alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Pengalaman Gw Selama 9 Tahun Sebagai Caregiver
4.94 stars - based on 17 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c45c984ffef8791158b456b/pengalaman-gw-selama-9-tahun-sebagai-caregiver

Pengalaman Gw Selama 9 Tahun Sebagai Caregiver

Pengalaman Gw Selama 9 Tahun Sebagai Caregiver


Bagi yang belum tau, caregiveradalah orang yang sengaja dipekerjakan untuk merawat lansia atau orang sakit. Caregiver bisa juga disebut dengan perawat, namun job descriptionnya berbeda dengan perawat atau suster yang bekerja di rumah sakit pada umumnya. Karena ada beberapa jenis pekerjaan yang boleh dilakukan oleh seorang perawat atau suster, namun tidak boleh dilakukan oleh seorang caregiver.

Sebelum menjadi caregiver, gw harus menjalani pelatihan yang tentu saja berhubungan dengan bagaimana cara merawat lansia atau orang sakit. Misalnya bagaimana cara memandikan mereka jika mereka dalam keadaan lumpuh? Atau bagaimana cara mengganti dan memasang pamper?

Selain itu, gw juga diberikan pelatihan memasak dan bahasa Mandarin secara dasar. Karena begitu gw dihadapkan pada seorang pasien, maka gw akan bertanggung jawab secara penuh dengan hal-hal yang berhubungan dengan si pasien tersebut, termasuk urusan makan. Dan pekerjaan sebagai caregiver tentunya tidak akan berjalan tanpa adanya komunikasi dalam satu bahasa yang sama.

Setelah menjalani pelatihan selama kurang lebih 4 bulan, pada akhirnya tanggal 22 Juli 2009 gw berangkat ke Taiwan.

*****


Pasien pertama gw adalah seorang nenek yang berumur 84 tahun, dan beliau masih berada dalam kondisi yang baik karena masih bisa melakukan apapun sendiri. Namun beliau hanya tinggal sendiri disebuah daerah yang bernama Xizhi karen semua anak-anaknya tinggal dikota.

Jadi tugas gw saat itu hanya menemani beliau ketika di rumah, ketika jogging dipagi dan sore hari, ketika ke pasar, ketika medical check up rutin ke rumah sakit, ataupun ketika mudik ke kampung halamannya di Nantou. Dan yang pasti gw juga harus memasak makanan kesukaan beliau.

Pekerjaan yang mudah bukan berarti tanpa kendala. Sebagai seorang newbie caregiver, bagi gw bahasa menjadi salah satu masalah yang harus gw alami selain homesick yang masih gw rasakan pada setahun pertama. Antara gw dan nenek seringkali terjadi salah paham, misalnya saja ketika beliau bicara A, sedangkan yang gw tangkap maksudnya adalah B. Tapi untungnya, semua anak-anak beliau bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Jadi gw selalu meminta bantuan salah satu dari mereka setiap kali gw mengalami kesulitan.

Sayangnya, beberapa bulan sebelum gw pulang ke Indonesia pada tahun 2012, nenek gw tersebut meninggal akibat komplikasi. Gw juga tidak sempat memiliki foto kenangan bersama beliau karena peraturan dari kantor yang tidak mengijinkan gw untuk memiliki hape.

*****


Bulan Agustus 2012, dari Taipei gw dipindahkan ke Yunlin, tepatnya didaerah Erlun. Dikontrak kedua ini gw merawat seorang kakek yang umurnya sekitar 77 tahun, dengan perawakannya yang tinggi dan kurus.

Walopun kakek masih memiliki istri dan anak bungsu laki-laki yang belum menikah, namun satu-satunya alasan mengapa gw dipekerjakan adalah karena keduanya bekerja disiang hari dan mereka khawatir hal yang buruk akan terjadi pada kakek jika tidak ada orang yang menjaga beliau. Jadi ketika disana, sebagian besar pekerjaan gw adalah menemani beliau mengobrol tentang apapun itu, lalu memasak makanan untuk beliau, dan membersihkan kantong kolostomi yang dilakukan secara rutin setiap 2-3 hari sekali.

