alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Sejarah Singkat Perang Salib I - IX
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c06c1d6dc06bdf36b8b4569/sejarah-singkat-perang-salib-i---ix

Sejarah Singkat Perang Salib I - IX

Bagian 1 (Perang Salib I - V)

Perang Salib I
1. Tahun 1096 - 1099
Merupakan yang pertama dari sejumlah perang salib yang berupaya untuk merebut Tanah Suci, disahkan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095. Perang ini dimulai sebagai suatu peziarahan yang meluas dalam Kekristenan Barat dan berakhir sebagai suatu ekspedisi militer oleh bangsa Eropa Katolik Roma untuk mendapatkan kembali Tanah Suci yang diambil dalam penaklukan kaum Muslim atas Levant (632–661). Pada akhirnya menyebabkan direbutnya kembali Yerusalem pada tahun 1099.

Perang Salib I dimaklumkan pada tanggal 27 November 1095 oleh Paus Urbanus II dengan tujuan utama menanggapi suatu permohonan dari Kaisar Bizantium Alexios I Komnenos, yang mana mengajukan permintaan agar para relawan dari barat datang untuk membantunya menghalau kaum Turki Seljuk dari Anatolia. Suatu tujuan tambahan segera menjadi sasaran utama, yaitu penaklukan kembali oleh kaum Kristen atas kota suci Yerusalem dan Tanah Suci serta membebaskan kaum Kristen Timur dari kekuasaan kaum Muslim. Selama perang salib, para ksatria, petani, dan hamba dari banyak negara Eropa Barat melakukan perjalanan darat dan laut, pertama ke Konstantinopel dan kemudian menuju Yerusalem. Setelah tiba di Yerusalem, para tentara salib melancarkan serangan atas kota tersebut dan merebutnya pada bulan Juli 1099. Mereka juga mendirikan negara-negara tentara salib yaitu: Kerajaan Yerusalem, County Tripoli, Kepangeranan Antiokhia, dan County Edessa.

Perang Salib Pertama kemudian dilanjutkan dengan Perang Salib Kedua sampai Kesembilan. Peristiwa ini juga merupakan langkah besar pertama menuju pembukaan kembali perdagangan internasional sejak jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat. Karena Perang Salib Pertama utamanya berkaitan dengan Yerusalem, suatu kota yang tidak berada di bawah kekuasaan kaum Kristen selama 461 tahun, dan bala tentara salib menolak untuk mengembalikan tanah tersebut ke dalam kendali Kekaisaran Bizantium, maka status Perang Salib Pertama sebagai sesuatu yang sifatnya defensif atau agresif masih menjadi kontroversi.Pada dasarnya, antara tahun 1096 dan 1011, bangsa Yunani Bizantium mengalami perang salib ini setibanya di Konstantinopel dalam tiga gelombang terpisah. Pada awal musim panas tahun 1096, kelompok besar pertama yang sulit dikendalikan tiba di pinggiran Konstantinopel. Gelombang ini dikabarkan tidak disiplin dan tidak memiliki perlengkapan layaknya suatu pasukan sebagaimana dicatat dalam Perang Salib Rakyat. Kelompok pertama ini sering disebut sebagai Perang Salib Rakyat atau Petani, dipimpin oleh Peter sang Pertapa dan Gautier Sans-Avoir serta tidak mengetahui ataupun menghormati keinginan-keinginan Kaisar Bizantium Alexios I Komnenos.

Gelombang kedua juga tidak berada di bawah komando sang Kaisar dan terdiri dari sejumlah pasukan dengan para komandan mereka masing-masing. Secara keseluruhan, kelompok ini dan gelombang pertama diperkirakan berjumlah 60.000. Gelombang kedua dipimpin oleh Hugues I, Comte Vermandois, saudara Raja Philippe I dari Perancis. Selain itu dalam gelombang kedua juga ada Raymond IV, Comte Toulouse, dan pasukan dari Provença. "Adalah gelombang kedua para tentara salib ini yang kemudian melintasi Asia Kecil, merebut Antiokhia pada tahun 1098 dan akhirnya merebut Yerusalem pada tanggal 15 Juli 1099." Gelombang ketiga, yang mana terdiri atas kontingen-kontingen dari Lombardia, Perancis, dan Bavaria, tiba di Yerusalem pada awal musim panas tahun 1101.

