alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8bbd2ac8208438104bd500/amnesia

Amnesia

Amnesia


Hai, Gan, Readers, selamat datang di Threads ane, semoga yang baca, selalu di berikan kesehatan, dilancarkan dengan segala urusannya, dan selalu dalam lindungan Allah SWT, Amin.

Saya mau share lagi cerita, namun kali ini ber-Genre: Fiksi Remaja.

Sebelum lanjut ane mau minta maaf kalau ada kata-kata atau nama yang menyinggung perasaan readers, ane tidak ada maksud menyinggung Nama, Tempat, Perkataan.

Cerita ini hanya karya Fiksi auther, dan maaf juga kalau update-nya lama, karena proses penyesuaian Kata-kata yang tidak sedikit. Tapi kalau agan ingin Post Original dan Update tercepatnya bisa kunjungi ini: Amnesia
-----------------------------------------------------------------
Index On Kaskus:

1. Prolog
2. Pengenalan Tokoh
3. Perjalanan Panjang.
4. Gadis Lugu Yang Aneh.

>On Going (Progres perpindahan)
-----------------------------------------------------------------
Quote:
Diubah oleh wedi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

Prolog

Kisah ini bermula, ketika Grup Band ternama yang terdiri dari empat pemuda hendak berlibur mencari inspirasi baru di sebuah Villa yang jauh dari perkotaan.

Namun perjalanan mereka berubah menjadi ketegangan, ketika mobil yang membawa empat personil ini tergelincir masuk kedalam jurang.

Hanya tiga personil yang berhasil ditemukan, satu dikabarkan menghilang tak jelas keberadaannya. Hari demi hari berlalu, seakan pencarian dilakukan dengan siasia, hingga akhirnya pencarian pun dihentikan.

Kabar duka yang memuat tewasnya seorang personil, membanjiri Media massa. Lantas apa yang sebenarnya terjadi dengan personil yang hilang itu?

Seorang pria Paru Baya yang tengah menjala ikan di sungai tak sengaja menemukan sesosok tubuh terkapar pada sebuah batu di bibir sungai, tubuhnya dipenuhi luka lebam dan menganga, wajahnya sangat putih pucat, namun masih ada detak jantung, walau sangat lemah.

Penjala ikan yang menyadari bahwa pemuda yang di temukannya masih bernafas dengan sigap membawa pria malang itu ke rumahnya di desa terpencil yang bernama Murawai.

Setelah berminggu-minggu tak sadarkan diri, akhirnya pria nahas itu terbangun dari koma panjangnya.

Meski pria ini diberi kesempatan hidup, namun semua ingatannya telah hilang tak tersisia sedikitpun.

Di sini 'lah awal pertemuannya dengan seorang Gadis lugu yang diam-diam penggemar beratnya. Ketulusannya dari Gadis Lugu dalam membantu kesembuhannya membuat hatinya luluh, hingga kisah asmara terjalin indah diantara mereka.

Bagaimana kelanjutannya, akankah sang gadis lugu dicampakan jika ingatan pria yang di cintainnya kembali?
Ikuti gaes kisahnya.

***
Next Page 👇


📢 Selama masih ada Komentar dan Vote cerita akan aku update setiap minggunya. Terimaksih untuk dukungannya.
Holla Readers.
Pada bagian ini akan aku perkenalkan Main Cast yang memerani karakter dalam cerita khayalanku ini. Karna adegaan cerita masih dalam Negri jadi aku pake aktor Asia. Oke deh langsung aja.


Amnesia
Sato Takeru.

Sato Takeru. Berperan sebagai Kevin yang manjadi tokoh utama dalam cerita ini. Kevin sangat baik hati dan tidak sombong, ia selalu menyikapi Fans-nya dengan ramah. Kemampuan Kevin dalam memainkan alat musik (Bass) sangatlah terampil, tak hayal ia mendapatkan gelar Mega Moster Bassis yang membawanya bertemu Randy. Untuk perjalanan asmara Kevin tipe pria yang sulit ditebak, bahkan dari ribuan surat cinta yang ia terima tak ada satu pun yang membuat hatinya luluh.


Amnesia
Akihiro Chinatsu.


Akihiro Chinatsu. Berperan sebagai Randy. Sejak kecil ia sudah tertarik dalam bidang tarik suara dari usia 8 tahun ia mempelajari teknik Vokal dengan mengikuti berbagai macam Les. Sifatnya yang keras kepala membuat Randy berhasil mencapai Prestasi dengan sangat pesat. Hingga ia mulai memliki keinginan untuk mendirikan sebuah grup Band dan mulai mencari personil yang memiliki bakat bermusik tinggi. Untuk masalah asmara Randy cenderung acuh, meski ia memliki seorang kekasih namun terkadang tak dianggap olehnya, ia lebih menyayangi pita suaranya dari pada kekasihnya.


Amnesia
Yusuke Yamamoto.

Yusuke Yamamoto. Di sini ia memerani tokoh Alberto sebagai Gitaris dalam grup Band yang didirikan oleh Randy, bakat bermain gitarnya sangat mengesankan, bukan itu saja, Alberto juga personil yang sangat kreatif, beberapa lagu ciptaannya kerap mendapakan penghargaan sebagai lagu terbaik akhir Tahun. Alberto buka tipe orang penyabar, ia selalu tergesa-gesa dalam setiap tindakan, kadang emosinya yang mudah meninggi membuat teman-temannya sering kali mengabaikannya. Walau terkesan kasar tapi Alberto tipe pria yang pandai merayu wanita, kata-katanya yang puitis menjadi senjata untuk menarik penggemar wanitanya, tak heran kemana pun ia pergi selalu mendapatkan julukan Playboy.


Amnesia

Akiyama Atsushi. 

Akiyama Atsushi. Berperan sebagai Drummers yang bernama Alex dalam grup Band yang dibentuk Randy. Perkenalan meraka berawal dari sebuah kafe tempat Alex bekerja sebagai pengisi acara Drum Solo. Melihat permainan Drum-nya, Randy lantas menarik Alex untuk mengisi posisi Drum dalam grup Bandnya, Randy tahu betul jika ada bakat dan kemampuan yang luar biasa dalam diri Alex. Sifatnya yang kekonyolan kadang membuat jengkel teman satu Band-nya, tapi mungkin kekonyolannya hanya untuk menutupi rasa kesendiriannya. Alex sangat buruk dalam masalah perasaan, meski wajahnya mampu menarik gadis-gadis namun perkataanya yang sembarang membuatnya kerap diabaikan.


Amnesia

Akhira Hirasaki  

Akhira Hirasaki. Berperan sebagai Bunga gadis Desa yang lugu dan pemalu. Bunga anak tunggal dari pasang Aminah dan Raup. Mereka tinggal di Desa yang sangat jauh dari perkotaan, bahkan Bunga tidak pernah sakalipun menatap secara langsung gedung dan bangunan megah di perkotaan, ia hanya mengenal rumah-rumah terbuat dari anyaman rotan. meski seperti itu bukan berarti Bunga tidak mengenal dunia luar. Bunga memiliki seorang teman yang bergelar Dokter bernama Robie, 3 Bulan sekali Robie mengunjungi desa Bunga untuk menjalankan tugas Dokternya, selain Robie memberikan obat-obatan, terkadang ia juga memberika informasi yang berkaitan dengan perkotaan kepada penduduk desa, tak aneh Bunga tahu betul apa saja yang sedang populer saat ini.