Seperti yang gw bilang sebelumnya, pekerjaan mudah bukan berarti tanpa kendala. Ketika bahasa bukan lagi masalah, justru urusan memasaklah yang sempat membuat gw merasa 6 bulan pertama adalah masa yang paling berat untuk dijalani. Bagaimana tidak? Setiap masakan yang gw buat, selalu dikomplain. Padahal awalnya gw sempat merasa percaya diri karena gw pikir pengalaman memasak selama 3 tahun sebelumnya bisa gw terapkan disana, tapi ternyata gw salah.

Spoiler for :


Dan ada satu moment dimana gw sempat ingin menyerah karena mie instan. Keliatannya mie instan ini persoalan yang sepele tapi lagi-lagi gw salah. Pada intinya, setiap kakek gw meminta untuk dibuatkan mie instan, setiap itu pula mie instannya tidak pernah habis dimakan.

Awalnya gw mencoba untuk berpikir lurus dan masa bodoh, tapi lama-lama gw merasa tidak enak dan akhirnya gw berpikir, ada apa dengan mie instan gw? Belakangan terungkaplah bahwa mie instan yang gw buat itu rasanya tidak enak, dan menurut kakek, gw memasak tidak dengan hati.

Hal tersebut membuat gw berpikir keras. Ketimbang benar-benar menyerah, gw mencoba untuk mengubah teknik dalam memasak mie instan. Air yang gw pakai untuk merebus mie, gw buang dan diganti yang baru. Bumbu mie instannya pun tidak semua gw pakai, jadi kuahnya lebih terasa ringan dan tidak terlalu kental. Gw juga menambahkan telur atau kerang, sayuran, dan kadang diatas mienya gw taburi daun bawang yang dirajang. Alhasil, kakek gw suka.

Spoiler for :


Sejak saat itu gw mulai belajar banyak dan berusaha untuk tidak egois dengan memaksakan kehendak serta berpikir bahwa apa yang gw masak harus beliau makan. Tidak seperti itu! Dan sejak saat itu pula, beliau selalu suka dengan apa yang gw masak untuk beliau.

Beberapa hari setelah imlek tahun 2013, beliau sempat menjalani operasi organ dalam dan setelah sebulan berada di rumah sakit, beliau meninggal. Satu-satunya hal yang gw ingat sampai sekarang adalah sebelum pergi ke rumah sakit beliau sempat bilang untuk menjaga rumah dan Xiao Xiansheng.

Xiao Xiansheng adalah panggilan anak bungsu laki-laki kakek yang pernah akan dijodohkan dengan gw. Tapi gw menolak karena perbedaan visi misi dalam hidup, bukan hanya perbedaan kultur dan keyakinan.

*****


Setelah 6 tahun menjadi caregiver, gw merasa berada diposisi dimana gw sudah tidak lagi memiliki masalah tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan pasien, atau tentang bagaimana cara memasak yang sesuai dengan keinginan pasien. Gw juga tidak lagi merasakan homesick yang luar biasa seperti sebelumnya. Bahkan gw sudah merasa betah untuk tinggal di Taiwan dalam jangka waktu yang lama.

Terlepas dari itu semua, dikontrak yang ketiga ini gw justru malah kehilangan banyak pasien yang gw rawat. Salah satunya gw ceritakan secara lengkap dithread ini.

Diawal musim semi 2016, pihak agensi kemudian mengirim gw ke daerah yang tidak jauh dari tempat tinggal nenek gw yang sebelumnya. Gw merawat seorang nenek yang berumur 72 tahun, yang lumpuh separuh badan hanya karena beliau terkilir dibagian jari kaki lalu terjatuh. Beliau juga sempat masuk ICU selama seminggu dan setelah beliau dipindah ke kamar perawatan, barulah gw yang menjaga beliau selama di rumah sakit.

Spoiler for :


Menurut dokter, nenek gw memiliki kemungkinan untuk sembuh dan bagian tubuhnya yang lumpuh bisa berfungsi seperti biasa. Jadi demi kesembuhannya, nenek gw menjalani terapi fisik di rumah sakit 3 kali seminggu dan akupuntur juga 3 kali seminggu ditempat yang berbeda.

