alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c3c3e9b82d4956c7169e8d3/bungkam

BUNGKAM

BUNGKAM

Sekarang aku memahami arti kehidupan. Aku pernah merasakan kehancuran yang tiada hentinya, diterpa angin kehidupan yang sangat kencang. Aku seperti daun kering yang terbang jauh tanpa arah, lalu jatuh di suatu tempat dan terinjak banyak orang hingga menjadi kepingan bahkan serpihan. Pernah pula aku merasakan jatuh cinta, sangat jatuh. Namun ketika aku jatuh, maka aku harus bangkit kembali dan melanjutkan berjalan bahkan berlari. Hidupku, keluarga kecilku, sang putri kecilku, dan dia. Selalu ada di hatiku.

Aku masih ingat kejadian berharga dalam hidupku, beberapa cerita masa lalu yang mebuatku tersenyum bahkan menangis. Masih jelas teringat, sangat jelas.
***

Angin meniup lembut tubuhku yang sedari tadi duduk termenung di pinggir danau, cahaya jingga sang senja menembus beningnya. Butiran air mata tak terasa jatuh dari mataku yang semakin sembab. Aku termenung di bangku taman, di bawah pohon yang daunnya berguguran tertiup angin, beberapa terbang lalu jatuh ke danau, dan beberapa menerpa tubuhku. Air mataku memang tak seindah air danau yang selalu bersedia tertembus cahaya jingga sang senja, juga tak seindah daun yang berguguran tertiup angin. Meskipun begitu, aku tetap berani menjatuhkannya hingga berantakan.

Di dunia ini aku sudah tidak mempunyai siapa pun. Aku kesepian, aku sadar, dan aku tahu dengan pasti bahwa aku sudah kehilangan semuanya, tak terkecuali orang tua. Namun masih ada saja kata ‘beruntung’ dalam hidupku. Ya, keluarga adik perempuan ibuku masih peduli terhadapku dan berbaik hati menyekolahkanku sampai aku lulus. Dan sekarang, aku memutuskan untuk tinggal sendiri di rumahku yang dulu, yaitu tempat aku dan kedua orang tuaku tinggal bersama. Aku tidak ingin lagi menjadi beban keluarga bibiku, meski mereka dengan lapang dada menerimaku.

Setelah memutuskan untuk tinggal sendiri, kini aku bekerja sebagai guru honorer sekolah dasar. Rumahku tidak terlalu jauh dari sekolah tempat aku mengajar, jadi aku hanya berjalan kaki untuk menempuhnya.
Hampir setiap sore aku selalu pergi ke taman yang sepi di pinggir danau. Aku duduk di atas hamparan rumput hijau sambil memerhatikan air danau yang begitu indah. Danau ini seolah menyimpan beribu cerita hidupku yang selalu aku tumpahkan melalui biasan jingga sang senja yang tenang.

Ah ya, namaku Raina, ibuku bilang namaku berasal dari kata rain yang artinya hujan. Ibuku suka sekali dengan hujan, dia bilang hujan itu ribuan nikmat yang Tuhan turunkan ke bumi. Namun entah mengapa, aku lebih menyukai matahari, sang senja atau sang fajar, keduanya aku suka. Bagiku, matahari tak kenal lelah menyinari bumi meski bumi tak membalas menyinarinya, namun dia tetap setia memancarkan cahaya hangat kepada bumi. Meskipun matahari akan menghilang ketika malam datang, namun dia tidak pernah pamit kepada bumi karena dia tahu keesokan harinya dia akan kembali lagi untuk bersinar. Dan meskipun dia menghilang ketika malam, dia tetap menyinari bumi melalui sang bulan. Bukankah begitu?

Kini hari mulai gelap, angin mulai bertiup kencang dan dingin. Matahari sudah hampir menghilang tertelan malam, warna danau yang sebelumnya jingga kini memudar, warnanya kini hampir biru gelap. Aku beranjak dari tempat dudukku, lalu berbalik badan. Dan tiba-tiba… ya… aku terkejut setengah mati, suara petikan gitar memecahkan gendang telingaku. Ketenangan buyar seketika, seorang laki-laki dengan kemeja warna hitam dan celana jeans bernyanyi tak karuan. Ketika aku hampir meninggalkannya tak peduli, seketika dia mengatakan sebuah kalimat yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, dengan tatapan lembut sembari menggenggam tanganku dia berkata, “Maukah kau menikah denganku?” Sontak aku melepaskan genggamannya dan tanpa sepatah kata pun aku berlalu meninggalkannya yang terdiam menunggu jawabanku.

