alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Para Nyai (Perempuan Piaraan) - Sebuah Novel
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c037bd65a5163a7508b4569/para-nyai-perempuan-piaraan---sebuah-novel

Para Nyai (Perempuan Piaraan) - Sebuah Novel

Menarik?

Poll ini sudah ditutup - 2 Voters

Lihat poll
Menarik?
Ya
100.00%
Tidak
0%
Para Nyai

(Perempuan-perempuan piaraan)

Oleh Joane El Bara
_____Para Nyai (Perempuan Piaraan) - Sebuah Novel

1.

Kala itu lewat jam 10 malam. Semula hujan menghempas-hempas lembut di atas atap pelepah kelapa. Pada sepetak rumah hanya ukuran 4×4 meter, pada satu-satunya kamar rumah itu. Dalam gelap, bocah usia lima tengah terlelap. Selimut ia dekap, tak peduli angin menggigit kulit mulusnya yang pucat.

Tetiba ia tersentak, bangkit pelan terduduk di atas lantai beralas tikar. Tangan mungilnya mengusap sepasang mata miliknya yang jelita. Bibir si gadis kecil menggumam, "Ibu ...".

Meraba-raba tempat biasa Ibu berbaring di sampingnya. Kosong. Ibu tak ada. Tapi tubuhnya seketika beku, memfokuskan telinga. Sehingga jelas suara itu tertangkap. Erangan seorang wanita dari ruang muka. Siapa? Dan ada apa? Batin si kecil bertanya-tanya. Bibirnya mulai gemetar hendak menangis, ketakutan. Apalagi kemudian muncul suara pria yang entah, tak bisa ia mengartikan.

Kakinya bangkit bergerak menuju pintu yang terbuka. Lampu teplok tak menyala. Iapun melongokkan kepala keluar kamar. Suara semakin jelas. Cahaya lilin kecil sebagai penerang ruang memperlihatkan semua. Tubuh sang Ibu tanpa sehelai benang terguncang-guncang di bawah tubuh besar seorang lelaki. Sesekali si pria merapatkan wajahnya ke wajah Ibu. Sesekali pula Ibu menahan jerit seperti kesakitan.

"Ibu...." Bocah itu tak kuasa hendak menangis sekencangnya. Ada apa? Lagi-lagi pertanyaan itu melintas dalam benak.

"D-dara ... masuk kamar!" bentak si Ibu sedang tangannya merayapi tubuh lelaki yang entah siapa.

Dara menangis semakin jadi. Bentakan Ibu juga semakin menjadi-jadi. Hujan pun tak mau kalah, kian deras membuat suara Ibu dan anak itu lenyap. Belum lagi petir mulai menyambar-nyambar dari balik jendela. Dara ketakutan lari ke kamar. Menghempas tubuhnya ke atas bantal besar. Ingin berteriak, tapi ... suara itu hanya tertahan di kerongkongan.
Atas ketidakmengertiannya, ia cuma bisa menangis. Takut lelaki asing itu melukai Ibunya. Dara takut ibu kenapa-napa. Ingin keluar menolong Ibu. Tapi Ibu barusan justru memberi tatapan tajam.

Dara menyerah, dibiarkan kepedihan tumpah. Hingga mereka mulai lelah. Masing-masing kembali ke alam mimpi. Dengan tekat esok ketika si jago membangkitkan mentari, anggap malam ini tak pernah terjadi.

***

Lima belas tahun berlalu.

Rumah mungil dengan cat warna putih mendominasi itu tampak begitu syahdu, pohon-pohon rimbun berdiri anggun di setiap sisi halaman, diantara rerumputan yang masih basah sehabis hujan. Di kursi rotan teras depan, seorang wanita usia sekitar tigapuluhan begitu hikmat menikmati, setiap kali asap rokok yang tersulut bibir sensualnya memenuhi rongga paru-paru.

Senyuman si wanita mengembang tatkala di seberang jalan sebuah sado terhenti. Gadis bertubuh ramping turun ke jalan, menginjakkan kaki jenjangnya hati-hati, takut becek mengenai sepatu hadiah seorang pria netherland yang beberapa waktu lalu mampir ke rumahnya.

"Nyai," seorang lelaki muda tetap duduk disamping kusir, menundukkan kepala dengan hormat pada wanita di atas kursi rotan. Yang dipanggil Nyai semakin tersenyum lebar, tampak giginya putih berderet rapi.