Spoiler for Ditempat terapi:


Dari sekian banyak pasien yang gw rawat, mungkin sepertinya hanya nenek ini saja yang sering bikin gw merasa ketakutan. Pasalnya pernah disuatu hari ketika beliau masuk rumah sakit karena flu, dan ketika beliau sedang terbangun, tiba-tiba saja beliau bilang bahwa ada dua anak kecil yang duduk disebelah gw. Padahal saat itu tidak ada anak kecil seorang pun dan gw hanya duduk sendiri.

Hal yang sama juga pernah terjadi ketika di rumah. Disatu malam, tiba-tiba saja beliau menunjuk ke pojok ruangan dan bertanya, "siapa dia?". Padahal saat itu hanya ada kami berdua. Banyaknya terapi dan akupuntur yang dilakukan, ternyata tidak membuat keadaan nenek gw lebih baik dari sebelumnya. Setelah hampir 6 bulan gw rawat, pada akhirnya beliau meninggal.

*****


Sejujurnya gw belum pernah berhubungan secara langsung dengan pasien penderita kanker, tapi dipekerjaan berikutnya gw diberi kesempatan untuk merawat seorang penderita kanker lambung yang umurnya bahkan belum 60 tahun.

Gw tidak sempat memiliki kenangan tertentu dengan pasien yang gw panggil dengan sebutan A'yi tersebut. Karena satu setengah bulan setelah gw datang untuk merawat beliau, beliau masuk UGD, dan setelah keadaannya lebih baik, beliau dipindahkan ke kamar perawatan. Namun dokter memutuskan untuk melakukan operasi setelah secara tiba-tiba A'yi gw muntah begitu banyak darah.

Operasi yang dilakukan adalah satu-satunya cara untuk menutup luka berlubang yang terdapat pada lambungnya. Operasinya berhasil dan A'yi sempat masuk ICU beberapa hari, namun beliau kemudian meninggal karena mungkin kondisi beliau sudah terlalu parah.

Spoiler for :


*****


Hampir setahun sebelumnya, gw sempat akan merawat seorang kakek yang umurnya sekitar 80 tahun dan kondisinya masih baik. Hanya saja gw mengalami kejadian yang cukup membuat gw enggan untuk merawat pasien laki-laki. Oleh karena itu, dalam waktu kurang dari satu bulan gw meminta untuk dipindahkan dan meminta pihak agensi untuk tidak memberi gw pasien laki-laki lagi.

Tapi ternyata pihak agensi mendapat permintaan khusus agar gw mau merawat seorang kakek yang berumur 88 tahun. Gw sempat menolak karena gw takut kejadian sebelumnya terulang, namun pihak agensi berhasil meyakinkan gw bahwa pasien laki-laki tersebut mengalami kelumpuhan secara total. Jadi gw tidak perlu khawatir.

Spoiler for :


Ketika kakek ini masih berada di rumah sakit, gw sempat bertanya pada dokter tentang apa yang terjadi pada beliau. Dan menurut dokter, satu-satunya hal yang menyebabkan kakek mengalami kelumpuhan total dan secara tiba-tiba adalah karena beliau merupakan perokok berat. Gw bukan perokok tapi gw masih tidak percaya bahwa rokok ternyata bisa menyebabkan kelumpuhan hingga sedemikian parah.

Bagi gw, merawat kakek ini adalah pekerjaan paling ringan yang pernah gw dapat. Bagaimana tidak? Karena beliau hanya minum susu yang gw masukkan melalui selang makanan setiap 4 jam sekali, jadi gw tidak perlu repot-repot memasak untuk beliau. Tapi sayangnya beliau meninggal tepat dibulan ini satu tahun yang lalu.

*****


Pasien terakhir gw dipenghujung kontrak adalah pasien dengan kanker hati. Gw memanggilnya A'yi karena beliau masih terlalu muda untuk dipanggil nenek, walopun umurnya sudah 72 tahun. Dua minggu sekali gw mengantar dia untuk melakukan kemo di rumah sakit Chiayi, padahal beliau sendiri tinggal di Tainan.