Aku berlari meninggalkan taman itu, Laki-laki aneh, siapa dia? Berani-beraninya dia bertanya hal itu. Aku tidak pernah bertemu dengannya bahkan dalam mimpiku.

Sumber Gambar


Quote:
[/FONT]
Diubah oleh nanitriani
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
PART 2

Keesokan harinya, setelah selesai semua kegiatan, seperti biasa aku menghabiskan waktu dengan berdiam diri di taman pinggir danau dan memandangi hangatnya cahaya jingga sang senja. Seperti biasa pula aku mencurahkan isi hati kepadanya, berharap senja akan menenggelamkan masalahku ke dalam gelapnya malam dan mengubahnya menjadi butiran cahaya di langit. Aku berharap masalahku menjadi ribuan bintang supaya aku tidak harus menangisi masalahku lagi, namun cukup memandanginya sebelum aku terlelap dalam tidur malamku.
Saat hari mulai gelap, aku beranjak untuk pulang. Dan ketika itu juga, untuk kedua kalinya suara petikan gitar membutku terkejut. Laki-laki itu lagi, kali ini dia mengulurkan tangannya, “Namaku Ardi, aku memutuskan untuk hidup sendiri, dan aku mengamen untuk membiayai hidupku.” Ucap Ardi penuh semangat.
Aku mengacuhkan uluran tangannya dan menjawab dengan datar, “Aku tidak peduli.” Ucapku sambil pergi meninggalkannya.
Kali ini dia mencegahku pergi, “Aku mohon jangan pergi, dengarkan aku terlebih dahulu.” Ucapnya memelas.
“Apa maksudmu? Kau mau uangku? Maaf, hidupku sama sepertimu, sendiri dan menyedihkan. Tidak ada uang untukku apalagi untukmu!” Aku berlari meninggalkannya dan pulang secepatnya.
***

Setelah malam tiba, aku pun beranjak tidur. Hari ini seperti biasanya, tidak ada yang menarik dalam kisahku. Hari yang telah aku jalani, semuanya nampak biasa saja, kecuali kesepian luar biasa yang aku rasakan. Sudahlah, aku yang memutuskan untuk hidup sendiri di sini, di kota kecil ini, dan sebagai guru honorer sekolah dasar.
Perlahan kubuka jendela kamarku dan menatap langit malam. Semilir angin masuk ke dalam kamarku, cahaya rembulan dan ribuan bintang yang gemerlap menorobos ke dalam tatapan mataku. Aku mengamati indahnya langit malam, jika Tuhan mengizinkanku untuk mengambil ribuan bintang yang sangat indah itu, aku hanya akan mengambil satu bintang yang paling terang, akan kupetik bintangku, satu di antara ribuan yang lainnya. Akan kujadikan dia teman tidurku malam ini, agar tidurku lelap dan mimpiku indah seindah cahaya bintangku. Meski aku tahu, dia akan menghilang ketika sang fajar datang.
Diubah oleh nanitriani
PART 3

