alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Lebih serius melawan HIV/AIDS
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c0a49dce052275b6c8b4568/lebih-serius-melawan-hiv-aids

Lebih serius melawan HIV/AIDS

Lebih serius melawan HIV/AIDS
Ilustrasi: HIV/AIDS fenomena gunung es
Penanggulangan HIV/AID menuntut perhatian lebih serius. Jika tidak ancaman ledakan jumlah ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) akan terjadi.

Program bersama PBB untuk penanganan kasus HIV/AIDS (UNAIDS) menyatakan Indonesia menjadi negara tertinggi kedua untuk kematian penderita AIDS dan berada di peringkat ketiga tertinggi untuk jumlah pengidap HIV di kawasan Asia Pasifik.

Penyandang AIDS (Acquired Immunie Deficiency Syndrome) adalah orang yang terkena HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penderita akan mengalami penurunan kekebalan tubuh. Kematian hanya tinggal sejengkal bila penanganannya tidak memadai. Penyakit apa pun bisa fatal bagi ODHA karena tubuh tak lagi memiliki imunitas.

Data kematian akibat AIDS yang dilaporkan di Kementerian Kesehatan dalam 10 tahun terakhir memang berkencenderungan menurun. Terendah pada 2010, sebanyak 145 orang; Tertinggi pada 2012, sebesar 1.900 orang; Pada 2017 menjadi 948 orang.

Sementara data pengidap HIV angkanya mengalami lonjakan yang berarti dalam 10 tahun terakhir. Jika pada 2007 di Indonesia hanya ada 6.046 orang, pada 2014 jumlahnya sudah meningkat menjadi 32.711 orang. Sedang pada 2017 pengidap HIV sudah mencapai 48.300 orang.

Sedang data pengidap AIDS termasuk fluktuatif. Pada 2007 Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 4.872 pengidap. Tahun 2013 mengalami lonjakan tinggi, menjadi 12.214 orang. Namun pada 2017 menurun menjadi 9.280 orang.

Virus ini juga tidak mengenal batas usia. Penderitanya, sebanyak 35,3 persen berusia 20-29 tahun; 34,9 persen berumur 30-39 tahun; 14,9 persen berusia 40-49 tahun; 7,2 persen berumur di atas 50 tahun; dan 5 persen berusia 5-19 tahun.

Yang harus menjadi perhatian lebih serius adalah populasi HIV/AIDS. Bisa dibilang dari Sabang sampai Merauke tak ada wilayah yang kalis dengan virus pelumpuh kekebalan tubuh manusia ini.

Bila dipetakan dengan perbandingan penderita AIDS per 100 ribu penduduk, maka provinsi Papua menjadi yang tertinggi, yaitu 620,56 orang. Papua Barat menempati urutan kedua dengan 216,46 orang; Bali 117,23 di urutan ketiga. DKI di urutan keempat dengan 76,54 orang. Sedang Kepulauan Riau di urutan berikutnya dengan 66,65 orang.

Harus diakui, akurasi data tersebut mesti terus dilihat secara skeptis. Bukan rahasia bahwa potret penderita AIDS seperti fenomena gunung es. Hanya terlihat permukaannya. Kita tidak pernah tahu jumlah sesungguhnya.

Banyak orang tidak berani menghadapi kenyataan ketika mengetahui dirinya tertular HIV. Penyebabnya pun kompleks. Rasa bersalah dan malu misalnya.

Juga, mitos dan stigma negatif bahwa HIV/AIDS adalah kutukan Tuhan; penyakitnya kaum homo seksual; penyakit pembawa petaka bagi lingkungan sekitar, sehingga penderita mendapat perlakuan diskriminatif, bahkan dikucilkan dan diusir dari lingkungannya.

Perlakuan diskriminatif terhadap ODHA, masih sering terjadi di berbagai tempat. Diskriminasi tak hanya dilakukan oleh masyarakat, tapi juga oleh aparat negara.