Perang Salib II
2. Tahun 1145 - 1149  
Perang salib kedua yang dilancarkan dari Eropa. Perang ini meletus akibat jatuhnya County Edessa pada tahun sebelumnya. Edessa adalah negara tentara salib yang pertama kali didirikan selama Perang Salib Pertama (1095–1099), dan juga negara yang pertama kali jatuh. Perang Salib Kedua diumumkan oleh Paus Eugenius III, dan merupakan Perang Salib pertama yang dipimpin oleh raja-raja Eropa, seperti Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman, dengan bantuan dari bangsawan-bangsawan Eropa penting lainnya. Pasukan-pasukan kedua raja tersebut bergerak menyeberangi Eropa secara terpisah dan sedikit terhalang oleh kaisar Romawi Timur, Manuel I Comnenus. Setelah melewati Bizantium dan memasuki Anatolia, pasukan-pasukan kedua raja tersebut dikalahkan oleh tentara Seljuk. 

Louis, Conrad, dan sisa dari pasukannya berhasil mencapai Yerusalem dan melancarkan serangan yang "keliru" ke Damaskus pada tahun 1148. Perang Salib di Timur mencapai kemenangan. Kegagalan ini memicu jatuhnya kota Yerusalem dan Perang Salib Ketiga pada akhir abad ke-12.Tentara salib yang mampu menggapai kemenangan adalah gabungan tentara salib Flandria, Frisia, Normandia, Inggris, Skotlandia, dan Jerman. Mereka berlayar menuju Tanah Suci. Di tengah perjalanan, tentara tersebut berhenti dan membantu bangsa Portugis merebut Lisboa tahun 1147. Sementara itu, Perang Salib Utara dikobarkan sebagai upaya untuk mengubah orang-orang yang menganut paganisme menjadi beriman Kristen, dan mereka harus berjuang selama berabad-abad.

Setelah meletusnya Perang Salib Pertama dan Perang Salib 1101, ada tiga negara tentara salib yang didirikan di timur, yaitu Kerajaan Yerusalem, Kepangeranan Antiokhia, dan County Edessa. County Tripoli didirikan pada tahun 1109. Edessa adalah negara yang secara geografis terletak paling utara dari keempat negara ini, dan juga merupakan negara yang paling lemah serta hanya memiliki sedikit penduduk. Maka dari itu, daerah ini sering diserang oleh negara-negara Muslim seperti Ortoqid, Danishmend, dan Seljuk. Baldwin II dan Joscelin dari Courtenay ditangkap akibat kekalahan mereka dalam Pertempuran Harran tahun 1104. Baldwin dan Joscelin ditangkap kedua kalinya pada tahun 1122, dan meskipun Edessa kembali pulih setelah Pertempuran Azaz pada tahun 1125, Joscelin tewas dalam pertempuran pada tahun 1131. Penerusnya, Joscelin II, terpaksa bersekutu dengan kekaisaran Romawi Timur, namun, pada tahun 1143, Kaisar Romawi Timur, John II Comnenus dan Raja Yerusalem Fulk dari Anjou, meninggal dunia. 

Joscelin juga bertengkar dengan Count Tripoli dan Pangeran Antiokhia, sehingga Edessa tidak memiliki sekutu yang kuat. Sementara itu, Zengi, seorang Atabeg dari Mosul, merebut Aleppo pada tahun 1128. Aleppo merupakan kunci kekuatan di Suriah. Baik Zengi maupun raja Baldwin II mengalihkan perhatian mereka ke arah Damaskus. Sayangnya, Baldwin dapat ditaklukan di luar kota tersebut pada tahun 1129. Damaskus yang dikuasai oleh Dinasti Burid, selanjutnya bersekutu dengan raja Fulk ketika Zengi mengepung kota Damaskus pada tahun 1139 dan tahun 1140.