Selama merawat beliau, gw merasakan energi positif yang luar biasa besar dari beliau karena beliau sama sekali tidak menunjukan pesimisme karena menderita sakit kanker. Kami juga sering mengobrol tentang banyak hal, kadang kami sampai begadang gara-gara terlalu banyak mengobrol. Gw sempat ikut beliau pulang kampung ke Miaoli, daerah dengan mayoritas suku Hakka ketika liburan Imlek tiba. Selain itu, kami juga sempat pergi ke Anping Old Fort dan Chihkan Tower, dua dari sekian banyak tempat wisata di Tainan.

Spoiler for :


Ketika tiba waktunya gw untuk pulang, gw sempat memeluk beliau dan beliau sempat meminta gw untuk meneleponnya setidaknya satu bulan sekali. Dan ketika sudah di rumah, gw memang pernah menelepon beliau satu kali. Namun karena beberapa alasan, gw tidak lagi menelepon beliau. Hingga bulan November kemaren, gw berusaha untuk menelepon berkali-kali tapi Messenger beliau tidak aktif.

Gw tidak bermaksud untuk suudzon, tapi jika memang beliau sudah meninggal, semoga beliau beristirahat dengan tenang. Gw merasakan penyesalan yang mendalam karena tidak menuruti keinginan beliau, tapi setidaknya kenangan beliau masih ada dihati gw.

Spoiler for :


*****


Itulah beberapa dari sekian banyak pengalaman gw selama di Taiwan, dan rasanya tidak mungkin jika harus diceritakan semua disini. Pekerjaan gw sebagai caregiver mungkin bukan pekerjaan yang keren, tapi apa yang gw dapatkan dari pekerjaan tersebut, InsyaAllah barokah.

Tulisan berdasarkan pengalaman dan dokumentasi pribadi.

Baca juga :

Mendiang Nenek Gw yang Anti-Mainstream

3 Jenis Jajanan Wajib di Pasar Malam Taiwan Versi Gw

Mengunjungi Anping Old Fort dan Chihkan Tower di Kota Tainan, Taiwan

Diubah oleh marywiguna13
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 10
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
pekerjaan yang luar biasa bre.. emoticon-Jempolemoticon-Jempolemoticon-Jempolemoticon-Jempol
luar biasa neng emoticon-Malu

siapa bilang gak keren. banyak pahalanya tuh kerjaan.
Quote:


Makasih emoticon-Embarrassment

Quote:


Aamiin, InsyaAllah ya.. emoticon-Big Grin
Selalu salut sama sista.
Semoga selalu mendapatkan yg terbaik emoticon-Cendol (S)
pekerjaan km keren kok. insyaAllah ladang pahala.
Quote:


Quote:


Aamiin, makasih emoticon-Embarrassment
mantap karirnya gan.
sukses lah.
emoticon-Salam Kenal
Wuah si teteh....sungguh tak terduga emoticon-Belo
mulia sekali ini
Quote:


Makasih, gan
Sukses juga bwt agan emoticon-Cendol Gan

Quote:


Tidak terduga bijimana, om? emoticon-Malu
Quote:


Tak terduga kesabaran dan ketulusannya emoticon-Embarrassment

Quote:


Taunya cuma suka marah-marah doang ya emoticon-Big Grin
Quote:


Marah2nya sama yg sebayaan atau yg muda emoticon-Big Grin

Kalau sama yg tua....takut kualat emoticon-Embarrassment
Quote:


Ya iya dong emoticon-Big Grin
Quote:


Biar didoain yg baik2 sama yg tua2....
Quote:


Aamiin, semoga, om..
Suces en cemungut ea emoticon-Toast
Quote:


Mudah2an sehat selalu & murah rezeki emoticon-Angel
ane juga ngerasain apa yang ente rasaiin.. ane juga punya pengalaman merawat ibu ane walopun cuman 1 orang.. ane disini belajar juga yg namanya sabar, ikhlas, belajar membagi waktu dan tekun merawat beliau.. selama 2 tahun ane temenin beliau yg kena sakit kanker rektum/usus besar stadium 3... dari beliau kritis, mandiin, gantiin baju, ngegotong sana sini, nyuapin beliau.. Puji Tuhan udah 6 tahun ini ibu ane sekarang udah seger, bisa kemana2 sendiri naik angkutan umum..emoticon-Blue Guy Smile (S)
Semangat sis emoticon-I Love Indonesia (S)
Diubah oleh bagongsuper22
Halaman 1 dari 10
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di