alexa-tracking
Kategori
Kategori
4.89 stars - based on 9 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c656c9b337f937d581937fb/kau-bukan-dia

KAU BUKAN DIA

GIF

Edisi Cerita Bersambung
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
❤Happy Reading❤

KAU BUKAN DIA

Bagian 1
***

“Mas, jangan bengong kayak Keong! Ayo kita bicara jika memang Mas sudah cape dengan keadaan ini Jangan diam membisu Mas?”

Mia Astuti tak henti-hentinya bicara, mengomel, bahkan kadang memaki. Seperti punya banyak perbendaharaan kata, setiap hari selalu ada kalimat kalimat baru yang meluncur dari bibir tipis mungilnya itu.
Sementara laki-laki dihadapannya cuma bisa menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih abu-abu. Tak memberi respon, apalagi melontarkan satu kata pun.

Cuma terdiam, membisu.

Ya! Agus Sukiman nama laki-laki itu memang sudah seperti mayat hidup. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi sebulan lalu membuatnya koma dan mengharuskan terbaring di salah satu ruang rumah sakit lengkap dengan segala kabel yang terpasang di tubuhnya tak berdaya. Sementara Mia, istrinya, selalu datang tiap hari menjenguk, melihat kondisi laki-laki yang dicintainya. Seringkali mengajak bicara bahkan kadang sampai seperti orang yang sedang berantem. Semua upaya dilakukannya agar ada respon dari Agus, walau selalu berakhir dengan keheningan.

“Kalau Mas masih betah diam, ya diam saja sepuas hati Mas,” ujar Mia sambil membelai pipi Agus.

“Mia selalu ada di sisi Mas Agus meski keadaan kita seperti ini sekarang.”

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk pelan.

“Assalamu alaikum, Mia? Ini Aku, Kevin,” sahut suara di balik pintu.

Mia melepaskan tangannya dari pipi Agus, kemudian beranjak menuju pintu lalu membukanya perlahan.

“Masuk, Vin,” ujar Mia lembut. Mempersilahkan Kevin, sahabat Agus masuk ke dalam kamar.

“Makasih Mia,” balas Kevin lalu melangkah menuju sisi ranjang Agus.

“Mia, bagaimana kondisi terakhir Agus? Apa kata dokter? Apa sudah ada perubahan?” tanya Kevin bertubi-tubi membuat Mia menghela napas panjang.

“Ya ampun Vin, tanya satu-satu dong?

Kevin menyadari jawaban Mia dan terkekeh pelan menahan tawa.

“Maaf Mia, terlalu semangat soalnya.”

“Menurut dokter sejauh ini belum ada perkembangan yang maksimal, setidaknya kita harus terus mencoba mengajaknya berbicara agar otaknya bisa memberi respon” balas Mia pelan, sangat pelan sampai Kevin harus memperlebar telinganya agar bisa mendengar jawaban Mia.

“Kalau begitu kamu harus sabar Mia, jangan patah semangat. Berusahalah terus agar Agus bisa kembali dari komanya.”

“Ya! Itu harus Vin! Makasih ya atas kunjungannya,” ujar Mia penuh haru.

***

Seminggu kemudian.

Langkah Mia tergopoh-gopoh bergegas berjalan melewati koridor rumah sakit, sebelumnya menyempatkan diri meminta ijin kepada majikan tempat ia bekerja untuk ke rumah sakit. Masih teringat pihak rumah sakit menelpon memberi tahu kondisi terakhir Agus.

“Selamat Siang Bu, kami dari pihak Rumah Sakit Persada ingin memberi tahu kalau dokter Yani mau bertemu dengan Ibu siang ini.”

Begitu sampai di ruangan dokter Yani, langkah Mia terhenti. Tangannya mengulur mengetuk pintu, untunglah dokter ada di ruangannya.

“Silahkan duduk, Bu.”

“Terima kasih Dok, berita apa yang ingin di sampaikan?”

“Maaf sebelumnya jika mengganggu pekerjaan Ibu, ini tentang Pak Agus. Ibu harus kuat menerimanya, harus tabah karena semua sudah menjadi takdir Allah semata.”

“Astagfirullah al adziim, suami saya kenapa Dok?”

“Maaf Bu, saya mewakili tim medis lainnya selama ini sudah berusaha sebaik mungkin. Segala upaya telah kami lakukan untuk menyelamatkan suami Ibu, namun Yang Kuasa berkehendak lain. Pak Agus telah berpulang menghadap-Nya.”

Seperti kilat menyambar bumi, seperti itu pula kata-kata dokter Yani menyayat hati Mia. Bagaimana tidak, mas Agus yang dia harap bisa kembali sadar membuka mata melihatnya kini telah tiada. ‘Ya Allah, kuatkan aku,’ bisik Mia, air mata pun tumpah. Tangisannya memenuhi ruangan, dokter Yani beranjak dari kursi menepuk bahu Mia perlahan, memberi kekuatan.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ymulyanig3 dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 4

KAU BUKAN DIA #2

***

Dunia Mia Astuti tak lagi indah, semua berubah dalam sekejap. Kehilangan pasangan hidup, membuat hati yang dulu tertangkup sempurna kini rapuh separuh. Tak ada lagi kekasih hati tempat mengadukan segala rasa. Kepergian Agus untuk selama-lamanya, membuatnya harus tegar, setegar karang di bibir tebing.

Kevin membantu memulangkan jenazah almarhum dari rumah sakit dan ikut berpartisipasi dalam proses penguburan sahabatnya itu. Ia menyisihkan waktu agar pekerjaan di kantor tidak terbengkalai. Mia sebenarnya berat meminta pertolongan pada Kevin, tetapi cuma dirinya lah yang bisa ia andaikan saat ini.

Keluarga mereka yang datang mengikuti prosesi pemakaman telah kembali ke daerah masing-masing. Selama ini, Mia cuma tinggal berdua dengan Agus. Mereka hijrah dari kampung, berniat mengadu nasib di kota. Agus bekerja sebagai office boy di perusahaan tempat Kevin bekerja, sementara Mia bekerja di sebuah toko roti.

Perkenalan Agus dan Kevin juga secara kebetulan. Waktu itu Kevin sedikit kewalahan membawa berkas-berkas kantor, lalu Agus menawarkan diri membantunya. Sejak saat itu mereka berteman baik.

***

Sore itu, Mia kembali ke makam. Sudah tiga hari almarhum suaminya terbaring di dalam sana. Rasa sedih tak bisa lagi dilukiskan, semua menyatu dalam doa, dan derai air mata yang selalu setia mengiringi setiap isakan lirih.

“Mia ....”

Kevin tiba-tiba ikut bersimpuh di sisi makam Agus, bibirnya tak luput pun merapal doa, ikut mendoakan sahabat semoga mendapat yang terbaik di sisi-Nya. Mia hanya menoleh sesaat lalu mengembalikan pandangannya ke arah makam.

“Hmm,” lirih terdengar suara Mia, saat ini dia hanya bisa terdiam. Doa-doa dipanjatkan dalam hati, bahunya sedikit terguncang, rasa enggan beranjak meski malam tak lama lagi datang menyapa.

“Mia ... ayo kita pulang, sebentar lagi Maghrib. Nanti kita kemalaman di jalan,” ujar Kevin seraya menyentuh ujung bahu Mia.

Isakan wanita muda itu perlahan terhenti. Seakan tersadar oleh ucapan Kevin. Tangannya mengusap pipi yang basah oleh air mata, kepala yang sedari tadi tertunduk kini terangkat pelan.

Tangannya kembali mengusap nisan berterakan nama, Agus Sukiman.

“Mas, Mia pulang dulu ya.”

Kevin membantu Mia berdiri, keduanya jalan bersisian. Tanpa suara, menikmati heningnya pemakaman.

***

Akhirnya, mereka pun tiba. Lantunan suara adzan yang berkumandang dari musholla dekat kontrakan Mia menggema. Mengisi keheningan, menyeru hamba-hamba Allah sejenak meluangkan waktu, melaksanakan ibadah salat Maghrib.

“Vin, makasih sudah mengantar sampai ke rumah. Maaf buru-buru, saya mau ke musholla,” ujar Mia sambil melepas seatbelt lalu turun dari mobil Kevin.