Sepulang dari mengajar, seperti biasa aku pergi ke taman memandangi danau yang entah kapan aku bosan menjalani rutinitas itu. Ya, selalu saja menunggu senja datang.
Aku menangis kencang karena aku tahu hanya aku sendiri yang ada di taman ini, karena tidak ada orang yang ingin menghabiskan waktu di taman sepi ini kecuali orang yang sangat kesepian sepertiku.
Tiba-tiba suara petikan gitar dengan alunan nada yang tak karuan memecah lamunanku, seseorang mengelus kepalaku.
Dia berbisik tepat di telingaku, “Jangan menangis, matamu terlalu indah jika kau menggunakannya untuk menangis. Bukan hanya kau yang hidup sendirian, aku pun sama sepertimu, kesepian.”
Aku memandanginya dengan rasa jengkel, orang yang kemarin lagi, apa mau dia? Dengan ketus aku menjawab, “Sudahlah! Apa urusanmu?”
Seperti biasa aku beranjak pergi meninggalkannya. Namun, dia menarik lenganku dan memaksaku untuk duduk kembali.
Sekali lagi dia berbicara dengan lembut, “Lihatlah sekelompok burung yang terbang itu, mereka selalu ada kala senja datang dan terbang jauh ketika hari mulai gelap. Mereka selalu ada di setiap senja, bukan? Mereka pun sama sepertimu menikmati sang senja. Mereka menyaksikan kau yang selalu duduk termenung dengan segenggam cerita perih, lalu kau luapkan kepada sang senja. Burung-burung itu menyaksikan, namun kau hanya mengagumi senja dan danau yang menerima pantulan cahaya jingga. Pernahkah kau melirik mereka? Seperti aku, aku selalu menyaksikan obrolan antara engkau, senja, danau, dan daun-daun yang jatuh tertiup angin. Namun kau tak pernah melihatku.”
“Siapa kau? Aku tidak mengenalmu, apa maumu?” Tanyaku hampir hilang kesabaran.
Dengan lantang laki-laki itu menjawab, “Aku mohon, menikahlah denganku. Kau bisa gunakan pundakku untuk sejenak kau titipkan beban, kau tidak perlu lagi mengobrol dengan senja dan danau yang tak pernah menjawab satu pun keluhanmu. Kau bisa berbagi perih kepadaku.”
“Apa maksudmu? Tiba-tiba kau mengajakku menikah? Apa kau tidak punya malu? Jangan pernah lagi kau membuntutiku!” Aku beranjak dan berlari meninggalkannya.
PART 4

Setiap sore aku selalu mengunjungi taman di pinggir danau untuk menyaksikan sang senja yang sangat kukagumi. Semilir angin yang tenang dapat memusnahkan beban masalahku. Dan hampir setiap sore pula seorang laki-laki aneh selalu menghampiriku dan mengajakku menikah.

Sore ini entah apa yang membuat laki-laki itu tidak menghampiriku. Dan anehnya, kenapa aku mencarinya? Kenapa aku penasaran? Sejak kapan aku peduli tentangnya? Namun, saat perjalanan pulang ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang dan ternyata laki-laki itu. Dan seperti biasa dia berkata, “Maukah kau menikah denganku?”

Kali ini aku memerhatikan parasnya dari atas sampai bawah. Dia berkulit putih, berbadan tinggi, dan menurutku dia terbilang tampan. Dan ya, tak masuk akal memang. Namun, setelah itu, aku seketika mengangguk pertanda ingin menikah dengannya. Entah ada angin apa yang berhembus dan menerobos ke dalam hatiku. Entah apa, aneh sekali.
***

Hari itu pun tiba, aku dan seorang laki-laki yang bernama Ardi, laki-laki yang memilihku, sang wanita yang kesepian. Aku tidak pernah peduli kepadanya bahkan meliriknya. Namun ketika aku meliriknya aku langsung menerimanya menjadi seseorang yang menemani hidupku. Pernikahan kami hanya dihadiri oleh saksi, tidak ada orang tua Ardi atau saudara dan kerabat kami. Pernikahan yang biasa saja, namun menjadi hari yang paling indah dalam hidup kami.

Setelah menikah, aku dan Ardi tinggal di rumahku. Keesokan hari setelah menikah aku masih tidak menyangka ada seseorang yang tidur di sampingku ketika aku terbangun di pagi hari untuk mengawali hariku.

“Bangunlah Ardi, hari sudah siang.” Bisikku sambil mengelus rambutnya dengan lembut.
Mata Ardi perlahan terbuka dan menatap wajahku dengan tatapan yang masih layu akibat kantuk.

“Ardi, aku ingin bertanya satu hal kepadamu.” Aku menatap matanya sambil tetap mengelus lembut rambutnya.

“Tanyakan saja, apapun akan aku jawab dengan jujur.” Ujar Ardi setengah berbisik.

“Mengapa aku bisa begitu yakin menikah denganmu? Dan, mengapa kau terus mengajakku menikah padahal kita belum saling mengenal satu sama lain?” Tanyaku penuh rasa penasaran.

Ardi tersenyum lalu menghela napas, “Jika masalah kau begitu yakin ingin menikah denganku, itu urusan hatimu, aku tidak tahu sama sekali tentang hal itu. Namun, jika kau penasaran mengapa aku mengajakmu menikah ketika kita pertama bertemu, aku bisa menjelaskan.” Ucapnya sambil menatapku.

