alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
MUI Jabar Imbau Masyarakat Tak Ikut Reuni 212, Ini Alasannya
4 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bff4ed4902cfe0f0e8b4567/mui-jabar-imbau-masyarakat-tak-ikut-reuni-212-ini-alasannya

MUI Jabar Imbau Masyarakat Tak Ikut Reuni 212, Ini Alasannya

Quote:
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
Minta dijewer emoticon-Ngakak
Kalau kakek kiyai yg ngomong pasti beda karena dekat dengan 212 emoticon-Wkwkwk
Quote:



bukannya dari awal ya ........... emoticon-Malu
Diubah oleh lonelywolve
dari awal juga sudah melenceng ke arah politik. situ gak nyadar atau pura2 gak nyadar emoticon-Embarrassment
Emang masih ada yg dengarin MUI emoticon-Ngakak
Balasan post fitriasarina
Quote:


Iya, grup 212 aja udah ga dengerin MUI, ga mengindahkan ketua umum MUI.

Mereka sedang bahu-membahu mendegradasi peran ulama dalam kenegaraan... emoticon-Hansip

Menuju Indonesia baru yang lebih sekuler emoticon-Cendol Gan
"Jadi banyak warga yang datang ke MUI Jabar, menanyakan esensi 212. Karena masalah yang memicu munculnya gerakan 212 sudah selesai. Jadi tidak ada esensinya lagi sekarang harus melaksanakan reuni. Sekarang masalahnya apa? Kan sudah selesai," katanya.
________________________________________

katanya untuk mempererat tali silaturahmi.
tapi di monas. gak di Mesjid.
ampe sekarang bingung esensinya apa reuni 212 (kapan sekolahnya) ini ?
yg Dateng ya pendukung HTI,, santri2 NU mah males banget ngikut ginian..
mau berjemur sambil membangkitkan HTI dan menyebarkan kebencian kok di larang2
Quote:


Mantaap nih
Mereka mendukung capres yang gak mau tau dengan Palestina
capres yg berkiblat ke Barat

Sekulerisasi mutlak dah Indonesia ini emoticon-Hansip
Memangnya sejak kapan gerakan 212 itu gerakan agama? sejak awal itu gerakan politik, disetir oleh politisi memanfaatkan ormas Islam, terutama FPI dan FUI. MUI bergabung belakangan. Gerakan 212 itu nggak terjadi dadakan. Sejak awal Jokowi naik jadi gubernur di Jakarta, mereka-mereka ini sudah gelisah. Bikin onar dimana-mana, bikin kegaduhan, protes sana sini dengan berbagai alasan yang selalu coba dikaitkan dengan agama. Inget kasus lurah Susan? itu kasus kecil yang coba diblow up, hanya kurang berhasil karena memang kurang hot. Kemudian Ahok naik menggantikan Jokowi, sejak ini lah mereka makin punya amunisi. Sejak awal Ahok naik, mereka sudah gaduh. Demo-demo berulang dilakukan, mereka gak terima Ahok menjadi gubernur. Alasannya ya dia non-muslim, mereka tidak mau dipimpin non-muslim. Padahal alasan sebenarnya cuma jatah ormas di-cut Ahok. Ahok tidak mau mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas juntrungannya buat apa seperti dana untuk ormas. Sejak itulah FPI dan FUI koar-koar terus. Sepak terjang Ahok yang frontal habis ke preman-preman dan orang-orang yang seenaknya di Jakarta kemudian bikin mereka tambah panas. Ahok tambah musuh jadinya, politisi-politisi yang kepentingan bisnis di wilayahnya terganggu makin gerah. Makin dipakailah gerakan-gerakan ormas ini untuk menentang Ahok. Bikin gubernur tandingan pun mereka lakukan dahulu saking tidak terimanya. Gerakan ini terus membesar dengan memanfaatkan sentimen agama.

Nah menjelang pemilihan gubernur Jakarta yang kemarin, awalnya biasa-biasa saja. kubu penantang bisa dibilang tidak punya lawan sebanding lah dengan apa yang dipunya petahanan. Kualitas pemikiran tidak ada, pengalaman di pemerintahan sekaligus sosok pun tidak ada. Yang maju dahulu itu benar-benar cupu. Sampai akhirnya muncul si anak pepo dan langsung memihak para ormas itu. Walau gak terang-terangan main SARA, tapi dengan memihak pada ormas itu ya sudah jelas kalau mereka akan menuju ke arah sana. Memanfaatkan SARA juga. Tim lawan lainnya yang awalnya tidak main SARA: tim Sandi kemudian juga main SARA. Lucunya tim Sandi ini main SARA setelah si Anies join the club. Awal banget mereka maju, tim Sandi itu benar-benar fokusnya ke wiraswasta dan UMKM, selebaran programnya melulu bicara itu. Tapi begitu dilihat tidak terlalu berguna dalam mendongkrak jumlah pemilih, akhirnya berusaha cari sosok, dipilih lah Anies. Awalnya gw, selaku warga Jakarta, optimis pilgub kali itu akan berisi argumen-argumen berkelas karena yang maju itu mantan menteri pendidikan dan pengusaha. Sialnya ternyata gw salah..

