alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Senandung Black n Blue
5 stars - based on 6 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c3106c00577a9581d06566e/senandung-black-n-blue

Senandung Black n Blue

Ini bukan tentang pembuktian
Bukan juga tentang sebuah sesal
Ini tentang aku dan perasaan
Hanya satu dan penuh tambal

Ini bukan tentang akumulasi kemarahan
Bukan juga hitung-hitungan pengorbanan
Hanya aku dan keegoisan
Bergeming dalam kesendirian

Aku bukan pujangga
Aku tak mahir merangkai kata
Aku hanya durjana
Menunggu mati di ujung cahaya

Aku bukan belati
Bukan juga melati
Aku hanya seorang budak hati
Sekarat, termakan nafsu duniawi

Sampai di sini aku berdiri
Memandang sayup mereka pergi
Salah ku biarkan ini
Menjadi luka yang membekas di hati



Senandung Black n Blue


Nama gue Nata, 26 tahun. Seorang yang egois, naif, dan super cuek. Setidaknya itu kata sahabat-sahabat gue. Tidak salah, tapi juga tidak benar. Mungkin jika gue bertanya pada diri gue sendiri tentang bagaimana gue. Jawabanya cuma satu kata. IDEALIS TITIK. Oke itu udah 2 kata. Mungkin karena itu, hampir semua sahabat gue menilai gue egois, yang pada kenyataanya gue hanya tidak mau melakukan hal apapun. APAPUN. Yang tidak gue sukai. Bahkan dalam pekerjaan, jika menurut gue tidak menyenangkan, gue akan langsung resign.

Menulis buat gue bukanlah sebuah hobi, bukan juga sebuah kebiasaan yang akhirnya menjadi hobi, bukan juga keahlian diri, bukan juga sesuatu bakat terpendam yang akhirnya muncul karena hobi. Apaa sihh !!? Menulis buat gue adalah cara terbaik meluapkan emosi. Di kala telinga orang enggan mendengar, dan lidah sulit untuk berucap tapi terlalu penuh isi kepala. Menulis adalah cara gue menumpahkan segala penat yang ada di kepala, cara gue bermasturbasi, meng-orgasme hati dengan segala minim lirik yang gue miliki.

Kali ini berbeda, gue tidak menuliskan apa yang ingin gue lawan. Tidak juga menuliskan opini gue tentang suatu hal. Ini tentang diri gue seorang. Tidak indah, tidak juga bermakna, hanya kumpulan kata sederhana yang terangkai menjadi sebuah kisah. Angkuh gue berharap, semoga ini bisa menjadi (setidaknya) hikmah untuk setiap jiwa yang mengikuti ejaan huruf tertata.

.


Quote:


.


Jakarta, 22 Desember 2018.

Senja telah berganti malam saat mobil yang gue kendarai tiba di kawasan kemayoran. Gue masuk ke areal JI Expo Kemayoran. Saat masuk gue melihat banyak banner dan papan iklan yang menunjukan bahwa di area ini sedang dilaksanakan sebuah acara akhir tahun dengan Tag line "pameran cuci gudang dan festival musik akhir tahun". Gue tidak mengerti kenapa sahabat gue mengajak gue bertemu di sini.

Sesampainya di areal parkir, gue memarkirkan mobil. Tidak terlalu sulit mencari tempat kosong, tidak seperti saat diselenggarakan Pekan Raya Jakarta, yang penuh sesak. Sepertinya acara ini tidak terlalu ramai, atau mungkin belum ramai karena gue melihat jam masih pukul 18.35.

"Whatever lah mau rame mau sepi." Ucap gue dalam hati.

Gue memarkirkan mobil, setelahnya gue sedikit merapihkan rambut, berkaca pada kaca spion, lalu memakai hoodie berwarna hitam yang sedari tadi gue letakan di kursi penumpang, kemudian keluar mobil sambil membawa tas selempang berisi laptop.

Perlahan gue berjalan, sesekali melihat ke kiri dan ke kanan, mencari letak loket pembelian tiket berada. Akan lebih mudah sebenarnya jika gue bertanya pada petugas yang berjaga. Tapi biarlah gue mencarinya sendiri.Toh sahabat gue juga sepertinya belum datang.

Di loket, gue melihat banyak orang menggunakan kaos yang bertema sama. Banyak yang memakai kaos bertema OutSIDers, Ladyrose, dan juga Bali Tolak Reklamasi. Gue sedikit memicingkan mata, dalam hati berkata."Sial gue dijebak."

Setelah membeli tiket, gue masuk ke areal acara, melihat banyak stand dari berbagai brand. Penempatan stand-stand menurut gue menarik, benar atau tidak, sepertinya pihak penyelenggara menaruh stand brand-brand besar mengelilingi brand kecil. It's so fair menurut gue. Karena banyak acara semacam ini yang gue lihat justru menaruh brand UKM yang notabenenya belum terlalu di kenal di posisi yang tidak strategis. Dan untuk acara ini gue memberi apresiasi tersendiri untuk tata letak tiap brandnya. Walau sejujurnya butuh konfirmasi langsung oleh pihak penyelenggara tentang kebenaranya.

Gue masuk lebih dalam, mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk gue menunggu sahabat gue yang belum datang. Sesekali berpapasan dengan SPG yang menawarkan barang dagangnya, gue tersenyum tiap kali ada SPG yang menawarkan gue rokok, kopi, dan lainnya. Dalam hati gue teringat tentang bagian hidup gue yang pernah bersinggungan langsung dengan hal semacam ini. Terus melanjutkan langkah, Gue tertarik melihat salah satu stand makanan jepang, lebih tepatnya gue lapar mata. Terlebih gue belum makan. Tapi saat gue ingin menuju ke stand itu, gue melihat ada stand sebuah merek bir lokal asal Bali. Gue mengurungkan niat untuk ke stand makanan jepang itu, dan lebih memilih untuk menunggu sahabat gue di stand bir.

