alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Food & Travel / ... / Catatan Perjalanan OANC /
[CATPER] Pendakian Gunung Ciremai (via Palutungan): selalu ada rindu untuk kembali
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c07c1361854f788428b4568/catper-pendakian-gunung-ciremai-via-palutungan-selalu-ada-rindu-untuk-kembali

[CATPER] Pendakian Gunung Ciremai (via Palutungan): selalu ada rindu untuk kembali

Ketika masih menjadi mahasiswa, setiap hari terasa seperti hari minggu. Apalagi di tahun keempat yang mana hanya mengerjakan skripsi. Hari libur bertebaran. Sampai-sampai saya sering lupa tanggal, bahkan hari pun terkadang saya tidak mengingatnya. Hal itu sangat kontras dengan kondisi sekarang. Setelah saya bekerja, saya baru menyadari bahwa HARi kejePIT NASional (HARPITNAS) adalah sebuah anugerah yang langka pada satu tahun kalender. Maka ketika hari itu tiba, saya benar-benar manfaatkannya. Carier yang sudah terlalu lama digantung, kini tiba waktu menjalankan tugasnya.

Berawal dari ajakan Mak Lia untuk mendaki PaGuCi (Papandayan Guntur Cikuray) di Garut, tapi mengingat hanya punya waktu 4 hari, tidaklah cukup jika ingin mendaki ketiganya sekaligus. Kecuali salah satunya saja. Karena PaGuCi batal, akhirnya pilihan jatuh ke Ciremai (lagi). Biasanya saya menolak jika diajak mendaki ke gunung yang sudah pernah saya jelajahi sebelumnya. Namun, Gunung Ciremai adalah pengecualian. Entah mengapa selalu ada rasa ingin lagi dan lagi untuk kembali mendaki ke gunung yang secara administratif terletak di Kuningan dan Majalengka ini.

Ciremai (3078 mdpl) bukanlah gunung yang asing bagi saya. Alhamdulillah, sudah diberi kesempatan beberapa kali untuk mendaki hingga ke pucuknya. Wajar, gunungnya ada di belakang rumah. Bulan September 2018 lalu, saya kembali mendaki Gunung Ciremai via Palutungan bersama tiga orang kawan. Mak Lia, selebgram pergunungan asal Jogja. Egi, sang pendekar dari Bumi Sriwijaya. Dan Hana, pegiat motor trail dari Brebes. Kawan-kawan yang dipertemukan 2 tahun lalu di Ranu Regulo, di sebuah event yang diadakan oleh Aksa7.

Spoiler for Gunung Ciremai dilihat dari belakang rumah saya:


Sabtu sore, Mak Lia dan Egi tiba di rumah saya, Desa Cilimus, kaki Gunung Ciremai. Disusul Hana yang sampai ba’da Maghrib. Beberapa hari sebelumnya, kami sudah sepakat untuk mendaki lewat jalur Palutungan. Meski sebenarnya dari rumah saya sendiri lebih dekat ke Linggajati, hanya butuh 15 menit dengan mengendarai kendaraan bermotor. Akan tetapi, mempertimbangkan kondisi fisik kami dan jalur Linggajati yang memang paling bengis (menurut saya) dibanding jalur lainnya, sehingga pilihan jatuh ke Palutungan. Jalur Apuy tidak masuk opsi sebab berada di kota tetangga, Majalengka.
Esok paginya, kami diantar menuju Basecamp Palutungan oleh sepupu saya. Suasana basecamp cukup ramai, terlihat beberapa rombongan pendaki. Ada yang mengurus simaksi, beberapa sedang memasak, serta ada pula yang sibuk berfoto dengan latar Puncak Ciremai. Setelah mengurus registrasi dan melakukan repacking barang bawaan, kami mulai mendaki.
Seperti gunung-gunung lainnya, perjalanan diawali dengan melewati jalan setapak yang kanan-kirinya adalah ladang milik penduduk setempat. Sesekali kami harus sedikit menepi demi memberi jalan bagi warga yang mengendarai sepeda motor dengan membawa hasil tani. Semangat kami masih membara. Selain tenaga yang masih penuh, pancaran sinar matahari pagi yang hangat seolah memberi energi ekstra bagi kami.

