alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Dia, Andini (Romance Story)
4.4 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c7f78e9c342bb5c651d0eb2/dia-andini-romance-story

Dia, Andini (Romance Story)

Halo Semuanya, Kali ini saya mau memberikan sebuah cerita lagi nih. Tapi kali ini tentang Fiksi Remaja. School Romance gitu. Nah buat kalian yang penasaran bisa langsung di baca Prolognya ya.

Saya akan update cerita ini setiap hari, karena memang ceritanya sudah tamat dan tersimpan di Word dengan rapih. Jadi gak ada lagi yang namanya kentang di antara kita 😁😀.

JUDUL : Dia, Andini
GENRE : Romance


~~~💓💓💓💓💓~~~


Prolog


Dia, Andini (Romance Story)

Bagaimanakah kalian menggambarkan hati seseorang yang sedang di mabuk asmara?

Apakah dengan tersenyum?

Apakah dengan tertawa?

atau, malah kalian menyembunyikan perasaan tersebut dengan terdiam dan mencurahkan semua itu lewat pena hitam, lalu di coretlah setiap lembaran kertas kosong, agar menjadi hidup dengan kisah kalian dengannya?

Memang sangat sulit, melihat perasaan seseorang hanya dengan lewat ekspresi atau tatapannya. Sama halnya seperti diriku, Aku sangat sulit melihat jawaban darinya. Ya, jawaban langsung dari bibir merah Andini. Siswi kelas IPA 2 yang baru saja ku tembak.

Rasa suka itu muncul saat pandangan pertama. Aku memang tidak terlalu akrab, tapi wajah serta sifatnya lah yang menarik sepotong hatiku untuk menyentuh sepotong hatinya lagi kepadanya.

Aku belum juga menerima jawaban darinya. Aku masih harus terus menunggu, sampai kapan ia mau menggantung perasaannya. Padahal aku sudah memberanikan diri untuk mengucap rasa suka dan juga cinta untuknya. Semua ini telah terjalin selama 1 tahun tat kala aku mulai mendekatinya. Semua pengorbanan, perjuangan, dan juga masalah selalu aku selesaikan bersamanya.

Aku-pun bingung ingin memulainya darimana........


Quote:

Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
EPILOG - PILIHAN
Extra Part - True End

Quote:

Warning : Hak Cipta di lindungi oleh undang-undang.


Cast :


Dia, Andini (Romance Story)
*Alvaro

Dia, Andini (Romance Story)
*Andini

Dia, Andini (Romance Story)
*Via

Dia, Andini (Romance Story)
*Daniel

Dia, Andini (Romance Story)
*Cayla

Happy Reading!
profile-picture
vitawulandari memberi reputasi
Diubah oleh robbyrhy
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 5

Part 1

Dia, Andini (Romance Story)

Panggil saja aku Alvaro, Awal pertemuan ku dengannya bermula saat aku di hukum oleh pak Dadang, Guru matematika. Aku yang tidak terlalu mengerti dengan rumas matematika, harus di hadapkan dengan rumus cinta.

Saat itu aku di hukum oleh pak dadang untuk mencabut rumput di halaman sekolah. Hari itu sangat terik, sekitar pukul 9 Pagi matahari sudah menyambut diri ku dengan sinarnya. mata ku yang menyipit tat kala beradu cahaya, membuat ku susah melihat jalanan yang berada di depan ku.

Aku berusaha menutup sinar matahari dengan tanganku, Namun itu sia-sia saja, aku masih tetap dengan kondisi yang sama. Sampai pada akhirnya semua pandangan ku terarah kepada sosok wanita di depan sana.

Cahaya matahari pun kalah dengan cahaya wajahnya. Rambutnya yang terurai panjang melebihi bahunya, membuat mataku melebar tat kala melihatnya. Aku merasa dia sungguh cantik dengan pipi yang sedikit chubby. Wajahnya mulai menoleh ke arah ku. Tanpa pikir panjang, aku segera melangkahkan kaki ku dengan sepatu vans yang ku kenakan, mereka saling beradu dengan rumput dan lumut yang menyelimuti tanah jalanan.

“Hai?!” Sapa ku kemudian jongkok di dekatnya.

“Di hukum juga ya?” Tanya ku lagi.

Wanita itu membalas dengan senyumnya yang cukup manis. “Iya, heheh” ia pun tertawa kecil menahan malu.

“Di hukum kenapa?” Tanyaku dengan tangan yang terus mencabut rumput yang cukup keras dari balik tanah yang menyumbat.

“Ehm,,, gak ngerjain PR Bahasa.” Jawabnya lagi. Kali ini ia seperti terlihat risih saat ku tanya terus-menerus.

Aku pun berhenti bertanya. Sambil terus mencabut rumput yang sangat keras, mataku tak bisa diam untuk meliriknya. Bola mata ku yang sesekali berbelok tat kala, melihat dia berusaha mencabut rumput dari akarnya.

“Keras ya?” Pekik ku.

“Iya nih,,,,,” Jawaban yang simple tapi membuat ku ingin selalu di dekatnya.

“Sini aku bantu” Ujar ku.

Aku pun membantunya, mencabut rumput memang bukan satu hal yang mudah. Mereka harus memiliki tenaga yang kuat agar dapat menariknya. Ini tidak semudah menarik padi.

“Makasih ya” Ucapnya setelah rumput yang tidak bisa di tarik olehnya dapat ku tarik dengan mudah.

Jantung ku langsung berdebar kencang, Matanya yang berwarna hitam kecoklatan mengalahkan segala bentuk fisik di wajahnya.

“Sama-sama,, oh iya aku Alvaro. Kamu?”

Entah kenapa aku langsung jatuh hati padanya. Mungkin kah ini yang di sebut pandangan pertama? Aku tidak tahu yang pasti aku merasakan hal yang berbeda tat kala di dekatnya.

“Aku Andini.”

“Nama yang bagus,...”

Dia tersenyum simpul kepadaku. Pipinya yang chubby mulai sedikit memerah tat kala, aku memujinya.