“Jelaskanlah alasannya.” Pintaku dengan tatapan penuh harap.

Dia menyentuh wajahku dengan lembut, tatapannya penuh dengan kedamaian, aku merasa tenang hanya dengan menatap mata teduhnya, “Sebenarnya aku sudah memandangimu sejak lama. Sebelum aku menemuimu secara langsung, aku hanya berani melihatmu dari jauh. Aku hanya berani melihat senja yang sedang berhadapan denganmu. Ya, aku selalu melihatmu setiap sore. Pertama kali aku melihatmu, kala itu aku sedang berjalan-jalan di taman melepas penat hariku yang kuhabiskan di jalanan, menjual suaraku dan kemampuan bermain gitar yang pas-pasan.”

“Lalu?” tanyaku meminta kelanjutan.

Dia kembali menarik napas panjang, “Aku selalu memerhatikanmu, kau begitu cantik dengan rambut sebahu, kulit sawo matang, matamu yang bulat, dan hidungmu yang mancung. Serta masih banyak hal lain yang aku kagumi darimu. Ekspresi wajahmu begitu damai meski hampir setiap hari aku melihatmu menangis. Ketika aku melihatmu menangis, aku ingin menjagamu. Meyakinkanmu bahwa aku akan menemanimu, menghapus air matamu, memikul bebanmu, menyediakan sandaran ketika kau lelah.”

Aku terdiam sejenak lalu memeluknya. Aku berbisik tepat di telinganya, “Kalau begitu, jangan tinggalkan aku.” Aku tersenyum dan melepaskan pelukannya. “Sekarang bangunlah, hari sudah siang. Mandilah, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita.”

“Baiklah.” Ardi mengangguk dan beranjak dari tempat tidur.
PART 5

Empat tahun kemudian, Ardi sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Dia memutuskan untuk berhenti menjadi pengamen. Ardi bekerja di sebuah perusahaan elektronik Jepang bagian pemasaran. Dan kini, aku sudah memutuskan berhenti menjadi guru honorer. Aku ingin menjadi istri yang selalu ada untuk suamiku dan ibu yang selalu ada untuk putriku. Ya, kami sudah dikaruniai putri cantik tiga tahun yang lalu. Putri kecil kami diberi nama Sunny. Sunny berasal dari bahasa Inggris yang artinya cerah. Kami harap Sunny dapat bersinar cerah layaknya matahari menyinari sang bumi.
***


Malam ini seperti biasa aku duduk di kursi dan menonton televisi untuk menunggu suamiku pulang bekerja. Aku tidak pernah beranjak tidur ke kamar sebelum suamiku pulang. Akhirnya, suara deruan mobil memecah lamunanku, aku langsung bangkit dari kursiku dan membuka pintu. Ternyata benar suamiku pulang dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Dia terlihat membawa dua dokumen yang digenggam kuat olehnya.

“Aku pulang istriku.” Ucap Ardi sambil mengecup keningku.

“Kau terlihat sangat lelah, dan dokumen apa yang kau bawa?” Tanyaku penasaran.

“Ya, hari ini cukup banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan ini beberapa dokumen pekerjaanku, itu tidak penting. Yang terpenting, ayo kita keluar untuk makan malam.” Ardi tersenyum menyeringai.

“Bukannya kau kelelahan? Kenapa kita tidak makan di rumah saja? Aku akan menghangatkan beberapa makanan.” Bujukku kepada Ardi.

“Ayolah, jarang sekali kita menghabiskan waktu bersama. Aku sangat ingin pergi keluar denganmu. Dan ah… ya… Sunny, apakah Sunny sudah tidur?” Tanya Ardi sambil menepuk jidatnya sendiri merasa lupa terhadap anaknya.

“Oh… Sunny, Sunny sudah lama terlelap tidur. Mungkin sekarang dia sedang terbuai dalam mimpi malamnya.” Jawabku sambil menepuk pundak Ardi. “Masuk sajalah dulu. Di luar gerimis, kita bisa kedinginan di sini.”

“Ah kau benar, kita bisa kedinginan di sini. Bagaimana kalau kau duluan masuk ke mobil dan aku akan membawa Sunny di kamar. Kita tidak mungkin meninggalkan Sunny sendirian, kan?” Ucap Ardi hampir tertawa.