Gue memesan satu paket yang di sediakan, yang isinya terdapat 4 botol bir, ukuran sedang. Gue mengeluarkan laptop gue, kemudian mengirim email kepada sahabat gue. Memang sudah beberapa hari ini gue selalu berhubungan dengan siapapun via email. Karena handphone gue hilang dicopet di stasiun Lempuyangan beberapa hari yang lalu.

"Fuck you Jon ! Gue di stand Albens, depan panggung yak. Jangan bikin gue jadi orang bego diem sendiri di tempat kek gini sendirian. Kecuali lo bajingan laknat yang ga peduli sama sahabat lo." Email gue pada Jono, sahabat gue.

Dari tempat gue duduk, gue dapat melihat panggung utama. Sepertinya dugaan gue tidaklah salah. Kalau guest star malam ini adalah Superman Is dead. Group band punk rock asal Bali. Pantas saja Jono mengajak gue bertemu di sini. Dia memang sangat menyukai musik bergenre punk rock macam green day, blink 182, SID, dan lainya.

Jujur saja, gue sebenarnya pernah menjadi Outsiders sebutan untuk fans superman is dead. Gue pernah menjadi OSD militan, yang selalu datang ke acara yang di dalamnya terdapat Superman Is Dead sebagai bintang tamunya. Tapi itu dulu, lebih dari sedekade lalu. Saat gue masih duduk di bangku SMA.

Dan malam ini, semua ingatan tentang itu semua membuncah. Berpendar hebat dalam bayang imajiner yang membuat mata gue seolah menembus ruang dan putaran waktu. Melihat semua apa yang seharusnya tidak perlu gue lihat, dan mengenang apa yang harusnya tidak perlu gue kenang. Sampai di titik tertentu gue sadar kalau gue sudah dipermainkan.

"JON, I know you so well, please please don't play with a dangerous thing. Comon Jhon I'm done. Gue balik" Gue kembali mengetik email untuk gue kirim pada Jono. Gue sadar gue sudah masuk dalam permainan berbahayanya. Dan gue tidak ingin mengambil resiko lebih.

Namun belum sempat email gue kirim. Gue melihat seorang perempuan berdiri tegak tepat di depan gue. Dan saat itu juga gue sadar gue terjebak dalam permainan konyol sahabat gue yang "luar biasa jahat".

"Haii Nat." Sapa perempuan itu.

"Fuck you Jhon, what do you think. Bitch !!" Gerutu gue dalam hati kesal.

Spoiler for opening sound:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
YulianAnggita dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nyunwie
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 10

Part 1.1 Far Away From Home

Aku menutup mata. Seraya hitam datang memenuhi ruang. Aku senang, karena aku mencintai hitam. Hitam telah memanjakan ku. Menjadi candu, selepas kecewa ku. Aku benci cahaya, setidaknya setelah aku memutuskan menjauhi cahaya. Aku benci cahaya karena dapat membuat hitam ku menjadi abu-abu. Aku benci saat berdiri rapuh, aku benci saat ragu. Dan perihal itu, aku benci sesuatu yang baru.


...


Cahaya matahari perlahan namun pasti masuk menembus kelopak mata. Dengan cepat membakar semua mimpi indah hingga tidak tersisa, bahkan untuk beberapa detik dikenang. Dengan malas dan terpaksa gue membuka mata. Bergeming di tepi ranjang. Mencoba mengumpulkan seluruh kesadaran secara alami tanpa ada paksaan.

Namun hidup selalu penuh kejutan, di saat gue ingin mengumpulkan kesadaran secara alamiah tanpa ada unsur pemaksaan. Semua kesadaran sontak masuk ke dalam badan saat mendengar suara ketukan kasar pintu kamar.

"BRISIK !!." Gerutu gue kesal.

"Nat Nat, woiii keboo bangun woiii." Suara seorang terdengar dari luar kamar.

"MASUK AJE SAT GA DIKUNCI." Teriak gue.

"Kalo ga di kunci gue kaga ngetok pintunye nge."

"Ahhh, elaah iseng aje kampret, siape yang ngunci sih." Ucap gue menggerutu, karena seingat gue semalam gue tidak mengunci pintu kamar.

Gue beranjak bangun, berjalan gontai menuju pintu kamar yang jaraknya kurang lebih 3 meter dari kasur, lalu membuka pintu kamar dan melihat Jono sudah berdiri tegak mengenakan seragam.

"Yee si kebo belom mandi, udah jam berapa nih, telat nanti." Ucap Jono.

Gue tidak menjawab, gue kembali ke kasur lalu kembali merebahkan badan. Sambil tengkurap gue melihat jam di layar telephone genggam. Masih pukul 06.25. Jono datang terlalu cepat 5 menit dari biasanya. Dan gue memiliki waktu 5 menit untuk kembali memejamkan mata.

"Anjing, malah tidur lagi." Kesal Jono sambil melempar sebuah bantal.

"5 menit."

"5 menit lo di kasur, 50 menit waktu bumi nyet."

"Lo dateng 5 menit lebih cepet." Sahut gue, kemudian membalikan badan ke posisi tengkurap. Gue menghirup nafas panjang, mencium aroma parfum yang sedikit menyengat. "Terus wangi pula, aneh lo" Lanjut gue.

"Ini hari pertama kita kelas 2, kelas baru, suasana baru, temen sekelas baru, ada murid baru, dan kita bakal sekelas sama Nina brooo Ninaaaa !!" Ucap Jono dengan tampang sedikit mesum di akhir kalimatnya.

"Cihhh."

"Ahh susah sih yah ngomong sama lo, ga doyan cewe selain Rina !"

