alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
bagaimana jika dia bukan jodohku??
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8cd3d168cc95728654a9f3/bagaimana-jika-dia-bukan-jodohku

bagaimana jika dia bukan jodohku??

Hai… sepenggal kisah masa lalu ku.. kamu adalah orang terbaik yang pernah aku kenal dan kenangan bersamu adalah hal paling membuatku senang. Dia adalah orang yang sudah lama aku kenal. Kami bertemu untuk pertama kali saat kami satu kampus dulu. Aku tak terlalu akrab dengannya tapi bukan juga berarti tidak mengenal. Kami hanya saling mengenal karena sering satu grup untuk tugas kelompok kuliah. Dia adalah orang yang sangat tertutup. Dia terlalu egois menurutku karena dulu ada teman yang suka padanya tapi dia seperti angkuh dan acuh. Sok ganteng pikirku.. muka juga jelek aja belagu banget. Lalu tanpa di sengaja ternyata dia jadi bagian penting dalam hidupku. Setelah lulus kuliah lama kita tidak saling menyapa. Sampai akhirnya tiba-tiba dia mengirimkan pesan melalui facebook dan meminta no hp ku. Awalnya aku pikir dia hanya iseng dengan bertanya ternyata dia benar-benar mengkontak ku. Kita sering mengirim pesan sampai akhirnya dia mengajakku bertemu untuk sekedar nonton film.

Aku mengiyakan karena sudah lama aku terlalu sibuk dalam dunia ku sendiri. Tanpa kita sadari akhirnya kita semakin dekat dan akrab sampai akhirnya kita memutuskan untuk berpacaran. Kami sering menghabiskan waktu bersama dan sampai akhirnya dia bilang ingin serius. Aku pun mengiyakan karena melihat umur kami yang sudah tidak saling muda lagi, tapi waktu berjalan dan serius nya dia hanya dimulut saja. Dia tidak pernah berusaha untuk memperkenalkan aku dengan keluarganya. Aku yang hanya bergerak untuk menjadi serius. Tapi seiring berjalannya waktu dia malah semakin ragu. Dia seperti takut tidak bisa membahagiakanku. Dia seperti takut kalau suatu saat kita menikah hidupku dan dia susah. Padahal nyatanya aku tak pernah ragu untuk sebuah kata rejeki. Karena aku percaya ada allah yang akan selalu baik pada umatnya. Tapi tidak bagi dia. Dia mau kita menikah saat dia sudah mapan. Tapi kapan?? Kenapa setiap laki-laki ingin menikah setelah mapan?? Apa kalian tidak ingin berproses?? Tanya ku dalam hati.. Kenyataannya orang tua kalian tidak menikah setelah mapan. Karena itulah seni nya cinta. Dimana seorang wanita dapat mensupport apa yang lelaki lakukan dan kita saling mengisi. Bagaimana nyatanya adalah aku sangat ingin mensupport nya menjadi lebih baik. Mungkin dia lelah dengan semua pertanyaanku tentang menikah. Umur bertambah dan tahun ini aku menginjak dua  puluh delapan tahun. Dengan semua pencapaian pekerjaan yang sudah aku lakukan selalu menjadi hujatan orang lain agar aku cepat menikah. Apa yang kau tunggu?? Ujar seorang sahabat. Kerjaan udah ada, bisnis juga sukses apa lagi yang kamu cari?? Jangan hanya fokus pada uang.. nyatanya tidak seperti itu, aku pun ingin sekali cepat menikah dan menjadi satu-satunya untuknya. 

Nyatanya aku benci karena bagiku alasan mapan adalah alasan dia untuk mengulur-ulur waktu. Alasan mapan hanyalah alasan dia agar aku pergi. Dia selalu ingin aku mencari lelaki yang lebih baik. Sekuat apapun aku menahannya dia hanya ingin aku pergi darinya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menstop hubungan kita. Walaupun nyatanya perasaan kami tidak bisa saling berbohong. Dia masih cemburu setiap aku cerita ada temanku yang menghubungiku. Dan aku pun masih cemburu ketika dia berlaku aneh. Tanpa kita sadari kita masih saling mencintai namun aku dan dia sangat gengsi untuk jujur. Dan aku sangat binggung apa yang harus aku lakukan sekarang. Karena yang aku tau dalam hubungan harusnya lelaki lah yang menentukan arah kemana kita berlabuh. Lelaki lah yang harusnya melamar. Dia menyadari bahwa dia adalah orang yang sangat pengecut.

Aku mencoba membuka diri untuk berkenalan dengan orang lain. Ada beberapa lelaki yang berusaha memamerkan apa yang dia punya agar aku tertarik padanya. Tapi nyatanya aku hanya membutuhkan lelaki yang benar-benar ingin serius. Sampai akhirnya ada satu lelaki yang mengajakku untuk serius. Dia bilang kita itu satu frekuensi. Aku suka buku dan dia juga suka. Aku suka berdiskusi dan dia juga suka. Tapi entah kenapa aku belum bisa mengiyakan karena pikiran ku masih tertuju pada “dia” kalau saja “dia” yang melamarku pasti aku tidak akan berfikir selama ini. Kalau saja “dia” yang memperkenalkan aku dengan keluarganya pasti aku tidak akan berfikir selama ini. Hidup itu ironis. Ketika aku mengharapkan “dia” yang menjadi suami ku kelak. Tapi nyatanya “dia” malah sibuk dengan rasa pengecutnya. Aku tak tau apa selama ini “dia” hanya mempermainkanku apa tidak. Sungguh titik kehidupan yang membuat aku binggung. Nyatanya aku ingin sekali menikah tahun ini. Aku tak pernah berharap menikah dengan mewah atau apapun itu. Tapi aku sangat ingin menikah bersamanya. Karena hanya dia yang bisa membuatku tersenyum, karna hanya dia yang bisa membuatku menangis karena merindu, karena hanya dia yang bisa membuatku tidak kesal karna menunggu dia datang telat dan hanya dia yang bisa membuat aku cemburu jika ada wanita yang mendekatinya. Hanya kepadanya aku bisa seperti itu. Dan orang itu hanyalah dia. Bagaimana jika nyatanya jodohku bukan dia??



Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di