alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Biasa Ikut Tahlilan, Anak dan Istri Tetap Islam
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8cac4fdbf764154a2765dd/biasa-ikut-tahlilan-anak-dan-istri-tetap-islam

Biasa Ikut Tahlilan, Anak dan Istri Tetap Islam

Biasa Ikut Tahlilan, Anak dan Istri Tetap Islam

16 Maret 2019, 11: 42: 32 WIB | Editor : Ali Mustofa


Biasa Ikut Tahlilan, Anak dan Istri Tetap Islam

SESEPUH SAPTO DARMO: Dwi Karno menunjukkan buku sejarah Sapto Darmo di kediamannya kemarin.(SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)



Hidup sebagai kaum minoritas dalam iman mengharuskan Dwi Karno lebih beradaptasi di masyarakat. Meski sebagai ketua organisasi penghayat kepercayaan, dia tetap membebaskan istri dan anak-anaknya memeluk agama Islam.

SAIFUL ANWAR, Rembang


DI atas kain mori, mereka duduk dengan tumpuan dua kaki menghadap timur. Kedua tangan menyilang di dada. Mereka pun melafalkan doa-doa. Sejenak kemudian, mereka sujud dengan tetap merapalkan doa-doa puja-puji untuk Tuhan Yang Maha Kuasa.

Seperti itulah kiranya salah satu cara ibadah penghayat kepercayaan Sapto Darmo. Dwi Karno, sang sesepuh kepercayaan tersebut di Rembang mengaku sudah memeluk kepercayaan tersebut sejak duduk di bangku kelas VIII SMP. Sekitar 1982 silam.

Bapak tiga anak itu bercerita, sejak usia setahun dirinya hidup bersama pamannya di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Pamannya itu merupakan seorang guru magnetizm, semacam tokoh aliran kebatinan.

Setelah sang paman meninggal, Dwi pun mencari ”guru baru” di antara murid pamannya. Sejak itulah, dia tertarik dan bahkan menjadi penghayat kepercayaan Sapto Darmo satu-satunya di lingkungan keluarganya hingga sekarang.

Meski demikian, dia membebaskan anak-anak dan istrinya memeluk agam lain. ”Istri dan anak saya bebaskan. Terserah, kalau memang nanti mau ikut (Sapto Darmo, Red) ya bagus. Kalau tidak ya tidak apa-apa. Mereka bebas menentukan pilihannya,” tutur pria kelahiran Pati, 12 Februari 1964 itu.

Apa yang dikatakannya memang terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga anaknya dan istrinya, Sri Sapartina memeluk agama Islam. Meski dia menyebut salah satu anak dan istrinya sempat ikut beribadah di sanggar Candi Busono, tempat penganut Sapto Darmo biasa beribadah.

Dwi Karno menyadari betul, sebagai minoritas dirinya wajib menyesuaikan diri dengan masyarakat mayoritas. Maka, tak ayal dia pun terbiasa ikut kenduren atau tahlilan apabila mendapat undangan dari warga.

”Ya namanya diundang, ya datang. Tidak masalah. Yang lain pakai peci, saya juga pakai peci,” aku Dwi Karno yang juga ditunjuk sebagai ketua RT setempat sejak tiga tahun lalu itu.

Selama hidup di Kota Garam, tepatnya di Jalan Cokroaminoto, RT 1/RW 2, Desa Kabongan Kidul, Kecamatan Kota Rembang, dia mengaku tak pernah mendapat perlakuan diskriminatif. Masyarakat setempat saling menghargai apa pun kepercayaan yang dianut.

”Yang terpenting kan sesama manusia harus hidup rukun. Dengan semua orang harus baik. Kalau ada yang tidak baik ya didiamkan saja,” katanya.

Dia menerangkan, sebagaimana kepercayaan atau agama lain, Sapto Darmo pun memiliki tokoh yang memperoleh wahyu dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sang tokoh itu, Panuntun Agung Sri Gutama yang merupakan penerima ajaran Sapto Darmo.

Sang Panuntun mendapatkan wahyu sekitar tahun 50 Masehi di Pare Kediri, Jawa Timur. Ajaran ini juga memiliki panuntun perempuan yang disebut Sri Pawenang. Penjelasan untuk tokoh ini, yakni tokoh panutan perempuan. Dwi Karno tak menjelaskan lebih panjang untuk sosok perempuan ini.

Selain itu, kepercayaan ini juga memiliki ajaran dasar. Yakni apa yang disebut dengan Wewarah Tujuh. Isinya, kewajiban warga Sapto Darmo yang intinya beriman kepada Tuhan dan berbaik kepada sesama.

