alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8c3b67af7e937107193b68/partitur-partitur-sri

Partitur-Partitur Sri

Disclaimer

Keseluruhan cerita ini adalah fiksi. Kesamaan nama, tempat, dan kejadian merupakan kebetulan semata. 
Any critique and suggestion is welcome.

Partitur Pertama

Sforzando 1/1
     
Minggu, pukul 1 malam

Belum ada satu orang pun yang berhasil Sri ajak masuk kedalam biliknya malam itu. Sudah lelaki ke 12 yang mengurungkan niat ngamar bersama Sri setelah gagal bernegosiasi dengannya. Untuk seorang pelacur kelas Pasar Kembang, Sri memang memasang tarif yang terlalu tinggi, hampir tiga kali lipat daripada harga yang ditawarkan oleh para koleganya yang juga mangkal di sepanjang lorong itu.

Sri sadar dirinya masih sangat muda. Ia tak mau di ‘hargai’ serupa dengan wanita-wanita tua yang ia anggap berbeda kasta dengannya. Apalagi kecantikan Sri jauh mengungguli para pesaingnya yang sering ia deskripsikan sebagai “tante-tante menor berdada jumbo berbau terasi”. Ia tak mau mengangkangkan kakinya dihadapan lelaki yang tak menyadari bahwa ia tak sama dengan pelacur-pelacur lain di sekitarnya.

Sudah malam ke 4 sejak Sri mendapatkan pelanggan lelakinya terakhir kali. Uangnya semakin menipis. Dapurnya sudah lama tidak mengepulkan asap. Tapi tak mengapa, batinnya. Ia pandangi uang pecahan 100 ribu terakhir di dalam dompetnya. Masih cukup, pikirnya.
——
Senin, pukul 10 malam

Lelaki ke 23 baru saja berlalu meninggalkan dirinya. Lelaki ke 23 yang tertawa remeh mendengar harga yang Sri tawarkan, pula menjadi lelaki ke 23 yang mendengus kesal setelah meyadari bahwa Sri tidak bercanda saat mengatakan harga tubuhnya tak bisa ditawar-tawar. Enak saja kau mau meniduriku dengan uang senilai 4 bungkus rokok! Cibirnya pada lelaki itu.

Setelahnya Sri mencukupkan penantiannya malam itu. Ia masuk kedalam bilik dan menghapus bedak dan gincu dari wajahnya. Ia ingin segera tidur. Setelah 5 malam tak dijamahi oleh lelaki, Sri mendapati tidur terasa lebih nikmat daripada biasanya. Tak ada lagi rasa ngilu diselangkangan yang sering mengganggu lelap tidurnya.

Tapi kali ini ia harus menahan perih lambung yang tak berisi sejak kemarin pagi. Warung Bu De Muji tidak lagi buka mulai hari itu. Kata orang, Bu De Muji sudah kembali ke kampung untuk mengakhiri masa jandanya. Bu De Muji adalah kerabat terdekat yang Sri miliki di dunia ini. Biasanya Sri akan melarikan diri ke rumah Bu De Muji ketika ia tidak memiliki sepeser uang pun untuk mengganjal isi perutnya, dan Bu De Muji akan senantiasa menyajikan sepiring nasi, semangkuk sayur bening, dan sepotong sambel ikan kehadapan Sri. Lauk pauk sederhana yang setia menyelamatkan Sri dari siksa rasa lapar.

Sebenarnya Sri sudah diberi tahu Bu De Muji mengenai lelaki yang akan segera menikahinya. Lelaki berkumis caplang yang Bu De Muji temui saat ia bertamasya ke kebun binatang Gembira Loka. Lelaki yang bekerja sebagai petugas untuk membersihkan kandang-kandang unggas. Mereka berdua cepat akrab setelah mengetahui bahwa sesungguhnya keduanya berasal dari desa yang saling bertetangga. Tak butuh waktu lama bagi janda dan duda itu untuk memutuskan menikah dan kembali ke kampung halaman. Ah, sungguh bahagia menjadi Bu De Muji, batin Sri.

Untuk itu, kali ini tak ada lagi Bu De Muji yang dengan sigap memanjakan Sri, sementara lambungnya kian terasa panas. Ia pandangi lembaran uang seribuan yang tergeletak di sebelah kasurnya. Uang seratus ribu kemarin telah Sri habiskan untuk membayar pulsa listrik dan bedak serta gincu. Sisa empat ribu rupiah. Ia bangkit dan berjalan keluar dengan terseok-seok. Semoga kali ini Ningsih mengizinkan aku membeli baksonya separuh porsi, doa Sri.