Pada akhir tahun 1144, Joscelin II bersekutu dengan Ortoqid dan menyerang Edessa dengan hampir seluruh pasukannya untuk membantu Ortoqid melawan Aleppo. Zengi, yang hendak mengambil kesempatan atas kematian Fulk tahun 1143, dengan cepat bergerak ke utara untuk mengepung Edessa, yang akhirnya jatuh ke tangannya setelah sebulan pada tanggal 24 Desember 1144. Manasses dari Hierges, Philip dari Milly dan lainnya dikirim dari Yerusalem untuk membantu, tetapi mereka sudah terlambat. Joscelin II terus menguasai sisa wilayah Edessa dari Turbessel, tetapi sedikit demi sedikit sisa daerah tersebut direbut atau dijual kepada Bizantium. Zengi sendiri dipuji sebagai "pelindung kepercayaan" dan al-Malik al-Mansur, "raja yang berjaya". Ia tidak menyerang sisa teritori Edessa, atau kerajaan Antiokhia. Peristiwa di Mosul memaksanya untuk pulang, dan ia sekali lagi mengalihkan perhatiannya pada Damaskus, namun ia dibunuh oleh seorang budak pada tahun 1146 dan digantikan oleh anaknya, Nuruddin.[4] Joscelin berusaha untuk merebut kembali Edessa dengan terbunuhnya Zengi, tetapi Nuruddin dapat mengalahkannya pada November 1146.

Perang Salib III
3. Tahun 1189 - 1192
Perang Salib Ketiga juga dikenal sebagai Perang Salib Para Raja, merupakan suatu upaya para pemimpin Eropa untuk merebut kembali Tanah Suci dari Saladin (Salahuddin Al-Ayyubi). Kampanye ini memperoleh banyak keberhasilan, merebut kota penting Akko dan Yafo, juga membalikkan sebagian besar penaklukan Saladin, tetapi gagal merebut Yerusalem yang menjadi motivasi emosional dan spiritual dari Perang Salib. Setelah kegagalan Perang Salib Kedua, Dinasti Zengid mengendalikan Suriah yang telah dipersatukan dan terlibat dalam konflik dengan para pemimpin Fatimiyah dari Mesir. Para pasukan Suriah dan Mesir akhirnya bersatu di bawah pimpinan Saladin yang mempekerjakan mereka untuk mengurangi dominasi negara-negara Kristen dan merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187. 

Karena didorong oleh semangat religius, Raja Henry II dari Inggris dan Raja Philippe II dari Perancis (dikenal sebagai Philippe Auguste) mengakhiri konflik di antara mereka demi memimpin suatu perang salib yang baru. Namun meninggalnya Henry pada tahun 1189 membuat kontingen Inggris berada di bawah komando penggantinya, Richard I dari Inggris (dikenal sebagai Richard sang Hati Singa). Kaisar Romawi Suci Friedrich Barbarossa yang sudah lanjut usia juga menanggapi panggilan untuk mengangkat senjata, memimpin pasukan besar melintasi Anatolia, tetapi ia tenggelam di sebuah sungai di Asia Kecil pada tanggal 10 Juni 1190 sebelum mencapai Tanah Suci. Kematiannya
menyebabkan kesedihan yang luar biasa di kalangan Tentara Salib Jerman, dan kebanyakan dari pasukan tersebut pulang ke asalnya.