“Gak bisa buat rumus matematika, bukan berarti gak bisa buat rumus cinta” Celoteh ku dalam hati dengan bola mata yang mengarah ke atas dan di akhiri dengan senyuman khayalan.

“Alvaro!” Seru pak Dadang ke arah ku.

“Iya pak?” Balas ku dengan teriakan yang lebih keras.

Ia hanya melambaikan tangannya, itu artinya ia menyuruhku kembali.

“Aku duluan ya Andini, sampai ketemu lagi.” Ujar ku kepadanya.

Bola mata andini terlihat mengikuti ritme langkah ku menuju Kelas. Rasa penasaran yang ia miliki, rasanya cukup besar hanya untuk sekedar mengetahui di mana kelasku.

Bel pulang pun berbunyi. Aku pun keluar dari kelas IPS-2. Biasanya setelah keluar kelas, aku langsung pulang tanpa memperdulikan nongkrong dengan teman-teman. Namun, untuk kali ini tubuhku rasanya di tarik untuk mencari Siswi bernama Andini itu. Akibat kejadian tadi pagi, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Ia bagaikan racun dalam otak ku.

“Varo,,, Cari apa”

Ujar Via mengagetkan ku.

Ia langsung merangkul ku. Entah kenapa ia tidak merasa canggung saat melakukan itu kepada ku. Aku saja yang sebagai cowok sedikit risih saat ia melakukannya. Via adalah teman sekelasku, dia adalah sahabat wanita yang ku punya sejak awal memasuki Sekolah Harapan Pelita ini.

“Ehm,, gak nyari apa-apa kok?!” Jawab ku.

“Ngga nyari apa-apa tapi matanya kemana-mana” Celotehnya.

“Apa sih via?, sudah ah, mau balik dulu.”

Setelah itu aku langsung melepaskan tangannya dari pundak ku. Ia sedikit mendengus kesal tat kala aku selalu terburu-buru pulang ke rumah dan mengabaikannya.

“Kau tidak ingin pergi makan dulu” Pekiknya keras.

Semua murid mendengar teriakan Via, aku yakin via sepertinya membutuhkan teman baru yang bisa di ajaknya bermain sekaligus nongkrong.

“Lain waktu saja!” Jawab ku, sambil terus melangkahkan kaki ini menuruni anak tangga yang cukup banyak jumlahnya.

Dalam perjalanan menuju gerbang keluar, tanpa di sengaja aku melihat Andini dengan seorang pria. Mereka sedang asik mengobrol. Wajahnya andini terlihat begitu gembira dengan senyum lebar yang di pancarkannya. Aku berhenti sejenak, mengarahkan bola mataku ke arahnya, lalu bersembunyi sebentar di balik tembok didekat situ.

“Andini? terus pria itu siapa?” Pertanyaan itu muncul dalam benak ku.

“Mereka berdua? Pacaran kah” Semua asumsi aku keluarkan, hanya untuk menerka-nerka siapa pria tersebut.

“Ah,, andini kan bukan siapa-siapa aku? terus kenapa aku jadi begini?”

Memang benar Cinta bisa membuat orang menjadi bodoh, sama halnya saat aku melihat Andini dengan seorang pria. Menurutku rasa suka ku dengannya sudah meracuni pikiran ku sehingga ini sangat terkesan berlebihan.

Karena sudah terlalu lama bersembunyi, Akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan perjalananku. Aku berjalan di hadapan mereka, berpura-pura tak kenal dan membuang muka agar Andini tidak melihat ku.

“Varo kan?” Panggil Andini

Aku mengangkat sedikit alisku. memberikan senyuman layaknya seorang yang bahagia dan berseru kepadanya.

“Andini kan?”

Dia mengangguk mengartikan pertanyaanku benar. Setelah itu aku berjalan kaku ke arahnya.

“Duduk sini-” Pintanya.

Aku tidak mengerti kenapa aku jadi mau di ajak nongkrong seperti ini. Apakah ini karena nongkrong dengan orang yang ku suka?. Aku segera duduk di sampingnya. Pria yang bersama andini pun memberikan senyuman terbaiknya untuk ku, aku membalasnya dengan senyuman yang sama.

“Kenalin ini Daniel, Pacarku”

To be Continued...
Diubah oleh robbyrhy

Part 2

Dia, Andini (Romance Story)

Mata ku terbelalak tat kala Andini memperkenalkan pacarnya kepadaku.

“O-o-h,, pacarnya ya… Aku varo” Jawabku dengan sedikit terbata.

“Daniel” Balasnya sambil mengangguk dan terlihat sedikit keheranan.

“Kenapa var?” Tanya Andini.

Aku berusaha menyembunyikan rasa sakit hati ku. Aku tidak tahu, kenapa cinta yang baru saja aku rasakan bisa sesakit ini.

“Gak apa-apa kok din, sudah berapa lama pacaran?” Tanya ku mengalihkan pembicaraan yang tadi.

Karena sudah tahu pria tersebut adalah pacaranya, membuatku rasanya ingin cepat-cepat pulang saja.

“Baru 3 bulan varo, hehehe..” Senyum bahagia di pancarkan olehnya.

Semua harapan yang sudah ku susun di dalam memori otak ku, rasanya harus kandas secepat ini. Daniel tidak banyak bicara. Sepertinya ia orang yang dingin. Mungkinkah adanya aku di lingkungan mereka membuat daniel merasa terganggu? Pertanyaan-pertanyaan itu langsung menghantui otak ku. Aku tidak mau berlama-lama bersama mereka, aku yakin seorang cowok tidak ingin melihat pacarnya berhubungan lebih dekat dengan cowok lain.

“Oh, semoga langgeng ya… Ehmm kayaknya aku juga gak bisa lama-lama deh din, soalnya ada urusan di rumah.”

Alasan yang tepat untuk pergi adalah berbohong. Entah kenapa semakin lama di situ malah membuat hati ku semakin sakit.

”Mereka memang pasangan yang serasi, lebih baik aku tak turut campur tangan dalam hubungan ini.” Kataku dalam hati.

“Eh, kenapa cepat sekali? Yasudah hati-hati ya…”

Aku pun segera pergi meninggalkan mereka. Menurutku Andini sudah tepat memiliki Daniel, Walau pun aku belum tahu banyak tentang dia.