Aku hanya menggelengkan kepala, betapa keras kepalanya dia sampai ingin membawa paksa putrinya yang sedang terlelap dalam tidur dan ditemani rintik hujan yang seolah bernyanyi untuknya. Namun beruntung, Sunny tidak bangun ketika sang ayah membawanya, sampai dia masuk mobil pun Sunny tidak terbangun.

Di dalam mobil aku menggendong Sunny. Kudekap tubuh mungilnya agar dia tetap hangat dalam pelukanku. Bahkan sebelumnya Ardi membawa Sunny beserta selimut yang menempel di badannya. Sunny sangat mirip dengan Ardi, kulitnya sangat putih, bulu matanya panjang, rambutnya hitam pekat, dan dia mempunyai pipi bulat yang menggemaskan.

Keadaan di dalam mobil sangat sepi, hanya suara gerimis dan suara mesin mobil kami yang sedang melaju. Hanya beberapa kendaraan yang melintas di jalanan ini, mengingat sekarang sudah pukul 11.05 malam. Kota tempat kami tinggal bukanlah kota besar, namun hanya kota kecil yang tidak begitu ramai penduduk, sehingga ketika sudah larut malam suasana jalan raya sangat lengang.

Cahaya lampu jalan menembus kaca mobil, bertemu dengan rintik air hujan, menghasilkan beberapa biasan warna yang cantik dan berkilau. Kulihat Sunny sedang memejamkan mata, sesekali dia merengek dan menggaruk kepalanya dengan keadaan masih memejamkan mata. Aku langsung menenangkannya dan dia pun tertidur kembali. Kulihat kepolosan yang cantik di wajahnya, kukecup pipinya, betapa menggemaskan wajah bulatnya. Langit malam ini begitu gelap, tidak ada taburan bintang, bulan pun tidak terlihat, terselimuti awan hitam. Sinar sendu sang malam digantikan oleh ribun rintik air yang turun ke bumi. Kulihat wajah Ardi, dia terlihat melamun, tatapannya fokus ke jalanan namun aku yakin pikirannya terpaku pada hal lain yang membuatnya gelisah. Kupecah keheningan di dalam mobil, kuberanikan bertanya pada Ardi tentang hari-hari yang telah dilewatinya.

“Ardi?” Aku memanggil ragu.

"Iya?” Tatapan matanya masih mengarah ke jalanan tanpa melirikku sedikit pun.

“Apa kau ada masalah? Ceritakanlah, kau terlihat gelisah.” Tanyaku dengan seluruh perhatian.

“Tidak ada, sebentar lagi kita akan sampai.” Jawabnya dengan tatapan masih pada jalanan.

“Mau kemana kita, Ardi?” tanyaku penasaran.

“Tunggu sajalah, sekitar lima menit lagi kita akan sampai.”

“Baiklah.” Jawabku pasrah.

“Gerimisnya sudah berhenti, syukurlah.” Gumam Ardi.

Tak lama setelah itu kami pun sampai di tempat tujuan. Aku sangat terkejut, ternyata Ardi mengajakku ke taman pinggir danau tempat aku menyaksikan senja dulu saat aku masih seorang Raina yang kesepian dan menyedihkan.

Aku menggendong Sunny yang masih terlelap tidur. Di sini hanya kami bertiga, tidak ada orang lain. Rumput yang biasa kududuki kini basah akibat gerimis yang baru saja berhenti. Tercium aroma rumput dan tanah yang basah, ada dua lampu taman yang berada di pinggir danau sebagai alat pencahayaan di taman malam ini. Di sini tidak ada kursi taman sehingga kami harus berdiri. Tidak ada sang rembulan atau ribuan bintang yang membantu menyinari malam ini. Suara jangkrik dan serangga lainnya seolah mengalunkan melodi yang sangat lirih, hatiku sangat perih merasakan suasana seperti ini, suasana yang seolah-olah menggambarkan rasa kesepian. Angin malam meniup lembut, terasa sangat dingin. Sunny tidak merasa terganggu karena dia masih kubalut dengan selimut. Tiba-tiba aku merasa takut akan ditinggalkan, melihat tempat ini aku teringat tentang diriku yang dulu. Dulu aku hidup seolah hanya pasrah menunggu mati. Di tempat ini, aku menunggu senja membawaku tenggelam dan tak akan membiarkanku pulang ke dunia lagi. Kini aku berdiri di sini bersama keluarga kecilku, betapa egoisnya aku, aku tak ingin mati kali ini.
Diubah oleh nanitriani
walk away
ijin nenda
Quote:


Quote:


Makasih udh berkunjung gan emoticon-Big Grin
Ada yang mau cerita ini update ga ya? emoticon-Blue Guy Smile (S)emoticon-Blue Guy Smile (S)emoticon-Betty (S)
PART 6

“Ardi, kenapa kita ke tempat ini? Bukannya kau bilang kita akan makan malam?” Tanyaku heran.

