alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Bahas Keberhasilan Pemimpin, Ferdinand Tertawakan Dedi : Agak Menghiperbola Jokowi
2.6 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c095320d675d4413b8b4569/bahas-keberhasilan-pemimpin-ferdinand-tertawakan-dedi--agak-menghiperbola-jokowi

Bahas Keberhasilan Pemimpin, Ferdinand Tertawakan Dedi : Agak Menghiperbola Jokowi

TRIBUNWOW.COM - Membahas keberhasilan pemimpin, Ketua Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf daerah Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menilai Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) memiliki gaya kepemimpinan yang humanis.

Dilansir TribunWow.com dari Mata Najwa, Trans7, Rabu (5/12/2018), Dedi menuturkan Jokowi terlalu dekat dengan rakyat hingga seperti tak ada jeda.
"Yang pertama pak Jokowi memiliki gaya yang sangat humanis, menyetarakan lapisan masyarakat dalam seluruh kesetaraan, antara dirinya dengan masyarakat tanpa jeda," ujar Dedi.

Ia juga menuturkan, jika Jokowi tak harus didampingi Paspampres, banyak masyarakat ingin bersentuhan, bersalaman, hingga memeluk Jokowi.


"Andai kata diperbolehkan, tanpa paspampres, mungkin dia sudah berbaur dengan masyarakat setiap hari, mungkin kalau dia bergumul dengan masyarakat kan kasian paspampresnya, harus berjibaku, bagaimana masyarakat ingin bersentuhan, bersalaman, memeluk," ungkap Dedi.

• Kapitra Sebut Banyak Pejabat Diciduk KPK sebagai Prestasi Jokowi, Ini Tanggapan Ferdinand

Dedi pun menilai kedekatan Jokowi itu yang menjadikan Jokowi peka dan cepat merespon kebutuhan Jokowi.
"Itulah dia sangat cepat merespon, apa yang menjadi kebutuhan publik, dan menjadi apa yang menjadi kegelisahan publik. Nah ini yang tidak didapatkan dalam pemerintahan sebelumnya," pungkas Dedi.

Menanggapi hal itu, Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean menuturkan masyarakat ingin bersalaman dengan Jokowi adalah hal yang wajar.

"Saya pikir bang Dedi ini agak menghiperbola pak Jokowi. Apa yang dilakukan itu biasa saja. Tidak ada yang sangat spesial, jangankan presiden, lurah saja ketemu rakyat pasti rakyat minta salaman, minta poto. Apalagi ketemu presiden. Itu bukan keberhasilan seorang pemimpin," ujar Ferdinand sambil tertawa.

• Mengurai Indianisasi Tanah Jawa, Komunitas Pencinta Jawa Kuno Buka Kelas Baru

Menurut Ferdinand, keberhasilan seorang pemimpin itu jika tidak ada masyarakatnya yang mengeluh.
"Keberhasilan seorang pemimpin itu ditandai dengan tidak ada yang mengeluh harga mahal, ditandai dengan tidak ada ini itu segala macam. Itu semacam hal hal tadi itu gimmick semata yang tidak bernilai kebangsaan," kata Ferdinand.

Dedi Mulyadi (Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan)

Lanjutnya, Dedi menyanggah bahwa ada aspek lain yang dipakai untuk menilai keberhasilan seorang presiden.
"Aspek material itu penting, tetapi aspek sosial itu penting. Misalkan begini, apakah suami ke istri cukup kasih makan saja? Tanpa memeluk setiap hari? kan perlu," ujar Dedi.

"Tetapi jauh lebih perlu lagi rakyat kita ini disejahterakan," jawab Ferdinand.

Menurut Ferdinand, warga yang ia temui, mengeluhkan harga bahan pokok tidak stabil.
Keduanyapun memperdebatkan hasil pengamatan yang ditemukan kubunya.
Dedi menuturkan tidak menemukan ketidakstabilan harga dilapangan, sedangkan Ferdinand mengklaim banyak pedagang yang mengeluh harga bahan pokok yang tidak stabil.

• Ramalan Zodiak Jumat 7 Desember 2018: Gemini Abaikan Keraguanmu, Leo Hindari Perselisihan

Sebelumnya, kedua kubu pendukung capres ini juga terlibat adu argumen mengenai banyaknya Kepala Daerah tertangkap operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurut Calon Legislatif PDI Perjuangan, Kapitra Ampera, banyaknya kepala daerah yang tertangkap KPK adalah kelebihan Joko Widodo (Jokowi).

"Justru di sinilah hebatnya Pak Jokowi, memberantas korupsi. memberikan distribunsi of power. Dia memberikan kewenangan absolut para KPK kepada penegak hukum," ujar Kapitra.

Kapitra juga mengatakan tak pandang jabatan, siapapun yang terlibat korupsi maupun kasus suap kini ditangkap.

• Kapitra Sebut Banyak Pejabat Diciduk KPK sebagai Prestasi Jokowi, Ini Tanggapan Ferdinand

"Boleh menangkap siapa saja. Ini boleh terjadi komitmen seperti ini. Siapa saja boleh, kalau memang dia korupsi, ditangkap. Mau menteri, DPR dan sebagainy," lanjutnya.