Setelah para tentara salib menghalau kaum Muslim dari Akko, Philippe bersama dengan penggantinya Friedrich, yaitu Luitpold V, Adipati Austria (dikenal sebagai Luitpold yang Budiman), meninggalkan Tanah Suci pada bulan Agustus 1191. Pada tanggal 2 September 1192, Richard dan Saladin merampungkan suatu perjanjian yang memberikan kendali atas Yerusalem kepada kaum Muslim tetapi mengizinkan para pedagang dan peziarah Kristen untuk mengunjungi kota tersebut. Richard meninggalkan Tanah Suci pada tanggal 2 Oktober. Keberhasilan Perang Salib Ketiga memungkinkan para tentara salib untuk mempertahankan negara-negara yang cukup besar di Siprus dan pesisir Suriah. Namun kegagalan untuk merebut kembali Yerusalem kemudian menyebabkan terjadinya Perang Salib Keempat.

Perang Salib IV
4. Tahun 1202 - 1204
Perang Salib Keempat adalah suatu ekspedisi bersenjata dari Eropa Barat yang awalnya dimaksudkan untuk menaklukkan Yerusalem yang dikuasai kaum Muslim dengan cara invasi melalui Mesir. Sebaliknya, terjadi serangkaian peristiwa yang berujung pada penjarahan kota Konstantinopel - ibukota Kekaisaran Bizantium yang mana dikendalikan kaum Kristen—oleh Tentara Salib. Pada bulan Januari 1203, dalam perjalanan menuju Yerusalem, sebagian besar pemimpin tentara salib mengadakan perjanjian dengan pangeran Bizantium Alexios Angelos untuk mengalihkan tujuan ke Konstantinopel dan memulihkan ayahnya yang telah digulingkan sebagai kaisar. Maksud dari para tentara salib adalah agar selanjutnya dapat meneruskan perjalanan ke Tanah Suci dengan bantuan militer dan keuangan dari Bizantium sebagaimana dijanjikan. Pada tanggal 23 Juni 2003 armada utama tentara salib tiba di Konstantinopel, sementara beberapa kontingen kecil melanjutkan perjalanan ke Akko.

Pada bulan Agustus 1203, menyusul bentrokan-bentrokan di luar Konstantinopel, Alexios Angelos dinobatkan sebagai rekan-Kaisar (Alexios IV Angelos) dengan dukungan tentara salib. Namun, pada bulan Januari 1204, ia digulingkan oleh pemberontakan rakyat di Konstantinopel. Para tentara salib Barat tidak dapat lagi menerima pembayaran sebagaimana dijanjikan, dan ketika Alexios IV terbunuh pada tanggal 8 Februari 1204, para tentara salib dan kaum Venesia memutuskan untuk menaklukkan Konstantinopel secara langsung. Pada bulan April 1204 mereka merebut dan dengan brutal menjarah kota tersebut, juga mendirikan suatu Kekaisaran Latin yang baru serta membagi-bagi wilayah Bizantium di antara mereka. [/font]Perlawanan oleh Bizantium dengan basis bagian-bagian kekaisaran yang tidak tertaklukkan, seperti Nicea, Trebizond, dan Epirus, pada akhirnya memulihkan Konstantinopel. Perang Salib Keempat dipandang sebagai salah satu tindakan akhir dalam Skisma Besar antara Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Roma, serta merupakan suatu titik balik yang penting dalam kemunduran Kekaisaran Bizantium.

Perang Salib V
5. Tahun 1217 - 1221
Perang Salib Kelima adalah upaya kaum Eropa Barat untuk merebut kembali Yerusalem dan seluruh wilayah Tanah Suci lainnya dengan pertama-tama menaklukkan Dinasti Ayyubiyyah yang berkuasa di Mesir. Paus Innosensius III dan penggantinya, Paus Honorius III, mengorganisir Tentara Salib yang dipimpin oleh Raja András II dari Hongaria dan Adipati Luitpold VI dari Austria; suatu serangan terhadap Yerusalem pada akhirnya menyebabkan kota itu tetap berada dalam kendali kaum Muslim. Kemudian pada 1218 sepasukan tentara Jerman yang dipimpin oleh Oliver dari Köln, dan sepasukan tentara campuran Belanda, Flandria, dan Frisia, yang dipimpin oleh Willem I, Comte Holandia bergabung dalam perang salib ini. Untuk menyerang Damietta di Mesir, mereka menjalin aliansi dengan Kesultanan Rûm Seljuk di Anatolia, yang mana melakukan penyerangan terhadap Dinasti Ayyubiyyah di Suriah, dengan maksud agar Tentara Salib tidak bertempur di dua front. Setelah menduduki pelabuhan Damietta, para Tentara Salib bergerak ke selatan menuju Kairo pada bulan Juli 1221, tetapi kemudian berbalik setelah kekurangan perbekalan menyebabkan mereka terpaksa mengundurkan diri. Suatu serangan saat malam hari oleh Sultan Al-Kamil menyebabkan kerugian besar pada pihak Tentara Salib, dan akhirnya pasukan tersebut menyerah. Al-Kamil lalu menyepakati perjanjian damai selama delapan tahun dengan Eropa.