Kevin ikut turun dari kendaraan, lalu mengatakan pada Mia bahwa dia pun mau ikut salat berjamaah di mesjid.

“Silahkan, Vin. Saya mau ke rumah dulu, ambil mukena,” sahut Mia sambil berlalu menuju kontrakannya.

Lepas salat berjamaah, Kevin langsung pulang setelah terlebih dahulu berpamitan pada Mia.

Mia bergegas masuk ke dalam rumah, dinyalakannya penerangan yang ada, lalu merapikan mukena yang tadi dipakai sholat. Melangkah menuju dapur dan memanaskan makanan. Biasanya ada mas Agus yang menemani di dapur, sibuk membantu menyiapkan makan malam. Namun, kini hanya ada dia sendiri bersama kenangan almarhum.

‘Hmm ... aku harus terbiasa dengan keadaan ini, harus terbiasa tanpamu Mas,’ batin Mia.

Setelah makan malam dan membersihkan dapur, Mia lanjut menunaikan sholat Isya. Khusyu' mendoakan almarhum suaminya, pun untuk diri yang kini sendiri.

Sebelum terbuai di pembaringan, diraihnya Kitab yang selalu dibaca tiap malam, membaca dengan tartil dan fasih ayat-ayat suci itu. Selembar demi selembar, hingga rasa kantuk datang menyapa kedua mata indahnya, dan memaksa raga yang letih agar berbaring. Tidur.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni

KAU BUKAN DIA #3

***

Keesokan harinya, ketika sang surya belum beranjak tinggi, Mia sudah berangkat ke tempat kerja, karena takut terlambat dia menumpang di motor Bu Yuli, tetangga yang kebetulan sekolah tempat mengajarnya searah dengan tempat kerja Mia.

“Makasih Bu, atas tumpangannya,” ujar Mia, begitu turun dari motor.

“Iya sama-sama, Mia. Saya lanjut lagi ya,” sahut Bu Yuni, lalu kembali melajukan kendaraannya.

Suasana di tempat kerja belum ramai, teman-teman belum banyak berdatangan, mungkin lagi dalam perjalanan atau bahkan terjebak macet.

Mia menghampiri Novi, salah satu rekan kerja, dan mengajaknya ngobrol bareng sambil menunggu teman yang lain datang. Kebetulan tempat kerja belum buka, masih ada waktu berbincang sebelum semua sibuk mengaduk dan menguleni adonan roti.

Tiba-tiba ponsel dalam tas Mia berdering, tertera nama Kevin, tak menunggu lama diraihnya lalu di seberang sana terdengar suara Kevin menyapa.

“Assalamu alaikum Mia, sudah di tempat kerja?”

“Wa alaikum salam, iya Vin, dari tadi malah,” sahut Mia.

“Oh iya, ntar sore pulang kerja kujemput ya? Kita dinner bareng.”

“Maaf, Vin. Terima kasih, sebentar aku pulang sama Novi. Sudah janjian tadi.”

“Makasih juga sudah ngajakin dinner bareng, tapi lain kali saja ya?” lanjut Mia, menolak halus ajakan Kevin.

Dia tahu diri lah, menyandang gelar janda bukan berarti bebas kemana-mana dan melakukan apa saja.

“Okey ... gak apa-apa. Assalamu alaikum, Mia.”

“Wa alaikum salam.”

Novi yang sedari tadi memperhatikan Mia bercakap dengan Kevin akhirnya buka suara setelah wanita itu mematikan sambungan teleponnya.

“Mia, itu tadi Kevin ya? Sejak kematian suamimu sepertinya dia intens banget deketin kamu, jangan-jangan?”

“Aah ... sembarangan saja kamu, Nov. Jangan bikin gosip ya? Antara aku dan Kevin tuh tak ada apa-apa, aku cuma membatasi diri saja. Tak enak dipandangan orang bila terlihat bersama-sama terus.” sahut Mia menimpali perkataan Novi.

Dimatanya Kevin memang baik, sebagai sahabat dia pintar menempatkan diri, membantu Mia ketika dalam masalah, dan tentu saja selalu ada saat dibutuhkan. Namun, bagi Mia semua kebaikan itu justru kelak menjadi bumerang jika saat ini ia sendiri tak bisa membatasi dirinya.

“Wah, jangan parno gitu dong. Bisa saja Kevin melakukan semua itu karena perasaan terikat pada Almarhum Mas Agus. Secara mereka ‘kan sahabatan?” tukas Novi.

“Maksudmu? Kevin baik padaku karena aku istri Mas Agus, begitu?” tanya Mia.

“Anggap saja demikian. Beres!” tegas Novi.

Percakapan dua wanita itu berakhir karena jam kerja sudah dimulai. Mereka dan teman lainnya masuk teratur, beriringan, memulai pekerjaan dibidangnya masing-masing.

***

Di tempat lain, Kevin akhirnya kepikiran setelah perbincangan singkatnya dengan Mia tadi. Beberapa berkas luput dari pandangan, ketikan di layar komputer kadang menjadi typo. Sungguh, ia tak menduga. Penolakan Mia membuatnya sedikit hilang konsentrasi.

“Wooi Bro! Pagi-pagi kok sudah menghayal, kayak orang lagi jatuh cinta,” seru Iwan mengangetkan Kevin yang kedapatan melamun.

Tak biasanya di jam-jam sibuk begini Kevin teman satu divisinya mengacuhkan pekerjaan, melamun malah.

“Eh kamu Wan, ngagetin aja,” balas Kevin.

“Mikirin siapa sih emangnya? Serius banget,” ujar Iwan, penasaran. Ditariknya kursi ke arah Kevin.

Pandangan Kevin mengarah pada layar gawai, ada foto Mia di sana. Ditunjukkannya pada Iwan yang langsung melongo takjub. “Cantik! Wanita ini keibuan banget Vin! Nemu dimana?”

Kevin menjelaskan perihal Mia pada Iwan. Sesekali temannya itu nampak menyimak, sesekali pula memandang Kevin takjub.

"Wah, wanita ini memang layak untuk diperjuangkan, Vin. Disaat seperti ini saja ia mampu menahan diri untuk tidak menerima ajakanmu."

Kevin tersenyum bahagia karena mendapat dukungan dari Iwan. Seakan ada angin segar yang mengisi rongga hatinya yang tadi hampir 'blank' gegara ajakannya ditolak, ia bertekad akan terus memperjuangkan perasaannya pada Mia.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni

KAU BUKAN DIA #4

***

Hari demi hari berlalu dan berganti dengan segala macam cerita, siklus kehidupan yang akan terus berputar mengiringi kisah anak manusia yang kadang rumit, tetapi penuh makna.

Tak terasa pula, sudah sebulan lebih Mia menyandang gelar 'Janda Kembang' bukan karena hobinya memakai rok kembang-kembang atau karena kecintaannya pada beraneka bunga, bukan.

Semua karena status pernikahannya yang berumur pendek, kata orang pernikahan seumur jagung, begitulah nasib perkimpoian Mia dan Agus.

Bagaimana tidak, sebulan pasca menggelar hajatan pernikahan, mereka memutuskan hijrah ke kota. Ingin mengais rejeki di kota yang orang sebut sebagai kota metropolitan. Dimana segala jenis pekerjaan tersedia, tidak seperti di kampung. Pekerjaan cuma itu-itu saja.

Mengandalkan ijazah SMA, Agus memberanikan diri melamar pekerjaan di beberapa kantor dan perusahaan. Namun, usahanya hanya menerima penolakan karena lowongan 'Office Boy' yang ditujunya telah terisi.

Berkat bantuan pak Hadi, suami ibu Yuli maka Agus berhasil masuk di perusahaan tempat Kevin bekerja, sebagai 'office boy' tentunya.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih sore itu ketika dalam perjalanan pulang, ojol yang ditumpanginya terserempet mobil bus dan mengakibatkan 'driver' ojol meninggal di lokasi kejadian, sementara Agus dengan kondisi terluka parah dan tak sadarkan diri segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Setelah mendapat pertolongan, dokter akhirnya memvonis Agus mengalami koma karena adanya benturan keras yang terjadi di kepala.

