alexa-tracking
Kategori
Kategori
3.67 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c5fd7f21369700f5d2c59af/calm-snow

Calm Snow

Calm Snow

Dilarang Menyebarkan luaskan cerita ini tanpa sepengetahuan Ellie.Moulie !!!

Part 1

Matahari mulai bersinar cerah, burung kenari berkicau riang dalam sangkar besi di depan sebuah rumah bergaya arsitektur minimalis dan bernuansa modern. Di depan rumah, terdapat taman kecil di hiasi rerumputan hijau beserta beberapa bunga hias. Di taman itu, terdapat juga kolam ikan koi berukuran mini berbentuk seperti huruf L.

Rumah ini memiliki garasi mobil yang terparkir sebuah mobil Lancer EVO 4 berwarna biru yang sangat dikenal dengan Misfiring systemnya. Di depan mobil, sedang parkir motor Vixi putih yang diketahui adalah milik seorang pemuda dengan tinggi badan 170 cm.
Pemuda yang pagi ini sedang berolah raga pagi, menggunakan celana training hitam beserta kaos berwarna putih yang sudah cukup basah oleh keringatnya sendiri. Samar-samar dari bailk kaosnya, dada bidang beserta otot bisep dan trisepnya. Otot-otot yang cukup kekar, dan terlihat kuat.

Keringat bercucuran turun dari rambut ke wajahnya. Punggung, dan dadanya juga. Beserta kedua lengan yang tampak kokoh.

Sebuah bluetooth wireless tersemat di telinga kirinya, sambil mempraktekkan beberapa poomsae dari taekwondo dan di akhiri dengan muknyeom, setelah selesai dengan aktivitas-nya, pandangannya terlihat tajam, dengan bola mata jernih, hidung mancung dan rambut ikal sedikit agak gondrong.

Meski tampilannya sedikit urakan tapi tak menutupi sikap yang tegas, semua tersirat dari wajah dan bentuk keseluruhan proporsional dari tubuhnya saat ini.

Tampak headset bluetooth pemuda itu menyala berkelap-kelip, menandakan adanya panggilan yang masuk, dan dia langsung menerima panggilan tersebut. “Yaaa om, ada apa? tanya pemuda itu.

“Jangan lupa Ga, hari ini kamu masuk pertama sebagai junior staff di perusahaan HangSen industry... Sesuai keinginanmu kemarin, jangan sampai telat dan jangan bikin malu om, kata suara di seberang sambungan telepon tersebut.

“Iyaa om rebeees dah, semua kan buat masa depanku juga. kata pemuda itu.
“Ya udah cepetan siap-siap tar telat lagi, masak hari pertama dah terlambat, dan temui pak Cahyadi segera. kata si penelpon lagi.

“Siap om Wi, salam buat keluarga yaa kata pemuda itu selanjutnya.
Setelah panggilan terputus, ia bergegas masuk ke dalam rumah untuk membersihkan badan dan mempersiapkan dirinya untuk berangkat kerja yang untuk pertama kali dalam hidupnya.

Butuh setengah jaman lebih, pemuda itu menyelesaikan aktivitasnya, baik mandi, berpakaian dan kini ia telah siap keluar dari rumah dengan motor kesayangannya.

Cukup cepat pemuda itu berkendara dengan motor vixi putih saat membelah kemacetan di pagi hari, stopan jalan airlangga memang setiap paginya akan macet seperti ini. Karena aksinya berkelok kiri, kanan menyalip beberapa pengendara motor maupun mobil, membuat beberapa dari mereka yang di lewati oleh nya tampak menggelengkan kepala, motor vixi yang sejatinya ber-cc rendah tidak sepantasnya di paksa berkecepatan tinggi seperti itu.

Tak lama sampailah pemuda itu di sebuah gedung perkantoran, mempunyai lantai berjumlah 25, bertuliskan HangSen Industry di Atasnya, sejatinya perusahaan ini adalah anak cabang dari Senoaji Corporate yang baru 3 bulan di akuisisi.

Hal yang pertama di lakukan oleh pemuda itu, menyapa satpam di pintu gerbang dan setelahnya, maka satpam tadi mempersilahkan pemuda itu untuk memarkirkan motornya di parkir karyawan yang terletak di bawah basement.

Saat si pemuda melangkah keluar dari basement parkiran. Sebelum masuk ke dalam, sengaja ia keluar melewati pos satpam menuju ke mini market yang berada di seberang jalan.

Pemuda itu ingin membeli sebungkus rokok LA ice dan sebotol pepsi blue yang telah terpegang di kedua tangannya, kemudian ia melangkah menuju ke kasir.
Diubah oleh Ellie.Moulie
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 3
Part 2
Saat ingin membayar, tak sengaja uang yang di ambil dari kantong sebelah kanannya ternyata terjatuh. Pemuda itu berjongkok, ingin mengambil uang yang terjatuh, tiba tiba saja tangannya yang sudah menggapai uang pecahan seratus ribuan itu di injak oleh sebuah high heel berwarna hitam, untung saja yang menginjak tangannya adalah bagian depan, bayangkan saja jika yang bagian belakang heels tersebut, pasti sakitnya bukan main.

Sambil mengenyitkan mukanya, pemuda itu menoleh ke atas melihat cewek yang sedang menginjak kakinya tersebut, seakan tidak merasa bersalah , cewek tersebut diam saja sambil memberikan barang yang dibelinya ke kasir mini market, sebuah pembalut dengan merk laurier denga sayap terkembang.