Saat itu suara-suara berbunyi larangan memilih pemimpin non-muslim sudah makin keras berkumandang, mayoritas asalnya dari pendukung kubu anak pepo. Lalu terjadilah kejadian "dibohongi pakai" itu, hasil pemotongan pidato dan kalimat serta framing oleh Buni Yani. Ini lah amunisi yang ditunggu-tunggu lawan politik Ahok, langsung diserang habis di sini. Memakai sentimen agama, tanpa ampun langsung diserang dengan pasal penistaan agama. Sepanjang sejarah keberadaan itu pasal, tidak ada ceritanya ada orang bisa lolos jika sudah dilaporkan pakai pasal ini, apalgi jika posisimu adalah minoritas vs mayoritas. Tekanan massa akan selalu berhasil membuat lu gol ke penjara. Apapun detail kejadiannya, begitu kena pasal ini dan lu udah posisi mayoritas vs minoritas, lu pasti kalah. Itu yang terjadi pada Ahok.

Massa langsung digerakkan dari berbagai daerah. gw yakin pasti dibiayai. Makanya bisa ngumpul rame, apalagi sudah dipanas-panasi dengan label "Bela Islam". Jadi kerumunan yang ramai kemarin itu, mayoritas berasal dari luar Jakarta seperti Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, dll. Yang dari Jakarta gak seberapa, mayoritas anggota atau simpatisan ormas FUI, FPI, dkk.

Sekarang jauh setelah kejadian itu, bisa terlihat kan bagaimana kejadian selanjutnya. Bicaranya beda-beda semua, banyak pentolan yang kena kasus, banyak aliran dana mencurigakan, banyak penyandang dana sekunder yang ternyata adalah penipu. Penyandang primer sampai sekarang gak dibuka, tapi kita bisa menduga lah pihak mana penyandang dananya. Gerakan massa 212 kemarin itu motif utamanya adalah motif politik yang kemudian memanfaatkan sentimen agama sehingga menjadi besar.

Lalu MUI sekarang bilang: sudah tidak ada manfaatnya. Ya, itu benar sekali! memang sudah tidak ada manfaatnya, karena tujuan sudah tercapai, Ahok kalah. Selesai. Memang tujuannya dahulu cuma itu kok: kalahkan Ahok dengan segala cara. Tidak ada manfaat lain selain itu. Kemakmuran umat? umat mana? secara keseluruhan tidak ada perbaikan ekonomi kok bagi masyarakat Jakarta, apalgi bagi warga wilayah lain yang ikut demo kemarin. Yang dapat keuntungan jelas politisinya, juga petinggi ormasnya. Makanya mereka sekarang tenang, diam, gak banyak bicara. Selain sudah terjamin, juga sudah ganti target.

Reuni 212 ini tujuannya cuma untuk tetap mempertahankan narasi bela Islam yang kali ini berusaha diarahkan ke pemerintah pusat. Mereka terus berusaha membangun narasi bahwa pemerintah ini memusuhi Islam, makanya perjuangan kita belum selesai, Bela Islam..! Begitu kira-kira narasinya. MUI yang sudah dijamah pemerintah serta beberapa pihak islam lainnya yang tidak oposisi pemerintah skrg berusaha meredam hal itu. Gak perlu lah reuni 212, menurut mereka demikian. Karena bagi mereka memang sejak awal tidak ada gunanya selain untuk menjatuhkan Ahok dahulu.

Jadi 212 itu memang motifnya politik, menunggangi agama.
Motif sebenarnya dengan motif yang digadang-gadang sdh beda dari awal
Quote:


emoticon-Shakehand2
sejak maaruf amin ikut jkw
Yang pertama gerakan agama, yang ke2 berhubung berlawanan ama ketua dibuatlah melenceng
emoticon-Ngakak
Balasan post mony372an
Quote:


Ya begitulah...
Jadi terima sajalah nasib mu jd org biasa ato minoritas dinegri ini...
Minoritas bukan hanya agama... tp minoritas dlm berprinsip hidup yg benar2 adil.. yg memihak rakyat... bukan memikiran perutnya sendiri...yg ada nohh... yg kaya ya si politisi2 busuk... dan org2 bertopeng yg menggunakan segala cara agar tetap kaya.. mengambil dr kita2 yg rakyat jelata yg tak bisa berbuat apa2

Kayak begini ngarep bgt jd negara maju.... semu itu semua...
Quote:


iya klo turis bejemur... ini uda pada gosong
emoticon-Leh Uga
Makanya itu nasbung gak nyadar2... Sampe kapan mau terus diperalat kubu Rijek dan Wowo?

Dulu pas Ohok kena fatwa MUI, langsung teriak2 siap mengawal fatwa MUI, siap patuhi ulama tertinggi, Kyai Maaruf.
Pas Ahoker nyinyir ke Maaruf, langsung teriak2 siap bela ulama sampai titik darah penghabisan.
Pas Ahoker ada yang menghina TGB, langsung teriak2 siap bela TGB sampe mati.
Teriak2 siap bela Wowo yang akan pilih cawapres ulama.


Begitu TGB dukung Wiwi, langsung ngomong TGB bajin94n, kena azab Alloh dikasih gempa Lombok.
Begitu Maaruf jadi cawapres Wiwi, langsung ngomong Maaruf tua bangka masih cinta dunia dan jabatan.
Begitu Wowo malah pilih Uno sebagai cawapres, langsung ngomong Uno itu santri dan termasuk ulama.
Begitu MUI menyatakan tidak ikut2 reuni 212, langsung ngomong MUI udah membelot ke kubu cebong.

Hati, pikiran dan mulut aja udah saling peyot, tidak singkron, kok masih ngaku2 paling alim dan beragama? Apa gak kepikiran barangkali ALLAH SWT aja muak dan jijik sama kelakuan mereka-mereka itu...
bos nya sudah merpat kkm wajar lah
jangan pura pura budeg kalian...
Hidup agama monas emoticon-Leh Uga
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di