alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II
2.33 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c0625379a0951a20c8b4571/bunuh-diri-massal-pers-indonesia-jilid-ii

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II

TANDA-tanda pers Indonesia sedang melakukan bunuh diri massal, semakin nyata. Pemberitaan media massa tentang Reuni 212 yang berlangsung di Monas Ahad (2/12), membuka tabir yang selama ini coba ditutup-tutupi. Kooptasi penguasa, kepentingan idiologi, politik dan bisnis membuat pers menerapkan dua rumus baku,  framing dan black out.

Peristiwa besar yang menjadi sorotan media-media internasional itu sama sekali tidak “menarik” dan tidak layak berita,   bagi sebagian besar media nasional yang terbit di Jakarta. 

Sejumlah pembaca Harian Kompas pada Senin (4/12) pagi dibuat terkejut ketika mendapati  koran nasional itu sama sekali tidak memuat berita  jutaan orang yang berkumpul di Monas. Halaman muka Kompas bersih dari foto, apalagi berita peristiwa spesial tersebut. 

Setelah dibuka satu persatu, peristiwa super penting itu ternyata terselip di halaman 15. Dengan judul “Reuni Berlangsung Damai”  Kompas hanya memberi porsi berita tersebut dalam lima kolom kali seperempat halaman,  atau sekitar 2.500 karakter. Tidak ada foto lautan manusia yang menyemut dan memadati kawasan Monas dan sekitarnya.

Bagi Harian Kompas peristiwa itu tidak penting dan tidak ada nilai beritanya (news value). Halaman 15 adalah halaman sambungan, dan topiknya tidak spesifik. Masuk kategori berita dibuang sayang. Yang penting ada. Karena itu namanya halaman “umum.” Masih untung pada bagian akhir Kompas mencantumkan keterangan tambahan “Berita lain dan foto, baca di KOMPAS.ID.

Kompas memilih berita utamanya dengan judul “Polusi Plastik Mengancam.” Ada dua berita soal plastik, dilengkapi dengan foto seorang anak di tengah lautan sampah plastik dalam ukuran besar. Seorang pembaca Kompas yang kesal, sampai membuat status “Koran Sampah!” 

Halaman muka Harian Media Indonesia milik Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh juga bersih dari foto dan berita Reuni 212. Mereka memilih berita utama dengan judul “ PP 49/2018 Solusi bagi Tenaga Honorer.” 

Harian Sindo Milik Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoe memilih berita utamanya “ Pesona Ibu Negara di Panggung G-30” dengan foto-foto mereka dalam ukuran besar.  Koran  Tempo memilih berita utama “Menuju Ekosistem Digital” yang ditampilkan dalam seluruh halamannya.
  
Hanya Koran Rakyat Merdeka, Republika yang memuat berita dan foto peristiwa Reuni 212 di halaman muka.  Rakyat Merdeka menulis Judul “212 Makin lama, Makin Besar Kenapa Ya?.” Republika menulis  Judul  “Reuni 212 Damai.”  Sementara Harian Warta Kota memuat foto lepas,  suasana di Monas dengan judul berita yang dengan berita utama yang sangat besar “Ketua RW Wafat Usai Reuni.” 

Agenda Setting

Dengan mengamati berbagai halaman muka media,  kita bisa mendapat gambaran apa terjadi di balik semua itu? Media bersama kekuatan besar di belakangnya, tengah melakukan agendasetting. 

Mereka membuat sebuah skenario menenggelamkan peristiwa Reuni 212, atau setidaknya menjadikan berita tersebut tidak relevan. Operasi semacam ini hanya bisa dilakukan oleh kekuatan besar, dan melibatkan biaya yang cukup besar pula.

Target pertama black out sepenuhnya. Jangan sampai berita tersebut muncul di media.  Untuk kasus pertama ini kelihatannya tidak ada media yang berani mati dan mengabaikan akal sehat.

Reuni 212 terlalu besar untuk dihilangkan begitu saja. Kasusnya jelas berbeda dengan unjukrasa Badan Eksekutif Media Se-Indonesia (BEMSI), dan ribuan guru honorer yang berunjuk rasa ke istana beberapa waktu lalu. Pada dua kasus itu mereka berhasil melakukan black out.

Target kedua, kalau tidak bisa melakukan black out, maka berita itu harus dibuat tidak penting dan tidak relevan. Apa yang dilakukan Kompas, dan Media Indonesia masuk dalam kategori ini.

Target ketiga, diberitakan, namun dengan _tone- yang datar dan biasa-biasa saja. Contohnya pada Republika. Meski dimiliki oleh Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, harap diingat latar belakang koran ini adalah milik umat.  Tidak mungkin mereka menempatkan berita ini di halaman dalam, apalagi menenggelamkannya. 

Bisa dibayangkan apa yang terjadi, bila  Republika berani mengambil posisi seperti Kompas? Ketika Erick memutuskan bersedia menjadi ketua tim sukses saja banyak pembaca yang sudah mengancam akan berhenti berlangganan. Apalagi bila sampai berani melakukan blac out dan framing terhadap berita Reuni 212. Wassalam.

Target keempat tetap memberitakan, tapi dengan melakukan framing, pembingkaian berita. Reuni memakan korban. Contohnya adalah Warta Kota yang membuat judul “Ketua RW Wafat Usia Reuni.” Berita ini jelas terlihat sangat dipaksakan. Satu orang meninggal di tengah jutaan orang berkumpul, menjadi berita yang menarik dan penting? Sampean waras?

