alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[Cerpen] Ciuman Terakhir (Romance, Slice of life)
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c075307dcd7706a158b4568/cerpen-ciuman-terakhir-romance-slice-of-life

[Cerpen] Ciuman Terakhir (Romance, Slice of life)

Hallo kaskuser semua, mimin dan momod. Ijinkan ane untuk sharing cerita pendek pengalaman hidup dari seseorang yang tidak boleh disebutkan namanya namun ane sudah mendapat ijin untuk share ceritanya dari pihak keluarga yang bersangkutan, kenapa ijin nya kepihak keluarga, bukan ijin dari yang punya cerita langsung, nanti kan terjawab di cerita ini. Langsung aja saya lanjut cerita nya.

Quote:


[Cerpen] Ciuman Terakhir (Romance, Slice of life)

Sipnosis

Yuzu Natsune, 31 tahun bekerja sebagai Hosuto, sebutan untuk laki-laki penghibur yang bekerja di bar. Mengungkap kehidupan Hosuto dengan sisi kelamnya. Pada tahun 2016, malam minggu kedua bulan April ia bertemu dengan seorang perempuan mungil yang datang ke Klub. Perempuan yang baru pertama kali ia lihat. Perempuan bernama Ami. Awalnya, Yuzu ragu karena Ami tidak bisa berbicara bahasa Jepang dan Inggris. Tanpa sengaja, Yuzu berbicara dengan bahasa Indonesia. Ami yang mengetahui Yuzu bisa berbahasa Indonesia, langsung berbinar dan menyatakan perasaannya. Yuzu bingung, bagaimana bisa seorang perempuan asing menyatakan perasaan pada laki-laki seperti dirinya? Ami mengulang kalimat itu sebanyak tiga kali di Klub. Walau makin bingung, Yuzu tetap mengiyakan. Mencoba mendekati Ami, Yuzu membuka pembicaraan. Ada suatu menggajal yang ingin Yuzu buka. Suatu sinyal bahaya yang membuat Yuzu berbalik arah untuk mengenal Ami lebih dalam dan melindungi Ami. Ami membuka identitasnya dengan menunjukan gambar yang ia buat pada Yuzu. Yuzu tersenyum lebar saat menerima gambar buatan Ami. Ia menduga, Ami adalah salah satu perempuan yang sempat menge- chat dirinya via LINE dan mengirimkan gambar pada akhir tahun 2014. Ami mengangguk karena Yuzu mengingatnya. Akan tetapi, sepanjang jam di Klub, Ami hanya terisak membuat Yuzu tak mengerti. Yuzu mencoba menenangkan Ami agar tak menangis lagi. Beberapa hari kemudian, mereka saling mengenal. Lanjut dengan dua minggu setelahnya. Hingga akhirnya, mereka melakukan hubungan yang terlalu jauh.

Sebuah hubungan terlarang antara Ami dan Yuzu di apartemen Yuzu. Saat itu, Ami menangis dan meninggalkan Yuzu. Hari-hari berikutnya, Ami tak pernah menghubungi Yuzu. Bahkan tak pernah lagi datang ke Klub seperti yang biasa Ami lakukan. Teman-teman Yuzu yang mengenal Ami mendadak heran dengan perubahan sikap Ami pada mereka. Yuzu menduga, Ami telah pulang ke Yogyakarta lewat tiket pesawat yang di foto oleh Ami di LINE. Yuzu tak ingin menghubungi Ami dulu. Perasaan bersalah hinggap di kepala sang Hosuto. Yuzu merasa telah menodai hubungan mereka. Setelah itu, tak ada update apapun dari LINE Ami. Sehingga membuat Yuzu kehilangan arah tanpa perempuan yang ia suka. Yuzu memutuskan melupakan Ami, namun tak bisa. Hingga akhirnya dia bermimpi, bermimpi bertemu dengan Ami di suatu tempat yang indah. Ami menyampaikan maksudnya dan permohonan maaf pada Yuzu karena tak pamit. Lalu, Ami menghilang dari pandangan Yuzu dengan pemandangan yang Yuzu lihat berubah menjadi kegelapan. Yuzu menangis dan berteriak sejadinya. Merasa kehilangan…

Yuzu kembali merasakan Ami memeluknya dari belakang dan bicara pada Yuzu agar Yuzu menemui Ami di Yogyakarta dan bekerja di kantor penerbitan Ami yaitu IBC. Yuzu awalnya menolak, namun berbalik arah untuk menepati janjinya bahwa Yuzu serius dengan Ami. Sebulan telah berlalu, Yuzu resmi keluar dari Klub dan pergi ke Yogyakarta dengan status pegawai baru IBC. Setelah sampai dan persiapan semua, Yuzu pergi ke kantor baru untuk hari pertama bekerja menemui Irwan, manajer kantor IBC. Mereka memperkenalkan diri satu sama lain hingga Irwan menunjuk sebuah meja kosong untuk Yuzu bekerja. Yuzu penasaran dengan meja kerja barunya. Saat ia bertanya pada Irwan, Irwan mendadak berubah seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Membuat Yuzu tak mengerti, lalu lebih memilih untuk tak tahu dan melanjutkan kerja. Semakin lama, IBC semakin melebarkan sayap di dunia literasi. Membuat semua pekerja kewalahan termasuk Yuzu. Yuzu masih penasaran apa rahasia yang tersembunyi di balik meja kerjanya? Tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya. Memasuki bulan kedua, ada rasa penasaran pada laci meja yang tak terkunci. Yuzu membuka laci, menemukan sekotak pensil warna dan bingkai posisi tertutup. Yuzu terkejut karena di sanalah ia menemukan foto Ami, orang yang ia suka sekaligus Yuzu cintai. Mas Irwan yang mengetahui, pada akhirnya membuka semua rahasia yang selama ini mereka sembunyikan pada Yuzu.


Mohon komen, kritik dan saran ya gan, biar ane semangat Update emoticon-Toast
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2

Part 1

Mimpi?