***

Ketukan yang berulang-ulang di pintu mengagetkan Mia, lamunannya buyar seketika. Kemudian dia beranjak keluar dari kamar menuju ruang depan. Kasian kalau pintu terlambat dibuka bisa-bisa tangan orang itu bakal kapalan.

"Assalamu alaikum ... Mia," sapa Kevin setelah pintu terbuka.

"Wa alaikum salam, ada apa Vin? Tumben pagi-pagi dah kemari." Mia tetap mematung depan pintu tanpa mempersilahkan Kevin masuk.

"Saya tidak disuruh masuk nih?" tanya Kevin kemudian, "masa tamu dibiarin diluar, gak disuruh masuk."

Mia tersenyum dan senyuman itu membuat jantung Kevin seakan ingin melompat keluar.

"Maaf ... kita bicaranya di teras saja ya Vin, gak enak kalau di dalam. Apa kata tetangga nanti." Mia lalu mempersilahkan Kevin duduk di kursi teras.

Sambil tersenyum kecut Kevin menuruti perkataan Mia. Dia lalu duduk di seberang meja, menghadapkan wajahnya ke arah Mia.

"Kalau boleh tau, apa maksud kedatanganmu ke mari, ada sesuatu yang penting kah?" Mia merasa heran kenapa Kevin datang ke rumahnya pagi-pagi begini, kalau tidak ada maksud dan tujuan.

"Aku ... aku ... aku, aah kenapa jadi grogi begini sih?"

Mendadak lidah Kevin kelu, dia seperti kehilangan keberanian. Berhadapan dengan Mia membuatnya terlihat seperti orang dungu. Entah kemana kata-kata itu, dia kelimpungan sendiri.

"Mau ngomong aja susah, berat di hati kayaknya," celetuk Mia. Matanya terus memandangi wajah Kevin yang mulai tertunduk, grogi.

"Ehm ... Mia, maafkan aku ya kalau selama ini terkesan buruk di matamu. Sampai-sampai aku merasa seperti dijauhi perlahan." Kevin memandangi Mia, penuh harap.

Sementara wanita di depannya hanya tersenyum, mencerna kata-kata itu. Mencoba memberi jawab bijak agar tak melukai lebih dalam.

"Kevin, jangan salah paham. Menjauh bukan berarti memutuskan silaturahim 'kan? Aku hanya menjaga maruahku, sebagai seorang janda tak bisa sebebas kala masih sendiri."

Sahutnya kemudian, "lagipula masa iddahku belum habis, menjaga pandangan orang lain itu lebih baik, jangan sampai karena salah laku maka buruklah nama."

Terlihat helaan napas panjang Kevin. Sungguh, Mia benar-benar telah mencuri hatinya. Rasa kagum dan respek pada sosok wanita muda di depannya ini makin menjadi. Mia sungguh bijak menghadapi status yang disandangnya sekarang.

Setelah berbasa basi sejenak, Kevin pamit pulang. Dirasa jawaban Mia sudah cukup menjawab kegalauannya selama ini. Menjauh bukan karena benci, tetapi lebih menjaga nama dan maruah seorang janda di mata masyarakat.

Sejatinya seorang wanita patutlah menjaga diri, menjaga kehormatan, dan juga nama baik. Menjaga pandangan lelaki dan menghindari fitnah. Walau apa pun status yang disandang, apakah ia seorang gadis remaja, wanita pekerja, ibu rumah tangga, atau janda sekalipun. Seperti Mia.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
handayani999 dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni

KAU BUKAN DIA #5

***

"Vin! Berkas laporan kemarin jangan lupa di-input juga ya? seru Iwan, mengagetkan Kevin yang sedang asyik meng-input data ke komputer.

'Iya ... siip!"

Siang itu semua sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, pun Kevin. Tiba-tiba terdengar suara merdu menyapa, menghilangkan konsentrasi sesaat untuk mencermati sumber suara indah itu.

"Bang Kevin, sibuk banget ya hari ini?" ucap seorang gadis manis berbaju polos pink abu-abu dengan rok kembang sebatas lutut.

Dia Arumi Subagyo, anak tunggal Pak Subagyo manajer personalia di kantor Kevin. Dengan tinggi 168 cm dan berat 50 kg tubuh langsing itu banyak mendapat perhatian dan wajah putih cantiknya selalu menjadi sorotan mata lelaki pekerja di kantor itu. Sikap yang santun dan sangat feminin, membuat siapa saja mudah jatuh hati dengan tutur lembutnya.

Namun, semua kelebihan Arumi tidak menggoyahkan hati Kevin. Sekuat apapun didekati, ia selalu pandai mengelak dengan banyak alasan. Tak peduli yang ditolaknya adalah anak salah satu atasan di kantor. Seperti saat ini, lagi-lagi Arumi mendatangi meja kerja Kevin hanya untuk sekadar menyapa, mencuri hati. Mengharapkan balasan meski cuma sebaris senyum terkulum.

Kevin menoleh, mengangguk. "Iya nih, sibuk banget. Emangnya kenapa Arumi?"

"Cuma mau mastiin, bentar mau ya makan bareng di kantin kantor?" Senyum merekah mengembang di ujung bibir merah itu. Kedua netranya nampak berkilau akan harap, semoga kali ini permintaannya dikabulkan oleh lelaki pujaan.

"Hmm ... kita liat nanti yah? Soalnya laporan sudah harus selesai sore ini," balas Kevin.

"Okey, Vin. Semoga sempat ya," balas Arumi sambil berlalu, kembali fokus ke pekerjaannya.

Sungguh, meluluhkan hati Kevin butuh kesabaran yang maksimal, Arumi tahu itu. Kevin dikenal dingin terhadap wanita di kantor, tak sedikit pula menjauh enggan mendekat daripada terkena duri yang membentengi Kevin.

Namun, bukan Arumi namanya jika harus menyerah begitu saja. Mengejar cinta lelaki dingin seperti Kevin merupakan tantangan tersendiri. Dia bertekad akan terus mendekati lelaki itu, membuatnya membuka hati, dan memilikinya jika perlu. Sungguh suatu rencana yang tak mudah.

***

Jam istirahat telah berlangsung selama sepuluh menit, rekan-rekan kerja Kevin telah lama bergeser ke kantin kantor, kecuali Kevin. Dirinya masih saja sibuk berkutat dengan laporan dan tumpukan-tumpukan berkas yang harus disortir.

Mata Arumi menjelajahi tiap sudut kantin mencari sosok Kevin, tetapi tak dijumpainya lelaki introvert itu. Iwan yang hendak ke toilet melihat Arumi celingak-celinguk seperti orang kebingungan, ia pun menghampiri gadis itu.

"Ada apa Arumi?"

Sontak Arumi kaget, spontan menoleh melihat Iwan yang telah berdiri di sampingnya. Ia menghela napas panjang, lalu dengan tenang menjawab pertanyaan Iwan.

"Aku mencari Kevin, tadi kami sudah janjian mau makan siang bareng. Apa kau melihatnya, Wan?" jawab Arumi sambil tersenyum.

"Ooh Kevin? Dia masih di biliknya tuh, masih kerja laporan kayaknya," lanjut Iwan, "datangi aja, siapa tahu dia lupa kalau sudah janjian sama kamu, Arumi."

Arumi mengangguk paham. "Oke Wan, makasih ya. Aku ketemu Kevin dulu."

Iwan tersenyum lalu mengacungkan jempolnya, ia tahu jika selama ini Arumi getol memburu Kevin. Mengharapkan lelaki dingin itu menjadi pelengkap hatinya. Arumi segera berlalu, meninggalkan kantin menuju ruangan Kevin di lantai tiga.

***

Di bilik kerjanya, Kevin menyandarkan tubuhnya ke kursi. Rasa penat memberati kedua bahunya, pegal dan kaku. Bagaimana tidak, sejak pagi dia sudah harus mengerjakan laporan, menyortir berkas-berkas dan memasukkan angka-angka tiap laporan penjualan ke komputer. Memudahkan tugas auditor, sehingga tak boleh salah meng-input data.

Dia berdiri sejenak, meregangkan otot-otot kaki dan lengan, olah raga kecil melepas kekakuan urat saraf.

