alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Dari Menantu Hendropriyono Sampai Menantu Luhut Binsar Panjaitan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c03e889c1d770de6f8b4567/dari-menantu-hendropriyono-sampai-menantu-luhut-binsar-panjaitan

Dari Menantu Hendropriyono Sampai Menantu Luhut Binsar Panjaitan

Dari Menantu Hendropriyono Sampai Menantu Luhut Binsar PanjaitanAndika Perkasa dan Maruli Simanjuntak. (FOTO ILUSTRASI: NUSANTARANEWS.CO)

Oleh: Djajang Nurjaman*


NUSANTARANEWS.CO – Presiden Joko Widodo dalam pekan ini bagi-bagi bonus besar bagi orang dekatnya. Andika Perkasa menantu mantan Kepala BIN Hendropriyono baru saja diangkat menjadi Kepala Staf TNI AD. Pangkatnya dinaikkan dari Letjen menjadi jenderal bintang empat. Maruli Simanjuntak menantu Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan diangkat menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Pangkatnya dinaikkan dari Brigjen menjadi Mayjen.
Baik Andika maupun Maruli sama-sama menjadi perwira paling moncer di angkatannya, bahkan karirnya melompati para seniornya. Andika lulusan Akmil 87 melompati para seniornya di Akmil 84-85, dan 86. Sementara Maruli menjadi perwira pertama lulusan Akmil 92 yang meraih bintang dua. Dia juga mengalahkan sejumlah seniornya dari Akmil 90 dan 91.

Baca Juga:


[size={defaultattr}]
Di antara lulusan Akmil 92 Maruli melewati Brigjen TNI Richard Tampubolon (Wadanjen Kopassus) yang menjadi perwira pertama meraih bintang. Maruli juga meninggalkan jauh Kolonel Kunto Arief Wibowo putra mantan Wapres Try Sutrisno. Kunto merupakan salah satu perwira paling cemerlang di Akmil 92. Pangkatnya masih tersendat di melati tiga.[/size]


Baca Juga:
Direktur Riset Demokrasi Sebut Reuni 212 Cenderung Politis
Setara Institute: Reuni 212 Adalah Gerakan Politik
Wakil Ketua MUI: Saya tidak Lihat Urgensi Serius Dari Reuni 212

Lompatan Karir Andika ini sungguh menakjubkan. Hanya dalam lima tahun dia berhasil naik pangkat empat kali. Bahkan dia meraih pangkat Letjen dan Jenderal hanya dalam satu tahun. Andika menempati posisi sebagai Pangkostrad hanya dalam waktu lima bulan.
Maruli Simanjuntak tak kalah menariknya. Hanya dalam waktu 18 bulan dia mendapat dua bintang. Pada 25 April 2017 dia dilantik menjadi Wadan Paspampres dan pangkatnya naik dari Kolonel menjadi Brigjen. Kemudian 22 Oktober 2018 geser menjadi Kasdam Diponegoro, dan terhitung 29 November 2018 menjadi Danpaspampres dengan pangkat Mayjen.
Melihat track recordnya bukan tidak mungkin Maruli akan mengikuti jejak Andika. Kalau saja Jokowi terpilih lagi sangat mungkin Andika akan dipromosikan menjadi Panglima TNI dan dengan mutasi dan kenaikan pangkat yang cepat seperti jalur Andika, Maruli akan menempati posisi sebagai KSAD.
Tentu tidak ada yang gratis dengan bonus besar jelang akhir tahun itu. Pergantian ini tak lepas dari konsolidasi Jokowi untuk memenangkan Pilpres. Dia sudah mengendalikan Mabes Polri, Mabes TNI dan sekarang menyusul Mabes TNI AD. Posisi TNI AD sangat penting karena 75% kekuatan TNI ada disini. TNI AD juga punya aparat teritorial Babinsa. Bekerja sama dengan Babinkamtibmas Polri, Babinsa yang bisa menjangkau desa-desa, bisa menjadi alat kekuatan politik yang ngegirisi, bila bisa dimanfaatkan.
Karir moncer para menantu ini seakan menebus kegagalan para mertuanya. Hendro dan Luhut kedua-duanya tidak pernah berhasil menduduki posisi puncak di TNI AD, maupun TNI.
Hendropriyono Akmil 67 jabatan terakhir adalah Komandan Kodiklat TNI AD (1994-1996) dengan pangkat Mayjen. Dia nyaris menjadi Panglima ABRI ketika BJ Habibie menggantikan Pak Harto. Namun last minute, batal. Wiranto tetap dipercaya menempati posisi itu. Padahal Hendro sudah mengenakan seragam Pangab. Luhut Akmil 70 juga sama Komandan Kodiklat TNI AD (1997-1998) dengan pangkat Mayjen.
Jalan hidup keduanya seakan beriringan. Hendro dan Luhut sama-sama mendapat pangkat jenderal bintang empat bukan dalam struktur TNI AD, namun melalui pemberian kehormatan (hor). Hendro naik pangkat menjadi Letjen sewaktu menjadi Sesdalopbang. Sementara Luhut naik pangkat menjadi Letjen (hor) semasa menjadi Dubes di Singapura dan kemudian kembali naik pangkat lagi jenderal (hor). Dua-duanya di masa Megawati menjadi Presiden.







