alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Cetak Sawah Jangan di Rawa
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c0a3787dbd7703e2a8b456a/cetak-sawah-jangan-di-rawa

Cetak Sawah Jangan di Rawa

Spoiler for Einstein :


Meningkatnya permintaan pangan, menuntut sektor pertanian kita meningkatkan produksinya. Bisa dengan intensifikasi, atau memperbanyak frekuensi penanaman atau mencari varietas padi yang bisa memproduksi lebih banyak. Atau bisa juga dengan cara ekstensifikasi, atau memperluas wilayah penanaman padi.

Rupanya cara terakhir ini yang dirasa paling menjanjikan oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Sejak 2015 lalu, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman meluncurkan program cetak sawah, yang nilai anggarannya hampir mencapai Rp4,1 triliun.

Berselang tiga tahun berjalan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) malah melansir data yang berkebalikan. Alih-alih luas lahan pertanian kita bertambah, malah terjadi penyusutan. Jumlah sawah berkurang, karena terjadi alih fungsi lahan menjadi hunian, perkantoran, atau pabrik.

Kementan juga sepertinya tidak mau kalah cepat dengan laju alih fungsi lahan. Tahun ini, Mentan Amran Sulaiman menggagas rencana cetak sawah dari lahan rawa.

Rencana ini terdengar sebagai terobosan. Tapi sebelum dilaksanakan, kontroversi sudah kadung bertebaran. Para pegiat lingkungan mengingatkan Kementan untuk menerapkan prinsip kehati-hatian dini, yang juga dikenal dalam UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Terutama lagi, belajar dari pengalaman terdahulu.

Karena pada 1995, Presiden Soeharto pernah punya program serupa. Yakni memanfaatkan lahan gambut untuk areal tanaman pangan. Itu diatur melalui Keppres No. 82 mengenai Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG)

Tapi sayangnya, satu Juta Hektar di Kalimantan Tengah, tidak berakhir mulus, bahkan hampir setengah dari 15 ribu keluarga transmigran yang dahulu ditempatkan pada kawasan tersebut, meninggalkan lokasi.

Pemanfaatan lahan rawa tandasnya harus diletakkan secara hati-hati. Kemampuan ekosistem lahan gambut atau rawa, tidak bisa dipandang terpisah-pisah. Menurutnya, fungsi dan dampaknya terhadap ekosistem dan produksi pangan harus dipertimbangkan secara matang.

Pada zaman Soeharto itu, proyek lahan gambut satu juta hektar berakhir dengan kegagalan. Mungkin saat itu belum ada pihak yang sadar atau mengingatkan pemerintah bahwa Rawa gambut merupakan ekosistem esensial yang terbentuk jutaan tahun. Bukan hanya memiliki fungsi hidrologi, tetapi juga sebagai penyimpan karbon, jika rusak maka akan menyebabkan perubahan iklim. Dan pada akhirnya perubahan iklim akan berdampak pada produksi pertanian.

Berkaca dari pengalaman masa lalu itu, semoga kali ini upaya cetak sawah di lahan rawa, bisa terlaksana dengan penuh pertimbangan. Jangan sekadar kejar setoran, demi cetak sawah sebanyak dan seluas-luasnya.

Sumur

Spoiler for Soeharto :
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
bagus nih berita memberi wawasan kesalahan kita membangun perumahan dan sawah diareal rawa / lahan gambut yang merupakan warisan alam sejak jaman dahulu untuk keseimbangan ekosistem emoticon-Wagelaseh
Cetak Sawah Jangan di Rawa
Balasan post adoeka
Quote:

Agung sedayu tuh juaranya
dipik bayak rawa jd ruko dan rumah
Lulusan ipb nuh, bikin penelitin cara bikin rawa jadi sawah, dengan biaya seminim mungkin.
Misalnya dengan ditanami enceng gondok.
Balasan post dukun..beranak
Quote:


bukan sedayu saja sih terlalu banyak lahan rawa bisa dibangun perumahan di kota kota besar oleh cukong pengembang dan juragan tanah , pada ga mikir dampak ke depan untuk warga lain dan kondisi lingkungan di masa depan , PR ini emang segera diselesaikan oleh semua capres yang berhasil tembus di 2019 emoticon-Wagelaseh


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di