Sekadar contoh, Institute for Criminal and Justice Reform (ICJR), melaporkan beberapa waktu lalu, di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, ada tiga anak dengan HIV didesak keluar dari sekolah dan bahkan diusir dari kampung halamannya. Masyarakat khawatir kalau mereka akan menularkan HIV kepada anak-anak lain.

Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap HIV/AIDS memang menjadi persoalan krusial yang harus lebih serius diatasi, baik oleh pemerintah maupun komunitas. Banyak orang yang masih percaya bahwa HIV bisa menular melalui kontak fisik, bersenggolan, bersalaman dengan penderita misalnya. Juga bisa menular melalui gigitan nyamuk, bahkan ngobrol dengan penderita.

Edukasi bagaimana HIV menular dari satu orang ke orang yang lain mesti dilakukan lebih intensif ke semua lapis masyarakat. Publik mesti paham bahwa HIV hanya menular melalui hubungan seksual berganti-ganti pasangan, jarum suntik, transfusi darah, atau ibu penderita HIV kepada anak yang dikandungnya.

Tanpa pemahaman yang memadai, stigma negatif terhadap ODHA akan terus berlangsung, begitu pun perilaku diskriminatif. Meski, kegiatan pendidikan dan sosialisasi selama ini sudah dilakukan.

Berbagai persoalan yang bakal dihadapi oleh ODHA, membuat orang tak berani mengakui kondisi sesungguhnya ketika ia dinyatakan positif terkena HIV. Menyembunyikan statusnya ini bisa berakibat fatal buat dirinya sendiri dan orang lain.

Fenomena ODHA bersembunyi dari kenyataan ini, sesungguhnya menjadi salah satu sebab penyebaran HIV/AIDS tak terditeksi dan terkendali. Korbannya adalah orang-orang dekat, yaitu keluarganya.

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan penyandang AIDS terbanyak justru ibu rumah tangga, yaitu sebanyak 14.721 orang. Para ibu ini boleh jadi tertular HIV dari suami yang menyembunyikan statusnya.

Itulah sebabnya tema hari AIDS Sedunia ke-30, bertema Know Your Status. Kenali statusmu, menjadi sangat penting utamanya untuk orang yang punya risiko tinggi terhadap HIV. Semisal orang yang suka berganti-ganti pasangan seks, juga pecandu narkoba yang bergantian memakai jarum suntik.

Memang untuk mengetahui seseorang terjangkit HIV bukan hal yang sederhana. Salah satu jenis tes HIV yang umum dilakukan adalah VCT (voluntary counseling and testing). Yaitu serangkaian tes yang memakan waktu hingga 90 hari, untuk mengetahui seseorang positif atau negatif mengidap HIV.

VCT bersifat rahasia dan sukarela, yang berarti keputusan untuk mengikuti tes sepenuhnya sangat pribadi. Tidak bisa orang tua memintakan VCT untuk anaknya, atau sang istri minta VCT untuk suaminya misalnya.

Infeksi HIV pada tahap awal tidak memunculkan gejala yang jelas sehingga seseorang bisa saja tidak menyadari ia sudah terkena HIV. Kejujuran pada diri sendiri, akan mendorong orang yang berisiko tinggi terhadap HIV untuk melakukan VCT.

Setelah mengenali status, juga harus berani terbuka terhadap keluarga dan orang di sekitarnya. Mereka, semestinya bisa menjadi bagian penting untuk mendukung ODHA mendapatkan perawatan dan pengobatan yang semestinya.

Perawatan dan pengobatan lebih dini terhadap ODHA, tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup ODHA, tapi juga bisa mencegah penyebaran HIV kepada orang lain.
Lebih serius melawan HIV/AIDS


Sumber : https://beritagar.id/artikel/editori...elawan-hivaids

---

Baca juga dari kategori EDITORIAL :

- Lebih serius melawan HIV/AIDS Menekan korupsi legislatif, merawat kepercayaan publik

- Lebih serius melawan HIV/AIDS Mana strategi pengelolaan sampah menyeluruh?

- Lebih serius melawan HIV/AIDS Apakah KNKT gentar menyelidiki jatuhnya pesawat PK-LQP?

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di