alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
4.5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c17c85eaf7e93150d5ca9c0/ruang-kosong

RUANG KOSONG (Fiksi, Crime, Romance, Friendship, Family)

RUANG KOSONG


-SISI EKSTRIM KEBAIKAN DAN KEJAHATAN-


Prolog

Spoiler for Prolog-nya nih.:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbakendut dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3

Mohon bantuannya yah. Agan dan Aganwati. ane newbie banget disini.

semoga tulisannya bisa berdampak positif bagi kita semua.



emoticon-Sundul Upemoticon-Sundul Up :


Index :
Spoiler for Klik disini:
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
Spoiler for Bab 1; episode pertama.:


Aku menghirup napas dalam-dalam – mengeluarkannya cukup keras, kali ini untuk memberikan kode pada temanku yang sedang asyik menerangkan, bahwa aku sudah mulai bosan mendengar celotehannya dan badanku bahkan sudah menolak apapun itu yang keluar dari mulutnya, apa dia tidak lelah terus menerus berbicara selama 3 jam penuh? Heran. Saking asyiknya dia bergulat dengan kata-katanya, dia lupa bahwa respon yang aku berikan terbilang minim, hanya ‘oh’ ‘gitu’ ‘iya’ atau sekedar manggut-manggut malas sambil memainkan mouse komputer didepanku.

Diruangan yang tidak cukup besar, bisa dibilang sepetak. Hanya ada 2 meja kerja dan beberapa peralatan kerja lainnya, dalam satu kantor yang terisi oleh beberapa sekat seperti aquarium itu membuat ruangan seakan tambah sesak. Aku memiliki ruangan yang sama dengan Roy. Walaupun sebenarnya di ruangan itu ada AC. Tapi, gema suara yang dihasilkan oleh Roy membuat kepalaku ini pening dan muak. Andai saja di dunia nyata bisa memblokir orang, maka orang pertama yang akan aku blokir pasti Roy. Tekad sudah bulat.

Quote:

Quote:


Aku tersenyum sinis, sepertinya kata-kata sarkastik yang aku keluarkan tadi sudah membuat dia sadar dari virus bawel yang membuatnya terlihat seperti monster terompet saja. Imajinasi liar. Aku tidak bisa menahan tawa ketika membayangkannya. Dia tercenung, seperti baru waras dari segala kesurupannya.

Quote:


Emang sulit dipercaya laki-laki yang menyebut diriku cebol ini tidak lebih tinggi dariku. Mungkin cuma beda 3 cm, memalukan sekali. Aku memukul lengannya cukup keras. Merasa tidak terima oleh makiannya barusan. Dia berpura-pura seperti kesakitan sekali. Dasar penjilat, rutukku. Dari sekian banyak orang yang bekerja dalam divisi lapangan, kenapa harus dia yang menjadi partnerku untuk meliput setiap kejadian olah perkara sih?

Sekali lagi aku merutuki nasib sialku sendiri sambil berlalu mengikutinya untuk pergi ke kantin. Koridor tampak lengang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Wajar saja, kita istirahat 1 jam lebih telat dari yang lainnya. Dia berjalan terlalu cepat, kaki pendekku ini tidak bisa menyusul ketertinggalan.

Aku menyerah dan mulai berjalan santai saja. Setelah beberapa saat berjalan, sudah hampir sampai di kantin. Aku tidak sengaja mendengar sebuah percakapan orang yang sedang mengobrol. Aku telisik, mungkin muncul dari ruangan Pak Surya, seseorang yang mempunyai pengaruh besar terhadap perusahaan ini. Aku tidak begitu mengerti posisi beliau dalam redaktur, yang jelas beliau adalah penasihat yang paling dipercaya oleh direkturku.

Karena rasa penasaran yang terlalu besar, akhirnya aku memutuskan untuk memberhentikan langkahku didepan kantornya. Syukurnya, koridor disekitar situ juga sedang sepi, jadi tidak akan ada siapapun yang tahu bahwa aku mempunyai niat untuk menguping pembicaraan orang lain. Orang penting, Tapikan, bukan maksudku ingin menguping, salahkan saja pada Pak Surya. Kenapa mengeluarkan suara yang sangat nyaring? Yah, aku berusaha menemukan alibi atas perbuatan lancangku ini.

Quote:


Tuhkan!

Aku sudah menyangkanya sejak awal, ada yang tidak beres dari gelagat Pak Surya ini. Dia sedang mengobrol dengan seorang wanita yang ia panggil Ibu, sepertinya wanita yang punya jabatan sederajat dengan direkturku disini atau bahkan mungkin punya kekuatan yang lebih dari itu. Entahlah, pikiranku sudah mengembara terlalu jauh. Pusing sekali aku memikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan terkelam.

Quote:


Deg!

Jantungku rasanya mau pecah saja, ketika mendengar suara itu datang tiba-tiba. Aku menoleh kebelakang dengan perlahan. Sudah mempersiapkan yang terburuk. Bulir-bulir keringat sudah membasahi dahi sejak tadi. Aku merasa tubuhku sedikit lemas dan tanganku membeku. Jika melihat cermin kayanya aku terlihat seperti hantu. Pucat pasi. Tidak ada darah yang ingin mengalir lagi.

Quote:


Namun, untung saja, aku kira tadi itu direktur yang secara tidak sengaja memergoki aku sedang menguping karyawan terbaiknya. Mulai merasa tenang, aliran darah pun mengalir normal kembali. Aku mencubit lengannya, kulihat dia meringis. Rasakan saja, itu balasan untuknya karena sudah membuatku hampir mati berdiri dan juga balasan karena sudah membuatku bosan mendengarkannya berceloteh seharian tentang tokoh pahlawan super kebanggaannya itu, heran sekali padanya. Kenapa harus begitu berambisi pada tokoh pahlawan fiksi macam begitu? Aku menggelengkan kepala, lalu menyeretnya.

Quote:


Aku memotong kalimat Roy sambil menyumpal mulutnya dengan tanganku, jangan sampai seisi kantor tahu mengenai sikap lancangku tadi. Entah apapun itu. Sikapku tadi memang tidak dapat dibenarkan. Tapi, Bukankah karena hal tadi aku bisa saja menyelamatkan kantor dari pengkhianatan yang perih nantinya? Entahlah, bahkan jika aku memberi tahu pada semua orang pun belum tentu mereka percaya, yang ada nanti malah aku yang kena pecat oleh direktur. mengerikan.

Tugasku disini adalah menegakkan keadilan untuk rakyat, apa menolong kantor ini termasuk ke dalam menegakkan keadilan? Bingung sekali. Sudahlah, berhenti berpikir terlalu jauh. Sekarang aku hanya butuh makan siang saja dulu. Habis itu aku pikirkan lagi jalan keluarnya nanti. Aku harus memastikan tidak ada yang tahu dulu soal ini, sebelum ada bukti yang menguatkan dugaanku.

Quote:

Duh. Astagfirullah.

Pemandangan yang menjijikan dihadapanku berhasil membuyarkan semua pikiranku. Seorang wartawan pria seperti Roy melakukan hal imut seperti itu sangatlah membuat perutku mual. Ingin rasanya tidak melihat adegan barusan. Anggap saja itu musibah. Akhirnya, kita pun berjalan ke kantin dengan pikiran masing-masing. Sejak tadi Roy diam saja. Aku takut dia masih memikirkan soal kejadian didepan kantor Pak Surya tadi dan berniat untuk melaporkan kelancanganku pada atasan.

Apa yang harus aku lakukan kalau sudah begini? Pasrah saja deh!