"Ada spektrum tentang korupsi itu berubah. Dulu suap bukan bagian dari korupsi, tetapi sekarang dia masuk kepada undang-undang tipikor (tindak pidana korupsi).Dan itu bagian dari kewenangan KPK. Dan itu sudah diatur di KUHP. Ini yang banyak sekarang itu suap, kalau korupsi sesungguhnya kan merugikan keuangan negara, ini tidak," tegas Kapitra.

Kapitra mengungkapkan bahwa keluarga Jokowi tidak terlibat partai poltik seperti presiden lainnya.
Ia juga menuturkan dalam pemerintahan Jokowi korupsi menurun tajam.

"Kita lihat trendnya, indeks korupsi itu menurun tajam. Orang kalau mau ngasih itu takut-takut. Kalau yang tertangkap itu pas dia lagi sial saja."

Menanggapi pernyataan Kapitra, Ferdinand tertawa dan heran dengan bahasa yang disampaikan Kapitra.

"Saya suka sekali melihat gaya pak Kapitra ini, bermain hiperbola betul memuji pak Jokowi," ujarnya yang disambut tawa.

Ferdinand kemudian menyinggung mengenai skor indeks persepsi korupsi pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang meningkat, namun di pemerintahan Jokowi tidak memiliki peningkatan.

• Minta Media Dukung Dirinya Majukan PSSI, Edy Rahmayadi: Kalau Kalian Enggak Bela Saya, Terus Siapa?

Dari indeks skor indeks persepsi korupsi 2004 sebesar 19 persen menjadi 34, di pemerintahan Jokowi selama tiga tahun di angka 37.

Indeks skor persepsi korupsi merupakan keberhasilan dan keseriusan Lembaga anti korupsi (KPK) dalam memberantas tindak korupsi.

"Yang pertama, indeks persepsi korupsi kita pada tahun 2004, saat pemerintahan berpindah ke SBY kita ada di 19. Begitu pak SBY meninggalkan pemerintahan, 2014, indeks persepsi kita ada di 34, sekarang hanya ada di 37 stagnan 3 tahun."

Kapitra menyindir pernyataan Ferdinand dengan mengatakan, Ferdinand membenci Jokowi karena tak diberi jabatan.
Ferdinand kembali menuturkan, jika kelompok Jokowi berkelit saat disinggung masalah data.

Data yang dikemukakan Ferdinand kemudian dibenarkan oleh Najwa Shihab bahwa skor indeks persepsi korupsi Indonesia memang kini berada di angka 37. (TribunWow.com/ Roifah Dzatu Azmah)


http://wow.tribunnews.com/2018/12/06/bahas-keberhasilan-pemimpin-ferdinand-tertawakan-dedi-mulyadi-agak-menghiperbola-jokowi?page=all

cebong goblog dibantai nasbung emoticon-Traveller
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Semakin yakin dua periode
Joko ini joko itu pret
Smua hanya colian buzzer bayaran
Karena faktanya indikator2 hukum, ekonomi, politik, sosial smua nyungsep kebawah
tawa ngakak
Bahas Keberhasilan Pemimpin, Ferdinand Tertawakan Dedi : Agak Menghiperbola Jokowi
Bahas Keberhasilan Pemimpin, Ferdinand Tertawakan Dedi : Agak Menghiperbola Jokowi
jejak digital sulit dihapus, jadi hati2 lah berucap

Quote:

Pengacara ngomong macam tak ngerti hukum emoticon-Hammer (S)

Kewenangan KPK bukan dari Presiden tapi undang-undang, mau Presidennya siapa juga KPK berwenang nangkep siapa aja termasuk Presiden. Diaturnya bukan di KUHP tapi di UU KPK. Terminologi korupsi baru ada setelah UU tahun 1999, tapi dari jaman baheula suap udah dilarang. Dan salah kaprah kalo dibilang "korupsi sesungguhnya kan merugikan keuangan negara", pengertian dasar korupsi itu penyalahgunaan jabatan buat keuntungan pribadi, gak mesti ada kerugian keuangan negara. Bisa juga merugikan negara tanpa korupsi, misalnya karena kebijakan jelek atau kelalaian.
bikin serem aja emoticon-Big Grin
ini ferdinan nyari duit jangan begitu-gitu banget lah... emoticon-Embarrassment
ada gitu yang mau salaman sama poto2 sama lurah?

gw mah ogah wkwkkwkwwk, dari satu kelurahan berapa persen si warga yang kenal lurahnya?

ferdinand politikus oportunis, di mata najwa dibuka semua sama si yunarto emoticon-Leh Uga

emoticon-Belgia emoticon-Belgia
kalau g jujur, sewaktu SBY jadi presiden, keluhan g ke presiden saat itu adalah terlalu lamban dan peragu, suka mengeluh, terlalu lemah sehingga pasrah di backstab sama koalisinya sendiri, terlalu banyak pembiaran ke kaum radikal sehingga berkembang biak seperti sekarang serta kader2 super elitenya kena cokok KPK
indeks "persepsi" korupsi kok bangga? emoticon-Big Grin

"persepsi" itu artinya asumsi, darimana indeks itu di dapat? ya dari survey, masa korupsi di survey? emoticon-Leh Uga

kmdn ferdinan bilang, tingkat keberhasilan pemimpin itu dari, ini, dari itu? emoticon-Gila

kmdn fakta sebagian besar menteri sby masuk penjara, yg gak masuk penjara bawa lari panci emoticon-Leh Uga

intinya? bacot emoticon-Embarrassment
kubu wowo banyak kunyuknya


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di