“Mbak maaf, kakinya nginjak tangan saya. kata pemuda itu kepada si cewek, yang di sambut dengan hanya sebuah tolehan kecil si cewek, kesan arogan dan melecehkan orang lain terpancar di wajahnya, ditambah dengan seringai di ujung bibir cewek itu.
“Oh maaf, ga kelihatan soalnya. kata cewek tadi ketus dan acuh yang kumudian mengangkat kakinya dari atas tangan si pemuda itu.

“Ini mbak uangnya, kata pemuda itu kepada mbak kasir.

"Mas kebetulan jadwalku meeting bentar lagi nih! Aku yang duluan deh." Sela cewek di sebelahnya, dengan nada ketus bak orang yang lagi terburu-buru.

"Eeh! Kan aku duluan yang ngantri mbak." sahut si pemuda itu, meski rasa sewot namun masih adanya penekanan nada yang sedikit sopan.
Mendengar penuturan dari pemuda itu, lirikannya seakan meremehkannya. Maka, ia mengeluarkan kartu debet BCA dari dalam dompet. "Udah lah... Mbak, biar barangnya dia yang 'SOMBONG' ini aku aja deh yang bayarin." Tangan wanita itu memberikan ATM kepada kasir.
Mendengar penekanan kata 'Sombong' dari wanita itu, si pemuda mengernyit. Meski ia kesal akan sikap wanita itu, namun ia masih bisa menahan agar tak lepas dalam mengeluarkan kata kata kasar.

Saat pemuda itu ingin berucap, si kasir langsung mengembalikan kartu debet si wanita itu.

"Mohon maaf ibu, jaringan kami sedang offline jadi pembayaran selain cash tidak bisa diterima, sekali lagi saya minta maaf ibu" Pemuda itu menahan senyum, sedikit tergelitik atas apa yang terjadi saat ini.

"Laaah ini gimana donk, aku kan ga bawa uang cash, masak ga jadi beli, padahal aku butuh pembalut itu banget" Merasakan dirinya tak mampu berbuat apa, maka si wanita hanya bisa menampakkan wajah kesal dan menyesal telah berbelanja di tempat ini.

Dan si pemuda, berfikir udah saatnya ia membalas perlakuan wanita itu. "Udah mbak di total aja, aku yang bayar" kata pemuda tadi sambil mengangsurkan uangnya, yang di tatap dengan sinis oleh si wanita. Sekilas, pemuda itu meliriknya. dan, ketika mendapati wanita di sampingnya sedang menatapnya tak bersahabat, ia menyeringai.

"Sok" Gumam wanita itu, lalu saat si pemuda menoleh kepadanya. segera cepat-cepat ia berucap kembali. "Thanks deh mas, tenang aja... Nanti aku ganti duitnya setelah nyampe kantor... Nih, kalo gak percaya." Katanya, sambil memberikan kartu namanya kepada si pemuda. "Telfon di nomor itu tuh... Kalo emang udah butuh 'Banget' duitnya... kantorku si seberang sana." Cukup ketus sih kalimat si wanita, namun si pemuda tak mengiraukan. karena, dalam hati jelas ia menang selangkah dari wanita itu.

"Ga usah mbak, aku iklas kok, lagian ga seberapa juga harganya" kata pemuda itu mencoba bersikap sabar.

"Cantik sih tapi sombong dan judasnya minta ampun" kata pemuda itu dalam hati sambil memperhatikan cewek di depannya, memang cewek di depannya berwajah cantik, hidung mancung dengan wajah sedikit oriental dengan kulit putih, bibir tipis bersaput gincu berwarna merah muda, mengenakan blazer hitam dengan dalaman kemeja putih dan rok mini 7cm di atas lutut, membuat siluet tubuhnya tercetak jelas, dadanya yang menyembul seakan akan ingin mebuat kancing kemejanya terlepas oleh desakan payudaranya, rambut curly sedikit berwarna coklat dengan panjang sebahu membuat dia terkesan elegant.

"Ya udah mas, makasih!, jangan lupa telpon, aku kembaliakn uangnya nanti dan aku lebihin pastinya" kata si cewek tanpa melihat ke pemuda tadi dan berlalu keluar mini market sambil membawa pembalutnya menuju ke mobil honda freed putih yang terparkir di depan.

"Haissssh ada ada aja, pagi pagi dah sial gini" kata si pemuda sambil mengelus tangannya yang masih sakit,sambik melangkah pergi meninggalkan mini market itu setelah mendapatkan kembalian dari chasier
Dengan sebatang rokok menyala di bibirnya dan sebotol minuman di tangan kirinya pemuda itu berjalan menyeberang menuju ke tempatnya bekerja untuk pertama kali, sampai di pintu gerbang dia melihat ke kartu nama yang di berikan oleh cewek tadi.

"Mariska Sanjaya" finace junior manager, "hmmmm, Jadi nama loe Mariska" desis pemuda tadi sambil tersenyum simpul.

♪♪♪

“Masuk” seru pak cahyadi dari dalam ruangan.

Kemudian masuklah pemuda tadi dan bersalaman, lalu si bos mempersilahkan duduk.

“Jadi kamu bocah titipan pak wijaya dari kantor pusat? Siapa nama kamu?” Kata pak Cahyadi dengan tampang mengejek.

“Iyaa pak nama saya Arga, saya di minta menemui bapak hari ini oleh pak wijaya” kata pemuda tadi sambil menundukan kepalanya.

“Sudah tau mau di tempatkan di mana” tanya si bos lagi.

“Ga tau pak, makanya saya kesini, sekalian memeperkenalkan diri” kata Arga dengan sopan.

