alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Rumah Terbengkalai (True Story)
5 stars - based on 6 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c8b2d0709b5ca16c40401cc/rumah-terbengkalai-true-story

Rumah Terbengkalai (True Story)

Rumah Terbengkalai (True Story)Hai, Readers.
Saya punya cerita yang mungkin menarik untuk kalian baca, kisah ini saya angkat dari kejadian nyata yang saya alami sendiri.

Sebelumnya saya minta maaf jika ada kesalahan dalam Post saya, dan maaf kalau updatenya lama. karena butuh Revisi lagi untuk menyesuaikan post.

Untuk Versi ter-update dan cerita lengkap bisa cek di sini: Rumah Terbengkalai
----------------------------------------------------------------
Index On Kaskus (Progres)

1. Prolog
2. Perkenalan
3. Rumah Tua Part 1
4. Rumah Tua Part 2
5. Malam Pertama Part 1
6. Malam Pertama Part 2
7. Interaksi Astral Part 1
8. Interaksi Astral Part 2
9. Malam Penuh Cemas Part 1
10. Malam Penuh Cemas Part 2
11. Malam Penuh Cemas Part 3
12. Malam Penuh Cemas Part 4
13. Menguji Mental Part 1
14. Menguji Mental Part 2
15. Menguji Mental Part 3
16. Aku Kembali New Update.

>>> On Going Progres Perpindahan Post: Sabar ya gan.. emoticon-Embarrassmentemoticon-Embarrassment
Maaf kalau dibagi menjadi "Part" karena menghindari jenuh baca dan panjang pada Reply Thread.
----------------------------------------------------------------
Quote:
Diubah oleh wedi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2

Prolog

Quote:
Diubah oleh wedi

Perkenalan

Berikut perkenalan Cast yang diperankan langsung oleh orang-orang yang terlibat kuat dalam rumah angker Loji. Tapi mohon maaf jika di sini saya tidak bisa Upload Rumah dan Orang yang terlibat. Jika ingin lengkap silahkan menuju link di atas.

*****
Nb# Foto dan nama telah mendapat izin dari pemiliknya.

Nama: Deni S
Umur: 25 tahun.
Tinggi badan: 160cm.
Perkerjaan: IT Support.
Ia lahir di Kota Bogor, pada umur 6 tahun ia pindah ke rumah barunya yang berada di Cilebut Bogor.

Nama: Ardan.
Usa: 25.
Tinggi badan: 160cm.
Perkerjaan: None (tidak tau pekerjaan apa yang ia lalukan sekarang)
Tempat lahir di Bogor.

Nama: Arif.
Usia: 25 Tahun.
Pekerjaan: Kariawan Bank.
Tempat lahir: Di Bogor.
ia tinggal di Gg. Rantai Bogor, memiliki kakak bernama Yudi.

Nama: Alvien
Usia: 25 tahun
Pekerjaan: Koki Lestoran
Ia lahir di Bandung namum sejak kecil ia tinggal di Gg. Rantai Bogor. lumayan jauh dengan rumah Arif dan Ardan.
Diubah oleh wedi

Rumah Tua

Tahun 2004 tepatnya di bulan Juni. Aku sedang berada di Bandung, tinggal disuatu rumah bersama Arif, karena kami duduk di bangku SMA yang sama.

Rumah yang aku huni bersama Arif ini cukup mewah, dengan bangunan berlantai lima, yang berfasilitas lengkap pada setiap lantainya.

Arif memiliki seorang Kaka pria yang berusia 32 Tahun bernama Yudi, saat kecil Yudi dibesarkan oleh Ibuku, hingga kini ia menganggapku sudah seperti adiknya sendiri, karena ini-lah aku dan Arif satu perguruan dan tinggal bersama.

Yudi kini menjalankan bisnis batu bara yang terbilang sangat sukses, di garasi rumah ini pun terparkir rapi empat buah motor dan dua unit mobil Honda Jezz berwarna biru dan putih yang siap kami gunakan untuk keperluan sehari-hari.

Kini Yudi sedang berambisi untuk membangun rumah pada daerah yang menurutnya cocok, apa lagi jika ia melihat tanah luas dengan harga murah pasti pantang pulang sebelum membelinya, hingga kini ia sudah memiliki 4 rumah yang berlokasi berbeda ya itu; Bandung, Sabi Banten, Pandeglang Banten, dan Bogor.

Pukul 15:45 pada hari minggu aku berada di lantai tiga. Ruangan ini mirip BAR Mini, di sini biasanya aku menghabiskan waktu jenuh untuk bermain Billiard bersama Arif.

Cetar!! Brek!! Brek!!
Bola billiard yang saling beradu memecah kesunyian pada ruangan, dengan tubuh membungkuk, pandangan tajam membidik ujung stick, Arif mendorong kuat bola putihnya.

Kring..!! kring..!! Aku menoleh ke arah handphone yang terletak pada sebuah bangku tidak jauh dari tempat aku berdiri di sisi meja billiard.

"Hmm, ganggu ajalah." gusarku mengambil handphone.
Oh, dari bang Yudi
"Hallo, Bang."
('Bang' panggilan dari 'Babang' artinya sama seperti 'kaka' )

"Den, Babang lagi di jalan, mungkin jam empat Babang sampai di sana, kalian siap-siap ya, kita pulang hari ini." kata Yudi terdengan hening di sekitarnya, mungkin dia sedang berada di dalam mobil.

"Oke, oke. Emang ada apa Bang, dadakan banget ngajak pulangnya?" tanyaku sedikit penasaran.

