alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Female / Wedding & Family /
Di Balik Mahal dan Ribetnya Pernikahan Adat, Sebenarnya Ada Maksud Baik yang Tersirat
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c34522e10d29570ab1d6211/di-balik-mahal-dan-ribetnya-pernikahan-adat-sebenarnya-ada-maksud-baik-yang-tersirat

Di Balik Mahal dan Ribetnya Pernikahan Adat, Sebenarnya Ada Maksud Baik yang Tersirat

emoticon-Toastemoticon-Rate 5 Star emoticon-Toast emoticon-Rate 5 Star emoticon-Toast emoticon-Rate 5 Star

RATE DAN CENDOLNYA JANGAN LUPA YA GAN

Di Balik Mahal dan Ribetnya Pernikahan Adat, Sebenarnya Ada Maksud Baik yang Tersirat
Foto via Pixabay

Zaman sudah banyak berubah. Pernikahan kini bukanlah hal yang sulit untuk diwujudkan. Ada banyak pilihan paket pernikahan yang bisa dipilih calon mempelai, mulai dari yang harganya mencekik hingga super ngirit. Namun, sejalan dengan hal itu, para pengantin masa kini harus berhadapan dengan tantangan pasca nikah. Salah satunya perceraian. Bahkan banyak yang berpikiran bahwa pernikahan bisa digunakan sebagai mainan. Contohnya saja beberapa selebritis papan atas yang menggunakan pernikahan sebagai alat untuk mendompleng ketenaran. Miris, bukan?

Nah, selidik punya selidik, ternyata ada beberapa hal yang diabaikan oleh para calon mempelai masa kini. Ya, karena konsep modern mulai mendominasi pernikahan masa kini, maka aturan adat dari pernikahan tradisional pun dikesampingkan. Kita mungkin masih bisa melihat praktik pernikahan tradisional yang dibalut aturan adat berlaku di beberapa daerah. Namun, jumlahnya sangat sedikit dan tidak sebanyak pernikahan berkonsep modern.

Beberapa orang merasa keberatan dengan budget yang dikeluarkan. Mereka juga merasa bahwa aturan adat cukup membuat ribet banyak pihak dan membuat pernikahan sulit untuk dilakukan. Meski kadang terkesan primitif, namun tahukah kamu bahwa sebenarnya ada maksud baik yang tersirat di balik mahal dan ribetnya pernikahan adat?

Kita akan mulai membedah dari suku yang selama ini paling banyak menempati daerah di Indonesia. Ya, suku Jawa. Sebagai salah satu suku tertua di Indonesia, Jawa banyak mengalami dinamika adat dan budaya, bahkan gaya hidup. Hal ini juga terjadi pada aturan adat pernikahan. Pada jaman dahulu, meski mengawinkan calon pengantin yang masih muda, orang-orang Jawa berpendapat bahwa pernikahan hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah matang atau njawani, tak peduli berapapun umurnya.

Para calon pengantin harus melalui serangkaian upacara adat selama berhari-hari untuk bisa menjadi sepasang suami istri. Bahkan, calon suami harus mondok di rumah kerabat calon istri agar bisa dilihat kelakuan dan kebiasaannya setiap hari. Para calon istri pun harus dipingit dan diberi banyak petuah sebelum menjalani pernikahan.

Belum lagi aturan bobot bibit bebet yang mengedepankan kapasitas dan integritas calon mempelai (baik secara lahir maupun batin); lalu dari keluarga mana ia berasal atau bagaimana latar belakang keluarganya dan cara berpakaian atau berbusana. Terdengar ribet, namun hal ini dimaksudkan agar calon mempelai telah matang sepenuhnya dalam membina rumah tangga. Terkait dengan bibit atau dari mana ia berasal tentu bisa memotivasi orang tua untuk menjaga martabat keluarganya agar si anak bisa diterima oleh keluarga calon istri atau suaminya. Hal ini juga terkait dengan karma yang harus ditanggung anak cucu di masa yang akan datang. Sehingga mereka bisa menjaga tata krama dan kelakuan selama ini.

Para keluarga calon mempelai juga memperhitungkan apakah kedua calon cocok secara weton atau hari lahir tidak. Dalam memutuskan tanggal pernikahan juga tidak bisa sembarangan. Mereka benar-benar memperhitungkan banyak hal, termasuk hari baik untuk si pasangan agar terberkahi hidupnya. Ada beberapa hari yang juga dilarang untuk diselenggarakannya pesta pernikahan, seperti 1 Suro yang dinilai sebagai hari besar orang Jawa, sehingga semua aktivitas keduniawian harus dikesampingkan di hari itu, termasuk pernikahan.

