alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi
2 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c086688a2c06e6c358b4569/reuni-212-kelompok-garis-keras-gunakan-kartu-islam-terhadap-jokowi

Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi

Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi
Posted on December 3, 2018

Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap JokowiReuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi

Sumber: www.theaustralian.com.audhila@digitalvisionpublishing.com
Oleh: Amanda Hodge dan Nivell Rayda (The Australian)

Ulama Islam radikal Indonesia, yang berada di balik desakan untuk memenjarakan mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama karena kasus penodaan agama, telah menyatakan bahwa sangat tidak Islami untuk memilih pihak yang mendukungnya, serangan terselubung pada Presiden Joko “Jokowi” Widodo, pada reuni 212 hari Minggu (2/12). Hal tersebut menyiapkan panggung untuk upaya pemecah-belahan lain yang pahit atas pemilihan presiden Indoensia 2019 yang dipengaruhi oleh politik Islam.


Rizieq Shihab berpidato di depan kerumunan besar, yang diperkirakan polisi “berjumlah ratusan ribu orang,” yang berkumpul di lapangan Monumen Nasional Jakarta Pusat hari Minggu (2/12) dengan pesan yang sudah direkam sebelumnya dari Arab Saudi, di mana dia melarikan diri pada tahun 2017 setelah menghadapi tuduhan makar dan pornografi terkait dengan dugaan pesan teks eksplisit.

Keamanan berlangsung ketat di aksi umum untuk menandai ulang tahun dari apa yang disebut sebagai Gerakan 212, nama yang diambil dari tanggal 2 Desember 2016, waktu perhelatan demonstrasi Jakarta di mana sekitar setengah juta orang menuntut mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama, politisi keturunan China-Kristen yang mengikuti pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017 dan kemudian dipenjara karena kasus penistaan agama.


Polisi tambahan juga dikerahkan ke kedutaan Australia mulai tengah malam pada hari Sabtu (1/12) setelah para pengunjuk rasa, pada unjuk rasa hari Jumat (30/11) terhadap pemindahan lokasi kedutaan Australia di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, menyerukan Gerakan 212 untuk membantu mereka menduduki kantor diplomatik tersebut.


Sementara disebut sebagai reuni aksi non-politik, acara kemarin terlihat jelas sangat partisan karena melibatkan banyak pemain politik di balik kampanye calon presiden oposisi untuk mengalahkan kandidat presiden petahana Jokowi pada pilpres April 2019 mendatang.


Lawan main Jokowi, Prabowo Subianto berbicara kepada hadirin, mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka sementara secara hati-hati menghindari pelanggaran hukum pemilihan. Dia menyerahkan peluang tersebut kepada para ulama seperti Rizieq, yang mengatakan kepada orang-orang yang membawa spanduk untuk Front Pembela Islam pimpinannya serta spanduk kelompok pro-khalifah terlarang Hizbut Tahrir, bahwa sudah waktunya untuk “ganti presiden.”


“Mari kita ubah negara ini dari negara yang penuh dengan orang-orang berdosa dan penista agama, menjadi negara yang diberkati Tuhan. Pesan saya adalah pada pemilihan presiden dan legislatif 2019, haram untuk memilih calon presiden dan anggota legislatif yang didukung oleh partai-partai yang mendukung para penista agama,” secara jelas merujuk pada Jokowi dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP), yang mengusung Jokowi dalam pilpres 2019 dan 2014 sekaligus Ahok dalam pilkada DKI Jakarta 2017 sebelum dijatuhi hukuman penjara. “Mari kita pilih calon presiden yang didukung oleh para ulama.”


Spesialis Hukum Indonesia Universitas Melbourne Tim Lindsey mengatakan bahwa aksi umum itu adalah pengingat akan meningkatnya pengaruh politik Islam di Indonesia dan fakta bahwa kelompok Islam garis keras, meskipun tidak cukup kuat untuk membentuk pemerintahan sendiri, dapat mengatur agenda politik.


“Sekarang, ini adalah fakta politik arus utama Indonesia bahwa tidak ada seorang politikus yang baik yang mampu mengabaikan apa yang dipikirkan oleh para Islamis garis keras tentang isu-isu dan itu adalah warisan dari kampanye Ahok,” kata Profesor Lindsey. “Jokowi sepenuhnya menyadari hal itu, kehilangan rekan sejawatnya yang dekat [dan mantan wakil gubernur] Ahok karena politik agama.”


Baca juga: Opini: Jika Demokrasi Indonesia Bermasalah, Masih Ada yang Lebih Parah


Jokowi mengejutkan banyak orang beberapa bulan lalu dengan memilih sebagai calon wakil presiden Ma’ruf Amin untuk mendampinginya dalam pilpres 2019, seorang ulama yang memberikan bukti menguatkan atas dakwaan terhadap Ahok. Pilihan itu dilihat sebagai upaya untuk menetralkan serangan politik dari kelompok Islam garis keras yang juga menyerangnya pada pilpres 2014 ketika ia pertama kali mengikuti ajang pemilihan presiden melawan Prabowo.