***
Next Page 👇


📢 Selama masih ada Komentar dan Vote cerita akan aku update setiap minggunya. Terimaksih untuk dukungannya.
Diubah oleh wedi

Perjalanan Panjang

Ini menjadi hari yang sangat membosankan dalam hidupku, tulang punggungku terasa remuk, bagaimana tidak, lima jam aku bersama tiga temanku terperangkap oleh padatnya kendaran yang seakan menghalangi perjalanan kami, kepalaku terasa ingin pecah, terlebih emosi Berto membuat keadaan samkin memburuk.

"Woy, maju, maju, kampret!" see.

Kami berencana untuk berlibur ke tempat yang jauh dari huru-hara perkotaan yang padat seperti ini, sudah cukup lelah aku melihat keramaian yang seakan tiada habisnya.

"Sial!! Jika terus seperti ini akan sangat membuang waktu, maju kampret!" gusar Alberto, sesekali ia menekan kuat kelakson mobil yang tengah ia kendarai.

"Yha, Wellcome To The Jakarta. Pemandangan yang tidak aneh lagi bagiku," kataku bernada lemas, menyandarkan kepala pada kaca mobil dengan wajah datar.

"Andai saja ada penjual balon udara mungkin aku orang pertama yang membelinya," jawab Randy.

Pandanganku meliri gedung dengan banner yang menggunakan balon udara, "Ha. Anda berminat membelinya."

"Tutup mulutmu,"

***
Lima jam kami berada dalam kepadatan yang sangat panjang, entah apa pemicunya, semua ini hanya membuat perutku seakan merintih-rintih kelaparan, sepertinya bukan hanya aku saja yang merasa lapar, raut wajah mereka bertiga terlihat lebih suram dari padaku.

Sungguh tak mungkin untuk keluar dari mobil ini, karena kami hanya berempat tanpa adanya Man Black yang mendampingi kami, tidak mudah menghadapi sekumpulan orang yang mendekat histeris jika melihat kami di tempat terbuka.

"Oe, adakah di antara kalian yang membawa makanan?" kata Alex bernada suram, "aku lapar."

Aku memasukan jari kanan ke saku jaket mengambil sebuah permen karet,
"Ini makanlah," aku menyodorkan permen karet untuknya masih dengan kepalaku tertempel pada kaca mobil.

"Cih, menyedihkan, andai saja Pak tua itu bersama kita saat ini, mungkin bisa menyembuhkan perutku yang lapar," keluh Alex mengunyah malas permen karetnya.

"Ah, sudahlah tidak usah disesalkan, sesampainya di sana kita akan makan sepuasnya, aku jamin itu" sahut Alberto, "Bah, malah melintang! awas woy!"

"Ayolah, jangan terlalu mengeluh dan emosi," tukas Randy yang berada di kursi belakang, "ini tidak akan membuat situasi membaik," terdengar Randy menghelakan nafas, "lebih baik, kalian buka percakapan untuk menghilangkan suasana suntuk ini."

"Nah, gagasan yang cerdik..," seru Alax, "kalian tahu? ekspresi wajah Pak Manager ketika aku berkata, 'Kami tidak akan mengajakmu, ini waktu liburan kami, jadi pastikan jangan sampai kau menampakan wajah konyol dengan beberapa kontrak bodomu itu,' Hah, aku senang sekali bisa memojokannya," cibir Alex tertawa samar.

"Tapi jangan lupakan jasanya, dan jangan terlalu kasar padanya, bagaimana pun dia Manager kita," sahut Randy nada datar.

"Sssstttt, Oe, Kevin, berhentilah bercumbu dengan pantulanmu sendiri," ejek Alberto membuatku menoleh malas ke arahnya, "ayolah, kau selalu yang paling banyak cerita saat beraksi di atas panggung."

Aku menghelakan nafas dan kembali bersandara pada jendela mobil menatap redup keluar jendela, "sudah tiga bulan ini kita disibukan oleh jadwal Tour, tidak ada yang perlu diceritakan, semua nampak sama, hanya ada ribuan kepala dengan stick berwarna-warni di lengan mereka."

"Uhek, uheekk. Kau lapar?" kembali aku melirik Berto dengan wajah datar, "akan aku kembalikan permen karetmu, tunggu sebentar." aku mengangkat tangan melambai mengisyaratkan 'tidak', membuat Alberto dan Randy tertawa cekikikan bersama.

***
Aku tergugah dari tidur, merasakan kendaraan melaju dengan cepat tanpa hambatan, namun pemandangan sekitar telah berubah, kini sudah tak nampak lagi bangunan megah dan mewah yang berdiri angkuh.

"Oe. Seberapa jauh lagi villa yang akan kita tuju?" ujar Alex, menjulurkan kepalanya di tengah bangku depan, "hanya ada pepohonan rimbun dan kebun yang tidak terawat di sini, yakin ini jalan yang benar?"

"Jangan kau katakan kita tersesat, Tuan Alberto," datar Randy.

"Te.. tenang saja, aku sudah tiga kali mengunjungi villa itu, tentu saja tidak akan tersesat," kata Alberto mencoba meyakinkan kami.

Perasaan cemas seketika menusuk di hatiku, Aku mulai sedikit panik, melihat keadaan jalan yang berbatu dan terhimpit oleh pepohonan yang rimbun, bahakan tidak ada pembatas pada bahu jalan, lebih buruknya lagi  terlihat tanah di sini nampak menurun curam, aku memandang wajah temanku satu persatu, memastikan jika hanya aku yang merasakan kecemasan.

"Jalan apa sebanarnya ini, tidak ada penerangan, bahakan jalan ini tidak terdapat di peta GPS," ujar Randy dengan handphone di lengannya.

"Sudahlah, perkataan kalian hanya membuatku tambah cemas, sebaiknya kalian pejamkan mata lalu tidur, biar aku yang menemani Alberto mengemudi," kataku dengan wajah menoleh kearah belakang.

Sudah hampir dua jam kami melintasi jalan suram ini, bahkan pantulan cahaya rembulan terlihat pada dasar jurang yang dalam.

Malam yang gelap telah membatasi sudut pandangan kami, dan lagi butiran air yang mulai menerpa pada kaca mobil menambah lengkap perjalanan ini.

Hujan kian menjadi, kabut pekat seakan menyelimuti jalan yang akan kami lalui, bahkan bibir jurang yang sejak tadi terlihat seolah menghilang ditelan tebalnya kabut.

"Oe,Oe, sebaiknya kita menepi, jarak pandang sangat membahayakan!!" nadaku memaksa, memberi peringatan Alberto dengan tegas.

"Tidak, tidak perlu menepi, kita hanya perlu melaju dengan perlahan," kata Alberto, dengan senyum kecil yang cemas, "untunglah kedua orang itu tertidur lelap, jika tidak mereka hanya akan memperburuk keadaan," cibir Alberto dengan pandangan tajam tertuju pada jalan di depannya.

Sejujurnya aku merasa sangat khawatir melihat jalan yang penuh batu kerikil beralaskan tanah merah, ditambah jurang terjal dan air berwana coklat pekat mengalir deras pada jalan yang kami lalui.

"Oe, oe, kabut ini!!" gumamku yang semakin menegang.

Kabut pekat telah menelan mobil kami. Aku hanya bisa berpegangan dengan kuat, berharap kami bisa melalui lembah ketegangan ini.

Walau kami berhasil melewati cengkraman kabut tebal, namun aku dikejutkan oleh tikungan tajam yang tiba-tiba terlihat begitu saja, aku menoleh cepat menatap tajam ke arah Berto.

"Berto!!! Kanan, kanan..!!!" Teriak-ku.