Spoiler for Melewati ladang warga sekitar:


Tak lama kemudian kami tiba di perbatasan antara ladang dan hutan yang ditandai oleh sebuah gapura bertuliskan “Selamat Datang di Jalur Pendakian Palutungan” lengkap dengan patung seekor lutung. Lutung, sejenis kera berbulu hitam ini memang menjadi asal muasal dari Palutungan itu sendiri. Konon, dahulu kala banyak lutung yang hidup di kawasan kaki Gunung Ciremai, sehingga daerah tersebut diberi nama Palutungan.

Spoiler for Gapura Palutungan (dari kiri: saya, Mak Lia, Hana dan Egi):


Spoiler for Tuh, habitat Lutung katanya. Tapi yang di inframe foto bukan yaa:


Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Menembus hutan bersamaan dengan matahari yang merangkak naik semakin tinggi. Beruntung, vegetasi di Gunung Ciremai memang didominasi oleh pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, sehingga paparan sinar matahari tidak begitu terasa panas. Tertutupi oleh pepohonan yang melindungi kami. Inilah salah satu alasan saya menyukai jalur pendakian di Gunung Ciremai atau gunung-gunung lain yang mempunyai vegetasi yang rapat, karena meski mendaki di siang hari akan tetap meneduhkan jiwa dan raga.
 
Medan yang dilalui dari basecamp ke Cigowong alias pos 1 terbilang landai, belum ada tanjakan-tanjakan sadis yang membuat kaki lemas. Akan tetapi jaraknya paling jauh. Kami tiba di Cigowong sekitar pukul 11 siang atau lebih dari 3 jam waktu yang kami perlukan. Cigowong ternyata mengalami beberapa perubahan sejak terakhir kali saya ke sana tahun 2014. Dulu hanya tersedia toilet dan shelter untuk istirahat. Namun kini fasilitasnya semakin baik seiring harga tiket masuk mengalami kenaikan yang signifikan. Selain toilet dan shelter, saat ini sudah dibangun mushala, warung penduduk yang menjajakan makanan, serta tandon penampung air yang bisa digunakan oleh pendaki. Ini hal bagus. Setidaknya kami para pendaki bisa merasakan dan mengetahui HTM sebesar 50K mengalir kemana. Tentu termasuk konsumsi dan piagam.

Kami kembali melangkahkan kaki setelah isoma cukup lama. Target kami adalah Pasanggrahan, pos 6 ini adalah titik yang direkomendasikan untuk mendirikan tenda. Sebab Goa Walet yang menjadi spot favorit pendaki untuk bermalam, kini tidak diperbolehkan lagi untuk berkemah. Berbeda dengan 4 tahun lalu dimana pendaki masih boleh bermalam di pos 8 tersebut. Saya tidak tahu alasan pastinya kenapa. Tapi menurut saya salah satunya soal kebersihan. Tahu sendiri, masih ada saja pendaki tidak bertanggung jawab yang meninggalkan sampahnya di gunung.

Spoiler for Cigowong – Kuta adalah jarak antar pos paling dekat, cukup 30 menit saja:

Spoiler for Kalau Linggajati punya Tanjakan Seruni, Palutungan ada Tanjakan Asoy~:


Waktu menunjukkan jam 1 siang. Masih ada 5 pos lagi. Karena tak ingin kemalaman di jalan, kami pun mempercepat langkah. Pos demi pos kami lalui. Sesekali kami mengistirahatkan kaki sembari membetulkan irama nafas.
Di tengah perjalanan kami sempat diberi tahu oleh pendaki lain bahwa Pasanggrahan semalam lapaknya penuh. Mendengar hal itu, kami sempat mempertimbangkan untuk bermalam di Pos Tanjakan Asoy. Akan tetapi, semakin lama kami mendaki, semakin banyak kami menemui pendaki yang turun. Sehingga kami menyimpulkan bahwa Pasanggrahan akan sepi dan terus mendaki sesuai target kami.

Dan.. setelah perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya kami tiba di Pasanggrahan menjelang waktu Maghrib. Tepat ketika matahari sedang terbenam. Sayang, karena vegetasi di sana rapat, kami hanya dapat melihat sunset diantara sela-sela lebatnya hutan. Kami pun segera mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam. Untuk kemudian tidur, memberi waktu rehat bagi tubuh. Sebab esok harinya kami akan ke puncak dan tentunya mengisi ulang tenaga untuk perjalanan pulang.