Diubah oleh bekassr
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Sforzando 2/1

Mudah bagi Ningsih untuk mengetahui sosok yang sedang berjalan dari ujung jalan itu adalah Sri. Tubuh yang kurus semampai membuat gundukan dada dan bokongnya mendominasi keseluruhan figurnya. Rambutnya yang hitam legam diikat sekenanya ke belakang. Dan lagi, hanya Sri yang memiliki tungkai kiri yang sedikit lebih panjang dari pada tungkai kanannya, sehingga saat berjalan ia terlihat seperti sedikit terjungkit-jungkit.

Sudah 5 tahun Ningsih berjualan bakso dikawasan Pasar Kembang. Ia mengenal hampir semua tukang becak dan semua wanita-wanita penjaja tubuh dikasawan itu. Ia pun mengenal Sri dengan baik. Wanita yang sering dibicarakan orang-orang yang karena kecantikan parasnya, sering mengundang tanda tanya mengapa ia memilih menjadi pelacur di lokalisasi kelas bawah ini.

Ningsih hapal kebiasaan Sri yang selalu datang ke warungnya dan memesan satu mangkuk bakso separuh porsi. Ia selalu menolak pesanan Sri dengan alasan bahwa tak seharusnya seorang wanita dengan tubuh sekurus itu makan dengan porsi sesedikit itu. Sering ia dan Sri beradu argumen panjang, dan perdebatan semacam itu selalu berujung pada Sri yang mengalah dan akhirnya membeli mangkuk baksonya seporsi penuh.

Ningsih sayang pada Sri. Sulit baginya untuk tidak menyayangi wanita cantik itu. Walaupun ia sering mencuri dengar wanita-wanita lain selalu menjelek-jelekkan Sri saat makan di warungnya, tetapi ia tahu bahwa Sri tak seburuk yang mereka sangkakan. Bagi Ningsih, Sri adalah seorang malaikat yang terkena celaka karena sayapnya patah dan luka dan tersesat jatuh ke lorong jalan yang hina ini, lalu terpaksa mendagangkan kemaluannya untuk menabung sedikit demi sedikit agar dapat memperbaiki patahan pada sayapnya. Dan Ningsih selalu percaya suatu waktu Sri akan mendapatkan cukup uang untuk memperbaiki sayapnya itu dan terbang kembali.

——
Tak pernah hilang dari ingatan Ningsih, betapa paniknya ia saat anak bungsunya terkena demam tinggi. Tubuh si Bungsu dipenuhi bintik-bintik merah, dan Ningsih tau anaknya itu telah terjangkit penyakit demam berdarah. Setidaknya begitulah gejala yang disebutkan oleh penyuluh puskesmas bulan kemarin. Ningsih tergopoh-gopoh menggendong anak kecilnya keluar rumah menuju puskesmas.

Saat Ningsih berlari menelusuri lorong jalan itu, saat itulah Sri menemukannya. Sri turut berlari bersama Ningsih, turut menaiki becak bersamanya, dan mengurusi segala urusan administrasi kala Ningsih mengiringi anaknya masuk ke ruang tindakan. Selama itu pula, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya.

Ningsih tertidur di samping si Bungsu yang badannya telah dipenuhi selang-selang infus. Ia terjaga saat malam mulai menua dan mas Karyo, suaminya, membangunkannya dan menyuruhnya untuk pulang dan bergantian melakukan jaga. Ia tak tau siapa yang mencari dan memberi tahu suaminya, tapi ia bersyukur mas Karyo jauh-jauh pulang dari Solo demi anaknya.

Ningsih teringat akan wanita yang menemaninya kemari. Segera ia keluar dan mencari sosok wanita itu di seluruh gedung, tetapi tak dapat ditemukannya. Dari seorang satpam ia mengetahui bahwa wanita yang datang bersamanya telah lebih dahulu pergi sore tadi.
Saat itu Ningsih belum mengenal Sri. Ningsih lalu mengambil kesimpulan bahwa wanita tadi adalah sosok gaib yang dikirim Tuhan untuk membantu dirinya, seorang malaikat penolong yang kini telah hilang setelah menyelesaikan tugasnya.

Ningsih bergegas pulang karena masih ada dua anaknya yang saat ini mungkin sedang kebingungan karena tak dapat menemukan keberadaan ibunya di rumah. Untungnya tadi ia terlalu terburu-buru sehingga lupa mengunci pintu rumah. Dengan begitu si Sulung dan si Tengah kemungkinan saat ini telah aman di dalam rumah

Setiba dirumah, Ningsih dikejutkan oleh sesosok wanita yang sedang menemani anak Sulungnya belajar di atas meja ruang tamu. Wanita yang tadi berlari bersamanya menuju puskesmas, wanita yang ia anggap sebagai utusan gaib dari Tuhan buatnya, kembali menjelma kedalam sesosok raga yang kini ada dihadapannya.