Alberto yang panik lantas memutar kemudi dengan sangat tergesa-gesa, bagaimana tidak, tepat di ujung jalan yang berkelok nampak jurang terjal siap menelan mobil kami!!

Seketika tubuku bergetar, darahku seakan terkumpul di kepala, telapak tanganku mulai terasa berkeringat, seperti sedang melihat hantu tengah berdiri di hadapanku, namun ini lebih menakutkan.

Aku merasakan getaran batu yang sangat kuat pada sisi kiri mobil, sehingga mengguncangku sesaat, bagian depan mobil telah berbelok ke arah kanan dengan sangat cepat, seketika aku dapat melihat jalan lurus yang hendak kami lalui, tapi itu hanya sekejap.

Pemandangan mengerikan membuatku terpaku, aku menarik lengan baju Alberto agar menoleh ke arah belakang. Terlihat wajah pucat Berto dengan mata terbelalak besar menyaksikan bagian belakang mobil yang sudah mulai tergelincir masuk ke dalam jurang yang tepat berada di sudut jalan, aku menyadari jika usaha Berto siasia, kami gagal melewati kelokan tajam ini.

"Tidak.. tidak.."
"Stop.. Stoppp!!"

Aku dan Alberto berteriak histeris hingga membuat Randy dan Alex terbangun dengan sangat panik, mereka merontah-rontah merasakan mobil yang mulai turun perlahan ke dasar jurang yang berkabut.

"Pijak pedal Gasnya Bertoo!" aku berteriak panik.

"Apa yang kau lakukan Berto!!!" teriak Randy.

"Mengapa dengan mobil ini!!"

"Tidak ada waktu lagi!!!"

"Berbegangan pada sesesuatu!!! Tundukan kepala kalian!!"

"Aku tidak bisa menahannya lagi, mobil ini seakan terhisap ke dasar jurang!" Berto begitu panik.

Kami membisu seketika tanpa suara, hanya lengkingan dan detak jantung yang bisa aku dengar.

Hingga dentuman keras memecah kesunyian, terdengan suara benturan kasar menghujani seluruh bagian badan mobil.

Tubuhku terguncang tak tentu arah, lenganku terbentur sangat kuat pada sesuatu. Langit yang gelap dan pepohonan yang basah seakan berputar kuat tanpa terkendali. Aku hanya bisa berteriak histeris menerima kejadian ini. Tak ada harapan untuk kami, tak bisa memutar ulang waktu.

Aku hanya bisa berusaha menudukan tubuhku di tengah guncangan yang semakin menjadi, terdengar pecahan kaca yang berserakan, lengkingan kuat terdengan di telingaku.
Hingga benturan terasa hebat yang  membuat mobil berhenti terguncang.

***
Aku membuka mata, nafasku sangat sesak, seluruh tubuhku bergetar, pandanganku sangat tidak jelas, dengan sedikit tenaga yang tersisa aku melepas sabuk pengaman yang melintang di tubuhku, aku menoleh kearah Alberto yang telah terduduk lemas, hanya sabuk pengaman yang menahan tubuh meraka, darah segar nampak berceceran di bagian dalam mobil, kaca-kaca yang telah tiada.

Aku mencoba meraih tubuh Alberto yang terkulai lemas dengan kepala bersadar pada stir.
"Oe, bertooo.." aku menggoyangkan tubuhnya, namun ia tak menjawab.

Aku tidak bisa menoleh kearah Randy atau Alex, karena bagian atap mobil yang melengkung menekan punggungku hingga membungkuk. Aku tidak bisa bergerak!!

"Sial!! Oeee!!, Bertooo!!!, Aleeeex!! Randddy!!" aku hanya berteriak panik memecah kesunyian, namun tak satupun dari mereka tak ada yang menjawab panggilanku.

Dengan tubuhku terhimpit aku mencoba membuka pintu sekuat-kuatnya.

Pintu ini tidak bisa terbuka!

Pintu yang tidak bisa terbuka, memaksaku untuk mencari cara lain.

Kaca!

Aku berniat keluar melalui kaca yang telah tiada, dan merangkak perlahan dengan pendangan yang sangat buruk, darah yang mengalir melewati kelopak mataku tak hentinya mengalir, hujan yang terus mengguyur menambahku sangat sulit untuk melihat sekitar.

Aku mencoba merahi sisi luar untuk menjadi penopang tubuhku, dan menjulurkan kepala hingga pinggang keluar secara perlahan.

"Syukurlah ada pohon itu!!,.. Whaaaaaa .... Whaa .... Aaaaaaa!"

Tubuhku seketika terpelanting sangat keras, pemandangan serupa aku alami, hanya rasa yang berbeda, aku berputar dengan sengat cepat, berguling di antara ranting yang telah mengering, benturan tulang dan pepohonan terdengar jelas di telingaku, aliran air yang mengalir deras mengantarku menuruni terjalnya lereng dengan sangat kejam.

Aku berusaha menggapai apa pun yang bisa aku sentuh, berharap dapat menghentikan laju tubuhku yang terseret semakin dalam kedasar jurang, aku melesat sangat cepat.

Semua usaha yang aku lakukan siasia. Tubuhku sudah sampai pada batasnya. yang kini bisa aku lakukan hanya pasrah menerima kenyataan pahit ini, mungkin ini akhir dari hidupku, entah apa yang menantiku di dasar jurang ini, bebatuan besarkah? dahan pohon yang runcingkah? apa pun itu, sudah cukup menghancurkan tubuhku yang rapuh ini.

Aku memejamkan mata menahan rasa sakit yang begitu hebat di sekujur tubuhku.
Seketika suasana terhening, hembusan angin yang begitu kencang terasa berbisik di telingaku.

Aku sadar jika tubuhkanku tidak lagi bergulat dengan tanah dan ranting, yang seakan mencabik-cabik kuliku dengan brutal. tak ingin aku membuka mata, terlalu lemah untuk melihat apa yang akan menantiku di bawah jurang ini.

Dentuman keras diiringi kilatan cahaya terang membuat telingaku mendengung hebat, nafasku mulai tersedak. Tubuku sangat menggigil kedinginan, aku tak bisa lagi menghirup udara, bahkan aku tak mampu lagi untuk membuka mata, rasa sakit yang begitu hebat kini tak lagi terasa olehku, tak pernah aku rasakan ruangan gegelapan dan hening seperti ini sebelumnya.

ini kah yang di namakan kematian.

"Good Bye..!!!"


***
Next Page 👇


📢 Selama masih ada Komentar dan Vote cerita akan aku update setiap minggunya. Terimaksih untuk dukungannya.

Gadis Lugu Yang Aneh.

'Ibu mah ngga tega, lihat Anak Muda itu, sudah hampir dua bulan belum juga sadarkan diri.'

'Aku mah takut Bu, dengan keberadaan Pemuda itu di rumah kita.'

'Lho, kok takut sih, Nak-nak, kitakan berbuat baik, kenapa harus takut.'

'Bukan itu maksud aku Bu, gimana juga dia pasti punya keluarga, bahkan lebih ...'

'Lebih apa De? Iya, kalau dia siuman, kita tanyakan masalah itu.'

'Bukan apa-apa Bu, betul juga sih Bu, kita mah hanya menolong yah.'

'Ya Sudah Ibu mau masak dulu, kamu jangan keluar rumah, takut Anak Muda itu siuman De.'

Suara siapa yang begitu mengganggu itu. Mengapa tubuhku terasa sangat berat. Akhh, kepalaku ....