Ardi menghela napas panjang, menatap danau yang menerima pantulan cahaya dari dua lampu taman. “Maafkan aku, aku merubah rencanaku sewaktu di perjalanan. Aku butuh tempat yang sepi untuk membicarakan sesuatu.”

Aku menatap wajahnya yang sama sekali tidak memiliki ekspresi, apa ini? Perasaan apa yang sedang dia rasakan? Aku tidak bisa membacanya. “Apa yang akan kau sampaikan? Apa aku melakukan kesalahan yang besar sehingga kita harus pergi ke taman untuk membicarakannya?” Tanyaku dengan nada yang meninggi.

Ardi menatap wajahku, matanya terbelalak menampakkan ekspresi terkejut mendengar nada bicaraku yang meninggi, “Apa kau tak senang kuajak kesini? Kenapa kau tampak kesal?”

“Bukan seperti itu, tapi…”

“Ah sudahlah, aku mengajak kau kesini bukan untuk membahas tempat ini.” Ardi memotong pembicaraan.

“Katakan, apa yang ingin kau sampaikan?” Ucapku sambil menghela napas, menghilangkan pikiran buruk terhadap suamiku.

“Baiklah, dengarkan baik-baik Raina, kau istriku yang aku pilih untuk menemaniku selama hidupku. Sebelum kau menyesali telah hidup bersamaku, maka sebelum itu terjadi, aku ingin mengutarakan sebuah pengakuan.” Ucap Ardi sambil menunduk, menatap kakinya sendiri yang menginjak rumput basah.

“Bicara apa kau? Aku tidak bisa mencerna kata-katamu.” Jantungku berdegup sangat kencang sampai aku bisa mendengar suara degupannya.

“Kau tidak pernah bertanya kenapa aku meninggalkan orang tuaku dan hidup di jalanan, dan aku pun tidak pernah bertanya alasan kau hidup sendirian sebelum kita menikah. Kita hidup bersama dengan berusaha menjalani cerita baru. Kita tidak pernah menanyakan masa lalu kita masing-masing, karena kita tidak ingin menimbulkan luka masa lalu yang telah berusaha keras dilupakan. Tapi itu salah besar, kau tahu?” Jelas Ardi panjang lebar.

“Jika seperti itu, kau hanya perlu menceritakan masa lalumu.” Pintaku dengan perasaan yang kini semakin resah dan bingung.

“Emmm, pertama aku akan bertanya terlebih dahulu padamu. Mengapa dulu kau tinggal sendirian?” Tanya Ardi yang kali ini perlahan mulai menatapku.

“Orang tuaku sudah meninggal. Ceritakanlah dulu masa lalumu, setelah itu aku akan menceritakan kisah hidupku.” Pintaku yang semakin canggung dengan keadaan ini.

“Baiklah, dengar baik-baik… Raina istriku… aku… emmm… aku…”

“Katakan Ardi!” Perintahku tak sabar.

“seorang pembunuh.” Jawabnya.
Diubah oleh nanitriani
ane bookmark dlu gan
Quote:


Siip. Makasih gan emoticon-Cendol Gan
ane bookmark dulu gan
Quote:


Siip. Makasih gan emoticon-Cendol Gan
PART 7

Aku mundur beberapa langkah menjauhinya, “Apa maksudmu?” Tanyaku dengan perasaan yang sangat takut.

Ardi tampak terkejut melihat reaksiku, “Dengarkanlah aku Raina, aku diusir oleh orang tuaku karena aku tak sengaja membunuh seseorang.” Jawab Ardi sambil menghadap kepadaku namun tatapannya hanya mengarah ke bawah.

“Bicaralah yang lengkap, kau menakutiku Ardi.” Air mataku mulai menetes karena rasa takut yang mulai menghantam dada.

