alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Masa tenang perang dagang AS-Tiongkok
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c050da6de2cf26b048b456e/masa-tenang-perang-dagang-as-tiongkok

Masa tenang perang dagang AS-Tiongkok

Masa tenang perang dagang AS-Tiongkok
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat berjumpa di Beijing, Tiongkok, 7 November 2017.
Ruang negosiasi itu akhirnya dibuka. Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sepakat menghentikan ketegangan dagang untuk 90 hari ke depan.

Rencana Presiden AS Donald Trump untuk menetapkan kenaikan tarif impor dari 10 persen menjadi 25 persen untuk produk-produk Tiongkok senilai total $200 miliar (sekitar Rp2.842 triliun) pada 1 Januari 2019, juga akan ditunda.

Sebagai balasan, Presiden Tiongkok Xi Jinping akan memangkas tarif impor mobil yang sebelumnya sebesar 40 persen menjadi kisaran 35 persen.

Kesepakatan dirajut dalam pertemuan Tiongkok dan AS pada agenda Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Buenos Aires, Argentina, 1 Desember 2018. Dalam pertemuan ini, Trump dan Jinping akhirnya bertatap muka kembali setelah nyaris satu tahun bersitegang.

Selama masa tenang ini, para pejabat dua negara akan duduk bersama mencari jalan keluar atas sengketa yang dampaknya juga merembet pada banyak negara, termasuk Indonesia.

“Trump dan Jinping sepakat untuk segera memulai negosiasi struktural terkait perubahan struktural berbasis pertukaran teknologi, perlindungan hak kekayaan intelektual, kejahatan siber, pelayanan, hingga pertanian, ” sebut rilis resmi Gedung Putih, Washington DC, Sabtu (1/12/2018).

Namun, jika sampai 90 hari ke depan kedua belah pihak tidak berhasil mencapai kesepakatan, maka pengenaan kenaikan tarif dari 10 persen menjadi 25 persen akan tetap berlaku, sambung pernyataan yang sama.

Tiongkok, merujuk pernyataan Gedung Putih, diklaim bakal membeli beberapa produk pertanian, energi, industri, dan lainnya untuk menyeimbangkan perdagangan antardua negara.

Bukan hanya itu, Jinping juga diklaim memberi kesempatan kedua pada pembahasan perjanjian akuisisi Qualcomm dan NXP yang tertunda akibat perang dagang.

Tanpa diduga, rencana akuisisi perusahaan pembuat cip asal AS dengan perusahaan serupa asal Belanda dengan nilai $44 miliar AS itu hancur berantakan lantaran perang dagang. Qualcomm memutuskan angkat kaki dari rencana itu lantaran gagal mendapat persetujuan dari otoritas Tiongkok.

Qualcomm membutuhkan restu dari Tiongkok sebab negara itu berkontribusi terhadap dua pertiga keuntungan yang didapat perusahaan ini.

Sementara itu, mengutip The Guardian, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menyebut kesepakatan ini sebagai win-win solution dua negara. “Prinsip yang disepakati ini bisa menekan konflik lebih besar yang mungkin muncul,” ucap Yi.

Yi tidak memaparkan lebih jauh klaim AS yang menyebut Tiongkok akan melakukan kerja sama perdagangan. Dirinya hanya menegaskan bahwa pemerintah Tiongkok bersedia meningkatkan impor demi memenuhi kebutuhan warganya, sekalipun barang tersebut berasal dari AS.
Di balik kesepakatan
Garis besar mengapa AS dan Tiongkok sepakat untuk meredakan ketegangan dagang adalah kebijakan ini pada dasarnya sama-sama tidak menguntungkan keduanya.

Tekanan terberat dialami Tiongkok. Ekonominya mengalami perlambatan. Sebelum berangkat ke Buenos Aires, Jinping mendapat desakan kuat dari rakyatnya untuk segera memperbaiki masalah ini.

“Banyak analis yang menyebut Jinping harus pulang dengan kesepakatan-kesepakatan yang tidak akan menambah beban industri manufaktur Tiongkok,” sebut Koresponden Bisnis BBC untuk kawasan Asia, Karishma Vaswani, Minggu (2/12/2018).