“Kamu aku tempatkan di bagian keuangan, untuk job desk kamu silahkan tanya saja sama supervisor kamu pak Kemal yaa, ini memo buat kamu, serahkan ke pak kemal, dah sana pergi, aku masih banyak urusan kata si bos tambun dengan nada mengusir.

“Baik pak, terima kasih atas waktunya, permisi” kata Arga sambil bersalaman, setelahnya ia melangkah keluar ruangan menuju kembali ke lantai dasar untuk bertanya kepada resepsionis di bawah, dimanakah letak divisi keuangan berada.

Sesampainya di bawah arga segera saja memghampiri dua resepsionis yang bertugas dan menyapa mereka, jika tadi dia bertanya ruangan pak Cahyadi kepada satpam di depan maka sekarang dia bertanya pada dua resepsionis berwajah cantik itu.

“Pagi mbak mau tanya, kantor divisi keuangan letaknya di mana yaa? Mohon maaf saya masih baru jadi ga tau letaknya” katanya sambil tersenyum dan menjabat tangan kedua resepsionis itu.

Kedua resepsionis tadi terpaku melihat kelakuan arga, sampai beberapa lama mereka benggong karena ternyata masih saja ada orang yang menerapkan sopan santun yang begitu halus pada orang lain yang baru dikenal, padahal biasanya sekarang orang sudah meninggalkan segala tata kesopanan dalam pergaulan.

“Eeh iya, kenalin mbak, aku Arga, karyawan baru di divisi keuangan” kata Arga lagi memperkenalkan dirinya.

“Aku amel mas, salam kenal yaah” kata resepsionis berambut bob dengan dada sedikit rata dan senyum menawan.

“Kalau aku tasya, salam kenal juga yah mas, dari daerah tengah ya mas, sopan banget kelihatannya, hihihihihi” kata cewek di samping amel yang berambut lurus smoothingan dan berwarna sedikit keunguan, dengan dada besar tercetak di seragam resepsionisnya, tasya sedikit lebih pendek dari amel, dan dia terlihat lebih ramah juga kepada arga.

“Mas arga naik aja ke lantai 7, disitu divisi keuangan bertempat mas” kata tasya ramah ditambah dengan senyum manisnya.

“Makasih mbak tasya, aku ke atas dulu yaaa” kata arga sambil berlalu menuju lift dan melambaikan tangannya ke arah dua resepsionis tadi.

“Sering sering mampir ya mas arga” jawab tasya centil.

"Eeeeh cakep juga lho mel cowok tadi dah tinggi, ganteng, dadanya bidang, apalagi senyumnya, bikin ga kuku dech" seloroh tasya kepada amel.

"Elu tu yee jadi cewek ganjen banget, ga bisa liat cowok ganteng, langsung ngangkang aja" kata amel mengejek tasya.

"Eeh tapi beneran yaah kata lu sya, doi keren banget, tapi sayang dia du divisi si mak lampir, kira kira doi betah ga ya kerja di sini, kasihan juga kalau harus resign cepet gegara ulah mak lampir" sambung amel lagi.

"Moga moga aja dia betah mel, jarang jarang ada cowok seganteng dia di sini kan" sambung tasya.
.
.
.
Tak lama setelah Arga memasuki lift dan memencet tombol lantai 7, dia segera saja sibuk dengan smartphone nya untuk memberi kabar kepada om Wi, bahwa dia di tempatkan di divisi keuangan dan disuruh menghadap ke pak kemal, karena terlalu fokus dengan smartphone nya, saat dia tiba di lantai 7, tanpa melihat ke depan di langsung saja berjalan keluar dari lift.

Bruuuaaaaak
"Aduuuuuh" seru seorang cewek yang terjatuh karena bertabrakan dengan Arga, cewek itu terduduk dengan kedua tangan menumpu ke belakang menahan berat badannya, kedua kakinya tertekuk ke atas memperlihatkan celana dalam berwarna pink dengan sayap pembalut di luarnya, rok yang di pakai cewek tadi sobek selebar 10 cm hampir mendekati batang pinggulnya, wajahnya meringgis menahan sakit di pantatnya yang langsung berbenturan dengan lantai.

"Kurang ajar ya kamu, jalan ga liat liat, ga sopan banget sih jadi orang" semprot cewek tadi dengan keras, membuat berpuluh puluh kepala melonggok dari cubical kerja mereka, terdengar suara suara sumbang yang intinya mengasihani si pemuda yang menabrak cewek tadi karena cewek tadi adalah salah satu pimpinan di divisi itu yang terkenal keras, galak dan tanpa pandang bulu dalam memberi hukuman pada bawahannya, julukannya sendiri adalah "mak lampir".

"Heeeeei kamu!!!!!"


Deghhh !
Diubah oleh Ellie.Moulie
Kritik dan sarannya dong guys emoticon-Big Grin
Part 3

Pandangan penuh amarah, dari cewek bernama lengkap Mariska dengan sapaan akrab Riska. Mengarah ke Arga yang masih berdiri benggong melihat dirinya. Raut wajah yang semakin memerah tak terelakkan lagi, posisi Riska sedang terduduk akibat kelakuan Arga sendiri yang menabraknya tadi.

Amarahnya makin menjadi-jadi, ketika mendapati pandangan mata Arga berganti menatap bagian pahanya yang tersingkap akibat sobek di roknya yang terlalu lebar, sehingga celana dalam berenda berwarna unggu sedikit terlihat di tepian pinggangnya.

Arga sendiri masih sangat shock dengan apa yang terjadi, belum sempat reda keterkejutannya atas tabrakan yang terjadi malah sekarang matanya di suguhi pemandangan yang membuat jakunnya turun naik, masih berusaha untuk menelan ludah, pemandangan paha seorang gadis yang putih mulus tanpa cacat itu seolah menghipnotisnya.