Sri bangkit dan menjelaskan kepada Ningsih saat pulang tadi ia jumpai anak-anak Ningsih sedang duduk diluar menunggui kepulangannya. Ia meminta maaf karena telah lancang masuk ke dalam rumah Ningsih dan menggunakan dapurnya untuk memasakkan makanan untuk anak-anak Ningsih. Sri menyerahkan berkas-berkas administrasi rumah sakit sebelum akhirnya pamit pulang kepada Ningsih.
Diubah oleh bekassr
Sforzando 3/1

Baik Ningsih dan juga Sri sama-sama tidak menyangka bahwa keduanya akan menjadi sahabat karib. Mungkin karena umur keduanya tak terpaut begitu jauh. Keduanya masih berada di awal usia dua puluhan. Atau mungkin karena keduanya diberkahi Tuhan oleh garis kehidupan yang sama-sama berat.

Ningsih memiliki tiga orang anak di usia yang masih sangat muda. Ia menikahi mas Karyo pada usia yang masih sangat belia, enam belas tahun. Si Sulung lahir satu tahun setelah pernikahannya. Si Tengah dan si Bungsu menyusul kemudian. Ningsih tak pernah tau bahwa memiliki anak akan begitu merepotkannya. Apalagi mas Karyo, suaminya, hanya pulang satu bulan sekali karena harus bekerja sebagai buruh pabrik di Solo.

Ningsih kerap menangis diam-diam saat anak-anaknya telah lelap di pembaringan, atau saat berduaan dengan si Bungsu, saat sementara kedua anaknya yang lain sedang bersekolah. Membesarkan ketiga anak nyaris seorang diri, mengingatkan Ningsih kepada ibunya yang telah membesarkan ia dan ketujuh saudaranya.

Ningsih masih beruntung. Dibandingkan dirinya yang masih memiliki seorang Karyo, ibunya malah tidak memiliki sesiapapun untuk merawat ia dan ketujuh saudaranya. Ayahnya yang bekerja sebagai seorang pengemudi becak mati ditabrak truk saat sedang mengantar pelanggannya ke Selatan.

Lucunya, pelanggan ayahnya tidak mengalami luka sedikit pun. Ia mengatakan bahwa sebelum truk menghantam becak yang ia naiki, ayahnya lompat dan mendorong becak ke bahu jalan. Maka selamatlah pelangganya, matilah ayahnya, jandalah ibunya, dan yatimlah ia bersama ketujuh saudaranya.

Ibunya Ningsih bekerja sebagai pencuci baju keliling, mendatangi rumah-rumah gedongan milik orang-orang kaya dan menawarkan jasa sebagai babu. Ningsih tak pernah ingat ibunya pernah mengeluh sedikitpun. Ia juga begitu jarang melihat wajah ibunya tersenyum, mungkin karena betapa jarangnya ia memiliki kesempatan melihat muka ibunya yang selalu bekerja dari pagi hingga malam.

Sebagai anak paling bungsu, sudah menjadi takdir bagi Ningsih menjadi anak yang paling sensitif di antara kakak-kakaknya. Ningsih sering mengintipi ibunya tertidur di dalam kamar. Semburat kelelahan tak dapat bersembunyi dari wajah wanita yang sudah mulai menua itu. Ningsih pun bertekad tak mau lagi menjadi beban bagi ibunya. Pada suatu pagi, Ningsih pergi dari rumah sebelum ibunya terjaga. Ia ciumi telapak kaki ibunya, dan berpamitan kepada surga yang terletak disana.

Dengan uang seadanya dan pakaian sekenanya, Ningsih menaiki bis Sumber Waras jurusan Jogja-Solo. Ia diberi tahu tetangganya bahwa ada sebuah pabrik yang membuka lowongan buruh bagi mereka yang tak pernah tamat sekolah. Di pabrik itulah kelak dia bertemu dengan Karyo dan menjalin hubungan kasih bersama.

Tak sampai dua bulan ia pergi dari Jogja, kakak tertuanya datang ke kosnya membawa berita duka. Ibunya telah tiada. Mati sebulan lalu, merana memikirkan putri kecilnya yang hilang entah kemana. Kakaknya telah mencarinya sedemikian lama dan nyaris menyerah, sampai akhirnya bertemu dengan tetangga yang sebelumnya pernah memberi tahu Ningsih tentang lowongan pabrik di Solo. Kakaknya akhirnya menyatroni pabrik itu dan seorang mandor pabrik berbaik hati membuka buku alamat buruh yang ia punya dan menunjuki alamat kos tempat Ningsih tinggal.

