alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Sempat Lama Perkasa, Rupiah Melemah Rp 14.515/US$ Loyo Lawan Mata Uang Asia
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c0902cee4ef87a80b8b4567/sempat-lama-perkasa-rupiah-melemah-rp-14515-us--loyo-lawan-mata-uang-asia

Sempat Lama Perkasa, Rupiah Melemah Rp 14.515/US$ Loyo Lawan Mata Uang Asia

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah menutup perdagangan hari ini dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di perdagangan pasar spot. Namun tidak hanya di hadapan greenback, rupiah juga loyo kala menghadapi mata uang utama Asia.

Pada Kamis (6/12/2018) pukul 16:00, US$ 1 dibanderol Rp 14.515 di pasar spot. Rupiah melemah 0,87% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Pengaruh eksternal pelemahan rupiah seperti imbas penolakan proposal Brexit di Inggris, sementara di AS investor secara luas mengharapkan Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan pada Desember, menyusul penurunan tajam dolar pada Selasa lalu.

Ekspektasi tetap tinggi untuk bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan berikutnya yang dijadwalkan pada 18-19 Desember untuk menopang mata uang safe-haven. Mata uang paling likuid di dunia menanggung tekanan ke bawah setelah imbal hasil obligasi Pemerintah AS dua tahun dan tiga tahun melampaui hasil lima tahun untuk hari kedua.

Aksi jual luas baru-baru ini di pasar saham dan ketidakpastian terus-menerus atas ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah meningkatkan tuntutan untuk greenback menghindari dari aset berisiko, mengupas beberapa kerugian yang disebabkan oleh kurva imbal balik terbalik.

Baca: Dolar AS Rp 14.500, Investor Ragu AS-China Benar-benar 'Rujuk'

Arus modal keluar yang terjadi di pasar keuangan Indonesia begitu berat membebani rupiah. Di pasar saham, investor asing membukukan jual bersih Rp 335,92 miliar pada akhir perdagangan Sesi I. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,47%.

Sementara di pasar obligasi pemerintah, keluarnya arus modal ditandai dengan kenaikan imbal hasil (yield). Sebab kala yield naik artinya harga sedang turun, sinyal sedang terjadi aksi pelepasan.

Koreksi hari ini sepertinya termaklumkan, karena sebelumnya obligasi pemerintah mengalami reli panjang. Sejak 30 Oktober sampai kemarin, yield obligasi pemerintah seri acuan tenor 10 tahun sudah anjlok 80,8 basis poin (bps). Harga instrumen ini pun melesat 474,8 bps.

Tingginya keuntungan yang sudah didapat membuat investor tergiur untuk melakukan ambil untung (profit taking). Lagi pula, sesekali koreksi dibutuhkan agar pasar tetap sehat dan tidak terjadi penggelembungan nilai aset (bubble).

Baca: Bursa Asia Lautan Merah, IHSG Masih Tahan Banting di Level 6.100

Aksi profit taking ini kemudian berimbas ke rupiah. Profit taking memperparah tekanan terhadap rupiah, yang sudah tertekan akibat kondisi eksternal yang tidak kondusif. Jadi walau profit taking adalah sesuatu yang wajar dan sehat, tapi terjadi pada saat yang kurang tepat.


Salah Sendiri, Rupiah Kemarin Terlalu Kuat

Seperti kemarin, hari ini masih bukan harinya rupiah. Mungkin rupiah juga agak bersalah, karena kemarin-kemarin menguat terlalu tajam. Koreksi pasti akan datang cepat atau lambat, dan itu terjadi dalam 2 hari ini.

Dalam sebulan terakhir, rupiah menguat 3,63% terhadap yen Jepang. Lalu di hadapan yuan China, rupiah melonjak 2,94%.

Kemudian melawan won Korea Selatan, rupiah terapresiasi 3,22%. Sementara terhadap dolar Taiwan, rupiah menguat 4,06%. Sedangkan di hadapan mata uang negara-negara tetangga macam dolar Singapura, ringgit Malaysia, atau peso Filpina, rupiah menguat masing-masing 3,24%, 3,63%, dan 2,69%.

Well, tidak mungkin rupiah menguat terus karena kalau ini terjadi yang ada adalah penggelembungan nilai aset alias bubble. Ketika gelembung itu meletus, dampaknya akan sangat dahsyat.

Oleh karena itu, rupiah memang sepertinya perlu koreksi. Koreksi akan membuat pasar menjadi lebih sehat.

Itu lah mengapa di samping pedal gas pasti ada pedal rem (mau two pedals atau three pedals, terserah). Sebab kalau gas pol terus-terusan bahaya juga, pasti tabrakan.

sumber https://www.cnbcindonesia.com/market...ta-uang-asia/2
Diubah oleh ikardus
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Pengikut mantan penghuni sel gasuka berita ginian emoticon-Ngakak
emoticon-Ngakak emoticon-Wkwkwk
silahkan bung coly ampe lemess
Nasbungtaik suka rupiah naek sedangkan Nastaik suka rupiah turun ..
yang untung besar Spekulan nih

naik turun emoticon-Big Grin
minyak Turun
BBM non subsidi tetap gak turun
tapi kalau Naik diam diam emoticon-Leh Ugaemoticon-Leh Uga
udah gue duga naik turun kek yoyo
Saatnya berburu usd lage emoticon-siul


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di