“Heeeei kamuuuuu!!!!” Teriak cewek itu sambil mencoba berdiri dari duduknya, arga yang melihat cewek itu kesulitan untuk berdiri, berinisiatif untuk membantunya dengan mengulurkan tangannya.

Plak! Tangan arga tertepis dengan kasar.

Arga terdiam, menunggu cewek itu untuk berdiri.

Terlihat Riska masih bersusah payah untuk berdiri, apalagi ia merasa malu, sungguh sangat malu bisa jatuh dan menyebabkan rok yang dipakainya sobek sampai ke batas bawah pinggulnya.

Seumur hidup riska, ini pertama kalinya dia merasa terhina sampai serendah itu, dengan raut wajah kesal dia segera menuding wajah Arga sampai-sampai telunjuknya hampir menyentuh hidung Arga yang mancung itu.

Kurang ajar yaa kamu!!!, Jalan ga pake mata, ga ada sopan santunya sama sekali!!!” hardik riska, membuat hampir seluruh penghuni ruangan itu melonjak kaget.

Riska sendiri menutup sobek di roknya dengan binder yang dibawanya, riska berjalan semakin mendekati Arga.

Arga sendiri, masih diam, dan dalam hati sumpah serapah apa lagi yang akan ia dapatkan. Terlihat dari wajahnya yang sedikit berkerut akibat menahan emosi karena perlakuan riska padanya.

"Diem aja, lu ga punya mulut!?, Apa lu bisu!?, Padahal tadi aja lu dah sok sok an di minimarket seberang" cerocos Riska tanpa henti, sambil menaruh bindernya di paha kiri serta tangan kanannya masih menuding Arga.

Cukup sudah sikap Riska padanya. Dan ternyata, emosi Arga tak terbendung lagi.

Tiba tiba saja arga menepis tangan riska yang ada di depan hidungnya, riska kaget sekali dengan keberanian Arga, karena selama ini belum pernah ada yang berani melawan dia di kantor.

Dan ternyata, sekarang ada yang berani kepadanya, sesosok orang dari antah berantah ini berani menepis tangannya. Sumpah, ia sangat terkejut dengan perubahan sikap arga.

Membuat binder yang dia pegang di tangan kirinya terlepas, sehingga membuat paha putih mulusnya kembali tereksposes oleh mata Arga.

"Udah marahnya??" Kata Arga pelan, dan mencoba menurunkan emosinya, "Maaf sekali lagi Maaf, saya tidak bermaksud menabrak anda, semua tidak disengaja, saya juga akan bertanggung jawab atas keteledoran saya tadi" lanjut Arga sambil mengambil binder riska yang terjatuh tadi, dan menutupkannya di paha putih itu seraya mengambil tangan riska agar memegangi binder itu sendiri.

Mendengar perkataan Arga, sekarang Riska lah yang terbengong-bengong melihatnya, dia yang mengira Arga akan membalasnya dengan bentakan keras seperti yang dia lakukan, ternyata hanya mendapatkan perlakuan yang sebaliknya. Hingga riska masih terdiam membeku dengan mulut sedikit terbuka, apa yang di ekspektasinya ternyata tidak terjadi, dia menatap Arga dan dibalas dengan Tatapan yang menyejukkan dari kedua bola mata Arga, seakan akan tidak tersentuh oleh emosi atas apa yang terjadi.

Ya! Arga ternyata pandai memanipulasi emosinya sendiri, latihan muknyeom (semedi dalam taekwondo) yang dilakukannya setiap pagi berpengaruh besar terhadap perubahan emosi Arga.
Arga bertekat dalam hati tidak akan mengulangi kesalahannya di masa lalu
(Ada apa dengan masa lalu arga? Tanya TS yang sableng).

Riska baru kali ini merasakan di tatap oleh pria yang baru dikenalnya seperti itu, bahkan bawahannya ataupun teman-temannya saja tidak ada yang berani menatap matanya seperti yang Arga lakukan jika dia sudah berubah ke mode super saiya 3 seperti ini. Aura intimidatif yang riska keluarkan dari badan Riska seakan tertahan dan pelan-pelan menghilang akibat tatapan Arga itu.

"Maaf ya mbak Mariska Sanjaya, jika saya sudah mengakibatkan anda terjatuh sampai rok yang anda pakai sobek, jika berkenan, saya akan mengganti rok mbak yang sobek" kata Arga dengan Tulus,
Tak mendapati respon, Arga hanya tersenyum tipis. "Mbak, mbak, mbak Mariska, mbak” ulang Arga karena Riska saat itu masih saja mematung dan menatapnya, seolah olah jiwa Riska lepas dari raganya,
Eeh apa tadi?!, Eeeeh iyaa pokoknya harus ganti!!, Aku ga mau tau !!, Rok ini mahal tau!!" Jawab Riska dengan tergagap karena panggilan Arga yang menyadarkannya dari lamunan, meskipun masih dengan nada judes tapi sudah sedikit turun intonasinya.
Riska tersadar ternyata tangannya yang memegang binder untuk menutupi pahanya masih bertautan dengan tangan Arga, merasakan perasaan yang "aneh", Riska segera saja menepis tangan Arga itu.

Melihat kekikukan Riska, Arga hanya tersenyum simpul dan berusaha menahan tawanya, dia tidak mau Riska menjadi semakin malu karena dia tertawa.