"Corrected KARINA, lo bakal dilempar gelas kalo manggil dia cuma Rina"

"Ayayay cap, you got it, KARINA !! So, can you take a bath now, gue osis, masa gue telat."

"Yah kalo lo emang osis yang bertanggung jawab harusnya lo ga perlu nyamper gue dulu, langsung ajah ke sekolahan."

"Mau nya sih gitu, kalo ajah nyokap gue ga mesenin ini, aseli sumpah gue ga bakal kesini." Sahut Jono sambil menunjukan sebuah kotak makan yang dia bawa.

"Oh dude, your the best!" Sahut gue langsung bangun dan menyambar kotak makan yang di bawa Jono.

"MANDI DULU ORANG!" Celetuk Jono sambil berpindah ke kursi yang ada di samping kasur, lalu mengambil rokok gue yang semalam gue letakan di meja yang ada di kamar gue.

"SARAPAN DULU SETAN"

"Kalo gue setan, ga bakal gue bawain lo sarapan tiap hari."

"Nyokap lo bukan lo."

"Yang bawain ke sini siapa?"

"Hem hem hem, whatever." Sahut gue sambil mengunyah makanan.

Jono memang hampir setiap pagi membawakan sarapan yang disiapkan nyokapnya untuk gue. Sekalipun nyokapnya Jono tidak sempat membuatkan sarapan, beliau pasti memberi gue uang untuk membeli sarapan. Nyokap Jono melakukan itu karena tidak tega, melihat ponakanya yang saat ini terpaksa harus tinggal sendiri jauh dari orang tua.

Bokap gue bekerja di perusahaan BUMN, sudah 8 bulan ini beliau dinas di Cilacap. Dan Nyokap gue ikut bersama bokap gue. Awalnya ada banyak opsi sebelum bokap dan nyokap gue akhirnya memutuskan untuk membiarkan gue tinggal sendiri di Jakarta, tapi semua opsi yang ditawarkan pada gue tidak ada yang menyenangkan.

Opsi pertama, adalah menjual rumah di Jakarta, dan gue ikut bersama kedua orang tua gue ke Cilacap, karena bokap gue akan dinas di Cilacap sampai beliau memasuki umur pensiun dan bokap gue ingin menghabiskan masa pensiun jauh dari hingar bingar kota Jakarta. Gue tidak ingin mengambil opsi ini karena sangat berat untuk gue meninggalkan kota Jakarta, meninggalkan Sahabat-sahabat gue, Teman-teman, pacar, dan gebetan, ohh ghost it's too hard !

Opsi kedua, adalah gue tinggal bersama kakak gue di rumah suaminya. Gue anak kedua sekaligus anak terakhir, kakak gue perempuan, beda umur kami 7 tahun. Dan saat ini kakak gue sudah menikah dengan seorang laki-laki yang bekerja di kantor redaksi salah satu majalah terkenal di Indonesia. Mereka sudah memiliki satu orang anak. Dan gue masih terlalu canggung pada abang ipar gue. Alasan sepele, tapi itu memang adanya kenapa gue tidak mengambil opsi ini. Terlebih rumah suaminya kakak gue berada di daerah Bogor, sedangkan sekolah dan kehidupan gue berada di selatan Jakarta. Membayangkan tiap pagi harus bergulat kesal dengan KREAPAG (KERETA ANAK PAGI, atau orang-orang yang biasa menggunakan KRL di pagi hari untuk menuju ke tempat aktivitasnya) makin meyakinkan gue untuk tidak memilih opsi ini.

Opsi ketiga, adalah menitipkan gue pada Paman dan Bibi gue, yang bukan lain adalah kedua orang tuanya Jono. Damn, gue lebih memilih meninggalkan Jakarta dari pada harus tinggal bersama Jono. Membayangkan harus berbagi kamar, berbagi kasur, dan berbagi segalanya dengan Jono saja sudah membuat gue ingin bunuh diri, bagaimana jika gue benar mengambil opsi ini. Just kid Jon, jangan diambil hati. GUE SERIUS emoticon-Big Grin

Opsi keempat, adalah menitipkan gue di Panti asuhan milik Ibunda penyanyi terkenal Iwan Fals. FYI, Ibunda Iwan mempunyai panti asuhan, dan Ibunda Iwan Fals, Ibu Lis biasa gue memanggil, sangat akrab dengan nyokap gue, mereka tergabung dalam satu pengajian, dan memiliki hobi yang sama, ARISAN. Opsi ini benar-benar terucap dari Ibu Lis. Dan sialnya opsi ini benar-benar menjadi opsi yang menarik untuk nyokap gue. Jika saja bokap gue memaksakan opsi ini, gue akan merobek kartu keluarga di depan mereka dan berkata "I'm done". Tapi untung saja itu tidak terjadi, pada akhirnya gue memilih opsi terakhir.

Opsi terakhir, adalah gue tinggal seorang diri. Opsi yang paling berat untuk kedua orang tua gue, tapi berbanding terbalik untuk gue, karena gue sudah membayangkan segala kesenangan yang bisa gue lakukan dengan tinggal jauh dari orang tua. Orang tua pasti punya ke khawatiran besar saat harus meninggalkan anaknya tumbuh kembang jauh dari jangakauan mereka. Memiliki ketakutan yang besar jika nanti anaknya akan salah jalan ke jalan yang tidak semestinya, atau anaknya nanti menjadi seorang yang jauh dari harapan mereka. Gue mengerti dengan baik itu. Pada opsi ini sempat terjadi perdebatan sengit antara Gue, Bokap, Nyokap gue dan Kak Bella, kakak gue sebagai tim hore.