Pada awalnya, Tiongkok menganggap bisa memenangkan perang dagang. Banyak perusahaan multinasional, khususnya teknologi, yang mendirikan pabriknya di AS. Singkatnya, Tiongkok menyerang hal yang paling tidak disukai warga AS: membayar harga tinggi untuk gawai mereka.
Masa tenang perang dagang AS-Tiongkok
Pabrik elektronik di Nanjing, Provinsi Jiangsu, Tiongkok, 15 Oktober 2018.
Namun, Tiongkok salah perhitungan. Strateginya justru membebani neraca dagangnya sendiri. Defisit neraca transaksi berjalan makin melebar. Ekonominya terganggu.

Dampak itu tak terlalu berpengaruh pada AS. Harga barang konsumsi di AS memang melonjak, namun hubungan dagangnya dengan negara selain Tiongkok tetap menguntungkan.

Lepas dari itu, periode 90 hari ke depan ini menjadi ujian bagi kedua pihak. AS akan melihat seberapa jauh Tiongkok dapat berkompromi. Sementara Tiongkok dipaksa untuk segera menyusun ulang strategi dagangnya.
Harapan perbaikan neraca dagang
Keputusan yang dibuat AS-Tiongkok ini menumbuhkan optimisme pasar dan investor. Nyaris seluruh pasar dibuka menguat pada perdagangan Senin, 3 Desember 2018.

Dow Jones melonjak 1,9 persen, S&P dengan 1,75 persen, dan Nasdaq 100 naik 2,25 persen. Di Tiongkok, Bursa Efek Shanghai juga naik sekitar 3 persen meski nilai tukar Renminbi terhadap Dolar AS masih merah.

Bukan hanya itu, harga minyak dunia juga naik sekitar 5 persen, meski memang, alasan lain kenaikan adalah kesepakatan Rusia dan Arab Saudi untuk mengontrol produksi minyaknya.

Beberapa saham perusahaan yang juga berhasil terkerek naik adalah Apple (AAPL) dan Tesla (TSLA). Apple menjadi satu dari beberapa perusahaan multinasional yang kinerjanya terganggu kebijakan perang dagang.

Pada satu waktu Trump, meminta Apple berhenti merakit produknya di Tiongkok dan mengusulkan perusahaan teknologi itu untuk pulang kampung. Apple, di sisi lain, tidak mungkin menyetujui pinta itu menyasar banyak pertimbangan termasuk ongkos pegawai.

Tesla kurang lebih mengalami hambatan yang sama. Perusahaan yang didirikan Elon Musk ini menghadapi tantangan berat manakala Tiongkok memberlakukan tarif 40 persen untuk impor kendaraan.

Bagaimana dengan Indonesia? Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan Indonesia bakal kecipratan untung dari kesepakatan ini.

“Harapannya, kinerja ekspor bisa segera pulih, neraca dagang membaik, suplai valuta asing terjaga,” sebut Bhima kepada Beritagar.id, Senin (3/12/2018).

Menurut Bhima, harga sejumlah komoditas yang menjadi bahan baku industri untuk AS dan Tiongkook akan mengalami kenaikan, seperti misalnya karet untuk otomotif dan sawit untuk biodiesel.

Kendati ada harapan untuk perbaikan neraca dagang, posisi Rupiah tetap masih rentan. Hal ini menyusul rencana kenaikan suku bunga AS oleh Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan dalam dua pekan ke depan.

“Modal asing masih bisa berbalik arah keluar dari emerging market,” tukas Bhima.
Masa tenang perang dagang AS-Tiongkok


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...ng-as-tiongkok

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Masa tenang perang dagang AS-Tiongkok Sebagian besar sektor menghijau, IHSG ditutup naik

- Masa tenang perang dagang AS-Tiongkok Bocah yang merangkak ke sekolah itu dipangku Jokowi

- Masa tenang perang dagang AS-Tiongkok Tol Bocimi dan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar siap dilintasi

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di