Terdengar lirih derit langkah seseorang yang mendekat menghampiriku, Aku mencoba Perlahan membuka mata, dan cahaya samar mulai terlihat dari balik kelopak mataku. Nafasku sesak, paru-paruku seakan tertekan, mengapa untuk menghirup udara saja terasa begitu sulit.

"Di mana aku?" aku melirik ke segala arah.

Dengan tubuh terbaring lemas, aku mengamati sekitar. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah dingding terbuat dari anyaman rotan, bahkan masih nampak jelas geting-genting merah di atap ruangan ini.

Aku mengeritkan gigi, ketika merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku, aku terbelalak terkejut, melihat sekujur tubuh dipenuhi kain yang telah membalut dari ujung kaki hingga lengan, dan tengkuk leher, hingga kening, mataku berpaling lirik saat menyadari seorang Gadis tengah berdiri dengan expresi wajah ternganga membisu menatapku.

"Di mana aku?" nadaku lirih, membuat Gadis itu seakan tersadar dalam lamunan, wajahnya yang putih sekejap berubah menjadi kemerahan. Entah apa yang ia pikirkan.

"I-ibuu!"
"Ada apa tho De?" Terdengar suara berat seorang wanita tergesa-gesa dalam langkahnya, dan terhenti di ambang pintu tepat di sisi Gadis aneh itu.

"Syukurlah Nak, akhirnya kamu teh sadar juga, jangan banyak gerak dulu atuh Nak," ujar wanita setengah Baya bergegas menghampiriku.

"Siapakah kalian? dan di mana a ...."
Akh, Rasa nyeri di kepalaku semakin terasa menusuk, hingga membuat gendang telingaku mendenging hebat, aku terpejam menahan sakit yang luar biasa.

"Nama saya, Aminah, dan ini anak saya Bunga, Bapak yang bawamu teh ke rumah ini, karena di Desa saya mah tidak ada rumah sakit."

Aku mengerutkan alis dan menundukan wajahku.

Apa yang Ibu ini bicarakan. Sungguh aku tidak mengerti.

"Nama kamu teh siapa Nak?"

Aku membuka satu mataku, terbawa oleh pertanyaannya.

"Nama?" aku menjawab dengan nada datar. Kerutan alis yang hampir bertemu, kedua wanita itu saling menoleh sesaat, raut wajah mereka nampak bingung.

Sssllaaappss..!!
Seketika aku merasakan dorangan kuat yang memaksaku untuk mengingat sesuatu pada ruang yang gelap, namun semakin aku mencoba mengingatnya, seketika tubuhku berkeringat dingin dan bergetar, kepalaku terasa sangat sakit, telingaku tak henti berdenging kuat, irama detak jatungku sangat jelas aku rasakan.

Aku menyandarkan telapak tangan pada sisi kening tepat di atas telinga, menggenggam rambutku dengan kuat.

"Nak, aduh ... sebaikinya kau istirahat saja atuh, badan kamu teh masih belum pulih,"

"De, kok malah diam di situ ari-Kamu, bantu sini De, kasihan."

"Bu, sebenarnya dia itu ..." gumam Gadis itu terdengar ragu, diakhiri suara lantai dari hentakan kakinya.

"Pake malu segala kamu teh kumaha sih, kasihan De, siapa pun dia, liat keadaannya saat ini,"

Aku sedikit terkejut, merasakan sentuhan halus pada bahuku, Ibu Aminah tengah memapahku yang sudah setengah terduduk ini disandarkannya pada bantal tidur yang ia siapkan di tepi ranjang.

"Duh, si Bapak ngga ada lagi," gumam panik dari Ibu ini, "Makan yah Nak?" ketir wajahnya, siapa pun Ibu ini, dia pastilah sangat mengkhawatirkan kondisiku.

"Bunga cepat atuh, ambilin makan, udah 2 bulan ngga makan."

2 bulan? Bunga? apa yang terjadi? apa aku mengenalnya?

Gadis itu kembali dengan membawa piring dan segelas air pada sebuah nampan, ia menghapiriku dengan wajah sedikit tertunduk.

"Nak," aku menoleh, "Ibu tinggal dulu atuh yah, mau nyari Bapak dulu, biar Bunga yah, yang membantumu makan," kata Ibu Aminah, lantas bangkit dari duduknya pergi tergesa-gesa.

Aku melirik Gadis yang sedang berdiri mematung di sampingku.

'De, bantu ia makan, malah diem,' bisik samar Ibu Aminah mencuil lengan Bunga.

"Ya udah makan dulu nih," singkat Bunga, menyodorkan nampannya.

"Kok malah disuruh makan, kamu teh gimana sih, dibantu dulu De, kan tangannya masih di perban," Ucap Ibu itu mulai meninggalkan ruangan kami.

"I-iya, iya Bu," jawab Bunga, yang mulai duduk di sisiku, dengan wajar memerah, mungkin ia memakan sesuatu yang pedas.

Pandangku seakan kosong, meski sesekali melirik ke arah Bunga dengan sendoknya yang telah berada tidak jauh dari hidungku.

"Namamu Bunga?" ia hanya mengangguk nampak enggan menatap wajahku,

"Jika ini merepotkanmu, letakan piring itu di meja, dan kau boleh pergi, Bunga," perkataanku membuat Bunga sedikit tersentak kaget, menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Ti-tidak, tidak, aku tidak merepotkanmu kok. Eh, salah, maksud aku teh. 'Kamu' tidak merepotkanku," ujar Bunga tergagap dalam tingkahnya.

Baru sesaat aku tenang, rasa sakit tak tertahankan kembali datang begitu saja. Kepalku seperti terhantam benda keras hingga membuat pandanganku perlahan menghitam, kesunyian seakan menjalar dari tengkuk hingga dahi, ubun-ubunku terasa dingin, semakin lama semakin pudar, hingga semuanya benar-benar dalam keadaan hening dan hampa.

***

Terdengar samar Kicauan burung-burung yang seakan bernyanyi riang, menyadarkanku dari kegelapan. Aku membuka mata, terdiam sesaat menatap langit-langit dengan pandangan yang kosong.

Dimana aku?
Aku terperanjat seketika dari tidurku, dengan rasa panit tak menentu, aku melirik sekitar penuh tanda tanya.

Dimana aku, mengapa lengan dan kakiku ini ...

Aku membuka kain yang membelit pada lengan kiri dan lututku dengan tergesa-gesa, aku melepas selang yang menancap di tangan kananku, mencoba beranjak dari tempat tidur, namun kakiku seakan tidak mampuh menopang tubuhku, hingga akhirnya aku kehilangan keseimbangan dan tersungkur menerpa sebuah meja yang bertampang beberapa butir buah kelapa hijau.

Prang ...!!!
Suara pecahan piring dan gelas yang tertimpah oleh kelapa membuat seseorang terdengar menghampiriku dalam langkah yang terburu-buru.

Terlihat seorang Gadis, berkulit puith dengan dagu yang sedikit meruncing dan rambut poni yang menutupi alisnya, membuat kedua matanya terlihat melebar nampak jelas bola mata yang berwarna hitam, dengan bulu mata yang lentik indah.

"Di mana aku?" Gadis itu hanya terdiam di ambang pintu, memandangiku yang sedang berusah untuk bangkit.

Aku yang lemas tak mampu menahan tubuhku, hingga kembali tersungkur, membuat Gadis itu berlari dengan sigap mendekat dan memapahku kembali pada tempat tidur.

"Duh, kamu teh kalau mau apa-apa teriak saja," ucap Gadis itu, wajah merahnya nampak tidak asing bagiku.

