang beliau seorang nelayan yang bekerja pada sebuah perahu pencari ikan--beliau terjatuh dan sempat pingsan beberapa saat dengan wajah yang terlihat pucat seolah tak bernyawa. Kondisi paman yang demikian membuat bibi sangat begitu cemas. Hal itu terlihat dari wajah beliau yang terlihat 10 tahun lebih tua dari usia yang sebenarnya.

Dalam kecemasan yang sedang menyelimuti hati, bibi berteriak minta tolong pada tetangga sekitar rumah untuk membantu mengangkat paman ke dalam rumah.
Sekedar untuk diketahui bahwa beliau adalah pasangan suami istri yang sudah menikah kurang lebih 25 tahun, namun belum dikaruniai momongan (anak) dan aku adalah keponakan beliau yang diasuh sejak kecil.

Aku tidak menyaksikan langsung kejadian pingsannya paman, karena saat itu aku berada di luar kampung untuk urusan kerja. Kabar tersebut aku dengar dari seorang teman kerja-- yang sekampung denganku--yang pada saat kejadian tersebut tengah berada di rumah.

Setelah mendapat kabar tentang keadaan paman--sore hari setelah jam istirahat kerja--aku langsung pulang dengan motor butut yang kupinjam dari seorang teman kerja. Dalam kondisi motor yang masih normal, perjalanan dari tempat aku kerja sampai ke rumah paman biasa ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Namun karena motor yang kupakai adalah motor tahun 70-an, perjalananku mejadi semakin lambat yakni 3 jam 20 menit 33 detik. Yah, waktu yang cukup lama untuk sedang mengalami sebuah rasa kecemasan.

Setelah sholat isya' aku baru sampai di rumah.Kecemasanku akan kondisi paman semaki bertambah manakala aku melihat kerumunan orang di dalam rumah. Dari seorang tetangga yang saat itu berada di luar rumah aku sempat bertanya.

" Ada apa pak De, kok rame-rame?"

" Pamanmu,Le. Katanya sedang kerasukan penguasa lautan."

" Lalu, sekarang apa yang terjadi di dalam?"

" Mbah Kiyahi tengah mengobati pamanmu. Masuklah, mungkin kedatanganmu bisa membantu penyembuhan pamanmu."
Saran orang tersebut yang kuikuti dengan langkah setengah berlari menyibak kerumunan orang dalam rumah.

Semua orang dalam kerumunan itu sudah sangat mengenalku sehingga mereka membukakan jalan untukku agar bisa mendekati posisi paman yang saat itu sedang terduduk di samping laki-laki tua berkalung sorban dengan lingkaran butir tasbih menghiasi jemari renta itu.

Ada yang aneh dari kondisi paman. Wajahnya terlihat pucat dan pandangan matanya kosong juga nada bicaranya bukanlah nada bicara pamanku yang selama ini kukenal begitu santun pada siapa pun. Tapi kali ini, paman menampakkan wajah yang terlihat menakutkan.
Dengan nada congkak paman menjawab semua pertanyaan yang disampaikan mbah Kiyahi.

" Siapa kau sebenarnya dan kenapa mengganggu saudaraku ini?"

" Aku adalah putri dari penguasa lautan. Aku tidak mengganggu saudaramu, malah sebaliknya, aku ingin dia jadi suamiku."

" Bukankah kau tahu bahwa dia sudah punya istri. Lalu, kenapa kau menginginkannya jadi suamimu?"

" Aku tidak mau tentang itu. Yang kutahu semua keinginanku harus terpenuhi."

Dengan suara lembut mbah Kiyahi membalas kecongkakan putri tersebut.

" Kita adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Meskipun alam kita berbeda, namun di hadapan Sangpencipta kita adalah sama. Kenapa kita tidak saling menghormati dan menghargai kehidupan kita masing-masing dengan tidak memaksakan kehendak pada sesuatu yang bukan hak kita. Pulanglah ke alam di mana kau tinggal. Biarkan kami menjalani kehidupan kami dengan damai dan kami juga tak akan mengganggu kehidupanmu."

Kata-kata lembut dari pak Kiyahi, tidak mampu menggoyahkan kinginan putri penguasa lautan tersebut. Kemarahannya semakin menjadi dan dengan sombongnya dia berkata,

" Aku tidak butuh penghormatan dan penghargaan dari manusia. Karena aku sudah mendapatkan itu semua dari seluruh rakyatku. Jangan kau sok pintar dan mengguruiku dan jangan berani kau mencegah keinginanku."

