alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Ini kesaksian korban dan mantan pekerja proyek di Yall, Nduga.
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c09141e529a45a9528b4571/ini-kesaksian-korban-dan-mantan-pekerja-proyek-di-yall-nduga

Ini kesaksian korban dan mantan pekerja proyek di Yall, Nduga.

Kamis, 06 Desember 2018 — 16:34

Wamena, Jubi – Dua orang yang merupakan tenaga tukang pembangunan SMP dan Puskesmas di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga yang berhasil selamat dalam penyerangan pos TNI di Mbua memberikan kesaksiannya tentang kejadian yang terjadi di Distrik Yal.
Saleh seorang pekerja pembangunan Puskesmas di Mbua mengaku, saat terjadi penyerangan pos TNI di Mbua 3 Desember 2018 pagi setelah terjadi penembakan sejumlah pekerja di Distrik Yall, ia bersama sejumlah anggota dan pekerja lainya mengosongkan pos sekitar pukul 23.00 WP.

“Setelah kami kosongkan pos karena diserang itu, kami lari ke hutan sambil membawa jenazah anggota TNI yang tewas tertembak untuk menyembunyikan jenazah,” kata Saleh kepada wartawan saat di Batalyon 756/WMS, Rabu (5/12/2018).

“Kami menyelamatkan diri dari jam lima pagi hingga jam 7 malam sampai bisa ditemui tim aparat gabungan yang sudah tiba di Mbua. Yang menyerang kita ini ada mungkin puluhan orang,” ujar Saleh.
Seorang saksi lainya, Makbul yang menjadi buruh bangunan SMP Mbua mengungkapkan, pos TNI Mbua diserang mulai pukul 05.00 WP pagi dan terjadi kontak senjata hingga malam hari pukul 19.00 WP.

“Pada saat penyerangan pos TNI itu, kebetulan ada empat orang yang berhasil lolos saat penembakan di distrik Yall yang kabur ke pos TNI sehingga kami diserang,” kata Makbul.

Saat penyerangan pos, kata dia, ada sejumlah pekerja yang terkena tembakan, lemparan batu dan penganiyaan lainnya, ada pula yang pura-pura meninggal dan semuanya berhasil lolos.
“Kita bergantian pikul jenazah sambil melarikan diri, kalau kita tidak lari semua pasti jadi korban,” kata Makbul.


# Pekerja proyek pernah diperingatkan oleh TPNPB #

Sedikit berbeda apa yang disampaikan mantan karyawan PT. Istaka Karya, Nathal. Meski kesaksiannya ini terjadi di 2017, namun pengalamannya selama bekerja sebagai seorang operator alat berat di proyek jalan dan jembatan Habema-Mugi ia sempat mengalami hal-hal yang dianggap rawan juga.
Ia mengaku, sejak bekerja di 2017 dirinya sempat meminta agar pekerja dibuatkan Surat Perjanjian Kerja (SPK) dari perusahaan sebagai pegangan atau jaminan bagi keluarganya.

“Permintaan saya itu sempat ditunda sampai saya akhirnya naik ke lokasi proyek,” kata Nathal.
Ia menceritakan, awal pekerjaan dilakukan memang seluruh karyawan selalu dikawal oleh pihak keamanan minimal enam orang dan setiap minggu bergantian, bahkan mereka pun tinggal satu camp dengan aparat.

“Satu camp dengan aparat saja kita masih sering diganggu, macam pelemparan atau pengejaran. Setelah itu, pak Jhoni Arung (pimpinan proyek) berpandangan jika kita terus dikawal aparat, kita akan diganggu terus karena aparat yang akan dikejar terus, bukan kita pekerja,” ujar dia.

Setelah itu disaat ada pergantian aparat keamanan, katanya, Jhoni menyampaikan ke pimpinan perusahaan maupun keamanan untuk tidak lagi menggunakan aparat tetapi memberdayakan masyarakat lokal untuk turut
mengawal pekerjaan.