Aku menghelakan nafas, "terima kasih telah membantuku," aku menyiratkan senyum padanya, Gadis itu tertunduk, seakan menyembunyikan wajahnya.

"Siapa namamu?" tanyaku halus, Gadis itu merespown sedikit terkejut.

"Bukannya kamu udah tahu nama aku?"

"Namamu?"

Gadis itu lantas pergi tanpa sepatah katapun, membuatku merasa bersalah padanya, apakah aku telah salah dalam berucap.

Tak lama Gadis itu kembali bersama seorang wanita Setengah Baya yang mengikutinya.

"Alhamdulillah, kamu sudah siuman Nak," ia berada di depanku, "masih ada rasa sakit?"

Siapa lagi Ibu ini?

Aku hanya membalas perkataannya dengan menggelengkan kepala singkat, namun cukup membuatnya tersenyum bahagia.

"Kamu pasti sangat lapar," surunya, ia beranjak dari tempatku, lantas keluar ruangan.

"Apa kamu tidak mengingatku?" kata Gadis itu yang sedang membersihkan serpihan gelas dan piring yang berceceran di lantai.

Aku sungguh tidak mengenal i mereka, hanya ada kekosongan pada ingatanku. Bahkan aku tidak mengerti mengapa bisa berada di tempat ini.

"Mengapa aku tidak bisa mengingat apa pun, apa yang terjadi padaku?" tanyaku mendesak, masih dengan pandangan kosong menatap telapak lengganku yang putih memucat.

"Nak, udah atuh jangan dipaksakan," aku menoleh "makan dulu, kamu pasti sangat lapar-kan," kata wanita Setengah Baya itu, menaruh nampan yang di bawahnya pada sebuah meja, "biar Bunga yang bantu kamu makan ya Nak."

Eh, kemana Gadis lugu itu pergi,

Aku lantas bersandar pada bantal yang aku letakan di punggungku, dengan tatapan penuh keraguan aku memandangi langit-langit pada ruangan ini.

Sedang apa aku di sini, mengapa ingatanku terasa kosong, bahkan Ibu dan Gadis tadi, aku sungguh tidak mengenalinya.

"Umi, permisi dulu atuh yah, jangan banyak gerak dulu Nak," ak mengangguk samar.

Aku menghelakan nafas halus mengakhiri lamunanku, Gadis itu kembali dan mengambil makanan yang telah disiapkan di atas meja.

Tatapanku terpaku seketika, saat melihat wajah Gadis ini, seakan ada bayang ingatan tentangnya.

"Saatnya makan," aku mengerutkan keningku ketika mendengar sepatah kata dari bibir Gadis ini.

"Kamu tuh harus makan, sebelum tidur lagi," ucap Gadis itu,
"kamu mah seperti beruang, kalau sudah tidur pasti lama pake banget, bangun tidur terus lupa segalanya."

"Benarkah?"

"Apakah kamu bisa ingat aku, jika nanti tertidur lagi?"

Aku melirik padanya dan tersenyum.
"Ya, kenapa tidak," mendengar ucapanku mata gadis itu berbinar, pipinya sangat merah, gadis ini sangat baik.

"Janji?"

"Aku berjanji."

"kalau begitu makan yang banyak atuh yah, biar lukamu cepat sembuh," Gadis itu kembali menyuapiku dengan sangat sabar.

"Luka? aku tidak merasa sedang terluka," jawabku dengan bibir mengunyah, aku memperlihatkan sikut dan lututku, "ya walau ada rasa lemas pada pundak-ku." Gadis itu menahan tawa, membuatku bertanya-tanya.

"Kenapa?" tanyaku.

"Abis kamu lucu, masa sama luka juga kamu lupa."

Gadis itu tersenyum hingga matanya tertutup, seperti ingin tertawa tapi menahannya.

"Sudah habis, sekarang kamu harus istirahat, jangan banyak bergerak dulu," usai memberiku minum iya lantas pergi.

"Terima kasih telah membantuku," ia menghentikan langkah dan membalas senyumku.

"Mengapa aku tidak bisa mengingat sedikit pun tentangmu?" senyumnya memudar, ia hanya terdiam dengan nampan dipangkuannya, wajahnya tertunduk, seperti menyembunyikan sesuatu dariku.

"Terlihat dari pandanganmu, kau pasti mengenaliku?" Gadis itu ber-reaksi menoleh cepat menatapku.

"A..apa kamu tidak ingat semuanya?" gumamnya, aku menunduk dan menggelengkan kepala.

"Bahkan kepalaku terasa ingin pecah saat mencoba mengingat dirimu," jawabku dengan pandangan kosong menatap kedua telapak lengan.

Gadis itu terhentak dengan satu telapak tangan menutupi bibirnya, ia pergi dengan langkah cepat.

Sebaiknya aku tidak asal bicara, karena bisa saja melukai perasaannya, siapa pun dia, aku harus mengingatnya.

Tak lama Gadis kembali dengan membawa sesuatu pada lengannya.

"Aku membawakan buku dan pinsil buat kamu," Gadis itu memberikan buku berwarna merah jambu yang bergambar hamster.

Aku menatap wajahnya dengan satu alis mengangkat, "untuk?"

"Sebelum kamu tidur panjang, catat nama aku dan nama Ibu 'ku pada buku ini, jadi teh saat nanti kamu bangun ngga lupa dengan nama kami."

Aku kembali menyesali perkataanku, membuat wajahku tertunduk bersalah.

"Maafkan aku yang tidak mengingat apa pun tentang kalian, tapi aku sangat berterima kasih karena telah merawatku dengan baik," perkataanku membuat wajah gadis ini kembali berseri.

"Baiklah, aku akan menulis nama-mu dan Ibu 'mu," seruku, membuka lembaran buku.

Gadis itu tersenyum dan mengangguk senang, dengan tangannya yang saling bergenggam.

"nama 'ku Bunga, dan Ibu 'ku Aminah."

Aku mulai menulis dengan senyum terukir di bibirku, 'Bunga' 'Ibu Aminah'.

"Yosh, sudah selesai," aku menutup buku dan menaruhnya pada sebuah meja.

"Jika sebelum ini aku mengenal kalian, nentu aku sangat merasa bersalah, karena telah melupakan Kau dan Ibumu."

"Ti-tidak usah kamu pikirkan itu mah, kamu emang ngga mengenalku, namun aku mengenalimu ..." Aku menoleh menatap wajah Bunga yang tengah menutupi bibirnya dengan kedua telapak tangan.

"Kau menganliku, Bunga?"

"Ti-tidak, aku mengenalmu ketika Ayah memba ... maksduku ..."

"Nak, apa kau tidak mengingat semuanya?" potong seorang wanita Paru Baya membuatku dan Bunga menoleh cepat kearahnya, ia perlahan memasuki ruangan.

Mungkin Beliau Ibu Bunga yang bernama Aminah. Raut wajahnya nampak tidak asing untukku. Apa memang aku mengenali mereka sebelumnya.

Aku memasang wajah menyambut, dengan senyum kecilku, "bisakah ceritakan sedikit tentangku?"

Ibu Aminah terdiam, raut wajahnya seakan sedang memikirkan sesuatu. lirikan matanya berganti ke arah Bunga.

"Apa Bunga belum cerita padamu Nak?" aku menggelengkan kepala samar.

"Sebenarnya ..." Bunga seakan ragu untuk bicara.

Entah apa yang hendak Bunga ceritakan, seketika ia menarik lengan Ibu Aminah hingga keluar ruangan.

Aku melirik pada buku yang diberikan Bunga.