Langkah kita berirama. Tapi tidak ada satupun dari kita yang ingin mengeluarkan suara selain suara langkah kaki dan helaan napas panjang-panjang. Setiba di kantin, aku lihat Roy langsung memesan makanan dan duduk dipojok paling kanan, melambaikan tangan agar aku segera menyusulnya. Jujur saja, nafsu makanku sudah meredup semenjak tadi. Tapi, perutku tidak dapat berbohong. Dia meneriaki minta diisi. Aku memesan makanan sekenanya, berjalan pelan menghampiri Roy.

Pemandangan yang sama seperti di koridor, disini pun terlihat lengang. Tampaknya hanya beberapa orang yang duduk-duduk sambil rapat dadakan. Tidak ada yang terlihat sedang makan siang. Jelas saja, berkat Roy aku kehilangan momen makan siang bersama teman-teman yang lain.

Terimakasih, Roy!

Batinku berteriak sambil memberikan tatapan seperti harimau sedang memangsa sang korban. Duduk didepannya, masih dengan tatapan yang sama. Kita seperti sedang battle rolling eyes.

Beberapa saat kemudian makanan datang, tampak wajah ibu kantin yang sudah kelelahan. Walau begitu dia tetap berusaha tersenyum padaku dan juga Roy yang sejak tadi melihatku seperti melihat maling. Risih sekali rasanya. Kita makan dengan pelan-pelan dan sedikit kikuk, Roy masih saja melihat padaku dengan tatapan yang sama. Sudah cukup! Aku mulai gerah oleh sikapnya.

Quote:


Aku harus membuat pembelaan, tapi tidak satupun kata yang keluar dari mulutku. Jika aku bicara, bisa saja dia akhirnya mengetahui tentang Pak Surya dan sepertinya walaupun aku berkata yang sejujurnya, dia tetap tidak akan percaya. Roy bukan orang yang mudah percaya, apalagi kepadaku yang selalu menjadi teman bertengkarnya setiap saat.

Quote:


Aku melotot.
Roy?!

Seorang karyawan teladan yang dekat dengan Pak Surya saja bisa mempunyai pemikiran yang sama denganku? Dunia oh dunia. Benar-benar sulit dipercaya sekali. Bahkan, anehnya adalah aku sering sekali tenggelam dan tersesat dalam pikiranku sendiri. Kali ini jelas sekali aku melihat sebersit senyum sinis yang menyiratkan kepuasan dimukanya. Itu membuatku sedikit merasa jengah dan bodoh. Selama ini dia mengetahui sesuatu kejahatan tapi tidak ada sama sekali rasa ingin menegakkan keadilan? Apa-apaan dia tuh? Mengaku saja sebagai seorang jurnalis yang haus kebenaran, faktanya berkata lain.

Selain itu, aku sama sekali tidak menyukai caranya berpenampilan. Terlalu metrosexual untuk seorang jurnalis. Dia lebih terlihat seperti anggota boyband. Miris. Siapa dan apasih barometer dia? Sungguh memalukan. Dengan penampilannya itu, sepertinya dia lebih pantas menjadi selebgram ketimbang orang yang bekerja dibelakang layar.
Terserahlah. Sejak kapan aku menjadi komentator style begini.

Quote:


Aku tersadar dari lamunan tentangnya yang cukup panjang. Aku tekankan, jika saja dia memang benar menjadi seorang selebgram. Pastinya, aku adalah orang pertama yang akan menjadi haters dia.

Quote:


Quote:

Nadanya seperti mencemooh ketidaktahuanku selama ini mengenai Pak Surya. Jika aku bertanya, aku yakin dia tak akan dengan mudah memberikan jawabannya begitu saja. Dia pasti akan memberikan sedikit permainan yang berniat untuk mempermalukanku. Tentu saja itu sudah menjadi tabiatnya. Rusak sudah kelak reputasiku. Aku akan lebih bersabar dan mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, seorang diri.

Quote:


Kesombongan dan rasa percaya diri sudah mengalahkan semuanya. Ego akan membuatku terlihat seperti orang yang begitu emosional didepan Roy. Aku tidak peduli soal itu. It’s my pride, won’t taking a risk. Lagian, tidak ada jaminan apakah perkataannya itu fakta atau hanya karangan delusi yang dia buat sendiri. Sama sekali tidak ingin mengambil resiko apapun.
Quote:


Aku terpaku. Entah apakah semua pilihanku ini tepat atau tidak. Tapi, setidaknya aku terbebas dari mahluk paling menyebalkan dimuka bumi ini. Kalau saja dewa air berpihak padaku. Aku akan memintanya untuk membuang Roy ke Neptunus!

Namun dalam agamaku tidak ada dewa air. Aku tertawa geli pada pikiran konyolku sendiri.

Tersadar. Di kantin hanya ada aku dan ibu kantin. Lengang. Aku melirik jam tanganku. Oh, pantas. Sudah hampir pukul tiga sore. Waktunya aku menyelasaikan deadline yang harus aku berikan pada atasanku besok pagi.

Sepertinya, aku akan izin pulang lebih awal saja hari ini. Tidak ingin melihat wajah menyebalkan itu lagi. Lagian, karena terlalu banyak yang aku pikirkan, sekarang dunia seperti komidi putar, dufan.

Aku belum shalat dzuhur. Sudah hampir memasuki waktu Ashar. Sebelum pulang sepertinya aku akan sembahyang saja dikantor dan berharap tidak bertemu dengan monster terompet itu lagi. Semoga saja.
...
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
menarik nih, nunggu lanjutan nya
Quote:


Makasih sista. emoticon-Shakehand2
ane subs dlu deh bacanya nanti kalo udh ada waktu luang, kayanya menarik nih emoticon-2 Jempol
Quote:


Makasih gan... Nanti malem insyaAllah mau update bagian 2 nya emoticon-Shakehand2
Spoiler for Bab 1; episode kedua:



Allah sepertinya sedang memberikan ujian yang bertubi-tubi padaku hari ini, entah dosa apa yang membuat kesialan demi kesialan datang satu persatu tanpa belas kasihan. Setelah seharian direcoki oleh monster terompet, terus harus berurusan dengan masalah Pak Surya, apesnya lagi kena marah oleh koordinator divisi lapangan karena minta pulang lebih awal saat deadline sudah manggil-manggil minta dituntaskan.

Boro-boro dapat ide untuk membereskan laporan, pikiranku terlalu kalut untuk memikirkannya. Padahal, kalau saja gengsiku tidak sebesar ini terhadap Roy, mungkin sekarang aku tidak akan kedinginan ditengah senja, bermuram durja meratapi nasib sambil memandang daun ditepi jalan sana. Duduk sendiri dibangku halte bis seperti seorang janda tua yang ditinggal mati suaminya sejak lama. Sepi. Temaram.

Hatiku pasrah saja menerima semuanya, walau sempat mengeluh dalam hati. Tapi, beberapa kalimat dari guru pengajianku cukup menenangkan hati. Masih terngiang dalam benakku, beliau pernah mengutip satu ayat Al-qur’an. (Al-anfal : 46). “...Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Mungkin memang benar materi sabar dan ikhlas itu gampang sekali diingat namun paling sulit untuk diterapkan, apalagi disaat-saat seperti sekarang ini. Rasanya ingin sekali membuang orang-orang menyebalkan itu ke rawa-rawa sungai Hades, sungai terkelam dalam sejarah peradaban Yunani kuno, biar jasad mereka dimakan Dewa Odin.

Maafkan.