"Babang mau beli rumah di daerah Bogor, Loji," jawab Bang Yudi singkat.

"Loji, Bang?" aku mengkerutkan kedua halis, meliri kesegala arah.

"Iya Den Loji, nanti deh tahu, ya sudah tunggu Babang sampai sana, ga lama lagi kok," jawab Bang Yudi dengan mengakhiri percakapan kami.

Aku menoleh ke arah Arif yang sedang bermain Billiard seorang diri.
"Oe, Rif, ga jadi kita ke rumah Anis, kita disuruh balik, Babang mau beli rumah lagl," aku duduk menyandar pada meja billiard dengan handphone yang masih di genggamanku.

"Jiah, mana gua udah janji mau ke rumahnya, lagi tuh orang gak pernah puas beli rumah terus, bukan yang ada dibagusin dulu," jawab Arif yang sedikit jengkel, ia menaruh stick billiardnya ke atas meja dengan keras.

"Biarin aja-lah Rif, mungkin bisnisnya lagi bagus, lagi pula kalau rumah bisa menjadi investasi juga untuk di kemudian hari," jawabku beranjak untuk mempersiapkan diri.

Aku melirik jam dingding, yang menunjukan sudah hampir jam empat, kami harus segera bergegas sebelum Bang Yudi tiba sesaat lagi, karena Yudi bukan type orang yang penyabar, tidak bisa mengimbangi waktu saat bersamanya, maka akan membuat kacau situasi.

"Bip.. bip.." terdengan samar dari arah depan rumah suara kelakson mobil beberapa kali.

Aku menghampiri jendela yang ada di kamarku, dan membuka sedikit celah pada korden yang mehalangi, terlihat sebuah mobil Hondo Jezz biru sedang memasuki lahan parkir dengan lambat. Menyadari Yudi telah tiba, aku meraih tas selempang yang tergeletak di atas kasur dan bergegas keluar dari kamarku.

Aku sempatkan berhenti di depan kamar Arif yang masih tertutup rapat,
"Rif, si Babang udah datang," teriakku memberi tahu Arif yang masih bersiap di kamarnya lalu berjalan menghapiri pintu depan.

Dengan tas selempang yang melintang pada pada jacket merah muda ber-resleting terbuka dan celana levis hitam pensil yang sedikit melancip hingga sepatu putihku, kini aku siap untuk berpergian.

Wwuuss...!
Seketika pintu terbuka terasa udara panas bercampur debu menabrak halus rambutku, memang sudah berapa hari ini di Bandung tidak diguyur hujan, tak heran rumah yang berada tidak jauh dari jalan raya akan mendapatkan hadiah berupa debu pada musim panas.

"Den, si Arif mana?" kata Bang Yudi dengan nada sedikit keras, ia terlihat sangat rapi, hanya berdiri di samping pintu mobil yang masih dalam keadaan menyala dan menoleh ke arahku, aku berjalan tepat di belakang mobilnya, dengan lengan kiri melintang di atas keningku menahan panasnya sinar mata hari .

"Lagi siap-siap Bang, bentar lagi juga beres," jawabku dengan nada sedikit keras.

Aku membuka pintu mobil lalu duduk di kuris depan dan menutup pintu kembali, Yudi kembali ke dalam ia nampak sangat sibuk dengan jari yang terus beradu pada keypad handphone-nya.

"Bang, Loji daerah mananya?" tanyaku, karena setahu'ku di dareh Loji masih jarang rumah, bahkan terbilang masih banyak pohon rimbun dan lahan kosong yang tak jelas pengurusnya.

Sekilas Yudi mengangkat dagunya menoleh ke araku dengan mata yang masih tertuju pada layar handphone-nya,
"iya di Loji Den, ada satu rumah yang lahannya lumayan luas, yang punya hanya Kakek dan Nenek," jawab Yudi kembali berpaling pada layar handphonenya.

Aku hanya menaikan alis, menoleh ke belakang, "Oh."

Tak lama pintu mobil terbuka terlihat Arif yang baru tiba lantas duduk di kursi belakang,
"sory, nunggu lama, nyari jam tanggan lupa naruhnya," katanya sambil nyengir kuda.

"Oh ya, Rif, itu di dalam koper uang buat bayar rumah, jangan kau buka, soalnya tidak direkat," jawab Bang Yudi, menaruh handphone miliknya di dasbord dan mulai bersiap mengemudikan mobilnya. Menghindari Death Time, kami berjalan dengan mendengarkan musik dan mulai melaju ke tempat yang kami tuju.

***

Kurang lebih jam 19:00 WIB kami baru keluar dari pintu Tol Ciawi, pinggangku terasa kaku menahan letih dalam perjalan, nampak Yudi sedang berfokus mengemudikan kendaraannya, sesekali dia bergumam akbiat situasi jalan yang begitu padat.

"Den, panggil teman yang lain untuk menemani kalian di rumah yang baru nanti," kata Bang Yudi melirik sesaat padaku.

Aku menoleh ke arah belakang dengan senyum kecil menyeringai,
"Rif, Telp yang lain, gue lupa ngisi pulsa," Arif menurunkan bibirnya dan menaikan alis mengeluarkan handphone di sakunya.

Dua jam telah berlalu setelah kami berhasil keluar dari kemacetan yang lumayan parah, kendaraan kami terasa berguncang memasuki jalan yang masih berbatu kerikil dan sangat berlubang, jarak pandang kami sangat terbatas, karena tidak adanya lampu pada bahu jalan, suara serangga malam terdengar sangat ricuh, hanya ada satu cahaya yang bersumber dari lampu mobil yang kami kendarai.

