alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Menerima “uang” saat kampanye, kamu tidak beda dengan koruptor #antikoruptor
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8bbe67facb9545e7672eda/menerima-uang-saat-kampanye-kamu-tidak-beda-dengan-koruptor-antikoruptor

Menerima “uang” saat kampanye, kamu tidak beda dengan koruptor #antikoruptor

Menerima “uang” saat kampanye, kamu tidak beda dengan koruptor #antikoruptor
Di musim pemilihan presiden dan pemilihan legislatif dari tahun ke tahun selalu ada isu pembagian “sembako”, “uang”  hingga paket tertentu dari calon ke masyarakat. Biasanya yang memberikan bukan calon tersebut secara langsung, melainkan bertangan orang lain atau orang suruhan dari calon tersebut. Sebenarnya, kegiatan pembagian ini dapat disebabkan oleh dua hal yaitu keinginan dari calon tersebut  dan masyarakat yang sering meminta kepada calon tersebut.

Dua hal inilah yang mungkin menyebabkan terjadinya pembagian “uang” ke masyarakat saat kampanye.

Hukum di Indonesia menegaskan bahwa korupsi akan menjerat semua yang terlibat di dalamnya, tidak terkecuali yang menerima uang dari hasil korupsi.  Kegiatan memberikan uang atau bagi – bagi hadiah saat kampanye pun tidak diperbolehkan oleh kpu maupun bawaslu. Semua yang melanggar akan dikenakan hukum yang telah diatur. Mirisnya adalah masih ada saja dugaan atas kegiatan pemberian “uang” ini yang dilakukan secara terselubung. Apabila benar, saya secara pribadi ingin mengedukasi penerima terselubung bahwa kalian tidak beda dengan koruptor.

Mengapa tidak berbeda?

Uang yang diberikan ke kalian mungkin saja memang uang halal hasil kerja keras dari para calon sebelum menjabat . Namun dampak kedepannya yang harus kalian pikirkan karena tidak ada yang namanya uang gratis. Ketika para calon menjadi pejabat,  pasti ada tujuan tertentu yang ingin diraih oleh mereka misalnya hanya butuh jabatan, nama baik, ingin memajukan rakyat, atau memperkaya diri dan memperlancar usaha. Nah dua tujuan terakhir yaitu memperkaya diri dan memperlancar usaha inilah yang sangat berbahaya apabila pejabat yang kalian pilih mempunyai tujuan ini. Seperti yang kita ketahui bahwa Gaji pejabat besar namun tidak sebesar dengan “uang” yang mereka keluarkan untuk melakukan kampanye.  Biaya kampanye seperti sewa panggung, bikin baju tim sukses, keliling wilayah, iklan kampanye, akomodasi dan belom lagi apabila ada yang bagi “uang” secara terselubung ini sangat besar. Gaji pejabat yang besar pun tidak dapat menutupinya.

Dugaan saya adalah mereka akan melakukan skenario canggih seperti yang dilakukan mantan pejabat koruptor yang terciduk Komisi pemberantasan Korupsi (KPK). Skenario itu diantaranya seperti meminta uang ke perusahaan untuk melegalkan aturan yang menguntungkan satu pihak, memainkan tender dengan menunjuk langsung atau memberikan rekomendasi pemenang tender, meminta bagian uang atau wanita sebelum tanda tangan. Skenario – skenario buruk ini bisa terjadi apabila pejabat yang kalian pilih bukan orang yang benar – benar ingin memperjuangkan rakyat. Kalian yang memilih dengan cara meminta “uang” para calon  pun secara tidak langsung menanggung dosa apabila calon tersebut terpilih dan melakukan korupsi.

Pembagian “Uang” dalam bentuk paket sembako dan sebagainya merupakan nilai yang sangat kecil apabila dihitung per individu. Paket sembako akan habis dalam sebulan, begitu pula dengan uang. Sebulan itu tidak akan menggantikan uang rakyat yang dikorupsi oleh mereka setelah terpilih dan justru dapat menyengsarakan kita. Bayangkan, mereka melakukan korupsi maka secara pasti harga bahan baku ataupun harga barang akan meningkat atau ditingkatkan oleh perusahaan untuk menutupi pemberian uang ke koruptor ini.

Skemanya seperti ini :

1. Pejabat korup meminta uang ke perusahaan untuk melegalkan impor jagung misalnya 10 milyar.
2. Perusahaan melakukan impor jagung dengan harga misalnya 2000 per kilogram , total 100 milyar
3. Agar perusahaan dapat menutupi pemberian uang ke pejabat korup dan sekaligus memberikan keuntungan bagi perusahaan maka harga dimarkup menjadi 3000 per kilogram, total 150 milyar.
4. Masyarakat membeli harga jagung dari yang seharusnya 2500 menjadi 3000 kilogram.
5. Hal ini belum diperparah apabila distribusi dari tangan ke tangan.

Bayangkan skema seperti itu, kita rakyat harus menanggung harga yang lebih mahal akibat kenakalan korupsi pejabat korup itu. Kalian yang menerima “uang” saat kampanye tidak berbeda dengan calon tersebut karena berarti kalian sebenarnya terlibat juga mendukung maupun menyebabkan terjadinya korupsi. Namun bedanya langsung dan tidak langsungnya.

Korupsi benar – benar merusak sendi kehidupan negara dan bangsa ini. Jangan kalian korbankan itu demi keuntungan pribadi yang sementara. Kita bersama – sama harus menolak dengan tegas segala bentuk pemberian “uang” saat kampanye. Pilihlah calon yang bersih dan benar – benar memikirkan rakyat.

Menerima “uang” saat kampanye, kamu tidak beda dengan koruptor #antikoruptor


Calon yang benar – benar mau memperjuangkan rakyat dan tidak hanya janji – janji. Calon yang optimis bahwa korupsi itu bisa diberantas dan berani melawan korupsi.
Pilihlah calon yang mendukung gerakan anti korupsi dan benar – benar memperjuangkan perlawanan terhadap korupsi. #gerakanantikorupsi.

Sumber : Pemikiran Pribadi

Gambar pendukung

Google Images (https://pbs.twimg.com/media/CcrDaO7UsAIrp5W.jpg)
https://pbs.twimg.com/media/CcrDaO7UsAIrp5W.jpg - google images
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di