alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / Health /
Pendukung Capres-Cawapres, Apakah Bisa Dikatakan Penderita Sindrom Stockholm?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c89ae32a2d19569df481556/pendukung-capres-cawapres-apakah-bisa-dikatakan-penderita-sindrom-stockholm

Pendukung Capres-Cawapres, Apakah Bisa Dikatakan Penderita Sindrom Stockholm?

Pendukung Capres-Cawapres, Apakah Bisa Dikatakan Penderita Sindrom Stockholm?

Menjelang pemilu yang akan diselenggarakan pada bulan April mendatang sepertinya banyak berkembang sebuh fenomena yang mengarah pada sebuah penyimpangan yiatu sindrom Stockholm. Para pendukung capres-cawpres seolah membabi buta untuk mendukung jagoannya, tanpa mengakui kelemahan sang jagoan. Lalu apa Sindrom Stockholm itu? Yuk simak ulasan ini.

Sindrom Stockholm adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu. Istilah Sindrom ini pertama kali dicetuskan oleh Nils Bejerot. Dia adalah seorang kriminolog dan psikiater
yang membantu polisi saat perampokan yang terjadi di Stockholm.

Karena sindrom ini muncul di Stockholm maka sindrom ini dinamai berdasarkan kejadian di Stockholm tahun 1973. Pada tahun tersebut terjadilah perampokan Sveriges Kredit bank. Perampok bank yaitu Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson, memiliki senjata dan menyandera karyawan bank. Mereka menyandera korban dari 23 Agustus sampai 28 Agustus pada tahun 1973.

Uniknya ketika korban dapat dibebaskan, si korban malah memeluk dan mencium para perampok yang telah menyandera mereka. Mereka menyayangi para penyandera, bahkan membela mereka. Ada juga salah seorang sandera, Kristin, jatuh cinta dengan salah satu perampok dan membatalkan pertunangan dengan pacarnya setelah dibebaskan. Wowww… kasus seperti ini dinamakan tresna jalaran saka kulina atau karena si korban sudah dibutakan mata hatinya?

Kisah yang mengetengahkan Sindrom Stockholm ini banyak menjadi inspirasi para sineas film dunia. Tercatat film yang diproduksi dengan mengambil tema ini, seperti film Die Hard, The World is Not Enough, Buffalo 66, Saw, dan sebagainya.

Unik juga ya. Ada kisah seperti itu. Hihihii… kalau penasaran yuk kepoin youtube dan nonton filmnya.

Untuk saat ini sindrom yang semula diperuntukkan bagi penyandera dan sandera penculikan, tampaknya berkembang lebih luas arti atau maknanya. Di saat manusia disakiti oleh pihak lain, hidupnya tidak nyaman, menderita akan tetapi malah merasa punya ikatan emosional yang sangat lekat pada si pelaku kejahatan maka dia pastinya terkena sindrom ini.

Istilah sindrom Stockholm makin meluas, tak hanya mencakup kasus penculikan saja tetapi juga kasus kekerasan dan abuse. Ada juga yang mengatakan kecintaan pada tokoh politik dengan membabi buta juga masuk dalam kategori ini.

Gejala Sindrom Stockholm
Seseorang yang mengalami sindrom Stockholm bisa diamati gejala-gejalanya. Pada awalnya tumbuh dan berkembang perasaan positif terhadap penculik, penyandera, atau pelaku kekerasan. Penderita sindrom Stockholm memiliki perasaan positif yang ditujukan kepada penculik oleh korban.

Mungkin ini bisa dikatakan “tresna” jalaran saka kulina, tetapi membabi buta. Biasanya yang namanya perasaan cinta biasanya tercipta ketika melihat sisi positif dari orang lain. Begitu melihat sisi negatif akan segera ilfil, normalnya seperti itu. Tetapi sindrom ini berkebalikan dan penderita tidak merasa kalau jalan pikiran dan langkahnya itu salah.

Parahnya penderita sindrom ini di saat seseorang menganggap kebaikan pada penculik, penyandera atau pelaku kekerasan, di saat itu pula dia menganggap negatif terhadap keluarga, kerabat, pihak berwenang, atau masyarakat yang berusaha untuk membantu korban agar bebas atau menyelamatkan korban dari pelaku. Dia tidak mau berpartisipasi maupun terlibat dalam usaha pembebasan atau penyelamatan dirinya dari pelaku. Justru dia menunjukkan dukungan dan persetujuan terhadap kata-kata, tindakan, dan nilai-nilai yang dipercaya pelaku. Bisa saja korban malah secara sukarela membantu pelaku, meski berbuat kejahatan.

Fenomena disakiti dan diancam tetapi tidak merasa didzolimi, mungkin tepatnya seperti itulah. Segala sesuatu yang buruk menjadi terasa indah, tetapi berkebalikan segala sesuatu yang baik malah dinilai buruk.

Berbahayakah sindrom seperti itu?
Dalam ilmu kesehatan, penderita sindrom ini perlu direhabilitasi. Perlu banyak waktu untuk penyembuhannya. Semua tergantung pada seberapa kuat hubungan yang dibangun dengan pelaku. Selain itu perlu juga dikaji apakah korban masih berkomunikasi dengan pelaku. Jika masih sering berkomunikasi maka semakin sulitlah penanganan korban sindrom ini. Seperti kebanyakan kasus trauma serius, pendekatan suportif dan psikoterapi terhadap penderita sindrom Stockholm harus dijalankan. Perlu juga diperhatikan apabila ada komplikasi seperti depresi agar segera ditangani dengan baik.

Melihat gejala seperti itu, sahabat kaskuser bisa ambil kesimpulan sendiri, apakah para pendukung capres-cawapres terjangkit sindrom unik ini. Bagaimana menurut anda?

---
Dari berbagai sumber
Pict: vebma.com
Diubah oleh Jora5074
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
sereemmm yaa mba
Mantaaab

Terimakasih semuanyaaa

Quote:


Quote:


Iya jg
Balasan post aniesday
Iya, mbak. Slmt sore...
Balasan post Surobledhek746
mksh, pak guru. nyoba nulis lagi...
Balasan post wulaniyati
Serem banget, bu karla... Hiii
Bisa jadi, beberapa politikus yang saling sindir malah sekarang berpelukan..
tapi nggak tau juga itu termasuk syndrom apa bukan..
Balasan post jlamp
Bisa jadi... Bisa jadi...


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di