Baca Juga:







Keduanya kini juga orang dekat Jokowi dan banyak menentukan kebijakan pemerintah. Bedanya Hendro pernah menyandang posisi teritorial mentereng yakni Pangdam Jaya, Luhut jabatan teritorial tertingginya adalah Danrem di Madiun. Dia tak pernah menjadi Pangdam.
Naiknya dengan cepat menantu para orang dekat Jokowi ini jelas menimbulkan pertanyaan besar. Apakah Jokowi merasa tidak aman, sehingga harus dikelilingi orang-orang dekatnya. Atau ini langkah antisipasi karena sudah mencium tanda-tanda? Bila dia tidak terpilih kembali, maka menantu dua orang jenderal andalannya ini sudah aman posisinya.
Dalam tradisi militer profesional, selain prestasi, senioritas sangat diperhatikan. Naiknya Andika banyak dipertanyakan karena dia melewati para senior, maupun teman satu angkatan yang dari catatan prestasi tempur maupun akademis lebih baik dibandingkan dengan dirinya. Lompatan yang terlalu tinggi dipastikan akan mengganggu rantai komando di kalangan TNI.


Simak:

Hal yang sama juga terjadi pada Panglima TNI Hadi Tjahjanto. Dia kenal dekat sejak Jokowi menjadi Walikota Solo dan Hadi menjadi Komandan Pangkalan Udara Adisumarmo. Pernah menjadi Sekretaris Militer Jokowi, karirnya melesat menjadi KSAU dan kemudian Panglima TNI.
Latar belakang Hadi adalah pilot pesawat angkut ringan. Secara tradisi Kepala Staf TNI AU diisi perwira dari korps penerbang tempur.
Namun melihat gaya kepemimpinan Jokowi, hal semacam itu sudah biasa dilakukan. Ketika mengangkat Tito Karnavian Akpol 87 sebagai Kapolri, dia juga melewati banyak angkatan. Akpol 83-84,85, dan 86.
Dualisme kepemimpinan di Polri terjadi ketika Komjen Budi Gunawan masih menjabat sebagai Wakapolri. Bahkan hingga kini setelah Budi Gunawan digeser menjadi Kepala BIN dan Komjen Syafrudin digeser dari posisi Wakapolri ke Menteri PAN RB, Tito belum bisa sepenuhnya mengontrol Polri.
Kita tunggu bagaimana perjalanan karir Andika, dan Maruli. Jika Jokowi terpilih kembali, dipastikan karir keduanya akan tambah moncer. Namun jika Jokowi kalah, mereka harus siap-siap parkir. Tentu sebagai konkuensinya mereka semua, termasuk para mertua harus kerja keras memenangkan Jokowi. Itu kalau mereka sadar harga yang harus dibayar, karena kembali membawa TNI ke arena politik praktis.[]
*Penulis, Pengamat media dan ruang publik