Sebelum aku berhijab seperti sekarang, dulu memang aku sangat menyukai hal-hal berbau mitologi. Bagiku itu hal yang boleh-boleh saja. Asalkan tidak menaruh prioritas pada hal yang salah saja. Setiap individu didunia ini yang memiliki akal pasti punya kecondongan pada Sang Pencipta alam semesta sekalipun dia seorang Atheis, tidak dapat diragukan lagi. Sudah mulai ngelantur rupanya. Sudah cukup, terlalu banyak membicarakan prinsip akan mengakibatkan lelah berkepanjangan.

Aku berbicara pada diriku sendiri untuk kesekian kalinya. Baiklah.

Setelah beberapa puluh menit menunggu bis yang tidak kunjung datang, aku mulai dirasuki kebosanan yang menggila. Biasanya, ketika bosan begini aku selalu melampiaskannya dengan mendengarkan lagu-lagu folks indie sambil membaca buku-buku puisi chairil anwar, melebur dan terangkat semua beban dihati. Sayangnya, baterai handphone-ku hampir habis, layarnya sudah meredup dan peringatan low battery pun sudah muncul. Sebaiknya aku matikan saja biar nanti ketika di charge tidak terlalu kosong.

Sudut mataku menangkap gerakan diujung jalan dekat lampu merah. Jalanan sedang begitu sunyi, tidak terlihat sama sekali ada aktifitas. Jadi, sedikit gerakan akan membuat perhatianku otomatis tertuju pada sumber suara dan gerakan. Karena rasa ingin tahu yang besar, akupun memberanikan diri untuk menghampirinya. Berjalan sekitar 2 meter dari halte bis. Setelah aku cek, tidak ada tanda-tanda gerakan. Disana memang hanya ada diriku sendiri. Aku menghela napas kesal. Entahlah, rasanya bumi memang sedang ingin menggelitikku hari ini.

Kenapa jalan ini begitu sepi? Seperti kota nagasaki yang baru di bom nuklir!

Aku memutuskan untuk mengakhiri drama horror ini dengan berjalan santai kembali ke halte bis. Berharap dengan sekejap akan datang bis yang ditunggu-tunggu sejak tadi. Bisa sinting aku jika bisnya tidak datang juga. Jam ditanganku berdetak lambat, seperti jalannya kakek-kakek yang mengidap penyakit tulang. Aku harus segera menyelesaikan jurnalku, sudah cukup rasanya aku kena marah hari ini. Tidak rela kalau besok pun harus menanggung nasib yang sama.

Langit mulai terlihat mendung. Fana merah jambu. Titik-titik air langit mulai berdentuman ke aspal jalanan. Awalnya airnya sedikit, lama-lama membawa temannya, layaknya sedang tawuran. Terlalu ricuh. Deras. Hujan lebat. Bagi orang yang mengaku kalau dia menyukai hujan, aku adalah orang yang benci hujan-hujanan saat semua berkas pentingku harus ikut basah juga. Ibaratkan seorang pujangga yang mencinta tapi takut untuk sakit cintanya karena ketidaktulusan yang membuatnya takut, segala kepentingan diri sendiri dan ego selalu menjadi raja yang berkuasa.

Tapi, Dulu bermain dan menari dibawah langit yang sedang hujan adalah hal yang paling menyenangkan, berharga dan bahagia. Masa kecil. Sudahlah. Ada banyak hal yang perlu dipikirkan, daripada harus tiba-tiba bersikap sok melankolis begini.

Ada yang tiba-tiba menepuk pundakku.

Quote:

Aku menoleh. Merasa terkejut dan instingku mengatakan kalau aku sedang dalam bahaya.

Quote:

Quote:

Dia lagi, Dia lagi.

Sampai kapan sih dia akan selalu membuatku terkejut. Menjengkelkan sekali. Lagian kenapa dia ada disini? Seingatku, biasanya dia pulang dan pergi ke kantor naik motor sendiri deh. Aneh saja kenapa tiba-tiba nongol di tempat ini.

Quote:


Dia berkata sambil mengernyitkan dahinya. Bajunya basah kuyup dan napasnya seperti terengah-engah. Apa mungkin dia itu orang yang tadi ada diperempatan lampu merah sana?

Quote:


Aku lihat rambutnya klimis oleh air hujan dan wajahnya kusut. Pemandangan yang langka, seorang Roy Pratama bisa berpenampilan sekacau ini juga. Aku tersenyum sinis.
Dia menggelengkan kepalanya.
Quote:


Dia berbicara terlalu cepat, bahkan lebih cepat dari skala kecepatan cahaya. Kalau sudah begini aku bisa apa. Hanya bisa mendesah dan menerima satu lagi nasib burukku. Aku tidak dapat berkata apapun. Rasanya malas sekali menanggapi ocehannya. Terperangkap. Setelah 10 menit berlalu dengan hening. Akhirnya bis yang kita tunggu datang juga. Kenapa baru datang sekarang sih?
Hm.

Lagi-lagi perjalanan di dalam bis sangat hening. Kemana orang-orang itu pergi? Kenapa sih dunia begitu sunyi hari ini? Mungkin mereka sedang enak-enakan tidur berselimut setelah menikmati coklat panas. Membuatku iri saja. Sedangkan, aku terkurung dalam bis dangan monster terompet ini. Tunggu sebentar. Aku melirik ke arah sebrang tempat duduk sebelahku. Tadi Roy emang sempat ingin duduk disebelahku. Tapi, aku mengelak dan menyuruhnya menjauh. Dia menatapku dengan sorot mata yang aneh. Sama sekali tidak pernah aku melihat sorot mata itu sebelumnya. Kali ini Roy sangat pendiam. Apa perkataanku barusan membuatnya tersinggung? Ingin rasanya bersikap tidak peduli dan acuh tak acuh. Dia adalah penyebab hariku berantakan. Pulang lebih awalku kali ini untuk melarikan diri darinya, namun kita malah bertemu di halte. Aku sedang malas berbasa-basi. Tapi tidak tega dan merasa janggal sekali, Roy melihat ke arah jendela tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.

Aku menghampirinya. Duduk hati-hati disampingnya. Menepuk pelan pundaknya.

Quote:


Aku berusaha mencairkan suasana. Dia tertawa. Baiklah, mission completed.

Quote:


Nadanya tidak pernah seserius itu. Ada apa dengan Roy? Apa dia memang benar-benar sedang datang bulan? Konyol. Kali ini dia menatapku dengan tampang waspada. Lalu clingak-clinguk. Aku hanya terdiam sambil mengedip-ngedipkan mata. Terlalu heran dengan tingkahnya yang absurd.

Quote:


Aku terdiam lalu menunduk. Perasaanku kacau.

Quote:


Dia berbisik ketelingaku. Aku terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba, kemudian mendorong badannya yang terlalu dekat itu. Seketika aku melihat ada goresan merah dipelipisnya. Ada sedikit darah yang keluar.

Quote:


Refleks. Aku memegang pelipisnya. Wajahnya kaget, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Dia memalingkan wajahnya. Air mukanya tampak memperlihatkan kesedihan dan khawatir. Sebenarnya apa yang dia khawatirkan? Memang, kasus yang aku angkat kali ini terlalu beresiko. Kali ini aku harus mengakuinya.

Tapi, aku harus menyelesaikan apapun yang sudah aku mulai. Ini adalah jalan satu-satunya untuk membungkam sikap-sikap kriminal dan pikiran kerdil para mafia itu. Tidak bisa semua orang akan selamanya takut kepada mereka. Jika tidak ada yang ingin membela kebenaran maka aku akan menjadi orang yang ingin. Seberapa besar bahaya menghalau, tekadku sudah bulat.