***


Besok adalah hari minggu, dimana hari untuk melunturkan lemak di badanku. Olahraga lari 7 putaran di sekeliling komplek tidak masalah untuk ku. Menurutku, punya penampilan yang lebih bagus lagi mungkin dapat melunturkan hati Andini. khayalku.

Pukul 06:00, Minggu.

Seperti biasanya aku berlari dari komplek melati A menuju Komplek melati G. Saat itu matahari tidak begitu terik, sehingga udara di luar masih sangatlah segar. Aku berlari santai sambil memperhatikan sekeliling jalanan, tak  lupa sesekali menghirup udara segar hanya untuk sekedar menenangkan pikiranku. Tak lama kemudian, aku melewati Komplek Melati C dan baru beberapa langkah dari situ aku melihat Daniel dengan seorang wanita. Tapi, dia bukan Andini. Rasa penasaran ku pun muncul begitu saja. Daniel dan wanita itu sedang lari pagi bersama. Aku yang melihat mereka, berusaha membuntutinnya dari belakang.

“Yang, haus ya?” Ujar wanita itu kepada Daniel.

“Mau beli minum dulu?” tanya daniel.

Kemudian wanita itu mengangguk dan mereka kembali berlari mencari warung untuk beristirahat.

Aku yang mendengar percakapan mereka, langsung berasumsi bahwa Daniel telah pacaran juga dengan wanita itu.

“Dasar playboy, kayaknya aku harus kasih tahu andini besok!” Ucapku dalam hati.

Entah kenapa aku malah menjadi kesal melihat tingkah Daniel kala itu. Awalnya ku kira dia adalah pria baik-baik, Namun, semenjak tahu seperti itu. Aku malah ingin mengancurkan hubungan dia dengan andini. Aku kasihan sama andini kalau harus di duain. Jadi untuk kali ini, aku pun berusaha untuk masuk dalam urusan percintaan mereka. Disini lah awal mula aku mulai akrab dengannya dan akan terus ikut campur dalam hubungannya....

To be Continued....
Diubah oleh robbyrhy

Part 3

Dia, Andini (Romance Story)

Keesokan harinya, Alarm handphone ku berbunyi dengan kerasnya lalu, membangunkan ku dari tidur yang indah ini.

“Hoammmm…. eh, eh”

Pengelihatan ku yang masih kabur belum tampak jelas angka berapa yang tertunjuk di handphone ku.

Pukul 06:30

“Ah, sial” Ujarku.

Ternyata, Alarm yang ku pasang sudah berbunyi hampir 3 kali dan aku baru menyadarinya di bunyi yang ke 4 ini.

Aku pun bergegas mandi, memakai seragam dan juga membawa seutas dasi, tak lupa dengan ikat pinggang di tangan kiriku. Berjalan dengan tergesah-gesah membuat ibuku bertanya.

“Eh,, eh,, ehh Varo? gerasak-gerusuk gitu.” pekiknya, yang sedang mempersiapkan sarapan pagi untuk ku. Ayah ku sudah berangkat kerja dari subuh, sedangkan aku adalah anak semata wayang, tak heran jika ibuku sangat menyayangiku. itulah yang membuat ku tak mau mengecewakannya dan menjadi alasan selama ini kenapa aku tidak suka nongkrong dengan teman-teman lainnya.

“Varo telat bu…” Rengek ku.

“Sarapan dulu aja, biar makin telat” Ledeknya.

Entah kenapa di situasi seperti ini, ibuku masih bisa bercanda. Mungkin dia tidak ingin anaknya stres di kejar waktu.

“Hufft” Aku mendengus pelan.

“Varo pamit ya buk.” Ucapku, sambil mencium tangan ibu ku yang masih bau irisan bawang.

Rambutku yang belum tersisir, kerah yang masih terbuka, dan juga dasi yang belum ku kenakan, membuat ibuku tersenyum lebar melihatnya. Aku berlari ke luar rumah dan segera menuju halte, yang jaraknya tidak jauh dari rumah ku.

Bus yang ku tunggu pun tiba. Aku segera masuk ke dalam dan duduk di sebuah bangku yang kosong dekat jendela. entah kenapa aku lebih suka duduk di situ, karena menurutku aku lebih merasa tenang saja. Apalagi saat aku melihat ke luar, seluk beluk perkotaan serta orang-orang yang berlalu-lalang terkadang membuat ku sedikit melamun dan membayangkan hal-hal indah. Itu terus terjadi padaku. Hampir setiap hari.  Saat aku sedang melamun, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingku. Aku tidak menghiraukannya. Aku tetap fokus pada lamunanku, membayangkan hal-hal indah yang tercetus begitu saja dalam otakku.

Aku pun tersadar saat bus yang ku tumpangi tiba-tiba berhenti mendadak. Guncangan yang cukup kuat membangunkan ku dari khayalan-khayalan indah yang sedang ku alami.

“Ahhhh..” Pekik ku.

Suara seseorang menahan tawanya terdengar dari telingaku. Aku menoleh ke arah samping tempat duduk ku, dan betapa terkejutnya aku ternyata Andini lah yang sedari tadi berada di sampingku.

“Andini?” Tanyaku

Ia pun membuka mulutnya yang sedari tadi menahan tawanya, kemudian tertawa lepas setelahnya. Aku yang masih bingung apa yang membuatnya tertawa, seakan menjadi pria bodoh di hadapannya.

“Varo, kamu lucu deh… masa dari tadi kamu ngelamun terus, kamu ngomong sendiri.” Jawabnya kemudian tertawa kembali.

Aku masih terlihat bingung, sebenarnya apa yang aku bicarakan pada saat melamun? Pertanyaan itu muncul dalam benak ku.

“Maksudmu?”

Aku bertanya lagi kepadanya. Karena memang aku masih belum mengerti apa yang Andini bicarakan.

“Haduhh varo,,,, lupakan saja, oh iya sebentar lagi sampai nih. bergegas yuk!” Serunya mengalihkan semua pertanyaan yang aku berikan kepadanya.