Namun, dosen politik di Universitas Paramadina Jakarta Hendri Satrio mengatakan bahwa jumlah pemilih yang tinggi menunjukkan bahwa taktik itu tidak berhasil. “Ini menunjukkan upaya Jokowi untuk meningkatkan kredibilitas Islamnya dengan memilih Ma’ruf sebagai pasangan cawapres, meyakinkan pengacara Rizieq Shihab untuk beralih posisi, pendiriannya tentang masalah Palestina, dan kebijakan luar negerinya yang tidak berjalan,” katanya.


Sementara aksi 212 kemarin akan memberikan dorongan suara kepada Prabowo, pertanyaannya adalah apakah dia dapat mempertahankan momentum, seperti yang dilakukan Gerakan 212 dengan menyatukan orang-orang Indonesia melawan Ahok menjelang pemilu pemilihan gubernur Jakarta tahun 2017.


“Aksi itu memang menginstruksikan kembali retorika polarisasi ke dalam kampanye kepresidenan dan melemahkan beberapa upaya Jokowi untuk menjangkau seluruh jurang identitas, tetapi tidak menandakan perubahan besar dalam hal kampanye,” kata Ed Aspinall, ahli politik Asia Tenggara di Universitas Nasional Australian. “Kami sudah tahu bahwa kelompok tersebut akan memobilisasi massa di belakang Prabowo, seperti yang mereka lakukan pada tahun 2014. Tantangan bagi Prabowo adalah untuk menjangkau di luar kelompok itu.”


Amanda Hodge adalah koresponden the Australian untuk Asia Tenggara. Berbasis di Jakarta, Hodge telah meliput perang, pengungsi, serangan teror, bencana alam, serta pergolakan sosial dan politik mulai dari Afghanistan hingga Sri Lanka. Hodge memulai karir jurnalismenya pada tahun 1995 di surat kabar Messenger di Adelaide.

https://www.matamatapolitik.com/reun...rhadap-jokowi/

---------------------------

Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi

nggak usah galau, semuanya itu ada masanya!

emoticon-Wakaka
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi
Pas tenggelamkan dan bubar, sebelum radikalisme itu datang.....
habis bahan coli berjamaah


emoticon-Cape deeehh
Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi


Kebangkitan Peradaban Islam Part 2, dari INDONESIA?



Tahun politik, tahun jelang pemilu 2019.
Lah kan udh pakai pak maruf amin masih mewek jg
Balasan post the.commandos
Quote:


padahal dah di kasi 212 sebiji masih mewek
emoticon-Wkwkwk
Ni yg paling berkesan di reuni sableng
Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi
Credit: humor politik
beberapa Minggu ini yang dibahas selalu politik agama.... padahal yang di bela di dukung Islamnya juga ga jelas.... kan aneh
itu bener kata si pengamat
yg hadir dan dukung reuni 212 itu udah dari sananya mendukung paslon No, 02
mau yg dating 13jt juga ga cukup buat menang pilpress.
Tantangannya bagaimana untuk bisa merebut suara di luar itu.

belakangan ini semakin tercipta polarisasi, apalagi karena saling serang baik di medsos maupun di berbagai media.
satu sama lain semakin benci.
pendukung paslon no 1 udah susah buat pindah pilihan, demikian juga dengan pendukung paslon no 2.

Quote:


saya juga bingung gan... kenapa seperti itu... emoticon-Betty
Quote:


Yang penting ganti presiden om
Ormas gak dikasih makan 5 taun itu sesuatu bangetemoticon-Embarrassment
Alumni 212 itu membuat seolah2 umat muslim lain diseluruh Indonesia tidak kaffah keislamannya karena tidak ikut 212 atau mengikuti pandangan politik mereka. Asli gw jijik dengan orang2 yang pakai politik identitas ini, karena yang udah2 produknya ga ada yang bagus, lihat sendirilah contohnya ga usah gw sebut.
Balasan post RVP
Quote:


nah itu dia emoticon-Big Grin
massa wowo mungkin fanatik tapi tetep gak bisa merangkul massa wiwi buat pindah haluan
prediksi ane wiwi tetap menang dengan perolehan suara kurleb spt 2014 emoticon-Big Grin

lagian kumpulin massa di monas bukan hal yang hebat
massa PKS dan HTI (waktu masih legal) bbrp kali bikin acara di GBK ya sampe meluber2
anggap saja skrg dipindah di monas ya sama aja, ttp orang2 nya wowow juga dari 2014 emoticon-Big Grin
Quote:


jelek amat peradabanya. masa cuma turun ke jalan doank
Ngahaha tentara kok lawan saudaranya sendiri, pakedongotak... emoticon-Peluk

Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi

Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi

Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi

-media gerombolan siberat + kroni rezim kolam cetek-


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di