“Kita pakai masyarakat di sana, sedikit aman karena bisa beradaptasi tetapi itu tidak bisa menjamin juga karena mereka kadang baik dan kadang keras,” ujarnya.
Namun ia menjelaskan jika selama pekerjaan dilakukan, kelompok bersenjata di wilayah Nduga bersama perusahaan pernah membuat perjanjian bahwa setiap tanggal 24 November mess atau camp harus dikosongkan, karena pada 1 Desember merupakan hari peringatan kelompok bersenjata tersebut.

“Waktu itu sekitar November 2017, dibuat perjanjian bahwa setiap tanggal 24 November mess atau camp harus dikosongkan karena 1 Desember itu perayaannya mereka dan itu diharuskan. Tetapi waktu itu kita turun tanggal 27 November 2017. Walaupun pimpinan proyek di lapangan waktu itu bersikeras bertahan, saya berpikir kalau kami bertahan di sini siapa yang bisa tanggungjawab kami punya nyawa? Sehingga saya bersama rekan-rekan kosongkan mess,” katanya.

Tak lama setelah itu, pasca ada kejadian penembakan operator dan anggota TNI ditembak di wilayah Nduga, ia dan pekerja lainya disuruh kembali naik bekerja. Namun ketika mau ke lokasi proyek, para pekerja ini ditahan oleh aparat keamanan di Mbua dan diminta untuk kembali ke Wamena.

“Kita disuruh naik lagi sama pimpinan proyek dan sebagai anak buah kita ikuti perintah. Sampai disana, kita ditahan sama aparat di Mbua dan disuruh kembali ke Wamena karena akan dilakukan penyisiran. Padahal aparat saja tidak bisa naik, sehingga sampai di Pos Mbua di suruh kembali,” katanya.

Karenanya, ia sangat menyesalkan kejadian di Distrik Yall tanggal 2 Desember 2018. Mengapa di awal Desember para karyawan masih berada di camp proyek, padahal sudah jelas masuk akhir November itu sudah harus dikosongkan.

“Saya kecewa dengan kejadian ini, kenapa sudah Desember masih berada di camp padahal sudah harus dikosongkan karena sudah peraturan dari kelompok bersenjata.
Ia juga mengaku pernah mendapatkan surat dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di wilayah tersebut pada November 2017 yang ditujukan kepada Presiden Jokowi dan pimpinan proyek. Saat itu tiga orang datang ke camp pada malam hari menyerahkan surat yang isinya memerintahkan para pekerja jangan mengganggu kegiatan kelompok bersenjata ini selama bulan desember.

“Mereka bilang karena kami (TPN-OPM) juga tidak akan mengganggu kalian, karena kami ingin merdeka. Karena Desember itu perayaan kami sehingga tolong hargai kami. Tetapi saya baca begitu langsung besoknya kita kabur, dan surat untuk pak Jokowi dibawa pimpinan proyek,” ujar dia.
Lanjutnya, selama bekerja sepanjang 2017 ia sering mengalami gangguan, hingga keluar dari perusahaan PT Istaka Karya April 2018. Ia merasa tidak ada jaminan keamanan, bahkan SPK yang diminta karyawan pun tidak kunjung dibuatkan.

“April 2018 saya berhenti dari pekerjaan, karena saya berfikir tidak pernah ada SPK untuk menjamin pekerja sehingga saya kabur saat mau naik ke lokasi proyek. Walau begitu selain di bulan Desember pun, OPM saat ketemu dengan kami, mereka bawa senjata, tidak pernah kami diganggu,” tutup dia.

