alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Lion Air PK-LQP tak laik terbang sejak di Denpasar
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bff3042a09a3982618b4587/lion-air-pk-lqp-tak-laik-terbang-sejak-di-denpasar

Lion Air PK-LQP tak laik terbang sejak di Denpasar

Lion Air PK-LQP tak laik terbang sejak di Denpasar
Petugas memeriksa turbin pesawat Lion Air JT 610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (4/11/2018). Tim SAR gabungan menyerahkan turbin, roda dan sejumlah barang-barang temuan dari jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 kepada KNKT untuk dilakukan investigasi lebih lanjut.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis hasil penyelidikan awal penyebab kecelakan pesawat Lion Air JT610 PK-LQP yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018.

Kepala Sub Komite Investigasi Keselamatan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo, mengatakan indikasi masalah teknis pada pesawat sudah terdeteksi pada penerbangan pesawat pada tanggal 28 Oktober 2018 dengan rute Denpasar-Jakarta.

Namun sang pilot tetap melanjutkan perjalanan dan mendarat di Bandar Udara Soekarno-Hatta Cengkareng pukul 22.56 WIB.

"Dalam penerbangan Denpasar-Jakarta, pilot memutuskan untuk terbang. Menurut kami pesawat sudah tidak laik terbang, seharusnya penerbangan tidak dilanjutkan," ucap Nurcahyo dalam konferensi pers di kantor pusat KNKT, Rabu (28/11).

Secara rinci, KNKT menjelaskan kronologi pesawat pabrikan Boeing tersebut.

Pada saat melakukan pemeriksanaan pre-flight di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, pilot yang bertugas pada saat itu berdiskusi dengan teknisi terkait tindakan perawatan pesawat udara.

Dalam proses pemeriksaan awal tersebut ternyata diketahui ada pergantian sensor Angle of Attack (AOA) yang terindikasi rusak dengan yang sensor yang baru.

Sensor AOA atau Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) berfungsi mendeteksi sudut yang dibentuk dari naik-turunnya moncong pesawat dengan arah gerak pesawat.

Belakangan KNKT menduga, isu sensor AOA inilah yang menganggu perjalanan Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang. Menurut KNKT, Lion Air PK-LQP mengalami pembacaan data AOA yang berubah-ubah sesaat sebelum jatuh

Pada penerbangan 28 Oktober, Flight Data Recorder (FDR) mencatat adanya stick shaker yang aktif pada sesaat pesawat rute Denpasar-Jakarta lepas landas dan berlangsung selama penerbangan.

Stick shaker merupakan peringatan dari pesawat untuk memberitahu pilot bahwa pesawat sedang mengalami kondisi stall (kehilangan daya angkat). Peringatan tersebut ditunjukan dengan tanda stik kontrol kemudi pilot yang bergetar.

Menurut Nurcahyo, idealnya pada saat kondisi stick shaker seharusnya pilot tidak melanjutkan penerbangan dan kembali bandara untuk selanjutnya melakukan pengecekan pesawat. Pasalnya, pada saat itu pesawat sudah masuk kategori tidak laik terbang atau air-unworthy.

Nurcahyo mengatakan, dari hasil rekaman percakapan pilot dengan petugas pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller) terungkap bahwa pilot mengirim pesan bahwa penerbangan Denpasar-Jakarta pada saat itu mengalami kondisi kegagalan instrumen yang tidak normal. Kendati begitu, pilot tetap meminta untuk melanjutkan arah terbang searah dengan landasan pacu setelah melakukan tiga non-normal checklist.

"Tidak ada satu pun dari ketiga prosedur tersebut yang memuat instruksi untuk melakukan pendaratan di bandar udara terdekat," ujar Nurcahyo.

Pada saat pesawat berada di ketinggian 400 kaki, pilot Lion Air Denpasar-Jakarta menyadari adanya peringatan indikator kecepatan yang berbeda-beda (IAS Disagree), ketinggian yang berbeda (ALT Disagree), dan tekanan diferensial hidrolik yang berlebihan di komputer elevator 115 (Feel Diff Press).

Menyadari keganjilan tersebut, pilot kemudian menyerahkan kendali kemudi kepada kopilot dan kemudian membandingkan penunjukan pada Primary Flight Display (PFD) dengan instrument standby lalu kemudian menemukan bahwa PFD sebelah kiri bermasalah.

Pada saat yang bersamaan, pilot mengetahui bahwa moncong pesawat mengalami penurunan secara otomatis.

Saat itu, kopilot mengatakan bahwa kendali pesawat terasa berat saat ditarik ke belakang (untuk membawa hidung naik). Pilot kemudian mengubah trim stabilizer ke posisi CUTOUT, untuk mematikan sistem trim otomatis sehingga trim diatur secara manual.