Bokap gue menyetujui opsi terakhir itu, di pikiran beliau, pas untuk melatih kemandirian dan bagaimana gue bertanggung jawab setidaknya pada diri sendiri. Karena bagaimana pun gue adalah seorang anak laki-laki. Cepat atau lambat gue harus dan wajib mandiri, menjadi pribadi yang tangguh, bertanggung jawab dan bisa berdiri di atas kaki gue sendiri.

Nyokap gue tidak menyetujui opsi ini, karena menurut beliau belum waktunya, apalagi nyokap gue tau betul busuk-busuknya gue. Nyokap gue paham kalau gue adalah seorang remaja yang sok mandiri tapi sebenarnya manja, nyokap gue tau betul kalau gue adalah remaja yang keras hanya di luar nya saja. Pada bagian dalam, nyokap gue tau betul kalau gue ini lembut.

Kakak gue hanya menyaksikan perdebatan itu, sambil menganggukan kepala membenarkan ucapan nyokap gue, dan memberi kesimpulan jelas di akhir ucapan nyokap.

"Cengeng." Celetuk Bella di akhir ucapan nyokap gue.

"Sembarangan lo Bel." Sahut gue.

"Plus songong." Tambah Bella dan gue hanya bergumam. "Yaudah Mah, biarin aja dia tinggal sendiri, sampe mana sih, paling tahan cuma seminggu." Lanjut Bella.

"Lo ngeremehin gue Bel?"

"Engga ngeremehin tapi memang adanya."

Perdebatan yang awalnya terjadi antara Bokap, Nyokap, dan gue. Telah berganti menjadi perdebetan antara gue dan Bella. Perdebatan yang sering terjadi antara seorang kakak beradik, terlebih antara gue dan Bella, walau umur kami berbeda cukup jauh, tetap saja kami sering berdebat. Namun biarpun begitu gue tau Bella sangat menyayangi gue. Berdebat adalah cara Bella menanamkan pahamnya tentang kehidupan kepada gue.

"Udah-udah stop, bisa ga sih kalian nih akur sebentar ajah." Ucap nyokap gue sepertinya sudah pusing mendengar adu bacot antara gue dan Bella.

"LEBARAN" Celetuk gue yang kemudian bibir gue disentil oleh nyokap gue.

"Kamu nih dikasih tau jawab ajah. Udah gini denger, mamah kasih kamu tinggal sendiri, tapi ada syaratnya. Satu kali ajah Mamah denger kabar negatif tentang kamu disini, mamah sama papah bakal jemput paksa kamu."

"KARUNGIN MAH." Celetuk Bella.

"BELLA!" Sambar nyokap gue sedikit membentak, kemudian Bella terlihat menahan tawanya. "Mamah serius dan engga bercanda. Gimana? Ga ada kesempatan kedua, ya atau tidak sama sekali, no compromise!"

"SIAP mah." Sahut gue lantang.

"BENER? Kamu laki Nat, laki sejati itu omonganya yang dipegang."

"Tambahan dari Ayah, ayah cuma ngasih uang kamu sebulan sekali, kamu harus atur-atur sendiri, kalo habis sebelum waktunya, kamu tanggung sendiri. Bisa?" Ucap bokap gue menambahkan. Jujur gue sedikit ragu soal itu. Gue sadar betul kalau gue ini boros.

"Yah diem, ga bisa berarti." Celetuk Bella.

"Bisa. BIIIII SSSSAAAA."

Setelah nego sana-sini, macam politikus yang melobi relasi dengan segala janji bui. here I go, Di sebuah kamar kost berukuran 5x5 meter yang tidak begitu jauh dari sekolahan gue, dengan fasilitas bak kamar hotel, tidak banyak barang yang gue bawa dari rumah, hanya pakaian, dan playstation yang gue punya. Karena memang kosan ini sudah menyediakan semuanya, bahkan jasa cuci pakaian. Keberadaan gue di kosan ini semua berkat Bella. Ini pilihan Bella, walau kadang menyebalkan namun Bella tetaplah kakak yang juga pernah melewati masa remaja. Dia mengerti dengan baik apa yang gue mau.

Dan hidup jauh dari orang tua memang seperti apa yang gue bayangkan. "MENYENANGKAN". Gue benar-benar melakukan apa yang tidak bisa gue lakukan saat tinggal bersama kedua orang tua. Main PS sampai ketiduran, merokok di kamar, nonton dvd film porno tanpa perlu mematikan suara, menenggak minuman keras hingga hilang semua kesadaran, menghisap lintingan ganja tanpa perlu diolesi susu kental untuk menyamarkan aroma pembakaran. Nongkrong hingga larut malam tanpa perlu takut diceramahi saat pulang, atau memang sengaja tidak pulang, it's no problem. Mengajak Karina menginap saat akhir pekan, dan lainya macam berandal jalang yang berdiri menantang semua norma kehidupan.

...


Dalam tamak hati bertanya.
Akan kah seorang Iblis menjadi malaikat jika dia berada di surga, dan sebaliknya?


profile-picture
profile-picture
profile-picture
MadGround dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nyunwie

Asooyyy, gan !


Pemilihan kosa kata nya bikinemoticon-Matabelo sip banget
Sesuai dan ga hiperbolis

Ane bangun homestay di mari yehhhhhh
Wah.. setuju sama komen diatas..! emoticon-thumbsup

Lanjutkan... emoticon-I Love Indonesia (S)
lemme take my snacks before start reading emoticon-Ngacir
profile-picture
brojol0226 memberi reputasi
Quote:


Suksme nggih.
Monggo gan.

Quote:


Suksme nggih.

Quote:


Aaaahhh, Thanks for coming here gan.
BTW, sorry I don't use english here, cause ane pusing pake bahasa inggris, ahehehehe.
Quote:


hahaha
Biasanya sy jg ga make English diluar EF. Tadi keceplosa ajja.. emoticon-Ngakak (S)
Suka sm gaya tulisannya gan..
Gasabar nunggu episode selanjutnya emoticon-Ultah
Nitip naro cucian dulu gan, dibaca ntar kalo bocah2 udah bobok. Salken yah emoticon-Wowcantik
Nongki dulu gan
Nongkrong dulu

:nyantai
Quote:


Thanks gan, wait yah, ini mau diposting.