Sejenak pak Kiyahi terdiam tanpa suara. Hanya terlihat mulut beliau yang komat-kamit melafalkan sesuatu disertai jemari tuanya menari memutar perlahan untaian butiran tasbih yang di tangannya.

Detik selanjutnya, tubuh paman bergetar disertai rintih kesakitan yang memilukan. Aku dan sebagian orang yang hadir memegang tangan dan kaki paman agar tak terjadi hal-hal yang tak dinginkan.

" Aduh! Sakit, panas. Tolong hentikan semua ini pak tua. Jangan kau bakar aku."
Putri penguasa lautan iru merintih dengan hebatnya

"Aku akan hentikan ini asal kau mau berjanji untuk keluar dari jasad saudaraku ini dan pulanglah ke alam di mana kau tinggal."

" baiklah, aku janji akan keluar, aku akan pulang, tolong padamkan dulu apimu."

Mendengar janji itu pak Kiyahi menghentikan komat-kamitnya. Setelah itu, paman terdiam dengan mata yang terpejam. Tubuhnya kelihatan menjadi lemas dan terkulai di atas kasur busa tipis dalam kerumunan banyak orang.

Semua yang hadir di rumah paman merasa lega karena paman sudah terbebas dari cengkeraman makhluk gaib putri penguasa lautan.
Satu persatu mereka mulai keluar rumah membubarkan diri. Tinggal aku dan pak Kiyahi serta beberapa kerabat yang masih duduk di samping paman.
Pak kiyahi memanggilku dan menyuruhku untuk mendekati beliau. Aku menggeserkan tubuhku dan mendekati beliau.

" Le, pamanmu sudah terlepas dari cengkeraman makhluk gaib tadi. Tapi, tidak menutup kemungkinan ada makhluk halus lain yang akan mengganggu pamanmu. Mengingat kondisi pikiran pamanmu masih dalam keadaan kosong."

Iya mbah Kiyahi, lalu apa yang harus aku lakukan?"

Sambil memberikan selembar kertas yang bertuliskan huruf arab, mbah Kiyahi berkata,

" Baca wirid ini setelah sholat subuh dan saat pamanmu kerasukan makhluk gaib. Ingat! Kamu harus dalam keadaan suci dari hadats."

" InsyaAllah mbah. Terima kasih atas pertolongannya dan maaf telah merepotkam panjenengan."

Sambil berpamitan mbah Kiyahi berkata,

" Gak usah bilang begitu, aku cuma perantara saja, namun Allahlah yang berhak menentukan. Bersyukurlah pada-Nya atas semua nikmat yang kita terima".

Kemudian mbah Kiyahi pun melangkah keluar rumah dan aku hanya bisa mengantar beliau sampai di depan pintu.

*** Bersambung...


Gambar ilustrasi: Pixabay.com

Diubah oleh abahekhubytsany
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

Mantab banget bang

Quote:


Balasan post Surobledhek746
Yang penting panjang bang. Insya allah aman
kang Ande² ceritanya bakal rame ini, menyangkut penguasa laut hare, penyasaran, aku kirimi trs ya,,,,
lanjut
Balasan post alizazet
Semoga besok dapat ide untuk melanjutkan kisah tadi...tp masih bingung..emoticon-Sorry
Quote:


Ha ha ha, pasti ada, malam ini pean akan didatangi penjaga laut tadi pean akan langsung dibisiki ha ha ba, wahai ande² luput.
Ini clue yang beda dunia ya?
lanjuuuuttttt
bisa dibuat novel berjilid2
Balasan post IztaLorie
Iya mbak Lory ... Cuma mungkin agak telat...
Balasan post lidyaprasetya
Waduh ...kayaknya masih jauh angan utk itu.
Masih belajar nulis pun.
Balasan post ariefdias
Ok...makasih ya..
Quote:


Aku baru ngerjain 2 clue
ijin ndeprok
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Ane datang




Hancurkan pesanan


emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan





emoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss




emoticon-Ngamukemoticon-Ngamukemoticon-Ngamukemoticon-Ngamukemoticon-Ngamukemoticon-Ngamukemoticon-Ngamuk


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di