alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Inspirasi /
Sulap Botol Bekas Jadi 'Recycle Museum Hot Bottles'
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c04295ddcd77080468b456a/sulap-botol-bekas-jadi-recycle-museum-hot-bottles

Sulap Botol Bekas Jadi 'Recycle Museum Hot Bottles'

Sulap Botol Bekas Jadi 'Recycle Museum Hot Bottles'

Malang - Mohammad Taufiq Shaleh Saguanto tidak hanya mencari uang dalam mengkreasi botol bekas menjadi miniatur mainan. Tujuan utamanya adalah mengubah mindset masyarakat tentang barang bekas. Terbaru, dia mendirikan museum botol yang diklaim kali pertama ada di dunia.

”Ini begini, Mbak. Lalu, yang ini letakkan di sini, ada yang bingung? Monggo kalau mau belajar,” begitulah kata-kata yang sering keluar dari mulut Mohammad Taufiq Shaleh Saguanto Jumat lalu (20/7).

Ketika itu, dia sibuk mengajari cara menyulap botol plastik bekas menjadi hiasan seperti motor dan mobil-mobilan di Pondok Wisata B Walk Hotel, Dau, Kabupaten Malang.

Saat itu dia sibuk membimbing ibu-ibu PKK yang datang jauh-jauh dari Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Taufiq–sapaan Mohammad Taufiq Shaleh Saguanto–mengajari mereka di hotel itu. Sebab, di tempat itulah juga berdiri museum botol yang dia gagas. Museum yang bernama Recycle Museum Hot Bottles itu sudah diresmikan Bupati Malang Rendra Kresna pada 10 Juli 2018.

Jauh sebelum museum itu berdiri, Taufiq sudah aktif membuat mainan berupa miniatur mobil dan motor. Dia juga aktif mengajari orang-orang untuk memanfaatkan botol bekas menjadi hal yang bermanfaat. Untuk ”menyulap” botol menjadi miniatur mobil dan motor, Taufiq hanya butuh waktu sejam.

Botol bekas yang dia kumpulkan dari jalanan dan tempat sampah, setelah disulap dengan cara dipanaskan, dilem, dicat, dan dikemas menggunakan mika, jadilah miniatur mobil. Biasanya satu miniatur mainan dibanderol dengan harga Rp 25 ribu. Bahkan, pernah dalam suatu lelang, mainan buatannya ada yang terjual Rp 3 juta.

Mainan dari botol bekasnya itu juga sudah diekspor ke berbagai negara. Di antaranya, Kanada, Kongo, Ghana, Australia, New Zealand, dan Jepang. Di negara-negara tersebut, sudah banyak orang yang secara rutin membeli miniaturnya untuk dijual kembali.

Taufiq lantas bercerita, sejak tahun 2000-an, dia memang suka membuat mainan dari barang-barang bekas. Hanya, ketika itu yang dia pakai bukanlah botol bekas. ”Saya membuat mainan anak saya dari mainan yang sudah rusak. Daripada tidak dipakai, ya saya rangkai lagi,” ucapnya.

Tidak lama berselang, dia memilih botol bekas sebagai bahan untuk membuat mainan. Lantaran, dia prihatin melihat orang-orang yang memiliki motor maupun mobil bagus, tapi membuang sampah sembarangan. ”Mobilnya saja yang bagus, tapi buang sampah sembarangan,” tegasnya.

Untuk mendapatkan botol-botol bekas, tanpa malu dia mencari di tempat pembuangan sampah, toko, dan sepanjang jalanan. ”Nggak malu, yang malu itu kalau minta-minta (jadi pengemis),” ujarnya.

Dia juga tak malu mengajak anak-anaknya memulung botol plastik. Dia memang terbiasa mengajari anaknya mandiri. Salah satu anaknya juga diajari berjualan makanan di sekolah. ”Saya hanya mau mengajarkan kepada mereka untuk menjaga lingkungan dan tidak malu dengan apa yang kita kerjakan. Selama yang kita kerjakan baik dan halal,” ucap alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Pada 2015, dia mulai berpikir bagaimana kreasinya itu memiliki brand sendiri yang mudah diingat. Karena itu, dia memberi nama mainannya itu dengan nama ”Hot Bottles”. Nama dan desain ini plesetan dari nama ”Hot Wheels”. ”Saya bukannya menjiplak, tapi kalau ingin karya mudah diingat, kita harus meniru nama yang sebelumnya sudah gampang diingat,” jelas laki-laki yang pernah menjadi relawan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu.

Di sisi lain, dalam pembuatan mobil mainan dari botol bekas itu, dia ingin mengembalikan masa keemasan mainan tradisional. Di era tersebut, semua mainan tidak ada yang beli dan anak-anak lebih suka membuatnya sendiri. ”Masih ingat kan dulu seperti apa. Semuanya serba buatan tangan sendiri, tidak seperti sekarang,” kata pria yang juga seorang pengusaha ini.

Selanjutnya, di awal 2018, dia memiliki ide membuat suatu tempat yang dapat memancing orang-orang untuk datang, belajar, dan juga berwisata. Akhirnya, dia bekerja sama dengan Pondok Wisata B Walk Hotel, Dau, Kabupaten Malang, untuk membuat sebuah museum.

Dengan adanya museum ini, dia berharap bisa menambah semangat orang-orang untuk menjaga lingkungan. Di samping itu, agar masyarakat berpikir bahwa sesuatu yang kita anggap remeh bisa menghasilkan sesuatu yang besar. ”From zero to hero,” katanya dengan penuh semangat.

Di museum yang luasnya sekitar 20×20 meter persegi ini, ada ratusan miniatur yang semuanya adalah karya Taufiq. Mulai dari miniatur motor, mobil, ada juga robot Transformers. Semuanya terbuat dari botol bekas. Melalui museum ini, Taufiq ingin memberi ”nilai” yang oleh banyak orang dianggap tidak bernilai. ”Dulu siapa yang menyangka kalau botol-botol bekas seperti itu bisa terjual seharga Rp 2 juta,” imbuh bapak dua anak ini.

Untuk saat ini, setahu dia belum ada museum yang khusus memamerkan karya dari barang-barang bekas, khususnya yang terbuat dari botol. ”Kami membuatnya sekarang di sini. Museum recycle pertama di dunia, adanya hanya di Kabupaten Malang,” katanya dengan bangga.

Capaian yang Taufiq lakukan ini, menurut dia, akan terus dikembangkan. Apalagi melalui botol bekas, dia ingin mengubah mindset masyarakat. ”Fokus saya, bagaimana kita mengubah peradaban. Salah satunya mengubah mindset tentang botol bekas,” pungkasnya.
Diubah oleh aryz.kopites
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di