Quote:


Salken juga gan, awas ujan nanti cucianya basah lagi emoticon-Big Grin

Quote:


Siap gan, jangan lupa gandengan emoticon-Big Grin

Quote:


Santai lebih santai kalo nyelonjor kek di pantai.
Jangan lupa seduh kopi, sama siapin ciki emoticon-Big Grin

Part 1.2 Gosip Pagi

Merapikan diri tanpa bersolek lebih, bersiap-siap untuk melaksanakan kewajiban belajar di sekolah hari ini. Jono tidak henti-hentinya menggerutu kesal karena menunggu sedari tadi. Gue hanya menertawakanya tiap kali dia menyuruh gue mempercepat apa yang sedang gue lakukan. ini sudah menjadi kebiasaan gue mendengarkan ocehan Jono di pagi hari. Macam ritual sakral yang rasanya akan berdampak sial jika dilewatkan.

Gue menutup segala persiapan pagi ini dengan menyempotkan parfum Bulgari yang diberikan Bella saat ulang tahun gue yang ke 16 beberapa waktu yang lalu.

"Ayo." Ucap gue sambil mengaitkan tas selempang yang tidak berisi di pundak gue. Jono tidak menyaut, hanya cemberut terpasang di wajahnya yang kusut. Gue mengunci pintu kamar, kemudian meletakan kuncinya di tempat biasa, di bawah karpet yang berada di bawah keranjang pakaian kotor di sebelah kiri luar pintu kamar. Gue sengaja meletakan kunci di sana. Khawatir sahabat gue lainya datang di saat gue belum pulang.

Gue bersekolah di sekolah menengah swasta yang jarak antara sekolah dan kosan gue 10 menit berjalan kaki di pagi hari saat berangkat, dan 20 menit di siang hari saat pulang tanpa ada yang menunggu di kosan. Jika gue berjalan dalam kecepatan 1meter per detik, maka jarak dari kosan ke sekolah gue adalah 1m/s x 10 menit = 1m/s x 600 detik = 600 meter. Maka dengan perhitungan tersebut bisa diketahui jarak kosan ke sekolah gue bejarak 600 meter. Walau kenyataanya banyak faktor yang belum dimasukan, seperti percepatan langkah karena belum mengerjakan pekerjaan rumah, langkah yang melambat karena gue berjalan di belakang emak-emak yang menuju ke pasar, atau langkah gue terhenti karena emak-emak yang asik ngobrol di tengah gang, atau jika gue harus memutar arah karena di gang yang biasa gue lewati ada orang hajatan, dan faktor lainya yang bisa membuat rumus di atas diragukan ke-tepatan-nya.

Sesuai dugaan, oh bukan. Memang sudah kebiasaan, gue datang terlambat kesekolah. Dan pagi ini kebiasaan itu berulang, untung saja hari ini hari pertama Masa Orientasi Siswa untuk murid-murid baru, jadi keterlambatan hari ini termafkan, hingga gue terbebas dari rutinitas pagi membersihkan pekarangan.

Gue langsung menuju kelas gue yang baru, sedangkan Jono langsung berlari ke sarang anak-anak osis. Gue memang belum tau siapa-siapa saja orang-orang yang nantinya akan menjadi teman sekelas, tapi gue bisa menduga siapa-siapa saja teman sekelas gue nanti karena gue masuk ke kelas 11 IPS 2, atau yang lebih dikenal dengan kelas ampas. Tapi biarpun begitu, kelas gue bukanlah kelas paling ampas di sekolah. Karena menurut gue ampas dari segala ampas ada di kelas IPA. C'mon guys, apa yang keren dari sekumpulan anak remaja yang doyan ngintip kuman pacaran menggunakan kaca microscopic.

Seraya kaki melangkah, hati berdoa, semoga di kelas baru sudah banyak anak-anak yang gue kenal. Karena sedikit malas jika harus berkenalan lagi dari awal, memulai sesuatu perkenalan baru, karena gue tidak terbiasa dengan hal itu. Tapi sepertinya kejutan tidak datang untuk gue hari ini. Masuk di kelas yang baru, gue di sambut muka-muka penghuni warung babeh sepulang sekolah. Bak gayung bersambut, suara kami saling sahut, saling ejek, saling hina tapi kami semua tau itu hanya seru canda semata.

Kelas begitu bising sebelum gue datang. Bagai pasar malam di tengah komplek perumahan. Dan gue seperti seekor kera penakaran yang dilepas liarkan. Disambut sekawanan monyet liar yang mengucapkan selamat datang di alam liar. Tidak ada salam perkenalan, karena hanya melihat kami dapat tau dengan jelas, kalau kami jenis yang sama. Sedangkan sisanya hanya sekam dalam kubang baskom pencucian.

Gue meletakan tas di meja kosong deretan kedua dari depan. Sebetulnya gue ingin duduk di meja paling belakang. Tapi apa daya gue kalah cepat. Lalu gue berjalan keluar kelas kemudian duduk bersandar di lantai tanpa alas.

Sekolahan gue punya sistem yang unik. Kelas non unggulan justru berada di lantai bawah, dan kelas non unggulan justru paling di-"gembleng" soal pelajaran agar tidak ada gap jauh antara mereka yang pintar dan agak lambat dalam menangkap pelajaran.

Duduk di selasar kelas gue dapat melihat jelas tanpa halang ke lapangan. Melihat barisan wajah-wajah baru dengan berbagai pernak-pernik aneh membentang di sekujur badan. Konyol memang, tapi bagi yang pernah merasakan pasti tau kalau itu hanya kelakar untuk saling mengakrabkan.