Aku dan Andini pun turun dari bus. Ia masih menatap wajah ku, entah apa yang membuatnya jadi memperhatikanku. Aku masih bingung dengan Ucapan-ucapannya tadi dan rasa penasaran itu masih mengganggu otakku.

“Sebenarnya tadi itu aku kenapa ya?” Aku mengulang pertanyaan yang sama kepadanya. Namun, Ia masih bungkam dan hanya tertawa tatkala aku merasa kebingungan akan hal yang aku pertanyakan.

Andini pun mengalihkan pertanyaanku lagi dan kali ini, ia malah mengajak ku untuk makan siang di kantin nanti. pada jam istirahat.

"Siang nanti makan yuk?” Ajaknya.

“Kamu gak makan sama daniel?” Jawabku

Andini pun berhenti sejenak, lalu kembali bertanya. “Emangnya kalau orang pacaran itu harus ya, sama-sama mulu?”

Aku pun menggaruk bagian leherku yang sebenarnya tidak gatal.

“Ya,,, enggak juga sih” Jawabku dengan wajah yang terlihat seperti orang kebingungan.

“Kamu ini kenapa sih varo,...”

Andini kembali tertawa.

“Jalannya agak cepat udah mau masuk nih!” Seru andini.

Akupun mempercepat langkahku. sementara andini sudah berada di depanku. aku cukup tertinggal jauh darinya. Entah sampai mana aku tiba-tiba berpisah dengannya, dan aku pun sampai lupa ingin memberitahu dia, soal Daniel yang selingkuh.

Sesampainya di kelas aku langsung duduk di bangku ku. Masih memikirkan kejadian tadi di bus membuat aku terus melamun di buatnya.

“BRAK!”

Aku tersadar akan lamunanku lagi, tat kala via menggeprak meja di depanku.

“Eh, via.” Gerutuk ku.

“Varo, nanti siang  makan bareng yuk?” Ajak via kepadaku sambil memainkan alisnya ke atas dan ke bawah.

Aku pun bingung ingin menjawab apa kepadanya. Via adalah sahabat ku, yang sudah lama mangajak ku makan siang di kantin. Namun aku jarang ada waktu untuknya. Sementara, Andini orang yang aku suka, juga mengajak makan di kantin dan di jam yang sama. Ini semua membuat kepala ku ingin pecah. membuat alasan dengan cara berbohong malah akan memperkeruh suasana. Pada akhirnya aku harus berkata jujur padanya.

“Maaf vi, aku udah ada janji sama seseorang buat makan juga di kantin, eh kalau kamu mau, kita bisa makan bersama-sama!” Jawabku dengan memberikan sedikit solusi yang mungkin dapat meredam amarah via terhadapku. Aku yakin 100 persen pasti via akan kecewa dengan jawabanku.

To be Continued..
Diubah oleh robbyrhy

Part 4

Dia, Andini (Romance Story)

Mendengar jawaban ku, via pun terdiam. Kemudian kembali berbicara.

"Emangnya kamu mau makan siang dengan siapa?" Tanyanya.

Aku sedikit ragu untuk menjawab pertanyaannya kali ini. Aku tidak mau ada gosip bertebaran di kelas IPS-2. Jika kalian mau tahu, sedikit saja gosip masuk ke kelas kami, sudah di pastikan semua itu akan tersebar luas dengan sangat cepat. mengalahkan spam chat di Whatsapp ataupun Spam like di Instagram.

"Kamu gak akan kenal sama orangnya via..." Jawabku mengelak.

Via semakin penasaran, ia semakin terus memaksa ku untuk memberi tahu siapa itu orangnya. Karena dia sahabatku, kemungkian besar menjadi gosip itu sangat kecil.

"Dia Andini, kelas IPA-2 kalau tidak salah" Bisik ku pelan kepadanya.

"Andini pacaranya Daniel?" pekiknya keras.

Entah kenapa di situasi sedang banyaknya murid di dalam kelas, ia malah bisa-bisanya terkaget dan berbicara sekeras itu. Dengan sigap aku menutup mulutnya dengan tanganku. Memang sudah nasib, tiba-tiba semua murid di kelas memperhatikan kami berdua.

"Ada apa sih?"

"Kok dia nyebut-nyebut daniel!?"

"Iya nyebut-nyebut Andini lagi?!"

"Dia belum tahu saja-"

Semua murid-murid pun langsung bergosip ria. Mereka saling tanya satu sama lain. menghasilkan suara yang begitu gaduh di kelas. aku hanya bisa memegang kepala tat kala semua ini telah terjadi. Setelah itu ku lepaskan tanganku dari mulut via dan bergumam ke arahnya.

"Mulut mu itu kaya petasan ya vi, capek deh aku"

Via pun melebarkan matanya dan tersenyum seolah tak punya salah atas apa yang di perbuatnya.

"Maaf-maaf elah... Kok kamu bisa sih deket sama dia? hati-hati loh sama daniel" Gerutuk kembali via.

Kali ini aku benar-benar kesal dengannya, kenapa dia mesti membahas lagi soal itu. padahal baru saja murid-murid di kelas mengetahuinya. aku tidak habis pikir dengan otaknya via. Selang beberapa menit setelah via berbicara, aku langsung pergi meninggalkannya tanpa memberitahu apa alasannya.

"Varo? mau kemana?" Teriaknya keras.

Aku tidak menggubris panggilan via, aku tetap berjalan dan melangkah pergi untuk sekedar menenangkan pikiranku. mungkin toilet menjadi tempat yang tepat untuk saat ini.
Pikirku.

Aku pun bergegas menuju toilet. ku senderkan punggungku di tembok kamar mandi yang dingin dan lembab. Sedikit demi sedikit ku mulai menenangkan pikiran ku. Ku pijat kepalaku menggunakan kedua tanganku dengan jari jemariku yang sudah siap menekan kulit kepalaku.

Saat aku menengadahkan kepalaku dan bersender pada tembok yang keras, tiba-tiba suara panggilan dari luar kamar mandi menyadarkanku.

"Siapa di dalam, apa masih lama?" Teriakannya begitu keras, sambil terus-menerus memukul pintu toilet yang sedang aku gunakan.