Sejarah Singkat Perang Salib I - IX














Diubah oleh djendradjenar
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Bagian 2 (Perang Salib VI - IX)

Perang Salib VI
6. Tahun 1228 - 1229
Perang Salib Keenam sebagai suatu upaya untuk mendapatkan kembali Yerusalem. Perang ini dimulai setelah kegagalan Perang Salib Kelima dan melibatkan sedikit sekali pertempuran yang sebenarnya. Manuver diplomatik Friedrich II, Kaisar Romawi Suci, menyebabkan Kerajaan Yerusalem kembali memperoleh sebagian kendali atas Yerusalem dalam hampir sepanjang lima belas tahun berikutnya (1229-39, 1241-44) maupun atas daerah lainnya di Tanah Suci. Friedrich II, Kaisar Romawi Suci, telah banyak melibatkan diri dalam Perang Salib Kelima, mengirimkan pasukan dari Jerman, namun ia gagal mendampingi pasukan tersebut secara langsung, walau ada dorongan dari Paus Honorius III dan kemudian Paus Gregorius IX, sebab ia diperlukan untuk mengkonsolidasikan posisinya di Jerman dan Italia sebelum ambil bagian dalam suatu perang salib. Bagaimanapun Friedrich kembali berjanji untuk ikut serta dalam perang salib setelah penobatannya sebagai kaisar pada tahun 1220 oleh Paus Honorius III. Pada tahun 1225 Friedrich menikahi Yolande dari Yerusalem (juga dikenal sebagai Isabelle), putri Jean dari Brienne (penguasa nominal Kerajaan Yerusalem) dan Maria dari Monferrato.

Friedrich kini dapat mengklaim takhta kerajaan yang terpecah itu, dan memiliki alasan untuk berusaha memulihkannya. Pada tahun 1227, setelah penobatan Paus Gregorius IX, Friedrich dan pasukannya berlayar dari Brindisi, Italia, menuju Akko (kemudian menjadi ibukota Kerajaan Yerusalem yang terpecah itu), tetapi adanya wabah memaksa Friedrich untuk kembali ke Italia. Paus Gregorius mengambil kesempatan ini untuk mengekskomunikasi Friedrich karena melanggar sumpahnya sebagai tentara salib, kendati hal ini dipandang hanya sebagai alasan sebab Friedrich selama bertahun-tahun telah berusaha untuk mengkonsolidasikan kekuasaan imperialisnya di Italia dengan mengorbankan kepausan. Paus Gregorius menyatakan bahwa alasan dikeluarkannya sanksi ekskomunikasi tersebut adalah keengganan Friedrich untuk ikut serta dalam perang salib, dengan merujuk pada Perang Salib Kelima. Friedrich berupaya untuk melakukan negosiasi dengan sang paus, tetapi akhirnya memutuskan untuk mengabaikannya, dan berlayar ke Suriah pada tahun 1228 meskipun sedang diekskomunikasi, lalu tiba di Akko pada bulan September.