Mataku tak henti berkeliling melihat keadaan sektiar jalan dari balik jendela. Entah perasaan cemas atau karena masih asing dengan tempat ini, namun aku merasa sangat tidak nyaman melihat pemandangan di sekitar Loji, terlalu banyak pohon rimbun dan tanaman liar yang menghimpit bibir jalan, hanya bebarapa rumah saja yang terlihat, itu pun berada tidak jauh dari persimpangan jalan raya.

Pada akhirnya mobil pun menepi, aku menoleh ke arah kanan dan nampak rumah yang terlihat sangat usang dan tua, bahkan genting pada bagian depannya sudah tidak tersusun dengan rapih seperti akan terjatuh, pagar besi coklat yang melintang membatasi perkarangan yang dipenuhi tanaman liar di depan rumah. Namun di sisi kanan terdapat rumah ber-cat putih berpagar besi dengan tembok kokoh pada perkarangan yang gelap tanpa cahaya lengkap dengan pohon yang rimbun dan besar, entah rumah itu berpenghuni atau tidak.

Aku melepas sabuk pengaman yang melintang pada dadaku dan segera beranjak, Yudi sudah mulai keluar dan menutup pintu mobilnya.

Wusss!
seketika terasa hembusan angin yang menerpa kulitku, kupingku terasa berdenging, sungguh sunyi di sini, hanya ada suara ranting pohon yang saling bergesekan terhempas kencangnya angin malam.

Aku melirik jam yang milingkar pada lenganku, waktu tepat menunjukan pukul 8 malam namun di sini sudah sangat sunyi, tak nampak seorang pun yang berlalu-lalang di sini.

Arif yang menyusul kami berdiri tepat di sisi kananku, "tempatnya kaya gini? ga salah pilih rumah?" ujar Arif yang menatap kesekitar.

"Jangan liat rumahnya, liat lahannya dong, mantap," jawab Yudi dengan wibawa dan percaya diri.

Tak ingin membuang waktu lama, kami mulai berjalan mendekati pintu pagar yang berkarat dan rapuh yang membatasi ruang dalam dan luar.

Drakk..!! drakk..!! drakk..!!

Yudi mengetuk pagar besi dengan ujung kunci mobilnya, karena jarak dari pagar ke pintu lumayan jauh sekita 20 meter. Cukup lama kami mengtuk, hingga akhirnya terdengar suara hentak kunci yang diiringin pintu tua bergaya belanda itu perlahan nampak terbuka.

Terlihat seorang wanita tua dengan konde bertusuk ekor bangau berwarna kuning emas berjalan menghapiri kami dengan langkah tertatih-tatih, perkiraan usianya mungkin 78 tahun, dengan tubuh membungkuk, kebaya putih bercorak bunga, bersarung kain batik hingga tumitnya yang berwarna coklat bercorak hitam.

"Maaf Jang, nunggu lama ya, maklum, nenek sudah tidak bisa gesit," ujar Nenek dengan nada berat, ia sedang mencoba membuka ikatan tambang pada pagar berkarat dihadapan kami. Takut tidak akan kuat sang nenek menahan pagar besi yang sudah doyong ini, aku lantas membantu menahanya.

"Nuhun Jang," jawab sang nenek tersenyum, aku menggeser pagar dengan hati-hati, karana memang kodisinya yang sudah berkarat dan rapuh.

"Nek, si Andre udah ke sini?" tanya halus Yudi yang berada di depanku.

"Dari pagi nenek belum liat dia Jang, kemarin malam dia bilang kalau ada yang mau melihat rumah," jawab nenek sambil mempersilahkan kami masuk.

Arif yang berjalan bersamaku, tak henti melirik kesegala arah, entah apa yang ia rasakan tapi dari caranya memandang justru membuatku semakin tidak nyaman berada di sini.

"Sssttt. Rif, kenapa?" tanyaku berbisik, mengangukkan kepala.

"Ti..tidak apa-apa den," jawabnya terdengar ragu.
Diubah oleh wedi

Rumah Tua Part 2

Hilir suara daun dan dahan yang saling bergesekan terdengar mengiringi angin yang berhembus cukup kencang, bau dari aroma bakaran yang tidak jelas kadang terendus samar di hidungku.

Sepanjang kami menyusuri perkarangan rumah hanya gelap tanpa ada cahaya lampu yang menerangi jalan sedikit berbatu ini, cahaya satu-satunya hanya ada di teras depan rumah, itu pun tidak begitu terang, cahaya nampak kuning dan redup.

"Silahkan duduk dulu, Nenek mau buat minum untuk kalian, nanti Kakek yang menemani kalian di sini," dengan senyum mata tertutup, nenek itu kembali masuk ke dalam rumah. Aku dan Arif duduk pada bangku yang terbuat dari anyaman bambu, dan Yudi duduk dihadapan kami pada tembok teras yang memagar.

"Bang!" tegur Arif, Yudi menoleh ke arahnya, "yakin mau beli ini rumah?"

"Yakin dong, nantikan mau dibangun ulang," Yudi mengedarkan padangan ke langit-langit rumah, "bangunan tua ini akan digusur, kita hanya mengambil tanahnya saja," tambah Yudi membentangan lengan kirinya menunjuk rumah dengan setengah lingkaran.

"Biar pun dibangun ulang, tetap aja terpencil, tidak akan berubah kondisi luar rumah," saut Arif menatap sisi luar rumah yang masih ditumbuhi ilalang tinggi dan pepohonan pisang.