Jurnalku sudah setengah jalan. Enyahlah kalian para mafia, aku kutuk kalian supaya taubat. Tidak bisakah manusia memberi hak untuk kebahagiaan manusia lainnya? Bukan malah merenggut paksa setiap hak bahagia yang dimiliki setiap orang lewat jalan pintas yaitu kriminalisasi. Dalam bentuk apapun itu tidak dapat dibenarkan.

Quote:


Aku berdiri meninggalkannya. Kebetulan kata-kata itu keluar tepat di depan gang rumahku, bukan rumah. Lebih tepatnya kosanku. Aku tidak ingin melihat lagi ekspresi memelasnya. Aku tahu dia berkata seperti itu bukan berlandaskan kepedulian. Dia hanya tidak ingin nyawanya ikut terseret ke dalam lingkaran setan juga. Dia terlalu egois. Itu menambahkan rasa benciku untuk dirinya bertambah banyak. Tidak akan ada yang bisa menghentikanku untuk membongkar kebusukan para mafia itu.
...
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
memang ya kalo kita mau berbuat baik itu selalu ada rintangan, beda kalo bikin hal buruk selalu dimudahkan, keep update mbak! emoticon-2 Jempol
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
Quote:


Makasih banyak mbak. InsyaAllah kalo gada halangan ntar maleman update lagi emoticon-Cendol Gan

Spoiler for Bab 1; episode 3:




Quote:


Suara parau itu menyambutku dengan bibirnya yang cemberut. Aku sudah dapat memprediksi adegan ini akan terjadi. Wajah teduh dan rambut sepundak yang sengaja dia urai membuatnya terkesan seperti seorang anak yang merajuk pada ibunya. Untung saja aku punya siasat yang ampuh untuk mengobati marahnya. Tabiat. Dia menyukai coklat. Apalagi coklat pemberian. Baginya itu hal sederhana yang manis. Bagiku dia terlalu banyak menyukai hal-hal sederhana. Tapi, tak mengapa. Itu adalah prinsipnya.

Quote:


Aku menyerahkan bungkusan makanannya pada Putri yang sedang menonton drama korea kesayangannya itu. Setelah dia mengintip ke dalam bungkusnya, matanya langsung sumringah. Dia menggumamkan pelan ‘so sweet’. Sudah bukan hal yang aneh jika Putri bertindak seperti itu.

Anyway, perkenalkan teman, sahabat, keluarga bahkan lebih dari seorang kekasih satu kamarku ini. Nama awalnya Putri dan nama belakangnya Utami, Putri Utami. Tapi, dia tidak pernah tahu kalau diam-diam aku sudah mengganti namanya didalam benakku. Nama awalnya Miss, nama belakangnya Mellow.

Sssst!

Jangan dibocorkan. Ini rahasia. Jika dia tahu bisa-bisa dia bangga sendiri akan hal itu. Cukup aku dan Allah saja yang mengetahui soal ini. Aku tertawa dalam hati. Sepertinya dia kelaparan, Tv masih menyala. Kulihat ada adegan seorang laki-laki dan perempuan yang sedang mengobrol dalam sebuah bis. Sontak membuatku teringat kembali pada wajah sedih dan khawatir, Roy. Kayanya aku harus mandi supaya pikiran ini tidak berantakan dan ngaco terus. Butuh guyuran air yang sangat banyak. Butuh inspirasi untuk membuat sistem saraf di otak ini berfungsi dengan semestinya dan menghilangkan orang-orang yang tidak seharusnya mengusik pikiranku, enyah. Habis sampai ke rongga tulang belakangnya.

Quote:


Lamunanku soal permandian langsung lenyap bak ditiup angin topan. Sekilat dan tanpa jejak. Kata-katanya gagap diawal, mulutnya terisi penuh oleh makanan. Dia memaksakan mulutnya untuk melakukan dua aktifitas yang berbeda. Pikiranku berselancar lagi. Mata kita bertemu. Tidak mungkin aku berkata padanya kalau tadi aku pulang bersama Roy. Bisa-bisa dia akan sedih. Satu hal yang tidak ingin aku lakukan adalah membuatnya bersedih. Apa aku harus berbohong? Lagian pertemuan aku dan Roy itu secara kebetulan, ditambah kita tidak melakukan apapun. Aku bisa berpikir secara logis. Tapi, aku tidak yakin Putri dapat menerimanya dengan tingkat yang sama.

Yah, Putri menyukai Roy. Sangat mengaguminya. Tapi, sepertinya Roy menyukai semua orang dan memperlakukan semua orang dengan sama. Tipikal seorang player. Entah sejak kapan benih-benih perasaan itu hadir menggebrak Putri. Aku hanya takut dia menerima sinyal yang salah, menginterpretasikannya secara keliru. Bisa-bisanya dia menyukai monster terompet itu. Aku tidak rela. Tapi, siapa sih yang bisa mengendalikan perasaan? Tidak ada. Yang dapat aku lakukan untuknya hanyalah menjaganya dari keterpurukan tanpa henti.

Sesungguhnya, Putri adalah orang yang kerap kali mendapat banyak keberuntungan. Nasibnya terlalu baik dalam perundian dan
giveaway barang-barang di online shop. Berbanding terbalik dengan kisah cintanya yang selalu naas. Unrequited loves. Untung aku menyayanginya, walaupun kata-kata itu jarang keluar dari mulutku dan sebaliknya. Tapi, kita akan selalu saling menjaga satu sama lain. Entah sampai kapan. Mungkin tidak bisa selamanya, paling tidak sampai kita sama-sama mempunyai pria yang rela menjaga kita 24 jam nonstop layaknya satpam hotel di sebrang jalan sana.

Aku tidak menjawab pertanyaan Putri dan langsung bergegas melarikan diri ke kamar mandi. Aku merasakan mata Putri yang terus mengintai. Seperti mata-mata yang ingin segera membombardirku dengan segala bentuk pertanyaan. Matanya melihatku dengan sinis. Dengan segera aku menutup pintu kamar mandi. Bergidik takjub.

Lupakan saja sejenak soal semua orang. Banyak pekerjaan yang harus kulakukan malam ini. Jurnal yang ditugaskan koordinator mengenai seorang siswa yang tertangkap sedang melakukan aksi percobaan bunuh diri pun mulai menghantui pikiranku. Sebenarnya, bukan tidak bisa untuk diselesaikan. Tapi, aku hanya tidak ingin saja. Guyuran air dingin menancap sampe ke pori-pori terdalam kulit rambutku. Membuyarkan pikiran liar, membuatnya seakan buram sejenak. Tenang.

Sekarang Pukul 9 malam. Sudah menjadi kebiasaanku untuk mandi jam segini. Seperti ritual penyembahan kepada washtafel, sebelum akhirnya dapat meneruskan tulisanku.

Aku sedang merasa tidak berguna sebagai seorang wartawan. Kemarin aku mendatangi kantor polisi. Tugas dewan direksi, aku pergi kesana sendiri karena Roy sedang ditugaskan ke tempat lain. Disana aku melihat wajah tak bersalah seorang pria muda sekitar umur 15 tahunan. Duduk lunglai. Di tembaki berbagai pertanyaan oleh investigator. Mukanya pucat. Raut wajahnya tampak datar. Tidak menunjukkan emosi apapun seperti mayat hidup.

Tanpa sengaja aku meneteskan air mata.

