alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Inspirasi /
Peduli Sesama, Buat Kampung Batik Di Malang
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c0412f79a095140748b4567/peduli-sesama-buat-kampung-batik-di-malang

Peduli Sesama, Buat Kampung Batik Di Malang

Peduli Sesama, Buat Kampung Batik Di Malang

Malang - Henrykyo menjadi perajin batik bukan untuk menumpuk kekayaan pribadi. Tapi, dia telaten mengajari warga dan para santri belajar teknik membatik secara gratis. Dia memiliki keinginan agar setiap rukun tetangga (RT) di Kota Malang memiliki seorang pembatik. Berikut kisahnya dalam rangka memperingati Hari Batik yang jatuh setiap 2 Oktober ini.

Urip iku urup. Hidup itu harus menyala, menerangi ”kegelapan” yang ada di sekitar kita. Begitulah kira-kira ungkapan Henrykyo  saat ditemui di rumahnya, Perumahan Karanglo Indah Blok Q-9, Balearjosari, Blimbing, Kota Malang, akhir pekan lalu.

Pagi itu, sekitar pukul 08.00 WIB, rumahnya terlihat ramai dengan mahasiswa, ibu-ibu, dan anak-anak kecil. Berbagai alat membatik berjejer di hadapan mereka, mulai dari canting, kompor kecil, serta wajan yang sudah panas terisi dengan malam atau lilin untuk membatik. Ditemani alunan tembang Jawa, dengan santai dan lihai, mereka membuat berbagai motif batik di kain berwarna putih.

Henrykyo yang terlihat santai dengan gaya rambut gondrongnya, sesekali memberi panduan bagaimana cara membatik. ”Jangan gugup, dibuat santai dan tenang,” ucapnya kepada salah satu ibu yang sedang belajar membatik.

Di sela-sela membimbing, Henryk bercerita mengenai dirinya yang menjadi pembatik sekaligus sebagai ”gurunya” para pembatik pemula. ”Sebelumnya, sejak kuliah hingga 2017, berbagai pekerjaan sudah saya lakoni. Tapi, tidak pernah sreg dan selalu mendapatkan kendala,” ucapnya memulai bercerita.

Saat menjadi mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas STIE Malangkucecwara, dia bekerja sebagai penyablon. Namun, pada 1998, karena Indonesia mengalami krisis moneter, usaha sablonnya terdampak. Sebab, semua harga barang-barang begitu mahal. ”Saat itu, saya putuskan untuk berhenti nyablon. Dan berpindah menekuni usaha lainnya,” ucapnya.

Setelah menikah, dia mencoba beternak ikan koi dan bisnis kuliner dengan berjualan nasi padang. Bisnis itu pun bertahan dua tahun dan akhirnya gulung tikar. Tepat 2015 lalu, dia berhenti berjualan nasi padang. ”Saat itu, ada orang yang tidak suka dengan apa yang saya jual. Bahkan, kadang ada ulat dan belatung dalam nasi yang saya jual. Padahal, nasinya baru matang,” ucapnya menceritakan ”gangguan-gangguan” supranatural dalam bisnisnya.

Sejak saat itulah, dia berhenti menggeluti bisnis tersebut. Hingga pada suatu saat, dia melihat pemberitaan bahwa batik merupakan warisan dunia dan sudah diakui UNESCO pada 2 Oktober 2009. Seketika itu, dia mulai sedikit ada rasa jatuh cinta dengan dunia batik dan berencana belajar serta bertekad menjaga warisan dunia yang dimiliki Indonesia itu. Di sisi lain, dia juga ingat dengan cita-citanya sejak kecil yang ingin menjadi desainer. ”Memang, sejak kecil cita-cita saya ingin menjadi desainer. Tapi, cita-cita itu tenggelam entah ke mana dan baru teringat saat melihat berita,” imbuh ayah satu anak itu.

Demi mewujudkan niatnya itu, dia mulai mencari semua perajin dari berbagai informasi. Mulai dari menghadiri pameran di berbagai kota dan menghampiri pusat batik di Keraton Jogjakarta. Meski sudah menemui banyak perajin, dia tidak menemukan yang sreg dengan hatinya. ”Entah kenapa ya, semua perajin batik yang saya temui tidak ada yang pas dan cocok dengan hati saya,” jelasnya.

Pada 2016, dia menghadiri pameran batik di Kampung Coklat Blitar. Di salah satu lapak pameran, dia berhenti lama dan memperhatikan seseorang yang membatik. Dengan spontan, dia langsung bertanya kepada perajin itu. ”Kira-kira boleh belajar membatik dan berapa biayanya, Mas?” ucapnya saat mengulangi pertanyaannya itu.