Treeeeek!!!
pandangan kami teralihkan oleh suara pintu yang terbuka. Terlihat seorang kakek tua, yang mengenakan baju kameja batik, dan sarung yang menjadi bawahannya, berjalan perlahan melewati pintu, dengan tongkat yang membatunya berjalan.

"Kakek lupa, kakek lupa, sudah lama di sini ramai, seperti ini Cu," gumamnya menggelengkan kepala, dengan suara setengah tertawa. (Cu, singkatan dari Cucu.)

Entahlah apa yang dimaksudkan kakek ini, aku dan Arif saling bertukar panda, karena tidak mengerti apa yang dimaksud kakek ini, cuma satu pikiranku: Mungkin dia sudah pikun.

Yudi yang beranjak dari duduknya untuk bersalaman dengan sang-Kake,
"saya Yudi, yang kamarin datang dengan anak Kakek ke sini."

Kakek itu lalu duduk di balai kayu yang sesajar dengan kami, aku melirik pada wajah layu dengan kedua mata hampir terpejam lemas, entah mengapa mata kakek ini berkaca-kaca melukiskan kesedihan yang terpendam.

Dengan nafas pendek kakek itu berkata, "Sudah lama Cu?"

"Tidak Kek, kami baru tiba," jawab Yudi nampak sedang mencoba menghubungi seseorang dengan handphone genggamnya.

Aku menyalakan sebatang rokok guna menghilangkan hawa dingin yang begitu terasa di tubuhku, dan berharap bisa merasa lebih tenang. Tak lama sang-Nenek kembali dengan tiga gelas yang dibawanya pada sebuah nampan.

"Minum dulu Nak, nenek buatkan teh hangat," Nenek itu meletakan nampannya pada meja kayu yang berada disisiku.

Selang berapa menit kami menunggu, terlihat suatu cahaya terang memecah kegelapan pada ujung jalan hingga terlihat sebuah mobil Pickup Terbuka melambatkan lajunya untuk parkir tepat disisi mobil kami.

"Andre, sudah datang nak," ujar nenek menatap ke arah mobil tersebut. Kami hanya membalas dengan anggukan kecil.

Nampak samar-samar seorang pria berbadan tinggi tegap, mulai keluar dari dalam mobil dan berjalan melewati pintu pagar. Dengan tas selempang, berpakaian kameja kotak-kotak yang berwarna merah putih dan bercelana levis biru, ia berjalan menghampiri kami.

"Den, Rif, nanti kalian nginap di sini dulu ya, tenang saja, Babang beli rumah sudah beserta isinya."

Pantas saja dia minta kami untuk menghubungi teman yang lain, ternyata suruh nginep sue amat..

"Ya sudah kalian ke dalam gih, istirhat, sudah ada tempat tidur di kamar nomer satu," kata Yudi sambil beranjak dari tempat duduk, untuk menyambut pria yang bernama Andre, aku dan Arif mengikuti perkataan Yudi segera memasuki rumah.

Drapps.. Fuusssh...!!
Sekejap hawa yang berbeda terasa kuat ketika aku menginjakan kaki di dalam rumah tua ini, dingin dan lembab sangat terasa pada telapak kakiku, aku melirik ke segala arah, nampak tembok yang berwarna terbagi dua seperti bendara dengan warna putih dan hijau muda pada bagian bawahnua, disetiap siku pada sudut rumah terlihat retakan tembok yang bermula dari ujung atap hingga lantai yang berkeramik kuning.

Aku menatap pada pintu kamar yang terlihat berwarna hijau muda dengan korden kumuh yang menutpi bagian dalam pintu, membuktikan jika rumah ini tak pernah di renovasi.

"Ehm, ada bebauan apa ini ya," gumam Arif.

"Nah, itu yang lagi gue pikirin, bau apa ini ya," jawabku, mengendus-ngendus udara.

"Entahlah bau apa," singkat jawab Arif.

Pandanganku tertarik pada suatu sudut ruangan,
"Rif, itu apaan ya? kaya bekas kebakar, hangus itu," ujarku menghentikan langkah.

"Mana?"

"Tuh, di pojok tembok," aku menunjuk ke arah sudut yang bekas terbakar.

"Kok, bisa ada di sini ya, bekas bakar apa coba, sampai gosong gini temboknya," jawab Arif. berjongkok memerhatikan tembok yang hangus di delannya.

"Au ah, skip, ga usah dipikirin, ga guna, cari kamar aja buat kita tidur, capek nih," balasku berjalan lemas menuju salah satu kamar.

Aku lantas membuka pintu kamar yang berada di depanku, dan lagi-lagi aku kembali mengendus aroma aneh yang menyengat dari dalam kamar, entah aroma apa itu, tapi aku meyakini bau ini berasal dari tembok yang terkena lembab.

Seiring lampu yang Arif nyalakan, nampak jelas tempat tidur tua yang tertutup korden putih berbolong-bolong halus melintang kokoh di dalam kamar, tempat tidur ini terlihat sudah tua tapi kasur dan bantal di atasnya masih sangat bersih, walau begitu, korden putih yang menutupi seluruh bagian tempat tidur ini cukup membuatku berigidig merasa tidak nyaman melihatnya.

"Beh, baru liat aslinya tempat tidur kaya gini, jaman dulu si iya ngga ada krim anti nyamuk, kita lepas saja kali ya kordennya, serem bangat, coba bayangin di atas kasur lagi ada yang tidur, dengan mata hitam menyala, rambut lebat melilit disekujur tubuhnya," ujar Arif bergurau namun tidak lucu!