"Iya sebentar!" Jawabku sambil menyalahkan wash, seolah-olah aku baru saja buang air kecil.

Aku menyentuh gagang pintu dan bersiap memutarnya. Entah kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang, tat kala akan membuka pintu tersebut.

"Ngik"

Ku buka perlahan pintu itu dan ku intip sedikit siapa yang ada di luar sana. Jantungku berdegup hebat tat kala aku mengetahui bahwa ia adalah seorang pria. Perlahan tapi pasti, pintu kamar mandi itu ku buka dan akhirnya melebar.

"Daniel?" Sapa ku.

Daniel tidak menyapa balik sapaan ku. Ia malah langsung menabrak ku dengan cukup kencang dan mendorong ku agar segera bergegas keluar dari kamar mandi yang ia ingin gunakan. Entah kenapa Daniel tiba-tiba bersikap sangat kasar saat tidak ada Andini.

"Inilah kesempatanku untuk menanyakannya..." Ujar ku dalam hati.

"Hei, Daniel!" Teriak ku kencang dari luar kamar mandi tersebut.

Belum ada sahutan namun, selang beberapa detik, tiba-tiba Daniel manyaut.

"Ada apa? apa ada yang tertinggal?" tanyanya.

"Aku hanya ingin bertanya padamu."

"Soal apa?"

"Soal wanita yang jogging bersamamu, minggu pagi kemarin. apa benar kau pacaran dengannya? kau tega sekali menduakan Andini."

Entah apa yang aku bicarakan. Aku begitu bersemangat tat kala bertanya soal itu kepadanya langsung. Mulut ku yang ceplas-ceplos langsung saja to the point dengannya.

Tidak ada jawaban dari Daniel di pertanyaanku yang terakhir. Kemudian Wash pun berbunyi. selang beberapa menit Daniel keluar dari Toilet. Aku yang ada tepat di depan pintu toilet, tiba-tiba sudah langsung di hadapkan oleh badannya yang cukup besar.

"Apa yang kau lihat?" Tanyanya kepadaku. Kali ini tatapan daniel berbeda dari sebelumnya, tatapannya sangat tajam ke arahku. Aku merasakan bahwa, tubuhnya sedang di rasuki oleh rasa amarah yang hampir keluar.

"Aku melihat kau dengan seorang perempuan, apakah kamu selingkuh dari andini?"

Aku menatap daniel dengan tatapan yang sama, sebagaimana ia menatapku. Entah apa yang aku rasakan saat menyebut nama Andini. Aku selalu ingin melindunginya, bahkan aku ingin selalu menjadi pahlawan untuknya. meski tidak di anggap sekali pun.

Setelah ucapanku tersebut, daniel tiba-tiba menarik kerah bajuku. Mengangkatnya dengan kedua tangannya yang sangat kekar. Tak heran, jika lengannya terlihat besar. dirinya adalah seorang atlet lari, beda dengan diriku, yang sangat malas dengan olahraga bahkan untuk lari saja butuh waktu 1 minggu sekali atau bisa sampai 1 bulan sekali.

Lengannya yang besar sedikit demi sedikit mendorongku ke arah tembok. benturan yang sangat keras saat mengenai tembok, sangat terasa begitu jelas di pungungku.

"Jangan ikut campur dengan urusan gw!" Ucapnya, dengan sedikit penekanan di akhir kalimatnya.

Meskipun dengan tatapan penuh amarah, itu tidak membuat ku takut sama sekali dengannya. ini malah menjadi tantangan sendiri untuk ku, agar dapat terus melindungi Andini dari seorang playboy seperti dia.

To be Continued...

Part 5

Dia, Andini (Romance Story)

Setelah kejadian di toilet tadi aku kembali ke kelas. Pikiranku masih terus di bayangi oleh kata-kata dari Daniel. Aku pun duduk di bangku tanpa menghiraukan semua jenis panggilan yang memanggilku.

Suara langkah kaki menghampiriku, pikiranku sedang runyam, rasanya aku sangat malas jika harus bertengkar lagi dengan via.

“Varo!” Panggil seseorang dari depan wajah ku.

“Varo!” Panggilan kedua cukup keras dan saat panggilan ke tiga aku tersadar lagi dari lamunanku.

Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali melamun macam orang gila.

“Eh iya pak,, maaf” Sahutku kepada pak dadang. ternyata, baru beberapa menit pak dadang datang, saat aku sedang melamun.

Via yang duduk di belakang ku langsung mencolek pundak ku dengan pulpennya.

“Eh, vero… kenapa sih akhir-akhir ini kamu sering banget ngelamun?” bisiknya jelas di telinga ku.

Entah apa yang akan ku jawab dari pertanyaan via saat ini. Semenjak mengenal Andini aku jadi mempunyai banyak masalah. Padahal masalah ini aku buat karena, diri ku sendiri. bukan karenanya.

“Gak apa-apa via, udah ah jangan ngoborol entar, pak dadang ngoceh lagi.” Jawab ku pelan.

Beberapa jam kemudian pelajar Matematika selesai. Via yang masih penasaran akan pertanyaannya , kembali bertanya kepadaku.

“Varo, Jawab jujur lah.. ayolah” Pintanya merengek seperti anak kecil meminta permen.

“Jawab apa sih via?”

“Tentang hubungan Varo sama Andini, via gak setuju pokoknya.”

“Eh, kok gitu? terus kok via bisa kenal Andini?”

“Emang Varo ga tahu? (sambil mengelus pelan daguku) Andini itu kan pacarnya daniel, jadi semua orang pasti tahu dong. Jelas saja, orang Daniel pria populer di sekolah ini.” Jelasnya.

Aku pun menyingkirkan tangan Via dari daguku.

“Terus?”

“Terus-terus ya nabrak” Candanya.

Disaat aku sedang bertanya serius ia malah bercanda seperti itu. Via memanglah gitu orangnya. Suka becanda, tapi giliran kita becanda dia maunya serius. Dasar Aneh. Tapi aku tetep sayang Karena bagaimana pun dia tetap menjadi sahabat setiaku.