Secangkir kopi yang menemaninya tandas sejak tadi. Diraihnya cangkir itu lalu membawanya ke dapur, sepertinya membuat kopi bisa sedikit membantu konsentrasi. Sisa beberapa berkas yang harus diperiksa, harus selesai sebelum jam 3 sore.

Arumi tiba di bilik Kevin, tiada siapapun disana. Namun, komputer yang masih menyala menandakan kalau Kevin tak berada jauh. Dia pun bergegas menuju dapur kantor yang letaknya di ujung ruangan Kevin. Dilihatnya punggung lelaki itu sedang mengaduk kopi.

"Ehmm ...."

Kevin terlonjak kaget, hampir saja cangkir kopinya tumpah. "Arumi! Bikin kaget saja deh kamu."

Arumi tergelak, tak menyangka reaksi Kevin sekonyol itu. " Maaf, maaf ... tadi tak sengaja, maafin aku ya Vin?"

Kevin mendengus, kemudian berjalan melewati Arumi sambil membawa cangkir berisi kopi buatannya tadi.

Arumi mengikutinya. Merasa diikuti dari belakang, Kevin pun membuka suara.

"Kenapa Arumi? Ada perlu apa hingga mencariku hingga ke dapur?"

"Astaga Kevin! Jam makan siang tak lama lagi selesai, sementara kamu masih sibuk kerja," lanjutnya kemudian, " yuk, kita makan siang dulu. Nanti kena maag lho?"

Kevin terdiam. Begitu tiba di biliknya, cangkir kopi diletakkan di piring alas. Kemudian balik menghadap ke Arumi, kedua tangannya bersidekap di dada, matanya tak lepas memandangi gadis itu.

Pipi Arumi memerah, malu ditatap Kevin. Tiba-tiba mulutnya terkunci, entah sihir apa yang ditularkan Kevin sehingga sekali pandang saja membuatnya serasa tak bertulang.

"Aku tak lapar, Arumi. Masih banyak yang harus kukerjakan. Jika kau lapar, pergilah makan sekarang. Waktu istirahat tak lama lagi usai."

"Jadi kau tak mau menemaniku makan siang hari ini, Vin?"

"Ya! Maaf mengecewakanmu," jawab Kevin singkat. Lalu membalik badan, kembali duduk, dan melanjutkan kerjaan yang tadi tertunda.

Merasa tidak diperhatikan, Arumi akhirnya pergi meninggalkan bilik Kevin. Langkahnya sedikit berlari, menuju toilet.

Sesampainya di toilet segera ia menutup lalu mengunci ruangan kecil itu. Dadanya sesak akan amarah, rasa terabaikan itu sangat mengiris hati. Memilukan perasaan, sangat pedih.

"Aaahhhkkk ...."

Sekuat tenaga ia berteriak, lalu meraih pinggiran wastafel. Menatap wajahnya di cermin, tampak gurat kecewa jelas terpampang di sana.

Disekanya bulir-bulir air mata yang turun deras membasahi pipi. Hari ini, ia tak tahan dengan perlakuan Kevin padanya. Sungguh, cintanya telah bertepuk sebelah tangan.

***

Menyadari Arumi telah meninggalkan biliknya, Kevin lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tak menyangka, gadis itu sangat gigih memburunya.

"Semua ini karena kamu, Mia," gumamnya perlahan. "Aku tak bisa mencintai Arumi, karena cintaku telah terpatri hanya untukmu."

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni

KAU BUKAN DIA #6

***

Mia sedang berjalan bersama Novi menuju halte, ketika pulang dari tempat kerja mereka. Wajah-wajah yang kelelahan, tetapi tetap tersenyum penuh bahagia.

"Mia, gimana kabar Kevin? Kamu kok gak pernah cerita tentang dia lagi? Kalian musuhan ya?" Novi mencecar banyak tanya. Mia hanya tersenyum.

"Lho, ditanya bukannya menjawab, malah senyam-senyum," ujar Novi kemudian. Mia menoleh sesaat dan terus melanjutkan langkahnya.

"Kevin ya? Hmm, dia baik-baik saja," sahut Mia tersenyum, "kami memang jarang bertemu, Kevin sedang banyak kerjaan sekarang."

"Jadi kalian gak pernah ketemuan?" tanya Novi, penasaran.

"Iih kamu kepo deh, Nov. Penasaran banget ya?" Mia tertawa, renyah seperti biskuit kelapa.

"Engg ... enggak juga. Cuma mau tahu saja." Novi cemberut, bibir memble-nya maju. Mirip Omaswati.

"Hahaa ... ngambekan banget sih! Ketemu iya, tapi gak sering. Kevin sibuk dengan laporannya dan aku juga sibuk dengan kerjaan," ucap Mia, terus menggandeng lengan Novi melangkah ke halte yang semakin dekat.

"Apa kau sudah jatuh hati padanya?"

"Jatuh hati? Hmmm ... tak semudah itu, Nov. Kevin orang yang berbeda, dia tidak seperti Mas Agus. Kevin orangnya ekstrovert, open minded, dan juga sedikit keras kepala. Kau tahu? Aku sudah melarangnya agar jangan selalu datang ke rumahku, tapi kenyataannya? Seminggu sih masih bisa tahan, tapi setelahnya? Kau tebak sendirilah."

"Berarti dia memang serius padamu, Mia. Kevin orang yang tangguh, dia memperjuangkan perasaannya agar bisa kau terima. Langka lho orang seperti dia." Mereka telah tiba di halte, keduanya duduk di bangku yang kosong. Ada beberapa orang tampaknya juga sedang menunggu bus.

Mia makin terpojok. Kata-kata Novi seperti sebuah alarm yang berdentang keras. Dia tahu, Kevin memang menyukainya, tapi tak semudah itu menerima perasaan orang lain, dan menafikan perasaannya sendiri.

Bayang-bayang almarhum Agus pun masih tak lepas dari benaknya, walau pernikahan mereka cuma seumur jagung, tetapi kesan berumah tangga itu yang tak lepas dari ingatannya. Mia menatap jalan yang ramai di depannya, tetapi ingatannya kembali ke masa dimana ia harus berada di kota ini.

"Mia, kok bengong? Mikirin Kevin ya?" Novi mencolek pinggang sahabatnya itu.

"Aduuh, sakit tau!" Mia meringis mengusap pinggangnya.

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik dan tingkah mereka.

"Siapa suruh bengong! Bisa saja saat ini Kevin juga lagi sedang mikirin kamu lho, Mia," kata Novi.

"Itu cuma perkiraan kamu saja, Nov. Kevin saat ini pasti masih sibuk meng-input data-data ke komputer, kalau dia mikirin aku bisa-bisa nanti nggak konsen jadinya," balas Mia. Dia pun kembali membayangkan Kevin yang kerepotan mengatur berkas mana yang harus dia dahulukan. Senyum mengembang di sudut bibirnya.

"Aiih ... senyum sendiri ntar dibilang gila lho!" cetus Novi.

"Enak saja!"

"Maaf, yang kalian omongin sedari tadi itu Kevin Atmajaya ya?" Tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh suara seseorang yang kini telah berdiri di depan Mia.

Mia mengangkat wajahnya, melihat rupa sang penanya. Seorang wanita muda, langsing, berpenampilan sangat elegan, dan tentu saja, cantik!

"Maaf, anda siapa?" tanya Mia, dia segera berdiri berhadapan dengan wanita cantik itu.

"Oh, maaf, saya lupa memperkenalkan diri." Wanita itu mengulurkan tangan kanannya ke depan Mia. "Kenalkan, nama saya Arumi Subagyo. Panggil saja Arumi. Saya anak manajer personalia di kantor yang sama dengan Kevin bekerja."

Mia segera menjabat tangan Arumi. "Oh iya, nama saya Mia Astuti, panggil saja Mia, dan ini teman saya, Novi." Setelah memperkenalkan Novi, jabat tangan itu pun dilepaskannya.

"Jadi, Mbak Arumi sekantor dengan Kevin?" tanya Novi, tak bisa menahan tanya lebih lama sejak Arumi hadir di depan mereka.

"Iya, kami rekan kerja satu divisi. Ada hubungan apa kalian dengan Kevin?" ujar Arumi.

"Bukan saya, Mbak. Nih, teman saya ini. Mia Astuti, dia tunangannya Kevin!" Novi sengaja menajamkan kalimatnya di akhir.