Mungkin ia tidak ingin memaksakan ingatanku.

Selang beberapa menit, ibu Aminah kembali memasuki kamarku.

"Nak, maafkan yah kelakuan Bunga yang tadi," Ibu Aminah menghampiriku, dengan beberapa pakaian dan satu handuk yang ia sandangkan pada lengan kirinya.

"Tidak apa-apa Bu, aku mengerti."

"Aduh, gimana sama badanmu Nak? sudah merasa enakan," Ibu Aminah meletakan pakaian yang di bawanya di atas kasur.

"Sejujurnya aku tidak mengingat sakit apa yang aku derita sebelumnya, hanya saja masih terasa lemas pada pinggangku, namum yang sangat mengganggu, aku tidak bisa mengingat apa pun, bahkan aku tidak tahu kapan aku mulai tertidur."

"Sudah atuh Nak, jangan terlalu memaksakan diri. Sebaiknya kau pergi mandi, bersihkan badanmu."

"Iya Bu," jawabku mengangguk samar.

Aku mencoba kembali menapakan kedua telapak kakiku dengan sangat berhati-hati. Terakhir aku mencobanya aku berhasil memcahkan satu piring dan gelas.

"Perlu Ibu bantu Nak?" Ibu Aminah serentak hendak menuntunku, melihat aku yang sedikit terjungkal hingga kembali duduk.

"Ti-tidak perlu Bu, aku sudah merasa lebih baik."

Aku menegapkan kedua kaki, berdiri perlahan, walau masih sedikit gugup untuk melangkah. Aku mencoba meraih handuk dan pakain yang disiapakan Ibu Aminah, dan bergegas mandi.

Tak jauh aku terpaksa menghentikan langkah.

Oe, di mana toiletnya ?

Dengan senyum kuda, aku menoleh ke belakang.
"E-ehm, maaf Bu, nampaknya aku tidak bisa mengingat letak toiletnya," kataku sedikit mengusap kepala.

"Di kampung mah ngga seperti di kota Nak, toilet di desa tidak jauh-jauh dari dapur, tinggal lurus saja sudah terlihat dapurnya." Aku terhentak terdiam sesaat.

Ia mengatakan Kota? kota ... kota ... Arghh, entahalah apa itu, mungkin yang dikatakan Ibu Aminah benar, sebaiknya aku tidak memaksakan diriku, jika saatnya tiba, ingatanku pasti kembali.

"Ee'hm ..." aku menoleh terkejut melihat Gadis itu berdiri tepat di dapanku.

"Aku ada pakaian untukmu," Gadis itu memberikan baju kaos berwarna biru, dan celana panjang berwarna putih.

Aku menghelaikan nafas sesaat, "terimakasih, aku akan mengenakannya." aku mengambil pakaiannya, dan bergegas mencari toilet.


***

Next Page 👇

📢 Selama masih ada Komentar dan Vote cerita akan aku update setiap minggunya. Terimaksih untuk dukungannya.

Selamat Jalan Kawan

Pov Randy

Di chapter ini menceritakan, Randy yang mulai tersadar dari kecelakan yang ia alami berserta 3 orang temannya. Hingga alasan mengapa pencarian Kevin dihentikan dan memalsukan kabar kematiannya.

***

Malam masih yang begitu gelap, diluputi hujan yang terus mengguyur,
di suatu tempat terlihat sebuah mobil sedangan mengalami kecelakan hebat, mobil itu tersangkut pada sebuah pohon besar di tengan lereng yang begitu curam.

"Alex!, Kevin!, Berto! Apa kalian baik-baik saja!"

Aaaarrggghh.., dadaku..!!

Aku melirik tubuhku, yang telah dipenuhi oleh luka gores dan lebam di sekujur tubuh.

Suara berderik, terdengar dari luar mobil yang tersangkut pada sebuah pohon,

Jika tidak hati-hati mobil ini bisa kembali terjatuh!

aku mengambil handphone, yang telah rengat pada layarnya, dan segara menulis pesan kepada, Manager:
Segera lacak lokasi ini, mobil kami terjungkal ke dalam jurang. tak banyak yang bisa kami lakukan, tolong cepat!!!!

Aku berusaha keluar dari posisiku, berniat mengamati seberapa parah keadaan kami saat ini.

"Ahk, kakiku." rintih Alex terdengar samar.

Aku melirik senang, jika ia baik-baik saja.
"Syukurlah, kau sadar, Alex."

"Apa yang sebanarnya terjadi, Randy."

"Nampaknya kita sedang sial, anak bodoh itu membuat kita masuk kedalam jurang."

"Oe, Bertooo!! kau baik-baik saja? dan kau Randy?"

"Yha, aku tidak terlalu buruk. Kau sendiri?"

"Tidak, kakiku terhimpit, aku tidak bisa merasakannya. Kevin?"

"Entahlah, kaleng busuk ini melengkung tepat di hadapan kita, aku tak bisa memastikan keadaan Kevin dan Berto."

"Sial!!!" teriak Alex menghajar atap yang melengkung penuh nafsu amarah, hingga membuat mobil sedikit berguncang.

"Oe! Alex! hentikan! Mobil ini hanya tersandar pada sebuah pohon."

"Apa!! Lantas apa yang kita lakukan?" jawab Alax terduduk kaku, "aku tidak ingin mati dengan cara seperti ini."

"Kau bisa melihat ke arah kirimu?" kataku meminta Alax memperhatikan kondisi mobil dari balik jendelanya.

"Hanya pohon konyol ini yang aku lihat, kakiku terhimpit kursi." sahut Alex.

"Berarti hanya pintu di sisiku yang memiliki celah, kita bisa keluar melalui jendela ini."

"Wow, wow, kau yakin Randy!, sebaiknya urungkan niatmu, sebelum mobil sial ini kehilangan keseimbangan."

"Aku akan mencobanya dengan hati-hati, bertahanlah Alex."

"Jika aku sampai mati karena ide gilamu, tidak akan kau ku biarkan memakan donat dengan tenang, camkan itu baik-baik, Tuan Randy!"

Aku mendorong kaca mobil yang telah rengat akibat benturan, aku harus extra hati-hati, menghindari guncangan kuat yang bisa membuat kami jatuh hingga kedasar jurang.

Dengan lengan berlumuran darah, aku berhasil menjebol kaca ini.
Betapa beruntungnya kami, melihat jejak mengerikan di sepanjang tebing, nampak semak-semak dan tanah telah rusak akibat benturan mobil ini.

Aku harus waspada, permukan tanah yang masih curam, air yang mengalir membuat apa pun akan dengan mudah terjungkal.

Dengan berpegangan pada pintu mobil, aku merayap perlahan menghapiri pintu depan.

"Oe! Berto!"
aku mengkoyak tubuhnya yang masih terkulai lemas di atas kemudi.
Mataku membesar, nafasku terhentak, melihat kursi yang telah kosong dengan jendela yang telah pecah di hadapannya.

Kevin!

"Aaagh!! mengapa ini harus terjadi!!" aku berteriak dengan memukul kuat bagian mobil, seakan menahan sesal bercampur emosi.

"Oe, tak bisakah kau tenang! hampir saja aku menelan mentah-mentah jantungku, apa yang terjadi di luar sana, Randy." teriak Alex dalam mobil.

"Kevin menghilang, sebaiknya kita menunggu bantuan datang. Jangan sampai ada yang lebih buruk dari ini."

Aku tidak ingin mencari resiko dan memutuskan untuk menunggu bantuan datang di dalam mobil, karena sudah tidak cukup mental jika harus kehilangan yang lainnya.