“Tapi kok aku gak tau apa-apa tentang daniel ya?” Tanyaku lagi padanya.

“Ya-iyalah , Varo kan anak mami ga pernah ikut nongkrong sih” Gerutuknya sambil terus menjilat permen lolipop berwarna merah yang baru saja di bukanya.

“Kurang ajar!” Pekikku, sambil menggatak pelan kepala Via, lalu pergi meninggalkannya.

“Varo mau kemana?”

“Makan siang di kantin!” Seruku.

Sesampainya di kantin, mataku melirik ke kanan dan ke kiri. Mencari wanita berambut panjang berwarna Hitam yang dari pagi sudah sibuk mengajak ku makan siang.

“Andini mana yah?” Ucapku dalam hati.

Selang beberapa menit aku mencarinya, tiba-tiba terdengar sebuah suara keras memanggil namaku.

“Varo!” Panggilnya.

Aku-pun menoleh ke arahnya. Benar saja, Andini telah menungguku di salah satu meja bernomer 12 di ujung sana. Aku pun mengampirinya. Namun, ada yang membuatku sedikit kecewa. tat kala melihat Daniel di sampingnya. ku kira dia hanya sendiri dan mengajaku makan berdua dengannya. tapi takdir berkata lain, lebih baik aku makan dengan via tadi! Pikirku.

Saat sampai di meja tersebut aku masih berdiri di depannya. Daniel menatapku masih dengan tatapan yang sama. Tatapan penuh amarah, sama percis seperti tatapan di toilet tadi pagi.

“Varo, ayo duduk” Perintah Andini.

Dengan Agak ragu, aku menarik kursi lalu bergabung bersama mereka.

“Kamu mau pesan apa?” Tanyanya.

Aku tidak melihat dan memperhatikannya. Mataku masih terus mengarah ke Daniel. Entah kenapa sorotan matanya yang tajam selalu manarik bola mataku untuk selalu melihatnya.

“Kalian kenapa sih?” Tiba-tiba Andini membuyarkan itu semua.

“Oh, iya maaf… aku mau pesan mie instan saja din” Jawab ku.

Andini masih terlihat bingung dengan tingkah yang kami lakukan. Karena memang ia belum mengatahui apa yang sudah terjadi padaku dan juga Daniel. Masalah besar sedang kami hadapi sekarang.

“Kalau kamu mau makan apa yang?” Tanya Andini kepada Daniel.

Daniel tersenyum simpul kepadanya kemudian menjawab.

“Aku ingin makan nasi goreng hari ini.”

“Kalau gitu aku sama deh, kaya kamu.” Andini membalas senyuman Daniel dengan penuh kebahagian.

Sedangkan aku hanya menonton kemesraan mereka berdua. Aku layakanya patung yang membisu. Tanganku sedkit bergemetar tat kala memagang garpuh yang aku gunakan untuk menyiduk seutas mie nantinya.

“Varo, kenapa?” Tanya Andini yang sepertinya mengatahui problem yang sedang aku rasakan. karena melihat tanganku yang bergemetar itu.

Aku berusaha tegar melihat semua itu. Menahan rasa sakit di hati, ternyata tidak begitu sulit. jika Seseorang yang aku cintai juga merasa bahagia.

Daniel terlihat sengaja membuat kemesraan semakin menjadi-jadi di hadapanku. aku berpikir sejenak. Apakah dia tahu aku menyukai Andini? atau hanya mengetesku? pertanyaan itu muncul begitu saja, tat kala mereka saling suap- suapan di hadapan ku. Aku dengan santainya melahap mie instan yang baru saja ku pesan. Rasa mie instan yang sangat enak, membuat ku lupa akan mereka yang sedang menjalin kasih di hadapanku.

“Oh iya Varo, pulang naik bus kan?” Tanyanya tiba-tiba.

Aku menoleh ke arahnya dengan mie yang masih menggantung di mulutku. Andini tertawa kecil saat melihat kejadian itu.

“Habiskan dulu mienya” Ujarnya sambil tersenyum.

Akupun segera menyeruput mie tersebut kemudian menghabiskannya.

“Gimana?” tanya andini kembali.

Aku yang bingung tiba-tiba kembali bertanya kepadanya.

“Gimana apanya?”

“Mau pulang bareng gak?”

Sontak saja aku terkejut dengan ajakannya. Padahal dia sedang bersama daniel, pacaranya. tapi, kenapa dia bisa mengucapkan kata itu dengan sangat gampang.

Aku berpikir sejenak, entah kenapa aku menjadi orang yang suka berpikir sekarang. Apa karena aku yang sudah dewasa?

Saat aku ingin menjawab Ajakannya, tiba-tiba daniel memotong jawabanku.

“Sayang, kamu pulang sama aku saja. Aku kan bawa motor.” Ujar Daniel sambil mengelus pelan rambut Andini.

Entah kenapa Pemandangan di hadapanku kali ini lebih sakit dari sebelumnya. Hati ku seakan di iris oleh pisau tajam dan irisannya itu berkali-kali lipat. Aku menatap ke arah andini, menunggu jawaban yang akan ia berikan kepada Daniel.

To be Continued....
part 1,2 ngena banget dah😂😂
Quote:


Pasti keep reading ya
Quote:


Ayo buruan update lagi
Quote:


tenang tiap hr updte
Quote:


Alhamdulilah

Part 6

Dia, Andini (Romance Story)

“Aku sudah sering pulang denganmu niel, sekarang aku mau naik bus saja.” Jawab Andini.

Entah kenapa Jawaban andini kali ini membuat hati ku kembali terbuka. Jawaban simple dari bibir merahnya memberanikan diri menolak ajakan dari sang pacar.

“Aku gak merasa keberatan kok din, kita kan pacaran? aku sudah seharusnya mengantarmu dan melindungimu.” Ujar Daniel memaksa.

Melihat obrolan sepasang kekasih d hadapanku, membuatku sedikit muak. Terutama kepada Daniel, si playboy kelas kakap yang rasanya ingin sekali ku tonjok mulutnya, saat mengucapkan rayuan-rayuan palsu pada Andini.