Spoiler for santai dulu, bosque:

Spoiler for 'rumah' kami di pasanggrahan:


Pukul 2.30 dini hari kami terbangun oleh alarm yang sudah kami set sebelumnya. Kami akan melakukan summit attack tepat jam 3 dini hari, karena perjalanan dari Pasanggrahan ke puncak masih jauh. Etimasi waktu yang dibutuhkan sekitar 3 jam.
Hana memutuskan tidak ikut mendaki ke puncak. Dia beralasan bahwa ia sudah pernah ke Puncak Ciremai sebelumnya. Ia juga bilang bahwa kondisi tubuhnya yang masih lelah sehingga memilih untuk melanjutkan tidur. Keputusannya sudah bulat meski kami mencoba merayunya dengan segala cara. Baiklah. Kami tidak memaksa jika memang itu pilihannya. Tapi saya jadi merasa tidak enak, karena saya yang mengajaknya untuk ikut pendakian ini.

Kemudian saya, Mak Lia dan Egi berangkat. Diawali dengan do’a, kami pun mulai melangkahkan kaki di malam yang dingin itu. Hanya ada kami bertiga yang mendaki di tengah senyapnya hutan. Hanya ada suara derap langkah kaki, hembusan nafas dan deru angin yang kencang. Semakin tinggi kami mendaki, semakin kencang suara gemuruh angin.

Spoiler for Summit attack!:


Selepas Pos Sanghyang Ropoh, medan yang dilalui semakin terbuka. Pohon-pohon yang menjulang tinggi digantikan oleh vegetasi macam edelweiss dan cantigi. Trek yang ditapaki juga mulai didominasi oleh batuan vulkanik. Ketika tiba di Simpang Apuy, langit yang hitam mulai memudar. Semburat jingga terlihat menghiasi langit. Matahari sedang beranjak naik dari persemayamannya. Dan (lagi) kami tidak dapat menyaksikan momen matahari terbit, karena jika mendaki dari Palutungan atau Apuy, hanya bisa melihatnya dari puncak. Berbeda dengan Linggajati yang memang menghadap ke timur. Selepas Pos Pangasinan alias pos terakhir, pendaki bisa menikmati sunrise karena medannya terbuka.


Spoiler for ditemani awan lenticular:


Dan setelah hampir 3 jam perjalanan, akhirnya kami menginjakkan kaki di Puncak Ciremai! Angin yang sejak awal menemani perjalanan kami, kini di puncak semakin menderu kencang. Sampai-sampai kami harus berdiri dengan tegap jika tak ingin terdorong oleh angin. Berjalan pun harus ekstra hati-hati. Sementara itu kami perlu bersembunyi dibalik batu ketika hendak duduk beristirahat.

Sebetulnya kami ingin berlama-lama di puncak. Meski cuaca sangat cerah, namun angin yang bertiup kencang tak kunjung berlalu. Malah semakin menggila. Seperangkat pakaian hangat yang kami gunakan seolah tak ada gunanya. Pancaran cahaya matahari yang sudah naik pun tak kuasa memberikan kehangatan. Semesta tak mengizinkan kami berlama-lama bermesraan dengan Puncak Ciremai. Demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan, kami pun segera turun.

Spoiler for Puncak & Kawah Ciremai:


Spoiler for Puncak MajaKuning 3078 mdpl!:


Ini bukanlah pendakian pertama saya ke Ciremai dan (semoga) bukan pula yang terakhir. Meski pada kesempatan-kesempatan sebelumnya (via Linggajati) saya selalu berujar tak ingin lagi mendaki Ciremai. Sebab saya selalu dibuat jera oleh jalurnya yang menyiksa itu, jalur yang membuat kaki pegal selama 7 hari berturut-turut. Tapi pada akhirnya, selalu ada rindu untuk kembali ke gunung yang terkenal mistis itu. Sebab Ciremai sangat istimewa bagi saya. Ia adalah gunung pertama yang saya daki, gunung yang mengajarkan banyak hal pada diri ini, gunung yang selalu saya rindukan.

Spoiler for Foto sambil nahan terpaan angin:


Spoiler for Goa Walet:


*Dokumentasi oleh saya, Mak Lia dan Hana

Terima kasih atas waktu dan tempatnya. Kalau berkenan silahkan berkunjung ke blog saya disini untuk cerita lainnya.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
salam kenal gan dari kuningan ujung barat... kapan2 kita kesana bareng
Quote:


Kuningannya mana, gan? Abdi ti cilimus
Quote:


Padabeunghar kang.nu aya kebun raya kuningan.


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di