"Kamu kesini mau ngapain?!, Kok aku baru liat tampangmu kali ini di sini?!" Tanya Riska yang penasaran tentang keberadaan Arga di divisi keuangan, sambil menolehkan kepalanya ke arah kanan karena dia tidak kuat jika harus bertatap muka dengan mata Arga lagi.
Tetapi jika dia menundukan wajahnya dia akan merasa malu, apalagi dia masih di perhatikan anak buahnya yang masih menonton adegan demi adegan pertengkaran tadi. Riska merasa dia harus menjaga image dan gengsinya, dia tidak mau terlihat kalah oleh Arga, apalagi di hadapan anak buahnya.

"Saya karyawan baru mbak, ini mau nyerahin memo ke pak Kemal" ucap Arga sambil terus memperhatikan Riska.

Arga sengaja melakukan itu, dia ingin Riska semakin kikuk dengan ulahnya itu. Karena dia melihat raut wajah riska, gerak bibir dan bola mata yang seolah menari nari karena berusaha mengatasi rasa kikuk akibat tatapan dari Arga. Sungguh sangat menarik, "cute" ucap Arga dalam hati.

"Karyawan baru aja sudah bikin masalah, mulai kerja aja belum, dah bikin heboh." kata riska dengan nada sinis, sambil masih menoleh ke kanan, dia tidak mau sekali lagi jatuh dalam tatapan Arga,
"Cowok ini nyebelin banget sich, ngapain dia natap aku sampai segitunya, awas yaak aku bikin ga betah kamu kerja di sini" ucap Riska dalam hati.

"Dah sana, kamu nemuin pak Kemal, ruanganya ada di pojok kanan arah belakangmu, dan inget lu harus ganti rok aku!!" Kata Riska lagi, "Eeeh ini kenapa sich kenapa malah ganti panggilan aku-kamu sich" ucapan Riska dalam hati yang langsung membuat wajahnya bersemu merah, membuat kecantikannya bertambah di mata Arga.

Riska segera saja berbalik meninggalkan Arga tanpa berkata apapun, untuk menutupi rasa malunya dan untuk tetap memberikan kesan angkuh dan berkuasa bagi bawahannya yang lain yang sedang melihatnya saat itu.

Melihat kelakuan Riska, Arga hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum simpul. Dalam hati, arga menilai sikap Riska seperti anak kecil.
Dia pun segera berbalik menuju ke ruangan Pak Kemal untuk memberikan memo yang di dapatnya tadi dari pak Cahyadi.

Sesampainya dia di ruangan pak Kemal, Arga segera saja mengetuk pintu ruangan para supervisor sebanyak tiga kali.
Part 4

Setelahnya arga masuk ke dalam ruangan. Tampak di dalam ruangan itu, terdapat 5 meja yang berbentuk huruf U.

Terdiri dari 5 orang supervisor, yang juga sedang berada di dalam ruangan. Tiga wanita dan dua pria, sekilas arga melirik ke 5 orang tersebut, lalu segera saja matanya beralih mencari papan Nama Kemal yang ternyata berada di meja nomer 1 sebelah kanannya.

Kelima orang tersebut menatap Arga dengan pandangan heran dan kagum, mungkin mereka sempat melihat pertengkaran tadi, karena memang suara yang di keluarkan Riska terdengar sangat kencang.

Arga segera saja mengganguk di depan pak Kemal dan duduk di kursi berseberangan dengan pak Kemal.
"Pak Kemal, saya Arga karyawan baru di divisi ini, ini memo dari pak Cahyadi, kata beliau saya akan mendapatkan penjelasan tentang job desk saya dari pak Kemal tadi" kata arga memperkenalkan diri sambil menyerahkan memo yang dia bawa ke pak kemal.

"Ooh karyawan baru ya?, Tapi berani banget tadi kamu hadapin bu Riska, Hebat ya kamu, semoga kamu bisa kerja lama disini" kata pak Kemal yang sedikit kuatir akan nasib Arga.
Tak berapa lama terdengar dering pesawat telepon di meja pak Kemal, segera saja pak kemal mengangkatnya.
Arga menangkap raut wajah pak kemal, berubah seketika. Tampak berkerut sambil memandang ke arah Arga.

"iya bu, siaap, iya nanti saya sampaikan kepada orangnya, iya bu segera, baik bu" kata pak kemal dengan nada sangat hormat dan pandangan masih mengarah ke Arga yang keheranan melihatnya.
.
.
.
.
.
Disaat yang sama waktu Arga memasuki ruang supervisor, Riska yang sudah berada di dalam ruanganya yang mewah dan luas itu berdiri termenung menatap layar laptop di depannya.
Pikirannya kacau, dikacaukan oleh pemuda yang dia tidak kenal. Yang telah membuat desir desir rasa penasaran atas pemuda itu di hatinya, rasa ingin balas dendam dan sedikit rasa ingin mencuri perhatian pemuda itu, ikut menyeruak dalam kalbunya.
Kehadiran Arga tadi telah menanamkan bibit di hatinya yang Riska sendiri tidak tahu tentang apa, "awas kamu cowok sombong, rasakan pembalasnku" gumam riska pelan, segera saja dia menghubungi pak kemal dan untuk melaksanakan rencana nya bertujuan membalas ke Arga.

"Pak kemal, suruh anak yang baru masuk tadi untuk masuk di teamku!, Biar dia yang handle kerjaan mira yang cuti hamil, langsung saja suruh dia menghadap aku di ruanganku sekarang, ga pake lama, administrasi bisa nyusul nanti, paham!!" Kata riska lewat pesawat telepon yang hanya di jawab pak kemal dengan kata kata siap dan baik.

