alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / REGIONAL / All / ... / Malang /
Tentang Arjowinangun (lagi)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c06375b529a455c718b4568/tentang-arjowinangun-lagi

Tentang Arjowinangun (lagi)

Ayah kandung saya, asli orang Arjowinangun. Lahir dan bertumbuh disana. Meskipun, setelah lulus SMA, beliau mengaku lebih banyak merantau dikarenakan harus mencari nafkah sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga. Saya mendengar banyak kisah tentang Arjowinangun dari ayah. Saya juga menjadi saksi kondisi dan suasana Arjowinangun di era awal tahun 2000-an. Saya sendiri, sejujurnya, saat masih kecil, lebih kagum dengan suasana kota dibandingkan suasana pedesaan. Menurut saya, suasana pedesaan itu....norak ! Haha. Saya sendiri juga tidak tahu, kok bisa berpikiran seperti itu (maklum masih bocah). Hehe. Di era awal 2000an itu, saya dan keluarga tidak pernah absen mengunjungi rumah nenek yang ada di daerah Babatan, Arjowinangun. Meskipun saya dan keluarga tinggal di Malang sejak tahun 1996, saya jarang main-main ke daerah ini, kecuali untuk mengunjungi nenek saya saja. Mungkin sekitar 2-3 minggu sekali. Meskipun jarang, kalau sudah waktunya kita visitting ke Arjowinangun, entah kenapa, saya benci sekali.

Saya ingat, saya tidak pernah merasakan sukacita untuk main-main ke daerah sana. Perjalanan dari rumah saya di Sawojajar ke Arjowinangun, yang jaraknya kurang lebih 8 km itu, terasa sangat panjang, membosankan dan terkadang terasa mencekam. Salah satu alasan saya malas mengunjungi daerah Arjowinangun adalah, terkadang saya merasa waktu terhenti disana. Dan juga, menyeramkan. Keadaan Kota Malang dan Arjowinangun pada saat itu sangat jauh. Padahal, Arjowinangun masih masuk wilayah Kotamadya loh, meskipun memang lokasinya lebih berdekatan dengan perbatasan Kabupaten Malang daerah selatan. Dari arah Sawojajar menuju Arjowinangun, saya dan keluarga saya selalu melewati jalan Ki Ageng Gribik, lurus terus hingga menuju jembatan Kedungkandang. Dari jembatan lurus terus saja hingga jalan Mayjen Sungkono. Pada saat itu, area yang ramai ya sebatas di Ki Ageng Gribik saja, yang masih berdekatan dengan area Sawojajar. Sisanya? Wah, Jadoel. Bahkan pada saat itu, jalanan yang saya lewati menuju rumah nenek saya terkenal akan jalurnya begal. Maklum, kondisinya gelap sekali dan sepi. Kanan dan kiri jalan masih rumah-rumah. Belum ruko-ruko dan pertokoan ramai seperti sekarang. Apalagi di daerah Jalan Mayjen Sungkono. Saat ini saja, kalau malam hari, memang jalanan mulai ramai dengan kendaraan yang lalu lalang, tapi suasananya masih gelap dan kadang berkabut menjelang tengah malam,dikarenakan masih luasnya area persawahan di area sini. Kalau 18 tahun yang lalu, Jalan Mayjen Sungkono itu sudah seperti jalanan yang digambarkan di novel-novel misteri atau film-film horor. Jalannya gelap gulita, penerangan hanya berasal dari lampu kendaraan yang lewat, belum ada LPJ ! Di kanan dan kiri jalan, terhampar kebun tebu yang tidak ada batasnya, luas bukan main. Kalau sudah musim tebu, pohon-pohon tebu tadi menjulang tinggi, hingga lembaran daunnya yang panjang terkadang menjuntai dan bergerak-gerak ganjil ketika tertiup angin. Kalau malam hari, jangan ditanya, suasananya sudah mirip dengan setting lokasi pembunuhan di film "Lovely Bones". Bahkan lebih ekstrim, karena batang tebu yang di Arjowinangun tingginya bisa mencapai 4-5 meter, ditambah suasananya yang berkabut. Hiiiy. Bikin merinding sih kalau ingat suasana Jalan Mayjen Sungkono saat itu. Setiap kali kami melewati jalan itu, ayah saya selalu memacu mobil kencang-kencang. Mungkin beliau juga khawatir melihat yang macam-macam. Hehe. Apalagi saya yang masih bocah. Saya cuma bisa tengok kanan-kiri, depan-belakang, memastikan apakah ada kendaraan yang turut menyusuri jalan. Kalau ada, saya tenang, saya merasa kita tidak sendirian menyusuri jalanan yang gelap dan sepi ini. Kalau tidak ada satupun kendaraan di sekitar kami, saya hanya bisa memejamkan mata, menunggu mobil kami sampai di daerah yang agak terang dan ada perumahan. Saya takut tiba-tiba lihat yang aneh-aneh !