"What! Tunangan?" Bola mata Arumi membelalak, seakan meledak ingin keluar dari kelopaknya. Rasa terkejut itu tiba-tiba membuat jantungnya seakan ingin berhenti berdetak.

Mia segera mencubit lengan Novi. Sambil memperhatikan ekspresi Arumi yang sontak kaget mendengar pernyataan Novi barusan.

"Maaf Mbak, teman saya ini memang blak-blakan orangnya, saya cuma berteman dengan Kevin," sahut Mia kemudian.

Akhirnya bus yang mereka tunggu-tunggu datang juga. Setelah berpamitan pada Arumi keduanya segera melompat naik dan berlalu dari halte. Meninggalkan Arumi dengan penuh tanda tanya.

Ditatapnya bus itu dengan pandangan yang aneh, mendadak senyum keramahan yang tadi menghiasi bibir mungilnya menghilang. Ada sorot mata yang lain, sekilas tajam dan menusuk.

'Hmm ... jadi inilah rupanya, alasan mengapa Kevin selalu bersikap dingin padaku. Ternyata hatinya telah tertambat pada Mia, seorang gadis rendahan, cuiih!'

Sekelebat rasa tak suka timbul seketika, Mia telah menjadi rival-nya memperebutkan hati Kevin. 'Aku tak rela jika Kevin harus bersama dengan Mia, aku yang harus bersama dengan Kevin, bukan Mia!' batinnya pelan.

Segera ia pun berlalu dari tempat itu, menaiki bus selanjutnya menuju bengkel di mana mobilnya sedang di-service.

***

Sementara itu, dalam bus Mia dan Novi kembali terlibat percakapan serius.

"Nov, kenapa tadi kau bilang kalau aku adalah tunangannya Kevin? Kau lihat ekspresi Arumi? Sepertinya dia shock mendengarnya," kata Mia sambil memandangi Novi yang keliatan acuh.

"Ah, biarkan saja! Dia sengaja kubuat penasaran, siapa suruh kepo!"

Lanjutnya lagi, "Kayaknya dia ada hati deh sama Kevin." Novi mengira-ngira. "Kalau tak ada, kenapa juga dia kaget? Dia cantik, penampilannya juga 'wah' masa sih tak bisa menggaet lelaki setampan Kevin?"

"Entahlah, Nov. Semua kembali kepada Kevin, nanti dia pasti akan menjelaskan tentang hal ini padaku," tukas Mia.

Bus yang mereka tumpangi berhenti di sebuah halte. Novi segera beranjak turun, "Aku duluan ya, Mia. Sampai jumpa besok."

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni

KAU BUKAN DIA #7

***

Keesokan harinya. Arumi tampak gelisah, sekali-kali diliriknya bilik kerja Kevin. Lelaki pujaannya belum menampakkan diri. 'Ada gerangan apa ya, kok Kevin belum datang juga?'

Di lain tempat, Kevin sedang dalam perjalanan mengantar Mia ke tempat kerjanya.

"Vin, kamu dekat ya sama Arumi?" tanya Mia.

Kevin tersentak, "Arumi? Kau mengenalnya di mana? Dia itu anak manajerku, kebetulan ditempatkan di divisiku. Jadi, dia rekan kerjaku di kantor. Kenapa memangnya?"

"Kebiasaan deh, selalu nanya berebutan. Satu-satu dong," balas Mia.

"Iyaa, kapan kau ketemu Arumi, Mia?" tanya Kevin lembut. Tak ingin membuat mood wanita itu redup pagi ini.

"Kemarin. Ketika aku sedang menunggu bus bersama Novi, dia menghampiriku, dan memperkenalkan dirinya," jawab Mia.

"Oh begitu, kemarin dia duluan pamit katanya mau mengambil mobilnya yang sedang di-service di bengkel. Bisa saja ketika sedang menunggu bus dia melihatmu." Kevin melajukan mobilnya pelan, menghindari mobil lain yang ngebut.

"Semua gara-gara Novi, masa dia memperkenalkan aku sebagai tunanganmu?" Mia mendengus sebal.

Kevin tersenyum mendengar ucapan Mia barusan. 'Tunangan? Wow.' Jantungnya berdegup kencang, rasa bahagia menyeruak. 'Semoga Kau kabulkan ya Allah!' batinnya.

"Ehmm, masa sih Novi bicara seperti itu? Baguslah! Setidaknya di kantor nanti Arumi berhenti mengejarku."

"Mengejarmu? Memangnya Arumi kurang kerjaan apa? Cantik begitu, tapi kerjanya mengejar orang terus," sahut Mia ketus, membayangkan ekspresi Arumi kemarin.

"Iya, kayaknya dia suka mencari perhatian sama aku, segala cara bahkan. Padahal aku hanya menganggap dia tak lebih dari rekan kerja biasa saja."

"Oh ya? Kenapa kau tak menyukainya, Vin? Arumi cantik, lho. Anak manajer lagi," sahut Mia.

"Itu karena aku telah lebih dulu menyukaimu, Mia. Perasaan tak bisa dipaksakan harus menyukai siapa. Biarlah Arumi menyadarinya sendiri, toh selama ini aku juga tak memberikan respon apa-apa padanya." Kevin melirik Mia, menunggu reaksi wanita itu.

Mia salah tingkah sendiri mendengar kata-kata Kevin barusan. Betul kata Novi, selama ini Kevin serius mendekatinya karena memang Kevin menyukainya.

"Ehm ... sudah sampai, Vin. Berhenti di sini saja," ucap Mia, segera melepas seat belt.

Segera Kevin menepikan kendaraannya. Bergegas turun dan membukakan pintu untuk Mia.

"Mia ... jawab dulu. Boleh aku menyukaimu?" cecar Kevin, tak ingin melepaskan momen berharga ini.

Mia gelagapan, tak menyangka Kevin mengucapkan kata-kata itu lagi. " Hmm ... iya, boleh Vin. Aku boleh turun sekarang?" Ujar Mia sambil memandang wajah Kevin yang seketika cerah tak bermendung.

"Eh, maaf. Turunlah sekarang. Terima kasih, Mia. Kau tahu? Aku sangat menyukaimu, kau wanita yang berbeda dari wanita mana pun," sahut Kevin, sambil mempersilahkan Mia turun dari mobilnya.

"Weew! Masih pagi sudah menggombal. Kerja sana! Cari duit yang banyak biar bisa segera meng-halalkan Mia." Tiba-tiba Novi datang menepuk punggung Kevin.

Mia tersipu malu, Kevin tersentak kaget. Tepukan Novi membuatnya terbatuk-batuk. Novi tertawa-tawa, membuat orang yang lalu-lalang di depan mereka menoleh melihatnya.

"Huss! Novi, kau hampir membuat Kevin jantungan," ucap Mia.

" Hahaha! Biar saja! Siapa suruh pagi-pagi malah menggombal, di pinggir jalan lagi! Aduuh, cari tempat yang romantis kek, di taman kek, di cafe kek. Kalau di pinggir jalan, semua orang bakal dengar tahu? balas Novi cuek.

"Biarin! Biar semua orang dengar! Agar mereka tahu kalau aku memang serius menyukai Mia," tukas Kevin.

Mia mencubit lengan Kevin, laki-laki itu meringis kesakitan. "Aduuh, cubitnya pelan-pelan dong, Mia. Sakit nih." Kevin mengusap lengannya sambil tersenyum.

"Adegan romantisnya disudahin dulu ya? Yuk, Mia kita masuk. Nanti telat lho." Novi segera menggamit lengan sahabatnya, menariknya menjauh dari Kevin.

Mia tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Kevin. Kevin pun membalas lambaian tangan Mia, kejadian pagi ini menjadi 'mood booster' baginya. Ia segera kembali melajukan kendaraannya menuju kantor.

***

"Vin ... kamu kemana saja? Kok telat ke kantor? Meeting hampir mau dimulai, berkas laporan yang kemarin sudah rampung kan?" cecar Arumi, begitu melihat Kevin memasuki bilik kerjanya.

Kevin menengoknya sekilas, seraya mengumpulkan berkas-berkas laporan yang kemarin dikerjakannya. Dia tidak segera menjawab pertanyaan Arumi. Ada lagu cinta sedang berdendang dalam hatinya, kini. Semua karena Mia.