Senyum sinis terkembang di bibir riska yang tipis. Matanya menyipit seolah sedang merencanakan sesuatu yang menarik untuk Arga.
Selepas itu, dia segera mengetik sesuatu di laptopnya dan segera mencetak hasil ketikannya tersebut lewat mesin printer di samping kanannya. Kemudian menempelkan materai bernominal 6000 rupiah di kertas hasil cetakannya itu.


Tak berapa lama terdengar ketukan di pintu ruangan Riska yang membuatnya sedikit terkaget, dan segera saja merapikan pakainnya, melepas blazernya untuk menutupi pahanya yang masih saja terbuka itu, "masuk" kata Riska lantang dan pendek setelah dia merasa penampilannya lebih baik dari tadi.

"Permisi bu Riska, katanya saya di minta menghadap bu riska tadi oleh pak kemal" kata arga sopan dan masih berdiri di depan Riska karena belum di persilahkan duduk oleh cewek judes itu.

Riska hanya diam dan mengamati Arga dengan teliti dari mata kaki sampai ke ujung rambutnya.
Saat lagi-lagi mereka bertatap mata, riska merasakan denyut jantungnya berubah cepat, membuatnya segera memalingkan wajahnya ke arah layar laptop di depannya.
"Duduk" kata riska pendek seraya mengambil kertas yang sudah tertempel materai tadi dan meletakknya ke hadapan Arga."baca dan tanda tangani surat perjanjian ini, kalau kamu mau bekerja di sini" Lanjut riska pendek, sambil terus menatap layar laptop.

Sejujurnya ia masih berusaha sekeras mungkin mengalihkan perhatiannya dari tatapan Arga yang sering kali membuatnya kikuk sendiri.

Arga yang telah duduk segera saja mengambil kertas itu dan membacanya dengan teliti.
Surat itu ternyata berisi surat perjanjian yang terdiri dari sepuluh pasal yang harus Arga patuhi dan laksanakan, "Nie cewek gila apa yaa, clausul surat perjanjian ini kaya ngerjain aku aja" kata Arga dalam hati setelah selesai membaca surat perjanjian itu.

"Bu riska ini tidak salah ya isi surat perjanjiannya" kata Arga meminta penjelasan Riska, dia merasa surat perjanjian itu mengada ada.

"Ga ada yang salah dengan surat perjanjian itu, sekarang tinggal pilih, tanda tangani atau ga usah kerja di sini!" kata riska dengan tegas dan masih saja memalingkan wajahnya, dia menunggu reaksi arga selanjutnya.
Kira-kira apa yang dipikirkan arga, setelah mendengar pernyataannya tentang clausul itu. Batin riska, bertanya.

"Tapi ini ga relevan bu, masa di poin 7 saya harus menuruti segala perintah ibu, dan efektif 24 jam di hari kerja, ga adil kan bu" kata Arga yang merasa keberatan dengan isi surat itu, "dan lagi ini di poin 8, saya berkewajiban menemani segala kegiatan ibu baik di dalam maupun di luar kantor jika diperintahkan" tandasnya lagi yang mulai resah akan nasibnya jika tidak menandatangi surat perjanjian itu.

"Itu sebagai pertanggung jawabanmu karena sudah membuat aku malu tadi! Paham!!!" Bentak riska pada Arga, tapi masih saja sambil memalingkan muka yang sekarang dia mendongak ke atas, jikalau ada cicak yang melihat tingkah mereka berdua pasti akan terbahak bahak sampai jatuh dari dinding melihat adegan di ruangan itu.

"Ini sama saja ibu ga profesional dalam bekerja donk, masa masalah personal di sangkut pautkan dalam masalah pekerjaan" sanggah Arga dengan sedikit tidak sabar dan meletakan kedua tangannya di atas meja kerja Riska.

Ia lalu berdiri mencondongkan badannya ke arah Riska, yang segera saja membuat riska jengah karena tiba tiba saja wajah Arga sudah ada di depannya.

"Pokoknya tanda tangani!! Kalau ga, silahkan pergi dari perusahaan ini" bentak riska tidak mau kalah, hingga membuat wajah mereka menjadi semakin dekat.

Karena riska tiba tiba saja ikut berdiri dan melakuan seperti hal yang dilakukan Arga, yaitu mencondongkan badannya ke arah depan sedangkan kedua tangannya bertumpu pada meja kerja di depannya.

Kedua-duanya terdiam dan saling bertarung pandangan mata, membuat ruangan itu seketika menjadi hening.

Karena masing masing tidak mau mengalah, Arga yang melihat mata Riska bergerak semakin sering karena merasa kalah, segera saja duduk dan menghela nafas panjang, dia mengalah karena tiidak mau membuat Riska semakin malu karena ulahnya,
"Huuuft fine kalau gitu bu, saya akan tanda tangani surat ini, sebagai bentuk pertanggung jawaban saya" ucap arga sambil meraih pena yang terletak di atas surat perjanjian dan menandatanganinya. Setelahnya arga menyerahkanya kepada riska yang masih berdiri.

"Makasih, eeeeh"...... "Ya sudah, saya ambil dan arsipkan surat ini" kata riska dengan sedikit gugup, "Anjingggg, nie mulut kenapa sich, ngapain pakai bilang makasih kaya gitu, dasar mulut goblok" teriak riska dalam hati karena menyadari kesalahannya tadi telah mengucapkan kata terima kasih dengan nada yang manja kepada Arga.

Arga yang mendengar sekilas ucapan terima kasih itu segera saja menoleh ke arah kiri sambil menggosok hidungnya untuk menutupi senyumnya yang terkembang. Menahan agar ia tak tertawa akibat mendengar nada yang manja dan centil tadi.