https://tabloidjubi.com/artikel-2169...sc3Nd-oe7g88Ao
Ini kesaksian korban dan mantan pekerja proyek di Yall, Nduga.
Diubah oleh noisscat
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Kirim banser segera ke Nduga...
Jadi ngotot ga mau menuruti opm tapi tanpa pengawalan aparat.
Ini sengaja disuruh mati apa gimana pegawainya?
emoticon-Bingung
Ooo, jadi biasanya november desember kagak boleh ada kerjaan toh, itu dulu coy, beda dengan sekarang, bentar lagi pilpres, kerjaan harus dikebut
ngeri nih
Quote:


baca dulu, pake aparat malah bikin mereka suka diganggu, akhirnya pake penjagaan masyarakat setempat, lumayan lancar tapi desember diwanti2 jangan kerja dulu, mau perayaan kemerdekaan, tapi masih kerja, akibatnya kaya sekarang
Gua bingung, bukannya kalo kerjaan infrastruktur dikebut malah bagus, artinya cepat bisa digunakan... koq malah diganggu


Quote:


iya maksudnya setelah ga menuruti opm yang jelas bersenjata kok ga minta pengawalanZ
susah mank berurusan dgn orang2 patah pensilemoticon-Cape deeehh


Quote:


Ya kalo infra cepet jadi masyarakat terbantu simpati sama mereka juga beerkurang.
Makanya ga mau infra jadi.
Quote:


mungkin orang baru gan kaga ngerti, yg cerita opm ngasih surat peringatan kan orang lama yg uda mundur april 2018.
Kayanya pimpinanya nih yg kurang bener, ibarat ngasih anak kecil masuk kandang macan


Quote:


Jhoni Arung gan, die mandornya..
dan termasuk korban yang selamat
Balasan post unicorn.phenex
Quote:


Walau begitu selain di bulan Desember pun, OPM saat ketemu dengan kami, mereka bawa senjata, tidak pernah kami diganggu,” tutup dia.
_____
Jadi siapa nih mau tanggung jawab. Gw sih seneng2 Aja nganjing2in OPM, tapi klo kesaksian pekerja lamanya begitu, jelas kepala proyeknya & perusahaannya teledor masalah nyawa manusia pekerjanya


Quote:


Yang paling tanggung jawab ya orang baru dr sulsel yang ambil gambar pake hp terus ga mau ngaku.
Kalo mau ngaku minimal cuman dia yang mampus.
Susah emang kalo berhadapan sama belecky emoticon-anjing
Quote:


lu juga item blok
ga usah sok putih dah
Quote:

Di kira intel mungkin sama kkb ini, dia ga ngaku ya kelar semua temen2nya. Tp kkb ini tetep salah krn ngebunuh orang dan wajib di bumi hanguskan macem teroris nasbung yg demen meleduk


Quote:


emoticon-Bangga Pake Batik
Balasan post balado.jengkol
Quote:


justru OPM yang GAK MAU adanya pembangunan sama sekali
pembangunan gak ada, masyarakat miskin terus
masyarakat miskin, justifikasi bisa jalan dan rekrutan member baru bisa lancar

Kalau pembangunan berjalan, masyarakat sejahtera
masyarakat sejahtera, udah males maen2 ke hutan lagi
ogah masuk hutan, member baru susah dapat yg udah jadi member lama malah turun gunung serahkan senjata jadi dagang ma bertani aja emoticon-Big Grin
Balasan post balado.jengkol
Quote:


Quote:


Karena, mereka menganggap infrastruktur yg dibangun hanya menguntungkan pendatang maupun investor dan tidak menguntungkan masyarakat papua sendiri,,,

Ane pernah di papua, boro2 orang papua mau bekerja di freeport, perusahaan2 yg ada di papua saja byk diisi sama pendatang,,,

Org papua yg kaya ya ondoafi (kepala suku) dan meskipun ane pernah diancam mau dibunuh sama org asli papua, tapi secara personal org papua itu sbnrnya baik dan ramah,,,
Balasan post yxgk
Quote:

Apa karna itu ada yg klaim yg dibunuh itu bukan warga sipil tapi tentar? Atau cuma pembenaran aja.

Ada tetangga bapak ane yg pernah kerja di Istaka bikin jembatan di Papua, tapi pertengahan tahun kemarin sudah balik dia ke Jakarta dan belum ditugaskan lagi. Bersyukur dia kemarin.
Diubah oleh nofairytale
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di