Perang Salib VII
7. Tahun 1248 - 1254
Perang Salib Ketujuh merupakan suatu perang salib yang dipimpin oleh Louis IX dari Perancis dari tahun 1248 sampai 1254. Sekitar 800.000 bezant (mata uang emas pada abad pertengahan) dibayarkan sebagai uang tebusan untuk Raja Louis. Ia dikalahkan dan ditangkap pasukan Mesir yang dipimpin oleh Sultan Ayyubiyyah Turanshah yang dididukung kaum Mamluk dari Bahri yang dipimpin oleh Faris ad-Din Aktai, Baibars al-Bunduqdari, Saif ad-Din Al-Qutuz, Izz al-Din Aybak, dan al-Mansur Qalawun. Pada tahun 1244 kaum Khwarezmia, yang baru saja tersingkir dari wilayahnya akibat invasi bangsa Mongol, merebut Yerusalem dalam perjalanan mereka untuk menjalin aliansi dengan kaum Mamluk Mesir. Hal ini menyebabkan Yerusalem kembali berada dalam kendali kaum Muslim, tetapi kejatuhan Yerusalem kali ini bukan lagi suatu peristiwa kehancuran bagi kaum Kristen Eropa yang telah menyaksikan kota tersebut berulang kali beralih dari kendali kaum Kristen kepada kaum Muslim selama dua abad terakhir. Kali ini, meskipun ada seruan dari Paus pada saat itu, tampaknya tidak ada antusiasme di kalangan luas untuk memulai suatu perang salib baru. Di Eropa juga terdapat banyak konflik yang mencegah para pemimpinnya untuk ambil bagian dalam Perang Salib.

Pergulatan seputar kekaisaran-kepausan masih masih terjadi di antara Paus Innosensius IV dan Friedrich II, Kaisar Romawi Suci. Friedrich telah menangkap dan memenjarakan para klerus dalam perjalanan mereka menuju Konsili Lyon I, dan pada tahun 1245 ia secara resmi diturunkan dari takhtanya oleh sang paus. Sebelumnya Paus Gregorius IX juga telah menawarkan singgasana Jerman tersebut kepada saudara Raja Louis, yaitu Comte Robert dari Artois, tetapi Louis menolaknya. Dengan demikian Kaisar Romawi Suci tidak berada dalam posisi untuk melangsungkan perang salib. Béla IV dari Hongaria saat itu sedang membangun kembali kerajaannya dari awal setelah kehancuran akibat invasi Mongol pada tahun 1241. Henry III dari Inggris masih bergulat dengan Simon de Montfort dan masalah lainnya di Inggris. Pada saat itu Henry dan Louis tidak sedang dalam hubungan terbaik mereka, karena adanya pergulatan antara wangsa Capet-Plantagenet, dan sementara Louis sedang pergi untuk berpartisipasi dalam perang salib, sang raja Inggris menyepakati suatu gencatan senjata dengan janji untuk tidak menyerang tanah Perancis. Louis IX juga telah mengundang Raja Håkon IV dari Norwegia untuk turut serta dalam perang salib, dengan mengirimkan sejarawan Inggris Matthew Paris sebagai utusannya, tetapi tidak berhasil. Satu-satunya orang yang tertarik untuk memulai perang salib yang lain karenanya hanya Louis IX, yang menyatakan niatnya untuk pergi ke Timur pada tahun 1245.

Perang Salib VIII
8. Tahun 1270
Perang Salib Kedelapan adalah suatu perang salib yang dilangsungkan oleh Louis IX dari Perancis terhadap kota Tunis pada tahun 1270. Perang Salib Kedelapan terkadang diperhitungkan sebagai yang Ketujuh, apabila Perang Salib Kelima dan Perang Salib Keenam diperhitungkan sebagai suatu perang salib tunggal. Perang Salib Kesembilan terkadang juga diperhitungkan sebagai bagian dari yang Kedelapan ini. Perang salib ini dianggap gagal karena Louis meninggal dunia akibat penyakit tidak lama setelah tiba di pesisir Tunisia, dan pasukannya yang juga dilanda wabah penyakit membubarkan diri kembali ke Eropa tidak lama setelahnya. Dikatakan bahwa Raja Louis selalu menyesalkan hasil Perang Salib Ketujuh yang menyebabkan ia ditawan oleh kaum Mamluk. 20 tahun kemudian, mendekati akhir pemerintahannya dalam usianya yang ke-56, Louis merencanakan suatu upaya terakhir untuk memaksakan status Eropa di Tanah Suci.