"Bengong aje bang."

"Haaah, kampret gue kira siapa."Sahut gue kaget.

"Hahaha, mane oleh-oleh gue?" Tanya dia kemudian duduk di semping gue.

"Bekas kerokan mau?"

"Taiii !!" Sahut nya kesal. Dia adalah Faisal. Teman sebangku gue saat kelas satu. Gue cukup akrab dengan Faisal. Dia sering menginap di kosan gue. Dan gue sangat sering main ke rumahnya sepulang sekolah. Karena di rumahnya gue bisa makan rendang tanpa mengeluarkan uang. Nyokapnya Faisal adalah pengusaha restoran khas masakan padang. Untuk orang yang tinggal jauh dari orang tua, gue sangat beruntung bersahabat dengan Faisal.

"Gimana kabar Nyokap Bokap lo?" Tanya Faisal.

"Good, mereka kayanya lebih betah jadi orang ngapak dari pada orang betawi. Oh iya titipan nyokap lo ada di kosan tuh, ntar pulang ambil nge."

"Siap, tadi nyokap gue juga pesen suruh ngambil titipanya sama lo. Oh iya lo ke Cilacap sama Karina?"

Gue menggelengkan kepala. "Gue sendiri."

Berbincang dengan Faisal menurut gue lebih menyenangkan dari pada berbincang dengan Jono atau sahabat gue lainya. Karena satu-satunya sahabat gue yang masih waras menurut gue hanya Faisal. Yang lainya baru waras jika sudah melewati jam 12 malam. Gue berbincang dengan Faisal, sambil sesekali mengomentari apa yang kami lihat.

"Cakep-cakep ye nge anak barunye." Ucap Faisal, matanya tertuju ke lapangan, gue tau pasti Faisal sedang melihat salah satu murid perempuan. Gue mencoba menemukan apa yang Faisal lihat. Mata gue arahkan ke arah bola mata Faisal melihat.

"Dulu, dulu, lo liatin yang mana nih, Riska apa yang di sebelahnya?" Tanya gue.

"Tai ngeliatin Riska males banget, sebelahnya juga males banget gue liatin batangan."

"So?"

"Lo liat arah jam 2 deh." Ucap Faisal.

Gue mencoba melihat ke titik yang Faisal maksut. Gue melihat anak laki-laki, berdiri tegak tanpa ekspresi, dengan atribut yang tidak lengkap seperti yang lainya. Badanya tegak, tinggi, tidak kurus, rambutnya rapih, tatapan matanya tajam, dingin, kulitnya bersih walau tidak putih. Macam pembunuh berdarah dingin gue melihatnya. Jujur melihatnya gue agak gemetar.

"Sal, lo masih normal kan?" Tanya gue heran, karena arah jam 2 yang Faisal katakan itu seorang anak laki-laki.

"Kampret, coba agak naekin dikit deh, jam 2 kurang 10 menit." Sahut Faisal sambil menoyor pelan badan gue.

"Elaah ribet, jam gue jam digital."

"Ahh dodol lo, itu lo liat yang kerudungan ga?" Ucap Faisal sambil menunjuk dengan tanganya.

"Yee ga usah nunjuk-nunjuk juga kampret, jangan jatohin harga diri kite."

"Gede gengsi lo kampret. Lo liat Ambar deh, di barisan depanye Ambar ada yang pake kudung kan, nah yang di belakang yang kudungan, itu yang gue liat."

Kembali gue mencoba melihat ke arah yang Faisal maksut. Dan kali ini gue melihat seorang anak perempuan "Innocent" . Kaki yang jenjang, kulitnya putih bersih, fashionable walaupun banyak pernak-pernik aneh di badanya. Dan hidungnya sedikit menonjol.

"Lo demenye emang yang arab sama innocent-innocent gimana gitu yee sal." Ucap gue karena gue juga mengenal pacarnya Faisal yang bernama Sarah, yang wajahnya juga identik 'arab'.

"Dari pada lo kebanyakan nonton Bangbros jadi demen yang bule-bule naughty."

"Hahaha, kampet lu, eh tapi gue lebih demen liat itu deh, anak laki yang ga pake topi itu tuh."

"Demen?" Ucap Faisal heran dan sedikit menjauhkan duduknya dari gue. "Oke Nat, awalnya gue percaya yah lo ga pernah deketin cewe di sini karena Karina, tapi kok sekarang gue ga yakin yee."

"Kampret salah ngomong gue, maksut gue, lo liat deh itu anak, tampangnya cool ... Aduh gimane yee ngebahasainye ..."

"Udeh ngaku deh Nat, lo homo."

"Anjing !! Gini deh, gue ngeliat die tuh kaya ada aura menyeramkan gitu, kaya yosoka gimana gitu gue ngeliatnya."

"Hahaha, canda nyet, gue tau maksut lo. Lo ga salah, gue tau dia, he is Malik..."

"Malik? Malik Malikat penjaga Neraka. damned jangan sampe berurusan sama dia deh nanti kita di masukin neraka, hahahaha."

"Yah emang sebaiknya jangan berurusan sama dia, dia harusnya sepantaran kita, kelas 2 harusnya, cuma 3 bulan lalu di DO karena ngebacok anak orang pas tawuran." Sahut Faisal gue melihat raut wajahnya berubah, dia terlihat sedikit gemetar.

"Serius?"

"Yaaa, dia satu SMP sama gue, tapi gue ga kenal sama dia, ga pernah ngobrol sama dia, mungkin juga dia ga kenal sama gue."

"Ga kenal tapi lo bisa tau dia, aneh."

"Lo kenal dia." Faisal sambil menunjuk seorang perempuan yang berdiri di depan kelas 11IPA2 yang juga sedang melihat ke lapangan.