Arga merasa lucu melihat ekspresi wajah riska yang saat menyadari perkataannya tadi langsung berubah seperti kepiting rebus, "Mariska sanjaya, jangan panggil namaku Arga kalau aku gak bisa bikin kamu jatuh ke pelukanku nanti" ucap arga dalam hati sambil kembali berpaling menatap ke arah riska yang masih dengan wajah memerah itu.

"Ya sudah sekarang kamu asisten pribadi aku!, Balik sana ke meja kamu di depan!" Kata riska ketus untuk menutupi rasa malunya dan berlagak seolah olah sedang mengetik sesuatu di laptopnya.

"Permisi Bu Riska, saya keluar dulu" kata Arga sambil berlalu keluar dari ruangan menuju ke meja kerjanya yang letaknya berada di depan ruangan Riska.

Sesampainya di meja kerjanya, segera saja dia duduk di kursi dan menghidupkan Pc. Sambil membenahi dasinya yang sedikit miring, pandangan matanya tertumbuk pada kertas memo kecil di layar pc berwarna kuning, segera saja di ambil kertas memo itu dan membacanya.

"The bugs already set, watch Fatso carefully" itulah tulisan yang tertera di kertas memo kecil berwarna kuning itu, Arga segera saja mengedarkan pandangannya berkeliling untuk melihat keadaan.

Setelah dirasa tidak ada yang memperhatikannya, segera saja dia merobek kertas memo tadi kecil-kecil dan memasukannya ke dalam gelas ceramic yang berisi teh di depannya, kemudian meminumnya sampai tak tersisa satupun sobekan kertas di dalam gelas.

Sambil menghela nafas, arga menyenderkan badannya ke sandaran kursi dan menaruh jari telunjuknya ke tengah kening dan memejamkan mata sambil berucap "Execute project Calm Snow" pada smartwatchnya.

Tak butuh sedetik, yang kemudian terdengar jawaban dari smartwatch itu, "Roger that, act smoothly boss" sahut suara merdu dari smartwatch Arga.

Mendengar suara merdu itu, arga tersenyum simpul dan segera saja berkata "Miss u alot Abby, welcome back to the pack" dengan wajah yang menyiratkan kerinduan pada seseorang bersuara merdu itu.

Part 5

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 3 sore, waktu bubaran bagi para pekerja HangSen industry sebentar lagi mulai.

Arga yang masih melamun di meja kerjanya karena tidak ada kerjaan yang dapat dilakukan, tiba-tiba saja terkejut saat ada panggilan di telepon di meja kerjanya itu.

Setelah mengangkat telponnya, dia segera saja berdiri dan masuk ke ruangan riska.

Ternyat panggilan itu dari riska yang memerintahkannya untuk menemui dia sebelum pulang.

Saat masuk ke dalam ruangan, Arga sedikit tertegun melihat Riska, posisi riska yang sedang menggambil data di rak dokumen yang berada agak rendah membuat riska harus menungging untuk mengambil dokumen itu.

Pantatnya yang berisi terlihat menantang serta payudaranya menggantung manja, seolah berteriak untuk segera di jamah, sebuah siluet indah terlukis oleh pose menantang riska, "Duduk Ga, eeh benerkan nama lu Arga" kata riska sambil tetap sibuk dengan dokumen di rak arsip.

"Yup, bu Riska, ada yang bisa saya bantu?" Kata Arga sopan, sambil melangkah ke kursi dan duduk sambil terus memperhatikan bongkahan pantat sexy Riska.

"Tugas pertama kamu, temani aku belanja nanti malam, kamu harus ganti rugi rok ku yang sobek akibat kamu tabrak tadi pagi" kata riska sambil berdiri dan melangkah ke arah meja kerjanya.

Riska lalu duduk di kursi di hadapan Arga, "Send me your adrress, i will pick you up at 7'0 clock" kata riska sambil menatap arga tajam. Mengharap agar Arga memprotes permintaanya, agar dia bisa menambah hukuman buat Arga nantinya jika dia berani melawan.

"Baik bu, ada yang lain?" Kata Arga tenang, respon yang tidak di harapkan oleh Riska sebenarnya, karena Riska mengaharapkan perlawanan dari Arga lagi.

"Nope that's All, dah kamu boleh pergi!" Kata riska jutek, dia sebenarnya mengharap agar arga membantahnya , karena riska merindukan perdebatan perdebatan dengan Arga seperti pagi tadi.

"Kalau begitu saya permisi bu, alamat akan saya infokan ke nomer ibu" kata Arga datar, karena Arga sebenarnya sudah tidak betah untuk berlama lama tanpa ada yang harus di lakukan.

"Silahkan" kata riska menjawab pamit arga tadi, tiba tiba saja rasa kosong menggayut di hati riska, karena kepergian Arga, "apa aku harus merubah sikapku di hadapan Arga yaa?" Tanyanya dalam hati sambil menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan.

Arga yang sudah bosan karena tidak ada kerjaan segera saja turun ke lantai dasar setelah membereskan meja kerjanya dan mematikan komputer, flash disk yang tadi di tancapkan di komputer tak lupa ia cabut dari usb drive, kemudian di masukan ke kantong depan kemejanya.

Sesampainya di lantai dasar, Arga menyempatkan diri menyapa Amel dan Tasya di meja resepsionis, kerlingan genit Tasya menyambutnya saat dia datang.

Setelah bercanda dengan mereka sambil menunggu jam pulang kantor, arga segera saja berpamitan, dan melangkah keluar dari gedung berlantai 25 itu.

