alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bfec35edbd7700b4f8b4582/ketika-semesta-bicara

Ketika Semesta Bicara

Malam ini cerah. Bulan bersinar terang, meski bentuknya bukan bulat penuh. Awan-awan mendung sisa hujan tadi sore pasti sudah hilang entah kemana. Tapi tanah yang kupijak massih basah. Aroma segar dan menyenangkan sehabis hujan pun masih tercium. Aku yakin siapapun pasti menggigil jika nekad berada di luar pada cuaca yang menusuk seperti sekarang. Termasuk aku. Sayangnya, aku tak peduli. Tanpa jaket, sarung tangan, atau sehelai syal hangat, aku nekad duduk seorang diri di kursi taman. Apakah terdengar seperti orang aneh? Jangan heran dulu. Masih banyak hal lain yang lebih aneh yang kulakukan. Aku tak akan menceritakannya. Kau harus melihat itu sendiri.

Lalu, apa yang membawaku ke tempat ini? Entah. Apa, ya? Aku bahkan lupa bagaimana aku bisa berakhir di tempat ini.apakah aku tadi belajan kaki, menumpang taksi atau membawa kendaraan pribadi? Aku tidak tahu. Yang pasti sebelum keadaan dimana “aku tak tahu apa yang terjadi” dan berakhir disini, pikiranku sudah terlebih dahulu mengembara, pada sebuah kalimat yang entah pernah kudengar dimana dan dari siapa, “dengarkan semesta bicara.” Adakah yang tahu apa maksud kalimat itu? aku bukan murid yang pintar, bukan juga siswa yang rajin. Jadi jangan heran jika aku hanya mempertanyakannya dalam diam tanpa ada usaha apapun untuk menemukan jawabannya. Hingga saat ini pun aku tak tahu siapa Semesta itu. Lalu bagaimana aku bisa mendengarkannya berbicara? Pernah seorang teman menulis puisi tentangnya, Semesta, tapi tetap saja ia tak memberikan jawaan jelas tentang siapa dia. Hampir seluruh pelosok sekolah tahu dan mengagumi puisi itu. Tapi aku tidak. Kuakui kemampuannya merangkai kata sudah mencapai level dewa. Tapi aku tak termasuk dalam sekumpulan manusia yang tergila-gila pada romansa. Bagiku hal semacam itu tak jauh beda dengan omong kosong. Tolong jangan sakit hati. Ini hanya tolak ukur yang kuterapkan pada diriku sendiri. Jika kau tak setuju, tak usah dipedulikan. Anggap saja aku tak pernah mengatakan yang tadi.

Baiklah, kita kembali saja pada Semesta. Sehebat apa dia? Mengapa pula harus mendengarnya bicara? Apa jangan-jangan dia memiliki penyakit tertentu yang membuatnya kesulitan berbicara sehingga orang-orang perlu menyimak dengan seksama agar mengerti apa yang ingin disampaikannya? Jadi bukan karena kehebatannya, tapi justru karena kekurangannya. Bukan puja, tapi belass kasih. Tetap saja, mengapa begitu perlu untuk mendengarnya bicara? Kehebatan macam apa yang ia miliki sehingga ucapannya sedemikian berharga untuk disimak?
 
Ah, sudahlah! Memikirkan ini membuatku letih. Hawa dingin sudah semakin menusuk. Aku akan membeku jika masih tetap disini. sedetik sebelum aku melangkah pulang, sudah dalam posisi berdiri, aku berbisik pelan “sampaikan salamku pada Semesta” entah pada siapa. Jika aku beruntung mungkin suatu hari aku akan benar-benar bertemu dengan Semesta dan mendengarnya bicara.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di