Dikala menyusuri jalan Mayjen Sungkono yang mencekam tadi, petualangan belum berakhir. Mobil berbelok ke kanan setelah ada bangunan yang bertuliskan "Kelurahan Arjowinangun". Dari sini, kira-kira masih lurus 1 km jaraknya sampai pertigaan rumah nenek. Dan, di sepanjang jalan itu, masih rekat di kiri-kanan pemandangan kebun salak. Saya tidak pernah suka dengan kebun salak. Kebun salak itu selalu mengeluarkan aroma aneh, asam dan pengap. Apalagi di daerah Arjowinangun, pada saat itu, sebagian besar penduduknya selalu menanam area tanah di sekeliling rumahnya dengan pohon salak. Menanamnya pun seperti asal-asalan saja dan tidak ditata. Akhirnya pohon salak yang rimbun dan berduri tajam itu berdesak-desakan tumbuhnya, rungsep dan pengap. Kalau di malam hari, gelapnya juga tidak kalah dengan gelapnya kebun tebu. Hanya saja kebun salak menurut saya mengeluarkan aroma aneh. Dan yah, mitos penghuni kebun salak itu banyak sekali. Bisa dibayangkan yah betapa lelah mental seorang bocah seperti saya yang harus menahan takut melewati jalanannya raja begal, rampok,belum lagi dengan suasana gelap gulita, sepi, rimbun dengan pohon-pohon tinggi dan konon dihuni makhluk-makhluk yang tak kasat mata. Sepanjang jalan. Apalagi jaman dulu belum ada smartphone ya, mana bisa saya mengalihkan pikiran selain terus terngiang di pikiran saya tentang cerita-cerita mitos disana.

Kalau sekarang, setelah kurang lebih 18 tahun berlalu, perkembangan di area sana memang tidak secepat wilayah-wilayah lain di Kota Malang. Tapi pasti, Arjowinangun akan seramai wilayah-wilayah Kota Malang lainnya. Coba saja main-main kesana. Dan bisa di bandingkan dengan cerita yang saya jabarkan sebelumnya. Atau mungkin, ada yang sudah pernah merasakan suasana Arjowinangun masa lampau, bahkan lebih lampau dari masa saya juga bisa sharing cerita di thread ini emoticon-Smilie

Sejujurnya, saya masih penasaran dengan sejarah wilayah Arjowinangun. Karena di dekat rumah nenek saya, ada jembatan "lori" sejenis kereta kecil pembawa tebu yang usianya sudah ratusan tahun dan masih berdiri kokoh hingga saat ini. Konon, kereta ini sudah ada pada zaman belanda dahulu. Saat ini, jembatan "lori" ini dijadikan jalan alternatif, dari perumahan di area Tutut menuju daerah Sawahan, atau Kacuk. Masih dilewati puluhan mobil dan sepeda motor setiap harinya loh.

Masih banyak yang bisa dieksplor dari wilayah ini. Saya harap saya punya kesempatan untuk terus mengenal wilayah ini dan belajar mencintainya. Bahkan, mumgkin turut berpartisipasi dalam memajukannya.Sekian dulu. Salam aremanita....
Diubah oleh Rumahkostarjo
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di