“Bukan soal keberatan niel, aku ga mau aja terus-terusan merepotkan kamu.”

“Aku juga gak merasa di repotkan kok..” Jawabnya lagi.

Sepertinya akan terjadi pertengakaran antara mereka berdua. Aku sedikit kesal ketika Daniel terus memaksa Andini untuk pulang bersamanya. Selagi ia tidak mau kenapa ia harus memaksa seperti itu. Pacaran kan bukan berarti mereka harus menurut semuai kemauan cowok. aku juga cowok tapi, jika aku punya pacar aku tidak akan mengekang pacarku seperti layaknya daniel.

“Sudah-sudah!” Potongku sambil sedikit menggebrak meja. Aku menjadi sedikit overprotektif ketika rasa bosan dan juga sakit hati menjadi satu.

“Kamu daniel (sambil menunjuk ke arahnya) Kenapa kamu jadi mengekang Andini seperti itu? kamu kan cowoknya? janganlah memaksa cewek seperti itu.” tambahku membela Andini .

Seperti yang ku katakan, Daniel adalah orang yang dingin namun, saat masalah pribadinya disentuh oleh seseorang. Dia akan memperlihatkan sisi buruknya meskipun, di depan pacarnya sekalipun.

“Kenapa kau ikut campur? tidak dengar saat di toilet tadi aku bilang apa?” Bentaknya ke arahku dengan tatapan yang sangat sinis.

Melihat Daniel bersikap kasar seperti itu, membuat Andini sedikit ketakutan.

“Daniel? kenapa kau kasar sekali” Ucap Andini kemudian berdiri dan memegang pundak Daniel untuk menyuruhnya kembali duduk.

Aku yang sudah capek menahan emosi, sangat ingin membongkar kebusukan pria ini. Sayang,niat buruk ku ini bisa ku tahan lantaran aku masih ingin melihat Andini yang bahagia. Aku takut saat aku berbicara tantang kejadian yang aku lihat hari minggu kemarin , malah akan membuat masalah baru dan membuat Andini makin tertekan. Karena suasana yang semakin buruk di situ, aku memutuskan untuk kembali ke kelas.

“Maaf sebelumnya, Aku permisi untuk kembali ke kelas ya.” Ujar ku kepada mereka.

“Aku yang harusnya minta maaf varo, karena topik pulang bareng semuanya jadi begini.”

Wajah Daniel masih memperlihatkan ekspresi yang begitu kesal. ia enggan menatapku, bahkan untuk memberikan salam saja tak mau. Aku yakin sekarang ia makin membenciku.

“Ini-bu..”

Belum sempat aku berucap tiba-tiba Via memanggilku dengan keras.

“Varoo!! Sini” Serunya dengan melambai-lambaikan tangannya.

Aku menganggap Via adalah malaikat penyelamatku hari ini. Bagaimana tidak, aku yang sedang di hadapkan  oleh pertanyaan-pertanyaan serta masalah, bisa dengan tenang pergi tanpa harus memikirkan alasan kenapa aku menghindar.

“Temenku Udah manggil, aku duluan ya Niel , din” Ucapku mengganti topik yang ingin ku ucapkan tadi.

Andini pun masih bingung atas apa yang terjadi antara aku dan Daniel. mungkin setelah itu, ia akan kembali bertengkar hanya untuk mempermasalahkan ada apa dan kenapa?.

Aku berlari menghampiri Via. wajah via terlihat begitu senang sementara aku, tidak. hari ini adalah hari yang sangat melelahkan menurutku.

“Ada apa vi?” tanyaku kepadanya.

Kami mengobrol sambil berjalan, menaiki anak tangga yang cukup banyak membuat ku sedikit lelah dan terkadang berhenti sejenak. Seorang cowok kok lemah, mungkin itu yang ada di pikiran orang-orang saat melihatku.

“Engga ada apa-apa kok…. aku cuma manggil kamu aja tadi, soalnya dari kejauhan kayaknya muka kamu tegang banget.” Jawabnya kembali bertanya.

Aku-pun berusaha menyembunyikan segala masalah yang sedang aku alami saat ini. Aku tersenyum lebar dengan terpaksa. Membuat via menjadi percaya akan alasan-alasan yang akan ku katakan padanya nanti.

“Oh itu,,,, tadi kita abis membicara film horor. Jadinya tegang gitu deh.” Jawab ku memberikan alasan.

Meskipun alasannya terkesan tak masuk akal tapi, aku berusaha menyimpan baik semua masalah itu di dalam diriku. biar aku yang menanggungnya. itu perinsipku. Mungkin sebagian orang akan berkata bodoh, punya sahabat tapi ga mau curhat. Aku bukan tipikal cowok yang menyusahkan sahabat dan mengharuskannya masuk ke dalam masalah yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Jadi, biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya. Sampai nantinya dia tahu sendiri.

Via memang anak yang sedikit polos dan ceplas-ceplos. Jadi dia tidak mempertanyakan lagi alasanku yang lainnya. Untuk menanyakan film yang di tonton saja tidak, apa lagi berentet sampai ke Alasan yang lebih mendalam.

To be Continued...
mantap
Quote:


thank youu~
Quote:


Ga sabar baca terus nih😁
selalu menarik
Quote:


thank youuu
Quote:


You're welcome

Part 7

Dia, Andini (Romance Story)

Keesokan harinya, seperti biasa aku menjalani rutinitas sehari-hari. Sekolah, sekolah dan sekolah itulah rutinitas ku. Sebenarnya aku sangat butuh refreshing, apalagi saat otakku ini sedang di penuhi oleh banyak masalah. Rasa malas terus menghantuiku, hingga kaki ku enggan untuk melangkah. Aku berpikir sejenak.

"Kalau aku gak sekolah, aku gak bisa ngejagain Andini dong?"

Sebenarnya aku juga bingung, kenapa aku sangat peduli dengannya. Semenjak aku mengetahui bahwa Daniel adalah laki-laki berengsek, aku menjadi ingin selalu melindungi Andini. Melindungi pacar orang. Mungkin sakit rasanya, tapi aku berusaha tegar. Karena aku sudah masuk ke dalam lingkup hidupnya.