Apa yang kalian ketahui tentang mimpi? Mimpi itu adalah sebuah harapan bukan? Di mana ada doa-doa yang terselip sebelum tidur. Mimpi bisa menjadi sebuah tanda yang tak pernah kita duga. Pernahkah kalian merasa bahwa mimpi yang kita alami, kita seperti diperingatkan? Jika iya, sama denganku. Aku Yuzu Natsune, teman-temanku sering memanggil dengan nama Yuduru. Aku berasal dari Osaka berusia 31 tahun. Bekerja menjadi seorang Hosuto, sebutan untuk laki-laki penghibur yang bekerja di bar.

Untuk penampilan, kami dituntut rupawan layaknya pemain film atau tokoh anime. Memakai jas modern, dengan rambut berwarna selain hitam, memakai wangi-wangian, berperawakan kurus dan lembut serta berwajah manis untuk menarik dan merayu pelanggan wanita yang hadir. Pekerjaan yang nista? Aku tak tahu itu. Yang jelas, telah lama aku lakukan selain menjadi penulis blog dan model untuk gaya rambut sebuah salon di dekat Klub aku bekerja.

Sebelum aku mulai menceritakan kenangan dari mimpi yang aku alami, ada baiknya kalian mengetahui pekerjaanku. Salah satunya adalah, menjadi Hosuto harus mampu ‘minum’ alkohol selama jam kerja tanpa mabuk. Dibalik ‘kegagahan’ para Hosuto ketika melayani tamunya, tidak sedikit yang harus di korbankan. Terutama kesehatan. Pada akhirnya, seorang Hosuto bisa ditayangkan di televisi karena terkapar di pagi hari dengan tagline berita over dosis alkohol. Ya kira-kira seperti aku ini, pulang kerja hanya rasa mual yang terasa akibat terlalu banyak minum. Teman-temanku lebih parah, ada yang sudah mengidap penyakit paru-paru, pencernaan akut yang disebabkan oleh kadar alkohol yang dikonsumsi melewati ambang batas normal.

Untuk mempertahankan kesehatan, seorang Hosuto harus bolak-balik ke dokter untuk meminta obat khusus. Setiap kali dokter mengingatkan untuk mengurangi kadar alkohol yang diminum, maka sang Hosuto mengeluarkan uang banyak untuk menerima jatah obat bulanan dari sang dokter. Itu sama saja memberi keuntungan sang dokter. Biasanya, nasihat dokter tak diindahkan oleh Hosuto itu sendiri. Yang membuat tak habis pikir, kenapa profesi Hosuto tak dihilangkan saja? Itu adalah keinginan kecil dari lubuk hatiku. Tapi jika aku berhenti menjadi Hosuto, aku mau makan apa? Makan angin? Tentu tidak bukan? Target kami adalah para tamu wanita memesan minuman beralkohol termahal yang di jual di Klub. Di mana harga satu botolnya bisa mencapai ratusan juta hingga 1 milyar.

Kabar baiknya, aku jadi mengetahui berbagai jenis karakter wanita yang biasa membuat para laki-laki tak mengerti. Karena wanita ingin dimengerti lewat tutur halus dan laku agung. Betul kan? Oleh karena itu, aku rela mati-matian merayu wanita-wanita itu untuk kelangsungan dompetku dalam jatah kebutuhan sebulan.

Namun pada satu malam, semua berubah. Waktu itu malam minggu kedua bulan April, di mana bunga Sakura mekar dan berjatuhan. Aku kedatangan seorang perempuan mungil di Klub. Perempuan mungil berambut bob sebahu dengan mata kecil, hidung tak terlalu mancung namun senyumnya manis. Aku belum pernah melihatnya, orang mana dia? Aku lihat, di meja resepsionis ia kesulitan berbicara dalam bahasa Jepang. Dugaanku, dia adalah orang asing. Cuma, aku ragu karena struktur wajahnya mirip perempuan yang berasal dari pulau lain negara ini. Tak lama kemudian, resepsionis memanggil untuk segera menemani perempuan mungil yang menyewaku. Kata orang, aku adalah Hosuto termahal di Klub. Bagaimana bisa dia menyewaku? Hn, mungkin dia orang kaya jadi dia mampu untuk menyewa diriku menemaninya selama di Klub.


“Hajimemashite,” aku menyapa sambil mengajaknya duduk di sofa bar.

Ia hanya tersenyum simpul. Apa dia tak mengerti apa yang aku bicarakan ya? Pada akhirnya, aku mencoba memakai bahasa Inggris untuk membuka pembicaraan. Ia makin bingung. Memang wanita yang datang bukan hanya wanita Jepang tetapi ada yang datang dari luar Jepang. Walau bahasa Inggrisku pas-pasan, setidaknya mereka mengerti. Sangat berbeda dengan perempuan ini, ia garuk kepala karena tak mengerti apa yang aku bicarakan. Padahal, hanya salam perkenalan. Tanpa sengaja aku berkata,”Anda lucu sekali, Nona.” Aku menahan tawa melihat tingkahnya malam ini.

“Eh, bisa bahasa Indonesia?” Matanya berbinar ketika aku membuka pembicaraan dengan bahasa Indonesia. Selain bahasa Inggris, aku juga menguasai sedikit bahasa Indonesia walau tidak terlalu bagus. Sepertinya, dia mengerti apa yang aku katakan. Syukurlah, aku jadi tak ada masalah dalam bahasa.

“Sedikit,” ucapku.

“Hmm, Yuzu-san?” Ami bertanya dengan nada terbata. “Oh ya. Ada apa, Nona?”

“Jangan panggil Nona, cukup Ami saja.” “Baiklah. Ami.”

Aku memelankan suara untuk memanggil. Seperti yang aku bilang, Hosuto harus berlaku lembut pada wanita. Aku tak munafik, sebetulnya perempuan mungil ini menarik perhatianku lebih dari yang lain. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Aku ingin coba membukanya. Bukan aku ikut campur, tapi dari balik matanya tersimpan kesedihan. Tanpa basa-basi aku bertanya,

“Ami lagi sedih, ya?”