Gue menggelengkan kepala. "Tapi gue yakin dia tau lo. Gue yakin itu cewe bisa jelasin tentang lo." Lanjut Faisal.

"Berarti lo kenal sama Malik, tapi ga akrab, gitu harusnya, kenal muka !"

"Serah lu nyet!"

"Eh tapi, denger cerita lo gue jadi makin interest sama dia."

"Interest?"

"Aduuuhh salah lagi. PENASARAN ! Gue makin penasaran sama itu orang."[/i] Sahut gue mengoreksi.

"Penasaran gimana coba maksutnya ?"

"Yah gimana yah, gue ngeliat dia emang gimana gitu yah, ditambah cerita dari lo. gini gini loh Sal maksut gue, gue kadang penasaran sama orang-orang Introvert, Psycho, clepto, anarko, diktaktor, orang latah, orang sorry keterbelakangan mental, gue penasaran sama why and how to mereka bisa jadi begitu. Maksut gue, orang pada dasarnya lahir sama Sal, orok ga tau apa-apa dan engga berkepribadian, tapi dalam perjalananya orang bisa jadi apa, dan gimana, pasti ada sebab dong, ga mungkin kan tau-tau walaaaaa lo jadi phsycopat."

"Gini nih akibat baca novel sherlock holmes, nyesel gue minjeminye, mending gue kasih lo pinjem komik sincan deh, biar lo joget-jodet nongolin pantat."

"Yee sianjing."

"Eh iye denger-denger si Anto kemaren nembak Nina?"

"Sorry gue laki gue ga ngegossip."

"Kamprett !!"

"Yee bener dong, cuma perempuan dan cowo yang berjiwa perempuan yang doyan gosip, gue sih laki sejati bos. Trus Anto diterima ga sama Nina?"

"KAGA, BURUNGNYE ANTO DIPOTONG TRUS DIA JADI PEREMPUAN YANG DOYAN NGEGOSIP."

...


Entah sudah berapa lama gue duduk di luar kelas bersama Faisal. Bel berbunyi suaranya menggelegar memenuhi isi sekolah, tanda pengantian mata pelajaran. Gue dan Faisal tidak beranjak. Kami tau kegiatan belajar mengajar belum berjalan normal seperti biasanya, sehingga kami tidak beranjak dan gosip terucap semakin banyak.

"Gini nih, ngobrol sama lo ujung-ujungnya nge gosip." Ucap gue.

"Yah lo juga doyan, hahaha." Sahut Faisal.

"Eh sal, taroan yuk."

"Taroan?"

"Yap, taroan si Malik, kita taroan berapa lama Malik akhirnya nanti berantem sama siapapun di sekolah ini."

"Okee, berani berapa lo?" Tantang Faisal.

"Cepe!!"

"Deal, gue taroan nanti pulang sekolah dia udah berantem."

"Ok, gue bilang, setengah jam ini dia bakal berantem." Sahut gue yang sedari tadi gue menggosip bersama Faisal, mata gue tidak pernah lepas mengamati siswa baru yang bernama Malik itu.
Diubah oleh nyunwie

Part 1.3 First Step To Hell

Kata deal terucap bahkan belum lebih dari 10 menit. Di lapangan sudah terlihat teman gue yang sedang berbicara dengan raut wajah kesal pada Malik. Tapi berbanding terbalik, Malik hanya diam tersenyum, seiring dengan senyuman Malik, gue pun ikut tersenyum.

"Aahaha, keknya gue menang nih." Ucap gue pada Faisal.

"Itu bukan berantem nge, kalo berantem tuh tampol-tampolan." Sahut Faisal.

"See, you get it in five, four, three..."Belum habis hitung mundur gue, tiba-tiba kami melihat Malik memukul teman gue yang berbicara padanya hingga jatuh tersungkur. Mata gue terbelalak melihat kejadian itu. Sedikit takjub pada Malik karena bisa menumbangkan teman seangkatan gue itu hanya dengan satu pukulan.

"Holy grail" Ucap gue bertepuk tangan, lalu menadahkan tangan meminta uang taruhan.

"Siaaaalllll!!" Gerutu Faisal sambil mengeluarkan dompet dari saku celananya. "Nih." Lanjutnya sambil memberikan gue uang pecahan 100ribu pada gue.

"Ahahahah, ga usah cemberut gitu dongss, kantin yok, gue traktir."

"Bangkek, duid gue !!"

"Mao ga? Chance not coming twice !"

"Ok ok your boss"

Faisal menyetejui, kami berdua berjalan menuju ke kantin. Saat kami menuju ke kantin kami melihat suasana di lapangan semakin kacau. Acara MOS berubah menjadi adegan action, beberapa teman seangkatan dan kakak kelas gue versus revolutioners yang mungkin muak pada aturan yang dibuat.

Gue orang yang kadang tidak memperdulikan sekitar, gue terkadang bahkan masa bodo melihat kecelakaan di jalan. Untuk sebuah kecelakaan yang seharusnya gue ikut membantu saja gue enggan. Apalagi ini hanya sebuah perkelahian yang gue yakin hanya karena masalah perpeloncoan. "I don't care !!" Selama tidak ada sangkut pautnya dengan gue. Gue tidak akan pernah ikut campur.

Tapi perkelahian di lapangan kali ini benar-benar menyita perhatian gue. Bukan perkelahianya, tapi karena anak baru yang bahkan gue tidak kenal yang membuat gue berhenti sebentar untuk melihat perkelahian yang sudah pantas disebut tawuran itu.

"Wohaaha, rame nge." Ucap Faisal.

"Hahaha, ayo cpetan ke kantin, kita beli cemilan biar nontonya makin seru." Sahut gue kemudian berlari menuju kantin.