"Vin! Ditanya malah acuh tak acuh begitu? Aku bukan hantu, tahu?" Arumi mencoba merajuk manja.

"Sudah diam, pagi-pagi bukannya kerja malah nyerocos di bilik orang," jawab Kevin ketus. Dia pun segera berlalu meninggalkan Arumi yang ngambek.

"Ayo ke ruang meeting sekarang!"

Arumi memburu langkah Kevin yang sudah berlalu di depannya.

" Kevin ... tunggu aku dong!"

***

Lepas meeting, di kantin kantor Kevin duduk semeja dengan Iwan, menyantap menu makan siang yang telah mereka pesan sebelumnya.

"Vin, kayaknya Arumi suka padamu ya?" kata Iwan. Nasi goreng sambal ati menjadi menu makan siangnya hari ini.

"Hmm, entahlah. Dia menyukaiku dan kau menyukainya, 'kan?" Tebak Kevin sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.

Tebakan Kevin memang tak salah, Iwan selama ini memang menyukai Arumi, kelincahan dan kecantikan gadis itu telah memikat hatinya. Namun, sepertinya hanya bertepuk sebelah tangan.

"Aku memang menyukai Arumi, Vin. Sayangnya dia malah menyukaimu. Bahkan terkesan terobsesi padamu," ujarnya.

"Buktikan kalau kau memang menyukainya, agar Arumi sadar. Masih ada laki-laki baik yang mengharap dirinya."

Kevin meneguk air putih sebelum lanjut melahap makanannya, ketika dari jauh dilihatnya Arumi berjalan menuju ke meja mereka.

"Wan, Arumi sedang menuju meja kita," bisiknya kepada Iwan yang duduk membelakang.

"Hai ... kok kalian makan tidak menunggu aku sih?" sapanya ramah. Senyumnya yang manis dia tujukan ke Kevin.

Kevin berdiri, lalu mempersilahkan Arumi duduk, kemudian dipanggilnya pelayan kantin agar datang. Setelah mencatat pesanan Arumi, pelayan itu pun pergi.

"Kalian makan berdua saja ya? Aku telah kenyang. Ada laporan yang harus kuselesaikan sekarang," ucapnya lalu berlalu menuju kasir.

Iwan menyahut sambil menganggukkan kepalanya. "Oke, Vin."

Arumi sontak berdiri. "Vin, kok kamu begitu sih? Temani aku makan dulu deh ...."

"Sudah Arumi, duduk sajalah. Kevin terburu-buru makan karena harus menyelesaikan laporan yang telah di-revisi tadi," sahut Iwan yang kembali melanjutkan makannya.

Arumi dengan terpaksa duduk kembali, harapannya ingin makan bersama Kevin sekali lagi kandas. Ditatapnya punggung Kevin yang berjalan keluar kantin, 'Baiklah,Vin. Kau menghindariku lagi, tunggu saja kejutan yang akan kuberikan padamu sebentar'.

Pesanannya pun datang, dengan tak berselera disuapnya makanan itu. Makan bersama Kevin lebih diharapkannya ketimbang sekarang, duduk semeja dengan Iwan yang sedari tadi tersenyum manis padanya.

"Makan kok cemberut? Ayo cepat dihabisin, jam istirahat tak lama lagi usai," ujar Iwan. Dalam hati ia sangat berterima kasih pada Kevin yang telah memberinya kesempatan berdua dengan Arumi meski cuma sekadar makan siang di kantin.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni

KAU BUKAN DIA #8

***

Sekarang sudah jam lima sore, saatnya mereka yang bekerja mencari nafkah kembali ke rumah masing-masing. Tak luput Kevin, setelah membereskan meja, dan merapikan berkas-berkas laporan, serta mematikan komputer. Ia pun bergegas meninggalkan biliknya, ke luar ruangan bersisian dengan Iwan, dan beberapa teman lainnya.

Begitu sampai di parkiran semuanya menyebar ke kendaraan masing-masing, rasa letih di wajah mereka terhapuskan. Terbayang wajah anak, istri, dan keluarga yang sedang menanti.

Hari ini Kevin sangat bahagia, perasaannya disambut baik oleh Mia. Semangatnya menggebu-gebu, malam ini ia akan datang ke rumah Mia, ingin mengajak wanita idamannya itu kencan atau jalan-jalan kemana Mia mau.

Begitu hendak membuka pintu mobil, gawainya berdering. Ada nama Arumi tertera di sana. Tak menunggu lama, Kevin segera menerima panggilan itu.

"Ya, ada apa Arumi?"

Tiada suara di seberang sana, hanya terdengar rintihan kesakitan. Kevin menatap layar HP-nya, jangan-jangan ia salah menerima panggilan.

Kembali ia dekatkan telinganya, menyimak suara itu. "Halo ... Arumi? Ada apa?" tanyanya.

"Keeviin ... tolong akuu, Viin." Suara Arumi terdengar memelas. 'Hei ... ada apa pula dengan gadis itu? Bukankah tadi ia baik-baik saja?'

"Kamu dimana, Arumi?" tanya Kevin lagi, dilihatnya mobil Arumi masih di parkiran, tetapi tak ada Arumi di dalamnya.

"Aku masih di ruangan, Vin. Segera kemari ya?" jawab Arumi, lalu mematikan panggilan teleponnya.

Iwan yang hendak berlalu segera ditahan oleh Kevin, tak ingin terjadi apa-apa dengan Arumi akhirnya Iwan mengikuti ajakan Kevin untuk segera kembali ke ruangan mereka. Bersama-sama memeriksa keadaan Arumi.

***
Begitu tiba di ruangan, suasana sepi dan lengang. Kevin menunjukkan jari telunjuk ke bibir, menyuruh Iwan agar tak bersuara. Kevin merasa, ada sesuatu yang aneh.

"Arumi? Kau di mana?" kata Kevin sambil berjalan mengendap-endap, Iwan menyusul di belakangnya.

"Aku di sini, Vin," ucap Arumi di balik mejanya.

Kevin segera ke balik meja Arumi, ternyata keadaan Arumi tidak baik. Dia terduduk di lantai dalam kondisi lemah sambil memegang perutnya, sesekali meringis kesakitan.

"Kau kenapa, Arumi?" Kevin masih waspada, jangan-jangan ini hanya jebakan Arumi.

"Perutku tiba-tiba sakit, Vin. Antar aku pulang ya?"

Iwan menghampiri Arumi, berjongkok di dekat gadis itu "Mari sini, kubantu berdiri, tampaknya kau sangat kesusahan".

Arumi menepis tangan Iwan, " Gak usah, aku cuma mau Kevin yang membantuku."

"Sudahlah, tak usah diperpanjang. Kalau kau tak mau ditolong oleh Iwan, sebaiknya kau berdiri saja sekarang sebelum kupanggil satpam untuk membantumu." Kevin tetap bergeming di tempatnya, terus menatap tajam ke arah Arumi.

'Sial! Dia tahu jebakanku. Aku harus berpura-pura tetap meringis kesakitan sampai Kevin mau menolongku' batin Arumi.

"Aduuh ... sakit, aduuh!" Arumi mengerang kesakitan.

Iwan tak sampai hati melihat kondisi Arumi, tanpa bertanya lagi segera ia membopong Arumi. Mengangkat tubuh gadis itu lalu ke luar ruangan.

Kevin mengikuti mereka. Sampai di parkiran, segera dibukanya pintu mobil Iwan. Iwan pun mendudukkan Arumi di kursi depan. Ada raut kecewa di wajah Arumi, 'bukan ini yang kuharapkan!'

"Wan, bawa Arumi ke rumah sakit terdekat. Aku menyusul di belakangmu," ujar Kevin.

"Gak usah! Antar aku pulang saja, Wan." sahut Arumi sambil memasang seat belt.

"Baiklah." Mobil Iwan akhirnya melaju, meninggalkan Kevin yang masih berdiri di parkiran.

***
Lepas Maghrib mobil Kevin telah melintasi jalan raya, menuju rumah Mia, sang pujaan hati. Arumi baik-baik saja, begitu laporan Iwan tadi. Kevin tersenyum lepas, hari ini selamat dari jebakan Arumi.

