alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II
2.71 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c067a88d9d7705a6b8b4568/bunuh-diri-massal-pers-indonesia-jilid-ii

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II
SENIN, 03 DESEMBER 2018 , 21:14:00 WIB


Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II

TANDA-tanda pers Indonesia sedang melakukan bunuh diri massal, semakin nyata. Pemberitaan media massa tentang Reuni 212 yang berlangsung di Monas Ahad (2/12), membuka tabir yang selama ini coba ditutup-tutupi. Kooptasi penguasa, kepentingan idiologi, politik dan bisnis membuat pers menerapkan dua rumus baku, framing dan black out.

Peristiwa besar yang menjadi sorotan media-media internasional itu sama sekali tidak menarik” dan tidak layak berita,   bagi sebagian besar media nasional yang terbit di Jakarta. 

Sejumlah pembaca Harian Kompas pada Senin (4/12) pagi dibuat terkejut ketika mendapati  koran nasional itu sama sekali tidak memuat berita  jutaan orang yang berkumpul di Monas. Halaman muka Kompas bersih dari foto, apalagi berita peristiwa spesial tersebut. 

Setelah dibuka satu persatu, peristiwa super penting itu ternyata terselip di halaman 15. Dengan judul Reuni Berlangsung Damai”  Kompas hanya memberi porsi berita tersebut dalam lima kolom kali seperempat halaman,  atau sekitar 2.500 karakter. Tidak ada foto lautan manusia yang menyemut dan memadati kawasan Monas dan sekitarnya.

Bagi Harian Kompas peristiwa itu tidak penting dan tidak ada nilai beritanya (news value). Halaman 15 adalah halaman sambungan, dan topiknya tidak spesifik. Masuk kategori berita dibuang sayang. Yang penting ada. Karena itu namanya halaman umum.” Masih untung pada bagian akhir Kompas mencantumkan keterangan tambahan Berita lain dan foto, baca di KOMPAS.ID.

Kompas memilih berita utamanya dengan judul Polusi Plastik Mengancam.” Ada dua berita soal plastik, dilengkapi dengan foto seorang anak di tengah lautan sampah plastik dalam ukuran besar. Seorang pembaca Kompas yang kesal, sampai membuat status Koran Sampah!” 

Halaman muka Harian Media Indonesia milik Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh juga bersih dari foto dan berita Reuni 212. Mereka memilih berita utama dengan judul PP 49/2018 Solusi bagi Tenaga Honorer.” 

Harian Sindo Milik Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoe memilih berita utamanya Pesona Ibu Negara di Panggung G-30” dengan foto-foto mereka dalam ukuran besar.  Koran  Tempo memilih berita utama Menuju Ekosistem Digital” yang ditampilkan dalam seluruh halamannya.
  
Hanya Koran Rakyat Merdeka, Republika yang memuat berita dan foto peristiwa Reuni 212 di halaman muka.  Rakyat Merdeka menulis Judul 212 Makin lama, Makin Besar Kenapa Ya?.” Republika menulis  Judul  Reuni 212 Damai.”  Sementara Harian Warta Kota memuat foto lepas,  suasana di Monas dengan judul berita yang dengan berita utama yang sangat besar Ketua RW Wafat Usai Reuni.” 

Agenda Setting

Dengan mengamati berbagai halaman muka media,  kita bisa mendapat gambaran apa terjadi di balik semua itu? Media bersama kekuatan besar di belakangnya, tengah melakukan agenda setting. 

Mereka membuat sebuah skenario menenggelamkan peristiwa Reuni 212, atau setidaknya menjadikan berita tersebut tidak relevan. Operasi semacam ini hanya bisa dilakukan oleh kekuatan besar, dan melibatkan biaya yang cukup besar pula.

Target pertama black out sepenuhnya. Jangan sampai berita tersebut muncul di media.  Untuk kasus pertama ini kelihatannya tidak ada media yang berani mati dan mengabaikan akal sehat.

Reuni 212 terlalu besar untuk dihilangkan begitu saja. Kasusnya jelas berbeda dengan unjukrasa Badan Eksekutif Media Se-Indonesia (BEMSI), dan ribuan guru honorer yang berunjuk rasa ke istana beberapa waktu lalu. Pada dua kasus itu mereka berhasil melakukan black out.

Target kedua, kalau tidak bisa melakukan black out, maka berita itu harus dibuat tidak penting dan tidak relevan. Apa yang dilakukan Kompas, dan Media Indonesia masuk dalam kategori ini.

Target ketiga, diberitakan, namun dengan _tone- yang datar dan biasa-biasa saja. Contohnya pada Republika. Meski dimiliki oleh Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, harap diingat latar belakang koran ini adalah milik umat.  Tidak mungkin mereka menempatkan berita ini di halaman dalam, apalagi menenggelamkannya. 

Bisa dibayangkan apa yang terjadi, bila  Republika berani mengambil posisi seperti Kompas? Ketika Erick memutuskan bersedia menjadi ketua tim sukses saja banyak pembaca yang sudah mengancam akan berhenti berlangganan. Apalagi bila sampai berani melakukan blac out dan framingterhadap berita Reuni 212. Wassalam.

Target keempat tetap memberitakan, tapi dengan melakukan framing, pembingkaian berita. Reuni memakan korban. Contohnya adalah Warta Kota yang membuat judul Ketua RW Wafat Usia Reuni.” Berita ini jelas terlihat sangat dipaksakan. Satu orang meninggal di tengah jutaan orang berkumpul, menjadi berita yang menarik dan penting? Sampean waras?