***

Tepat jam 8 pagi mobil kami ditemukan, oleh team penolong dan Menager ku,

Aku di baringkan dalam ruangan sejuk berselimut putih bergaris hitam. Lengan dan kakiku terpasang Gips yang melengkung pada sikutku.

Bukan aku saja yang mendapatkan perawatan intensif, Alberto dan Alex pun demikian.

"Ih, mau kemana sih," ujar Rosita membantuku bangkit dari tidur.

"Aku tidak akan tenang jika belum melihat teman-temanku."

Mungkin diantara kami, hanya aku yang tidak terluka terlalu fatal, Alex mengalami patah tulang kaki, dan luka menganga di bagian paha yang menghabiskan dua jam di ruang Bedah, dan Berto mengalami cidera di kepala, rahangnya retak, pergelangan kaki kirinya patah.

Namun, aku yakin keadaan terparah di alami Kevin. Sampai saat ini Team SAR masih terus melakukan upaya pencarian di sekitar jurang.

Kevin! Bertahanlah!

Aku membuka sebuah pintu dan memasuki ruangan Alex, terlihat keluarga dan kerabatnya mengelilingi tempat tidurnya.

"Wow, Tuan Randy, masuk, masuk," seru Alax.

"Kondismu?" aku melangkah dengan kaki terpincang-pincang.

"Yha, seperti ini 'lah kondisiku, tidak baik, namun beruntung."

"Silahkan duduk, Mas." kata Ibu Alex, aku hanya membalas senyum.

"Tidak, terima kasih Bu, aku masih harus menjenguk Alberto."

"Kau leader terbaik untuk kami, Randy." Ucap Alex yang terduduk pada tempat tidurnya.

"Aku masih gundah, memikirikan keberadaan Kevin, hingga sampai saat ini masih belum ada kabar pasti darinya,"

"Sebaiknya kau istirahat, Mas," ayah Alex menepuk pundak 'ku halus, "serahkan semuanya pada yang Kuasa, ber-do'a untuk Kevin, semoga ia lekas ditemukan."

Aku menganggut samar.

Semoga Tuhan melindungimu Kevin. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu, keluargamu, temanmu, bahkan penggemarmu, semua menantimu di sini.

"Baiklah, sepertinya aku harus beranjak ke kamar Berto," kataku berpaling dari Alax, "Cepat sembuh bocah Drum."

"Yha, dengan senang hati Kapten!" seru Alax mengangkat tangannya pada kening.

Aku beranjak dari ruangan Alex berjalan menuju ruangan Berto,

Sebaiknya aku menanyakan kabar,
Tak sabar menunggu kabar tentang Kevin aku mengangkat Handphone 'ku untuk menghubungi seseorang: Manager.

"Hallo, bagaimana Apa sudah ada kabar dari Team SAR?"

"Kami masih dalam pencarian, belum ada tanda-tanda pasti akan keberadaan Kevin. Aku akan mengabarimu Randy, jika ada informasi terkini."

"Hm, usahakan secepat mungkin. Terima kasih Pak Menager, aku tunggu kabar selanjutnya."

Aku mengakhiri panggilan, dan mendorong pintu sebuah ruangan.

"Hay, lihat siapa yang datang!" seru Kerabat Berto yang hampir memenuhi ruangan. Hingga tak ada lagi kursi kosong di dalam ruangannya

"Aku ke sini bukan sebagai Musisi, aku harap kalian mengerti," kataku sedikit dengan wajah datar. Cukup ampuh meredam kebisingan mereka.

"Anak manja, bahkan dalam sakit pun, kau masih bersama Fans-fans 'mu, aku harap kondisimu secerah mereka," Berto tesipuh malu dengan senyum kecilnya.

"Aku sudah sedikit pulih, walau masih sulit untuk berkata." gumamnya samar.

"Kakimu?"

"Ah, nampaknya tidak terlalu manja dari rahangku."

"Syukurlah, jika sudah membaik."

"Randy, bagaimana keadaan Alex dan Kevin?" raut wajah Berto sangat diliputih kesedihan.

Aku menghelakan nafas,
"Alex baik-baik saja, dan aku sudah menghubungi Pak Manager namun Kevin masih belum ditemukan."

Alberto terdiam, seakan menahan rasa bersalah.

"Fokuslah dengan kesembuhanmu Berto, lupakan sejenak apa yang kau rasakan."

"Siap! aku akan buatkan beberapa lagu untuk kita, tentunya setelah Kevin kembali."

Aku mengangguk samar membelakangi Berto, menoleh dengan senyum singkat dan melangkah pergi.

Sepertinya kepala ini ingin aku istirahatkan.

"Ketua," panggil Berto menghentikan langkahku, "maaf atas semua ini, jika saja aku mendengarkan peringatan Kevin, mungkin ini tidak akan terjadi," nadanya terdengar tersedu.

"Yang telah terjadi, tidak akan bisa kembali, tidak perlu kau merasa bersalah, Berto. Lekaslah pulih."

Aku melanjutkan langkah meninggalkan ruangan Berto, hingga tiba di kamar rawatku, di sepanjang jalan, aku tak henti memikirkan keadaan Kevin. Ia personil favorit 'ku sekaligus orang pertama yang aku recrut. Kini ia telah menghilang tanpa jejak.

Aku membaringkan tubuh di atas ranjangku, tak hayal aku memandang wajah gadis yang tengah terduduk di sisiku,
"maafkan aku Rosita, jika saja aku lebih memilih untuk bertemu dengamu, tentu tidak akan ada perjalanan pahit ini."

"Tidak perlu kau pikirkan Randy, aku memang sangat kecewa, setiap kali kau acuhkan, namun itulah resiko yang aku harus tempuh, aku hanya bisa menerima, tanpa bisa menolak, tapi hatiku lebih terasa tercabik, ketika mendengar mobil kalian terjatuh kedalam jurang, sekejap aku kehilang ragamu, Randy." ia menyandarkan kepalanya terasa tetesan air mata membasahi dadaku.

Perkataannya sangat mendasar, baru kini aku sadar jika selama ini sering kali melupakannya. Wanita yang tulus mencintaiku.

"Hapus air matamu, tidak ada lagi yang perlu kau tangisi, terima kasih telah bersabar menghadapi sikapku."

Aku mencium telapak lengannya, dan mengusap halus kepalanya, mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan, untuk menangkan dirinya.

***
Aku menggelengkan kepala samar, dengan wajah penuh kecewa, membuat Alex emosi dan melempar Stick Drums-nya dengan kuat.

Draaakkk..!! tangg..!!

"Dasar bodoh! apa yang dilakukan Pak Tua itu selama seminggu ini!" Alex menanggapiku dengan begitu emosi ketika mendengar kabar dari Pak Manager yang aku sampaikan ulang pada Alex dan Berto.

Satu minggu berlalu setelah insident pilu itu terjadi, kami telah berangsur-angsur membaik, bahakan Alex sudah bisa duduk di kursi Drum 'nya, namun sejauh ini Kevin belum juga ditemukan.

"Apa kita yang mencarinya sendiri!" ujar Berto bernada menahan emosi.

"Jangan bodoh!" tegasku bangkit dari duduk, "ingat, terakhir kali kita di sana, apa yang bisa kita lakukan? kita tahu Kevin telah tiada, numun kita hanya terdiam hingga Team SAR datang menolong," tak ada komentar untuk perkataanku.

"Yang bisa kita lakukan saat ini, hanya berharap pada upaya Team SAR yang masih berjuang keras untuk menemukan teman kita," aku menghelakan nafas, merosotkan tubuhku pada sofa dengan telapak tangan menutupi wajahku.

