alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Problem sepak bola nasional bukan sekadar soal Edy Rahmayadi
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bffe9659e740473528b4568/problem-sepak-bola-nasional-bukan-sekadar-soal-edy-rahmayadi

Problem sepak bola nasional bukan sekadar soal Edy Rahmayadi

Problem sepak bola nasional bukan sekadar soal Edy Rahmayadi
Ilustrasi Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi
Indonesia sejatinya adalah bangsa penggemar sepak bola. Namun, label hanya sampai di situ: penggemar; bukan negeri dengan prestasi sepak bola yang membanggakan.

Dan kegagalan terbaru adalah timnas senior yang tersingkir dini dari turnamen Piala AFF 2018. Tak pelak PSSI pun dituding sebagai biang keladi dan sang Ketua Umum Edy Rahmayadi diminta untuk mengundurkan diri.

Repotnya, Edy tak bisa merespon dengan elegan. Edy yang kini juga menjabat Gubernur Sumatra Utara tak bisa menjelaskan dengan detail pula mengapa timnas gagal saat wawancara jarak jauh dengan TV One, Senin (26/11/2018).

Mantan Panglima Kostrad TNI ini juga tidak menjawab dengan semestinya ketika ditanyakan apa langkah PSSI dalam evaluasi setelah timnas gagal di turnamen Piala AFF. Edy justru "melemparkan balik" bola ke wartawan.

"Jadi kalau wartawannya baik, nanti timnasnya pun (akan) baik," katanya.

Tak pelak jawaban Edy itu menjadi bulan-bulanan para suporter. Saat timnas Indonesia bermain 0-0 dengan Filipina di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Minggu (25/11), para suporter menyanyikan "wartawan harus baik" sebagai sindiran untuk Edy.

Para suporter juga mengangkat pamflet dan spanduk bertuliskan "Edy Out". Seruan senada juga menjadi tagar #EdyOut dalam media sosial Twitter. Suporter satu suara: Edy harus mundur karena tak ada prestasi membanggakan di bawah rezimnya.

Belakangan Edy meminta maaf atas jawabannya yang "menyerang" wartawan. Namun, apapun ini patut disayangkan. Alih-alih memberi jawaban yang membangun, Edy justru memberi alasan tak penting.

Edy memang nyaris selalu kontroversial. Antara lain, ia pernah mewajibkan setiap klub dalam kompetisi Liga 1 -- kompetisi sepak bola profesional tertinggi di tanah air -- untuk menurunkan tiga pemain U-23 dalam 11 pemain pertama pada setiap laga.

Namun, aturan wajib itu kemudian dianulir saat kompetisi musim lalu baru berjalan setengah musim. Alasannya, timnas sudah memiliki cukup pemain muda.

Di bawah rezimnya, kompetisi sepak bola Indonesia pun berkali-kali memakan korban jiwa. Pada 2018 saja, menurut data pemerhati sepak bola Save Our Soccer (SOS), ada empat korban jiwa dari suporter sepak bola.

Lagi-lagi Edy pun tak bisa menyelesaikan masalah ini dengan semestinya. Hanya reaksi sesaat, kemudian bisnis (kompetisi) kembali berjalan seperti sedia kala.

Pendeknya, Edy memang tidak begitu kompeten mengorganisasi tata kelola sepak bola nasional. Apalagi, kini Edy menjadi Ketua Umum PSSI in absentia karena sehari-hari berada di Medan sebagai konsekuensi menjadi Gubernur Sumatra Utara.

Persoalannya, mengganti atau katakanlah mengusir Edy dari singgasana Ketua Umum pun tidak semudah yang dibayangkan. Edy pun disebut sebenarnya sempat ingin mengundurkan diri, tapi ditolak oleh para anggota Komite Eksekutif PSSI.

Hal ini diungkapkan dua orang anggota Komite Eksekutif PSSI, Refrizal dan Gusti Randa, dalam acara talkshow "Mata Najwa" di Trans TV pada Rabu (28/11). Selain itu, menurut Gusti, mengganti paksa Ketua Umum juga tidak mudah karena mesti dilihat apakah yang bersangkutan sudah melanggar aturan dasar PSSI alias statuta.

Dan sejauh ini, Edy tak pernah kedapatan melanggar Statuta PSSI. Bagaimana dengan soal rangkap jabatannya?

Itu pun tidak ada masalah. Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot S Dewa Broto, dalam acara "Mata Najwa" pula menyatakan Edy tidak menyalahi peraturan.

Pejabat publik hanya dilarang menjadi pengurus KONI atau KOI. Dan praktik rangkap jabatan bagi para tokoh pemerintah dalam organisasi olahraga di Indonesia adalah hal lazim. Bahkan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Wiranto pun menjabat Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Indonesia.

Dan mengganti Ketua Umum PSSI pun belum tentu bisa "menyembuhkan" carut marut sepak bola nasional yang tak punya prestasi utama sejak 1991. Kinerja PSSI sebagai organisasi olahraga tertua di Indonesia tak pernah membaik meski pemimpinnya silih berganti sejak Nurdin Halid, Djohar Arifin, dan La Nyalla Mattalitti.

Betul, sosok pemimpin bisa mengubah perjalanan sebuah organisasi. Tapi itu pun jika memang pemimpinnya mumpuni.

Selain itu, kondisi sepak bola sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh ketua umum. Pemangku kepentingannya berlapis; mulai dari klub hingga suporter.

PSSI memang sebagai ujung tombak bila ingin memperbaiki situasi keruh ini. Misalnya apakah PSSI bisa menjalankan roda kompetisi yang kondusif dan teratur serta berlandaskan aturan main yang semestinya.

Andai PSSI mau melakukan itu, apakah klub-klub sebagai anggota siap dan rela untuk mengikutinya? Misalnya bila PSSI ingin tegas menerapkan indikator profesional sebuah klub yang terdiri dari aspek keuangan, administrasi, dan operasional.

Pengamat sepak bola, Daniel Fieldsend, dalam bukunya The Secrets of European Football Success (2017), mengatakan bahwa sepak bola suatu negara adalah gambaran masyarakat setempat. Dan sepak bola nasional pun tak lepas dari budaya masyarakat Indonesia.

Penegakan aturan main yang lemah dan kedisipinan pelaku untuk mengikutinya harus seirama. Bila ini tak pernah diupayakan berjalan sebagaimana mestinya, percayalah, sepak bola nasional tidak akan ke mana-mana.
Problem sepak bola nasional bukan sekadar soal Edy Rahmayadi


Sumber : https://beritagar.id/artikel/editori...-edy-rahmayadi

---

Baca juga dari kategori EDITORIAL :

- Problem sepak bola nasional bukan sekadar soal Edy Rahmayadi Benarkah PMP mampu meredam radikalisme di sekolah?

- Problem sepak bola nasional bukan sekadar soal Edy Rahmayadi Mengeksploitasi percekcokan online adalah tidak beradab

- Problem sepak bola nasional bukan sekadar soal Edy Rahmayadi Lemahnya integritas di pemerintahan

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di