Dari Menantu Hendropriyono Sampai Menantu Luhut Binsar Panjaitan





Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Tulisan Pengamat?
Diubah oleh omxcabul
Mantu nya wowo kapan ? emoticon-Mewek





emoticon-Belgia emoticon-Belgia emoticon-Belgia
Mungkin karna prestasi hebat keduanya yang bikin karir mereka moncer. Ingat jokowi sudah berjanji tidak bagi2 jabatan.
sirik tanda tak mampu...
bukti nepotisme masih mengakar di indonesia.
gurunya itu penjajahan, besar di orba dan masih dicontoh sama reformasi.


emoticon-Ultah
Diubah oleh bethhoven
Mantab lah, bukti bahwa pakdhe sangat profesional, tidak ada bagi-bagi kekuasaan, maka dari layak dua periode.
Balasan post bethhoven
Quote:


udah dari dulu itu sih emoticon-Stick Out Tongue emoticon-Big Grin
jadi inget ada yg cuma Mayor tapi mo mengkudeta Pangab berkuasa saat itu, seandainya bukan menantu penguasa, udah berakhir di dasar laut itu orang, minimal mendekam di Guntur emoticon-Leh Uga
no comment deh, Jendral soalnya.
Berapa angkatan tuh yg dilangkahin ???

emoticon-Malu
kata nastak, wowo karienya melejit karena faktor mertua
Quote:


ngapain ngudeta? tinggal ngomong mertua beres.
kecuali gosip lo kek emak emak rumpi
Nanti kalo bowo jadi presiden, menantunya jadi PANGLIMA TNI.
Kalau Wowo jelas karena mertua, kalau ini jelas profesional.
Balasan post cebong2019
Quote:


gosip apaan ?
udah ada di bukunya Sintong kok dan Hendro Subroto serta bukunya LBM sendiri (Julius Poor) dan gak ada yg membantahnya termasuk si Mayor (saat itu) emoticon-Wink
Quote:


buku tulisan orang?
Diubah oleh cebong2019
Balasan post cebong2019
Quote:


lah emang, masalah ?
yg kasih statement adalah orang yg menggagalkan aksi tersebut yg merupakan atasan langsung si Mayor saat itu, LetKol Sintong Panjaitan di suatu hari di 1985.
Sang Pangab pun saat bertemu sang LetKol menanyakan peristiwa tersebut
Quote:


cerita buku ya
padahal tinggal ngomong ke mertua beres

oh iya, kata grup nastak lo, karier wowo meroket karena mertua
Balasan post cebong2019
Quote:


kenyataannya... Pangab masih berkarier sampai habis masanya 1988
Karena sang Mertua masih mempercayai nasionalisme doi, dan baru "mencampakkan" saat diperingati kelakuan anak2nya di malam hari di 1988. Dan sang mertua baru sadar kalau ucapan sang Pangab benar dan menyesal saat sang mertua jatuh dari kekuasaan, ini dikatakan langsung disaat menjelang kematian sang Pangab di Agustus 2004 (3hr menjelang kematiannya saat menjenguk eks anak buahnya yg loyal) ada di buku LBM: Tragedi seorang loyalis (Julius Poor) yg dikatakan sendiri oleh Tutut saat menemani waktu menjenguk itu

salah duanya ya emang itu. di menantu juga hampir dikeluarkan kok dari kursus di GSG 9 karena saat awal2 dia lari dalam latihan trus melompat, kakinya patah, tanpa ampun dari sana yg langsung bilang "OUT" tapi sang Assintel yg datang pendekatan kesana untuk menganulir keputusan ini karena sang murid itu adalah menantu presiden berkuasa. Berkat jasa doi akhirnya kembali meneruskan kursusnya hingga selesai dengan nilai memuaskan...

Secara intelektual emang pinter kok si menantu, cuma emang pengaruh dari mertua gak bisa dipungkiri emoticon-Malu
Balasan post Uthe18
Quote:

emoticon-Wakaka
Secara logika sangat lucu!
Punya mertua penguasa, ngapain juga harus capek-capek kudeta Pangab saat itu?
Lebih masuk akal itu menantu dijadikan mata oleh sang penguasa untuk mengawasi segala pergolakan yang terjadi di dalam, karena penguasa seperti yang saat itu biasanya akan sangat berhati-hati terhadap orang disekelilingnya yang punya pengaruh dan kekuasaan besar juga.
lebih aman sama sama tau
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di