alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c05c98f642eb6ac478b4567/ruang-emosi

Ruang Emosi

Kedamaian pagi itu cukup terasa di rumah keluarga kecil Hasan. Menjadi kepala keluarga yang memikul beban keharmonisan istri dan anaknya tentu resiko yang sudah dipikirkan Hasan sejak lama. Hasan hidup dengan seorang istri cantik dan manis yang bernama Fatimah serta seorang putri berumur 4 tahun bernama Adiba yang tengah imut dan manjanya. Keluarga ini hidup di rumah yang cukup sederhana untuk seorang pengusaha sukses seperti Hasan. Hasan adalah seorang CEO sebuah perusahaan yang bergerak dibidang marketing online. Dia cukup dewasa dalam membagi waktu antara pekerjaan dan keluarganya.
                Pagi itu, setelah menyelesaikan sarapannya, Hasan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sebelum berangkat kerja, Fatimah selalu mengantar keberangkatan Hasan hingga pintu masuk rumahnya. Hasan juga tak pernah lupa memberikan sepatah kata kepada anak-istrinya serta kecupan manis kepada keduanya.
                “Dek, jaga Adiba ya! Hati-hati dirumah. Kalau keluar jangan lupa kunci pintu!” Hasan berpesan kepada Fatimah.
                “Iya bang, hati hati dijalan ya! Jangan lupa doa sebelum berangkat.” Fatimah juga tak lupa menunjukkan rasa perhatiaannya kepada suaminya.
                “Adiba, jangan nakal ya! Dengar apa kata mama.”
                “Emm… Papa, ati-ati ya…ee… Adiba cayang papa.” Dengan tingkah imutnya, Adiba berusaha menunjukkan rasa sayangnya kepada Hasan.
                Setelah beberapa jam keberangkatan Hasan, rumah keluarga ini terasa sedikit sepi. Di rumah hanya terdengar riakan minyak panas milik Fatimah yang sedang memasak. Saat itu Adiba tidak terlihat sedang berada disekitar Fatimah. Setelah menyadarinya, Fatimah langsung mematikan kompor yang sedang digunakan dan kemudian mencari Adiba. Fatimah menelusuri beberapa ruangan, akhirnya dia menemukan Adiba didalam ruangan pribadi Hasan yang hanya berisi konsol game, komputer rakitan dan barang-barang yang menjadi hobi Hasan lainnya. Setelah menemukan Adiba, Fatima kaget bukan kepalang melihat apa yang telah Adiba lakukan diruangan itu.
                “Adibaaa, ngapain kamu nak?” Dengan nada sedikit tinggi Fatimah yang kaget membuat Adiba terkejut. Adiba yang saat itu tengah asyiknya--- melihat mamanya dengan tatapan yang tidak biasa membuatnya takut.
                “Mama, adiba… adiba… gak nakal!” Adiba yang berbicara dengan mata berkaca-kaca itu, langsung memeluk mamanya sambil menangis kencang.
                “Aduh… iya-iya, jangan nangis! Gapapa, adiba gak salah. Jangan nangis ya!” Fatimah berusaha menghibur Adiba dengan siifat keibuannya setelah melihat anak satu-satunya merasa sangat bersalah.
                “Semoga abang tidak marah saat pulang nanti.” Fatimah bergumam dengan nada rendah berharap kejadian ini baik-baik saja.
                Ketika Adiba diluar perhatian Fatimah, dia berkeliling rumah mencari sesuatu yang dikiranya menyenangkan. Adiba teringat momen beberapa hari yang lalu bersama Hasan ketika mereka menghabiskan waktu bermain game di ruangan pribadi Hasan. Adiba dengan girangnya memasuki ruangan pribadi Hasan dengan maksud bermain game seperti yang dilakukannya bersama Hasan. Setelah memasuki ruangan itu, bukannya memainkan game seperti yang Hasan mainkan, Adiba malah melempar dan membanting beberapa peralatan game milik Hasan. Adiba berpikir begitulah caranya bermain game.
                Ketika malam tiba, Hasan tiba dirumah sepulang dari tempat kerjanya. Wajah Hasan saat itu sedikit merah menunjukkan kelelahannya pada hari itu. Fatimah menyambut Hasan dan membantu mengangkat tas milik Hasan dan kemudian mengantar kekamar mereka. Hasan yang lelah langsung mengambil peralatan mandi dan kemudian menuju ke kamar mandi. Selesai mandi, Fatimah yang menunggu dikamar dan kembali menyapa Hasan dengan kepala tertunduk.
                “Bang, gimana kerjaan hari ini?” Fatimah memulai percakapan dengan sedikit basa-basi.
                “Emm, baik-baik aja kok, walaupun ada masalah sedikit, tapi udah selesai.” Hasan membalas dengan nada lelah.