Ami tak menjawab. Ia menunduk. Ekspresi wajahnya terlihat muram saat itu. Aku harus bagaimana? Baru kali ini terjadi, aku bingung menangani pelanggan. Apa yang salah dengannya? Aku bertanya dia tak menjawab. Hanya ada isak pelan yang terdengar. “Ami— “

Ada baiknya aku diam sebentar hingga dia tenang. Masih ada waktu 55 menit lagi untuk menemani Ami. Entah, rasanya aku juga merasakan sakit dan sesak di dada saat melihat ia menangis. Bagaimana bisa? Perasaan apa yang terjadi pada malam ini? Tuhan—

“Ami, kenapa? Mau cerita tidak?” tanyaku hati-hati.

Kemudian ia mendongak. Matanya yang indah telah basah oleh air mata. Aku ingin memberikan pelukan untuk sekedar menenangkannya. Tapi aku malu, aku takut Ami tak menerimaku sebagai teman curhatnya. Ayolah Mi, jangan membuatku bingung. Aku bukan penyihir yang tahu isi pikiranmu. Setidaknya, berceritalah padaku sedikit saja agar aku tahu apa yang membuatmu seperti ini.

“Yuzu-san?”

“Ya?”

“Aku—“

“Jangan sungkan untuk bercerita. Katakanlah,”

“Aku suka denganmu.” ujar Ami mengusap air mata dengan tisu di meja Klub.

bersambung dulu ya gan, nanti ane update lagi emoticon-Toast
FYI, gue pernah baca cerita ini di buku fisiknya, Ace The Ripper terbitan Lokamedia. (Pinjem punya temen coy)— emoticon-Ngakak
Tapi memang paling menarik cerita itu menurut gue dibanding dua di atasnya (soalnya pakai setting di Korea walau gue akui dua cerita sebelum cerita Ciuman Terakhir keren banget). Apa yang bikin menarik? Seperti cerita nyata. (Beneran nyata atau nggak cuma pihak keluarga si penulis dan karakter yang tahu).
Yang kedua, waktu gue cari penulisnya— gue dapat pengalaman mengejutkan sekaligus menyenangkan dari penulisnya.
Ketiga, yang membedakan cuma masalah typo aja kok. Kayaknya lu dikasih versi aslinya ya? Yang gue baca lebih rapi di buku fisik.
Yang paling nyenengin waktu gue nulis versi novelnya atas permintaan keluarga bersangkutan. Itu bener-bener nguras pikiran, tenaga, emosi. Gimana rasanya lihat sambil menulis di kelab malam? Kehidupan malam Jepang itu kan—
Pokoknya bener-bener nguras emosi. Bayangin aja nulis 300 halaman A4 lebih pakai hape seuprit ukurannya. Siwer? Iya— salah ketik? Hampir setiap bab gara-gara papan ketik layar sentuh kecil, jempol gue kegedean. Yang pasti, cerpen ini rekomen buat yang demen akhirnya baper-baperan.
Balasan post viviangj
Wuih sampe 300 halaman, kl dibuat trit bisa brp episode itu ya emoticon-Nohope

iya bener gw dapet tulisan asli nya yang masih ada beberapa typo, mudah2an pas ane post ga kelewat typonya ya emoticon-Ngakak
Balasan post 3121X
Gue yang keder pas nulis pake hape emoticon-Ngakak

Part 2

“Yuzu-san?”

“Ya?”

“Aku—“

“Jangan sungkan untuk bercerita. Katakanlah,”

“Aku suka denganmu.” ujar Ami mengusap air mata dengan tisu di meja Klub.

***


Aku terenyak mendengar pernyataan Ami. Suka denganku? Apa aku tak salah dengar? Dia bercanda kan? Dia suka dengan aku yang notabene bekerja sebagai Hosuto bersama segala sisi gelap yang ada. Perempuan semanis itu tidak pantas menyukaiku dengan keadaan seperti ini. Bukan aku menolak, aku hanya terkejut. Seorang perempuan manis menyukai laki-laki brengsek dan lasak seperti aku? Sungguh aneh.

“Nggg, suka?” Aku mengeryit.

“Sepertinya, aku udah terlambat menyatakan ini.” jawab Ami menatap mataku.

Tatapan yang dalam membuat aku seperti masuk ke dalam kejadian sebelumnya. Di mana aku melihat sinyal S.O.S yang terpancar dari matanya. Ugh, keadaan semakin canggung. Kaku untuk aku dan Ami.

“Ami?”

“Maaf,”

“Kenapa harus minta maaf?” “Aku suka Yuzu-san.”

“Perasaan suka itu wajar kan? Tapi, aku hanya bingung. Bagaimana bisa kamu menyukaiku?”

“Aku hanya ingin mengatakan ini sebelum terlambat.” “Tunggu, apa maksud kamu?” Aku terbelalak. “Sudahlah,” Ami menggeleng.

“Aku tak mengerti.” “Maaf,”

“Hn, begini. Kalau kamu ingin bercerita jangan sungkan hubungi aku kembali.”

Aku merobek kertas lalu menuliskan ID LINE ku yang aku berikan pada Ami. Ia mengangguk sambil tersenyum. Aku tahu dia masih sedih malam ini. Semoga besok sedihnya menghilang. Ini langkahku untuk melakukan pendekatan pertama pada Ami.

“Sudah lebih tenang?” kataku. Ami menggeleng.

“Ayolah, sayang uangmu jika kamu hanya diam di sini tanpa bersenang-senang.”

“Tapi—“

“Ada apa lagi?”

“Ya sudah, mari kita lupakan!”

Ami tersenyum lebar sambil tertawa. Lucu juga jika dilihat. Belum pernah aku menemukan pelanggan seperti dia. Karena terbawa suasana, aku sampai lupa menanyakan dari mana asalnya hingga dia sampai kesini.

“Ami, aku boleh tanya sesuatu?” “Tanya apa, Yuzu-san?”

“Tidak usah pakai san, cukup panggil Yuzu. Bisa?” “Hn? Bagaimana kalau Kak Yuzu?”

“Boleh juga.” Aku mengangguk mengiyakan saran Ami. “Tadi mau tanya apa, Kak?”

“Kamu asalnya dari mana?”

“Sleman, Yogyakarta, Indonesia.”