“Tenanglah Raina, aku sedang tidak berusaha menakutimu, aku sangat menyayangimu. Dengar, waktu itu aku sedang mengendarai mobil pribadi pertamaku. Mobil itu hadiah dari ayahku karena aku lulus kuliah dengan cepat. Tak kusangka aku menabrak motor yang mungkin pengendaranya sepasang suami-istri. Aku masih ingat sekali dengan orang yang aku tabrak, aku menabraknya dan orang-orang langsung mengerumuni korban. Lalu ada yang berteriak bahwa mereka sudah meninggal, aku sangat kaget dan dengan pengecutnya aku melarikan diri.” Ardi menghela napas, terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, “Aku masih ingat, ya benar, mereka mungkin suami-istri, suaminya mengenakan jas hitam dan is…”

“Istrinya mengenakan dress berwarna putih selutut. Aku benar?” Aku memotong penjelasannya.

“Kenapa kau tahu?” Tanya Ardi yang kini menatap mataku dengan sangat serius.

“Itu orangtuaku.” Ucapku singkat sambil mendaratkan tamparan yang sangat kencang ke pipinya yang putih dan kini merah merona akibat tamparanku.

Sunny mendengar keributan kami, dia terbangun dan menangis kencang. Aku membenamkan kepala kecilnya ke dalam pelukanku. Aku berlari menjauhi pembunuh itu. Masih ada beberapa taksi yang berlalu lalang di jalanan, aku memberhentikannya lalu menaikinya. Sunny masih saja menangis dengan kencang, aku mengelus lembut kepalanya dan memeluknya erat. Aku berusaha menenangkannya dengan air mata yang tak bisa lagi kubendung. Beberapa saat kemudian Sunny kembali tertidur dengan pulas.

Sesampainya di rumah aku mengunci pintu rumahku agar Ardi tidak bisa masuk. Setelah itu aku memasuki kamar tidur dan menidurkan kembali Sunny, tak lupa aku juga mengunci kamar tidurku. Aku berbaring disamping Sunny yang sedang terlelap, wajahnya cantik sekali, sayangnya mirip sekali dengan si pembunuh itu.

Aku tak bisa berhenti mengeluarkan air mataku, aku tak menyangka selama lebih dari tiga tahun aku tinggal bersama seorang yang melenyapkan orangtuaku. Aku memasak makanan untuknya, menyuci bajunya, menyandarkan seluruh beban hidupku padanya, padahal dia sendiri yang menyayat hatiku lalu membiarkannya menganga. Dia yang menyuruhku menumpahkan beban hidupku padanya, padahal dia sendiri yang membuat hidupku hancur. Betapa lucunya, dia yang menyebabkan kematian orang tuaku dan kini dia menggantikan orang tuaku dengan Sunny. Sayangnya wajah Sunny tidak mirip dengan ibuku atau ayahku, dia mirip sekali dengan Ardi. Menggelikan sekali.

Malam ini aku hanya menatap langit-langit kamarku, pikiranku sangat kacau, mataku sama sekali tidak ingin kupejamkan. Lalu aku melihat meja di samping tempat tidurku, aku melihat dua dokumen tergeletak begitu saja di atas meja. Setelah mengingat beberapa detik, ternyata itu dokumen yang dibawa Ardi saat pulang bekerja, mungkin dokumen itu tertinggal di kamar ini saat dirinya mengambil sunny untuk diajak keluar. Lalu aku mengambil dokumen tersebut dan perlahan aku membukanya. Entah apa yang membuatku ingin membukanya, padahal sudah sangat sering dia menggeletakkan dokumen penting pekerjaannya dengan sembarangan. Ketika aku melihat isi dari dokumen tersebut dan aku mulai membaca isinya, aku sangat terkejut ketika kudapati ternyata ini surat pemecatan pegawai dari kantor tempatnya bekerja. Tanganku gemetar lalu perlahan kumasukkan lagi surat tersebut ke dalam amplop yang berwarna cokelat itu. Mengapa aku masih merasa peduli padanya? Padahal dia sudah dengan teganya membunuh orang tuaku tanpa ada rasa tanggung jawab. Lalu aku membuka dokumen yang satunya lagi, dan kali ini tak kalah terkejutnya aku ketika kubuka isi dokumen tersebut. Ini tentang Ardi, hidup Ardi dan bebannya juga. Sangat tak kusangka, isinya tertera bahwa Ardi mengidap penyakit sirosis atau gangguan kronis pada hati. Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini, aku merasa dilanda kegelisahan yang luar biasa. Di satu sisi aku sangat benci terhadap Ardi dan di sisi lain aku merasa kasihan terhadapnya. Aku langsung membuka internet dan mencari tahu informasi tentang penyakit ini. Setelah dibaca ternyata penyakit ini termasuk penyakit menular dan tidak bisa disembuhkan. Aku sangat tidak menyangka, semua hal buruk dengan mudah melanda hidupku dan menghancurkan hatiku tanpa permisi.