Saat Arga berjalan menuju ke arah motornya terparkir, tiba tiba saja ada seorang berpakaian security berbadan tegap dan kekar berjalan menghampiri Arga yang akan menaiki motornya.

Arga menoleh kebelakang saat bahunya di tepuk oleh security tadi, tatapan tajam sang security di balas dengan anggukan dan juga tatapan mata tajam oleh Arga yang segera merogoh saku depan kemejanya.

Diserahkannya flash disk tadi kepada sang security. Setelah menerima dari arga, maka segera saja berbalik setelah menyimpan flash disk ke dalam kantong yang berada di ikat pinggangnya.

Security itu berjalan meninggalkan Arga yang segera saja naik ke vixi putih.

Arga menstaternya, kemudian menjalankan motor kesayangannya itu menuju ke arah pintu gerbang, sesampainya di pintu gerbang Arga berhenti sejenak untuk menyapa pak satpam yang berjaga.

Ketika dia akan berlalu pergi.

"Mas Arga, tungguuuuuu........"



Bersambung
jadi agen sabotase nih si argaemoticon-Cool

Mantul tata bahasa penulisannya dan critanya.

Kentang boleh tapi jangan banyak-banyak ya gan TSemoticon-Wakaka

Edit: rate star n subkraip done ya
Diubah oleh initialtakumi86
Quote:



Besok ane update gan, kalem.
Quote:


Cok dancok, napa lu post cerita ane kaga ijin
Kalau mau kopas ijin
Ngapain pake nama ellmoll juga, pengen ane lihat sampai part berapa ini cerita, fix ane minta gembok dulu cerita ane di semprot
Sekalian bilang ellmoll kalau lu dah catut namanya


Kalau mau post cerita ae ijin dulu cok
Balasan post eckosupriyanto
Tolong anda jangan halu, cerita ini udah saya buat kerangkanya dengan sedimikian rupa.

Anda jangan ngaku-ngaku karya orang ya !!!!
Admin tolong, hapus komen-komen nggak jelas kayak gini.

Seenak udelnya aja ngakuin karya orang !

Kalo anda tidak percaya silahkan buka link di bawah ini

http://46.166.167.16/threads/calm-snow.1304379/


Ini 100% hasil karya saya sendiri, jangan mencuri karya orang ya !
Balasan post Ellie.Moulie
Bahahhahhaha, fix ane stop update nie cerita, btw ga sekalian lu kopas nya sampai part 8 cooook, atau lu sekalian kopas cerita ane yang A Single Moment of Sincerity, 2 part lagi tamat tuh cok, eeeg kaga bisa deh kayanya, dah ane post di watpap yang itu, jadi kalau lu kopas ketahuan kan coookk


Bahahaha salam RSP yaaak, tuh tokoh RSP sama deqwo belum muncul, btw adegan RSP bunuh 2 orabg security dan 1 orang dari hell hound company tar durubah yaaa biar ga gantian elu yang Halu



Bahahhahahbabba salam dari Abby, eeeg Abby belum nonghol yak, namanya kan Abbigail cheng
Bwkakakakakka asuuuuuu ngakak ane dibilang halu
Balasan post eckosupriyanto
Ngelindur, forum esek-esek masih aja dibanggain. Jangan bicara kasar nanti di banned mod preteli baru tau rasa
Balasan post Ellie.Moulie
Quote:


koreksi dr ane yg nubi ini lebih ke gagal pokus sih sist. di part 2 warna celana dalam mariska warna pink, tapi di part 3 warna celana dalamnya berubah jadi ungu emoticon-Thinking

saran ane, gmn kl merah aja warna nya, my fav color soalnya itu sist, hehehe

btw ane ijin bermukim dimari ya sist
Diubah oleh minoruladies
Balasan post Ellie.Moulie
Ane kok ketawa ada yang plagiat malah mencak2 sama yang punya cerita..
Malu woi.. apa emang sudah tidak punya kemaluan
Balasan post Ellie.Moulie
Calm Snow


Ok kalau lu masih bilang ane Halu

Itu bukti screen shot ane yaak, mulutmu harimau mu cok

Mulai detik ini calm snow ane delete dari forum

Pisss coook
Balasan post Ellie.Moulie
Wedeh pernah baca di sebelah udah beberapa part Malah.. Tapi koq beda penulisnya ya gan..
Balasan post Ellie.Moulie
Ooo Oooo.. Begitu yah.. Jadi PLAGIAT itu lebih membanggakan ya bray..
Balasan post eckosupriyanto
Akhirnya yang Asli di Stop.... ane tunggu kelanjutan dimari kalo memang bukan hasil dari mbajak karya orang
Balasan post minoruladies
Jangan gagal fokus karena dia cuman plagiat
Tolong bahasanya dijaga, ini forum Kaskus. Forum terbesar di Indonesia, jangan disamakan sama forum ilegal kalian.

Disini tempatnya para konten kreator untuk berkarya, jangan kalian nodai dengan tudingan-tudingan tidak jelas.

Sekali lagi saya mohon dengan sangat. tolong hargai jurih payah saya dalam menulis cerita ini, kalian tidak akan tahu seberapa banyak kopi yang telah saya tuang, hanya untuk menemani saya dalam menyalurkan hobi.

Tolong, tolong, sekali lagi tolong saya tidak tahu kalian itu siapa. Tapi cerita ini akan saya realese dengan dua versi.

Versi unrated dan versi rated. Jadi tolong hargai para konten kreator dalam berkarya.

Best regard
Halaman 1 dari 3
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di