“Wow, jauh juga.” Mata yang semula menahan kantuk menjadi terbelalak. Pupil mataku kian membesar. Tak percaya Ami berasal dari Indonesia. Kenapa dia bisa sampai kesini? Memang sih ada turis Eropa yang terkadang mampir hanya untuk sekedar minum. Cuma, Ami berbeda. Tak seperti turis pada umumnya yang aku temui. Ia berpenampilan sederhana. Hanya memakai kaos hitam, ripped jeans, sepatu semata kaki berjenis boots warna cokelat muda seraya menggendong ransel berwarna ungu.

“Hanya beda dua jam kan?” tanya Ami nyengir.

“Iya juga.”

“Hanya mahal di perjuangannya buat sampai kesini, Kak Yuzu.”

“Kok bisa kamu sampai di sini?” Aku mengeryit dan bertanya-tanya. Apa yang dipikirkan Ami jauh-jauh dari Yogyakarta pergi ke Klub? Memangnya tak ada destinasi lain dalam itenary Ami selain Host club?

“Aku, cuma mau ketemu Kak Yuzu dan mengatakan perasaanku sebelum terlambat.”

“Hah?” Aku malah tambah bingung setelah Ami dua kali berkata mengatakan perasaannya sebelum terlambat. Apa maksudnya? Aku belum mengenalnya. Kenapa dia tahu aku bekerja di sini?

“Nggg, begini. Selagi ada kesempatan, aku menyempatkan diri untuk bertemu denganmu menghabiskan waktu selama beberapa minggu ke depan di Osaka. Mungkin, Kak Yuzu tidak pernah ingat aku.”

“Maksudnya?”

Aku benar-benar makin pusing dibuatnya. Wajar saja, aku tak ingat dia. Pelanggan yang datang banyak. Aku sendiri tak hapal dengan wanita-wanita yang pernah aku layani. Apalagi dengan Ami yang baru pertama datang?

“Oke, aku tahu Kakak tidak ingat aku. Tapi, aku yakin Kakak ingat dengan gambar ini!” Ami berseru sambil mengeluarkan bingkai foto yang berisi gambar dari ransel lalu memberikannya padaku.

Shock! Itu yang aku rasakan malam ini. Itu kan gambar yang—

Ah, jangan-jangan Ami adalah perempuan yang sempat menge-chat aku di LINE waktu pergantian tahun 2014 ke 2015 saat aku memberitahu ID LINE ku di sebuah situs bernama live twitcasting. Aku baru ingat gambar yang ia berikan. Itu berarti sudah satu tahun berlalu. Sekarang bulan April 2016. Aku lihat gambar itu. Ada tiga sosok yang dia gambar. Sebelah Kiri ada Ren, temanku, berperawakan agak gemuk berambut hitam. Yang tengah itu aku, dengan warna rambut pirang hingga sekarang dan sebelah kanan adalah Gambar Ichijou Sara yang hampir sama gayanya denganku. Berwarna rambut sama dengan ala visual kei. Gaya rambut berdiri di bagian belakang dengan rata-rata panjang seleher hingga bahu.

“Jangan-jangan, kamu itu—“

“Ada apa, Kak?”

“Kamu itu, Va-la-ri ya?” Aku berupaya mengeja nama yang aku ingat di LINE chat.

“Ternyata Kak Yuzu ingat denganku.” Ami tersenyum haru. Ada rasa lain yang terpancar dari matanya. Bukan sinyal S.O.S atau tanda bahaya lainnya. Melainkan, rasa hangat nan tenteram.

“Maaf, aku kira kamu bukan Valari. Tapi mengapa kamu bilang namamu Ami?”

“Ami itu nama asli. Sedangkan, Valari itu nama pena.”

“Kamu penulis kan? Aku tahu itu.”

“Kok Kakak tahu?”

“Hanya menebak dari jawabanmu.” jawabku ikut tersenyum lebar.

“Senyum Pepsodent! Hikaru KW!”

“Apa itu?” tanyaku tertawa.

“Habis senyum Kakak lebar sih. Kalau di Indonesia, ada merk pasta gigi yang bernama Pepsodent. Seperti itu. Kakak tahu personel Hey! Say! Jump ?”

“Tahu, aku hanya tak mengikuti perkembangan mereka.”

“Kakak itu mirip Hikaru. Jadi aku bilang Hikaru KW.”

“Kamu itu ada-ada saja,”

“Aku ke sini mau bertemu Kak Yuzu. Jangan ditanya lagi ya,”

“Memang tak ada destinasi lain selain bertemu aku?”

“Tidak. Aku sudah bilang, kan?” Ami menggeleng.

Jauh- jauh hanya untuk bertemu aku? Memangnya aku aktor film yang harus Ami temui? Aneh tapi nyata. Hari ini, aku melayani wanita. Eh—, lebih tepatnya perempuan. Cuma, aku ragu bertanya umur. Bisa-bisa, aku kena tonjok. Lebih baik, aku tidak usah tahu. Tugasku hanya melayani di Klub bukan untuk bertanya umur.

“Kenapa tidak?”

“Aku hanya mau bertemu kamu Kak.” Ami mengulang jawabannya hingga tiga kali dari pertama datang.

“Alasannya?”

“Aku—“

“Katakan kapan saja waktu hatimu bebas memutuskan.”

“Baiklah kalau begitu. Aku kesini, tak ada destinasi lain. Hanya untuk menyerahkan gambar yang baru aku selesaikan. Lagipula, aku pernah berjanji denganmu untuk datang ke Osaka bukan?”

“Apa iya?”

“Kamu tak mungkin ingat. Karena itu sudah lama sekali. Dan ponsel lamaku rusak.”

“Begitukah?”

“Huuum. Terima kasih ya, sudah menerima gambar dan menyempatkan waktumu malam ini.” jawab Ami.

Aku tersenyum lebar menerima gambar Ami untuk aku letakkan di ruang belakang. Setelah keluar dari ruang belakang, aku menghampiri Ami yang masih menunggu di sofa. Aku perhatikan, dia sedang menulis sesuatu dengan bukunya. Tampaknya menarik, aku jadi ingin tahu apa yang ia tulis.