Ningsih pulang menyusul kakaknya setelah menyelesaikan shift malamnya. Saat ia tiba dirumah, ia disambut dengan tatapan nanar dari semua kakak-kakaknya. Ningsih sadar, mereka telah mengganggap ia adalah pembunuh ibunya. Ia pun menganggap dirinya begitu pula.

Keberadaannya tak lagi mendapat tempat di hati saudara-saudaranya. Setelah berziarah kemakam ibunya, kakak ketiga Ningsih menamparnya dan mengusirnya. Dia bilang mereka semua tak lagi ingin mencium aroma manusia yang telah membunuh ibu mereka di rumah itu. Ningsih pun kembali ke Solo dan meneruskan kehidupan tanpa pernah lagi mengenal ketujuh saudaranya.

Saat Ningsih menceritakan hal tersebut kepada Sri, Sri langsung mendekap wajah Ningsih ketubuhnya sambil mengelus-elus rambutnya. Ningsih tak lagi kuasa menahan kerinduannya pada ibunya, dan meledaklah tangisnya dalam dekapan tubuh Sri. Saat ia selesai meluapkan tangisnya, baju Sri telah basah dengan air matanya, dan ia dapati Sri ikut menangis bersamanya.

Diubah oleh bekassr
Bagus banget nih. emoticon-Matabelo
bisa ya buat bagus
kayak baca novel era orde lama
mantap ini
deja vu...gaya tulisannya mirip bu oka rusmini.
Balasan post bekassr
Mantep nich... Udah lama nggak Nemu cerita dengan gaya bahasa macam ni...
Poco

Ningsih sendiri tak banyak tau perihal masa lalu kehidupan Sri. Ia tak tau darimana Sri berasal, ia tak tau apa yang menggiringnya hingga kini menjadi pramuria di Pasar Kembang, ia tak tau sedikitpun tentang latar belakang kehidupan Sri. Yang Ningsih taui hanyalah bahwa Sri berkerabat dengan Bu De Muji, janda separuh baya yang berjualan panganan di simpang jalan raya.

Kepada Ningsih, Sri menyimpan rahasia tentang asal-usul dirinya rapat-rapat. Tetapi kepadanya pula Sri amat terbuka mengenai kisah para lelaki yang pernah menggaulinya. Sampai-sampai Ningsih sering merasa risih mendengar cerita-cerita yang Sri lontarkan. Betapa tidak, sering tanpa malu-malu Sri membeberkan berapa banyak lelaki yang ia layani dalam semalam, berapa lama waktu rata-rata lelaki-lelaki itu mampu bertahan, berapa banyak gaya yang mereka cobakan padanya, dan tak lupa berapa besar batang-batang kemaluan yang mereka punya.

Tapi kerisihan Ningsih tak pernah membuatnya merasa jijik kepada Sri. Bahkan Ningsih sering merasa iba kepada wanita yang telah ia anggap sebagai saudarinya sendiri itu. Ia tak layak untuk berada pada kondisinya yang sekarang. Bagi Ningsih, Sri lebih layak menjadi istri seorang pejabat kota, atau menjadi seorang pembaca berita. Ia sering membayangkan Sri mengenakan baju hem lengkap dengan rompi biru tua, dan tak lupa pula kacamata. Ah Sri, kelak aku akan membelikanmu pakaian-pakaian mahal itu jika aku sudah kaya, batin Ningsih.

Oh ya, Sri juga pernah bercerita kepada Ningsih tentang betapa ia mengagumi sosok Ustad Imron, Imam muda yang dituakan karena sering menjadi Khatib dan mengisi acara-acara di Masjid di lorong sebelah. Ningsih tau, dari cara Sri yang bercerita kepadanya dengan menggebu-gebu, Sri telah jatuh cinta pada Imam Masjid itu.

Diubah oleh bekassr
Balasan post raysat3d
Quote:


Wadu novel orde lama nanti di bredel saya
Balasan post bekassr
Quote:


Bagus ceritanya, blm tamat ya?
Balasan post alizazet
Masih on going gan. Di draft sudah selesai sih tp belum mateng hehhe
Ini fiksi yang ente bikin sendiri atau kisah nyata , gan ?
Balasan post vestycide
Serasa baca tulisan/karya STA ... Yang aku baca baru Layar Terkembang itu pun dulu sewaktu masih SD kelas 6, Lama banget ya...?? Hehehe..
Balasan post marsupilami50
Quote:


Mariaaa
Balasan post bekassr
orde lama dalam artian baik gan
gaya bahasanya itu lho
jadi ngengetin ane jaman sekolah


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di