alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Menertawakan Pesan Pak Dosen
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8b5aaefacb953c6c6d91e2/menertawakan-pesan-pak-dosen

Menertawakan Pesan Pak Dosen

emoticon-I Love Indonesia



Kata ibu, “Perempuan itu perlu dijaga kalau pergi kemana-mana. Biar aman, jadi bisa bebas mau jalan-jalan kemana saja... Boleh...” Kalimat itu kini berdenging di kepalaku, seperti riuh – rendah.

Aku sedang duduk di pinggir kasur berseprai ungu di dalam kamarku. Kepalaku tertunduk mengamati lantai yang kosong.
Sementara bapak menambahkan, “Nah, katanya mau jalan-jalan keluar negeri?” Tidak mungkin aku perlu menimbang-nimbang jawaban untuk pertanyaan bapak barusan.
Sebelum bapak menambahkan lagi perkataannya, aku segera menyahut “Mau.. Mau...” dengan mata membulat, alis terangkat tanda semangat.

Meski usiaku sekarang bukan usia anak kecil lagi, aku bisa jadi berekspresi layaknya anak kecil tujuh – depalan tahunan kalau menyangkut rencana-rencana hebatku.

Begitu tabiatku kalau mengenai rencana-rencana, cita-cita di depan mata. Aku pernah tersadarkan oleh ungkapan dosen dan setelahnya, aku jadi merasa aneh. Aku menjadi bermisi.

Kata salah seorang dosen yang mengajar mata kuliah bahasa Inggris di kelasku dulu, “Cita-cita itu harus jelas. Tidak boleh abstrak. Kalau anak kecil ditanya, cita-citanya apa? Dia akan menjawab dengan konkrit. Mau jadi dokter. Mau jadi presiden. Mau jadi pilot. Jadi pesepak bola...”, dilanjutkan lagi sambil menyorot aku dan teman-temanku dengan tatapan mendelik, “Kalau mahasiswa lain jawabannya... Ada seorang mahasiswa ditanya cita-citanya, mahasiswa itu menjawab, membahagiakan orang tua.”

Teman-teman satu ruang kelas dan aku tertawa serentak begitu mengerti isi ungkapan pak dosen.
“Atau jangan-jangan aku juga bercita-cita sama seperti si mahasiswa itu, membahagiakan orang tua....” batinku menyelidiki diri sendiri. Barangkali akupun begitu.

“Lucu sekali, tak terfikirkan olehku terlebih dahulu...” aku tertawa lagi menyadari itu.

Langit-langit ruang kelas masih dihiasi suara tawa dan ekspresi percaya tak percaya kami selaku mahasiswa – mahasiswi.

Pak dosen melanjutkan, “Membahagiakan orang tua dengan cara bagaimana? Pokoknya membahagiakan orang tua sajalah...” pak dosen ingin melanjutkan menerangkan pesan yang hendak diutarakan kepadaku dan teman-temanku.

“Mestinya jelas, konkrit caranya dengan apa untuk membahagiakan orang tuanya.” terang pak dosen mencerahkan fikiran yang dangkal diantara mahasiswa – mahasiswi di hadapannya, termasuk aku.

Kini aku sedang duduk lesu masih di tepi ranjangku. Cahaya mentari masuk menerobos kaca-kaca blok yang disusun di dinding.
Kuingat sebulan yang lalu ibu dan bapak berkata tentang berkunjung keluar negeri, tidak ada larangan, aku bisa melakukannya dengan merdeka, bersama pendamping.

Kata yang terakhir itu dulu tidak kutangkap maksudnya.

Aku terbawa oleh kebebasan yang ditawarkan ibu dan bapak. Lantas girang, bersemangat penuh menjalani hari-hari setelah obrolan itu.
Tak dapat kutangkap pesan yang lain dari kata-kata ibu dan bapak, karena bagiku pesan mereka hanya “Kamu boleh berkunjung ke negara pilihanmu, Titi.”

Angin menerobos paksa memasuki kamarku lewat pintu yang kubiarkan terbuka.

“Ti, yuk makan dulu. Ibu sudah lengkapi dengan kerupuk setoples, nih... Tadi katanya tidak mau makan kalau tanpa kerupuk.” suara ibu dari luar pintu kamar mengganggu tatap kosongku atas lantai.

“Apakah pendamping yang dimaksud sesungguhnya macam seorang body guard?”

Dugaan itu pernah melintas sebentar dalam benakku, sebelum kumengetahui maksud ibu dan bapak.

Terkadang kenyataan bisa sesuai dengan keinginan, tetapi tak jarang kenyataan tak sejalan dengan keinginan. Sehingga membuatku tertawa.

***


Aku merindukanmu.