“Kamu sedang apa?”

“Yang pasti menulis, Kak.” Ami menjawab sambil menutup buku yang ia letakkan di meja.

“Oh ya? Menulis cerita baru?” Aku menebak.

Ami langsung tersipu waktu aku menebak apa yang ia lakukan. Lucunya anak ini, aku semakin gemas oleh raut wajah malu-malu yang tersipu. Apa perkenalan ini terus berlanjut? Kenapa ada rasa takut kehilangan dia? Padahal jam untuk menemani Ami masih ada waktu sekitar 40 menit. Ada rasa takut untuk kehilangan Ami selamanya. Senyumnya yang manis 20 menit lalu membuat aku kepikiran. Begitu juga pancaran mata yang hangat saat dia menatap mataku.

Aku tak berkutik, tiba-tiba saja waktu cepat berlalu dan aku harus berpisah. Jam pelayanan untuk menemani Ami telah usai. Ami, aku harap kau tak melupakanku pada malam ini. Kau berkata selamat tinggal dengan senyuman. Senyuman itu sangat menyakitkan. Yang terindah kenangan itu.

Ami telah keluar dari Klub. Belum sempat aku membalas salam perpisahan, dia menghilang. Aku melirik meja. Buku Ami ketinggalan. Sebuah buku bersampul warna merah dengan bintang dan bulan mengingatkan kartun jaman dahulu, Card Captor Sakura. Haha…

Sebetulnya, aku ingin membukanya. Namun aku tak berani. Bisa saja ada privasi didalam buku. Toh, jika tertinggal aku yakin besok Ami kembali lagi mengambil buku. Aku bisa bertemu dengannya sebentar. Siapa tahu, dia besok kesini lagi. Mari kita tunggu perkembangannya. Malam ini, aku seperti orang bodoh. Menunggu sesuatu yang belum pasti kejadian. Makhluk aneh yang menunggu bunga mekar yang disinari bulan. Itu mustahil kan? Kalau memang dia sayang bukunya, pasti besok kembali. Aku yakin itu.

Klub sudah tutup, aku menitipkan buku Ami yang ketinggalan di meja resepsionis lalu pulang.




Besok lanjut lagi ya gan emoticon-Big Grin
Diubah oleh 3121X
ndeprok sek
biar viral gan
Quote:


Quote:


monggo aja, tapi ga usah ngejunk juga gan emoticon-Nohope
Quote:


Ane nggak ngejunk kan?
Nenda dulu, seperti ada sedikit aroma bawang emoticon-Leh Uga
Quote:


Sprtinya begitu
Quote:

tipe ngejunk kaya nick papagenit tuh, post dikit, 2x pula emoticon-Nohope

Quote:

monggo gan emoticon-Toast

Quote:

sudah kuduga emoticon-Ngakak
Balasan post 3121X
besok update ga nih ganemoticon-Shakehand2
Quote:


Kalau ga ada halangan bsk pagi jam 10 udah update gan emoticon-Toast

Part 3

Klub sudah tutup, aku menitipkan buku Ami yang ketinggalan di meja resepsionis lalu pulang.


Esok malamnya…

Benar saja dugaanku. Malam kedua, Ami datang untuk menanyakan buku yang tertinggal di meja. Ia bertanya pada resepsionis yang terlihat kebingungan dengan ciri buku yang dimaksud. Dengan senang hati, aku pergi ke meja resepsionis untuk mengambil buku Ami di laci lalu memberikannya. Ami terlihat senang sambil mengucapkan terima kasih padaku. Sebelum dia pergi jauh, aku berlari mengejar Ami keluar Klub. Hampir saja aku kehilangan sosok menggemaskan ini. Aku bersyukur Tuhan menyertaiku pada malam kedua Ami datang.

“Ami—“

“Kakak?” Ia mengeryit.

“Maaf, aku lancang padamu. Aku hanya—“ Aku genggam erat tangan mungilnya.

“Ada apa, Kak?” tanya dia memiringkan wajah. Bah, manis sekali gayanya. Kenapa dia menatapku seperti anak anjing yang lucu? Aku makin menyukainya. Menyukai perempuan yang belum lama bertemu.

“Begini, kamu jangan salah paham. Aku hanya…

“Hanya?”

“Hanya ingin mengajakmu jalan-jalan besok. Ada waktu luang?”

“Tentu.” Ami mengangguk.

“Baiklah. Besok pagi kita bertemu di depan Klub saja ya. Atau sebelah toko Ralph Laurent? Kamu melewatinya kan? Aku sudah pulang pada pukul delapan pagi.”

“Oh ya, aku tahu. Sampai bertemu besok. Daagh…”

Ami melambaikan tangan salam perpisahan kedua kalinya. Kali ini, dia menatapku agak lama dibanding kemarin. Pakaiannya masih sama, hanya warna sepatu yang berbeda. Ami, kau membuatku berada diantara dua pilihan. Seperti Yin dan Yang. Sosokmu membuatku semangat. Namun di sisi hitam, aku takut kehilangan dan kau tak bahagia denganku jika aku menerimamu. Aku tahu kamu kesepian, namun kesepian yang kau pancarkan berbeda dari wanita lain. Kesepian yang—

Sulit aku jelaskan dengan kata-kata tentang kesepian yang kau katakan lewat tatapan matamu. Kesepianmu membuat aku ingin melindungi dari kegelapan yang membelenggu. Mungkin, kau menganggap aku hanyalah laki-laki sok tahu tentang dirimu. Tapi, aku yakin kau merasakan hal yang sama. Kau kesepian, terjatuh dalam sendirian di dasar jurang gelap yang dalam. Seandainya aku diberi waktu lebih lama bertemu denganmu, izinkan aku untuk melindungi dan menemanimu sebentar. Bolehkah itu? Tuhan, bolehkah seorang laki-laki brengsek melindungi dan menemani perempuan manis itu sebentar saja? Aku menatap langit malam Osaka tak berbintang. Rasanya, langit juga tahu aku mengalami perasaan yang sulit. Antara bertahan atau meninggalkan? Aku seperti menggenggam bintang yang sangat terang. Sama mustahilnya dengan mencoba memanah planet Venus dari Bumi.

