alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Naiknya harga beras tak berpengaruh besar pada inflasi
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c051615c0d770496b8b4569/naiknya-harga-beras-tak-berpengaruh-besar-pada-inflasi

Naiknya harga beras tak berpengaruh besar pada inflasi

Naiknya harga beras tak berpengaruh besar pada inflasi
Petugas menunjukan stok beras di Gudang Bulog Baru Cisaranten Kidul Sub Divre Bandung, Jawa Barat, Senin (16/10/2018).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, harga beras eceran mengalami kenaikan pada November 2018. Namun kenaikan tersebut tak berpengaruh besar kepada angka inflasi pada periode yang sama.

Dilansir CNNIndonesia.com, November ini harga beras eceran naik sekitar 0,7 persen, melanjutkan kenaikan Oktober sebesar 0,24 persen dari harga pada September 2018.

Sebagai contoh, harga eceran beras IR64 I yang merupakan beras kategori medium pada 27 November berada pada angka Rp10.550 per kilogram setelah operasi pasar. Pada Oktober tanggal yang sama, harganya dibanderol Rp10.425 untuk harga termahal.

Harga Beras grosir secara nasional juga meningkat 0,73 persen pada bulan lalu. Kenaikan harga beras grosir lebih tinggi dari kenaikan dari September ke Oktober sebesar 0,22 persen.

Hal ini dikarenakan harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani dan beras di penggilingan meroket cukup tinggi.

Menurut catatan BPS dalam momen yang sama, harga gabah naik pada November 2018.

Kenaikannya sebanyak 3,64 persen jika dibandingkan Oktober 2018, yakni dari Rp4.937 per kilogram menjadi Rp5.116 per kilogram.

Harga gabah kering giling tingkat petani mengalami kenaikan 3,28 persen dibandingkan Oktober 2018, dari Rp5.467 per kilogram menjadi Rp5.646 per kilogram.

Sedangkan, harga gabah kering panen di tingkat penggilingan mengalami kenaikan 3,43 persen dibandingkan Oktober 2018, dari Rp5.039 per kilogram menjadi Rp5.212 per kilogram.

Hal ini membuat harga gabah kering giling tingkat penggilingan pun ikut mengalami kenaikan sebanyak 3,34 persen dibandingkan Oktober 2018, dari Rp5.568 per kilogram menjadi Rp5.754 per kilogram.

Secara keseluruhan, rata-rata perubahan harga gabah petani naik 3,64 persen, beras di penggilingan 2,22 persen, beras grosir 0,73 persen, dan beras eceran 0,70 persen dibandingkan Oktober 2018.

Kendati harga beras dan gabah mengalami kenaikan, Suhariyanto menegaskan bahwa hal ini tidak akan banyak berdampak pada inflasi Desember 2018 maupun keseluruhan tahun.

Angka inflasi pada November 2018, menurut data BPS mencapai 0,27 persen. Turun sedikit dari 0,28 persen pada bulan sebelumnya.

Suhariyanto, dalam CNBC, menjelaskan, penyumbang inflasi tertinggi bulan lalu adalah sektor angkutan udara. Bukan harga pangan seperti pada periode yang sama tahun lalu.

"Harga beras di November 2017 rata-rata naik 0,62 persen secara bulanan sehingga sumbangannya ke inflasi 0,03 persen. Sementara November tahun ini [grosir dan eceran] naik rata-rata 0,70 persen sehingga sumbangannya sama," jelas Suhariyanto.

Keberhasilan menekan kenaikan angka inflasi tersebut didukung oleh stok cadangan beras Bulog yang terbilang memadai untuk dilakukan operasi pasar demi menghadapi liburan natal dan tahun baru yang biasanya memicu kenaikan harga. Berbeda dengan tahun lalu pada bulan yang sama, yang stoknya berada di bawah angka 1 juta ton.

Sementara waktu, BPS pun memprediksi harga beras dan gabah tidak serta merta akan naik lebih tinggi lagi.

Adapun naiknya harga beras biasanya sejalan dengan menurunnya produksi beras. Hal ini juga sempat diungkapkan oleh Suhariyanto.

"Kalau memasuki Oktober, November, Desember biasanya selalu terjadi kenaikan harga gabah, karena bulan-bulan tersebut sudah memasuki musim tanam. Ketika dia musim tanam, jumlah pasokan gabah pasti turun, ya biasa itu," ucapnya seperti dikutip CNNIndonesia.com, Senin (3/12).

Hal ini sebelumnya sempat dilansir BPS dalam bentuk data. Berdasarkan survei dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA) produksi padi (beras) sepanjang Januari hingga September totalnya mencapai 28,48 juta ton.

Sedangkan memasuki musim tanam, yakni Oktober-Desember, produksinya menurun jadi sekitar 1,2 juta ton per bulan. Dengan potensi produksi tersebut, diperkirakan totalnya sebesar 3,94 juta ton.

Peluncuran data ini semula sempat membuat para petani khawatir. Ketua Umum Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menjelaskan, kalangan petani sempat cemas, data baru prediksi jumlah produksi beras sepanjang 2018 itu akan membuat pemerintah kembali melakukan impor beras dan merugikan mereka.

Beberapa petani, menurutnya, sempat berencana untuk menghentikan pengiriman beras ke kota dan mengonsumsinya sendiri.

"Kita tanam untuk makan kita saja, orang kota mah enggak usah dikasih. Dia (petani) enggak pikir tuh, kalau begitu (tidak ada ketersediaan beras yang cukup) jadinya (pemerintah akan) impor. Saya katakan, jangan. Kita perkuat pertanian, agar tidak banyak impor beras. Supaya memberi keuntungan bagi petani," tutur Winarno.
Naiknya harga beras tak berpengaruh besar pada inflasi


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...r-pada-inflasi

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Naiknya harga beras tak berpengaruh besar pada inflasi 75 buronan napi dari Lapas Lambaro masuk DPO

- Naiknya harga beras tak berpengaruh besar pada inflasi Masa tenang perang dagang AS-Tiongkok

- Naiknya harga beras tak berpengaruh besar pada inflasi Sebagian besar sektor menghijau, IHSG ditutup naik

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di