alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
2.250 Profesor tak lakukan riset dan publikasi
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8b4509a727681e6405f7d8/2250-profesor-tak-lakukan-riset-dan-publikasi

2.250 Profesor tak lakukan riset dan publikasi

2.250 Profesor tak lakukan riset dan publikasi
Menristekdikti Mohamad Nasir di Aula Barat Kampus ITB dalam rangkaian kunjungan kerja di Bandung, Jawa Barat, Jumat (1/2/2019). Dalam kunjungan tersebut, Menristekdikti memberi memberikan pandangannya tentang industri riset dan peluang usaha.
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI Mohammad Nasir mengungkapkan masih banyak profesor di sejumlah universitas di Indonesia tidak melakukan riset dan publikasi.

"Profesor tentu harus lakukan riset serta publikasi, jangan hanya menikmati tunjangan kehormatan saja," ungkap Nasir dia di Padang, Rabu (13/3/2019) seperti dinukil Antaranews.com.

Jumlah profesor di Indonesia sebut Nasir, saat ini sebanyak 5.500 orang, sedangkan yang melakukan riset dan publikasi karya mereka hanya sekitar 2.250 orang. Menurutnya, angka ini masih terlalu sedikit dan Kemristekdikti terus mendorong seluruh profesor melakukan publikasi.

"Kita terus dorong agar profesor di kampus untuk publikasi karena itu merupakan kewajiban mereka," tukasnya.

Pada akhir 2019 nanti, Nasir berharap jumlah publikasi profesor meningkat bahkan menyamai jumlah guru besar yang ada di Indonesia. "Kami baru akan melakukan evaluasi kembali pada akhir 2019 nanti, mungkin saja jumlah ini dapat berubah signifikan," tegasnya.

Menilik data Kemristekdikti yang diolah tim Lokadata Beritagar.id, jumlah profesor di Indonesia tahun 2018 mencapai 5.576 orang meningkat dua persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah profesor ini terus mengalami peningkatan sejak tahun 2013 hingga tahun 2018.
Kalah dibanding Malaysia
Kendati mengapresiasi jumlah publikasi yang dilakukan dosen di setiap kampus yang terbilang meningkat pesat. Namun Menristekdikti Mohammad Nasir mengakui jumlah riset belum mampu bersaing dengan Malaysia dan Thailand, kendati demikian kini jumlah riset yang dihasilkan hampir menyamai.

Nasir menambahkan, dosen yang saat ini paling banyak melakukan publikasi adalah mereka dengan jabatan lektor dan asisten ahli dan saat ini jumlah riset yang muncul mencapai 31.850 publikasi sementara Malaysia saat ini jumlah publikasinya mencapai sekitar 38.770 publikasi.

"Ini sebuah lompatan yang besar karena dosen terus melakukan publikasi dan berdampak langsung pada pendidikan kita dan banyak ilmu pengetahuan baru yang bermunculan," tegasnya.

Pada tahun 2016, menurut data Kemristekdikti, dari 5.216 guru besar (profesor) di Indonesia, sebanyak 1.132 orang sudah melakukan publikasi terindeks scopus--pangkalan data pustaka yang mengandung abstrak dan sitiran artikel jurnal akademik.

Jumlah publikasi terindeks scopus tahun 2016 itu meningkat 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, berarti ada 4.084 profesor, atau 78,3 persen, yang publikasinya tidak terindeks scopus.

Hingga saat ini Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti belum menjatuhkan sanksi kepada profesor yang tidak lolos publikasi sesuai syarat yang tercantum dalam Permenristekdikti Nomor 20/2017.

Direktur Jenderal SDID Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, mengatakan sanksi berupa penghentian tunjangan kehormatan akan berlaku pada November 2019 jika para profesor tidak mampu menghasilkan karya ilmiah yang terpublikasi di jurnal internasional scopus.

Sesuai dengan Permenristekdikti nomor 20/2017, dalam dua tahun, semua profesor minimal wajib mempublikasikan satu jurnal ilmiah internasional.

“Profesor itu bukan gelar, tapi jabatan akademik di mana yang bersangkutan menjadi dosen. Sehingga wajib melaksanakan tugas (membuat jurnal ilmiah internasional). Kami sedang mengevaluasi efisiensi dari Permenristekdikti 20/2017," kata Ghufron.

Gufron menegaskan, produktivitas profesor Indonesia masih kalah dari para profesor Malaysia. Hal tersebut terjadi karena seorang profesor dalam negeri hanya mengalokasikan 30 persen waktu akademiknya untuk melakukan penelitian.

"Kendala lain adalah sebelum adanya Permenristekdikti tersebut, para profesor tidak mendapatkan sanksi apa-apa jika tak membuat jurnal internasional," pungkasnya.
2.250 Profesor tak lakukan riset dan publikasi


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...-dan-publikasi

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- 2.250 Profesor tak lakukan riset dan publikasi Swasembada daging: Makanlah sate dan burger rusa

- 2.250 Profesor tak lakukan riset dan publikasi Kompetensi Teluk Balikpapan perlu ditingkatkan

- 2.250 Profesor tak lakukan riset dan publikasi Pulau Jawa dominasi kemudahan bisnis di daerah

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di