"Bongkar aja, udah di beli ini," jawabku meremas korden dan mencoba menariknya.

Sangat Sulit untuk melepas korder yang terpaku kuat pada bagian atas tempat tidur, walau seperti itu kami tetap membongkarnya secara paksa.

"Den, Den.." terdengar nada teriakan Yudi dari depan rumah.
"Ya, apa Bang," jawabku nada keras.
"Temennya udah pada datang nunggu di depan nih."
"Iya bang, suruh masuk aja Bang lagi bongkar korden,"

Terdengar tawa kecil dari teman-temanku bergurau cakap dengan Yud entah apa yang dibicarakan, namun kehadiran mereka sedikit membuatku lebih tenang.

"Woy, diem-diem bae pak bos," ujar Alvien menggertak riang, ia berdiri di depan pintu, diikuti oleh Ardan dan Jainal.

"Akhirnya kalian datang juga, eh bantu lepas ini dong serem vin, tidak cocok dipandang," melihat aku dan Arif kesulitan membuka korden, Alvien dan Ardan mendekat untuk membatu kami.

Bip..!! bip..!!
Terdengar suara kelakson mobil dari depan rumah, diiringi suara gemuruh mobil yang melaju.

"Oe, Babang sudah pergi?" ujarku dengan tangan menarik korden.

"Sudah, tinggal kita aja yang ada di rumah ini," jawab Jainal yang berada di luar kamar.

"Beli bohlam yang lebih terang, dari pada kaya gini kuning dan suram," ujar Ardan menatap ke langit-langit.

"Beli nih, sekalian beli makanan ringan, Rokok, Kopi dan air mineral," sambut Arif.

"Sekalian perlengkapan mandi Dan," tambahku.

"Biar aku yang beli sini," Jainal mengambil uang yang disodorkan Arif lalu pergi.

"Nah, akhirnya copot juga ini korden," seru Arif, yang lantas merobohkan diri berbaring di atas kasur berseprai putih yang terlihat masih empuk.

Aku yang masih penasaran dengan seisi rumah ini lantas berjalan ke luar kamar untuk melihat-lihat. Ruang tamu yang kosong tanpa ada barang satupun, nampak langit-langitnya yang telah di penuhi bolong dan bernoda kuning seperti bekas bocor, banyak retakan pada dingding rumah, cat-nya pun banyak yang telah terkelupas.

Betapa suramnya rumah ini, tapi tidak masalah, pada akhirnya bangunan tua ini akan lenyap juga.

Next Episode:
Di pending dulu ya gan.. karena banyaknya kata yang harus disesuikan dengan Treads disini..

Untuk yang tidak sabar, bisa kunjungi: https://my.w.tt/b9XCd1Yj4U
ditunggu lanjutannya.....
Quote:


siap gan, on progres emoticon-Big Grin

Malam Pertama Part 1

Malam ini tepatnya jam 21:00 kami sudah berada di rumah Loji, baru saja Yudi pergi beserta Kake dan Nenek bersama anaknya yang bernama Andre, aku dan Arif yang hendak istirahat lantas membersihkan satu kamar yang terdapat tempat tidur tua yang masih layak untuk digunakan, di saat kami sibuk membersihkan kamar, Alvien, Ardan dan Jainal tiba menyusul kami.

"Den," aku menoleh ke arah Ardan "rumah ini udah dibeli sama bang Yudi bukan?"

"Ya, begitulah, kenapa memang dan?," jawabku sambil berjalan-jalan melihat ke segala penjuru di dalam rumah tua ini.

"Oe, Dan temani aku yuk, cek belakang rumah," Ardan merespown perkataanku dengan mengangkukan kepalanya.

Langkah demi langkah aku berjalan menyusuri setiap ruang di dalam rumah tua ini, pandangku yang melirik ke setiap sudut menyisir setiap tembok yang dipenuh dengan debu bercampur jaring laba-laba, memang tidak ada yang spesial di dalam bangunan kosong ini, keramik kuning yang dingin dan lembab mewarnai lantai disepanjang ruang.

Aku baru melewati sekat tembok yang memisahkan ruang tamu dan ruang makan, terdapat meja berbentuk bundar yang terbuat dari jati berwarna coklat berada tepat di tengah ruangan, dan dibalik sekat tembok terdapat lemari yang kokoh dengan lebar kurang lebih satu meter setengah berwarna coklat pekat dihiasi cermin bersegi empat yang hampir menutupi bagian pintu yang terbagi menjadi dua.

"Den, ada kamar lagi," ucap Ardan sambil menarik lengan bajuku memperlihatkan suatu kamar yang masih tertutup rapat.

Aku tidak begitu tertarik dengan kamar yang Ardan tunjukan padaku, namun tidak ada salahnya jika aku melihat isi dari kamar itu, mengingat jumlah kami yang tidak akan cukup dengan hanya satu kamar.

"Buka saja Dan, untuk kamar tidur kau dan alvien, semoga saja ada tempat tidur di dalam sana, " jawabku.

"Kreeeekkk..." pintu putih tua bergaya khas belanda yang terbuka dengan perlahan membawa cahaya luar masuk menerangi ruangan gelap yang bersembunyi dibalik pintu, udara dingin yang berasal dari dalam terasa menerpa tubuhku seketika, disertai dengan aroma aneh yang kembali aku hirup.