Selain itu Louis juga merasa terusik dengan peristiwa-peristiwa di Suriah, di mana Sultan Mamluk Baibars menyerang sisa-sisa dari negara-negara Tentara Salib. Baibars mengambil kesempatan itu setelah Perang Santo Sabas yang menyebabkan kota Venesia dan Genova saling berperang satu sama lain antara tahun 1256–1270. Perang tersebut menghabiskan tenaga dan sumber daya di pelabuhan-pelabuhan Suriah yang dikendalikan oleh kedua kota tersebut. Pada tahun 1265 Baibars telah merebut Nazaret, Haifa, Toron, dan Arsuf. Hugues III dari Siprus, raja nominal atas Kerajaan Yerusalem, tiba di Akko untuk mempertahankan kota ini, sementara Baibars bergerak ke utara sampai Armenia, yang mana pada waktu itu berada di bawah kendali bangsa Mongol. Pada tahun 1268, kota kuno Antiokhia jatuh ke tangan Baibar dan dikatakan bahwa semua penduduknya dibantai. Peristiwa-peristiwa ini membuat Louis merasa terpanggil untuk melangsungkan suatu perang salib baru pada tahun 1267 dan seterusnya, kendati hanya ada sedikit dukungan pada waktu itu; Jean de Joinville, seorang penulis sejarah yang mengiringi Louis saat Perang Salib Ketujuh, menolak untuk pergi. Pada awalnya, sebagaimana juga semua Perang Salib, Perang Salib hanya menargetkan daratan di pesisir Outremer, dengan tujuan akhir merebut kembali Yerusalem.

Namun Louis segera diyakinkan oleh saudaranya, Charles I dari Anjou untuk terlebih dahulu menyerang Tunis, yang mana akan memberi mereka suatu landasan yang kuat untuk menyerang Mesir, yaitu fokus dari perang salib Louis sebelumnya (Perang Salib Ketujuh) serta Perang Salib Kelima sebelum dia, yang mana keduanya mengalami kekalahan di sana. Charles (atau Carlo) sebagai Raja Sisilia juga memiliki kepentingan sendiri di daerah Mediterania ini. Khalifah Tunis, Muhammad I al-Mustansir, juga memiliki hubungan dengan kaum Kristen Spanyol dan dianggap sebagai kandidat yang baik untuk konversi. Diduga bahwa kepentingan Charles adalah murni ekonomis, bukannya religius. Pada tahun 1268 Charles berhasil mengamankan warisan Sisilia miliknya dari Dinasti Hohenstaufen setelah mengalahkan Konradin dalam Pertempuran Tagliacozzo.

Louis bertolak dari Perancis Selatan dengan suatu armada yang besar, mendarat di pesisir Afrika pada bulan Juli 1270, musim yang sangat tidak menguntungkan untuk melakukan pendaratan. Banyak tentara yang menjadi sakit karena kondisi air minum yang buruk dan Jean Tristan, putranya yang terlahir di Damietta, meninggal dunia karena disentri pada tanggal 3 Agustus. Pada tanggal 25 Agustus, Louis sendiri meninggal dunia karena suatu "fluks di dalam perut", sehari setelah Charles tiba pada tanggal 25 Agustus 1270. Kata terakhirnya adalah "Yerusalem". Charles memproklamirkan putra Louis, yakni Philippe III, sebagai raja yang baru, tetapi karena usia mudanya itu Charles menjadi pemimpin yang sebenarnya dalam perang salib ini.