Pikiranku bercabang dan membuat kepalaku sakit. Hatiku sakit dan semua badanku ikutan sakit. Setelah keluar dari kamar mandi aku yakin Putri tidak akan menyerah untuk memancing kejujuranku. Aku harus mempersiapkan alasan yang konkrit dan sedikit praktis. Tidak terlihat dibuat-buat.

Akhirnya setelah keluar dari kamar mandi dan melihat Putri sudah tertidur pulas di kasur. Menoleh pada jam dinding di sebelah kanan kasur. Jam menunjukkan pukul 10 malam.
Waw.
Ternyata aku sudah satu jam bermeditasi di dalam kamar mandi. Pantas saja.

Hm.
Syukurlah, aku tidak usah membohonginya. Besok dia akan melupakan kejadian hari ini dengan sekejap.

Put, kau itu gadis naif dan polos. Aku harap kau selalu bahagia dan terhindar dari bahaya.
Kau satu-satunya keluarga yang aku punya di kota asing sebesar ini.

“Keep the ones that heard you when you never said a word, as long as you happy. Put”

profile-picture
diadem01 memberi reputasi
Spoiler for Bab 2; episode 1:



00:00

Sudah lebih dari 2 jam mataku terpaku pada layar 14 inch berbentuk persegi panjang didepanku. Menatapnya dengan pikiran kosong. Melototi aplikasi microsoft word yang sejak tadi masih kosong tanpa sepenggal kata yang terketik. Inspirasi buntu. Aku tidak bisa mengeluarkan ide-ide gagasan apapun soal jurnal kasus siswa SMA yang nekad memotong urat nadinya dengan cutter. Sedangkan deadline sudah melambai-lambai seram padaku. Tetap saja tak satupun kalimat yang bisa aku rangkai.

Padahal, koordinator sudah mempercayai judulku kali ini akan menjadi headline news. Suatu kebanggan tersendiri bagi wartawan sepertiku yang biasanya hanya dapat kolom kecil dihalaman terakhir majalah dan sekarang diberi kesempatan untuk mengisi tajuk rencana majalah berita seputar politik paling populer di Indonesia. Sesekali aku mengisi kolom berita, itupun berita yang tidak terlalu penting.

Sepertinya, kali ini aku harus rela untuk melepaskan keong emas lepas begitu saja dari genggamanku.

Aku menghembuskan napas lelah, merasa terbebani dengan tugas kali ini. Masih ada beberapa jam untuk mempersiapkan mental, alih-alih kalau nanti aku kena damprat seisi divisi lapangan. Tidak ada yang dapat aku presentasikan untuk besok. Padahal berita harus publish siang harinya. Memikirkan kemarahan semua orang padaku saja sudah membuatku frustasi.

Argh! Such a failed journalist you are, Diana!

Berteriak lantang dalam hati. Sambil menutup erat mata dan mengerutkan dahi. Kesal. Mengacak-acak rambut panjangku. Lalu, menempelkan pipiku pada meja. Lampu kamar yang tidak terlalu besar itu temaram. Kulihat kearah kasur yang berada disebelah kanan meja. Putri terbangun, kemudian mengucek-ngucekkan kedua tangannya ke mata terpejamnya. Seperti anak kecil. Aku tertawa geli menatapnya.

Quote:


Suaranya sedikit serak. Mungkin karena habis bangun tidur. Dia menyisir-nyisir rambut acaknya dengan tangan, berniat merapikannya. Kemudian menghampiriku. Tapi, aku masih dengan posisi yang sama. Tidak bergerak sedikit pun, malas sekali rasanya. Tidak ada semangat untuk melakukan hal apapun. Otakku mulai kram. Mungkin mendekati geger otak. Seperti biasa, aku hanya bisa terdiam dan mendesah pelan. Tidak tahu apa yang harus aku jawab. Dia duduk disebelahku. Kursinya memang panjang. Dia menutup laptopku. Lalu menepuk pelan pundakku. Aku terperanjat.

Quote:

Quote:

Sejak kapan dia mulai dapat mengeluarkan kata-kata yang tercium sedikit sarkas seperti itu. Mungkin pengaruh dariku. Dia tahu kalau kena marah bukan ketakutan terbesarku, tapi gengsi aja kalau sampai koordinator mempermalukanku didepan umum.

Aku menatap matanya. Tidak dapat aku menebak apalagi yang ada dipikirannya selain yang keluar dari mulutnya itu. Mungkin memang hanya itu yang dia tahu soal hari sialku tadi. Aku memikirkan jawaban yang akan menimbulkan sedikit korelasi. Lagian, tidak salah juga sih. Salah satu depresiku kali ini memang disebabkan oleh kasus siswa SMA itu.

Quote:


Win : Win solution

Aku tidak sepenuhnya berbohong. Memang semuanya itu fakta. Tapi, sebagian cerita yang lain belum saatnya dia tahu. Bukan karena aku tidak percaya padanya, aku sangat percaya. Namun, aku harus memastikan keselamatannya. Itu saja. Sekali dia masuk pada permainan ini juga, dia akan susah keluar dan celakanya bisa sampai menghilang. Aku tidak bisa kehilangannya atas dasar kesalahanku. Bisa menyesal tak henti-hentinya aku. Biar saja aku akan mencoba menyelesaikan masalah ini seorang diri. Dia sudah cukup terbebani dengan segala macam masalah keluarga dan percintaannya.

Quote:


Dia memang seorang peramal. Fix!

Anyway, aku sama sekali tidak suka ‘miss idealis-sarkasme’ thing. Mataku menatapnya dengan sinis sambil cemberut.

Quote:


Quote:


Dia menaikkan alisnya. Senyum khasnya keluar lagi. Saat-saat seperti ini yang membuatku merasa sebal. Dia dengan mudah membacaku seperti buku anak-anak di TK. Tanpa penyelidikan terlebih dulu. Tanpa analisis dan pemikiran yang serius. Dia memiliki intuisi yang lumayan kuat. Itu kenapa berdiskusi dengannya tidak akan pernah membuatku bosan. Mungkin semua orang akan nyaman jika diperlakukan seperti itu. Dia menasehatiku dengan mimik wajah yang beragam. Semua perkataannya sudah aku simpan dalam memoriku. Mungkin kapasitas memori otakku sedikit lemah, karna aku terkenal pikun dalam beberapa hal. Dan ingat hal-hal lain yang biasa orang lain tidak ingat. Bibirnya berkerucut. Dia berdialog seolah-olah sedang main opera. Tangannya menari-nari mengikuti intonasinya.

Pikiranku kabur sejenak.

Bagaimana nasib ibu separuh baya itu, jika tak ada warga yang dengan tidak sengaja menengok rumahnya dan mendapati Jaka yang nekad memotong sendiri urat nadi dipergelangan tangannya. Aku yakin, motif Jaka tidak hanya masalah keluarga dan himpitan ekonomi. Semua informasi mulai terjabarkan kembali. Perlahan otak ini mulai mengolahnya secara detail. Jaka adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya adalah seorang penjudi dan perampok. Ibunya sakit-sakitan. Bahkan, mengidap kanker selaput otak yang katanya dapat menular. Dia sendiri masih duduk di bangku SMA. Dengan kondisinya yang terbilang sengsara itu. Jaka harus mengurus ibunya seorang diri. Tidak punya biaya untuk pergi kerumah sakit. Tidak dapat mendaftarkan diri untuk BPJS Kesehatan karena KTP ibunya bukan domisili Jakarta.