"Widih, gelap amat ini," celoteh Ardan dengan lengan masih menempel pada gagang pegangan pintu.

Kreeekkk..!! Brukkk!!

Tidak berapa lama kami berdiri di bibir pintu, terdengar suara dentuman keras yang berasal dari dalam kamar yang gelap, entah suara apa, seperti benda yang sangat berat terjatuh menghantam lantai dengan keras, Alvien yang tengah berbincang dengan Arif datang menghapiri kami.

"Suara apa tadi Den," tanya Alvien yang baru bergabung denganku.

Aku hanya menggelengkan kepala, "kaya ada benda terjatuh dari dalam sana."

"Senter coba, kalau ada yan bawa senter," saut Ardan.

Aku mengaktifkan senter pada handphone-ku, dengan lengan sedikit bergetar, jantung berdebar kencang, aku menjulurkan lengan ke arah suara tadi berasal, kamar gelap yang mulai terlihat jelas hanya memperlihatkan ruangan kosong tanpa ada benda apapun di dalamnya, hanya ada jendela kayu yang masih tertutup sangat rapat.

Aku yakin mendengar suatu benda terjatuh, kalau suaranya saja sebesar itu pastilah bendanya sangat besar, namun di mana benda itu?

"Mungkin hanya tikus, atau sesuatu yang jatuh dibalik kamar ini," di sini aku masih belum mempercayai hal ganjil yang bisa terjadi.

"Tikus, mana bisa bikin suara sebesar itu Den, gue di kamar depan aja berasa lantai bergetar," saut alvien, melongok ke dalam kamar, sepertinya ia masih penasaran.

"Den, sini, ada yang mau gue omongin," kata Ardan menepuk pundakku berjalan menjauh dari kamar yang telah terbuka itu.

"Dulu, seinget gue, di daerah sini pernah terjadi kasus bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga besar, tapi aku tidak tahu rumah yang mana tepatnya, yang pasti kejadian itu ada di daerah sini," ungkap Ardan membuat bulu kudukku berdiri seketika.

"Yakin? kejadian kapan?" singkatku.

"Kayanya pernah dengar juga, bahkan ada yang bilang bunuh diri, ada juga yang bilang dibantai oleh perampok, ada juga yang bilang mati karena kebakaran," tambah Alvien.

Aku terdiam sesaat mendengar perkataan mereka, rasa yang mengganjal kian kuat terasa di kalbuku, namun aku harus berpikir positif untuk kejadian ini, bisa saja mereka hanya mencoba menakut-nakutiku.

aku menghalakan nafas, memandang sessat ke arah Alvien dan Ardan, "kalau pun perkataan kalian benar, itukan kejadian yang sudah lama, dan belum tentu terjadi di rumah ini, lagi pula pemilik rumah ini sebelumnya Kakek dan Nenek, jelas mereka masih hidup," celaku, mengakhiri percakapan yang tidak penting ini.

Lirih suara motor mendekat, memecah kesunyian yang kian terasa mencekam, sepertinya Jainal sudah kembali dengan belanjaan yang kami pesan.

"Nah, tuh si Jainal udah balik," seru Alvien berjalan mendekat ke pintu depan menyambut Jainal.

"Kalau mau masak air cek di belakang, mungkin ada kompor yang masih bisa digunakan,"

"Siap, Den." saut Ardan.

Kami pun berpencar, penelusuranku terhenti, mungkin lebih baik aku mandi dan beristirahat Aku berjalan menuju kamar sebelumnya yang digunakan Arif beristirahat untuk menaruh Tas dan Sweaterku, terlihat Arif yang sedang berbaring nampak lelah namun tidak terpejam.

"Mandi dulu mas baru tidur, biar tidurnya nyenyak," ujarku, sambil menaruh tas selempang di atas tempat tidur, dan menggantungkan sweater pada sebuah paku yang tertanam pada dinding kamar.

"Males banget mau mandi juga," jawab Arif memeluk guling dan memalingkan padangannya.

"Belanja jauh amat di sini, harus ke jalan raya dulu baru nemu warung, mana jalannya super ancur banget," ujar Janinal yang baru tiba.

"Sini belanjaanku, sisanya taruh di kasur aja nal, mau mandi dulu," ujarku lantas berjalan ke arah belakang rumah.

"Den, ini pasang gak lampunya?" teriak Ardan.

"Pasanglah, udah dibeli masak dibuang," gurauku.

Aku melewati ruangan makan dan kamar yang gelap tadi, entah mengapa semakin dalam aku berjalan seorang diri, semakin tidak nyaman perasaanku, hingga langkahku terhenti ketika menginjakan kaki di ruangan yang seperti dapur, ruangan ini terlihat lebih kotor, lantai yang sebagian masih tanah, atap yang tak berpelafon hingga terlihat bambu penyanggah genting yang telah dipenuhi jaring laba-laba, di sebalah pojok kiri terdapat tengku api yang masih mengeluarkan asap halus,

"Aku tidak nyaman dengan ruangan ini..!!"

Next Episode>🙏
ane rate 5 gan...bagus ceritanya
Quote:


trimaksih bnyak gan. emoticon-Malu (S)

Malam Pertama Part 2

Aku yang berada seorang diri di dapur merasakan hal yang tidak enak yang menusuk hati,
serentak bulu kuduk-ku berdiri hebat menjalar dari lutut hingga ubun-ubun kepala, aku menoleh ke belakang, namun tak ada siapa pun yang mengikutiku, bahuku terasa berat, seakan memikul sesuatu, hembusan angin tercampur dengan bau bakaran sangat terasa di sini.