Hal yang sama jika kita amati juga terjadi di media online, dan televisi. Hanya TV One yang tampaknya mencoba tetap menjaga akal sehat di tengah semua kegilaan.

Tidak perlu orang yang punya pengalaman di media untuk memahami semua keanehan yang kini tengah melanda sebagian besar media arus utama Indonesia.

Berkumpulnya jutaan orang dari berbagai penjuru kota di Indonesia, dan juga kota-kota dunia di Lapangan Monas, apalagi pada masa kampanye, jelas merupakan berita besar. Tidak ada alasan untuk tidak memuat, apalagi mengabaikannnya.

Bagi kalangan media peristiwa itu jelas memenuhi semua syarat kelayakan berita.  Mau diperdebatkan dari sisi apapun, pakai ilmu jurnalistik apapun, termasuk ilmu jurnalistik akherat, atau luar angkasa (kalau ada), Reuni 212 jelas memenuhi semua syarat.
 
Luasnya pengaruh (magnitude), kedekatan (proximity), aktual (kebaruan), dampak (impact), masalah kemanusiaan (human interest) dan keluarbiasaan (unusualness), adalah rumus baku yang menjadi pegangan para wartawan.

Permainan para pemilik dan pengelola media yang berselingkuh dengan penguasa ini jelas tidak boleh dibiarkan. Mereka tidak menyadari sedang bermain dengan sebuah permainan yang berbahaya. Dalam jangka pendek  kredibilitas media menjadi rusak. Masyarakat akan kehilangan kepercayaan. Mereka akan ditinggalkan.

Di tengah terus menurunnya pembaca media cetak, tindakan itu semacam bunuh diri, dan  akan mempercepat kematian media cetak di Indonesia. Dalam jangka panjang rusaknya media dan hilangnya fungsi kontrol terhadap penguasa, akan merusak demokrasi yang kini tengah kita bangun.

Masyarakat, aktivis, wartawan, lembaga-lembaga kewartawanan seperti PWI, AJI, IJTI, maupun lembaga-lembaga seperti Komisi Penyiaran Indonesia, dan Dewan Pers  tidak boleh tinggal diam. Terlalu mahal harga yang harus dibayar bangsa ini, karena medianya larut dalam konspirasi dan dikooptasi.

http://www.rmoljabar.com/read/2018/1...esia-Jilid-II-


-----------------------------------

Yang menariknya, justru media asing menjadikan 'head line' atau 'breaking news' peristiwa yang ruarr biasa itu, acara reuni 212 di Monas Jakarta

emoticon-Ultah

Media Internasional Al Jazeera Dan Wartawan Jepang 
Liput Langsung Reuni Akbar 212 Di Monas



Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
al jazeera emoticon-Wkwkwk
ga sekalian pake memri tv emoticon-Wkwkwk
terus kalau diliput langsung dianggap positif gitu?

emang itu jepun kaga bakal ngetawain bani togel gitu?


Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II
Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II
Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II
Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II
Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II
Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II
Media minta disari rotikan emoticon-Mad
Quote:


Ceritanya mewek masal nih para mujahid 212 emoticon-Ngakak
lah ya suka2 medianya cok ah elah

Noh Tirto juga masih ngulas

Kenapa rewel bgt minta diulas?

Ntar kl kompas dateng, dituduh framing

Gak dateng dibilang dibungkam penguasa

Wartawan turun ngeliput dikira lg framing, di bully berjamaah

Jancok kalian
Diubah oleh kakidal27
Biasa. Antek antek rezim ini


biarin aja ntar juga di tinggal sama konsumennya emoticon-Big Grin


contohnya metro tipu emoticon-Wakaka



mewek tong?? bikin media sendiri sonoh emoticon-Ngakak
Balasan post becakmini.v7
Quote:


Boicroott media emoticon-Belgia
Mohon media yang diabsen diberita diatas, melakukan pembelaan terhadap tuduhan yang disangkakan.

Saya sih ngeliat 212, hal yang bagus namun ya apakah seurgent itu harus diangkat jadi topik utama?
Apa gak boleh media menghindari pemberitaan acara agama namun hari2 sebelumnya penyelenggara selalu membunyikan dukungan pada no 2, serta membuat himbauan larangan no 1 datang.
Ini kelihatan politis, apa boleh demi timbangan yang adil media tidak meliput berita mengenai 212 reuni tersebut.
nggak bayar ya nggak tayang iklanmu
apaan tu.. menang rame doang.. etika nol.. gajelas..
Duit nastaik emang strong... gua akui... lets see... 2019 siapa yang jadi presiden emoticon-Angkat Beer
cuman tv oon aja yang nyiarin....., ditempat saya skip aja tv oon, rugi bayarnya, paling sering diacak lagi.....apapalgi liga indonesia emoticon-Cape deeehh , mending dialihkan utk bayar serieA, laliga, HBO, cartoon

mending bayar untuk nonton tvri dah.....paling kenceng metro, cnn, trans corp....


emoticon-Ngacir emoticon-Traveller
Astajim emoticon-Imlek

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II
Balasan post ayy.lmao
Buat apa berita kumpul bocah yang gak berguna dimuat di media

Quote:


anggap aja memuliakan wanitaemoticon-Big Grin
Tapi .....media2 mainstream yg disebut tadi dengan semangat memuat berita tkaseng illegal yg terciduk.

Knapa hayoo
Balasan post babuwali
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
Beritagar • Bolalob • Garasi • Historia • IESPL • Kincir • Kurio • Opini • Womantalk
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di