Tok ... tok ... tok ....
"Assalamualaikum," ucap Kevin yang telah berdiri di depan pintu Mia.

"Waalaikumussalam." Pintu terbuka, Mia keluar dengan memakai mukena. Selepas salat Magrib dia langsung mengaji dulu.

"Ada apa, Vin? Tumben kemari malam-malam," tanyanya.

"Boleh masuk? Masa tamu dibiarkan di luar gak di suruh masuk." Kevin balas bertanya.

"Maaf, Vin. Ini sudah malam, tak baik bila aku menerima tamu di dalam. Kita duduk di sini saja ya?" Mia menuju kursi di teras rumahnya. Kevin tersenyum hambar, mengikuti Mia duduk di kursi.

"Habis ngaji ya?" tanya Kevin ramah.
"Iya nih, kebiasaan kalau sudah dapat Magrib kudu ngaji dulu, Vin," balas Mia.
"Oh gitu, kita makan di luar yuk. Lapar nih. Sekalian ajak Novi biar gak ada fitnah," sahut Kevin kemudian, berharap Mia mau mengabulkan ajakannya.

Mia mengangguk setuju. "Tunggu bentar ya? Aku ganti pakaian dulu. Eh, sekalian tolong hubungi Novi, supaya bersiap-siap juga, Vin." Selepas bicara Mia berlalu masuk.

Kevin merogoh sakunya, mengeluarkan HP-nya. Lalu men-dial nomor seluler Novi.

Sesaat kemudian. Mia keluar dengan pakaian sederhana yang tampak elegan di mata Kevin. Pandangan takjub jelas terpancar di wajahnya.

"Mia, kau cantik sekali." Tak sadar pujian itu keluar juga. Mia tersipu malu, "Biasa saja kok, Vin. Sudah hubungi Novi? Apa katanya? Dia siap nggak?"

"Eits, satu-satu dong tanyanya," sahut Kevin sumringah.

Mia merengut, dia sadar kalau biasanya Kevin-lah yang sering bertanya seperti itu padanya. Akhirnya dia pun tertawa.

"Sudah ah ketawanya, Novi sedang menunggu kita sekarang. Yuk, berangkat," ajak Kevin,. Beranjak dari kursi ke luar menuju mobil.

"Tunggu, aku kunci pintu dulu," sahut Mia.

Kevin membukakan pintu, "Silahkan masuk, tuan putri."

Mia tersenyum, sungguh manis di mata Kevin. Setelah Mia masuk, Kevin menutup pintunya lalu masuk dari pintu di sebelahnya. Segera mobil pun melaju, menuju rumah Novi yang sedang menunggu.

***
Jalanan malam ini sangat ramai, Kevin berhati-hati mengemudikan kendaraannya. Sesampainya di rumah makan, mereka bertiga segera keluar dari mobil. Suasana di rumah makan itu tampak ramai oleh pengunjung. Begitu mendapat meja kosong, ketiga orang itu pun duduk. Pelayan datang membawa menu, setelah mencatat menu pilihan masing-masing pelayan itu pergi memesankan makanan pilihan mereka.

Sambil menunggu makanan datang, mereka asyik berbincang. Membahas tentang tempat kerja masing-masing. Diselingi kekocakan Novi yang selalu menghibur.

"Vin, gimana dengan Arumi? Apa dia masih mendekatimu?" tanya Mia. Sesaat semuanya diam, pandangannya tertuju pada Kevin.

"Iya, seperti biasa, tapi sudahlah. Jangan membicarakan dia lagi, toh sekarang ada kamu dalam hatiku." jawab Kevin, dia balas menatap Mia.

"Cieee ... cieee! Aku jadi obat nyamuk nih ceritanya!" seru Novi, menggoda Mia yang kini tersipu malu.

"Sssttt, Novi! Jangan berisik dong. Semua orang memperhatikan kita sekarang," ujar Kevin.

Pelayan datang membawa makanan yang telah mereka pesan. Setelah itu mereka bertiga mulai menyantapnya sebelum terlebih dahulu membaca doa makan.

Disela-sela keasyikan mereka, entah dari mana datangnya Arumi telah berdiri di samping Kevin. Mia yang duduk di depan Kevin sontak meletakkan sendoknya. Di ikuti oleh Novi. Kevin yang tidak merasakan kehadiran Arumi heran melihat Mia menghentikan makannya.

"Kenapa, Mia? Kok berhenti makan?"

"Ada Arumi, Vin. Tuh di sampingmu," jawab Mia, ekor matanya mengarah ke Arumi.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni

KAU BUKAN DIA #9

***

"Hai, Vin. Tumben kita ketemu di sini," tegur Arumi. Wajahnya seketika menegang melihat Kevin sedang makan malam bersama Mia dan Novi.

Kevin segera menyadari perubahan mimiknya. Dia beranjak dari kursi dan kini menghadap ke arah Arumi. Berjaga-jaga jika gadis itu nekat melakukan sesuatu kepada Mia.

"Ada apa, Arumi?" tanyanya.

"Tak ada apa-apa. Cuma kaget saja, melihatmu di sini bersama perempuan pembuat roti itu," jawabnya sambil melirik sinis ke Mia.

Mia merasa tersinggung. "Maksudmu apa, Arumi!" Tangannya mengepal menahan marah. Novi segera memegang lengannya. Mencoba meredam amarah Mia.

Kevin mencekal lengan Arumi. "Pergilah dari sini Arumi, tak patut seorang gadis terhormat sepertimu berkata kasar seperti tadi. Sungguh, tak terpuji."

Arumi tak terima dengan perlakuan Kevin. Tangan Kevin ditepisnya kasar, "Pantas selama ini kau bersikap dingin padaku. Ternyata kau lebih memilih perempuan ini daripada aku."

Pengunjung rumah makan itu sebagian memandangi aksi mereka, menganggap ada tontonan gratis.

Kevin kembali menarik lengan Arumi, membawa gadis itu ke taman samping. Mia dan Novi segera beranjak dari kursi mereka, menyusul Kevin.

"Lepaskan aku, Kevin! Kau menyakitiku!" seru Arumi, matanya garang menatap lelaki itu. Sedikit berontak berusaha melepas cekalan di lengannya.

"Kalau kau tak mau disakiti, maka belajarlah untuk tidak menyakiti orang lain. Jangan karena kau anak Pak Subagyo, lantas semena-mena mengatai orang seperti tadi, " ucap Kevin seraya melepas cekal tangannya. Membiarkan Arumi yang kini menatap penuh amarah.

Kevin berusaha tetap mengontrol nada bicara serendah mungkin. Orang seperti Arumi harus diatasi dengan kepala dingin.

"Kenapa kau malah membela perempuan itu! Apa kelebihan dia daripada aku? Aku punya segala yang kau inginkan, sementara dia apa, haah!" serunya lantang. Tangan kanannya berkali-kali menunjuk wajah Mia yang berdiri tak jauh.

"Arumi ...! Jaga nada bicaramu! Apa kau tak malu dilihat banyak orang?"

"Biar! Selama ini sikapku selalu baik padamu walau kau selalu tak peduli. Coba lihat aku sekarang, Vin. Beri aku sedikit rasamu, aku menyukaimu, Vin."

Air matanya luruh seketika, terbayang segala pedih yang telah ia terima. Arumi tak rela, jika perjuangannya harus kandas malam ini.

"Terima kasih, Arumi. Terima kasih karena telah menyukaiku, tapi aku bukan orang yang tepat buatmu. Kau bukan dia, yang kau anggap rendah sebagai perempuan pembuat roti itu, adalah orang yang kupilih untuk berada dalam hatiku. Aku sangat mencintai Mia, bukan kau, Arumi."

Arumi semakin terisak, kata-kata Kevin barusan menohok dirinya. Memalukan sekali ditolak di depan umum. Harga dirinya jatuh seketika, entah bagaimana ia harus menyembunyikan wajahnya kini.

Mia yang menyaksikan adegan itu hanya bisa terdiam. Mendengar kata-kata Kevin barusan, membuat hatinya berbunga-bunga. Namun, entah harus merasa bahagia atau sedih, karena di satu pihak di depan matanya, ada hati yang tersakiti.