Beberapa kali aku menghirup udara dan menghembuskannya nafas untuk menghilangkan rasa cemas yang datan tak menentu, di dapur hanya terdapat tengku api yang terbuat dari tumpukan batako merah lengkap dengan abu sisa dari bakaran kayu, masih terlihat asap yang mengepul pada lubang tungkunya, mungkin Nenek tadi memasak air di sini.

Sejak kapan aku menjadi penakut seperti ini, berpikir logis, mungkin aku terlalu capek, hingga menimbulkan perasaan was-was berlebihan, aku hanya gagal fokus.

Tak ingin memikirkan hal aneh, aku memaksakan diri untuk mendekat pada pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, samar suara tawa dari temanku sekan memecah kesunyian, memang jarak yang cukup jauh dari ruangan tamu dengan dapur yang terhalangi tiga kamar dan satu lorong hingga berujung dapur, cukup luas untuk bangunan tua ini.

Kreeekkk!!!
Aku mendorong pintu kayu yang ada dihadapanku, bau yang tak sedap terasa kuat berasal dari dalam ruanan, namun tak ada pilihan lain, hanya ada 1 toilet di rumah seluas ini, aku harus segera mandi, tak banyak berfikir aku melangkah masuk ke dalam toilet namun saat hendak menutup pintu aku dikejutkan oleh seekor laba-laba besar seukuran telapak jari pria dewasa, dengan 8 kaki berbulu halus berwarna coklat gelap.

Aku kurang bersahabat dengan laba-laba jenis ini, jadi aku tak ingin mengusiknya, dengan perlahan aku menutup pintu untuk bergegas menyelesaikan ritual mandiku.

Air yang tertampung di sebuah Bak tembok, terasa segar membasuh tubuhku, rasa dingin segar seakan menyapu lelah yang lalu aku rasakan, aku membuka shampo saset, dan membilaskannya pada rambutku, namun di saat mataku sedikit terpejam terasa ada sesuatu yang memaksa aku melirik ke arah kiri, tepat di mana aku menggantukan pakaian.

Dengan mata yang sedikit terbuka, aku melirik di balik air yang bercucuran membasuh wajahku, samar terlihat seuntai kain putih dengan warna hitam pada sisi atasnya, yang tergantung menjuntai tepat disisi pakaian yang aku letakan, semakin lama aku pandangi nampak semakin jelas.

Aku mempercepat kayuhan gayung dengan penuh rasa panik, ingin segera berpaling meninggalkan ruangan ini, karena aku sadar ketika aku menggantungkan pakaian, tidak ada seuntai kain putih apa pun yang tergantung pada paku lain, shampo yang memenuhi rambut sudah mulai menhilang, aku melempar gayung yang 'ku pegang dan bergegas mengambil pakaianku tanpa melihatnya, tapi sungguh sial, laba-laba yang berada dibalik pintu tiba-tiba melompat pada tubuhku,

"Berengsekk!!!!" aku memukul kuat laba-laba itu hingga menggigit pahaku, rasa gigitan itu seperti tertusuk 2 jarum suntik yang panas, hingga meninggalkan luka benjolan kecil namun sangat pedih jika tersentuh.

Aku berjalan menjauh dari toilet dengan langkah tergesa-gesa hingga sampai di ruangan tamu, terlihat teman-temanku yang sedang berusaha memasang lampu dalam redupnya cahaya, Ardan yang mendengar kegaduhan yang aku timbulkan saat di kamar mandi lantas bertanya.

"Kenapa Den? jatoh?" kata Ardan menoleh kearahku.
"Oh, gak apa-apa, cuma seekor laba-laba nggigit paha, sial emang," sautku.

Aku menghetikan langkah melihat Ardan dan yang lainnya memasang bohlam lampu dengan kursi yang diduduki oleh Ardan dan Jainal dan Alvien nampak berdiri pada sandaran kursi sedang berusaha memutar bohlam lampu yang hampir terpasangnya.

"Oe, oe, saklarnya udah mati belum tuh?" ujarku menghampiri mereka.

"Tau Den, sudah tidak apa-apa, sedikit lagi nih," jawab Alvien diiringi bohlam lampu yang menyala dan menerangi seisi ruangan tamu dengan sangat terang.

"Nah, ginikan enak, terang" seru Ardan.

Aroma kopi yang begitu menggoda terasa kental terhirup olehku, terlihat lima gelas kopi panas berada di atas meja, lengkap dengan beberapa bungkus rokok dan cemilan kecil, meja yang berada di teras depan telah dipindah ke ruang tamu berikut kursinya.

"Eh, itu gimana yang di kamar kedua dan ketiga?" kata Ardan "yakin bisa ngga tuh mangkok lampunya."

"Coba aja dulu, siapa tau bisa" kata Jainal penuh semangat membopong kursi untuk pijakan.

Ini hari yang sangat melelahkan, beberapa jam aku terjebak duduk mematung di dalam kendaraan, membuat pinggangku terasa sangat pegal, mungkin aku harus mengistirahatkan diri sejenak.

"Kalau kalian sudah beres kunci saja pintu lantas tidur," kataku beranjak jalan menuju kamar Arif.
"Lah, kok tidur? begadanglah, udah lama kita ngga main kartu bereng," saut Jainal dari arah kamar kedua.
"Capek dia pak, baru sampai, lawan aing heula weh mun boga nyali mh, haha,"
"Boga nyali emang kamu Dan?"