Aku hanya bisa berdoa, semoga besok Ami datang dan pendekatanku tak sia-sia. Aku melanjutkan perjalanan ke apartemen dengan berjalan kaki. Mendadak, aku tak berminat meneruskan kerja malam ini. Sangat membosankan, berbeda saat Ami datang semalam. Klub menyenangkan dibanding biasanya. Biasanya, terlihat monoton. Aku bosan dengan kehidupan Klub yang begitu saja. Tak ada perubahan sama sekali. Saat Ami datang, aku merasa sangat puas. Benar-benar puas, seolah aku mencapai tujuanku selama ini yang belum aku raih. Tapi, perjuanganku sebagai Hosuto masih belum berakhir. Masih lama untuk pensiun dari pekerjaan yang membosankan. Setiap bulan harus meminum obat khusus yang aku bilang di awal. Belum lagi, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku tak ingin menyerah untuk saat ini menggapai semua tujuanku dan kalian tahu, tak menyerah untuk melindungi Ami walau hanya sebentar. Aku sudah berjanji pada diriku. Hitung-hitung permintaan maafku pada Ami karena aku lupa padanya.

Pagi harinya, pukul delapan aku sudah menunggu dia didepan toko Ralph Laurent. Belum ada batang hidung Ami. Kemana ya? Apa Ami lupa janjinya? Aku harap tidak. Aku telah mengorbankan waktu untuk ini. Hanya Ami yang mampu membuatku seperti ini. Menunggu seseorang dengan rasa sabar. Aku melihat jam tangan, sudah pukul delapan lewat lima menit, masih belum ada tanda kedatangan Ami. semoga perjuanganku tidak sia-sia menunggu Ami di sini. Mencuri waktu dikala sibuk menjadi Hosuto, lebih memilih bolos kerja hanya untuknya. Tak berapa lama, aku mendengar sebuah suara manis agak cempreng dari samping kiri.

“Hhh, maaf Kak aku terlambat,” katanya.

Aku menoleh. Ternyata Ami betul-betul datang. Aku bahagia begitu Ami datang walau terlambat lima menit. Bagiku itu tak masalah, yang penting Ami ada di sini benar-benar menepati janji. Aku baru ingat, Ami pernah menge-chat berjanji datang ke Klub saat gambar yang ia berikan dikirim via LINE. Lalu aku membalas dengan kalimat, silakan saja datang tahun depan. Ternyata Ami menepati janjinya. Tuhan, maafkan aku telah melupakan gadis manis ini. Rasanya, Ami juga cukup sering menge-chat aku di LINE hanya saja, aku selalu lupa untuk membalasnya. Semua ingatan itu makin jelas. Suatu ketika, Ami menghilang dari LINE. Semua postingan Ami dan like untuk postku menghilang hingga aku baru tahu ponsel lamanya rusak dua hari lalu waktu di Klub.

“Tak masalah,” Aku menggeleng.

“Kakak tak marah, kan?”

“Tentu tidak,” jawabku.

“Wah, hari ini Kak Yuzu keren sekali.” kata Ami malu-malu.

“Apa iya?”

“Iya. Tipe aku sekali gayanya,”

“Yakin?”

“Yakin kak!”

“Kamu juga manis,”

“Dikira gula?”

“Kamu lebih manis dari gula. Mau jalan kemana hari ini?”

“Terserah, Kak Yuzu.”

“Kok terserah?”

“Begini, karena aku sudah menepati janji. Sekarang, tinggal tugas Kak Yuzu yang menemaniku ke tempat yang bagus. Bagaimana?” tawar Ami.

“Oo, bagaimana kalau ke taman Daisen?”

“Dimana itu, Kak?”

“Di dekat sini juga,”

“Kalau begitu, aku tak menolak. Mari kita kesana.”

Ami menarik tanganku. Aku senyum-senyum sendiri karena malu. Ia terlihat seperti anak-anak dengan pakaian yang ia kenakan. Sangat imut dengan gaya berbeda dari dua hari lalu. Ami memakai baju terusan selutut lengan panjang dengan sepatu hitam. Sedangkan aku memakai kemeja putih dengan rompi hitam, jeans, serta sepatu pantofel hitam. Di padupadan dengan cincin, kalung dan gelang. Taman Daisen penuh orang, Ami kegirangan berlari-lari di taman. Aku seperti seorang Ayah yang sedang menemani anaknya bermain. Ada seseorang yang menepuk pundakku selagi aku melamun,

“Yuduru!” Tepuk seorang laki-laki berambut jabrik seleher berwarna coklat terang.

“Hai, Toa?”

“Sedang apa kau?”

“Menemani seseorang. Kau sendiri?”

“Berjalan-jalan. Siapa perempuan yang kau temani? Yang bernama Ami itu kah?” tanya Toa.

“Ya,” Aku menjawab singkat.

“Ya sudah, sampai nanti Kak!”

“Baiklah. Maaf, aku bolos semalam. Aku mendadak tidak mood.”

“Tidak apa-apa, santai saja.” Toa melenggang pergi dengan santai. Aku mencari Ami yang mendadak tak kelihatan batang hidungnya. Aku sudah takut jika dia hilang. Bisa gawat jika dia hilang. Ternyata, Ami sedang duduk di bangku taman menatap lalu-lalang orang lewat. Aku bernapas lega Ami tidak hilang. Aku menghampiri lalu duduk di sebelah Ami.

“Hey,”

“Kak Yuzu? Tadi bicara dengan siapa?”

“Bicara dengan teman. Namanya Toa, satu Klub denganku.”

“Hosuto itu, seperti tokoh anime ya?”

“Kebanyakan dituntut seperti itu walau ada juga yang tidak. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Cuma memastikan saja, ternyata tidak jauh beda dengan anak band.”

“Haha, kamu itu.”

Aku merapatkan tubuh Ami sembari merangkulnya. Wajah Ami merah, begitu juga dengan aku. Aku malu, tapi aku tak tahan. Jujur, jangan samakan aku dengan hosuto lainnya baru kenal sudah mengajak yang tidak-tidak. Aku bukan seperti yang kalian pikirkan.

