alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfec550902cfe57558b459e/namaku-semesta

Namaku Semesta

Tak ada yang tahu kepanjangan dari Sam. Setiap anak memiliki spekulasinya sendiri tentang tiga huruf yang selalu mereka gunakan untuk memanggilku. Aku pun sama sekali tak berminat untuk memberi penjelasan. Selama tiga huruf itu cukup untuk menunjukkan identitasku, tak ada lagi yang perlu dipusingkan. Mungkin hanya para guru dan pihak administrasi yang tahu nama lengkapku, dan aku yakin mereka tak begitu peduli dan tak ambil pusing selama aku tak melakukan sesuatu yang ekstrim. Benar, aku hanya siswa rata-rata yang sama sekali tak terlihat dalam radar dan tak cukup menarik perhatian. Satu-satunya alasan beberapa siswa memanggilku adalah untuk meminjam catatan. Meski tak pernah menjadi juara kelas ataupun mengikuti olimpiade, aku juga tak pernah melakukan pelanggaran tingkat tinggi atau berulah di depan umum. Apapun yang bisa menyebabkan aku menjadi sorotan tak pernah kulakukan.

Hidupku biasa saja. Sekolah, pekerjaan rumah, menghabiskan waktu bersama teman. Semua berjalan ala kadarnya, yang bagiku terasa sedikit membosankan. Kurasa semua akan terus begitu jika hari itu aku tak melihatnya. Aku tak berada cukup dekat untuk mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi cukup dekat untuk mendengar satu kalimat tak terabaikan yang ia ucapkan.

"No, thanks. I hate debate”, ucapannya lancar, kemudian berlalu dari kerumunan yang sejak tadi—kurasa—merayunya.

Aku mengenalnya sedikit. Dia salah satu murid pendiam yang anehnya cukup dikenal di sekolah. Rumornya dia tipikal perempuan kejam yang ucapannya menusuk seperti pedang. Hanya sekali aku bicara dengannya, ketika aku lupa membuat catatan salah satu mata pelajaran—yang hanya aku satu-satunya murid di kelas yang rajin membuat mencatatan—dan kebetulan ketika jam istirahat aku tak sengaja menabraknya. Kulihat ia membawa buku catatan pelajaran yang aku butuhkan.

"Boleh kupinjam?” Entah kenapa kalimat itu meluncur tanpa basa-basi.

Entah aku atau dia yang saat ini memiliki perasaan ragu, tapi ada jeda sejenak sebelum dia mengatakan ‘ya’.

"Kapan aku harus balikin?” Tanyaku lagi saat buku itu sudah kugenggam. Pertanyaan yang salah sebenarnya, karena aku tak tahu bahwa ia benar-benar tanpa basa-basi.

"Nanti sore, jam tiga, di lapangan basket”, tanpa menunggu jawabanku, ia berlalu begitu saja, meninggalkan aku yang keheranan dan berdiri seperti patung. Untuk pertama kalinya aku bersyukur tak punya teman dekat yang akan bertingkah heboh melihat perilakuku yang tak biasa. Jam tiga sore? Itu artinya aku hanya punya waktu sekitar dua jam untuk menyalin cacatannya. Jangan berpikir untuk menggunakan mesin foto kopi. Benda itu saat ini sedang merajuk. Untungnya tak terlalu banyak yang harus kusalin.

Kukembalikan cacatannya tepat jam tiga, di lapangan basket, seperti yang ia katakan. Setelahnya kami kembali seperti sebatas teman sekelas yang hanya saling berkata “hai” jika bertemu, seolah peristiwa meminjam buku catatan itu sama sekali tak pernah terjadi. Tapi sejak hari itu pula, aku jadi memiliki hobi baru. Tak jarang aku mengikuti kemana ia pergi saat jam istirahat, buku apa saja yang seringkali ia baca di perpustakaan dan siapa saja temannya mengobrol ketika di kantin atau di waktu luang. Hasilnya, tak banyak informasi yang bisa kugali. Ia benar-benar penyendiri. Menyukai buku fiksi dengan berbagai genre, suka mendengarkan musik—yang entah apa—dari handphonenya, dan seringkali sendirian. Termasuk ketika makan di kantin, pergi ke perpustakaan dan pulang sekolah.

Dari kebiasaanku menguntitnya, aku mulai mengerti, ia tak suka bergosip dan segala omong kosong yang menurutnya tak penting. Uniknya ia tak pernah begitu saja membantah siapapun bahkan ketika teman sekelasnya berkoar tentang sesuatu yang tak ia sukai—bahkan ia benci—hanya dua hal yang akan dilakukannya: diam atau pergi. Yang dikatakannya beberapa saat lalu bukan omong kosong. Ia mungkin selalu bermain-main dengan hidupnya, tapi tidak dengan ucapannya. Hal-hal yang menyakitkan kadang meluncur tanpa filter dari mulutnya, tapi tak pernah sekalipun ia mengatakan gosip dan rumor yang tak jelas sumbernya. Itu salah satu alasan aku tertarik padanya—dan mungkin menyukainya.

Hari-hari berikutnya, kebiasaan itu tak menghilang. Aku terus saja menjadi penguntit yang mencari tahu segala hal yang ia lakukan. Lucunya hingga saat ini aku sama sekali belum tahu namanya. Dan aku yakin ia juga tak tahu namaku atau siapa aku. Suatu hari, aku akan memperkenalkan diri padanya sebagai Semesta. Ya, nama lengkapku. Bukan lagi sebagai Sam. Aku ingin dia menjadi orang pertama yang kuberi tahu tentang nama yang selama ini aku sembunyikan dari semua orang. Tapi saat ini aku masih menikmati saat-saat memperhatikannya dari jauh. Ternyata menjadi stalker cukup menyenangkan.

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di