Gadis yang baru menuruni sado memberi isyarat agar lelaki muda berkulit pucat dan bermata biru itu segera pulang. Di atas kursi rotan, si wanita terus mengamati. Sesekali terdengar suaranya tertawa geli. Si gadis lantas memasuki halaman.

"Matahari bahkan belum lelah menyinari bumi, tapi kalian sudah tampak kelelahan dan pulang ke sangkar masing-masing," nada wanita itu menyindir.

"Sudahlah, Bu. Dara lapar." Dara tak sabar memasuki rumah, hendak segera mencari makanan. Kakinya berjalan melewati si Ibu.

"Carel tidak mengajak makan tadi?" Wanita itu menyusul ke dalam, tak menyangka putrinya harus menahan lapar dikencan pertama mereka.

"Bu! Berhenti menjodohkan Dara dengan anak-anak Penjajah itu. Dara tidak suka!"

Brak!

"Ampun Nyai," seorang belia membungkuk mengambil nampan terjatuh dari atas meja makan. Tak sengaja ia senggol usai menghidangkan rebusan sayur-mayur, sambal beserta gorengan tahu tempe. Dara tertegun memandang wajah gadis itu ketika mata mereka bertemu.

"Srintil, sudah makan?"

"Sudah, Noni. Nyai Rona memberi izin saya makan lebih awal barusan."

Srintil namanya. Usianya beranjak lima belas. Anak salah seorang kerabat dekat Nyai Rona yang adalah Ibu Dara sendiri. Dara tak ingat sejak kapan orang-orang memanggil ibunya dengan embel-embel 'Nyai', juga alasan mereka mengganti nama ibunya yang dulu Arini menjadi Rona. Yang pasti, pamor Nyai Rona membawa keberkahan sendiri bagi kehidupan mereka. Nyai Rona tak perlu lagi melilit perut agar putri kesayangannya dapat menyuap nasi, bahkan kini perempuan itu sanggup mengisi belasan perut manusia setiap hari.

"Nona, jika ada yang kurang mohon panggil saya." Suara Srintil yang bagai burung mencicit menyadarkan lamunan Dara.

Perlahan tubuh itu mundur lalu menghilang ke balik dinding pembatas ruang makan dan dapur. Srintil baru beberapa minggu ikut dengan Nyai Rona. Ia dibuang oleh ibu-bapaknya. Tidak seperti kedelapan saudarinya yang lain, Srintil begitu berani membikin cacat tubuhnya sendiri. Kulit wajahnya begitu mulus, bersih tanpa jerawat tapi ia sayat-sayat dengan pisau, rambutnya yang tebal dan legam dipotong tidak beraturan, seperempat tubuh Srintil, ia siram sendiri dengan minyak mendidih. Srintil gadis berwajah ayu nan manis, mendadak membuat orang-orang jijik. Tiada sudi menyetubuhi. Srintil dibinatangkan oleh orangtuanya sendiri. Terusir dari rumah.

"He, Nyai Rona. Jangan bodoh. Tak ada guna memelihara perempuan seperti dia. Biar dia terlantar, nanti mati sendiri!" hardik bapak Srintil.

Nyai Rona menangis melihat keadaan gadis yang memasuki usia pubertas itu. Tanpa berkata apa-apa, Nyai Rona memapah tubuh Srintil yang penuh luka menjauh dari kediaman orang tuanya. Ia bawa ke tempat pengobatan alternatif, untuk dirawat berbulan-bulan. Semua keperluan Srintil, ia penuhi. Berniat menjadikan Srintil saudari angkat Dara. Tapi setelah cukup membaik, Srintil lebih memilih bersumpah setia mengabdikan diri sebagai jongos. Maka di sinilah Srintil menemukan kehidupan barunya. Ia percaya Nyai Rona takkan berperilaku sama seperti ibu-bapaknya.

Di mata Srintil, Nyai Rona tak ubahnya jelmaan seorang Dewi. Bagi Dara, wanita itu hanya si jagoan menghalalkan segala cara. Dara khawatir, setelah Nyai Rona berulang kali gagal menjodohkan dirinya dengan anak-anak Netherland, kelak wanita itu benar nekat menjual Dara sebagai perempuan piaraan lelaki-lelaki penguasa Hindia-Belanda.
.

.

Bersambung...

Para Nyai (Perempuan Piaraan) - Sebuah Novel
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di