“Kak,”

“Ada apa?”

“Nggak,” Ami kembali menggeleng.

“Jika ingin bicara, jangan sungkan untuk bercerita selama kamu bersamaku.”

Ami menatap dengan rasa canggung. Aku kembali mencairkan suasana kaku di antara kami. Perlahan, Ami membuka mulutnya sambil berkata, “Aku—“

“Katakan saja,”

“Tidak jadi.”

“Kenapa tidak jadi?”

“Aku takut Kakak marah.” Ami menjawab menyertakan gelengan.

“Aku janji tidak marah asal kamu mau bercerita.”

“Baiklah…”

Ami menghela napas lalu kembali membuka mulut. Suaranya terdengar lirih sampai aku harus mendekatkan telingaku ke bibirnya. Hatiku berdebar menunggu Ami berbicara dengan kalimat lengkap. “Aku—“

“Ya?”

Ami memalingkan wajahku, kemudian…

Bersambung dulu ya gan emoticon-Peace
Ami memalingkan wajahku, kemudian.. Nih kak Aku kasih kentangemoticon-Bata (S)
Quote:


Nanti sore jam 5 an update gan, karena sabtu minggu libur dulu update nya emoticon-Peace

Maklum bisa ngaskus di pc kantor doang emoticon-Nohope

Part 4

Ami menghela napas lalu kembali membuka mulut. Suaranya terdengar lirih sampai aku harus mendekatkan telingaku ke bibirnya. Hatiku berdebar menunggu Ami berbicara dengan kalimat lengkap.

“Aku—“

“Ya?”

Ami memalingkan wajahku, kemudian… Cup!

Aku tersentak. Dia tiba-tiba mencium bibirku. Iris mataku terbelalak menandakan suatu perasaan yang—

Aku tahu ciuman ini bukan ciuman nafsu. Rasa ciuman yang berbeda. Ada rasa hampa begitu terasa dari bibir mungilnya. Ciuman meminta perlindungan. Tuhan, jangan biarkan ciuman ini terhenti. Izinkan aku merasakan ciuman ini lebih lama. Aku pejamkan mata membiarkan rasa itu merasuki jiwaku. Aku rangkul pinggangnya erat agar dia tak melepaskan ciumannya. Sudah berapa lama kami seperti ini? Rasanya begitu lama. Hanya daun sakura jatuh yang memisahkan kami untuk segera melepas rasa yang kami pendam masing-masing, ku rasa.

“Maaf,” Mata Ami berkaca-kaca saat dia melepas ciumannya.

“Kenapa kamu, Mi?”

“Aku…Hwaaa…”

Ami menenggelamkan kepalanya di dadaku. Ia terisak diluar ekspetasiku pagi ini. Ia menangis sesenggukan tanpa berkata apapun. Aku mengusap rambutnya agar dia tenang dan tak menangis. Aku sendiri jadi ikut menangis karena Ami. Tak biasanya aku sesedih ini.

“Ami, jika kamu ingin menangis. Menangislah. Jangan dipendam supaya kamu lega,”

“Maafkan aku, Kak.”

“Kenapa harus minta maaf? Kamu tidak ada salah denganku.”

“Maaf, aku hanya kesepian dan takut sendirian.” Ami berujar dengan terbata-bata.

“Aku paham. Maafkan aku juga yang sempat melupakanmu.”

Aku mengusap air mata Ami dengan ibu jari menandakan bahwa dia akan baik-baik saja dengan aku di sini sesuai janjiku. Dia tak akan kesepian walau hanya sementara. Sinar matanya masih terlihat muram.

“Ayolah Mi, jangan sedih lagi. Ada aku di sini.”

“Pasti, Kak Yuzu sibuk. Lalu, aku akan kesepian lagi.”

“Hey, tenang saja. Aku janji, tidak akan membuatmu kesepian di sini. Lagipula aku juga—“

Mengapa lidah ini mendadak kelu? Salahkah jika aku juga menyukainya? Tuhan, mengapa jadi sulit untuk bicara? Apa salahku Tuhan? Apa laki-laki seperti aku tak boleh untuk menyukai dan melindungi perempuan ini dari kesepian yang ada? Kenapa Tuhan?

“Aku…, juga menyukaimu!”

Akhirnya kalimat itu bisa aku katakan. Biarlah aku jujur apa adanya aku bicara. Ami tersentak sambil menutup mulut. Ia tak percaya aku mengatakan bahwa aku juga suka padanya. Aku tidak mengada-ngada, hanya mengatakan rasaku sebenarnya walau terlampau cepat untuk perempuan yang baru aku temui tiga hari.

“Ka..kak,”

“Ya?”

“Aku benar-benar menyukai Kakak.”

“Aku juga menyukaimu. Jangan sedih lagi ya,”

Aku memeluk Ami erat. Ia tersenyum lepas lebih dari pertama aku temui. Aku rasa, pendekatanku telah berhasil. Aku sekarang tak memikirkan Ami harus membayar berapa untuk menyewaku. Dia tersenyum bahagia, itu sudah lebih dari cukup bahkan lebih mahal dari bayaran peraturan di Klub. Aku lebih senang melihatnya tersenyum dibanding aku meminta bayaran padanya. Masa bodoh dengan pandangan yang lain di Klub. Aku HANYA MAU menjaga Ami dari gelapnya kesepian dan kesendirian selama yang aku mampu.