Kini aku sedang makan bersama ibu, bapak, dan adik-adikku di ruang tengah. Tidak ada meja makan dan deretan kursinya di ruang makan bersama ini. Keluarga ini biasanya makan bersama, duduk di lantai, supaya luwes. Sebagai sulung aku suka bercerita pengalaman-pengalaman, saling bertanya tentang hari ini, dan menerima pesan semangat, nasihat, dan informasi dari ibu juga bapak seusai makan.
Kalau berbicara saat makan, repot urusannya.

Seperti pengalaman teman sekolah adikku yang diceritakannya sebagai contoh.

Waktu itu jam istirahat pertama di sekolahnya. Nama adikku itu Nivia, teman-temannya Nada, Sari, dan Diva. Mereka berempat pergi ke kantin dan makan di meja yang sama. Pada saat mengunyah, yang bernama Nada sambil mulutnya berbicara kepada tiga teman lainnya. Tiba-tiba Nada terbatuk-batuk, sampai menyemprotkan makanan dalam mulutnya keluar. Rupanya dia tersedak nasi goreng pesanannya. Pada akhirnya, ibu kantin mengantarkan air putih dalam teko plastik dan menyuruh Nada minum untuk menolongnya. Meski Nada sudah selesai dengan batuk tersedaknya, tenggorokan dan hidungnya terasa sakit.

Itulah sebabnya, adikku biasanya mengingatkan siapapun saat makan bersamanya untuk makan tidak sambil berbicara.
Dia mengerti bahaya akibatnya.
Aku mengambil seporsi nasi dan empat sendok sayur berdaun yang amat kukenal. Itu adalah daun bayam.
Aku makan bersama ibu dan Nivia saja. Bapak makan siang di kantor di jam makan siang begini.

“Apa aku bisa?” tanyaku ada diri sendiri setelah membersihkan dan merapikan peralatan makan siang. Aku memilih bersembunyi di kamar, adikku di ruang depan sedang menonton kartun Jepang berbahasa Indonesia. Aku juga pernah menyusun rencana impian berkunjung ke Jepang.

Kalau dibilang, itu bukanlah impian yang berlebihan, angan-anganku belakan. Tidak, aku bisa saja membeli tiket dan segera terbang. Hasil kerjaku kebanyakan kutabung daripada kugunakan berbelanja.

Jadilah tinggal urusan perijinan dengan ibu dan bapak yang utama. Pergi bersama pendamping. Bisa jadi teman perempuan, saudara, atau siapapun yang pantas menurut kedua orang tuaku. Sayang, aku tak lolos persyaratan utama itu.

Aku pernah menguhubungi teman dekat sejak di Sekolah Menengah hingga kuliah untuk mengajaknya menemaniku, “Aku mau ikut, asal dibayarkan...” itu sahutan Ino ketika aku mengajaknya.

“Hah? Yang benar saja...” aku hanya bisa mengeluh.

“Tidak bisakah dia mengeluarkan uangnya sendiri untuk menolongku kali ini?” aku mengeluh dalam-dalam. Jawabannya kusimpulkan sendiri. Tidak.

Setidaknya, untuk bisa mengunjungi negeri Sakura itu, butuh beberapa tiket penerbangan dalam sekali pulang – pergi.
Aku mengerti, mengajak Ivo menemaniku berkunjung ke sana itu tak akan berhasil. Tak apa. Aku hanya berusaha.
Di lain waktu, aku berinisiatif mengajak rekan kerjaku yang sudah biasa melakukan perjalanan keluar negeri. Aku pertimbangkan, aku membutuhkan teman perjalanan yang lebih tahu daripada aku.

Sayang, sebelum dia kutanyakan ‘bisa atau tidak’, dia lebih dulu menyayangkan kesempatan yang kutawarkan padanya. Bukan soal biaya tiket atau biaya makan. Kali ini, karena anaknya rekan kerjaku itu sudah masuk Taman Kanak-Kanak.

Dia menjelaskan bahwa dia akan mengurangi perjalanan keluar negeri maupun keluar kota yang mengharuskan tinggal di sana, karena anak lelaki pertamanya harus bersekolah.

Alasan itu membuatku kehabisan ide dan hanya melanjutkan tugas di kantor sambil terus mempertimbangkan siapapun yang kukenal dan pantas atau tidak jadi rekan dalam perjalanan ke negeri sakura.

Aku belum menemukan rekan perjalanan yang sesuai.

Kini aku membaringkan tubuh setelah sekitar satu jam perut kenyang cocok diajak berbaring.

Aku belum juga menemukan rekan perjalanan yang sesuai hingga detik ini. Aku sempat membujuk ibu, “Bu, kalau ibu maukah menemai aku ke Jepang?”
***

Pernahkah kalian menertawakan pesan dosen atau guru kalian serupa kisah di atas?

Bagaimana ceritanya?
Diubah oleh Missmuj12
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di