Aku pun memaksakan kaki ini melangkah. pergi lagi kesekolah , bertemu lagi masalah. Namun, aku bisa tetap terlihat santai saat menghadapi ini semua, karena aku membantu masalah wanita yang ku suka.

Sesampainya di kelas, seperti biasa. Via telah menyambutku dengan senyum lebarnya.

"Pagi abang ganteng,,,,,"

Ku tahu via suka becanda, tapi candaannya kali ini sedikit membuat ku malu. Bagaimana tidak malu ia berteriak seperti itu dan suaranya yang cukup besar, sampai terdengar seisi ruangan kelas.

"Pagi juga Via cantikk.." Jawabku dengan senyum paksa, lalu kembali lagi ke ekspresi semula.

Aku segera berjalan kek arah tempat duduk ku. Entah kenapa via selalu membuntuti ku.

"Kamu ngapain?" tanya ku.

"Mau ngobrol manja.." Jawabnya, sambil terus mengemut permen lolipop yang berwarna merah muda.

"Ngobrol apa?" tanyaku lagi.

Pipi via pun melembung layaknya balon, wajahnya terlihat kesal. mulutnya yang masih mengemut permen lolipop membuatnya telihat lucu kala itu.

"Kenapa denganmu?

Via mengubah ekspresinya menjadi datar, lalu bergumam.

"Varo kenapa jadi dingin gini sih? gak asik di ajak becanda."

"Eh, Emangnya kamu lagi becanda?"

"Tauah...." Pekiknya kemudian pergi meninggalkan mejaku.

Ku mainkan bola mataku ke arah kiri atas, berpikir sejenak setelah itu kembali lagi ke arah semula.

"Kenapa sih dengan dia?" Tanyaku di dalam hati.

Aku tidak tahu kenapa via jadi bersikap aneh, tat kala aku mulai kenal dengan Andini. Dia selalu menyuruhku untuk tidak berhubungan dengannya. Dan terkadang dia sering menyebutku "tidak peka?" Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran seorang wanita. Mereka itu penuh rahasia dan juga tanda tanya. Aku memang bersahabat dengannya tapi, aku jarang sekali curhat apalagi menuangkan semua masalahku padanya. mungkinkah dia ingin aku terbuka?.

Setelah Kejadian itu aku belajar seperti biasa. Menengok Jam di dingding yang menunjukan pukul 9, masih sangat lama untuk menunggu bel istirahat. Aku sudah malas dengan pelajaran Ekonomi, entah kenapa dengan hitung-hitungan aku merasa bodoh. Aku baringkan kepalaku di Meja, menghadap Jendela kelas yang cukup besar membuat ku merasa nyaman. Di luar terlihat langit yang biru dan cerah. Karena memang kelasku berada di lantai 2, untuk sekedar melihat langit pun sangatlah mudah. Saat aku terus memperhatikannya, tiba-tiba aku melihat seorang perempuan sedang berjalan di depan kelasku. Dia tidak sendiri, perempuan tersebut bersama pak Adi, selaku wali kelas. Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya karena, pundak pak Adi menghalangi pengelihatanku.

Aku kira mereka akan terus berjalan ke depan, ternyata aku salah. Mereka mengarah ke kelasku.

Langkah kaki pak adi yang cukup keras, Mengharuskan aku untuk membangunkan kepalaku kembali. Cukup malas rasanya jika pak Adi harus berpidato di jam-jam malas seperti ini.

"Permisi maaf mengganggu waktunya,,,," Ujar pak Adi.

Semua murid terlihat kebingungan. Entah apa yang akan di sampaikan lagi oleh wali kelas kami. Biasanya dia lebih sering membicarakan soal program study dan olahraga. Namun kali ini aku melihatnya bersama wanita, Siapa?

"Jadi kali ini Kelas IPS-2 Akan kedatangan siswi baru, Pindahan dari SMA Bunga Ceria." Ucap pak Adi, Mengagetkan seluruh murid yang berada di dalam ruangan yang berukuran cukup kecil ini.

"Murid baru?"

"Siapa ya?"
Celoteh semua murid.

Via pun tiba-tiba menyolekku, dan ikut berbisik menanyakan siapakah siswi baru tersebut. Suasana kelas begitu gaduh dan suara murid-murid yang bergosip mengalahkan suara pak adi yang berbicara.

"Varohh,, Varohh,, siapa ya cewek itu?" tanya via pelan.

Aku menoleh ke arahnya, "Kamu gak marah lagi sama aku?" Balik ku bertanya.

Via hanya terdiam, setelah itu menggelengkan kepalanya.

"Ishhh..." aku mendengus pelan.

Tingkahnya yang konyol, cukup membuatku sedikit jengkel padanya. tapi aku juga sayang sama dia, karena dia sahabat ku yang paling pengertian.

Setelah itu aku kembali menghapakan posisiku ke depan, mendengarkan kembali Pak Adi berbicara.

"Silahkan nak Cayla" Panggil pak Adi.

Tiba-tiba seorang Perempuan masuk, langkahnya yang sedikit berdetuk membuat semua murid tertuju padanya. Dengan mengenakan seragam dan juga rok yang sedikit mini memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi. Rambutnya yang di kuncir kuda, menyisahkan ikat rambut berwarna pink di bagian atasnya. Ia berjalan layaknya seorang putri kerajaan dengan tas berwarna biru yang menggantung di lengannya. tak ayal, semua Siswa melotot di buatnya.

"Dia Cayla, Siswi baru yang akan bergabung dengan kalian." Teriak pak Adi.

Saat melihat wajah Cayla aku jadi ingat dengan seseorang, aku terus mengingat dan berpikir. Karena, wajahnya tidak asing lagi bagiku.

"Ya dia kan perempuan yang bersama Daniel waktu itu! Iya aku ingat!" Ujar ku sendiri dalam hati dan tanpa di sengaja, mulutku sedikit bersuara sehingga membuat Seluruh orang memperhatikanku.

"Kau kenapa ro?" Semua murid berseru.

Aku hanya tersenyum malu kemudian terdiam.

To be Continued.....
Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di