"Mungkin hanya ini yang bisa kita lakukan." ujar Berto melemah.

Dring..!! Dring..!!

"Hallo."

"Kepala SAR ingin bertemu denganmu, Randy"

"Benarkah?" seruku membuat Alex dan Berto mendekat.

"Sebaiknya malam ini kalian tetap di Bastcamps, aku sedang di perjalanan menuju kesana."

"Yha, kami akan menunggumu di sini."

Panggilan berakhir, raut wajah kami nampak berseri-seri. Aku tidak ingin membuat kesimpulan yang negatif sebelum fakta mencuat.

"Semoga saja ia membawa kabar baik," kataku samar.

"Yha, jika orang itu menjalankan tugasnya dengan baik, dan membawa berita baik pula, aku akan berikan hadiah besar padanya."

Aku bersiap mengadakan pertemuan di rungan Bastcamps kami, dengan rasa getir dan berharap. Semoga perwakilan dari Team Penolong membawa berita baik tentang Kevin.

Ting'nung.

Suara bell yang berbunyi mengawali perjumpaanku dengan Pak Manager dan orang di sebelahnya yang bernama Handoko. Ia berbadan tinggi kekar, pandangannya tajam, alisnya tebal meruncing di akhir, ia masih menggunakan seragam dinasnya

Kami duduk hampir membentuk setangah lingkaran, aku dihimpit Alex dan Alberto.

"Sebelumnya, saya ingin memastikan kodisi sikis kalian?" nada berat Pak Handoko.

"Apapun itu, kami akan bersikap tenang." jawabku berkecambuk rasa cemas.

Pandangannya yang menatap kearah kami satu persatu mengawali perkataannya.

"Baiklah," Pak Handoko, memajukan dadanya dan membungkuk, meletakan kedua sikut pada pahanya,
"seperti yang kalian tahu, dari awal pencarian hingga petang ini, sudah banyak memakan waktu kurang lebih satu minggu. Pencarian kami lakukan secara bertahap dan menyeluruh, hari pertama kami menyisir mulai dari bibir jalan dan turun ke badan jurang."

"Terlalu berbelit, aku tidak ingin mendengar percakapan kalian," potong Berto beranjak dari duduk, "tolong pada intinya saja."

"Berto! jaga sikapmu," aku tetap berusaha menyikapinya dengan tenang. meski kedua temanku nampak tidak mampuh jika kabar buruk yang akan kami dengar.

"Maafkan sikap mereka," kataku datar.

"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan sikap seperti itu," jawab Pak Handoko.

"Bisa kita lanjutkan pembicaraan ini, mungkin langsung pada intinya." balasku.

"Saya turut prihatin dengan kejadian yang kalian alami, saya berserta Team telah menyisir semua sudut jurang maupun sungai, namun kami hanya menumukan sepatu milik Kevin, ini kami temukan tepat di tepi akhir badan jurang, di sana hanya ada tebing yang tingginya mecapai 150 meter mengarah ke hilir sungai yang berbatu."

Aku terpaku mendengar apa yang di ucapkannya, mengetahui inti dari perbinjangan ini. Aku seakan lupa cara berkedip, bibir gematar, hatiku terasa tertusuk duri. Aku menutupi bibirku dengan telapak tangan, seketika itu, aku tak lagi bisa menahan butiran air mata yang perlahan membasahi kedua pipiku.

"Semoga air mata ini tidak benar?" lirihku.

"Saya turut berduka, kami telah berusaha semampuhnya, namun berdasarkan analisa Team 'ku, malam itu sungai sedang pasang, akibat hujan deras, kemungkinan jasadnya terbawa arus sungai yang ganas."

"Tiga hari terakhir, kami habiskan untuk menyisir di sepanjang hilir sungai, namun tetap tidak ada tanda-tanda ke beradaan teman anda, kami menyesali itu."

"Besar apa kemukinan jika teman kami mampu bertahan?" gumamku.

"Aku tidak yakin temanmu bisa bertahan, ini pencarian yang begitu rumit, suluit menarik satu kesimpulan yang tepat, jejak telah terhapus sepenuhnya oleh air bercampur tanah."

"Jadi, semua asumsimu tidak ada yang bisa aku jadikan alasan kepergian teman kami?" jawabku.

"Tidak ada yang bisa selamat jika terjatuh dari ketinggian itu, saya tur ..."

"Apa yang kalian lakukan satu minggu ini, berengsek!!" gusar Alex, mendekat dengan wajah penuh emosi, terlihat guratan air mata mengalir di pipinya, "teman kami masih hidup! lakukan pencarian, lagi, lagi, lagi dan lagi, terus mencari ... !!!"

"Alex!!! kendalikan dirimu," nadaku meninggi.

"Kendalikan? kau bilang kendalikan?" kerutan di atas hidungnya jelas terlihat, ia menatapku begitu tajam, tak pernah sebelumnya ia memperlihatkan ekspesi ini padaku.

"Kendalikan dirimu kawan, kita harus bisa menerimanya dengan lapang dada," aku mencoba melerai amarahnya.

"Berto, bawa Alex ke dalam, tenangan dia," Berto memapahnya kembali kedalam ruangan.

"Intinya, teman kami tewas?" tegasku.

Kepala Penyelamat hanya menganguk samar.

"Saya turut prihatin atas semua ini, saya rasa telah cukup, saya mohon pamit undur diri," ujar Pak Handoko, berdiri dari duduknya.

"Terima kasih," aku tak menoleh sedikit pun kearahnya, wajahku tertunduk ditengah kedua lenganku,
"tolong antar dia, Pak Menager!"

Sekejap ruangan dipenuhi rasa duka yang menyelimuti kami.
Sudah lama aku tidak merasakan dinginnya air mata, tak 'ku sangka, pemicunya dari teman terbaikku.

***
Kabar duka tersebar luas di semua berita yang meliput upacara pemakaman Kevin yang kini sedang berlangsung pada sebuah TPU.

Desir angin berhembus kencang, menerpa pepohonan yang berada tepat di bawah kami.
Aku, Alex dan Berto, tengah berada di bibir jurang di mana terakhir kali kami bersama dengan Kevin, dalam suatu kejadian yang merenggut nyawanya.

Meski tiga bulan telah berlalu, jeritaan pilu, masih tersirat jelas dalam bendak 'ku. Sepertinya kami bukan orang pertama yang meletakan setangkai mawar merah di tempat ini, mungkin penggemar Kevin telah lebih dulu melakukannya, banyak sekali bunga yang telah layu termakan waktu, berceceran di sepanjang tanah yang curam ini.

Maafkan aku kawan, jika tak bisa berbuat banyak untukmu, semoga kau tenang di alam sana.

Bunga mawar yang melayang, mengakhiri kunjungan kami, kaca mata hitam yang aku gunakan, tak mampuh menyembunyikan air mata yang mengalir dibaliknya.

"Mengapa kita tidak menghadiri pemakaman yang sedang berlangsung?" ujar Berto, aku tersenyum dalam duka yang mendalam.

"Tidak perlu, tidak pantas makam tak berjenaza itu menjadi tempat untuk meneteskan air mata,"

"Yha, kau benar Randy, tempat yang paling pantas, di sini."

Aku menatap mengarah ke langit yang biru, membayangkan apa yang akan kami lakukan tanpa dirinya.

***
Next Page 👇

📢 Selama masih ada Komentar dan Vote cerita akan aku update setiap minggunya. Terimaksih untuk dukungannya.


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di