Satu-satunya sumber dana mereka hanyalah dari kakaknya. Tapi, belakangan kakaknya dikejar-kejar seseorang. Katanya orang itu adalah teman Ahmad, kakaknya Jaka. Suatu ketika Teman kakaknya yang bernama Alex itu menghampiri ke sekolahan Jaka. Mengancam akan membunuh Jaka kalau hutangnya tidak juga lunas. Ahmad yang kebetulan akan menjemput Jaka disekolahnya itu melihat Jaka kena tampar Alex sampai tersungkur ke tanah. Dari situ perseteruan terjadi. Sampai mereka bertiga kejar-kejaran ke taman tidak jauh dari sekolah. Didepan sebuah air mancur, diduga kuat bahwa Ahmad mengeluarkan pistol lalu menembak Alex tepat di kepalanya. Dengan satu tembakan Alex langsung tumbang dan masuk ke dalam kolam air mancur disitu. Atas kejadian tersebut Jaka dipanggil pihak berwajib sebagai saksi dan Ahmad dikenakan hukuman semaksimalnya 15 tahun penjara. Mungkin itulah yang membuat Jaka sangat putus asa.

Hm.

Terlalu rumit untuk dicerna. Namun, dengan mudah aku dapat menalarkan kejadiannya itu. Entah kenapa kurasa, semua data yang diberikan penyidik kepadaku ada sedikit kejanggalan. Entah apa. Ada yang tidak beres. Putri mulai menguap. Lagi-lagi pemandangan ini membuat aku tersenyum geli.

Quote:


Pertanyaan jebakan macam apa ini. Tidak ada angin dan hujan tiba-tiba saja dia menodongku tanpa ampun. Aku ingin membuat alibi saja. Tapi, sorot mata itu hadir lagi. Aku ingin sekali mengetahui apa yang ada dalam pikirannya. Aku benci sorot mata itu, Didalamnya terdapat bahagia yang sia-sia. Aku hanya mengangguk pelan. Lalu melihat ada nanar di air mukanya. Apa yang Roy perbuat sehingga dia tampak begitu terluka? Padahal dia tahu aku dan Roy hanya rekan kerja. Tidak lebih dan tidak akan pernah bisa lebih.

Hening sejenak.

Quote:


Hah? Apa maksudnya itu? Aku melukai hatinya...

Aku sudah melakukan hal yang selama ini tidak ingin aku lakukan terhadapnya. Ternyata aku tidak dapat mengendalikan takdir. Allah sebaik-baik pengatur. Aku melihatnya menarik selimut. Aku berjalan lalu tidur disampingnya. Melihat bagian belakang dari tubuhnya dengan pikiran yang mengembara. Tidak dapat aku menerka apa yang sebenarnya terjadi. Besok aku ingin sekali bertanya perihal Putri pada Roy. Tapi, kita kan sedang perang dingin.

02.00

Tinggal beberapa jam lagi aku akan menyerahkan diriku pada siksa neraka dunia. Masalah demi masalah datang tanpa penyelesaian. Gantung tanpa kejelasan. Pertama, aku harus merangkai kata dan membuat alasan untuk aku berikan pada koordinator besok. Lalu mencoba menyelesaikan perkara Putri dan Roy. Setelah itu memikirkan masalah pak Surya dan tentu saja jurnal setengah jalanku harus menerima nasib yang buruk. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dari jurnal bahaya itu. Segala aktifitas yang berhubungan tentang mafia judi itu aku cancel dulu.

Setelah masalah selesai. Baru aku mulai dengan lebih ganas lagi.

Wish me luck!
...
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
Diubah oleh feymega24
Spoiler for Bab 2; episode 2:


Semua mata mulai tertuju padaku, sepertinya inilah akhir dari kisah karirku. Pandangan seisi ruangan sangat mencekam. Meminta tumbal sebagai balasan kebodohanku kali ini. Rapat sudah mulai dan tadi dibuka oleh koordinator. Aku tidak tahu kalau rapat ini sungguh begitu penting sebelum melihat ada direktur dan beberapa pemegang investor majalah Records hadir di deretan kursi-kursi dengan meja persegi panjang di tengah, berukuran sekitar 4 meter. Memiliki bidang yang cukup luas sehingga muat minimal 10 orang.

Aku menelan ludah, menggaruk kepala sambil merapikan hijabku sedikit. Membenarkan posisi kacamataku yang minus 1,7 kanan dan kiri 1,5 itu. Semua prasangka mulai mengeroyok batinku. Ada beberapa senior yang berbisik-bisik. Entah apa yang mereka obrolkan, yang jelas pasti ada sangkut pautnya denganku kali ini. Tidak berniat untuk terlalu percaya diri atau suudzon. Namun, posisi dudukku sekarang ada didepan layar proyektor. Otomatis itu menjadikan aku pusat perhatian. Sama sekali kondisi yang tidak ingin aku alami sebelumnya. Dahiku sudah berkeringat, mengucur. Badanku tiba-tiba saja mengalami kenaikan suhu secara drastis, menggigil. semua tulang terasa lemas dan lidahku kelu. Ini akan menjadi pengalaman paling tidak akan terlupakan dalam sejarah hidupku kelak.

Aku lihat ada sosok Putri yang sedang berdiri tenang disamping kanan direktur. Yah, dia menjabat sebagai sekretaris yang paling manis yang direkturku punya. Beruntung sekali bukan? Aku bersyukur karenanya. Dia tersenyum ke arahku, seolah ingin memberi semangat. Setelah itu koordinator mempersilahkanku untuk melakukan presentasi. Dengan perasaan yang masih bimbang, mataku mengembara ke seisi ruangan. Tidak ada tanda-tanda dari Roy. Padahal, Artikel ini seharusnya adalah tugas kita berdua. Tapi, dia dengan santai dan tanpa rasa bersalah lepas dari semua tanggung jawabnya. Dengan sedikit bad mood, aku manggut-manggut saja, sambil mencolokkan flashdisk ke laptop. Tadi subuh aku memaksa otakku untuk bekerja kilat. Lalu, artikelku terpampang di layar besar itu.

Bissmillah...

Quote:


Alhamdulillah.

Aku mendesah ragu. Tepuk tangan mulai riuh memenuhi ruangan.
Setelah beberapa saat artikel last minute action-ku terpampang dilayar. Entah perasaan apa yang seharusnya menetap dalam dada ini. Jujur saja, ini adalah langkahku yang paling idiot. Kesuksesanku kali ini tidak dapat membuatku bahagia, sama sekali tidak ada senyum yang tersungging pada sudut bibirku. Sunyi menyelinap diantara keramaian. Mataku mengudara. Aku lihat Putri bertepuk tangan dengan senyum yang begitu sumringah, itu satu-satunya hal yang dapat membuatku tersenyum sejenak saat itu.

Terkejut.

Dengan cepat sudut mataku menangkap sosok Roy, berdiri lunglai dipojok ruangan, mukanya menampakkan kesedihan yang begitu dalam. Kekecewaan jelas ada disana. Seketika semua keberanian ini menciut. Mengecil. Seperti koloni semut yang ditumpahi air samudera. Lenyap dalam seketika. Rasa malu mulai mengahantuiku dengan beribu alasan pahit.

Ironi!

Idealis yang tergadaikan rasa gengsi. Macam sampah yang berserakan. Aku telah menodainya. Rasanya tidak akan ada yang dapat menebus keteledoranku kali ini. Aku sudah membahayakan mental seorang pemuda malang itu. Hot news yang akan membuat perusahaan ini untung besar. Materil.