Nah, lain Jawa lain pula suku lain seperti Minahasa. Calon mempelai bahkan harus menjalani lamaran sebanyak 3 kali untuk memberi gambaran bahwa pernikahan tidak bisa dianggap hal remeh temeh. Para calon mempelai wanita juga seolah memberi kesan bahwa ia adalah sosok yang tidak bisa sembarangan dinikahi. Para pria pun harus membuktikan kesungguhannya, tidak asal ambil anak orang. Nah, itu baru pada tahapan lamaran. Pada perhelatan pestanya pun, banyak seserahan yang harus diberikan dan semuanya memiliki esensi yang harus diperhatikan calon mempelai.

Namun, seiring berjalannya waktu dan masuknya agama-agama dari luar Jawa, pernikahan dibuat sesederhana mungkin. Bahkan, ada yang mengabaikan faktor-faktor budaya di atas dan memilih untuk menjalankan akad saja. Semuanya tergantung kemampuan masing-masing keluarga dari para mempelai, karena memang niat pernikahan adalah untuk menghindari zina atau maksiat.

Ironinya, diabaikannya aturan adat tersebut justru membuat pernikahan kehilangan esensi. Banyak yang terlalu menggampangkan pernikahan karena prosesnya yang tidak lagi ribet, sehingga bisa saja dilakukan berulang kali. Hal ini pun berdampak dari rasa keprihatinan seseorang pada kehidupan bersama pasangan. Tidak heran bila banyak terjadi perceraian di usia pernikahan yang terlalu muda. Bahkan, banyak pula yang merasa bahwa pernikahan bisa diakhiri kapan saja, tanpa harus berberat hati karena perjuangannya yang berat.

Tampaknya, kita perlu mempertimbangkan kembali esensi dari ajaran budaya dan adat leluhur kita selama ini. Mereka yang lebih dahulu menghuni bumi pastinya lebih mampu membaca bahasa alam dengan baik. Tidak ada salahnya untuk melakukan laku sesuai ajaran adat sekaligus agama demi keharmonisan alam semesta dan rumah tangga. Memang terkesan ribet, namun efeknya tentu baik bagi keberlangsungan hidup di masa mendatang. Bagaimana menurutmu?

Quote:


emoticon-Toastemoticon-Rate 5 Star emoticon-Toast emoticon-Rate 5 Star emoticon-Toast emoticon-Rate 5 Star

RATE DAN CENDOLNYA JANGAN LUPA YA GAN


Quote:
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 5
nilai budaya nya itu loh ... emoticon-Toast
masih menjaga nilai budaya dan adat istiadat
skarang dah mulai brubah
Seiring kemajuan jaman.
Tp ga semua jg. Masi ada jg yg nerapin menurut adat istiadat tiap daerah masing2.
TS dah meried lom??


*cenbal yak..

emoticon-Shakehand2
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Quote:


harus ituemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
Mau nikah mau :v
ada baiknya dalam menentukan tanggal dilihat dari primbon emoticon-Cool
budaya adalah sesuatu yang tak berguna...emoticon-Najis

buat apa coba,nginjek nginjek telur...mending loe nginjek beling sekalian,trus minta saweran.....lumayan ada hasil daripada mubazir...emoticon-Cape d...

buat apa cobak,resepsi duduk berjam jam di atas panggung kayak orang bego...

mending to the point aja coeg....setiap undangan yang dateng,kasih makan trus pulang...beres emoticon-Cape deeehh

Diubah oleh egag
ane mau gan
ane gx nikah gan emoticon-Turut Berduka
gengsinya itu loh
semoga langgeng
Quote:


Dasar bocah tolol, orang luar aja berusaha menjaga tradisi mereka. Ini nih salah satu bocah indonesia dari generasi tolol yang gak sayang akan kebudayaan. Pantesan aja bangsa ini gak maju2 wong penerusnya gak cinta akan budayanya sendiri emoticon-Blue Guy Bata (L)
Mari lestarikan budaya & tradisi adat bangsa, jika bisa...tidak perlu mewah dari yg sederhana saja dulu emoticon-Smilie
Diubah oleh 1stroland
Balasan post gilang1512
Quote:


gue realistis coeg...

bukan,bocah alay macem lu tong emoticon-Najis
tradisi yang turun temurun dan memiliki nilai khas tersendiri
banyak pelajaran yg diajarkan dr step2, pernak-pernik yg ada di nikahan
tp kadang dr yg mimpin acara kagag disampaiin ke yg nikah
jd mikirnya cuman ribet aja dapetnya
Quote:


Bukan realistis tot tapi bilang aja lu gapunya duit buat nikah pake adat atau minimalisir biaya nikah. Maaf juga gua bukan anak alayemoticon-Cape deeehh
Quote:


Dia itu tipikal Islam radikal pendukung HTI bray, jadi gak heran klo ngomongnya gitu. Bagi dia satu-satunya budaya yg harus diamalkan itu budaya Arab...
budaya harus dilestarikan
Halaman 1 dari 5


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di