                “Gini bang, boleh gak aku minta abang jangan marah?” Fatimah yang tertunduk mulai berbicara dengan nada memelas.
                “Ada masalah apa?” Hasan membalas dengan rasa penasarannya.
                “Ayo ikut adek bang!”
                Fatimah menuntun Hasan menuju ruangan pribadinya. Sesampainya disana Fatimah menunjukkan kejadian yang dialaminya siang tadi. Dengan wajah kaget dan semakin memerah, Hasan mulai mengerutkan dahinya. Hasan saat itu berdiri kaku seperti akan kehilangan akal sehatnya. Namun setelah Hasan kembali teringat perkataan Fatimah untuk tidak marah, dia mulai menarik nafas dalam dan kemudian berbalik badan meninggalkan ruangan itu. Fatimah yang kebingungan mengikuti Hasan dari belakang. Dia melihat Hasan menuju sebuat ruangan kecil yang belum pernah dimasukinya selama tinggal dirumah itu. Ruangan kecil itu adalah milik Hasan sendiri dan dia tidak mengizinkan siapapun memasukinya termasuk Fatimah. Bahkan Hasan tidak memperbolehkan Fatimah bertanya tentang ruangan itu. Selama Fatimah tinggal dengan Hasan dirumah itu, dia pernah beberapa kali melihat Hasan memasuki ruangan tersebut.
                 “Dek aku lapar.” Didepan ruangan misteruis itu Hasan berbicara seakan menyuruh Fatimah untuk tidak ikut dengannya. Fatimah yang sadar langsung menuju dapur dan mulai memasak makan malam.
                Setelah berselang beberapa menit Hasan yang sebelumnya memasuki ruangan misterius itu menuju dapur untuk menyapa Fatimah yang sedang memasak. Dengan wajah kaget Fatimah melihat Hasan berdiri disampingnya secara tiba-tiba, sebelumnya  wajah Hasan merah dan berkerut sudah kembali seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa pada hari itu.
                “Dek, Adiba dimana?” Hasan bertanya dengan nada santai.
                “Dia ketiduran sejak sore tadi bang. Dia capek setelah menangis karena merasa bersalah merusak barang abang.” Fatimah berbicara seolah membela Adiba.
                “Adiba gak salah, aku aja yang ceroboh lupa mengunci pintu kamar itu.”
                Hasan dan Fatimah saat itu berbicara sedikit canggung. Seolah ada sesuatu sangat penting yang ingin dibicarakan Hasan kepada istrinya itu.
                “Dek, mungkin ini saatnya aku bicara masalah ini kepada adek.”
                “Masalah apa bang?” Fatimah yang sedang menyiapkan makan malam merasa bingung.
                “Masalah ruangan yang abang masuki tadi. Apa adek mau mendengarkan abang?” Hasan merasa sedikit ragu memulai membicarakan masalah ini.
                “Iya, adek siap mendengarkan abang.”
                Mereka kemudian duduk di kursi makan---bukan untuk menikmati makan malam. Mereka akan memulai percakapan serius mengenai Hasan dimasa lalu, sekarang dan masa depan.
                “Dek, pastinya kamu ingat ayah abang orangnya tegas dan keras, kan. Saking kerasnya abang dan husein pernah sekali kedapatan tidak tidur siang. Saat itu kami diwajibkan tidur siang oleh ayah. Setelah ketahuan, malamnya ayah menasehati kami. Karena saat itu abang masih anak-anak, abang tidak serius mendengarkan nasehat ayah yang membuat ayah sangat kesal saat itu. Ayah yang sangat kesal memberi hukuman kepada kami dengan cara menggantung kedua tangan kami hingga kami mengakui kesalahan kami. Ibu gak bisa bilang apa-apa, karena ibu tau ayah pasti gak mau dengerin ibu. Hidup dengan ayah yang tegas dan keras membuat hubungan kami jauh. Aku jadi jarang bicara dengan ayah karena takut dan segan. Namun tanpa sadar aku mengikuti jejak ayah setelah masuk SMP hingga SMA. Aku menerapkan apa yang aku alami selama hidup dengan ayah. Aku berprinsip bahwa setiap kesalahan, keburukan, dan setiap langkah kiri selalu ada konsekuensi yang harus diakhiri dengan hukuman. Bagiku hukuman adalah tindakan kuratif untuk suatu kesalahan.”
                “Tapi bang…” Fatimah memotong cerita Hasan yang tengah serius.