Seisi ruangan terlihat seperti zombie-zombie yang sedang kelaparan. Lapar pengakuan. Lapar kekuasaan. Kelaparan yang bersumber dari sifat hawa nafsu manusia. Condong ke arah keduniawian dan parahnya aku mulai masuk dalam perangkap mereka, tertekan seperti dipaksa menjadi bagian dan salah satu dari mereka. Idiot, Diana. Aku mengutuk sebisaku.

Astagfirullah. Maafkan.

Aku memejamkan mata. Merasa terlalu penat.

I think i’m giving up on this...
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
Diubah oleh feymega24

Buat silent reader, boleh dong tunjukin taring kalian. menurut kalian. ceritanya lanjutin jangan nih? Hehe
emoticon-Pelukemoticon-Mewek


Spoiler for Bab 2; episode 3:


Quote:


Aku menelan ludah. Menatapnya serius.

Sudah kuduga, orang yang pertama kali akan membuatku merasa paling bersalah adalah monster terompet ini lagi. Raut wajahnya mencibir. Mata kita bertemu dengan sadis. Ada sekat kebencian diantaranya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, aku mengaku kalah dihadapannya.

Aku membisu.

Quote:


Wajahnya memerah. Nadanya meninggi. Tatapannya marah. Kenapa dia sebegitu kecewanya? Setauku dia itu perfeksionis bahkan cenderung kompetitif dan visioner. Itu bukan hal buruk. Tapi, citranya dalam divisi sudah tidak dapat diragukan lagi. Dia akan melahap segala macam berita selagi itu membuat karirnya untung. Sekarang malah terlihat sebaliknya. Seakan-akan aku menjilat air liurku sendiri. Aku lebih tidak terpuji dari semua yang telah aku pikirkan soal Roy selama ini.

Angin berembus cukup ganas sore ini. Jam pulang hampir tiba. Ruangan mulai kosong, semua karyawan satu persatu sudah memutuskan untuk pulang. Tinggal aku dan Roy yang sedang terpatung di layar laptopnya. Suasana mulai kikuk. Lampu-lampu dengan perlahan padam, hanya lampu kecil yang menerangi ruangan kita. Tidak ada gerakan dari Roy. Aku mulai sedikit khawatir lalu melirik padanya. Tangan kanannya memegangi mata dan tangan satunya memegang flashdisk.

Aku mencoba menghampirinya dengan perlahan, berdiri disampingnya. Tidak mungkinkan kalau dia sedang menangis? Cemen. Disaat-saat seperti ini masih saja ada pikiran-pikiran negatif yang bersemayam. Mencoba membuang semuanya perlahan.

Quote:


Aku menyesal telah memanggil namanya dengan begitu lembut. Setelah ini wajahku harus menerima sedikit tamparan dipipi. Memalukan sekali. Dia bergerak dengan hati-hati. Menyerahkan flashdisk-nya padaku setelah mengusap sedikit sudut matanya. Menangis? Entah.

Quote:


Quote:


Quote:


Langit seakan runtuh. Roboh menerpa ubun-ubunku. Dengan sekali tancap, berharap semuanya ini hanya mimpi buruk. Mataku terbelalak. Hatiku sakit. Bodoh, Ana!

Quote:


Seenak jidatnya saja dia berbicara seperti itu. Aku moved on dari seorang Toni Brawijaya? Aku tidak percaya tahayul!

Quote:


Intonasi yang terlalu gegabah. Dia pasti tidak akan percaya dengan perkataanku itu. Dia tertawa geli. Aku mengepalkan flashdisk pada tanganku dengan erat, aku yakin tanganku sudah memerah dibuatnya. Panas.

Putri menghampiri kubik ruangan kita dengan jalannya yang anggun. Rambut sepundaknya terurai rapih. Melihat matanya yang teduh membuat hati ini sedikit tenang. A walking enigma adalah julukan lain untuknya. Dia tersenyum padaku, tunggu sebentar. Aku koreksi. Dia tersenyum pada kita. Aku dan Roy sedang menatap kearahnya.

Quote:


Quote:


Aku menoleh pada Roy, mencibir. Dia tersenyum manis pada Putri, buaya air rawa kau Roy!

Mereka saling balas membalas senyuman. Heran sekali rasanya melihat mood laki-laki itu bisa berubah dengan cepat.

Quote:


Quote:


Putri cuman manggut-manggut sambil tersenyum tulus. Situasi yang terlalu menyebalkan. Tapi, bagaimanapun juga perasaan Putri harus aku jaga. Aku tidak bisa terus bersikap egois.
Quote:


Salah satu pertanyaan yang tidak bisa disanggah dengan hanya teriakan kata ‘tidak!’

Aku mengangguk malas. Berjalan terlebih dahulu. Meninggalkan mereka berdua dibelakang, kudengar mereka terus-menerus memanggilku. Sayup-sayup suara mereka akhirnya hilang. Aku penasaran dan menoleh kebelakang. Ternyata jarak kita sudah cukup jauh, sekitar 2 meter.

Aku melihat Putri memberikan sesuatu pada Roy. Matanya berbinar penuh makna. Aku tidak sanggup untuk menggagalkan bahagianya itu. Aku berpura-pura tidak tahu saja. Sesekali suara tawa mereka terdengar. Lalu sayup kembali. Perjalanan dari kantor ke halte bis kali ini menjadi perjalanan yang begitu lambat. Membuatku ingin lenyap saja dari situ.

Semakin lama kupikirkan apa yang sedang terjadi dengan perasaanku, situasi ini semakin liar dan gelap. Begitu memilukan mengingat pengalaman malam ini. Ada gejolak yang aneh dalam diriku. Tapi, ini mungkin hanya spekulasi belaka.

Akhirnya, kami tiba di halte bis. Seperti pelari marathon yang tiba digaris finish. Lega.

Quote:


Quote:


Quote:


Semilir angin malam kali ini cukup kencang, padahal baru selesai Isya. Aku belum shalat, sepertinya air wudhu akan membuatku tenang kembali. Kita duduk bertiga dibangku halte, memperhatikan bis-bis yang lewat. Siapa tahu memang bis yang akan kita tumpangi tiba. Beberapa menit berlalu dengan senyap. Menuai pujian dari bintang-bintang, betapa mencekamnya situasi seperti ini. Hanya ada kita bertiga, untung saja Putri duduk ditengah, auranya sedikit demi sedikit mulai merdu.

Senyum Putri seakan menyibak kegelapan. Roy menatapku. Matanya melacak. Ada sebuah teka-teki disana. Aku keheranan. Orang paling logis pun sesekali bisa tertipu. Setidaknya salah satu dari kita bertiga ada yang merasa senang, itu juga sudah merupakan bentuk prestasi, karena momen seperti ini terlalu langka terjadi.

Aku pikir, Roy dan aku memiliki perasaan yang sama mengenai situasi kali ini, yaitu kikuk. Sedangkan kenyamanan hanya dimiliki oleh Putri seorang diri. Entah dia peka atau tidak, apa hanya ingin membuat suasana sedikit meleleh dan rasa kikuk ini jadi memuai...

Bis pun tiba.

Situasi didalam bis tidak jauh berbeda. Tapi, kali ini kita bisa mengobrol selaras. Sesekali memunculkan guyonan yang nyeleneh. Namun, piala kali ini tetap didominasi oleh Roy. Dia memang pembicara yang ulung. Akupun mengalah saja. Membiarkan mereka berdua asyik berbincang sambil beberapa kali tertawa. Tak sadar, aku masih memegang flashdisk ditanganku. Lalu mengepalkannya erat-erat. Masih begitu penasaran mengenai isi yang berada didalamnya.