Hal yang sama jika kita amati juga terjadi di media online, dan televisi. Hanya TV One yang tampaknya mencoba tetap menjaga akal sehat di tengah semua kegilaan.

Tidak perlu orang yang punya pengalaman di media untuk memahami semua keanehan yang kini tengah melanda sebagian besar media arus utama Indonesia.

Berkumpulnya jutaan orang dari berbagai penjuru kota di Indonesia, dan juga kota-kota dunia di Lapangan Monas, apalagi pada masa kampanye, jelas merupakan berita besar. Tidak ada alasan untuk tidak memuat, apalagi mengabaikannnya.

Bagi kalangan media peristiwa itu jelas memenuhi semua syarat kelayakan berita.  Mau diperdebatkan dari sisi apapun, pakai ilmu jurnalistik apapun, termasuk ilmu jurnalistik akherat, atau luar angkasa (kalau ada), Reuni 212 jelas memenuhi semua syarat.
 
Luasnya pengaruh (magnitude), kedekatan (proximity), aktual (kebaruan), dampak (impact), masalah kemanusiaan (human interest) dan keluarbiasaan (unusualness), adalah rumus baku yang menjadi pegangan para wartawan.

Permainan para pemilik dan pengelola media yang berselingkuh dengan penguasa ini jelas tidak boleh dibiarkan. Mereka tidak menyadari sedang bermain dengan sebuah permainan yang berbahaya. Dalam jangka pendek  kredibilitas media menjadi rusak. Masyarakat akan kehilangan kepercayaan. Mereka akan ditinggalkan.

Di tengah terus menurunnya pembaca media cetak, tindakan itu semacam bunuh diri, dan  akan mempercepat kematian media cetak di Indonesia. Dalam jangka panjang rusaknya media dan hilangnya fungsi kontrol terhadap penguasa, akan merusak demokrasi yang kini tengah kita bangun.

Masyarakat, aktivis, wartawan, lembaga-lembaga kewartawanan seperti PWI, AJI, IJTI, maupun lembaga-lembaga seperti Komisi Penyiaran Indonesia, dan Dewan Pers  tidak boleh tinggal diam. Terlalu mahal harga yang harus dibayar bangsa ini, karena medianya larut dalam konspirasidan dikooptasi. [***]

https://www.rmol.co/read/2018/12/03/369180/Bunuh-Diri-Massal--Pers-Indonesia-Jilid-II-

Massal bre
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
Setelah dibuka satu persatu, peristiwa super penting itu ternyata terselip di halaman 15.

WTF SUPER PENTING emoticon-Ngakak



RMOL emoticon-DP
Diubah oleh ferina.
bunuh diri nya sambil traktir traktir emoticon-Angkat Beer ga?
kalau engga ya ga papa. yg masalah itu bom bunuh diri di tempat rame sambil lets take a emoticon-Angkat Beer
kalo cetakalan tanggal 3/12 nya gmn gan..? emoticon-Bingung (S)
Emang gak penting kan alumni 212, gak ada urgensinya.

wkwkwkwk masak nyalahin medianya
emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek
Sok penting... seperti kumpulan orang gagal yang ingin diakui berhasil berkumpul beramai-ramai.. walaupun dihalaman 15 toh masih diberitakan? jadi apa maksudnya memakai kalimat black out?.. please deh, demen kali playing victim, persis alay yang lagi puber.
212 emang kegiatan ga penting koq...

lebih penting berita bagi2 sepeda sama lempar2 kado ... emoticon-Traveller
sumur?
emoticon-Betty
Sujud sukur dulu lah kalo begitu...

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II
2014 jokowi dikroyok media kagak mewekan gini dah

ini belum tarung mewek muluemoticon-Ngakak (S)
Nanti muncul.di cover majalah internesyenel kok

"National geographic"

Dgn artikel kalau dunia palentologi terkejut karena nusantara masih mempunyai primata primitif yg gagal evolusi menjadi manusia, banyak pulak ada 40rebuan jumlahnya yg terdeteksi petugas terkait
ada yg terguncyang emoticon-Big Grin
Menurut gw emang lebih penting ngurusin polusi akibat plastik daripada aksi 212 emoticon-Big Grin
media sampah. makanya ane males liat koran n tv yang ntu
terus2 in yang model begini, mereka pikir rakyat pd goblock
Quote:


RMOL dot crot memang kefarat kaforit nasbung, ya akhi. emoticon-Salaman
Lebay. Nanti giliran ada wartawan dibikin kyk kejadian kemaren.
RMOl pinginnya kompas bunuh diri biar dia bisa jadi media nasional emoticon-Ngakak
ACARA DILANGSUNGKAN TANGGAL 2 DES BACA KORANNYA TANGAL 4 DES ???
LAH EMANG TANGGAL 3 DES GAK DIBERITAIN ????

BTW NGAREP BANGET YAH JADI HEADLINE !!!!!!

emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
Pengen Riya?
Buat aja siaran televisi atau media cetakmu sendiri
Jaman keterbukaan katanya?
Cuih...
Kalau mau jujur rezim cebong pingin balik ke enakan jaman ku toh...
Munafik emang.
lah kompas kan hr senin emg suka investigasi ke isu yg penting, biasanya bnyk data2 mendalam gt. gak ditaro didepan aja ngambek..repot ini kalo junjungannya berkuasa..
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di