Sementara Novi tampak kesal pada Arumi. Pandangannya justru berbeda dari Mia. Dia tak merasa kasihan pada Arumi. Wanita angkuh yang hanya memikirkan diri sendiri itu, rasanya memang pantas diperlakukan seperti sekarang.

Kevin segera merogoh kantong celananya, mengambil ponsel. Lalu, menelpon seseorang.

Arumi masih menangis, kedua tangannya menutupi wajah yang kini sembab. Kevin memegang bahunya, mengajak duduk di kursi taman. Mia mengikuti Kevin, berdiri di samping laki-laki itu. Novi pun demikian.

"Berhentilah menangis. Hapus air matamu, Arumi. Belajarlah menerima kenyataan," ujar Kevin. Ia bukan tak senang melihat Arumi menangis, tetapi ia ingin satu hal. Arumi belajar dari pengalaman, berhenti mengharapkan dirinya, dan ikhlas menerima kenyataan.

"Maafkan aku, Vin. Aku belum bisa menerima kata-katamu." Tangisnya sedikit reda, ia menghapus bulir air mata yang meninggalkan jejak di pipi mulusnya.

Ia menengadahkan wajah, bukan Kevin yang dilihatnya, tetapi Mia. "Kau puas sekarang? Kau tidak bisa menyamaiku. Sayang mata Kevin buta, tak bisa melihat wanita yang pantas bersanding dengannya itu aku! Bukan kau."

Mia yang sedari tadi bergeming mengamati keadaan, maju beberapa langkah di depan Arumi.

"Iya, kau benar, Arumi. Aku bukan kau, yang rela mempermalukan diri sendiri, demi mengejar cinta laki-laki. Aku memang tidak bisa sepertimu, wanita kaya yang punya segalanya, karena aku ... hanyalah seorang wanita biasa yang punya. moral dan etika," ujarnya lagi, "satu keberuntunganku yang tidak kau miliki, aku memiliki cinta Kevin, sementara kau? Tidak."

Kevin maju dan memegang kedua lengan Mia, ia merasakan getaran emosi ditubuh kekasihnya itu. Merengkuhnya ke belakang. Mia menatapnya, tetapi Kevin segera memberi isyarat agar ia diam.

Tak lama kemudian, Iwan datang. "Ada apa, Vin? Aku segera kesini setelah menerima teleponmu," tanyanya.

"Kau urus Arumi, Kami pergi dulu," jawab Kevin.

Iwan paham apa yang terjadi, sekilas dia melirik Mia. Wajar Kevin tergila-gila pada wanita itu, dengan kecantikan yang alami, penampilannya pun sederhana. Apa adanya.

"Oke, Vin. Sip!"

Kevin mengajak Mia dan Novi berlalu dari tempat itu, setelah membayar makanan mereka. Kini, tinggal Arumi yang masih betah di bangku taman, Iwan akhirnya ikut duduk di sampingnya.

"Arumi, kenapa kau bisa sampai di sini? Kau baik-baik saja 'kan? Apa perutmu sudah tak sakit lagi?" tanyanya lembut.

Arumi menoleh, pandangannya hampa. " Aku merasa buruk sekali, Wan. Kevin sudah menolakku, dia lebih memilih perempuan yang tak ada apa-apanya itu daripada aku," balasnya lirih.

Iwan meraih tangan Arumi, menggenggamnya hangat. Dia mengerti suasana hati gadis itu sekarang. Rapuh dan teramat labil. "Arumi, terimalah kenyataan ini. Kevin memang tidak mencintaimu, tetapi ada aku. Aku telah lebih dulu mencintaimu, jauh sebelum kau terobsesi pada Kevin."

Arumi menatap Iwan. Dalam bayang mata teduh lelaki itu, ada kebenaran dari kilas kalimatnya tadi. Arumi akhirnya menyadari, jika selama ini kegilaannya pada Kevin hanyalah sebuah obsesi yang tak kesampaian.

Arumi menghela napas lega, mengapa ia harus mengejar Kevin jika di depan mata, ada cinta yang siap mengokohkan hati? Selama ini Iwan selalu ada untuknya, bahkan ketika Kevin tidak acuh sekali pun.

"Iwan, maafkan kebodohanku selama ini. Kau memang bukan dia, yang lebih memilih cinta yang lain. Kau adalah dirimu sendiri, yang selama ini perhatian dan mengasihiku. Sekarang, maukah kau menerima sepotong hati yang rapuh ini? Apakah kau tidak akan meninggalkanku nanti?"

Lelaki di hadapannya itu tersenyum. Akhirnya, cintanya tak bertepuk sebelah tangan lagi. Entah, apakah Arumi benar-benar serius, atau hanya menganggapnya sebagai pelarian, ia tak peduli. 'Itu urusan nanti' batinnya.

"Aku mau, Arumi. Bahkan jika kau mau, aku bersedia mendampingimu, selalu di sisimu hingga batas akhir waktu usia kita," ucap Iwan yang disambut pelukan Arumi. Mereka saling berpelukan di taman. Menyatukan hati dalam satu genggaman rasa.

***

Di tempat yang lain, Mia merasa bahagia. Setidaknya malam ini, ia telah melihat pembuktikan cinta Kevin. Membuktikan bahwa hatinya hanya untuk Mia seorang. Statusnya yang seorang janda tidak menjadi penghalang lagi. Kini, akan selalu ada yang akan menjaganya dari gangguan siapapun.

Hanyalah menunggu waktu hingga Mia siap melangkah ke pelaminan bersamanya. Ya! Wanita itu Mia Astuti, yang kini sedang tersenyum bahagia. Kelak akan menjadi seorang istri. Pendamping hidup seorang Kevin Atmajaya.

Cinta memang aneh. Selalu mempertemukan dua hati dalam kondisi yang berbeda. Kearifan dan budi luhur dari pekerti yang santun, akan terbukti dalam pengaplikasian rasa cinta yang sebenarnya.

Tak mengotorinya dengan prilaku yang menyimpang, dan tak menodainya dengan nafsu yang bisa terkendali.

Saling mengikat rasa, untuk menjalin sebuah komitmen untuk terus selalu bersama.

TAMAT.***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni
Quote:

emoticon-tempted
Quote:




SALAH?

Alangkah sepinya senyap di situ
Heningnya akibat prahara lalu pada bilik privasi berlaku sampai ke telingaku
Salahmu, mengapa mulutmu tak berbau
Ucapakan kecerobohan beri penilaian sesuatu

Orang gila, kau nilai dengan akal sehat tanpa nalar
Lalu lontarkan bola api dikira siap menghajar
Hingga telinga dan mata jadi perih dan berkobar terbakar
Menyebar semua disasar

Aku yakin, hari ini hatimu hangus mengapur rapuh seketika
Darahmu mendidih dan putih tulang pipih
Namun, jempolmu tertatih
Kalian bisa apa?

Silakan buat pengakuan dosa
Atau, permohonan maaf untuk sementara
Lakukan bersama-sama, jika itu membuatmu lega
Lalu, aku pasti akan tertawa

Aku adalah anak senja
Hanya mampu menatap mega ketika temaram menjelang petang tiba
Tak akan buta, walau selamanya tak pernah pejamkan mata
Jadi jangan tantang aku untuk berlari ikuti kedipkan dusta

Aku datang hanya ingin bergandengan tangan
Dengan sayap tipis kalian semua kuajak terbang melintasi awan
Kau, terlalu banyak makan
Hingga perutmu buncit menambah berat beban

Kini, ingatlah ucapku satu kalimat saja
Aku adalah manusia
Ada salah pada setiap langkah tereja dan tangis dalam setiap sedih mendera
Karena itu, cukuplah pelajaran ini hingga takkan terlulang lagi nantinya

Tanah Bumbu, 20 Maret 2019
Quote:


emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
Wah udah panjang juga ini threadnya, sip pokoknya he he. Apa kabar?
Quote:


Quote:


Gak kuat quoteku
emoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
Quote:


Quote:


Quote:


emoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
Quote:


Udah di sini aja, Yah
Quote:


Enakan di sin, td dah pulang?

emoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
Quote:


Iya, Yah. Udah sampe rumah.
Quote:


Sore dah gk berangkat lg kan?
emoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
Quote:


Iya, udah dirumah aja. Mendung ini, langit seakan ingin rubuh.
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di