Sudah hampir tiga minggu hubungan kami semakin intens. Aku sudah tahu Ami punya ponsel baru yang sengaja tak pernah ia keluarkan selama berjalan-jalan bersamaku. Hampir selama Ami berada di Osaka, aku menemaninya kemanapun dia pergi di luar. Entah ke toko buku, ke game centre. Sampai akhirnya, kami…

Tidak! Lebih tepatnya aku melakukan kesalahan. Membuat Ami menangis karena hubungan ‘terlarang’ yang kami lakukan di apartemenku. Setelah itu, Ami tak terdengar kabarnya. Bahkan tak muncul di Klub untuk sekedar bertamu atau menulis. Teman- temanku heran dengan perubahan sikap Ami yang drastis karena tak pernah datang lagi ke Klub. Aku pikir, dia sudah pulang ke Yogyakarta. Seminggu setelah kejadian itu, aku melihat sebuah foto boarding pass di LINE menuju Yogyakarta. Ada baiknya, aku tidak menghubunginya dulu. Maaf, aku telah menodai cinta kita. Aku benar-benar menyesal karena perbuatan yang aku lakukan. Di apartemen, aku bersama anjing peliharaanku menatap langit. Berharap Ami kembali lagi ke Osaka. Sudah berapa minggu semenjak Ami tak ada, aku selalu kepikiran, kondisi tak stabil hingga aku hampir dipecat oleh pemilik Klub. Teman-teman bersusah payah menghibur aku yang sedih. Tapi hiburan mereka hanya membuatku semakin pusing. Aku putuskan untuk meninggalkan mereka pulang.

Semua terasa sepi semenjak Ami tak ada. Aku kehilangan arah tanpanya. Ami, di mana kamu sekarang? Mengapa LINE mu tak pernah update? Aku rindu dengan like mu di timelineku. Aku juga rindu kau menge-chatku hanya untuk sekedar mengatakan Hello. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu telah melupakanku? Melupakan orang yang kau suka? Apa kau tak ingat aku? Ini aku, Yuzu Natsune. Seorang penjahat yang sudah membuatmu menangis. Maafkan aku…

Air mata yang jatuh warnai sunyi. Aku ingin memperdengarkan dan nyatakan sebelum aku pergi tidur. Jika ku capai nirwana, ku ingin rangkai kisah kita bersama. Sampai saat kita bertemu, akan ku nyanyikan namamu selalu. Dimana kita saksikan bunga sakura jadi maha karya suci. Jari yang hangat menggengamku didalam takdir yang tak akan pernah terpisah.

Aku tak ingat apa-apa lagi dan terbangun di tempat asing. “Di mana ini?”

Aku menengok kanan dan kiri. Sebuah taman indah, bahkan jauh lebih indah dari tempatku berasal. Banyak orang-orang yang tak aku kenal. Aku melihat Ami di sana. Di sebelah kiri taman dengan wajah bercahaya memakai mahkota bunga serta baju putih selutut. Ia tersenyum padaku lalu berkata, “Kemarilah Kak…”

“Ami, ini di mana?”

“Kakak tak perlu tahu ini di mana. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu.”

“Apa yang ingin kamu sampaikan?”

“Terima kasih untuk semua kebaikanmu. Maaf, aku tak pamit. Aku menangis bukan karena marah dengan perbuatan yang Kakak lakukan bersamaku di apartemen. Aku menangis karena waktuku sudah berakhir. Waktu yang aku punya cuma sedikit, aku memutuskan untuk bertemu Kak Yuzu sebelum aku pulang. Sekarang aku sudah pulang, Kakak jangan khawatir padaku. Teruslah berjuang untuk mencapai tujuanmu. Meski Kakak sudah tak tahan dengan pekerjaan lama Kakak, aku hanya titip pesan cintailah pekerjaan Kakak sebaik mungkin.” Ami tersenyum.

Aku benar-benar tercengang mendengar pernyataan Ami. Ia rela mengorbankan waktunya demi bertemu aku. Sedangkan aku? Membalas LINE chatnya pun tidak karena alasan sibuk semata. Apa kesalahan yang aku lakukan? Apa ini karma karena aku sebelumnya jarang memberi kabar padanya hingga Ami memilih pulang?

Sosok Ami memudar. Aku meraih Ami sebisa yang aku mampu.”AMII…!”

Aku berteriak sejadinya. Air mata meleleh di pipi. Ami, apa yang kau lakukan padaku? Mengapa kamu pergi? Mengapa kamu pergi meninggalkanku? Aku sudah berjanji untuk menjaga dan tak membuatmu tak kesepian lagi. Tapi, kenapa kamu pergi? Pergi dan menghilang dari pandanganku? Semua keindahan itu pudar lalu berganti dengan kegelapan yang mencekam. Aku tak bisa keluar dari kegelapan ini. Semua sudah terlalu dalam. Mengapa aku dipertemukan dengan Ami jika akhirnya aku harus berpisah?

“AMI…! AKU MENCINTAIMU!”

Rasanya percuma saja berteriak, Ami tak akan kembali. Hanya ada kegelapan di sini. Aku rengkuh kalung yang diberikan Ami padaku. Aku telah kehilangan malaikatku yang berharga. Malaikat yang telah mengubahku apa artinya kebahagiaan dan kesepian.

“AMI, MAAFKAN AKU!”

“Ami, jika kamu kembali, aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Tidak akan pernah!”

Aku menyesal dengan perasaan paling dalam. Sekarang aku kembali sendirian. Tak ada Ami yang bawel mengingatkanku untuk tak meminum alkohol lebih banyak lagi, tak ada yang menghibur teman-temanku yang galau dengan kemampuan membaca kartu tarotnya di Klub. Tak ada lagi tugasku untuk melindunginya dari Hosuto yang jahil.

Tugasku berakhir dengan hampa. Tak satupun pelajaran yang aku dapat selain penyesalan. Ada sebuah tangan hangat memelukku dari belakang, tangan yang aku kenal. Sepasang tangan mungil yang pernah aku genggam.

“Ami, kamu kembali?”

“Kakak janji tak meninggalkan aku?”

“Aku janji, Ami.”

“Datanglah ke Yogyakarta. Ke kantorku di IBC. Segera melamar pekerjaan di sana. Mereka masih membutuhkan tim marketing untuk blog online penerbitan. Kakak blogger juga kan?”

“Haruskah? Tapi bagaimana dengan pekerjaanku menjadi Hosuto?”

“Jika Kakak serius tak meninggalkanku, datanglah ke IBC. Jangan sungkan.”

Senin ane update lagi ya gan emoticon-Peace
Quote:


kentang nya udah mateng nih gan emoticon-Big Grin
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di