PART 8

Keesokan paginya aku bangun sekitar pukul enam, aku membuka kunci kamar dan pintu rumahku. Betapa terkejutnya ketika kudapati Ardi sedang meringkuk tertidur di depan pintu rumah. Aku berjongkok untuk melihat keadaannya, wajahnya sangat pucat, mungkin karena kedinginan. “Ardi, ibuku sangat cantik ketika memakai dress berwarna putih itu. Waktu itu ibu dan ayahku baru pulang dari pesta ulang tahun teman mereka. Dan kau mengahantamnya. Aku menyayangimu walau kau telah menyebabkan kematian orangtuaku, dan aku bisa memahami bahwa itu sebuah ketidak sengajaan. Ketika aku berada di posisimu mungkin aku akan melakukan hal yang sama karena takut. Dan aku mengerti bahwa kematian adalah takdir.” Aku bergumam pelan. Aku mengelus lembut kepala Ardi, aku berbisik padanya, “Ardi, bangunlah.” Ardi sangat terkejut dan langsung berdiri dengan sempoyongan, hampir saja dia terjatuh namun aku langsung memeganginya.

“Tenanglah Ardi, ayo kita masuk ke dalam” Pintaku sambil merangkulnya.

Dia melepaskan tanganku dan memelototiku, “Apa ini? Bukannya kau membenciku?”

“Aku sudah memaafkanmu Ardi, lupakanlah.” Ucapku lembut sambil perlahan mendekatinya.

“Benarkah Raina? Tapi apakah kau mempunyai maksud lain?” Tanyanya gugup.

“Apa maksudmu?”

“Seperti balas dendam atau apa?”

Aku semakin mendekat dan kujulurkan tanganku untuk memeluknya, aku memeluknya dengan lembut, “Tidak Ardi, aku sungguh memaafkanmu, aku ingin hidup bersama denganmu.” Ucapku lirih. Namun Ardi melepaskan pelukanku dan melangkah mundur menjauh dariku.

“Ardi aku tahu kau dipecat.” Ucapku sambil memandang nanar kepadanya.

“Dari mana kau tahu?”

“Dokumen milikmu tertinggal di meja kamar kita.”

“Seharusnya kau tidak boleh membukanya! Itu urusanku.” Ucapnya marah.

“Tapi aku sudah membukanya Ardi.”

“Berarti…”

“Ya, aku sudah tahu. Kau mengidap penyakit sirosis.” Aku memeluknya.

Ardi melepaskan pelukanku, “Raina, aku mengidap penyakit menular, jangan kau dekati aku!”

Aku merasa pasrah padanya, aku merasa sangat hancur. “Aku tahu, Ardi. Baiklah, sekarang masuklah dan makan bersamaku.” Bujukku kepada Ardi.

Dengan ekspresi ragu, Ardi perlahan melangkahkan kaki masuk ke rumah. Aku langsung menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Setelah selesai, aku menyiapkan peralatan makan dan hidangan ke atas meja makan.

“Raina, aku ingin piring ini khusus untukku. Jangan kau pakai piring ini, apalagi Sunny.” Ucapnya tegas.

“Aku mengerti Ardi.” Ucapku tak kuasa menahan perih hati.

“Sunny belum bangun?” Tanya Ardi sambil mengunyah makanan di mulutnya.

“Belum, sebentar lagi dia akan bangun.” Jawabku dengan senyuman yang dipaksakan.
Diubah oleh nanitriani
emoticon-Cendol Gan
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
Quote:


Siap gan
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
Untuk update chapter selanjutnya, insyaAllah malam ini ya emoticon-Bettyemoticon-Cendol Gan
Quote:


Ditunggu sist
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
Quote:


Siip gan, makasih emoticon-Betty
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di