Aku berbaring pada tempat tidur, memandang ke langit-langit pelafon berwarna putih dekil yang menjadi pandangan terakhirku pada malam itu. Sebaiknya esok aku pulang ke rumah untuk menemui ibuku.

***
Yuut!! Yuuttt!! Yuutt!! "Sayuurr..!! sayuurr..!!"

Suara itu yang pertama kali terdengan olehku, dengan mata sayu dan rasa dingin yang masih melekat pada tubuhku, aku membuka mata lantas duduk di atas kasur, aku tersenyum lebar melihat tempat tidur tua ini telah terisi penuh oleh teman-temanku, bahakan kaki Ardan tidak sepunuhnya berada di atas tempat tidur, "dasar bocah-bocah aneh, ngapain kalian ngasih lampu di kamar lain kalau akhirnya tidur semua di sini."

aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan perlahan keluar kamar, dengan wajah kusut aku membuka jendela yang terbuat dari kayu tak berkaca berwarna putih terbagi manjadi dua sisi. Sangat berbeda hari ini, kini udara terasa sejuk dan tenang, suara kicauan burung bernada merdu terdengar indah di telingaku, sangat tenang di sini, sungguh udara yang seger, jauh dari huru-hara perkotaan, aku kembali mengedarkan pandang dan melihat seorang penuh semangat sedang berusaha mendorong gerobak dagangannya melewati jalan yang berbatu kerikil.

Tidak puas hanya melihat dari balik jendela, aku yang masih penasaran dengan sekitar rumah lantas berjalan menuju pintu depan.

Aku menoleh ke sekitar rumah, yang aku lihat tidak jauh berbeda pada saat malam hari, semak belukar dan pohon pisang terlihat jelas disisi kiri, dan rumah yang berada disisi kanan masih sunyi tanpa ada aktifitas seorang pun, mungkin memang rumah itu tak berpenghuni.

Kring..!! kring..!!

"Yha, hallo bang."

"Nanti siang tukang bangunan sampai di situ, tolong kosongin dulu rumahnya yah mau dibongkar," jawab Yudi.

"Oh, oke bang," kataku, Yudi mengakhiri panggilan.

Aku menaruh kembali handphoneku dan berjalan menuju kamar mandi.
Namun langkahku terhenti ketika melihat sebuah pintu bilik tertutup angkuh di sudut ruangan dapur,
"baru sadar kalau ada pintu belakang di sini."

Aku membuka kawat kecil yang sudah berkarat melilit pada sebuah paku, tanpa aku mendorong, pintu bilik itu pun terbuka dengan sendirinya.

Terlihat semak-semak liar yang rimbun memenuhi belakang rumah, ada tiga pohon rambutan besar berbatang sangat rindang dengan daunya yang lebat, ditambah ada segelontongan bambu kering yang saling bertumpukan pada sudut kiri, tidak jauh dari sana terdapat lubang bersegi empat yang dipenuhi sampah berserakan pada sisi bibirnya, namun sesuatu yang nampak aneh, menarik perhatianku.

Aku mulai berjalan denan hati-hati melintasi rimbunnya semak liar yang setinggi lututku, hingga aku terhenti pada sebuah sudut, "Eh, ada sumur..?" Terlihat sebuah sumur yang tertutup rapat bersembunyi diantara tingginya semak-semak, aku yang penasaran lantas membuka tutup sumur yang terbuat dari bilik itu dan menoleh ke dalamnya, "apa ini?" terlihat pada pinggir sumur yang dipenuhi busah putih yang bergelembung, aku tidak mengerti busah kental apa itu.

Aku beranjak dari sumur tua itu dengan rasa penasaran yang telah terobati bergegas untuk bersiap-siap, mengingat hari ini aku akan pulang.

Setibanya di dalam kamar aku yang sudah siap lantas membangunkan Arif yang masih tertidur lelap bersama teman lainnya, "Rif bangun, gue mau pulang ya, ada apa-apa Telp aja," Arif hanya mengangkuk, "Hm, hm" dengan matanya yang terpejam.

"Dan, dan" aku menepuk paha Ardan agar terbangun, "anter sampai jalan raya yu" namun Ardab tak menjawab.

Aku menghelakan nafas, dan berjalan seorang diri berharap bertemu kendaraan yang bisa aku sewa, langkahku semakin jauh meninggalkan rumah tua itu, hingga aku teringat pada perkataan Yudi, "Aih, ku lupa ngasih tau kalau akan ada pekerja yang hendak membongkar rumah hari ini," aku melanjutkan langkah. "ah, sudahlah."

Ini bukan Ending dari kisahku, justru sebaliknya. Ini awal dari semua gangguan yang aku sering rasakan!

Next Episode>
ceritanya bikin merinding
Quote:


smoga bisa menghibur gan emoticon-Embarrassment
buka tenda dulu ah disini 😂
Quote:


monggo gan emoticon-Big Grin
juttt
Quote:


bangunan tuanya dirubuhkan lalu dibuat bangunan baru atau cuma direnovasi
bangunan tua nya di ratain gan, di buat dari awal, karnan pondasinya ngga memadai untk di bngun lantai 5
Nenda ah emoticon-Embarrassment

bikin serem kk...

beneran yak itu?
mantap ane bacanya aja sampe merinding sendiri..wkwk..lanjutkan bang ceritanya.
ambil sekarang Rp.50.000-, untuk pengguna baru
klik disini https://bit.ly/2F3pQPk
jangan lupa dowload dan instal aplikasinya, dan selesaikan proses pendaftaran, untuk klaim bunusnya
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di