Langkah itu sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan Boeing dan Federal Aviation Admisnitration (FAA) setelah kecelakaan JT610 terjadi.

Kopilot kemudian melanjutkan penerbangan dengan trim manual dan tanpa auto-pilot sampai mendarat dengan selamat di Jakarta pukul 22.56 WIB.
Pilot kesulitan mengontrol
Dalam kasus penerbangan JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang, data FDR merekam adanya perbedaan derajat antara AOA kiri dan kanan hingga 20 derajat yang terjadi terus menerus sampai akhir rekaman. Kondisi stick shaker terdeteksi terjadi sepanjang perjalanan pesawat anyar tersebut.

Kotak hitam FDR menunjukkan bahwa sebelum pesawat jatuh, hidung pesawat turun secara otomatis hampir 24 kali dalam 11 menit. Pilot Bhavye Suneja dan kopilot Harvino berulang kali berupaya untuk membawa pesawat naik kembali sebelum akhirnya kehilangan kontrol.

Pesawat kemudian menukik dengan kecepatan sekitar 700 kilometer per jam sebelum akhirnya menghantam laut.

Pada saat terbang, kopilot Harvino sempat bertanya kepada petugas pemandu lalu lintas penerbangan untuk memastikan ketinggian serta kecepatan pesawat udara yang ditampilkan pada layar radar petugas ATC. Harvino melaporkan bahwa penerbangannya mengalami masalah kendali kontrol kepada petugas ATC.

Data FDR Lion Air JT610 bisa dilihat di foto di bawah ini. Perhatikan grafik biru TRIM MANUAL dan grafik orange TRIM AUTOMATIC. Hidung pesawat turun lebih dari 20 kali dalam 11 menit (grafik oranye). Grafik biru menunjukkan upaya pilot membawa hidung pesawat naik kembali.
Lion Air PK-LQP tak laik terbang sejak di Denpasar
Data FDR Lion Air JT610. Grafik biru dan orange (dua paling atas) menunjukkan upaya pilot menaikkan hidung pesawat, melawan kendali otomatis yang membawa hidung pesawat turun.
Laporan awal KNKT dari pembacaan data FDR ini konsisten dengan penyelidikan Boeing soal sistem Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). MCAS adalah sistem otomatis yang mencegah pesawat stall atau kehilangan daya angkat dengan menurunkan hidung pesawat secara otomatis, meski dalam kondisi terbang manual (Autopilot OFF).

Meski demikian, MCAS bukan satu-satunya faktor penyebab jatuhnya Lion Air JT610. Nurcahyo, mengatakan, insiden ini terjadi akibat multiple failure (banyak kegagalan).

"Pilot menghadapi berbagai kerusakan dalam waktu yang sama," kata Nurcahyo.

Dari data perawatan pesawat, sejak tanggal 26 Oktober, KNKT mencatat ada enam masalah atau enam gangguan yang tercatat di pesawat PK-LQP sebelum jatuh.

Nurcahyo mengatakan, enam masalah yang terjadi itu berkaitan dengan masalah indikator kecepatan dan ketinggian pesawat.

"Ada enam kali tercatat di buku pesawat ini mengalami gangguan, setiap memiliki gangguan sudah diperbaiki, ditanda tangan oleh release man. Secara hukum, pesawat dinyatakan layak terbang," ujarnya.
Rekomendasi KNKT
Ada dua rekomendasi yang diberikan KNKT kepada pihak Lion Air. Pertama, KNKT meminta Lion Air menjamin implementasi Operation Manual part A subchapter 1.4.2 dalam rangka meningkatkan budaya keselamatan dan untuk menjamin pilot dapat mengambil keputusan untuk melanjutkan penerbangan.

KNKT juga meminta Lion Air untuk menjamin semua dokumen operasional diisi dan didokumentasikan secara tepat.

“Dokumen harus sesuai dengan kondisi sesungguhnya, dalam laporan pesawat PK-LQP dengan nomor penerbangan JT610 itu menjelaskan ada lima pramugari tapi nyatanya ada enam,” ujar Nurcahyo.

Nurcahyo juga mengatakan bahwa rekomendasi itu muncul karena dalam penerbangan sebelum kejadian nahas itu, yakni dari Denpasar menuju Jakarta pada 28 Oktober 2018 malam pesawat Lion Air PK-LQP sudah mengalami masalah.
Lion Air PK-LQP tak laik terbang sejak di Denpasar


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...ak-di-denpasar

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Lion Air PK-LQP tak laik terbang sejak di Denpasar Senjata cekcok Sampang bukan milik aparat

- Lion Air PK-LQP tak laik terbang sejak di Denpasar Dahnil, kemah, dan rasuah

- Lion Air PK-LQP tak laik terbang sejak di Denpasar Buntung di minyak, Brunei cari untung dari Tiongkok

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di