                “Iya dek, aku tahu apa yang adek pikirkan. Adek tahu bahwa Husein meninggal karena penyakit kronis, kan. Itu salah dek. Maaf aku menutupinya selama ini. Sebetulnya Husein meninggal karena kecanduan narkoba. Disinilah titik balik pemikiranku yang tadi. Karena prinsipku itu membuat Husein kehilangan segalanya. Ayah dan Abang yang merupakan pahlawan baginya berada sangat jauh dari tempatnya berdiri sehingga dia mencari alternatif lain. Dia berkawan dengan orang yang tidak jelas hingga menjerumuskan dia ke jalan yang salah. Setelah kepergian Husein abang sadar kesalahan abang itu. Pada hari abang dengar kepergian Husein, abang masuk kamar untuk melampiaskan semua kesalahan abang. Kamar abang saat itu bagai kapal pecah sampai akhirnya ibu menghentikan abang. Dek…”
                “Iya bang.” Fatimah dengan serius mendengarkan.
                “Setahun setelah kejadian itu abang ketemu sama adek dan jatuh cinta sama adek. Saat itu abang sadar abang gak ingin kehilangan sesuatu yang berharga lagi. Jadi, setelah abang beli rumah ini, abang bangun satu ruang untuk melampiaskan emosi abang ketika seseorang melakukan kesalahan. Dek…”
                “Iya bang.” Dengan mata berkaca-kaca Fatimah masih menanggapi perkataan Hasan.
                “Hari ini ditempat kerja ada dua karyawan yang mencoba mencurangi perusahaan. Kalau tidak dicegah perusahaan yang sudah abang bangun selama ini akan bangkrut dalam waktu singkat. Tapi abang sudah cari solusinya. Emosi abang saat di perusahaan bertambah setelah abang lihat barang-barang abang hancur, tapi abang tersadar dengan kata-kata dari adek makanya abang sanggup menahan sedikit emosi abang. Abang tahu Adiba gak salah, tapi abang gak mau kembali ke diri abang yang dulu…” Hasan tertunduk mengakhiri ceritanya.
                Mendengar cerita Hasan yang belum pernah didengarnya selama ini, Fatimah mulai menitikkan air mata. Air mata ini adalah air mata bahagia karena Hasan telah menceritakan semuanya, namun air mata ini juga air mata sedih atas apa yang telah dialami suaminya selama ini. Fatimah saat itu langsung mendekap suaminya dengan erat sehinnga Hasan hanya pasrah menerimanya.
                “Bang, adek disini untuk abang. Abang gak perlu lagi keruangan itu. Abang gak perlu melaluinya sendiri begitu juga dengan adek. Mulai sekarang kita lalui besama-sama dan saling cerita. Adiba juga ada untuk kita, anugerah yang tidak tergantikan… oh iya, Abang Sabtu-Minggu libur?”
                “Iya dek.” Hasan bingung dengan pertanyaan Fatimah.
                “Adek kangen Afrah, adik abang. Sabtu kita pulang kampung abang ya! Ayah sama ibu juga pasti kangen.” Fatimah berusaha menghibur Hasan walaupun dia masih meneteskan air mata.
                “Kamu memang paling mengerti abang dek.” Hasan membalas dengan senyuman leganya.
                Setelah percakapan itu berakhir, tiba-tiba muncul Adiba yang terlihat lusuh karena baru bangun dari tidurnya. Adiba melihat wajah mamanya yang memerah dan mata yang sedikit kembung, menandakan sesuatu telah terjadi diantara mama dan papanya.
                “Papa, maafkan Adiba, mama gak calah. Adiba yang calah” Adiba memelas dengan wajah polosnya membuat hati siapapun menjadi luluh.
                “Iya, Adiba gak salah. Adiba anak baik.” Hasan berusaha menghibur Adiba yang membuat mereka bertiga berpelukan.
                Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, ruangan misterius milik Hasan dibongkar. Didalam ruangan itu berisi sebuah alat pengedap suara dan matras yang menempel dilantai dan dinding ruangan. Kini ruangan itu diubah menjadi tempat penyimpanan mainan Adiba. Hasan tahu betul bahwa Adiba membutuhkan hiburan untuk masa tumbuh kembangnya.
                Hasan dan Fatimah kini selalu membicarakan masalah mereka. Mereka kemudian mencari solusi terhadap masalah yang mereka alami. Saling berbagi masalah bukanlah sesuatu yang buruk, melainkan bagian dari relationship goals bagi setiap hubungan. Masalah akan terasa ringan jika kita berbagi. Hukuman bukanlah satu-satunya solusi untuk sebuah kesalahan, melainkan masih banyak solusi didalamnya. Hukuman hanyalah bagian dari kesalahan jika kita tidak menemukan solusi didalam kesalahan tersebut. Sahabat, teman, keluarga, dan kerabat juga merupakan bagian dari tubuh yang akan menopang setiap keluhan dan masalah yang kita alami. Apa yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana cara kita memulai berbicara dengan mereka sebelum terlambat.         
 

                                                                       ---Terimakasih Telah Membaca---
emoticon-Salam Kenalemoticon-Shakehand2emoticon-Shakehand2
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di