Dengan santai, perajin yang akrab disapa Mas Adib itu menjawab pertanyaannya. ”Boleh, tidak perlu bayar kok. Saya tidak memungut biaya seper pun. Tapi, kalau memang mau dan niat belajar membatik, langsung datang ke tempat saya saja,” cetusnya saat menirukan jawaban si perajin batik itu. Karena sudah ada niat dalam hati, Henryk kemudian mendatangi rumah perajin itu.

Tidak lama berselang dari pertemuan itu. Suatu ketika, betapa kagetnya Adib, saat Henryk benar-benar mendatangi rumahnya di Blitar. Awal-awal belajar, ternyata dia bingung bukan kepalang. Lantaran, dia hanya disuruh melihat dan melihat saja. ”Saya bingung, saya ke sini (Blitar) ingin belajar kok malah cuma disuruh melihat dan melihat saja,” keluhnya.

Selama proses belajar, sedikit demi sedikit dia mulai mengerti apa maksud dari pertemuan awalnya dengan Adib. Ternyata, dalam membuat sebuah karya apalagi batik tulis, perlu niat yang tulus dan kesabaran yang tinggi. Selain itu, dia juga diberi pengetahuan bahwa dalam membatik tidak hanya sekadar membatik. Tapi, harus mengetahui filosofi dari batik yang dibuat. ”Makanya, dalam satu karya batik tulis bisa selesai 2–3 bulan,” jelasnya. Setelah mengetahui berbagai pedoman dalam membuat batik, dia mengembangkan pengetahuannya itu di kampungnya atau tepatnya di RW 04 Perumahan Karanglo Indah sejak Mei 2018.

Tidak butuh waktu lama, keinginan untuk mengembangkan pengetahuan membatiknya itu disambut dengan senang hati oleh tetangganya. Awal mula yang belajar membatik hanya 1–2 orang. Kini sudah ada sekitar 25 orang di wilayahnya itu yang bisa membatik. Bahkan bisa dibilang, dalam setiap RT di wilayahnya itu ada seorang perajin batik. ”Ibu-ibu kan gitu, cerita sana cerita sini. Akhirnya banyak yang ingin belajar membatik,” ungkapnya.

Orang yang minat membatik juga beragam. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak kecil. ”Saya sendiri memang berniat, pengetahuan saya ini tidak dinikmati sendiri. Tapi, juga bisa bermanfaat untuk orang lain. Pedoman saya cuma satu, yaitu urip iku urup,” tuturnya.

Salah satu anak yang belajar membatik kepada Henryk adalah Kiara Andiva Najwa Lesmana, siswa kelas V sekolah dasar, yang fokus belajar membatik setiap Sabtu dan Minggu. ”Bahkan, dia kemarin (Sabtu) pulang dari sini pukul 22.00. Itu pun karena ditelepon ayahnya,” imbuh pria berusia 44 tahun itu menceritakan semangat siswanya.

Dari semua tetangganya itu, dia tidak pernah memungut uang sepeser pun. Memang, dia berkomitmen kepada orang-orang di sekitarnya, dia hanya ingin berbagi pengetahuan. Bahkan, dia tidak mempermasalahkan kalau ada dari ibu-ibu yang sudah belajar di tempatnya, akhirnya membuka usaha sendiri di rumah. ”Mau setiap hari dan jam berapa pun akan saya dampingi,” ujarnya.

Tidak hanya sampai di situ, dia juga menggratiskan kepada santri dari pondok pesantren yang mau belajar. ”Ada kalanya kita itu berpikir komersil dan ada kalanya kita berpikir bagaimana bisa bermanfaat kepada orang lain tanpa memikirkan apa yang didapat,” pungkasnya.

Karena dari antusiasme orang-orang di sekitarnya, dia kemudian membentuk sebuah paguyuban Kampung Batik Karolin. Jadi, dia sendiri pada 1 September 2018 mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Kota Malang, yakni sebagai pelopor Kampung Batik. Paguyuban ini mempunyai lebih dari 30 perajin batik. ”Saya memang berniat dalam setiap RT ada minimal 2–3 pembatik. Jadi, mereka juga bisa mengajari tetangga yang lainnya dan begitu seterusnya,” ujarnya.

Di balik semua itu, berbagai karya dengan motif yang berbeda-beda pun sudah pernah dibuat oleh dirinya. Tapi, motif khas dari karyanya itu adalah motif ikan koi dan kopi. Bahkan, dari berbagai karya batik tulisnya itu sudah pernah sampai di Dubai dan dibeli orang di sana dengan harga Rp 8 juta. ”Saya bersyukur, itu juga sebagai penyemangat saya untuk terus berkarya,” pungkasnya.
Diubah oleh aryz.kopites
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di