Sehari-hari, Dwi Karno bekerja serabutan. Dia mengerjakan apa saja apabila diminta tolong tetangga. Dia berprinsip, menerima apa saja yang diberikan Tuhan atau nrimo ing pandum. Bila tak ada pekerjaan, dia pun ikut membantu istrinya berjualan makanan ringan tak jauh dari kediamannya.

Untuk diketahui, penghayat kepercayaan sebentar lagi memiliki e-KTP dengan keterangan agama khusus. Di Rembang, jumlah golongan ini ada sekitar 500 orang. Mereka tergabung dalam kelompok bernama Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MKLI) yang diketahui oleh Dwi Karno sendiri. (*)

(ks/lin/top/JPR)


 #dwi karno #sapto darmo#penghayat kepercayaan


Loading...

https://radarkudus.jawapos.com/read/...ri-tetap-islam


Untungnya dia tinggal di lingkungan yang moderat bukan yang fanatik



Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
hmmmmm...
urusan kepercayaan, agama
itu hak masing2 pribadi
wajib dihormati
monggo
Itu baik guyub rukun.....ngga ada yg kapir.....bebas mau beribadah
oke deh yg penting rukun ae
Andai nggak ada cebong, indo akn lebih indah
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ



aneh aja kalau ada yang ngaku islam tapi maksain agamanya ke orang lain

islam gang berapa noh ???
Diubah oleh pgcililitan
Ngga lama lagi akan didatangi oleh seseorang dan diajak untuk memeluk salah satu agama yang berlaku di Indonesia dengan suatu dalih.

Anyway zaman silam pun tidak mengenal adanya Agama, melainkan Kepercayaan Leluhur, fine-fine aja kan zaman silam?
Balasan post Verial
Agan diskusinya jangan sampe salah tempat, malah nanti agan dibully. Soalnya ada yang ga bakal terima
Kok fpi cabang rembang diam aja?
seringnya yg seperti ini malah lebih elegan daripada yg ngaku resmi tapi klakuan biadab.
emoticon-Ngakak
Balasan post ivan.haz
cebong dan kampret itu satu paket gan. kalo gak ada kampret ya gak ada cebong. Begitu juga sebaliknya.
dikampung saya yang mayoritas warga NU hidup rukun sesama pemeluk lain yang mana pemeluk agama lain ini cuma satu keluarga sampai sekarang aman sentosa bahkan setiap acara kenduri beliau diundang ya orangnya pakai kopiah/peci hitam dan sarungan dan warga kami tidak pernah mengajak atau memaksa pindah agama itu sudah berlangsung mulai menetap dikampung kami kira kira thn 2004 sampai sekarang aman tiap idul fitri beliau sekeluarga ikut silaturahmi keliling tetangga ,tiap natal atau hari besar agama beliau pasti bagi-bagi makanan ,jadi yang ribut sebenarnya orang kota yang tingkat ideologinya sdh campur aduk kalau dikampung aman -aman saja .emoticon-Salaman emoticon-Salaman
Quote:


Yg ribut bukan orang kota bray... Klo kota biasanya open minded, yg ribut itu orang desa konoha kecamatan miramar, mereka beranggapan klo ga bisa dijadikan kawan maka selamanya mereka lawan.. ngeri bray...

Sejatinya agama adalah cara utk mahluk mengenal Tuhannya nya, selama bisa menjaga akhlak di dunia (norma yg berlaku di masyarakat) dan hubungan sesama manusia maka tidak perlu diperangi...
Quote:

begitulah sejatinya ummat di nusantara..
sebelum faham anjing edan mewabah..
coba cek di kampung lo udh ada bendera item gk?
klo blm ada ya wajar lah bs bgtu
Memang seharusnya minoritas tau menempatkan diri di tengah mayoritas


Tapi ada sih mino yg ngelunjak minta jatah lebih dan pingin ngatur2 mayo
Mino versi ini maunya mayo yg nurut ama mereka

Gak tau diri
Balasan post ZaLazaR92
bisa aja lu bry ,penduduk desa tersebut ciri-cirinya beragama hanya menonjolkan simbol ,agama sebagai tujuan utama padahal agama hanya wasilah/perantara seorang hamba agar bisa sampai dan mengenal tuhannya
Balasan post dawolong
bener bray dulu dulu sekali candaan soal agama dengan beda agama santai santai aja coba sekarang langsung viraaal
Zaman nabi aja beragam agama bisa rukun tentram damai, zaman sekarang kok malah banyak yg saling menjelekan.
Mari hidup dalam damai
emoticon-Salaman
Quote:


yeah right... emoticon-Big Grin
Quote:


Semua berubah ketika suatu kelompok mengoreng isu agama emoticon-Turut Berduka
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di