Aku larut dalam diskusi dengan diriku sendiri lagi.

Akan seberapa mengenaskannya diriku besok? Dari sekian banyak Polisi, kenapa harus dia yang menjadi tim investigator kasus Jaka dan Ahmad. Pepatah bilang, dunia memang tak selebar daun kelor. Namun, itu tidak berlaku padaku. Dunia bahkan lebih kecil dari itu. Jika dunia saja sekecil itu, bagaimana nasibku? Sekerdil apa jadinya. Takdir seperti sedang menertawakan kemalanganku. Disaat-saat seperti inilah, kata-kata guru pengajianku mulai mendengung kencang ditelingaku. “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (Q.S At-taubah ; 40).

Hati ini mulai berdamai. Pikiran mulai berjalan dengan santun. Bis malam ini begitu syahdu. Mungkin karena aku mengingat Allah. Ini adalah titik kelemahanku, menyadarkan diri mengenai keberadaan bantuan Allah S.W.T adalah titik balik segalanya bagiku. Dalam keadaan terjepit sekalipun. Bersyukurlah.

Bis berhenti tepat di gang kosanku.

Putri menepuk pelan pundakku. Ada rasa khawatir dalam dirinya, terlukis dari raut wajahnya. Tanpa basa-basi aku turun dari bis. Tak menunggu mereka. Suara desahan Putri terdengar begitu nyaring. Api ini harus terpadamkan oleh air wudhu. Setibanya di kosan aku langsung segera shalat. Putri sedang datang bulan. Jadi dia absen dulu.

Aku membereskan shalatku yang tadi sengaja aku panjangkan kuantitas waktunya, tidak seperti biasanya. Supaya terhindar saja dari percakapan mereka. Mengulur waktu sebisa mungkin. Suara tawa riuh diruangan tengah. Kosanku cukup luas. Layaknya rumah biasa saja. Dengan dapur, kamar, toilet dan ruang tengah untuk nonton televisi. Corak cat yang minimalis membuat kosan ini terkesan mewah. Padahal, kami membayar tempat senyaman ini dengan harga yang relatif terjangkau.

Makan malam sudah tersedia di ruang tengah. Tertata rapi diatas meja kecil. Kami makan sambil duduk dilantai ubin dinginnya.

Hening sejenak.

Kemudian Roy pamit untuk shalat, tak lama berselang dari itu dia kembali ke ruang tengah.

Makanan yang dimasak Putri memang selalu enak. Aku mencernanya dengan perlahan dan ragu-ragu. Melihat ekspresi Putri dari semenjak di kantor sampai sekarang, senyum yang tidak pernah lepas. Dia bahagia sekali. Mungkin, karena ada Roy disini. Aku merasa Roy selalu mencuri pandang terhadapku. Membuatku semakin tidak nyaman dibuatnya. Biarlah, lupakan saja. Rasa lapar selalu menjadi pemenang. Akhirnya, kami menyelesaikan makan malam hari ini dengan aman. Aku memandang ke luar jendela yang terbuka. Bulan menyinari tepat ke dalam rumah ini. Sinarnya meledek.

Quote:


Quote:


Quote:


Aku mendengarnya dengan geram. Memaksa diri untuk terus bersabar dan bersabar lagi.

Quote:


Aku tidak keberatan dengan itu semua. Yang aku butuhkan saat ini hanyalah laptop untuk flashdisk yang sekarang sudah aku simpan di atas meja, dikamar.

Putri mengantarnya sampai pintu. Memberi dia ucapan selamat malam yang manis. Bergumam ‘hati-hati dijalan’ padanya. Setelah beberapa saat, Putri berjalan kembali ke meja makan. Duduk disampingku.

Quote:


Quote:


Dia diam.

Quote:


Here we go again. Dia dengan hal-hal yang sederhana itu lagi.

As long as you happy, Put.

Kita membereskan semuanya, aku kebagian tugas mencuci piring-piring tadi. Putri pamit untuk tidur duluan.

Setelah semuanya beres. Aku buru-buru membuka laptop dan mencolok flashdisk-nya, ceroboh. Tergesa-gesa. Rasa penasaran ini begitu besar.

Tiba-tiba muncul hasil otopsi mayat Alex, beserta barang bukti yang tidak aku lihat sewaktu dipersidangan waktu itu.

Gambar CCTV lapang Taman Anggrek.

Ada notes yang bertuliskan ‘Baca!”

Ketika membacanya, aku terkesiap. Mataku membulat seperti bulan purnama. Terpaku pada layar seutuhnya. Merasa dipermainkan oleh keadaan.

‘Ini adalah beberapa barang bukti dan background dari pelaku dan juga korban yang sengaja disembunyikan pihak polisi. Entah berlandaskan motif apa. Tapi, ada salah satu polisi yang bersedia membantu kita untuk mencari tahu apa dan kenapa semua ini begitu membuat para penguasa ingin ikut campur. Pelajari semua dengan baik-baik. Jangan lupa besok kita menemui mantan terindahmu, Jam 9 pagi. Teng. Bersikaplah profesional!’

Bam!

Sensasi yang begitu bersaut-sautan dalam diriku. Pada satu sisi aku sangat tidak sabar untuk ikut andil dalam penyelidikkan rahasia terhadap kasus ini. Tapi, pada satu sisi yang lain diriku menolak keras untuk menemui Toni. Orang yang sudah membuat duniaku terasa hambar. Orang yang sudah membuat hari-hariku kelam dan aku memutuskan untuk tak percaya lagi akan cinta sejati.

Tapi, benar apa yang Roy katakan. Aku harus bersikap profesional didepannya. Dulu, aku adalah orang yang sudah menyia-nyiakan kasih sayangnya. Sekarang karma sudah menuntut balasnya. Aku sudah belajar dari kesalahan.

Berdeham.

Aku menyimpan laptop dan flashdisk ditempat yang aman. Ini adalah bukti berharga yang harus aku simpan layaknya sebuah harta karun. Ngomong-ngomong soal bukti, aku masih memperhatikan Pak Surya. Gelagatnya makin mencurigakan. Banyak sekali dia menerima telepon dari orang luar selain yang bekerja di Records.

Semoga saja semua dugaanku tidak benar-benar terjadi.

Tidak tega rasanya melihat ekspresi kecewa direktur kalau tahu anak buah kesayangan yang selalu dia banggakan itu mempunyai niat jahat terhadapnya dan nasib Records.

Sudahlah. Aku membutuhkan istirahat.

Besok akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan.

Mental. Siap. Allah bersamaku...

profile-picture
profile-picture
kutrex dan diadem01 memberi reputasi
Tinggalin jejak dlu mbak, baca nanti emoticon-Big Grin
Quote:


Makasih agan emoticon-Cendol Gan
bacaan lumayan berat nih


btw semangat nulisnya emoticon-Toast
Quote:


Haha makasihhhh agannn emoticon-Cendol Gan
Quote:


Sippp....lanjutkan sist


Usahakan batasi dalam menuliskan identitas...stalker kaskus ngeri ngeri jagonya
Diubah oleh sicadelllll
Quote:


Makasihhh banget loh gan, atas infonya. Tapi, belum ngerti nih cara nyembunyiin-nya hehe. Terlanjur di isi emoticon-Cendol Ganemoticon-Mewek
Quote:


Kalo menurut sista kontenya aman gk usah dirubah gak apa tapi kalo mau dirubah tinggal edit post aja....
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di