Di kantin gue mendengar suara seorang guru dari pengeras suara. Sepertinya suasana di lapangan makin kacau. Beberapa orang yang sudah ada di kantin sebelum gue datang pun terlihat langsung berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Gue mengambil 10 bungkus citato dan satu buah teh rasa buah kemasan botol. Sedangkan Faisal membeli 3 roti sari roti dan satu buah susu UHT kemasan sedang.

"Kok lo mahal nge? kampret !!" Gerutu gue melihat apa yang diambil Faisal.

"Bodo, bayar buru ntar keburu kelar." Sahut Faisal. Penjual di kantin terlihat menghitung jumlah yang harus kami bayar. Gue sedikit tidak sabar, gue langsung memberikannya uang 100ribu yang awalnya milik Faisal yang sekarang ada di kantong gue.

"Nih mpo, kembalinye entar aje, gue mau nonton dulu, hahaha." Ucap gue kemudian langsung berlari kembali ke lapangan.

Kami duduk di depan perpustakaan yang letaknya bersebrangan dengan kelas gue dipisahkan lapangan, suasana di lapangan masih kacau, para anak perempuan terlihat menyingkir kepinggir lapangan, seolah memberi ruang untuk perkelahian. Gue hanya melihat dua guru yang melerai, tentu jumlahnya belum cukup. Karena itu sudah menjadi tawuran antar angkatan. Gue dan Faisal menikmati dengan baik pertunjukan yang tersajikan, sesekali kami mengeluarkan komentar-komentar macam caster sebuah pertandingan.

"Eh eh itu si Jono ikut-ikutan Nat." Seru Faisal.

"Biarin, liatin aje, sekali tabok juga jomplang tuh anak, gegayaan." Sahut gue berkomentar.

Benar saja, saat gue lihat Jono masuk ke arena perkelahian, tiba-tiba dia terjatuh hanya karena bertabrakan dengan kakak kelas. Gue dan Faisal pun tak mampu menahan tawa.

"Buahahaahahaha, kan kan, apa gue bilang." Ucap gue.

"Buahahahahaha, kampret ngelawak ajah orang."

Walau jumlah guru di lapangan sudah bertambah tapi tetap saja belum mampu menghentikan perkelahian. Terlebih di sekolah gue memang perbandingan antara guru laki-laki dan perempuan cukup timpang. 70% guru yang ada di sekolah gue adalah perempuan.

...


"Haii Nat." Sapa perempuan yang berdiri tepat di depan gue. Matanya indah, senyumnya mempesona, parasnya gue yakin mampu membuat siapapun pasti ingin terus bersamanya. Sepersekian detik gue terbawa kedalam pesonanya, detik berikutnya gue mencoba kendalikan diri, berpegang dengan sesuatu yang pasti, agar gue tidak semakin jatuh kedalam pesonanya yang begitu menggoda. Gue tidak membalas sapanya, hanya cukup membalas senyumnya, agar dia sadar kalau gue tidak menyambutnya, atau setidaknya membohongi diri dengan tetap terlihat tenang menutupi senang berjumpa denganya.

"Boleh aku duduk?" Tanya nya sambil menunjukan kursi kosong di hadapanya.

"This public area right?" Jawab gue datar.

"Aaaaaa seperti kamu sebelum aku kenal kamu." Sahutnya sambil meletakan dompet dan ponsel berukuran besar yang sedari tadi digenggamnya, di atas meja.

"And you, who are you?" Sahut gue sedikit ketus namun tetap menyunggingkan senyum.

"Judes amat bang." Sahutnya meledek.

"Oke, gue ga tau permainan apa yang sedang lo mainin sekarang sama Jono, tapi apapun itu lo harus sadar gue bukan limbat yang kebal sama api"

"Api? Ga ada api di sini, dan ga ada yang berbahaya di sini. Kecuali kamu masih nyimpen api itu dan ..."

"Fuck" gerutu gue dalam hati. "Okeh, okeh, singkat, what do you want?" Tanya gue menyambar.

"Talk" Jawabnya singkat.

"Well, We're done" Jawab gue sambil menutup laptop. Dengan cepat tanganya menyambar dan menahan tangan gue.

"kamu tutup laptop kamu, kamu masukin ke tas, kamu pergi dari sini, itu udah nunjukin satu hal, kalau api itu masih ada. Dan aku pastiin sesuatu yang kamu bilang berbahaya itu akan jauh lebih berbahaya saat kamu keluar dari sini." Sahutnya.

"..." Gue hanya diam melihat kedua bola matanya yang menatap gue tajam, mempesona, indah, namun sedikit mengumbar aura menyeramkan.

"So, we talk." Lanjutnya sambil mengeluarkan senyum yang makin memperkuat aura mengerikanya. Gue mencoba melepas tangan gue yang sedang dalam genggamanya. Sambil mencoba menenangkan detak jantung yang ritmenya sudah mulai meningkat.

"Ok, lo punya waktu sampai 4 botol ini kosong." Sahut gue mencoba tetap terlihat tenang.

"Fine, dan aku bakal mulai ini dengan ..."

"Nooo ..."

"Why?"

"NO !!"

Dia tidak memperdulikan dan hanya tersenyum sambil mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
Diubah oleh nyunwie
Dua part terakhir gue bikin pake blackberry, jadi maapin yak kalo, eh bukan kalo deh emang iyah berantakan. Nanti gue rapiin lagi dah kalo kang permak lewat emoticon-Hammer (S)
Mantau dulu... sambil rebahan...

bang update bang
subscribe done
izin ninggalin jejak 👣
weeetttsss.... cerita baru... jgn galak galak ya bang ama kite kite disini.. wkwkwk
lanjrotkan bang ceritanya. semangat!!
weh... ijin nitip sendal
emoticon-Traveller ijin nenda gan
Halaman 1 dari 10


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di