Perang Salib IX
9. Tahun 1271 - 1272
Perang Salib Kesembilan, yang mana terkadang dikelompokkan bersama dengan Perang Salib Kedelapan, umumnya dianggap sebagai Perang Salib besar yang terakhir di Tanah Suci pada abad pertengahan. Perang ini berlangsung antara tahun 1271–1272. Kegagalan Louis IX dari Perancis untuk menguasai Tunis dalam Perang Salib Kedelapan Edward, putra Henry III dari Inggris, untuk berlayar ke Akko dalam rangka melangsungkan apa yang disebut sebagai Perang Salib Kesembilan. Perang Salib Kesembilan meraih beberapa kemenangan yang mengesankan bagi Edward atas Baibars. Pada akhirnya Perang Salib dipandang tidak begitu banyak kegagalan ketika kemudian menarik diri; Edward memiliki kekhawatiran akan masalah-masalah di negaranya dan merasa tidak mampu untuk menyelesaikan konflik-konflik di dalam wilayah-wilayah outremer yang tersisa. Dapat dikatakan bahwa semangat untuk melakukan Perang Salib sudah hampir "punah", pada periode ini juga. Hal ini juga merupakan pertanda ambang keruntuhan kubu-kubu pertahanan tentara salib terakhir yang masih tersisa di sepanjang pesisir Mediterania.

Menyusul kemenangan Mamluk atas suku Mongol pada tahun 1260 dalam Pertempuran Ain Jalut oleh Saif ad-Din Al-Qutuz dan jenderalnya Baibars, Qutuz tewas terbunuh sehingga menjadikan Baibars satu-satunya orang yang mengklaim takhta kesultanan. Sebagai sultan, Baibars melanjutkannya dengan menyerang para tentara salib di Arsuf, Atlet, Haifa, Safed, Jaffa, Ashkelon, dan Kaisarea. Karena kota-kota benteng tentara salib satu per satu jatuh, mereka meminta bantuan dari Eropa, tetapi bantuan tersebut lambat datangnya. Pada tahun 1268 Baibars merebut Antiokhia, dengan demikian menghancurkan sisa-sisa Kepangeranan Antiokhia yang terakhir, mengamankan front utara Mamluk dan mengancam County Tripoli tentara salib.

Louis IX dari Perancis, yang telah mengorganisir sejumlah besar bala tentara salib dengan maksud menyerang Mesir, beralih ke Tunis di mana ia sendiri meninggal dunia karena penyakit pada tahun 1270. Edward I dari Inggris datang terlambat di Tunis untuk berpartisipasi dalam sisa perang salib di Tunis. Sebaliknya ia melanjutkan perjalanannya ke Tanah Suci untuk membantu Bohemond VI, Pangeran Antiokhia dan Comte Tripoli, dalam menghadapi ancapan Mamluk atas Tripoli dan sisa-sisa Kerajaan Yerusalem. Pada tanggal 9 Mei 1271 Edward akhirnya tiba di Akko. Ia membawa sekelompok kecil pasukan, namun bukannya tidak berarti, yang terdiri tidak lebih dari 1.000 orang termasuk 225 ksatria. Ini adalah Perang Salib terakhir, karena setelahnya, dan sebagian besar banyak negara-negara Eropa disibukkan dengan agenda Perang Dunia II.

Sejarah Singkat Perang Salib I - IX
ehem, sumber link topik ente mana ya, agan TS yg baik ??
jd kangen game age of empires gan,,, campaignnya ada cerita ini wkwkwk
Quote:


Sebelum saya tulis sudah membaca dari beberapa sumber jadi kurang lebih sama saja intinya, ada artikel, ada PDF, ada buku, kalo angan kurang percaya silahkan cari informasi dulu kalo ada perbedaan nanti di share, kalo soal link gampang, tapi nanti dipertanyakan lagi sumber itu link penulisannya darimana 😇😇
Quote:


Ya itu bukti kalo sejarah masa lalu memang menginspirasi 😇😇
Balasan post djendradjenar
Quote:


kalau sumbernya banyak ada baiknya disitasi sumbernya, buku apa saja, link mana saja, artikel apa saja

kalau nggak ada ya jangan heran kalau ditanya sumber


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di